بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraSunnah

HATI-HATI DENGAN RUWAIBIDHAH

Imam Ibnu Majah meriwayatkan di dalam Sunannya:

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ قُدَامَةَ الْجُمَحِيُّ عَنْ إِسْحَقَ بْنِ أَبِي الْفُرَاتِ عَنْ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

Abu Bakr bin Abi Syaibah menuturkan kepada kami. Dia berkata: Yazid bin Harun menuturkan kepada kami. Dia berkata: Abdul Malik bin Qudamah al-Jumahi menuturkan kepada kami, dari Ishaq bin Abil Farrat dari al-Maqburi dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan. Pengkhianat dipercaya, sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya: “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?”. Beliau ﷺ menjawab: “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.” (HR. Ibnu Majah, disahihkan al-Albani dalam as-Shahihah [1887] as-Syamilah).

Hadis yang agung ini menerangkan kepada kita:

  1. Peringatan akan bahaya berbicara tanpa landasan ilmu. Allah ta’ala berfirman (yang artinya): “Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak punya ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, itu semua akan dimintai pertanggung-jawabannya.” (QS. al-Israa’ : 36).

Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya): “Hai umat manusia, makanlah sebagian yang ada di bumi ini yang halal dan baik, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah Setan. Sesungguhnya dia adalah musuh yang nyata bagi kalian. Sesungguhnya dia hanya akan menyuruh kalian kepada perbuatan dosa dan kekejian, dan agar kalian berkata-kata atas nama Allah, dalam sesuatu yang tidak kalian ketahui ilmunya.” (QS. al-Baqarah : 168-169). Maka barang siapa yang gemar berbicara mengatasnamakan agama tanpa ilmu, sesungguhnya dia adalah antek-antek Setan, bukan Hizbullah dan bukan pula pembela keadilan atau penegak Syariat Islam!

  1. Hadis ini menunjukkan pentingnya kejujuran, dan mengandung peringatan dari bahaya kedustaan. Rasulullah ﷺ bersabda: “Wajib atas kalian untuk bersikap jujur, karena kejujuran akan menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan itu akan menuntun ke Surga. Apabila seseorang terus menerus bersikap jujur dan berjuang keras untuk senantiasa jujur, maka di sisi Allah dia akan dicatat sebagai orang yang shiddiq. Dan jauhilah kedustaan, karena kedustaan itu akan menyeret kepada kefajiran, dan kefajiran akan menjerumuskan ke dalam Neraka. Apabila seseorang terus menerus berdusta dan memertahankan kedustaannya, maka di sisi Allah dia akan dicatat sebagai seorang pendusta.” (HR. Muslim dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu).
  2. Hadis ini juga menunjukkan pentingnya menjaga amanah dan memeringatkan dari bahaya mengkhianati amanah. Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila amanah telah disia-siakan, maka tunggulah datangnya Hari Kiamat.” Lalu ada yang bertanya: “Bagaimana amanah itu disia-siakan?”. Maka beliau ﷺ menjawab: “Apabila suatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah Kiamatnya.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).

Rasulullah ﷺ juga bersabda: “Tidak lengkap iman pada diri orang yang tidak memiliki sifat amanah.” (HR. al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, dihasankan al-Albani dalam Takhrij Misykat al-Mashabih [35] as-Syamilah).

  1. Hadis ini menunjukkan bahwa jalan keluar ketika menghadapi situasi kacau semacam itu adalah dengan kembali kepada ilmu dan ulama. Yang dimaksud ilmu adalah Alquran dan as-Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih. Dan yang dimaksud ulama adalah ahli ilmu yang mengikuti perjalanan Nabi ﷺ dan para sahabat dalam hal ilmu, amal, dakwah, maupun jihad.

 

Penulis: Abu Mushli Ari Wahyudi

[www.muslim.or.id]

 

Sumber: http://muslim.or.id/2025-hati-hati-dengan-ruwaibidhah.html