بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Faidah_Tafsir

KEMENANGAN ISLAM BUKAN KARENA JUMLAH YANG BANYAK

  • Pelajaran Dari Perang Hunain Dan Uhud

Allah ‘azza wa jalla berfirman tentang Perang Hunain:

لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ ۙ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُم مُّمُّدْبِرِينَ

“Sesungguhnya Allah telah menolong kalian (wahai kaum Mukminin) di medan peperangan yang banyak. Dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kalian bangga dengan banyaknya jumlah kalian, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepada kalian sedikit pun. Dan bumi yang luas itu telah terasa sempit oleh kalian, kemudian kalian lari ke belakang dengan bercerai-berai.” [At-Taubah: 25]

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

يذكر تعالى للمؤمنين فضله عليهم وإحسانه لديهم في نصره إياهم في مواطن كثيرة من غزواتهم مع رسوله وأن ذلك من عنده تعالى ، وبتأييده وتقديره ، لا بعددهم ولا بعددهم ، ونبههم على أن النصر من عنده ، سواء قل الجمع أو كثر ، فإن يوم حنين أعجبتهم كثرتهم ، ومع هذا ما أجدى ذلك عنهم شيئا فولوا مدبرين إلا القليل منهم مع رسول الله – صلى الله عليه وسلم

“Allah ta’ala menyebutkan bagi kaum Mukminin anugerah-Nya dan kebaikan-Nya kepada mereka dalam pertolongan-Nya untuk mereka pada banyak peperangan yang mereka ikuti bersama Rasul-Nya ﷺ. Bahwa kemenangan tersebut berasal dari Allah ta’ala, pertolongan-Nya dan takdir-Nya, bukan karena jumlah mereka dan bukan pula karena jumlah musuh.

Dan Allah mengingatkan kaum Muslimin, bahwa kemenangan berasal dari Allah, sama saja apakah jumlah mereka banyak atau sedikit. Maka Perang Hunain menjadi saksi ketika mereka bangga dengan banyaknya pasukan, ternyata tidak bermanfaat bagi mereka sedikit pun. Mereka pun terpukul mundur, kecuali sedikit pasukan yang terus bertahan bersama Rasulullah ﷺ.” [Tafsir Ibnu Katsir, 4/110]

Allah ‘azza wa jalla berfirman tentang Perang Uhud:

وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللَّهُ وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُمْ بِإِذْنِهِ حَتَّى إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِي الْأَمْرِ وَعَصَيْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَا أَرَاكُمْ مَا تُحِبُّونَ

“Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kalian, ketika kalian memerangi mereka dengan izin-Nya, sampai pada saat kalian lemah dan berselisih dalam urusan itu, dan mendurhakai perintah (Rasul), sesudah Allah memerlihatkan kepada kalian, apa yang kalian sukai.” [Ali Imron: 152]

Asy-Syaikh Al-‘Allamah Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata:

وهذا الجبل حصلت فيه وقعة في السنة الثالثة من الهجرة في شوال هزم فيها المسلمون بسبب ما حصل منهم من مخالفة أمر النبي صلى الله عليه وسلم كما أشار الله إلى ذلك بقوله: {حَتَّى إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِي الأَمْرِ وَعَصَيْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَا أَرَاكُمْ مَا تُحِبُّونَ} وجواب الشرط محذوف تقديره: حصل لكم ما تكرهون.

وقد حصلت هزيمة المسلمين لمعصية واحدة، ونحن الآن نريد الانتصار والمعاصي كثيرة عندنا، ولهذا لا يمكن أن نفرح بنصر ما دمنا على هذه الحال، إلا أن يرفق الله بنا ويصلحنا جميعا.

“Bukit Uhud adalah lokasi pertempuran di bulan Syawwal tahun ke 2 Hijriyah. Kaum Muslimin terpukul karena perbuatan mereka menyelisihi perintah Rasulullah ﷺ, sebagaimana Allah isyaratkan dalam ayat ini:

“Sampai pada saat kalian lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memerlihatkan kepada kalian apa yang kalian sukai” maka terjadilah apa yang tidak kalian sukai. Dan sungguh, kaum Muslimin terpukul di Perang Uhud karena satu maksiat, sementara kita sekarang ingin menang tapi maksiat kita banyak. Maka tidak mungkin kita meraih pertolongan Allah, selama kita masih seperti ini, kecuali Allah bersikap lembut dan memerbaiki keadaan kita semuanya.” [Al-Qoulul Mufid, 1/290]

Kunci Kemenangan Kaum Muslimin Adalah Memperbaiki Keimanan dengan Meninggalkan Dosa dan Kesesatan

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

وحيث ظهر الكفار فإنما ذاك لذنوب المسلمين التي أوجبت نقص إيمانهم، ثم إذا تابوا بتكميل إيمانهم نصرهم الله كما قال تعالى ولا تهنوا ولا تحزنوا وأنتم الأعلون إن كنتم مؤمنين وقال أولما أصابتكم مصيبة قد أصبتم مثليها قلتم أنى هذا قل هو من عند أنفسكم

“Ketika orang-orang kafir menang, maka itu hanyalah karena dosa-dosa kaum Muslimin yang telah melemahkan iman mereka. Kemudian apabila mereka bertaubat dengan menyempurnakan kembali iman mereka, maka Allah akan menolong mereka.

Sebagaimana firman Allah ta’ala:

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang lebih tinggi, jika kamu orang-orang yang beriman.” (Ali Imron: 139)

Dan firman Allah ta’ala:

أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ

“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Ali Imron: 165).” [Al-Jawaabus Shahih, 6/450]

Beberapa Kemaksiatan dan Kemungkaran yang Seharusnya Ditinggalkan

  1. Syirik dan kufur kepada Allah ta’ala dan kerusakan-kerusakan akidah, di antara bentuknya:
  • Pengagungan terhadap kuburan orang-orang saleh secara berlebihan dengan cara berdoa kepada penghuni kubur tersebut atau mengharap berkah darinya. Kenyataannya masih ada ormas Islam yang malah melindungi praktik syirik tersebut.
  • Upacara sesajen dan menyembelih untuk selain Allah, serta meyakini selain Allah dapat menimpakan bencana atau menghilangkannya dan melindungi mereka darinya.
  • Kekafiran Syiah dan celaan mereka terhadap para sahabat Nabi ﷺ. Kenyataannya masih ada ormas Islam yang membela Syiah.
  • Bersikap loyal kepada orang-orang kafir seperti dengan memilih dan mengangkat mereka menjadi pemimpin dan pejabat, mengucapkan selamat terhadap hari raya mereka dan meniru-niru kebiasaan mereka.
  • Percaya kepada jimat, takut sial dan masih banyak lagi praktik-praktik kesyirikan yang harus ditinggalkan.
  1. Bid’ah dan penyelisihan kepada Rasulullah ﷺ, di antara bentuknya:
  • Bid’ah Khawarij, di antaranya melakukan ‘jihad’ dan ‘nahi munkar’ kepada penguasa yang zalim dengan pemberontakan, baik pemberontakan dengan senjata maupun dengan kata-kata, yaitu menjelek-jelekan pemerintah di depan khalayak, bahkan terang-terangan mengajak revolusi.
  • Perayaan-perayaan yang tidak berdasarkan dalil, seperti perayaan Maulid, Isra’ Mi’raj, Muharram dan lain-lain.
  • Doa dan dzikir berjamaah, bahkan dengan menggunakan nyanyian dan musik.
  • Menciptakan lafaz-lafaz sholawat sendiri dan atau menyanyikannya.
  • Dan masih banyak berbagai macam bid’ah dan penyelisihan terhadap sunnah Nabi ﷺ.
  1. Maksiat dan kemungkaran, di antaranya:
  • Zina
  • Riba
  • Nyanyian dan musik
  • Campur baur laki dan wanita
  • Wanita membuka aurat
  • Dan masih banyak maksiat dan kemungkaran yang seharusnya ditinggalkan.

Semoga Allah jalla wa ‘ala menolong kita semua untuk taat kepada-Nya dan meninggalkan semua perbuatan dosa.

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/708901312592687:0