Jika kita mengetahui dan menyadari bahwa manusia itu tempatnya AIB (kesalahan dan kekurangan)

Maka:

1. Kebaikan dari Allah, apabila Dia menutupi kebanyakan aib kita di hadapan manusia. Hakikat baiknya seseorang itu karena sedikitnya aib yang tampak darinya, dan banyaknya aib yang Allah tutup baginya. Jadi apa yang mau dibanggakan, padahal kita sendiri mengetahui dan mengakui kita banyak aib, yang itu ditutupi Allah dari manusia? (Kalau menganggap tidak punya aib, maka ini bukti kurang introspeksi diri, atau justru sibuk dengan aib orang, sehingga luput dengan aib-aib sendiri).

2. Berusahalah mengenali aib-aib kita, dan berusahalah memerbaikinya. Bukannya malah sengaja menampakkannya, bahkan berbangga dengannya. Bahkan Allah benci terhadap seseorang yang berbangga dengan aibnya. Allah juga benci terhadap seseorang yang telah Allah tutup aibnya, tapi dia malah menceritakan aibnya tersebut! Na’uudzubillaah!

3. Berusahalah berteman dengan teman-teman shaalih, yang dengannya mereka mengingatkan kita tentang aib kita. Terkadang kita sudah mencari aib, tapi tidak dapat kita deteksi sendiri; baru bisa dideteksi teman kita, sehingga dia mengingatkan kita. Yang dengannya kita dapat mengenal aib tersebut dan memperbaikinya. Dan sebaik-baik teman, adalah yang mengingatkan aib kita secara empat mata.

4. Berusahalah menutupi aib-aib orang lain (yang memang tidak menampakkan dan tidak berbangga dengan aibnya). Karena jika kita menutup aib mereka, maka Allah akan tutup aib-aib kita di DUNIA dan di AKHIRAT. Sebaliknya, jika kita malah membongkar aib yang tidak sepantasnya dibongkar, atau menonjolkan pada seseorang sebuah aib yang sebenarnya tidak pantas ditonjolkan padanya; apalagi sampai mencari-cari aib mereka, maka, berhati-hatilah. Allah akan mencari-cari aib kita; yang dengannya akan tersingkaplah aib kita di hadapan manusia. Maka hendaknya kita melakukan ini karena Allah (bukan hanya karena dia tidak berbuat jelek kepada kita), sehingga kalau pun kita mendapati orang lain membongkar aib kita; maka jangan sampai kita malah membalas membongkar aibnya, padahal aibnya tersebut tidak pantas dibongkar. Dibongkarnya aib kita, bukan berarti menjadikan ‘Halal’ membongkar aib orang yang tidak pantas dibongkar.

5. Ketika aib-aib ditampakkan di DUNIA, maka masih ada kesempatan untuk bertaubat, agar kita lepas dari aib tersebut. Masih untung aib kita hanya disimak beberapa manusia (Berapa paling banyak? Ratusan? Ribuan? Jutaan?)… daripada nanti jika aib kita di tampakkan di hadapan SELURUH MANUSIA (dari Nabi Adam sampai manusia terakhir)?!

Setelah mengusahakan hal di atas, maka semoga Allah mewafatkan kita dalam keadaan aib-aib kita ditutupi-Nya. Karena seorang yang ditutupi aibnya di dunia, lebih berhak ditutupi lagi di akhirat.

Sudahkah Anda membaca dzikir:

اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِيْ، وَآمِنْ رَوْعَاتِيْ

Allahummastur ‘awraatiy, wa aamin raw-‘aatiy

Artinya:

Ya Allah, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tenteramkanlah aku dari rasa takut.

Bacalah… Dengan penghadiran hati… Semoga diijabah… Aamiin

 

https://abuzuhriy.wordpress.com/2015/08/03/manusia-tempatnya-aib-kesalahan-dan-kekurangan/