JANGAN KARENA ALMAIDAH AYAT 51 DIHINA, LALU LUPA THA-HA AYAT 43 – 44, PADAHAL DI SITU ADA SOLUSINYA

/, Manhaj/JANGAN KARENA ALMAIDAH AYAT 51 DIHINA, LALU LUPA THA-HA AYAT 43 – 44, PADAHAL DI SITU ADA SOLUSINYA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#ManhajSalaf
#DakwahTauhid
JANGAN KARENA ALMAIDAH AYAT 51 DIHINA, LALU LUPA THA-HA AYAT 43 – 44, PADAHAL DI SITU ADA SOLUSINYA

  • Demontrasi Bukan Solusi, Lalu Seperti Apa Solusinya?

Di dalam Alquran, Allah memerintahkan kita agar menetapi jalan petunjuk yang lurus. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ﴿١٥٣﴾

“Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutIlah Dia. Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya. Yang demikian itu diperintahkan Allah, agar kamu bertakwa” [QS. Al-an-am: 153]
Pertama:
Demontrasi ini digunakan untuk menolong agama Allah, dan menurut pelakunya, merupakan ibadah, bagian dari JIHAD. Dari sudut pandang ini, demontrasi merupakan bid’ah, dan perkara yang diada-adakan di dalam agama. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Siapa saja yang membuat ajaran baru dalam agama ini dan bukan termasuk bagian darinya, maka akan tertolak” [HR. Muttafaqun’alaih]
Kedua:
Di dalam demonstrasi ada Tasyabbuh (penyerupaan) dengan orang orang kafir. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka” [Hasan. HR. Abu Dawud].
Ketiga:
Jika ada orang yang mengatakan: Demonstrasi merupakan amar ma’ruf dan nahi mungkar, maka kita katakan: Kemungkaran tidak boleh diingkari dengan kemungkaran lagi. Karena kemungkaran tidak akan diingkari, kecuali oleh orang yang bisa membedakan antara kebenaran dan kebatilan, sehingga dia akan mengingkari kemungkaran tersebut atas dasar ilmu dan pengetahuan. Tidak mungkin kemungkaran bisa diingkari dengan cara seperti ini.
Keempat:
Islam memberikan prinsip, bahwa segala sesuatu yang kerusakannya lebih banyak dari kebaikannya, maka dihukumi Haram.
Kelima:
Demontrasi merupakan kunci yang akan menyeret pelakunya untuk memberontak terhadap penguasa. Padahal kita dilarang melakukan pemberontakan, dengan cara tidak membangkang terhadap mereka. Betapa banyak demontrasi yang mengantarkan suatu negara dalam kehancuran, sehingga timbul pertumpahan darah, perampasan kehormatan dan harta benda, serta tersebarlah kerusakan yang begitu luas. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Hilangnya dunia lebih ringan di sisi Allah, di bandingkan tertumpahnya darah satu orang Muslim” [HR. an-Nasa’i]
Coba lihat negara negara Timur Tengah seperti Mesir, Yaman, Irak, Suriah, Libia, dan yang lainya. Apakah kalian mau seperti mereka? Negerinya tidak aman. Anak anak tidak bisa belajar, tidak bisa beribadah dengan tenang, para orang tua tidak bisa mencari nafkah dengan tenang. Awalnya dari DEMONTRASI. Alaahul Musta’aan
Keenam:
Para pendemo hakikatnya mengantarkan jiwa mereka menuju pembunuhan dan siksaan, berdasarkan firman-Nya:

وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا﴿٢٩﴾

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu” [QS. An-Nisaa: 29]
Karena pasti akan terjadi bentrokan antara para demontrasi dan penguasa keamanan, sehingga mereka akan disakiti dan dihina. Nabi ﷺ bersabda:
“Seorang Mukmin tidak boleh menghinakan dirinya. Beliau ﷺ ditanya: Bagaimana seorang Mukmin menghinakan dirinya? Beliau ﷺ menjelaskan: (yakni) dia menanggung bencana di luar batas kemampuannya” [Hasan. HR. Turmudzi]
Solusi
Allah Subhanahu wa ta’ala mengabadikan kisah seorang penguasa kafir yang sangat zalim, yaitu Fir’aun. Dan Allah juga mengabadikan orang saleh di zaman itu, yaitu Nabi Musa a’laihi sallam dan Nabi Harun ‘alaihi sallam. Lihat bagaimana mereka menasihati penguasa yang kafir dan zalim. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

اذْهَبَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ﴿٤٣﴾

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ﴿٤٤﴾

“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, karena dia benar-benar telah melampau batas. Maka bicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut. Mudah mudahan dia sadar dan takut” [QS. Tha-ha: 43, 44]
Beginilah cara beragama yang benar. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sungguh, siapa saja di antara kalian yang hidup setelahku, pasti akan menjumpai perselisihan yang banyak. Maka wajib atas kalian untuk berpegang teguh dengan Sunnahku dan Sunnah al-Khulafa’ar-Rasyidin yang telah diberi petunjuk sepeninggalku”. [Shahih. HR. Tirmidzi dan Abu Dawud]
Alquran itu bukan surah Ma’idah ayat 51 saja. Akan tetapi Allah juga menurunkan surah Tha-ha ayat 43 dan 44 sebagai solusinya. Coba kita lihat dan baca dan pahami, lalu kita amalkan surah Tha-ha ini. InsyaALLAH kita tidak akan seperti ini.

  • Kalau dibandingkan, mana yang lebih besar kekafirannya, Fir’aun atau orang-orang yang kafir yang ada di zaman sekarang ini?
  • Kalau dibandingkan mana yang lebih saleh, Nabi Musa atau orang-orang yang ada di zaman sekarang ini?

Nabi Musa saja diperintahkan oleh Allah untuk menasihati penguasa yang kafir (Fir’aun) dengan lemah lembut. Masa kita yang jauh kesalehannya apabila di bandingkan dengan Nabi Musa ‘alahi sallam, menyikapi penguasa yang kafir dengan demontrasi, dengan turun ke jalan?
Mau di ke manakankah surah Tha-ha ini?
Ingat, hidayah milik Allah
Berdoalah kepada Allah, supaya kita istiqomah di dalam jalan yang lurus. Tidak lupa pula, semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada para penguasa Muslim, agar mereka memberikan yang terbaik bagi negeri dan rakyatnya. Dan lebih dari itu, semoga Allah menolong para penguasa Muslim tersebut untuk berhukum dengan Alquran dan Sunnah Nabi-Nya… Aamiin.
Semoga Allah memberikan shalawat dan salam-Nya kepada Nabi kita Muhammad shallallaahu ‘a’laihi wa sallam, beserta keluarganya…. Aamiin
Semoga bermanfaat
Janji Allah
Allah Subhanahu wa ta ‘ala berjanji akan memberikan (HADIAH) KEKUASAAN (KEKHILAFAHAN) di muka bumi ini kepada hambanya dengan syarat MENAUHIDKAN ALLAH
Allah Subhanahu wa ta ‘ala berfirman (yang artinya):

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ﴿٥٥﴾

“Allah telah MENJANJIKAN orang-orang yang beriman di antara kalian dan beramal saleh, Dia akan benar-benar MEMBERIKAN (HADIAH) KEPADAMU KEKUASAAN (KEKHILAFAHAN ISLAM) di atas bumi, sebagaimana Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka. Dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa.
MEREKA TETAP MENYEMBAH-KU DENGAN TIDAK MEMERSEKUTUKAN SESUATU APAPUN DENGAN-KU (MENAUHIDKAN ALLAH)
Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang yang fasik [QS. An-Nur: 55].
Benahi Akidahmu
Syeikh Al-Albani berkata:
Kita semua adalah tauladan dalam mengatasi setiap masalah umat di zaman kita sekarang ini, bahkan di setiap masa. Artinya kita WAJIB memrioritaskan, apa apa yang diprioritaskan, yakni:
➡ Memerbaiki kerusakan AKIDAH kaum Muslimin. Maka jadikanlah DAKWAH PERTAMAMU agar mereka MENAUHIDKAN ALLAH Subhanahu wa ta’ala.
➡ Memerbaiki PERIBADAHAN mereka dengan memerhatikan SYARAT diterimanya IBADAH:

  1. Ibadah yang kita lakukan harus IKHLAS.
  1. Ibadah yang kita lakukan harus SESUAI dengan apa yang diajarkan oleh Nabi ﷺ.

➡ Memerbaiki perilaku mereka, AKHLAK mereka
KHILAFAH atau KEKUASAAN bukanlah tujuan agama. Tujuan agama adalah MENAUHIDKAN ALLAH.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya):

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ

“Dan sesungguhnya kami telah mengutus seorang Rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan) BERIBADAHLAH HANYA KEPADA ALLAH (saja), dan jauhilah Thagut [QS. An-Nahl: 36]

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ﴿٢٥﴾

Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: Bahwa tidak ada Ilah (yang berhak untuk diibadahi dengan benar) selain Aku. Maka IBADAHILAH AKU oleh kamu sekalian [QS. Al-Anbiya: 25].
InIlah DAKWAH para Nabi dan Rasul diutus oleh Allah subhanahu wa ta’ala ke Dunia ini, yakni: DAKWAH TAUHID.
 
Sumber: Majalah Adz-Dzkhiirah Al-Islamiyyah Vol 5 No. 5 Edisi 29-Rabiuts Tsani 1428H
https://aslibumiayu.net/17177-jangan-karena-almaidah-ayat-51-dihina-lalu-lupa-tha-ha-ayat-43-44-padahal-disitu-solusinya.html
 

2017-01-28T12:35:36+00:00 January 28th, 2017|Akidah & Tauhid, Manhaj|0 Comments

Leave A Comment

2 × four =