MERAIH BERKAH BERSAMA SUNNAH-SUNNAH DI HARI RAYA

/, Hadis/MERAIH BERKAH BERSAMA SUNNAH-SUNNAH DI HARI RAYA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Mutiara_Sunnah

MERAIH BERKAH BERSAMA SUNNAH-SUNNAH DI HARI RAYA

 

 Pertama: Mengeluarkan Zakat Fitri

Diwajibkan bagi kaum Muslimin untuk berzakat Fitri apabila telah terbenam matahari di hari terakhir Ramadan, sampai sebelum sholat Idul Fitri. Hendaklah dikeluarkan untuk setiap jiwa kaum Muslimin sebanyak 1 Sho’ (senilai kurang lebih 3 kg) bahan makanan pokok di suatu negeri dan diberikan kepada fakir miskin. Sahabat yang Mulia Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma berkata:

 أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَضَ زَكَاةَ الْفِطْرِ مِنْ رَمَضَانَ عَلَى كُلِّ نَفْسٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ حُرٍّ، أَوْ عَبْدٍ، أَوْ رَجُلٍ، أَوِ امْرَأَةٍ، صَغِيرٍ أَوْ كَبِيرٍ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ

“Bahwa Rasulullah ﷺ mewajibkan Zakat Fitri karena telah berakhir Ramadan, atas setiap jiwa kaum Muslimin, orang merdeka atau budak, laki-laki atau wanita, kecil atau besar, sebanyak satu Sho’ kurma atau satu Sho’ gandum.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Sahabat yang Mulia Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma juga berkata:

 فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ، مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ

“Rasulullah ﷺ mewajibkan Zakat Fitri sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan yang haram, serta makanan bagi orang-orang miskin. Barang siapa mengeluarkannya sebelum sholat Idul Fitri, maka itu adalah zakat yang diterima. Dan barang siapa mengeluarkannya setelah sholat Idul Fitri, maka itu adalah sedekah biasa.” [HR. Abu Daud, Shahih Abi Daud: 1427]

 Kedua: Memerbanyak Takbir

Allah ta’ala berfirman:

 وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ الله عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُون

“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangan (bulan Ramadan), dan hendaklah kamu bertakbir (mengagungkan) Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” [Al-Baqoroh: 185]

Beberapa Ketentuan dalam Bertakbir

1) Waktu mulai bertakbir adalah sejak terbenam matahari di akhir Ramadan sampai selesai khutbah Idul Fitri. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

 وَالتَّكْبِيرُ فِيهِ: أَوَّلُهُ مِنْ رُؤْيَةِ الْهِلَالِ وَآخِرُهُ انْقِضَاءُ الْعِيدِ وَهُوَ فَرَاغُ الْإِمَامِ مِنْ الْخُطْبَةِ عَلَى الصَّحِيحِ

“Takbir di hari Idul Fitri dimulai sejak melihat hilal dan berakhir setelah selesainya ‘Ied, yaitu selesainya imam dari khutbah, menurut pendapat yang paling shahih.” [Majmu’ Al-Fatawa, 24/221]

Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

 وإكمال العدة يكون عند غروب الشمس آخر يوم من رمضان، إما بإكمال ثلاثين، وإما برؤية الهلال، فإذا غابت الشمس آخر يوم من رمضان سنّ التكبير المطلق من الغروب إلى أن تفرغ الخطبة، لكن إذا جاءت الصلاة فسيصلي الإنسان ويستمع الخطبة بعد ذلك. ولهذا قال بعض العلماء: من الغروب إلى أن يكبّر الإمام للصلاة

“Menyempurnakan bulan Ramadan terjadi ketika terbenam matahari di hari terakhir Ramadan, apakah dengan menyempurnakan 30 hari atau melihat hilal (di hari ke-29). Maka apabila telah terbenam matahari di hari terakhir Ramadan, disunnahkan untuk bertakbir secara Mutlak (umum, TIDAK terkait waktu sholat), mulai dari terbenam matahari sampai selesai khutbah Idul Fitri. Akan tetapi apabila masuk waktu sholat Idul Fitri, hendaklah sholat dan mendengar khutbah setelah sholat. Oleh karena itu sebagian ulama berkata: Waktu bertakbir mulai dari terbenam matahari di akhir Ramadan, sampai imam bertakbir untuk sholat Idul Fitri.” [Asy-Syarhul Mumti’, 5/157]

2) Takbir hari raya Idul Adha ada dua bentuk, yaitu Mutlak dan Muqoyyad. Adapun takbir Idul Fitri hanya Mutlak saja.

Mutlak artinya umum tanpa terkait waktu. Hendaklah memerbanyak takbir kapan dan di mana saja, kecuali di tempat-tempat yang terlarang melafazkan dzikir, yaitu di WC dan yang semisalnya. Takbir Mutlak Idul Adha dimulai sejak awal Dzulhijjah sampai akhir hari Tasyrik. Adapun Idul Fitri dimulai sejak terbenam matahari di akhir Ramadan, sampai selesai khutbah Idul Fitri.

Muqoyyad artinya terkait dengan sholat lima waktu. Yaitu bertakbir setiap selesai sholat lima waktu, dimulai sejak ba’da Shubuh hari Arafah sampai ba’da Ashar di akhir hari Tasyrik. Adapun takbir Idul Fitri tidak disyariatkan takbir Muqoyyad setiap selesai sholat lima waktu. Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

 الفرق بين المطلق والمقيد أن المطلق في كل وقت، والمقيد خلف الصلوات الخمس في عيد الضحى فقط

“Perbedaan antara Takbir Mutlak dan Takbir Muqoyyad adalah bahwa Takbir Mutlak dilakukan di setiap waktu, sedang Takbir Muqoyyad dilakukan setelah sholat lima waktu pada Idul Adha saja.” [Majmu’ Fatawa wa Rosaail Ibnil ‘Utsaimin, 16/265]

3) Disunnahkan mengeraskan takbir bagi laki-laki dan dipelankan bagi wanita. Dan disunnahkan bertakbir di perjalanan ketika menuju sholat ‘Ied, sebagaimana dalam hadis Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma:

 أَنَّهُ كَانَ إِذَا غَدَا يَوْمَ الْأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ يَجْهَرُ بِالتَّكْبِيرِ حَتَّى يَأْتِيَ الْمُصَلَّى ثُمَّ يُكَبِّرُ حَتَّى يَأْتِيَ الْإِمَامُ

“Bahwa Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma, apabila berangkat pagi hari Idul Adha dan Idul Fitri, beliau mengeraskan takbir sampai tiba di tempat sholat, kemudian beliau terus bertakbir sampai imam datang.” [HR. Adh-Daruquthni, Al-Irwa: 650]

4) Takbir berjamaah dengan cara dipimpin oleh seseorang dan diikuti oleh jamaah secara serentak satu suara TIDAK disyariatkan. Maka termasuk kategori mengada-ada dalam agama, dan seluruh dalil yang digunakan untuk mendukungnya adalah pendalilan yang bukan pada tempatnya. Disebutkan dalam Fatwa Ulama Besar Ahlus Sunnah yang tergabung dalam Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa:

 لكن التكبير الجماعي بصوت واحد ليس بمشروع بل ذلك بدعة؛ لما ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: «من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد» ولم يفعله السلف الصالح، لا من الصحابة، ولا من التابعين ولا تابعيهم، وهم القدوة، والواجب الاتباع، وعدم الابتداع في الدين

“Akan tetapi takbir berjamaah dengan satu suara tidak disyariatkan. Bahkan itu adalah bid’ah, karena telah shahih dari Nabi ﷺ: ‘Barang siapa mengada-ada dalam agama kami ini yang tidak berasal darinya, maka itu tertolak’. Dan TIDAK pernah dilakukan oleh As-Salafus Shaalih, TIDAK diriwayatkan dari sahabat, TIDAK pula tabi’in dan tabi’ut tabi’in, padahal mereka adalah teladan dalam beragama. Maka yang wajib adalah meneladani Rasulullah ﷺ dan tidak berbuat bid’ah dalam agama.” [Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 8/311 no. 9887]

Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

 هذه الصفة التي ذكرها السائل لم ترد عن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وأصحابه، والسنة أن يكبر كل إنسان وحده

“Cara bertakbir yang disebutkan penanya (yaitu takbir secara berjamaah) TIDAK ada dalilnya dari Nabi ﷺ dan sahabat beliau. Yang sunnah adalah setiap orang bertakbir sendiri.” [Majmu’ Fatawa wa Rosaail Ibnil ‘Utsaimin, 16/267]

Apalagi sampai mengadakan konvoi di jalanan yang dapat mengganggu ketertiban umum, kemacetan dan berbagai macam kemaksiatan seperti ikhtilat (campur baur antara laki-laki dan wanita), meneriakkan takbir diiringi alat-alat musik (padahal musik itu sendiri diharamkan dalam Islam) dan berbagai kemungkaran lainnya yang biasa dilakukan oleh sebagian orang pada malam dan siang hari raya.

5) Adapun lafaz takbir di antaranya adalah yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu:

 الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله، والله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد

“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaaha illallah, wallahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil hamd”

“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada yang berhak disembah selain Allah, dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, dan segala puji hanya bagi Allah.” [HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnaf-nya no. 5697, Al-Irwa: 654]

Dan beberapa lafaz lain yang diriwayatkan dari para sahabat dan tabi’in, namun tidak ada dalil adanya lafaz khusus dari Nabi ﷺ, sehingga dalam perkara ini terdapat keluasan [Lihat Asy-Syarhul Mumti’, Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah, 5/169-171].

 Ketiga: Melakukan Sholat ‘Ied

Allah ta’ala berfirman:

 فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka sholatlah hanya untuk Rabb-mu dan berkurbanlah hanya untuk-Nya.” [Al-Kautsar: 2]

Banyak ulama ahli tafsir menjelaskan, bahwa maksud sholat dalam ayat ini adalah sholat ‘Ied [Lihat Ash-Shiyaamu fil Islam, hal. 619].

 Keempat: Disunnahkan Mandi Sebelum Menuju Sholat ‘Ied

Sebagaimana riwayat dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu:

 سَأَلَ رَجُلٌ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ الْغُسْلِ فَقَالَ: اغْتَسِلْ كُلَّ يَوْمٍ إِنْ شِئْتَ، فَقَالَ: الْغُسْلُ الَّذِي هُوَ الْغُسْلُ؟ قَالَ: يَوْمُ الْجُمُعَةِ، وَيَوْمُ عَرَفَةَ، وَيَوْمُ النَّحْرِ، وَيَوْمُ الْفِطْرِ

“Seseorang bertanya kepada Ali radhiyallahu’anhu tentang mandi. Beliau berkata: Mandilah setiap hari kalau mau. Maka orang itu berkata: Maksudku mandi yang dianjurkan? Beliau berkata: Mandi di hari Jumat, hari Arafah, Idul Adha dan Idul Fitri.” [HR. Al-Baihaqi, lihat Irwaaul Ghalil, 1/177]

 Kelima: Mengenakan Parfum bagi Laki-laki dan Bersiwak

Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ tentang hari Jumat yang juga merupakan hari raya kaum Muslimin:

 إِنَّ هَذَا يَوْمُ عِيدٍ، جَعَلَهُ اللَّهُ لِلْمُسْلِمِينَ، فَمَنْ جَاءَ إِلَى الْجُمُعَةِ فَلْيَغْتَسِلْ، وَإِنْ كَانَ طِيبٌ فَلْيَمَسَّ مِنْهُ، وَعَلَيْكُمْ بِالسِّوَاكِ

“Sesungguhnya ini adalah hari raya yang Allah jadikan untuk kaum Muslimin. Barang siapa yang menghadiri sholat Jumat hendaklah Mandi. Apabila ia memiliki minyak wangi, pakailah, dan hendaklah kalian bersiwak.” [HR. Ibnu Majah dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma, Shahihut Targhib: 707]

 Keenam: Berhias bagi Laki-laki dan Mengenakan Pakaian yang Paling bagus

Sebagaimana hadis Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma, beliau berkata:

أَخَذَ عُمَرُ جُبَّةً مِنْ إِسْتَبْرَقٍ تُبَاعُ فِي السُّوقِ، فَأَخَذَهَا، فَأَتَى بِهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، ابْتَعْ هَذِهِ تَجَمَّلْ بِهَا لِلْعِيدِ وَالوُفُودِ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّمَا هَذِهِ لِبَاسُ مَنْ لاَ خَلاَقَ لَهُ

“Umar mengambil jubah dari sutera yang dijual di pasar. Beliau mengambilnya lalu mendatangi Rasulullah ﷺ seraya berkata: Wahai Rasulullah, belilah pakaian ini, agar engkau berhias dengannya, untuk hari raya dan menerima utusan. Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya: Sesungguhnya pakaian sutera ini hanyalah pakaian orang (kafir) yang tidak memiliki bagian (di Akhirat).” [HR. Al-Bukhari]

Al-‘Allamah As-Sindi rahimahullah berkata:

 مِنْهُ علم أَن التجمل يَوْم الْعِيد كَانَ عَادَة متقررة بَينهم وَلم ينكرها النَّبِي صلى الله تَعَالَى عَلَيْهِ وَسلم فَعلم بَقَاؤُهَا

“Dari hadis ini diketahui, bahwa berhias di hari raya adalah kebiasaan yang sudah tetap di antara para sahabat, dan tidak diingkari oleh Nabi ﷺ. Maka diketahui tetapnya kebiasaan ini.” [Haasyiah As-Sindi ‘ala Sunan An-Nasaai, 3/181]

 Ketujuh: Sunnah Terkait Makan Pagi di Hari Raya

Disunnahkan makan kurma dalam jumlah ganjil minimal tiga butir, sebelum keluar menuju sholat Idul Fitri. Adapun Idul Adha disunnahkan untuk berpuasa (TIDAK makan dan minum -pen) sampai sholat, dan disunnahkan untuk makan dari hewan sembelihan yang kita sembelih. Sahabat yang mulia Anas bin Malik radhiyallahu’anhu berkata:

 كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَغْدُو يَوْمَ الفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ، وَيَأْكُلُهُنَّ وِتْرًا

“Rasulullah ﷺ tidak berangkat pagi hari Idul Fitri sebelum memakan beberapa butir kurma, dan beliau memakannya dalam jumlah ganjil.” [HR. Al-Bukhari]

Sahabat yang Mulia Buraidah radhiyallahu’anhu berkata:

 كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَخْرُجُ يَوْمَ الفِطْرِ حَتَّى يَطْعَمَ، وَلاَ يَطْعَمُ يَوْمَ الأَضْحَى حَتَّى يُصَلِّيَ

“Dahulu Nabi ﷺ tidak keluar pada hari Idul Fitri sampai beliau makan, dan beliau tidak makan pada hari Idul Adha sampai beliau sholat.” [HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, Shahih At-Tirmidzi, 1/302]

 Kedelapan: Keluar Menuju Sholat Idul Fitri dengan Berjalan Kaki

Sahabat yang Mulia Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu’anhu berkata:

 أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْرُجُ إِلَى الْعِيدِ مَاشِيًا، وَيَرْجِعُ مَاشِيًا

“Bahwa Nabi ﷺ keluar menuju sholat ‘Ied dengan berjalan kaki dan kembali dengan berjalan kaki.” [HR. Ibnu Majah, Shahih Ibni Majah, 1/388]

Kesembilan: Sunnah Terkait Rute Perjalanan Menuju Sholat Hari Raya

Disunnahkan mengambil jalan yang berbeda saat pergi dan kembali. Di antara hikmahnya adalah untuk menampakkan syiar Islam di hari raya. Sahabat yang mulia Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhuma berkata:

 كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ

“Rasulullah ﷺ apabila di hari raya, beliau mengambil jalan yang berbeda.” [HR. Al-Bukhari]

 Kesepuluh: Sholat Hari Raya di Lapangan

Sebagaimana hadis Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu’anhu, beliau berkata:

 كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الفِطْرِ وَالأَضْحَى إِلَى المُصَلَّى، فَأَوَّلُ شَيْءٍ يَبْدَأُ بِهِ الصَّلاَةُ، ثُمَّ يَنْصَرِفُ، فَيَقُومُ مُقَابِلَ النَّاسِ، وَالنَّاسُ جُلُوسٌ عَلَى صُفُوفِهِمْ فَيَعِظُهُمْ، وَيُوصِيهِمْ، وَيَأْمُرُهُمْ فَإِنْ كَانَ يُرِيدُ أَنْ يَقْطَعَ بَعْثًا قَطَعَهُ، أَوْ يَأْمُرَ بِشَيْءٍ أَمَرَ بِهِ، ثُمَّ يَنْصَرِفُ

“Rasulullah ﷺ keluar di hari Idul Fitri dan Idul Adha menuju lapangan tempat sholat. Maka yang pertama beliau ﷺ lakukan adalah sholat. Kemudian beliau bangkit lalu menghadap manusia, dan mereka dalam keadaan duduk di shaf-shaf mereka. Maka beliau ﷺ menasihati, memberi wasiat dan memerintahkan mereka. Apabila beliau ﷺ ingin memutuskan pengutusan sekelompok sahabat, maka beliau ﷺ memutuskannya. Atau apabila beliau ﷺ ingin memerintahkan sesuatu, maka beliau ﷺ memerintahkannya, kemudian beliau ﷺ pergi.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:

 هذا دليل لمن قال باستحباب الخروج لصلاة العيد إلى المصلى وأنه أفضل من فعلها في المسجد، وعلى هذا عمل الناس في معظم الأمصار، وأما أهل مكة فلا يصلونها إلا في المسجد من الزمن الأول

“Ini adalah dalil bagi ulama yang berpendapat disunnahkan keluar untuk sholat hari raya di lapangan, dan bahwa itu lebih afdhal dilakukan daripada di masjid. Dan inilah yang diamalkan manusia di kebanyakan negeri. Adapun penduduk Makkah tidaklah mereka sholat kecuali di masjid, sejak zaman yang pertama.” [Syarhu Muslim, 6/177]

Faidah: Sebagian ulama berdalil dengan hadis ini untuk menguatkan pendapat, bahwa Rasulullah ﷺ berkhutbah di hari raya TANPA mimbar dan beliau ﷺ hanya melakukan sekali khutbah, TANPA duduk pemisah antara dua khutbah. Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah menyebutkan hadis ini dalam bab yang beliau beri judul:

 بَابُ الخُرُوجِ إِلَى المُصَلَّى بِغَيْرِ مِنْبَرٍ

“Bab Keluar Menuju Lapangan Tempat Sholat Tanpa Mimbar.” [Shahih Al-Bukhari]

Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

 ومن نظر في السنّة المتفق عليها في الصحيحين وغيرهما تبين له أن النبي صلّى الله عليه وسلّم لم يخطب إلا خطبة واحدة، لكنه بعد أن أنهى الخطبة الأولى توجه إلى النساء ووعظهنّ، فإن جعلنا هذا أصلاً في مشروعية الخطبتين فمحتمل، مع أنه بعيد؛ لأنه إنما نزل إلى النساء وخطبهنّ لعدم وصول الخطبة إليهن وهذا احتمال. ويحتمل أن يكون الكلام وصلهن ولكن أراد أن يخصهنّ بخصيصة، ولهذا ذكرهنّ ووعظهنّ بأشياء خاصة بهنّ

“Barang siapa meneliti As-Sunnah yang disepakati atasnya dalam Shahih Al-Bukhari, Muslim dan selain keduanya, akan jelas baginya, bahwa Nabi ﷺ TIDAK berkhutbah (di hari raya) kecuali satu khutbah. Akan tetapi setelah beliau ﷺ menyelesaikan khutbah pertama, beliau ﷺ menuju kaum wanita dan menasihati mereka. Apabila kita jadikan ini sebagai dalil disyariatkan dua khutbah, maka ada kemungkinan, meski jauh, karena beliau ﷺ hanyalah turun menuju kaum wanita, dan berkhutbah kepada mereka, karena suara khutbah beliau ﷺ tidak sampai ke mereka. Ini satu kemungkinan. Kemungkinan lain, suara beliau ﷺ telah sampai kepada mereka, akan tetapi beliau ﷺ ingin memberi nasihat khusus kepada mereka. Oleh karena itu beliau ﷺ mengingatkan dan menasihati mereka dengan perkara-perkara khusus bagi mereka.” [Asy-Syarhul Mumti’, 5/146]

 Kesebelas: Bersegera Menuju Tempat Sholat bagi Makmum Sebelum Datangnya Imam

Disunnahkan bagi makmum untuk bersegera menuju tempat sholat dan menunggu imam. Dan disunnahkan bagi imam untuk datang tepat di waktu sholat dan langsung memulai sholat, sebagaimana hadis Abu Sai’id Al-Khudri radhiyallahu’anhu, beliau berkata:

 كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الفِطْرِ وَالأَضْحَى إِلَى المُصَلَّى، فَأَوَّلُ شَيْءٍ يَبْدَأُ بِهِ الصَّلاَةُ

“Rasulullah ﷺ keluar di hari Idul Fitri dan Idul Adha menuju lapangan tempat sholat, maka yang pertama beliau lakukan adalah sholat.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

 Keduabelas: Adakah Sholat Sunnah Sebelum ‘Ied?

Sebagian ulama berpendapat bahwa TIDAK disunnahkan sholat sunnah secara khusus sebelum dan sesudah sholat ‘Ied. Kecuali apabila sholat ‘Ied dilaksanakan di masjid, maka disunnahkan sholat Tahiyyatul Masjid, apabila sholat ‘Ied belum dimulai. Sahabat yang mulia Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma berkata:

 أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى يَوْمَ الفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلاَ بَعْدَهَا

“Bahwa Nabi ﷺ sholat Idul Fitri dua rakaat. Beliau ﷺ tidak sholat apa pun sebelumnya dan setelahnya.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Ini adalah pendapat yang kuat insya Allah, dan dikuatkan oleh Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah dan Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah [Lihat Zaadul Ma’ad, 1/443 dan Majmu’ Fatawa Ibni Baz, 13/16].

Dan sebagian ulama seperti Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah membolehkan bagi makmum, tidak bagi imam, sebab hadis di atas menyebutkan tentang perbuatan Rasululllah ﷺ sebagai imam, bukan makmum dan atas dasar lapangan tempat sholat juga termasuk masjid [Lihat Majmu’ Fatawa Ibni ‘Utsaimin, 16/254].

 Ketigabelas: Tidak Boleh Membawa Senjata Kecuali Darurat

Berdasarkan hadis Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma, ketika beliau berkata kepada Al-Hajjaj:

 حَمَلْتَ السِّلاَحَ فِي يَوْمٍ لَمْ يَكُنْ يُحْمَلُ فِيهِ، وَأَدْخَلْتَ السِّلاَحَ الحَرَمَ وَلَمْ يَكُنِ السِّلاَحُ يُدْخَلُ الحَرَمَ

“Engkau membawa senjata di hari (raya) yang tidak boleh padanya membawa senjata, dan engkau telah memasukkan senjata di Al-Harom, padahal tidak boleh memasukkan senjata ke Al-Harom.” [HR. Al-Bukhari]

 Keempatbelas: Permainan yang Dibolehkan di Hari Raya

Dibolehkan permainan yang mubah di hari raya dan diizinkan bagi anak kecil perempuan yang belum baligh untuk menyanyi dengan menggunakan satu-satunya alat musik yang dibolehkan dalam syariat, yaitu rebana, sebagaimana dalam hadis Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu’anha, beliau berkata:

 دَخَلَ أَبُو بَكْرٍ وَعِنْدِي جَارِيَتَانِ مِنْ جَوَارِي الأَنْصَارِ تُغَنِّيَانِ بِمَا تَقَاوَلَتِ الأَنْصَارُ يَوْمَ بُعَاثَ قَالَتْ وَلَيْسَتَا بِمُغَنِّيَتَيْنِ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ أَمَزَامِيرُ الشَّيْطَانِ فِي بَيْتِ رَسُولِ اللهِ وَذَلِكَ فِي يَوْمِ عِيدٍ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَا أَبَا بَكْرٍ إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا وَهَذَا عِيدُنَا

“Abu Bakr masuk dan ketika itu bersamaku ada dua orang anak kecil perempuan dari kalangan Anshar sedang bersenandung syair kaum Anshor pada peperangan Bu’ats, dan kedua anak itu bukanlah penyanyi. Maka Abu Bakar berkata: “Apakah seruling-seruling setan di rumah Rasulullah ﷺ!?” Dan ketika itu hari raya, maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Wahai Abu Bakar, biarkan mereka, karena sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya, dan ini adalah hari raya kita.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Dalam riwayat Muslim:

 جَارِيَتَانِ تَلْعَبَانِ بِدُفٍّ

“Dua orang anak kecil perempuan bermain rebana.”

Al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

 وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ مِنَ الْفَوَائِدِ مَشْرُوعِيَّةُ التَّوْسِعَةِ عَلَى الْعِيَالِ فِي أَيَّامِ الْأَعْيَادِ بِأَنْوَاعِ مَا يَحْصُلُ لَهُمْ بَسْطُ النَّفْسِ وَتَرْوِيحُ الْبَدَنِ مِنْ كَلَفِ الْعِبَادَةِ وَأَنَّ الْإِعْرَاضَ عَنْ ذَلِكَ أَوْلَى وَفِيهِ أَنَّ إِظْهَارَ السُّرُورِ فِي الْأَعْيَادِ مِنْ شِعَارِ الدِّينِ

“Di antara faidah hadis ini adalah disyariatkan untuk memberi kelapangan kepada keluarga di hari-hari raya, dengan berbagai macam hiburan yang menyenangkan jiwa dan menyamankan tubuh dari beban ibadah. Dan bahwa berpaling dari hal itu lebih baik. Dalam hadis ini juga ada faidah, bahwa menampakkan kegembiraan di hari-hari raya termasuk syiar agama.” [Fathul Bari, 2/443]

Peringatan: Sebagian orang berdalil dengan hadis ini untuk membolehkan nyanyian dan music. Padahal justru hadis ini adalah dalil yang tegas menunjukkan, bahwa nyanyian dan alat musik adalah seruling setan, karena Rasulullah ﷺ tidak mengingkari ucapan Abu Bakr radhiyallahu’anhu. Maka nyanyian dan musik diharamkan dalam Islam. Hanya saja beliau menjelaskan kepada Abu Bakr, bahwa ini adalah musik yang diperkecualikan, yaitu nyanyian anak perempuan kecil dengan rebana di hari raya.

 Kelimabelas: Anjuran bagi Wanita untuk Keluar Menuju Sholat ‘Ied dengan Syarat Tidak Tabarruj

Dianjurkan bagi kaum wanita untuk keluar menuju sholat dan khutbah ‘Ied dengan tanpa Tabarruj (menampakkan kecantikan) dan tanpa mengenakan wewangian, sebagaimana hadis Ummu ‘Athiyyah radhiyallahu’anha, beliau berkata:

 أَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِي الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى، الْعَوَاتِقَ، وَالْحُيَّضَ، وَذَوَاتِ الْخُدُورِ، فَأَمَّا الْحُيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ الصَّلَاةَ، وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ، وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِينَ، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ إِحْدَانَا لَا يَكُونُ لَهَا جِلْبَابٌ، قَالَ: لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا

“Rasulullah ﷺ memerintahkan kami untuk mengeluarkan para wanita di hari Idul Fitri dan Idul Adha, yaitu wanita-wanita yang masih perawan, yang haid dan yang dipingit. Adapun wanita haid hendaklah menjauhi tempat sholat dan hendaklah tetap menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum Muslimin. Aku berkata: Wahai Rasulullah, salah seorang dari kami tidak memiliki jilbab. Beliau ﷺ bersabda: Hendaklah saudaranya memakaikan jilbab kepadanya.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

 Keenambelas: Anjuran Mengajak Anak-anak Menuju Sholat ‘Ied

Dianjurkan juga bagi anak-anak untuk ikut keluar menuju tempat sholat dan khutbah ‘Ied, sebagaimana Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma ketika beliau masih kecil, beliau ikut keluar bersama Rasulullah ﷺ, beliau berkata:

 خَرَجْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ فِطْرٍ أَوْ أَضْحَى فَصَلَّى، ثُمَّ خَطَبَ، ثُمَّ أَتَى النِّسَاءَ، فَوَعَظَهُنَّ، وَذَكَّرَهُنَّ، وَأَمَرَهُنَّ بِالصَّدَقَةِ

“Aku pernah keluar bersama Nabi ﷺ pada hari Idul Fitri atau Idul Adha. Maka beliau sholat, kemudian berkhutbah, kemudian mendatangi kaum wanita, lalu menasihati dan mengingatkan mereka, dan memerintahkan mereka bersedekah.” [HR. Al-Bukhari]

Al-Imam Al-Bukhari menyebutkan hadis ini dalam bab yang beliau beri judul:

 بَابُ خُرُوجِ الصِّبْيَانِ إِلَى المُصَلَّى

“Bab Keluarnya Anak-anak Menuju Lapangan Tempat Sholat ‘Ied.” [Shahih Al-Bukhari]

 Ketujuhbelas: Apa Hukum Ucapan Selamat Idul Fitri?

Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata:

 لا حرج أن يقول المسلم لأخيه في يوم العيد أو غيره تقبل الله منا ومنك أعمالنا الصالحة، ولا أعلم في هذا شيئا منصوصا، وإنما يدعو المؤمن لأخيه بالدعوات الطيبة؛ لأدلة كثيرة وردت في ذلك

“Tidak mengapa seorang Muslim berkata kepada saudaranya di hari raya atau selainnya:

 تقبل الله منا ومنك أعمالنا الصالحة

‘Semoga Allah menerima amal-amal saleh dari kami dan darimu’.

Dan aku tidak mengetahui ucapan khusus yang berdasar dalil. Akan tetapi boleh bagi seorang Mukmin mendoakan saudaranya dengan doa-doa yang baik, berdasarkan banyak dalil umum tentang itu.” [Majmu Fatawa Ibni Baz, 13/25]

Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

 التهنئة بالعيد جائزة، وليس لها تهنئة مخصوصة، بل ما اعتاده الناس فهو جائز ما لم يكن إثماً

“Mengucapkan selamat hari raya dibolehkan, dan tidak ada lafaz khusus yang disyariatkan. Maka ucapan selamat yang sudah biasa dilakukan manusia adalah boleh, selama tidak mengandung dosa.” [Majmu’ Fatawa wa Rosaail Ibnil ‘Utsaimin, 16/210]

Dan termasuk dosa yang harus dijauhi adalah berjabat tangan atau bersentuhan dan ikhtilat (campur baur) antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram ketika saling mengucapkan selamat hari raya. Rasulullah ﷺ bersabda:

 لَأنْ يُطعَنَ في رأسِ أحدِكم بمِخيَطٍ من حديدٍ خيرٌ لهُ مِنْ أن يَمَسَّ امرأةً لا تَحِلُّ لهُ

“Sungguh, ditusuknya kepala seorang dari kalian dengan jarum besi, lebih baik baginya dibanding menyentuh seorang wanita yang tidak halal baginya.” [HR. Ath-Thabrani dalam Al-Kabir dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu’anhu, Shahihul Jaami’: 5045]

 

 وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber:

#Madrasah_Ramadhan:📚 MERAIH BERKAH BERSAMA SUNNAH-SUNNAH DI HARI RAYA✅ Pertama: Mengeluarkan Zakat FitriDiwajibkan…

Posted by Sofyan Chalid bin Idham Ruray on Saturday, July 2, 2016

 

 

2016-09-21T20:19:03+00:00 21 September 2016|Fikih dan Muamalah, Hadis|0 Comments

Leave A Comment