,

HIKMAH MEMBUNUH CICAK

HIKMAH MEMBUNUH CICAK
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
HIKMAH MEMBUNUH CICAK
 
Pertanyaan:
Saya belum memahami hikmah perintah membunuh cicak. Jika membaca riwayat berikut: Diriwayatkan dari Imam Ahmad, “Bahwasanya ketika Ibrahim dilemparkan ke dalam api, maka mulailah semua hewan melata berusaha memadamkannya, kecuali cicak, karena sesungguhnya cicak itu mengembus-embus api yang membakar Ibrahim.” [HR. Imam Ahmad, 6:217]
 
Cicak yang mengembus agar api semakin membesar terjadi pada masa Nabi Ibrahim. Apakah cicak termasuk hewan terkutuk sehingga ia tetap harus dibunuh hingga akhir zaman? Bukankah cicak mengurangi populasi nyamuk?
 
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
 
Pertama:
Terdapat banyak dalil yang memerintahkan kita untuk membunuh cicak, di antaranya:
 
Dari Ummu Syarik radhiallahu ‘anha; Nabi ﷺ memerintahkan untuk membunuh cicak. Beliau menyatakan:
“Dahulu cicak yang meniup dan memperbesar api yang membakar Ibrahim.” [HR. Muttafaq ‘alaih]
 
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
“Siapa saja yang membunuh cicak dengan sekali bantingan, maka ia mendapat pahala sekian. Siapa saja yang membunuhnya dengan dua kali bantingan, maka ia mendapat pahala sekian (kurang dari yang pertama), ….” [HR. Muslim]
 
Dalam riwayat Muslim, dari Sa’ad, bahwa Nabi ﷺ memerintahkan untuk membunuh cicak, dan beliau menyebut (cicak) sebagai hewan fasiq (pengganggu).
 
Semua riwayat di atas menunjukkan, bahwa membunuh cicak hukumnya sunnah, TANPA pengecualian.
 
Kedua:
Sikap yang tepat dalam memahami perintah Nabi ﷺ adalah sikap “Sami’na wa atha’na” (tunduk dan patuh sepenuhnya) dengan berusaha mengamalkan sebisanya. Demikianlah yang dicontohkan oleh para sahabat radhiallahu ‘anhum, padahal mereka adalah manusia yang jauh lebih bertakwa dan lebih berkasih sayang terhadap binatang daripada kita. Di antara bagian dari sikap tunduk dan patuh sepenuhnya adalah menerima setiap perintah tanpa menanyakan hikmahnya. Dalam riwayat-riwayat di atas, tidak kita jumpai pertanyaan sahabat tentang hikmah diperintahkannya membunuh cicak. Mereka juga tidak mempertanyakan status cicak zaman Ibrahim jika dibandingkan dengan cicak sekarang. Jika dibandingkan antara mereka dengan kita, siapakah yang lebih menyayangi binatang?
 
Ketiga:
Penjelasan di atas tidaklah menunjukkan, bahwa perintah membunuh cicak tersebut tidak ada hikmahnya. Semua perintah dan larangan Allah ada hikmahnya. Hanya saja ada hikmah yang zahir, sehingga bisa diketahui banyak orang, dan ada hikmah yang tidak diketahui banyak orang. Adapun terkait hikmah membunuh cicak, disebutkan oleh beberapa ulama sebagai berikut:
 
Imam An-Nawawi menjelaskan: “Para ulama sepakat, bahwa cicak termasuk hewan kecil yang mengganggu.” [Syarh Shahih Muslim, 14:236]
 
Al-Munawi mengatakan: “Allah memerintahkan untuk membunuh cicak karena cicak memiliki sifat yang jelek, sementara dulu, dia meniup api Ibrahim sehingga (api itu) menjadi besar.” [Faidhul Qadir, 6:193]
 
Keempat:
Hikmah yang disebutkan di atas hanya sebatas untuk semakin memotivasi kita dalam beramal, bukan sebagai dasar beramal. Karena dasar kita beramal adalah perintah yang ada pada dalil, dan bukan hikmah perintah tersebut, baik kita tahu hikmahnya maupun tidak.
 
Kelima:
Segala sesuatu memiliki manfaat dan madarat. Kita yang pandangannya terbatas akan menganggap, bahwa cicak memiliki beberapa manfaat yang lebih besar daripada madaratnya. Namun bagi Allah Dzat yang pandangan-Nya sempurna, hal tersebut menjadi lain. Allah menganggap madarat cicak lebih besar dibandingkan manfaatnya. Karena itu Allah memerintahkan untuk membunuhnya. Siapa yang bisa dijadikan acuan: Pandangan manusia yang serba kurang dan terbatas, ataukah pandangan Allah yang Maha Sempurna?
 
Keenam:
Manakah yang lebih penting, antara mengamalkan perintah syariat atau melestarikan hewan, namun tidak sesuai dengan perintah syariat? Orang yang kenal agama akan mengatakan: “Mengamalkan perintah syariat itu lebih penting. Jangankan hanya sebatas cicak, bila perlu, harta, tenaga, dan jiwa kita korbankan demi melaksanakan perintah jihad, meskipun itu adalah jihad yang sunnah.”
 
Semoga perenungan ini bisa menjadi acuan bagi kita untuk tunduk dan patuh pada aturan syariat Allah. Allahu a’lam.
 
 
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits, dari Tim Dakwah Konsultasi Syariah.
[Artikel www.KonsultasiSyariah.com]
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#membunuhcicak, #cicakdidalamalquran, #dakwahsunnah, #mutiarasunnah, #hukum, #ibrahimdilemparkankeapi, #kisahcicakdalamalquran, #membunuhbinatang, #memperbesarapi,  #perintahrasul,  #membunuhcicak,# sunnahmembunuhcicak, #bunuhcicak, #cicak, #tokek, #hewan, #binatang, #fasik, #fasiq, #Samina waathana, #tundukdanpatuhsepenuhnya, #Sami’nawaathona, #hikmahmembunuhcicak,
,

AMANAT BERAT PADA MANUSIA

AMANAT BERAT PADA MANUSIA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

AMANAT BERAT PADA MANUSIA
 
Amanat berat telah disematkan pada manusia. Amanat ini berupa perintah dan larangan dari Allah ta’ala. Ada manusia yang bisa memikul beban ini secara lahir dan batin, merekalah orang-orang beriman. Dan ada yang menerimanya dengan melakukan kemunafikan dan kesyirikan.
 
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah berkata:
Allah ta’ala menerangkan mengenai beratnya amanat yang diemban. Amanat ini adalah menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Amanat ini ditunaikan dalam keadaan diam-diam atau tersembunyi, sebagaimana pula terang-terangan. Asalnya, Allah ta’ala memberikan beban ini kepada makhluk yang besar seperti langit, bumi dan gunung. Jika amanat ini ditunaikan, maka akan memperoleh pahala yang besar. Namun jika dilanggar, maka akan memperoleh hukuman.
 
Karena makhluk-makhluk ini takut tidak bisa mengembannya, bukan karena mereka ingin durhaka pada Rabb mereka, atau ingin sedikit saja menuai pahala, lalu amanat tersebut diembankan pada manusia dengan syarat yang telah disebutkan. Mereka mengemban dan memikulnya, namun dalam keadaan berbuat zalim disertai kebodohan. Mereka senyatanya telah memikul beban yang teramat berat.
 
Dilihat dari menjalankan amanat ataukah tidak, manusia dibagi menjadi tiga:
1. Kaum munafik, yaitu yang secara lahir nampak memikul amanat, namun secara batin tidak.
2. Kaum musyrik, yaitu yang secara lahir dan batin tidak menjalankan amanat tersebut.
3. Kaum mukmin, yaitu yang secara lahir dan batin menjalankan amanat dengan baik.
 
Mengenai tiga golongan tersebut dijelaskan amalan, pahala dan balasan bagi mereka pada ayat selanjutnya. Allah ta’ala berfirman:
“Sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan, dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. Al Ahzab: 73]
 
Ayat terakhir ini Allah tutup dengan menyebutkan dua nama-Nya yang mulia, yang menunjukkan kemahasempurnaan ampunan, rahmat serta karunia Allah. Sedangkan kebanyakan makhluk tidak mensyukuri ampunan dan rahmat-Nya, malah membalasnya dengan berbuat kemunafikan dan kesyirikan.” [Taisir Al Karimir Rahman, 673-674]
 
 
Sumber: [Rumaysho.Com]
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 #Alquran, #AlQuran, #tafsir, #QSAlAhzabayat73, #QSAlAhzabayat72, #AlAhzabayat73, #AlAhzabayat72 #arti, #definisi, #makna, #munafik, #munafiqun, #musyrikin,k #afir, #takwa, #taqwa #amanat, #amanah, #bebanberat, #bumi, #gunung #menjalankanperintah, #menjauhilaranganNya
,

MAKNA TAUHID YANG TERKANDUNG DALAM IYYAKA NA’BUDU WA IYYAKA NASTA‘IN

MAKNA TAUHID YANG TERKANDUNG DALAM IYYAKA NA’BUDU WA IYYAKA NASTA‘IN

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

MAKNA TAUHID YANG TERKANDUNG DALAM IYYAKA NA’BUDU WA IYYAKA NASTA‘IN

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata:
“Di dalam kalimat ‘IYYAKA NA’BUDU’ terkandung Tauhid Uluhiyah yaitu mengesakan Allah dengan perbuatan-perbuatan hamba yang disyariatkan oleh Allah untuk mereka, karena uluhiyah bermakna ibadah. Dan ibadah itu adalah bagian dari perbuatan hamba.

Adapun ‘WA IYYAKA NASTA‘IN’ mengandung Tauhid Rububiyah. Karena pertolongan adalah salah satu perbuatan Rabb Yang Maha Suci. Dan Tauhid Rububiyah itu adalah mengesakan Allah dalam hal perbuatan-perbuatan-Nya”.
[Lihat Silsilah Syarh Rasa‘il, Hal. 195]

Ketika mengomentari kalimat IYYAKA NA’BUDU WA IYYAKA NASTA‘IN, Qatadah rahimahullah berkata:
“Allah memerintahkan kalian untuk mengikhlaskan ibadah kepada-Nya, dan supaya kalian meminta pertolongan kepada-Nya dalam segala urusan kalian”.

Ayat ini bermakna “Kami tidak beribadah kecuali kepada-Mu dan kami tidak bertawakal kecuali kepada-Mu”.
[Llihat Tafsir Surah al-Fatihah, Hal. 19 dan Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, (1/34)]

 

Sumber: indonesiabertauhidofficial

 

 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

#tauhid, #tawheed, #fatwaulama, #kalimattauhid, #kalimatsyahadat, #uluhiyah, #uluhiyyah, #rububiyah, #rububiyyah, #rubbubiyah, #iyyakanabudu, #waiyyakanastain, #AlFatihahAyat5, #artinya, #maknanya, #definisinya, #AlFatihah

,

TAUHID IKATAN CINTA YANG HAKIKI DAN ABADI

TAUHID IKATAN CINTA YANG HAKIKI DAN ABADI
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
TAUHID IKATAN CINTA YANG HAKIKI DAN ABADI
>> Makna Kalimat Syahadat Laa Ilaha Illallah
 
Syahadat Laa ilaha illallah maknanya adalah seorang hamba mengakui dengan lisan dan hatinya, bahwa tidak ada Ma’bud [Sesembahan] yang benar kecuali Allah ‘azza wa jalla. Karena ilah bermakna Ma’luh [Sesembahan], sedangkan kata ta‘alluh bermakna ta‘abbud [beribadah].
 
Di dalam kalimat ini terkandung penafian dan penetapan. Penafian terdapat pada ungkapan LAA ILAHA, sedangkan penetapan terdapat pada ungkapan ILLALLAH.
 
Sehingga makna kalimat ini adalah pengakuan dengan lisan, setelah keimanan di dalam hati, bahwa tidak ada Sesembahan yang benar selain Allah. Dan konsekuensinya adalah memurnikan ibadah kepada Allah semata, dan menolak segala bentuk ibadah kepada selain-Nya.
 
[Lihat Fatawa Arkan al-Islam, Hal. 47 oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah]
 
Sumber: indonesiabertauhidofficial
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#tauhid, #tawheed, #ikatancinta, #hakikidanabadi, #kalimattauhid, #kalimatsyahadat, #LaaIlahaIllallah, #penetapandanpenafian, #penafian, #penafikan, #memurnikanibadahkepadaAllahsemata, #pemurnianibadah, #murnikanibadahuntuk Allah, #murniibadah
,

HUKUM MEMAJANG FOTO DI DINDING

HUKUM MEMAJANG FOTO DI DINDING

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

HUKUM MEMAJANG FOTO DI DINDING
 
1. Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz
 
Pertanyaan:
Apa hukum memajang foto (manusia) di dinding? Bolehkah memajang foto saudara atau foto ayah atau yang semisal dengan mereka?
 
Jawaban:
Memajang foto makhluk yang bernyawa di dinding TIDAK DIPERBOLEHKAN, baik itu di rumah, di tempat orang-orang kumpul, di kantor, di jalanan atau di tempat-tempat selain itu. Semuanya merupakan kemungkaran dan termasuk perkara jahiliyah. Rasulullah ﷺ bersabda:
 
إنَّ أشدَّ النَّاسِ عذابًا عندَ اللَّهِ يومَ القيامةِ المصوِّرونَ
 
“Orang yang paling keras azabnya di Hari Kiamat, di sisi Allah, adalah tukang gambar” [HR. Bukhari dan Muslim[
 
Beliau ﷺ juga bersabda:
 
إن أصحاب هذه الصور يعذبون يوم القيامة ويقال لهم أحيوا ما خلقتم
 
“Sesungguhnya pemilik gambar-gambar (makhluk bernyawa) ini akan diazab di Hari Kiamat dan diperintahkan kepada mereka untuk menghidupkan gambar yang mereka buat” [HR. Bukhari dan Muslim]
 
Dan Ali radhiallahu’anhu pernah diutus ke suatu daerah, dan di antara yang dipesankan Rasulullah ﷺ kepada beliau adalah sebagai berikut:
 
لا تدع صورة إلا طمستها ولا قبرا مشرفا إلا سويت
 
“Jangan engkau biarkan gambar makhluk bernyawa kecuali engkau rusak, dan jangan biarkan ada kuburan yang ditinggikan kecuali engkau ratakan.” [HR. Muslim]
 
Nabi ﷺ juga melarang ada gambar di dalam rumah dan melarang membuatnya. Maka wajib untuk menyingkirkannya dan tidak boleh memajangnya. Ketika di rumah ‘A`isyah, Rasulullah ﷺ pernah melihat ada gambar di tirai. Beliau ﷺ pun berubah wajahnya (karena tidak menyukainya) dan merobeknya. Ini menunjukkan, bahwasanya tidak diperbolehkan memajang gambar di rumah, baik itu gambar raja, gambar sahabat dan teman, gambar para ahli ibadah, gambar para ulama, gambar burung, gambar hewan atau lainnya. Semuanya tidak boleh. SEMUA GAMBAR MAKHLUK BERNYAWA TIDAK DIPERBOLEHKAN. Demikian juga memajangnya di dinding, di meja-meja, semuanya tidak diperbolehkan. Tidak boleh meniru orang-orang yang biasa melakukan hal tersebut.
 
Dan wajib bagi para pemimpin kaum Muslimin, para ulama kaum Muslimin, serta seluruh kaum Muslimin secara umum, untuk meninggalkan perbuatan dan menjauhinya, dalam rangka menaati Allah dan Rasul-Nya ﷺ, dan mengamalkan syariat Allah dalam hal ini. Allahul musta’an.
 
 
2. Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
 
Pertanyaan:
Apa hukum memajang foto di dinding?
 
Jawaban:
Memajang foto di dinding hukumnya HARAM, terlebih lagi ukurannya besar. Walaupun foto yang dipajang tersebut hanya sebagian badan dan kepala, (tetap tidak dibolehkan). Hal ini karena terlihat jelas adanya itikad ingin mengagungkan orang yang ada di foto tersebut. Perbuatan ini adalah awal munculnya kesyirikan dan ghuluw, sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Abbas radhiallahu’anhu mengenai berhala kaum Nabi Nuh yang mereka sembah.
 
أنها كانت أسماء رجال صالحين صوروا صورهم ليتذكروا العبادة، ثم طال عليهم الأمد فعبدوهم
 
“Sesungguhnya Sesembahan-Sesembahan tersebut awalnya adalah para orang-orang saleh yang digambar oleh orang-orang sebagai pengingat mereka untuk beribadah. Lalu berlalulah waktu yang lama, hingga akhirnya mereka menyembah gambar-gambar tersebut”
 
 
Beliau juga mengatakan: “Memajang foto kenangan hukumnya terlarang. Karena Nabi ﷺ mengabarkan, bahwa malaikat, yang dimaksud adalah Malaikat Rahmat, tidak akan masuk rumah yang terdapat gambar. Ini menunjukkan, bahwa memajang gambar di rumah itu terlarang.”
 
 
 
Penulis: Yulian Purnama
[Artikel: Muslim.or.id]
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#hukum, #pajangfoto, #pajanggambar, #lukisan, #foto, #gambarmahlukhidup, #binatang, #hewan, #manusia, #dinding, #tembok, #meja, #hiasan, #syirik, #ghuluw, #berhala, #sesembahan, #ilah, #gambarorangsaleh, #gambarorangshalih, #potret

BOLEHKAH BELAJAR BAHASA ARAB KEPADA AHLUL BID’AH?

BOLEHKAH BELAJAR BAHASA ARAB KEPADA AHLUL BID’AH?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

BOLEHKAH BELAJAR BAHASA ARAB KEPADA AHLUL BID’AH?
 
Apabila ada seorang mubtadi’ namun dia menonjol/kuat dalam ilmu bahasa Arab, baik Balaghah, Nahwu, maupun Sharaf, bolehkah kita duduk dengannya dan mengambil ilmu darinya? Yakni ilmu yang dia menonjol di bidang tersebut. Ataukah kita tetap wajib meng-hajr-nya?
 
Jawaban asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah:
 
Kita TIDAK BOLEH duduk dengannya, karena hal itu akan memunculkan dua kerusakan:
 
Kerusakan Pertama: Dia (Ahlul Bid’ah tersebut) tertipu dengan dirinya sendiri. Dia mengira bahwa dirinya berada di atas al-Haq (kebenaran).
 
Kerusakan Kedua: Umat akan tertipu dengannya. Yaitu dengan berdatangannya para penuntut ilmu kepada dia dan mengambil ilmu darinya. Sementara orang awam tidak akan membedakan antara ilmu nahwu dengan ilmu akidah.
 
Oleh karena itu KAMI MEMANDANG UNTUK TIDAK BOLEH DUDUK DENGAN AHLUL BID’AH SECARA MUTLAK. Bahkan walaupun dia tidak mendapati ilmu bahasa Arab, ilmu Balaghah, dan ilmu Sharaf – misalnya, kecuali pada mereka. Allah akan menjadikan untuknya yang lebih bagi dari itu. Karena berdatangannya para penuntut ilmu kepada mereka (Ahlul Bid’ah) tidak diragukan akan menyebabkan mereka tertipu (dengan diri sendiri) dan menyebabkan umat tertipu dengan mereka.
 
Di sana ada masalah (lain), yaitu: Bolehkan mengambil ilmu Alquran (yaitu ilmu Qira’ah, Tajwid, dll, pen) dari seorang pengajar Ahlul Bid’ah?
 
Jawabannya: TIDAK BOLEH membaca kepada mereka (yakni tidak boleh mengambil ilmu Alquran dari mereka, pen).
 
– Selesai dengan sedikit perubahan –
 
Dari kaset: “Syarh Hilyah Thalibul ‘Ilmi”
Oleh al-’Allamah Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah
 

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

#FatwaUlama, #hukum, #hukummengambililmu, #ahlulbidah, #ahlibidah, #bidah, #bid’ah,

, ,

ADAKAH ANJURAN MEMERLAMA SUJUD TERAKHIR UNTUK BERDOA?

ADAKAH ANJURAN MEMERLAMA SUJUD TERAKHIR UNTUK BERDOA?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#SifatSholatNabi
 
ADAKAH ANJURAN MEMERLAMA SUJUD TERAKHIR UNTUK BERDOA?
 
Segala puji bagi Allah, pemberi segala nikmat. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Kita ketahui bersama, bahwa ketika sujud adalah waktu terbaik untuk berdoa. Seperti disebutkan dalam hadis:
 
أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ
 
“Yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia sujud. Maka perbanyaklah doa ketika itu.” [HR. Muslim no. 482, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]
 
Namun seringkali kita lihat di lapangan, sebagian orang malah seringnya memperlama sujud terakhir ketika shalat. Tujuannya adalah agar memerbanyak doa ketika itu. Apakah benar bahwa saat sujud terakhir mesti demikian? Semoga sajian singkat ini bermanfaat.
 
Al Baro’ bin ‘Azib mengatakan:
 
كَانَ رُكُوعُ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – وَسُجُودُهُ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ وَبَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ قَرِيبًا مِنَ السَّوَاءِ
 
“Ruku’, sujud, bangkit dari ruku’ (i’tidal), dan duduk antara dua sujud yang dilakukan oleh Nabi ﷺ, semuanya hampir sama (lama dan thuma’ninahnya).” [HR. Bukhari no. 801 dan Muslim no. 471]
 
Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin pernah ditanya:
“Apakah diperkenankan memperpanjang sujud terakhir dari rukun shalat lainnya, di dalamnya seseorang memperbanyak doa dan istighfar? Apakah shalat menjadi cacat jika seseorang memperlama sujud terakhir?”
 
Beliau rahimahullah menjawab:
“Memerpanjang sujud terakhir ketika shalat bukanlah termasuk sunnah Nabi ﷺ. Karena yang disunnahkan adalah seseorang melakukan shalat antara ruku’, bangkit dari ruku’ (i’tidal), sujud dan duduk antara dua sujud itu HAMPIR SAMA LAMANYA. Sebagaimana hal ini dijelaskan dalam hadis Baro’ bin ‘Azib, ia berkata: “Aku pernah shalat bersama Nabi ﷺ. Aku mendapati bahwa berdiri, ruku’, sujud, duduk beliau sebelum salam dan berpaling, semuanya hampir sama (lamanya).” Inilah yang afdhal.
 
Akan tetapi ada TEMPAT DOA SELAIN SUJud yaitu SETELAH TASYAHUD (SEBELUM SALAM). Nabi ﷺ ketika mengajarkan ‘Abdullah bin Mas’ud tasyahud, beliau bersabda: “Kemudian setelah tasyahud, terserah padamu berdoa dengan doa apa saja”.
 
Maka berdoalah ketika itu, sedikit atau pun lama, setelah tasyahud akhir sebelum salam. [Fatawa Nur ‘ala Ad Darb, kaset no. 376, side B]
 
Dalam Fatawa Al Islamiyah (1/258), Syaikh ‘Abdullah Al Jibrin rahimahullah berkata:
“Aku tidak mengetahui adanya dalil yang menyebutkan untuk memperlama sujud terakhir dalam shalat. Yang disebutkan dalam berbagai hadis, rukun shalat atau keadaan lainnya itu hampir sama lamanya.”
 
Syaikh ‘Abdullah Al Jibrin rahimahullah juga menjelaskan:
“Aku tidak mengetahui adanya dalil yang menganjurkan untuk memperlama sujud terakhir dalam shalat. Akan tetapi, memang sebagian imam melakukan seperti ini sebagai isyarat pada makmum, bahwa ketika itu adalah rakaat terakhir, atau ketika itu adalah amalan terakhir dalam shalat.
 
Karenanya, mereka pun memperpanjang sujud ketika itu. Dari sinilah, mereka maksudkan agar para jamaah tahu, bahwa setelah itu adalah duduk terakhir, yaitu duduk tasyahud akhir. Namun alasan semacam ini tidaklah menjadi sebab dianjurkan memperpanjang sujud terakhir ketika itu.”
[Fatawa Syaikh Ibnu Jibrin, Ahkam Qoth’ush Sholah, Fatawan no. 2046 dari website beliau]
 
Dari penjelasan singkat ini, nampaklah bahwa TIDAK ADA ANJURAN untuk memerlama sujud terakhir ketika shalat, agar bisa memerbanyak doa ketika itu.
 
Yang tepat, hendaklah gerakan rukun yang ada sama atau hampir sama lamanya dan thuma’ninahnya.”
 
Silakan membaca doa ketika sujud terakhir, namun hendaknya LAMANYA HAMPIR SAMA dengan sujud sebelumnya, atau sama dengan rukun lainnya. Apalagi jika imam sudah selesai dari sujud terkahir dan sedang tasyahud, maka selaku makmum hendaklah mengikuti imam ketika itu. Karena imam tentu saja diangkat untuk diikuti.
 
Nabi ﷺ bersabda:
 
إِنَّمَا جُعِلَ الإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَلاَ تَخْتَلِفُوا عَلَيْهِ
 
“Imam itu diangkat untuk diikuti, maka janganlah diselisihi.” [HR. Bukhari no. 722, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]
 
Hanya Allah yang memberi taufik.
 
Referensi: Website Syaikh Sholih Al Munajid – Al Islam Sual wa Jawab (http://islamqa.com/ar/ref/111889/ )
 
~ Penulis: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal
(Artikel www.rumaysho.com)

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

, ,

PEMBACAAN SHALAWAT NABI KETIKA BERDOA SAAT SUJUD

PEMBACAAN SHALAWAT NABI KETIKA BERDOA SAAT SUJUD

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#SifatSholatNabi
 
PEMBACAAN SHALAWAT NABI KETIKA BERDOA SAAT SUJUD
 
Pertanyaan:
Bagaimana tatacara pembacaan shalawat Nabi ﷺ saat kita mau berdoa di waktu sujud, agar doa ana tidak menggantung Keterangan ini ana dapatkan saat menghadiri suatu kajian.
 
Jawaban Redaksi salamdakwah.com
Membaca shalawat kepada Nabi ﷺ adalah termasuk sebab diterimanya doa. Sebagaimana itu disyariatkan diluar sujud, hal itu juga disyariatkan di kala sujud.
Teknisnya adalah kita membaca zikir sujud terlebih dahulu, kemudian membaca shalawat, dan selanjutnya membaca doa.
 
Membaca shalawat boleh dengan shalawat yang panjang yang diajarkan oleh Nabi ﷺ:
اللَّهُّم صلِّ على محمدٍ وعلى آل محمد كما صلَّيْتَ على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللَّهُّم بارِكْ على محمدٍ وعلى آل محمد كما باركتَ على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميدٌ مجيد
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, kamaa shallaita ‘ala Ibrohim wa ‘ala aali Ibrohim, innaKa Hamidum Majid. Allahumma barik ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, kama barokta ‘ala Ibrohim wa ‘ala ali Ibrohim, innaKa Hamiidum Majid.
Artinya
Ya, Allah. Berilah (yakni, tambahkanlah) shalawat (sanjungan) kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi shalawat kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia. Ya, Allah. Berilah berkah (tambahan kebaikan) kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi berkah kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia. [HR Bukhari, Muslim, dan lainnya. Lihat Shifat Shalat Nabi, hlm. 165-166, karya Al Albani, Maktabah Al Ma’arif].
 
Boleh juga membaca shalawat dalm bentuk yang pendek seperti:
 
اللهم صل وسلم على رسول الله
 
[Disarikan dari Fatwa Syaikh Ibnu Baz di Fatawa Nur ‘Ala Ad-Darb 8/312-313]
 
 

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

, ,

BOLEHKAH MEMBUNUH NYAMUK DENGAN MENGGUNAKAN RAKET LISTRIK?

BOLEHKAH MEMBUNUH NYAMUK DENGAN MENGGUNAKAN RAKET LISTRIK?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
#MutiaraSunnah, #FatwaUlama
BOLEHKAH MEMBUNUH NYAMUK DENGAN MENGGUNAKAN RAKET LISTRIK?
 
Rasulullah ﷺ bersabda:
 
إِنَّهُ لَا يَنْبَغِي أَنْ يُعَذِّبَ بِالنَّارِ إِلَّا رَبُّ النَّارِ
 
“Sesungguhnya tidak boleh menyiksa dengan api, kecuali penguasa api (yakni Allah, pent).”[HR. Abu Dawud no. 2675, dishohihkan syaikh al-Albani dalam ash-Shohihah no. 487]
 
Bagaimana dengan raket listrik atau lampu setrum yang biasa digunakan untuk membunuh nyamuk dan lalat? Simak jawaban Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin berikut ini:
***
Oleh: Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin rahimahullah
 
Pertanyaan:
 
Apa hukum menggunakan alat listrik yang bisa menyetrum serangga?
Jawaban Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin rahimahullah:
Tidak mengapa menggunakannya, dikarenakan:
 
Yang pertama, menyetrumnya tidaklah membakarnya, akan tetapi hal tersebut membuatnya mati. Buktinya jika engkau letakkan kertas di atas alat ini, kertas itu tidak terbakar.
 
Yang kedua, orang yang meletakkan alat ini tidak bermaksud untuk menyiksa lalat dan serangga dengan api, akan tetapi tujuannya adalah untuk menolak gangguannya. Ada hadis yang melarang menyiksa dengan api, sedangkan ini tidaklah untuk menyiksa, akan tetapi untuk menolak gangguan.
 
Yang ketiga, sangat sulit untuk membasmi serangga, kecuali dengan menggunakan alat ini, atau dengan alat yang menyemprotkan bau tidak enak, yang terkadang bisa memudharatkan badan. Dan Nabi ﷺ pernah membakar pohon kurma Bani Nadhir, sedangkan di pohon kurma biasanya terdapat burung, serangga dan yang semisalnya.
 
Diterjemahkan dari: Fatawa Nur ‘ala ad-Darb http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_9081.shtml
 
, , ,

WAKTU MUSTAJAB UNTUK BERDOA DI DALAM SHALAT (DUBUR SHALAT)

WAKTU MUSTAJAB UNTUK BERDOA DI DALAM SHALAT (DUBUR SHALAT)
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
#SifatSholatNabi
 
WAKTU MUSTAJAB UNTUK BERDOA DI DALAM SHALAT (DUBUR SHALAT)
 
Bukanlah termasuk petunjuk Rasulullah ﷺ, seseorang berdoa setelah salam dari shalat, kecuali jika itu adalah untuk menambal (menutup) kekurangan yang ada dalam shalat. Di antara yang dicontohkan oleh Nabi ﷺ adalah SETELAH salam, dengan mengucapkan istighfar sebanyak tiga kali yaitu: Astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah (maknanya adalah ‘Aku memohon ampun pada Allah’). Dari Tsauban, Rasulullah ﷺ jika berpaling (selesai) menunaikan shalatnya, beliau ﷺ mengucapkan ‘Astagfirullah’ sebanyak tiga kali, kemudian beliau mengucapkan ‘Allahumma antas salam wa minkas salam tabarokta yaa dzal jalali wal ikrom’. [HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadis ini Shahih, termasuk periwayat kitab Shahih. Syaikh Al Albani dalam Al Kalamu Ath Thoyib mengatakan bahwa hadis ini Shahih].
 
Adapun jika tujuan doa tersebut selain daripada menambal (menutup) kekurangan yang ada dalam shalat, maka lebih utama doa tersebut dilakukan SEBELUM SALAM. Sebagaimana dapat dilihat dalam hadis Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhuma berikut ini, Rasulullah ﷺ pernah mengajarkannya Tasyahud padanya, lalu beliau ﷺ bersabda:
 
ثُمَّ لِيَتَخَيَّرْ مِنْ الدُّعَاءِ بَعْدُ أَعْجَبَهُ إِلَيْهِ يَدْعُو بِهِ
 
“Kemudian terserah dia memilih doa yang dia sukai untuk berdoa dengannya.” [HR. Abu Daud no. 825]
 
Dalam lafal lain:
ثُمَّ لْيَتَخَيَّرْ بَعْدُ مِنَ الْمَسْأَلَةِ مَا شَاءَ
 
“Kemudian terserah dia memilih setelah itu (setelah Tasyahud), doa yang dia kehendaki (dia sukai).” [HR. Muslim no. 402, An Nasa’i no. 1298, Abu Daud no. 968, Ad Darimi no. 1340]
 
Jadi apabila kita ingin berdoa kepada Allah, maka berdoalah kepada-Nya SEBELUM salam. Hal ini karena dua alasan:
 
Alasan pertama: Inilah yang diperintahkan oleh Rasul ﷺ. Beliau ﷺ membicarakan tentang Tasyahud, “Jika kalian selesai (dari Tasyahud), maka pilihlah doa yang kalian suka berdoa dengannya.”
 
Alasan kedua: Jika engkau berada dalam shalat, maka berarti engkau sedang bermunajat kepada Rabbmu. Jika engkau telah selesai mengucapkan salam, berakhir pula munajatmu tersebut. Lalu manakah yang lebih afdhal (lebih utama), apakah meminta pada Allah ketika bermunajat kepada-Nya, ataukah setelah engkau berpaling (selesai) dari shalat? Jawabannya, tentu yang pertama, yaitu ketika engkau sedang bermunajat kepada Rabbmu.
 
Adapun ucapan zikir setelah menunaikan shalat (setelah salam), yaitu ucapan Astagfirullah sebanyak tiga kali, ini memang doa, namun ini adalah DOA YANG BERKAITAN DENGAN SHALAT. Ucapan istighfar seseorang sebanyak tiga kali setelah shalat bertujuan untuk menambal kekurangan yang ada dalam shalat. Maka pada hakikatnya, ucapan zikir ini adalah pengulangan dari shalat.
 
Adakah dalil yang mengatakan, bahwa Rasulullah ﷺ ketika selesai shalat Subuh berpaling ke makmum, lalu mengangkat kedua tangannya (untuk berdoa). Apakah hadis tersebut Shahih?
Syaikh Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjawab: Hadis ini tidak diketahui periwayatannya. Jika pun ada, maka hadis ini adalah hadis yang lemah. [Liqo’at Al Bab Al Maftuh, kaset no. 82]
 
Sumber: