DI ANTARA SIFAT DAN KARAKTER ORANG YANG PANTAS DIJADIKAN SEBAGAI TEMAN DAN SAHABAT KARIB

Kita telah mengetahui, betapa pentingnya memilih teman yang baik. Berikut ini adalah di antara sifat dan karakter orang yang pantas dijadikan sebagai teman dan sahabat karib:

1. Berakidah Lurus

Ini menjadi syarat mutlak dalam memilih teman. Dia harus beragama Islam dan berakidah Ahlus sunnah wa -jama’ah. Bukankah kita semua tahu kisah kematian Abu Thalib, paman Rasulullah?

Dalam keadaan terbaring dan menghadapi detik-detik kematian, ada tiga orang yang menyertainya. Mereka adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Jahl dan ‘Abdullah bin Abi Umayyah. Dua orang terakhir ini adalah tokoh kaum kafir Quraisy. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak pamannya dengan berseru, “Paman! Katakanlah La ilaha illallah! Satu kalimat yang akan ku jadikan bahan pembelaan bagimu di hadapan Allah.” Dua tokoh kafir itu menimpali, “Abu Thalib! Apakah kamu membenci agama Abdul-Muththalib?”

Tanpa henti, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam “menawarkan” kalimat itu dan sebaliknya mereka berdua juga terus melancarkan pengaruh. Sampai akhirnya Abu Thalib masih enggan mengucapkan La ilaha illallah dan tetap memilih agama Abdul-Muththalib [Lihat al-Bukhari no. 1360, Muslim no. 131 dan an-Nasa’i no.2034]. Ia pun mati dalam kekufuran.

Cobalah lihat buruknya pengaruh orang-orang yang ada di sekitarnya! Padahal Abu Thalib sudah membenarkan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam hatinya.

2. Bermanhaj Lurus

Ini juga menjadi sifat mutlak yang kedua. Oleh karena itu, Islam melarang berteman dengan Ahlul-Bid’ah dan Ahlul-Hawa’. Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma berkata, “Janganlah kalian duduk-duduk bersama dengan Ahlul Hawa! Sesungguhnya duduk-duduk dengan mereka menimbulkan penyakit dalam hati (yaitu bid’ah ).” [Asy-Syari’ah, Imam al-Ajurri hlm. 61 dan al-Ibanah al-Kubra, Imam Ibnu Baththah (2/ 438). Nukilan dari Mauqif Ahlis Sunnah wa Jjama’ah min Ahlil hawa’ wal Bida’, DR. Ibrahim ar-Ruhaili (2/535)

3. Taat Beribadah dan Menjauhi Perbuatan Maksiat

Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ

Sabarkanlah dirimu bersama orang-orang yang berdoa kepada Allah, pada waktu pagi dan petang, (yang mereka itu) menginginkan wajah-Nya [al-Kahfi/18: 28]

Dalam menafsirkan ayat ini, Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan, “Duduklah bersama orang-orang yang mengingat Allah, yang ber-tahlil (mengucapkan La ilaha illallah), memuji, ber-tasbiih (mengucapkan Subhaanallah), bertakbir (mengucapkan Allahu akbar) dan memohon pada-Nya di waktu pagi dan petang di antara hamba-hamba Allah, baik mereka itu orang-orang miskin atau orang-orang kaya, baik mereka itu orang-orang kuat maupun orang-orang yang lemah.”

4. Berakhlak Terpuji dan Bertutur Kata Baik

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

Mukmin yang paling sempurna imannya adalah mukmin yang paling baik akhlaknya [HR Abu Dawud no. 4682 dan at-Tirmidzi no.1163. (ash-Shahihah no. 284)]

Al-Ahnaf bin Qais rahimahullah berkata, “Kami dulu selalu mengikuti Qais bin ‘Ashim. Melalui dirinya, kami belajar kesabaran dan kemurahan hati sebagaimana kami belajar Ilmu Fikih.” [Al-‘Afwu wa al-A’dzar, Ibni ar-Raqqam. Nukilan dari Su’ul Khuluq, Muhammad Ibrahim al-Hamd hlm. 134]

5. Teman Yang Suka Menasihati Dalam Kebaikan

Teman yang baik tentu tidak senang jika kawannya sendiri terjatuh dalam perbuatan dosa. Jika Anda memiliki teman, tetapi tidak pernah menegur dan tidak memerdulikan diri Anda ketika melakukan kesalahan, maka perlu dipertanyakan landasan persahabatan yang mengikat mereka berdua. Ia bukan seorang teman.

Salah satu ciri orang yang tidak rugi sebagaimana disebutkan oleh Allah Azza wa Jalla pada surat al-‘Ashr, mereka saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian, sampai dia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri [HR. al-Bukhari no. 13, Muslim no. 40 , an-Nasa’i no. 5031, at-Tirmidzi no. 2515 dan Ibnu Majah no. 66]

6. Zuhud Terhadap Dunia dan Tidak Berambisi Mengejar Kedudukan

Teman yang baik tentu tidak akan menyibukkan saudaranya dengan hal-hal yang bersifat keduniawian, seperti sibuk membicarakan model-model handphone, mobil mewah keluaran terbaru dan barang-barang konsumtif yang menjadi incaran kaum hedonis.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersikaplah zuhud terhadap dunia, maka Allah akan mencintaimu. Dan bersikaplah tidak membutuhkan terhadap apa-apa yang dimiliki manusia, maka manusia akan mencintaimu.” [HR Ibnu Majah no. 4102 (ash-Shahihah no.944)]

7. Banyak Ilmu Atau Dapat Berbagi Ilmu Dengannya

Tidak salah lagi, berteman dengan orang-orang yang punya dan mengamalkan ilmu agama akan memberi pengaruh positif yang besar pada diri kita.

8. Berpakaian Yang Islami

Teman yang baik selalu memerhatikan pakaiannya, baik dari segi syariat, kebersihan dan kerapiannya. Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah berkata dalam kitab al-Hilyah, “Perhiasan yang tampak menunjukkan kecondongan hati. Orang-orang akan mengklasifikasikan dirimu hanya dengan melihat pakaianmu…Maka pakailah pakaian yang menghiasimu dan tidak menjelekkanmu, dan tidak menjadi bahan celaan dalam pembicaraan orang atau bahan ejekan orang-orang tukang cemooh.” [At-Ta’liquts Tsamin ‘ala Syarhi Ibni al’Utsaimin li Hilyati Thalabil ‘Ilmi hlm. 107]

9. Ia Selalu Menjaga Kewibawaan dan Kehormatan Dirinya Dari Hal-Hal yang Tidak Layak Menurut Pandangan Masyarakat

Teman yang baik selalu memelihara dirinya dari perkara-perkara tersebut, kendati pun merupakan hal-hal yang diperbolehkan dalam agama, bukan maksiat. Seandainya suatu daerah menganggap bahwa main bola sodok adalah permainan tercela (sebuah aib bagi orang yang ikut bermain), maka tidak sepantasnya bergaul dengan orang-orang yang suka bermain permainan itu.

Betapa indah ucapan Imam Syafi’i rahimahullah :

لَوْ أَنَّ اْلمَاءَ اْلبَارِدَ يَثْلَمُ مِنْ مُرُوْءَتِيْ شَيْئًا مَا شَرِبْتُ اْلمَاءَ إلاَّ حَارًّا

Seandainya air yang dingin merusak kewibawaanku (kehormatanku), maka saya tidak akan minum air kecuali yang panas saja [Manaqib asy-Syafi’I, Imam ar-Razy hlm. 85. Nukilan Ma’alim fi Thariq Thalabil’ilmi hlm. 166]

10. Sosok Yang Tidak Banyak BerguraudDan Meninggalkan Hal-Hal Yang Tak Bermanfaat

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ

Di antara ciri baiknya keislaman seseorang, dia meninggalkan hal-hal yang tak bermanfaat baginya [Hadis shahih riwayat at-Tirmidzi no. 2317 dan Ibnu Majah no. 3976]

Memang kelihatannya agak sulit mendapatkan teman ideal sesuai dengan pemaparan di atas. Akan tetapi, dengan izin Allah Azza wa Jalla, kemudian dengan usaha yang kuat serta doa kepada Allah, kita akan mendapatkan orang-orang seperti itu.

Catatan Penting :

Perlu menjadi catatan, melalui keterangan di atas yang menganjurkan mencari teman yang berlatar-belakang baik, bukan berarti kita tidak bergaul dengan orang-orang di sekitar kita. Bukan berarti kita tidak bergaul dengan orang kafir, Ahlul-Bid’ah, orang-orang fasik dan orang-orang berkarakter buruk lainnya. Akan tetapi, pergaulan dengan mereka mesti dilandasi keinginan dan niat untuk mendakwahi dan memerbaiki mereka.

Dalam masalah ini, kita harus melihat dan memertimbangkan sisi kemaslahatan (kebaikan) dan madharat (bahaya) yang akan terjadi pada diri kita dan orang orang lain di sekitar kita pada saat kita bergaul dengan mereka. Jika pergaulan kita dengan mereka mendatangkan manfaat yang besar bagi mereka, maka kita boleh bergaul dengan mereka. Begitu pula sebaliknya, jika tidak mendatangkan manfaat tetapi justru mendatangkan bahaya, maka bergaul dengan mereka menjadi perkara larangan.

Simaklah keterangan Syaikh Muhammad al-‘Utsaimin rahimahullah berikut, “Jika di dalam pergaulan dengan orang-orang fasik menjadikan sebab datangnya hidayah baginya, maka tidak mengapa berteman dengannya. Engkau bisa undang dia ke rumahmu, kamu datang ke rumahnya atau kamu jalan-jalan bersamanya, dengan syarat tidak mengotori kehormatan dirimu dalam pandangan masyarakat. Betapa banyak orang fasik mendapatkan hidayah dengan berteman dengan orang-orang yang baik.” [At-Ta’liquts Tsamin ‘ala Syarhi Ibni al’Utsaimin li Hilyati Thalabil ‘Ilmi hlm. 24]

Di tengah masyarakat, jika Anda tidak memilih teman yang baik, maka tinggal pilih; Andakah yang akan memengaruhi orang-orang untuk menjadi lebih baik atau Andakah menjadi korban pengaruh buruk lingkungan (kawan-kawan) Ingat! Tidak ada pilihan yang ketiga.

Wallahul muwaffiq.

Penulis: Ustadz Abu Ahmad Said Yai, Lc

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XIII/1431/2010M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *