MENYIKAPI MANUSIA MENURUT DZAHIRNYA SAJA, SEDANGKAN ISI HATINYA DISERAHKAN KEPADA ALLAH

MENYIKAPI MANUSIA MENURUT DZAHIRNYA SAJA, SEDANGKAN ISI HATINYA DISERAHKAN KEPADA ALLAH

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

? MENYIKAPI MANUSIA MENURUT DZAHIRNYA SAJA, SEDANGKAN ISI HATINYA DISERAHKAN KEPADA ALLAH ❤️

▶️Maksud menyikapi manusia menurut dzahirnya adalah dengan berpedoman kepada lahiriyah orang tersebut. Jika secara lahiriyah seseorang telah mengikrarkan Dua Kalimat Syahadat, melaksanakan kewajiban shalat lima kali sehari- semalam, berpuasa Ramadan, menunaikan zakat, dan lainnya, maka kita menyikapinya sebagai seorang Muslim dan Mukmin. Adapun isi hatinya kita serahkan kepada Allah Yang Maha Mengetahui perkara ghaib. Allah berfirman:

فَإِنْ تَابُوْا وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَءَاتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوْا سَبِيْلَهُمْ

Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. [At Taubah: 5].

⏭ Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali berkata: “Ayat ini menjelaskan, barang siapa bertaubat, lalu beriman kepada Allah dan Rasulullah Muhammad ﷺ, menegakkan shalat, dan menunaikan zakat, maka darah dan hartanya terjaga. Dan seseorang pun tidak pantas mengganggunya dengan membunuh atau mengepung. Hal itu meliputi orang yang melakukan dengan sebenarnya, atau secara lahiriyah saja.” [Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhush Shalihin I/459, karya Syeikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali].

✅ Rasulullah ﷺ bersabda:

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَإِذَا قَالُوا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّهَا وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ ثُمَّ قَرَأَ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُسَيْطِرٍ

Aku diperintahkan (oleh Allah) untuk memerangi manusia, sampai mereka mengatakan Laa ilaaha illa Allah. Jika telah mengatakan Laa ilaaha illa Allah, mereka telah menjaga darah dan harta mereka dariku, kecuali dengan haknya. Sedangkan perhitungan mereka atas tanggungan Allah. Kemudian beliau ﷺ membaca (firman Allah yang artinya): Sesungguhnya kamu adalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka [Ghasyiyah: 21-22].

✅ Sabda Rasulullah ﷺ: “Sedangkan perhitungan mereka atas tanggungan Allah,” menunjukkan, bahwa menghukumi seseorang di dunia ini ialah dengan apa yang ditunjukkan oleh lahiriyahnya [Lihat Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhush Shalihin I/460].

Jadi kita hanya menghukumi secara dzahirnya saja, baik dalam hukum, atau keyakinan orang lain. Nabi Muhammad ﷺ  yang mendapatkan wahyu, beliau menerapkan hukum dzahir (tampak)  pada orang-orang munafik [Al-Muwafaqat 2/271 oleh asy-Syathibi].

Orang-orang munafik secara dzahir sholat, puasa, haji, perang, nikah, dan saling mewarisi dengan kaum Muslimin pada zaman Nabi ﷺ. Sekalipun demikian, beliau ﷺ tidak menghukumi orang-orang munafik dengan hukum orang kafir. Bahkan tatkala Abdullah bin Ubai—tokoh munafik yang paling terkenal—meninggal dunia, Rasulullah ﷺ memberikan hak waris kepada anaknya yang notabene termasuk seorang sahabat sejati. Maka hukum Nabi ﷺ dalam masalah darah dan harta mereka sama seperti Muslimin lainnya. Beliau ﷺ tidak menghalalkan harta dan darah mereka, kecuali dengan perkara yang dzahir (tampak). Padahal beliau ﷺ mengetahui kemunafikan kebanyakan orang-orang munafik tersebut [Al-Iman Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah hlm. 198–201].

✅ Dalil yang sangat jelas tentang hal ini adalah hadis Usamah sebagai berikut:

بَعَثَنَا رَسُولُ اللهِ  فِي سَرِيَّةٍ فَصَبَّحْنَا الْحُرَقَاتِ مِنْ جُهَيْنَةَ فَأَدْرَكْتُ رَجُلًا فَقَالَ لَا إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ. فَطَعَنْتُهُ فَوَقَعَ فِي نَفْسِى مِنْ ذٰلِكَ فَذَكَرْتُهُ لِلنَّبِىِّ  فَقَالَ رَسُولُ اللهِ : « أَقَالَ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَقَتَلْتَهُ ». قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّمَا قَالَهَا خَوْفًا مِنَ السِّلَاحِ. قَالَ: « أَفَلَا شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ حَتَّى تَعْلَمَ أَقَالَهَا أَمْ لَا ». فَمَازَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَىَّ حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّى أَسْلَمْتُ يَوْمَئِذٍ

Pernah Rasulullah ﷺ mengutus kami dalam peperangan kecil. Lalu pagi-pagi kami mendatangi Huruqat, sebuah tempat kaum Juhainah, dan saya mengejar seorang lelaki, tapi dia mengatakan: “La Ilaha Illallah.” Aku membunuhnya. Hati tidak enak dengan hal itu, maka aku tanyakan kepada Rasulullah ﷺ. Beliau bersabda: “Apakah setelah dia mengatakan La Ilaha Illallah kamu membunuhnya?!” Saya berkata: “Ya Rasulullah, dia mengatakannya karena takut pedang.” Beliau menjawab: “Kenapa engkau tidak membelah hatinya saja, agar kamu tahu apakah benar dia mengatakannya karena takut, ataukah tidak.” Beliau terus-menerus mengulang ucapan tersebut, sehingga saya berangan-angan seandainya baru masuk Islam saat itu [HR. Bukhari: 4269 dan Muslim: 159].

⏭ Imam Nawawi berkata:

Makna hadis ini, kamu hanya dibebani dengan amalan yang tampak saja, dan apa yang diucapkan oleh lisan. Adapun apa yang di dalam hati, maka kamu tidak mungkin mengetahuinya. Nabi ﷺ mengingkari Usamah tatkala dia tidak menerapkan hukum dzahir ini …. Dalam hadis ini terdapat kaidah yang terkenal dalam Fikih Dan Ushul bahwa “Hukum itu berdasarkan yang tampak saja, Allah yang mengurusi urusan hati” [Syarh Muslim 2/104].

 

Sumber:

https://almanhaj.or.id/2989-orang-bodoh-dimaafkan.html

http://abiubaidah.com/norma-norma-penting-sebelum-menjatuhkan-vonis-kafir.html/

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *