, , , ,

DEMI SEBUAH KURSI KEDUDUKAN

DEMI SEBUAH KURSI KEDUDUKAN
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
DEMI SEBUAH KURSI KEDUDUKAN
>> Nasihat yang sangat baik untuk mereka yang mengaku sedang memperjuangkan Islam, kepada mereka yang merasa sedang mengibarkan bendera Islam
>> Ambisi untuk memperoleh kedudukan dapat merusak agama seseorang
>> Benarkah jika kita tidak menduduki kursi-kursi penting, maka Islam akan diinjak-injak?
 
 
عَنِ ابْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ الْأَنْصَارِيِّ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ :قَالَ رَسُولُ الله ِn: مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلاَ فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ
 
Dari Ka’ab bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidaklah dua ekor serigala yang lapar dilepas di tengah sekawanan kambing, lebih merusak daripada merusaknya seseorang terhadap agamanya, karena ambisinya untuk mendapatkan harta dan kedudukan.”
[HR At-Tirmidzi (no. 2482) Al-Imam Ahmad (3/456) Asy-Syaikh Muqbil di dalam Ash-Shahihul Musnad (2/178) dan Asy-Syaikh Al-Albani di dalam Shahihul Jami’ (no. 5620)]
 
Makna Hadis
 
Makna hadis ini, kerusakan yang ditimbulkan oleh dua ekor serigala lapar yang dibiarkan bebas di antara sekawanan kambing masih belum seberapa, apabila dibandingkan kerusakan yang muncul karena ambisi seseorang untuk mendapatkan kekayaan dan kedudukan. Karena ambisi untuk mendapatkan harta dan kedudukan akan mendorong seseorang untuk mengorbankan agamanya. Adapun harta, dikatakan merusak karena ia memiliki potensi untuk mendorongnya terjatuh dalam syahwat, serta mendorongnya untuk berlebihan dalam bersenang-senang dengan hal-hal mubah, sehingga akan menjadi kebiasaannya. Terkadang ia terikat dengan harta, lalu tidak dapat mencari dengan cara yang halal, akhirnya ia terjatuh dalam perkara syubhat. Ditambah lagi, harta akan melalaikan seseorang dari zikrullah. Hal-hal seperti ini tidak akan terlepas dari siapa pun.
 
Adapun kedudukan, cukuplah sebagai bukti kerusakannya, bahwa harta dikorbankan untuk meraih kedudukan. Sementara kedudukan tidak mungkin dikorbankan hanya untuk mendapatkan harta. Inilah yang dimaksud dengan syirik khafi (syirik yang tersamar). Dia tenggelam di dalam sikap oportunis, merelakan prinsipnya hilang, kenifakan, dan seluruh akhlak tercela. Maka ambisi terhadap kedudukan lebih merusak dan lebih merusak. [Tuhfatul Ahwadzi Syarah Sunan At-Tirmidzi]
 
Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah berkata:
“Nabi Muhammad ﷺ (di dalam hadis ini) mengabarkan, bahwa ambisi untuk memperoleh kedudukan dapat merusak agama seseorang. Kerusakannya tidak kurang dari kerusakan yang ditimbulkan oleh dua ekor serigala terhadap sekawanan kambing. Agama seorang hamba tidak akan selamat bila ia memiliki ambisi untuk memperoleh harta dan kedudukan. Hanya sedikit yang dapat selamat. Perumpamaan yang teramat agung ini memberikan pesan untuk benar-benar waspada dari keburukan ambisi untuk memperoleh harta dan kedudukan di dunia.”
 
Beliau rahimahullah juga berkata:
“Ambisi seseorang terhadap kedudukan tentu lebih berbahaya dibandingkan ambisinya terhadap harta. Karena usaha untuk mendapatkan kedudukan duniawi, derajat tinggi, kekuasaan atas orang lain, dan kepemimpinan di atas muka bumi, lebih besar mudaratnya dibandingkan usaha mencari harta. Sungguh besar mudaratnya. Bersikap zuhud dalam hal ini begitu sulit.” [Syarh Ibnu Rajab]
 
Menjaga Agama adalah Cita-cita Mulia
 
Di dalam hadis ini terdapat faidah yang mengingatkan kita, bahwa perkara yang terpenting bagi seorang hamba adalah menjaga agamanya. Serta merasa rugi apabila muncul kekurangan di dalam menjalankan agama. Cinta seorang hamba terhadap harta dan kedudukan, upaya yang ia tempuh untuk mendapatkannya, ambisi untuk meraih harta dan kedudukan, serta kerelaan bersusah-payah untuk mengalahkan, hanya akan menyebabkan kehancuran agama dan runtuhnya sendi-sendi agamanya. Simbol-simbol agama akan terhapus. Bangunan-bangunan agamanya pun akan roboh. Ditambah lagi bahaya yang akan ia hadapi karena menempuh sebab-sebab kebinasaan.
 
Kepada mereka yang mengaku sedang memperjuangkan Islam, kepada mereka yang merasa sedang mengibarkan bendera Islam, apakah mereka lebih baik dari Salaf, generasi pertama umat Islam? Perhatikanlah sabda Rasulullah ﷺ kepada Abdurrahman bin Samurah radhiyallahu ‘anhu dalam Riwayat Muslim:
 
يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ، لاَ تَسْأَلِ الْإِمَارَةَ فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا وَإِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا
 
“Wahai Abdurrahman, janganlah engkau meminta kepemimpinan. Karena sesungguhnya bila engkau memperoleh kepemimpinan karena permintaanmu, maka engkau akan dibiarkan. Dan jika engkau memperolehnya tanpa dasar permintaan, engkau akan dibantu.” [Silakan merujuk majalah Asy Syariah Vol I/No. 06/Maret 2004/Muharram 1425 untuk keterangan lebih lengkap tentang hadis ini, dengan tema Hukum Meminta Jabatan]
 
Maka, apakah mereka yang berebut kursi dan mencari suara terbanyak dapat dikatakan sedang memperjuangkan Islam? Dusta dan sungguh dusta lisan mereka. Mungkin terbersit dalam benak, jika kita tidak menduduki kursi-kursi penting, maka Islam akan diinjak-injak? Maka, jawabnya ada pada pendirian seorang Imam Ahlus Sunnah Ahmad bin Hanbal rahimahullahu ta’ala. Disebutkan dalam Mihnatul Imam Ahmad (hal. 70-72) beliau berkata: ”Sungguh, sekali-kali tidak mungkin hal itu akan terjadi! Sesungguhnya Allah taala pasti akan membela agama-Nya. Sesungguhnya ajaran Islam ini memilki Rabb yang akan menolongnya. Dan sesungguhnya dienul Islam ini sangat kuat dan kokoh.”
 
Jadilah orang-orang yang tidak menginginkan kekuasaan dan kerusakan di atas muka bumi. Padahal mereka lebih mulia kedudukannya dibanding yang lain. Allah taala berfirman:
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” [QS. Ali Imran: 139]
Alangkah banyak orang yang mengharapkan kekuasaan padahal justru membuat dirinya semakin terhina. Betapa banyak orang yang diangkat kedudukannya, padahal dirinya tidak berharap kekuasaan dan kerusakan. [As-Siyasah Asy-Syar’iyyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu ta’ala]
 
Wallahu a’lam.
 
 
 
Dinukil dari tulisan yang berjudul: “Demi Sebuah Kursi Kedudukan
yang ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

#rakushartadankedudukan #gilajabatan #hukummemintajabatan #duaserigalalapar #berebutkursi, #mencarisuaraterbanyak #demokstrasi #pemilu #pilkada #ambisiterhadapjabatanlebihberbahayadaripadaharta #merusakagamaseseorang #dilepasditengahsekawanankambing

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *