JIKA LUPA MELAKUKAN SUJUD SAHWI, APAKAH SHALATNYA MESTI DIULANGI?

/, Sifat Sholat Nabi/JIKA LUPA MELAKUKAN SUJUD SAHWI, APAKAH SHALATNYA MESTI DIULANGI?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 

#SifatSholatNabi

JIKA LUPA MELAKUKAN SUJUD SAHWI, APAKAH SHALATNYA MESTI DIULANGI?

Sahwi secara bahasa bermakna lupa atau lalai.[Lisanul ‘Arob, Muhammad bin Makrom binn Manzhur Al Afriqi Al Mishri, 14/406, Dar Shodir]. Sujud Sahwi secara istilah adalah sujud yang dilakukan di akhir shalat atau setelah shalat, untuk menutupi cacat dalam shalat, karena meninggalkan sesuatu yang diperintahkan, atau mengerjakan sesuatu yang dilarang dengan tidak sengaja.[Shahih Fiqh Sunnah, Syaikh Abu Malik, 1/459, Al Maktabah At Taufiqiyah]

Mengenai masalah lupa melakukan Sujud Sahwi, kita dapat bagi menjadi dua keadaan:

Keadaan Pertama: Jika Sujud Sahwi yang ditinggalkan sudah lama waktunya, namun wudhunya belum batal.

Dalam keadaan seperti ini, menurut pendapat yang lebih kuat, selama wudhunya masih ada, maka shalatnya tadi masih tetap teranggap dan ia melakukan Sujud Sahwi ketika ia ingat, meskipun waktunya sudah lama. Inilah pendapat Imam Malik, pendapat yang terdahulu dari Imam Asy Syafi’i, Yahya bin Sa’id Al Anshori, Al Laits, Al Auza’i, Ibnu Hazm dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah [Namun Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengkhususkan jika memang Sujud Sahwinya terletak sesudah salam, inilah yang beliau bolehkan. Lihat Majmu’ Al Fatawa, 23/32]. [Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/466]

Di antara alasan pendapat di atas adalah:

Pertama: Karena jika kita mengatakan, bahwa kalau sudah lama ia meninggalkan Sujud Sahwi, maka ini sebenarnya sulit dijadikan standar. Nabi ﷺ sendiri pernah dalam lupa, sehingga hanya mengerjakan dua atau tiga rakaat. Setelah itu malah beliau ﷺ ngobrol-ngobrol, lalu keluar dari masjid, terus masuk ke dalam rumah. Lalu setelah itu ada yang mengingatkan. Lantas beliau ﷺ pun mengerjakan rakaat yang kurang tadi. Setelah itu beliau ﷺ melakukan Sujud Sahwi. Ini menunjukkan bahwa beliau ﷺ melakukan Sujud Sahwi dalam waktu yang lama. Artinya waktu yang lama tidak bisa dijadikan.

Kedua: Orang yang lupa, selama wudhunya masih ada, diperintahkan untuk menyempurnakan shalatnya dan diperintahkan untuk Sujud Sahwi. Meskipun lama waktunya, Sujud Sahwi tetap diwajibkan. Hal ini berdasarkan keumuman sabda Nabi ﷺ:

مَنْ نَسِىَ صَلاَةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذَا ذَكَرَهَا

“Barang siapa yang lupa mengerjakan shalat atau ketiduran, maka kafarahnya (penebusnya) adalah hendaklah ia shalat ketika ia ingat.” (HR. Muslim no. 684)

Keadaan Kedua: Jika Sujud Sahwinya ditinggalkan dan wudhunya batal

Untuk keadaan kedua ini, berarti shalatnya batal. Hal ini berdasarkan kesepakatan para ulama. Orang seperti berarti harus mengulangi shalatnya. Kecuali jika Sujud Sahwi yang ditinggalkan adalah Sujud Sahwi sesudah salam dikarenakan kelebihan mengerjakan rakaat, maka ia boleh melaksanakan Sujud Sahwi setelah ia berwudhu kembali. [Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/466]

Jika Lupa Berulang Kali dalam Shalat

Jika seseorang lupa berulang kali dalam shalat, apakah ia harus berulang kali melakukan Sujud Sahwi? Jawabannya, hal ini tidak diperlukan.

Ulama Syafi’iyah, ‘Abdul Karim Ar Rofi’i rahimahullah mengatakan: “Jika lupa berulang kali dalam shalat, maka cukup dengan Sujud Sahwi (dua kali sujud) di akhir shalat.” [Fathul ‘Aziz Syarh Al Wajiz, Abul Qosim Abdul Karim bin Muhammad Ar Rofi’i, 4/172, Darul Fikr]

 

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah
Sumber: [Rumaysho.com]

 

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah
 
Sumber:
2017-09-07T06:42:37+00:00 7 September 2017|Fikih dan Muamalah, Sifat Sholat Nabi|0 Comments

Leave A Comment

7 + 17 =