KAYA BUKAN TANDA MULIA, MISKIN BUKAN TANDA HINA

///KAYA BUKAN TANDA MULIA, MISKIN BUKAN TANDA HINA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid
KAYA BUKAN TANDA MULIA, MISKIN BUKAN TANDA HINA
Ketahuilah, bahwa kaya dan miskin bukanlah tanda orang itu mulia atau hina, karena orang kafir saja Allah beri rezeki. Begitu pula dengan orang yang bermaksiat pun Allah beri rezeki. Jadi rezeki TIDAK dibatasi pada orang beriman saja. Itulah lathif-nya Allah (Maha Lembutnya Allah), sebagaimana dalam ayat disebutkan:

اللهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ القَوِيُّ العَزِيزُ

“Allah Maha lembut terhadap hamba-hamba-Nya. Dia memberi rezeki kepada yang di kehendaki-Nya dan Dialah yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Asy Syura: 19)
Sifat orang-orang yang tidak beriman adalah menjadikan tolak ukur kaya dan miskin sebagai ukuran mulia ataukah tidak. Allah Ta’ala berfirman:

وَقَالُوا نَحْنُ أَكْثَرُ أَمْوَالًا وَأَوْلَادًا وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ (35) قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ (36) وَمَا أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ بِالَّتِي تُقَرِّبُكُمْ عِنْدَنَا زُلْفَى إِلَّا مَنْ آَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَئِكَ لَهُمْ جَزَاءُ الضِّعْفِ بِمَا عَمِلُوا وَهُمْ فِي الْغُرُفَاتِ آَمِنُونَ (37)

“Dan mereka berkata: “Kami lebih banyak memunyai harta dan anak- anak (daripada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan diazab. Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikehendaki-Nya). Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. Dan sekali-kali BUKANLAH harta dan BUKAN (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikit pun. Tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka itulah yang memeroleh balasan yang berlipat ganda, disebabkan apa yang telah mereka kerjakan. Dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam Surga).” (QS. Saba’: 35-37)
Bukanlah banyaknya harta dan anak yang mendekatkan diri pada Allah, namun iman dan amalan saleh, sebagaiman disebutkan dalam surat Saba’ di atas. Penjelasan dalam ayat ini senada dengan sabda Nabi ﷺ:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian” (HR. Muslim no. 2564, dari Abu Hurairah)
Kaya bisa saja sebagai ISTIDROJ dari Allah. Yaitu hamba yang suka bermaksiat dibuat terus terlena dengan maksiatnya, lantas ia dilapangkan rezeki. Miskin pun bisa jadi sebagai azab atau siksaan.
Semoga kita bisa merenungkan hal ini.
 
Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal hafizhahullah
Sumber: https://muslim.or.id/5562-memahami-allah-maha-pemberi-rezeki.html

2017-01-18T23:23:18+00:00 18 January 2017|Akidah & Tauhid|1 Comment

Leave A Comment