,

HUKUM MEMBAKAR BAJU YANG SUDAH USANG

HUKUM MEMBAKAR BAJU YANG SUDAH USANG
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
HUKUM MEMBAKAR BAJU YANG SUDAH USANG
 
Asy Syeikh Bin Baaz rahimahullah ditanya: “Apakah boleh membakar baju yang sudah tidak bisa dipakai lagi, karena kami mendengar haram hukumnya yang demikian ini?”
 
Beliau rahimahullah menjawab:
 
• Tidak boleh dibakar karena itu namanya menyia nyiakan harta!
 
• Baju baju bekas ini bisa dijadikan bantal, alas tempat duduk, atau disedekahkan kepada fakir miskin.
 
• Adapun dibakar, maka tidak boleh, walaupun ada najisnya. Maka dicuci najis yang ada padanya. Kalau ada gambarnya, maka dijadikan bantal. Karena apabila digunakan untuk bantal pada sesautu yang rendah, maka tidak mengapa gambar digunakan untuk sesautu yang direndahkan.
 
 
 
 
 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

#hukum #bakarbajusudahusang #membakarpakaiansudahtua #hukummembakarbajusudahusang

, ,

MENGAPA ORANG-ORANG TERORIS KHAWARIJ MENJADI ANJING-ANJING NERAKA?!

MENGAPA ORANG-ORANG TERORIS KHAWARIJ MENJADI ANJING-ANJING NERAKA?!
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
MENGAPA ORANG-ORANG TERORIS KHAWARIJ MENJADI ANJING-ANJING NERAKA?!
 
Al-Imam Muhammad bin Abdur Rauf al-Munawy rahimahullah berkata:
 
والحكمة من عقابهم بهذا العقاب: أنهم كانوا في الدنيا كلاباً على المسلمين، فيكفرونهم ويعتدون عليهم ويقتلونهم، فعوقبوا من جنس أعمالهم، فصاروا كلاباً في الآخرة.
 
“Hikmah dari hukuman terhadap mereka dengan hukuman semacam ini adalah karena ketika di dunia mereka bersikap seperti anjing terhadap kaum Muslimin dengan cara mengafirkan, berbuat jahat, dan membunuh kaum Muslimin. Maka mereka dihukum sesuai jenis perbuatan mereka, sehingga mereka menjadi anjing-anjing di Akhirat.” [Faidhul Qadir, jilid 3 hlm. 509]
 
 
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 
 
 
#Khawarij #Khowarij #terorisme #terorist #anjinganjingNeraka #kenapaKhawarijdisebutanjinganjingNeraka #mengapaKhawarijdisebutanjinganjingNeraka #takfiri #tafkiri #mengafirkanmuslim #mengkafirkanmuslim #fatwaulama
, , , ,

BERMAJELIS DENGAN AHLI BIDAH DAN MENGATAKAN CUKUPLAH UMAT INI BERPECAH

BERMAJELIS DENGAN AHLI BIDAH DAN MENGATAKAN CUKUPLAH UMAT INI BERPECAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
BERMAJELIS DENGAN AHLI BIDAH DAN MENGATAKAN CUKUPLAH UMAT INI BERPECAH
 
Penanya:
 
طالب علم يجالس أهل السنة وأهل البدع، ويقول: كفى الأمة تفريقاً وأنا أجالس الجميع.
 
Seorang penuntut ilmu bermajelis kepada Ahlussunnah dan Ahli Bidah, dan ia mengatakan: “Cukuplah umat ini berpecah dan aku tetap bermajelis kepada semuanya.”
 
Jawaban Asy-Syaikh Al-Allamah Shaleh Bin Muhammad Al-Luhaidan hafizhahullah:
 
( هذا مبتدع )، من لم يفرق بين الحق والباطل ويدعي أن هذا لجمع الكلمة فهذا هو الابتداع، نسأل الله أن يهديه. نعم ).
 
“Orang ini Mubtadi. Barang siapa yang tidak membedakan antara Al-Haq dan Al-Bathil dan mengklaim bahwasanya ini untuk menyatukan kalimat, maka ini adalah bidah. Kita memohon kepada Allah memberikan kepadanya hidayah.” [Disadur dari kaset pelajaran bakda Shalat Fajar di Masjid Mabawi pada 23/10/1418 H]
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 
#larangan #dilarang #bermajelisdenganahlulahlibidah #ahlulbidah #ahlibidah #bidah #mubtadi #alhaqalbathilbatil #harusbisabedakanalhaqkebenarandanalbathil #fatwaulama
, , ,

HARUSKAH WANITA MEMAKAI JILBAB KETIKA MEMBACA ALQURAN?

HARUSKAH WANITA MEMAKAI JILBAB KETIKA MEMBACA ALQURAN?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
HARUSKAH WANITA MEMAKAI JILBAB KETIKA MEMBACA ALQURAN?
 
Fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid hafidzahullah
 
Pertanyaan:
Apa yang seharusnya kami lakukan sebelum membaca Alquran? Apakah diwajibakan bagi wanita memakai hijab sempurna tatkala membaca Alquran?
 
Jawaban:
Alhamdulillah,
TIDAK DIWAJIBKAN bagi wanita memakai hijab ketika membaca Alquran, dengan alasan karena tidak adanya dalil yang menunjukkan kewajiban tersebut.
 
Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan:
“Tatkala membaca Alquran tidak disyaratkan harus menutup kepala.” [Fatawa Ibni’Ustaimin, 1/420]
 
Syaikh Ibnu’Ustaimin juga pernah menegaskan hal serupa tatkala membahas permasalahan Sujud Tilawah:
“Sujud Tilawah dilakukan ketika sedang membaca Alquran. Tidak mengapa sujud dalam kondisi apapun walaupun dengan kepala yang terbuka dan kedaan lainnya. Karena Sujud Tilawah tidak memiliki hukum yang sama dengan shalat. [Al Fatawa Al Jami’ah Lil Marati Al Muslimah, 1/249]. (Sumber: https://islamqa.info/ar/8950)
 
Fatwa Asy Syabakah Al Islamiyyah
 
Pertanyaan:
Apakah diwajibakan bagi wanita untuk meletakkan hijab di atas kepalanya ketika tengah membaca Alquran di dalam rumah?
 
Jawaban:
Alhamdulillah washshaltu wassalamu ala Rasulillah wa ala aalihi washahbih ammaba’d,
 
Diperbolehkan bagi wanita membaca Alquran TANPA memakai hijab di atas kepalanya, dikarenakan tidak adanya dalil, baik Alquran atapun As Sunnah yang memerintahkan agar wanita menutup kepalanya ketika membaca Alquran. Meskipun menutup kepala dengan jilbab termasuk menjaga kesempurnaan adab kepada Kitabullah, maka diharapkan baginya pahala atas perbuatan tersebut-insyaallah-. Allah taala berfirman:
 
ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ
 
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” [QS. Al Hajj: 32]
 
Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, jika beliau hendak membahas sebuah hadis Nabi ﷺ, beliau memakai pakaian terbagus, memakai minyak wangi terbaik yang beliau miliki dan beliau duduk dengan posisi duduk paling sempurna, sehingga beliau memiliki ketenangan dan wibawa.
(Sumber: www.islamweb.net)
 
Namun perlu diperhatikan bagi saudari-saudariku yang hendak membaca Alquran di tempat umum atau tempat lain yang terdapat laki-laki yang bukan mahram, atau dikhawatirkan akan ada laki-laki yang melihat, maka menutup aurat dengan sempurna adalah sebuah kewajiban. Sebagaimana hal ini bukanlah sesuatu yang asing lagi bagi kita. Wallahua’lam.
 
 
***
 
 
Diterjemahkan oleh Tim Penerjemah Wanitasalihah.com
[Artikel wanitasalihah.com]
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 
 
#haruskahwanitamemakaijilbabketikamembacaAlquran #hukumperempuanpakaikerudungwakubacaAlQuran #bolehkahmuslimahtidakmemakaihijabsyarisewaktumembacaAlQuran #jilbab #muslimah #hijab #kerudung, #dzikir #zikir #tanpahijab #tanpajilbab #hukum #bacaAlqurantanpakerudungbolehkah? #fatwaulama
, ,

BAGAIMANA HUKUM SEORANG MUADZIN YANG BERHADATS?

BAGAIMANA HUKUM SEORANG MUADZIN YANG BERHADATS?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
 
BAGAIMANA HUKUM SEORANG MUADZIN YANG BERHADATS?
 
Pertanyaan:
Apakah boleh azan bagi orang yang belum berwudhu? Dan apa hukum azan orang yang junub?
 
Jawaban:
Sah hukumnya azan orang yang berhadats, kecil maupun besar. TAPI, lebih utama baginya adalah azan dalam keadaan suci dari kedua hadats itu.
 
Wabillahit taufiq, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wasallam.
 
[Fatawa al- Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyah wal Ifta’ no. 8966, diketuai oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah]
 
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#hukumseorangmuadzinyangberhadats #hukumseorangmuazinyanghadats #muadzin #muazin #hadats #hadas #berhadats #berhadas #hukum
,

HUKUM MENGUSIR LABA-LABA

HUKUM MENGUSIR LABA-LABA
 
Pada prinsipnya, semua yang mengganggu manusia boleh untuk diusir. Sementara dalil yang menyatakan bahwa laba-laba pernah berjasa kepada Nabi ﷺ tidak bisa dijadikan alasan, karena tidak kuat.
 
Imam Ibnu Utsaimin pernah ditanya tentang hukum menghilangkan sarang laba-laba dan mengusirnya dari rumah.
 
Jawaban beliau:
 
إزالة العنكبوت من زوايا البيوت لا بأس بها وذلك لأن العنكبوت تؤذي وتلوث الحيطان وربما تعشش على الكتب وعلى الملابس فهي من الحشرات المؤذية وإن كانت أذيتها خفيفة بالنسبة لغيرها فإذا حصل منها أذية فإنه لا بأس بإزالة ما بنته من العش
 
Mengusir laba-laba dari sudut-sudut rumah diperbolehkan. Karena laba-laba mengganggu dan mengotori dinding. Terkadang mengotori kitab, pakaian. Laba-laba termasuk hewan yang mengganggu. Jika gangguannya ringan jika dibandingkan hewan lainnya, tidak masalah menghilangkan sarangnya. [Fatwa Nur ala Ad-Darbi, Imam Ibnu Utsaimin]
 
Keterangan Imam Ibnu Baz:
 
لا حرج في إزالة آثار العنكبوت ولا نعلم ما يدل على كراهة ذلك فإزالتها لا حرج في ذلك أما كونها بنت على الغار الذي دخل فيه النبي – صلى الله عليه وسلم – وصاحبه أبو بكر فهذا ورد في بعض الأحاديث وبصحته نظر ولكنه مشهور ولو فرضنا صحته فإنه لا يمنع من إزالتها من البيوت … التي ليس لوجودها حاجة فيها
 
Tidak masalah menghilangkan sarang laba-laba. Dan saya tidak mengetahui adanya dalil yang memakruhkan hal ini. Sementara peristiwa laba-laba membuat sarang di pintu gua yang dimasuki Nabi ﷺ dan Abu Bakr, ini disebutkan dalam sebagian hadis, namun status keabsahannya perlu dipertimbangkan, meskipun riwayat ini masyhur. Jika kita anggap riwayat ini shahih, tidak masalah mengusirnya dari rumah, karena keberadaan sarang laba-laba di rumah tidak dibutuhkan. [Fatawa Ibnu Baz, no. 11021]
 
Untuk masalah membunuhnya, selama laba-laba bisa diusir tanpa harus dibunuh, maka pada asalnya semua binatang yang gangguannya tidak signifikan, cukup diusir tanpa harus dibunuh.
 
 
Allahu a’lam.
 
 
 
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

#hukummengusirlabalaba #hukummembunuhlabalaba #hukummembuangsaranglabalaba #labalaba #spider #binatangmengganggu #hewanmengganggu #usir #diusirtanpaharusdibunuh #fatwaulama

 

,

BOLEHKAH SHALAT DI GEREJA KETIKA TIDAK ADA MASJID? (FATWA ULAMA)

BOLEHKAH SHALAT DI GEREJA KETIKA TIDAK ADA MASJID? (FATWA ULAMA)
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
BOLEHKAH SHALAT DI GEREJA KETIKA TIDAK ADA MASJID? (FATWA ULAMA)
Fatwa Syaikh Prof. DR. Khalid Al-Muslih hafizhahullah
 
Di sebagian negara kafir, tempat untuk shalat agak susah ditemukan. Yang sering ditemukan adalah gereja. Apakah boleh seorang muslim shalat di gereja?
 
Pertanyaan:
Apa hukum shalat di gereja jika tidak dijumpai masjid atau tempat (yang layak) untuk shalat? Apakah berdosa shalat di situ? Apakah shalat diterima?
 
Jawaban:
Telah dinukil ijma ulama bahwa orang yang shalat di gereja pada tempat yang suci (tidak terdapat najis) maka hukumnya boleh dan shalatnya sah. Ijma ini dinukil oleh Ibnu Abdil Barr dalam kitab At Tamhid (5/229). Namun yang benar, pada masalah ini terdapat khilaf (tidak ada ijma’) dalam tiga pendapat:
 
Pendapat pertama: Makruh shalat di gereja karena di dalamnya ada patung
Pendapat ini dinukil dari Umar dan Ibnu Abbas dan pendapat sejumlah ulama Hanafiyyah, Imam Malik, mazhab Syafi’iyyah, Hambali. Alasannya, karena di gereja terdapat patung (atau gambar makhluk hidup).
 
Pendapat kedua: Boleh shalat di gereja
Ini adalah pendapat Al-Hasan, Umar bin Abdul Aziz, Ast-Sya’bi. Merupakan mazhab Hanabilah. Dengan syarat tidak ada patung (atau gambar makhluk hidup) di dalamnya.
 
Pendapat ketiga: Haram shalat di gereja karena merupakan tempatnya setan-setan
Shalat di gereja merupakan bentuk penghormatan terhadap mereka. Ini adalah pendapat sejumlah ulama Hanafiyyah.
 
Dan pendapat yang lebih kuat yaitu dimakruhkan shalat di gereja jika ada patung-patung. Jika tidak ada patung maka hukumnya mubah. Akan tetapi tidak boleh bagi seseorang meninggalkan shalat di Masjid dengan maksud ingin shalat di gereja, karena ini tidak boleh. Maka yang wajib, jika menemukan masjid hendaknya shalat di sana dan janganlah berpaling ke yang lain. Allah taala berfirman:
 
فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ
 
“Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang” (QS. Annur: 36)
 
 
 
#hukumshalatdigereja #bolehkahshalatdigereja #shalatsholat #solat #salat #gereja #tempatibadahnonmuslim #fatwaulama
, ,

GERHANA TIDAK TERLIHAT BERARTI TIDAK ADA SHALAT GERHANA

GERHANA TIDAK TERLIHAT BERARTI TIDAK ADA SHALAT GERHANA
GERHANA TIDAK TERLIHAT BERARTI TIDAK ADA SHALAT GERHANA
 
Karena shalat gerhana ini dikaitkan dengan PENGLIHATAN, BUKAN berdasarkan HISAB hisab atau hasil perkiraan ILMU FALAK atau ASTRONOMI. Nabi ﷺ bersabda:
 
فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَافْزَعُوا إِلَى الصَّلاَةِ
“Jika kalian melihat gerhana tersebut (matahari atau bulan) , maka bersegeralah untuk melaksanakan shalat.” [HR. Bukhari no. 1047]
 
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin pernah ditanya, “Apa hukum jika gerhana matahari tertutup awam mendung, namun sudah dinyatakan di berbagai surat kabar sebelum itu, bahwa nanti akan terjadi gerhana dengan izin Allah, pada jam sekian dan sekian. Apakah shala gerhana tetap dilaksanakan walau tidak terlihat gerhana?”
 
Syaikh rahimahullah menjawab:
“TIDAK BOLEH berpatokan pada berbagai berita yang tersebar atau berpatokan semata-mata dengan berita dari para astronom. Jika langit itu mendung, maka tidak ada shalat gerhana karena Nabi ﷺ mengaitkan hukum dengan penglihatan (rukyat). Nabi ﷺ bersabda, “Jika kalian melihat terjadinya gerhana, maka segeralah shalat.” Suatu hal yang mungkin, Allah menyembunyikan penglihatan gerhana pada satu daerah, lalu menampakkannya pada daerah lain. Ada hikmah di balik itu semua.” [Sumber: Saaid.Net]
 
Sehingga jika ada yang shalat gerhana padahal cuma melihat di TV atau berpatokan pada berita saja, nyatanya di daerahnya sendiri tidak nampak gerhana karena tertutup mendung, maka ia telah KELIRU.
 
Hanya Allah yang memberi taufik.
 
#fatwaulama #sifatsholatnabi #shalat #sholat #salat #solat #Khusuf #Kusuf #gerhanabulan #gerhanamatahari #penglihatan #bukanastronomiilmufalak #tertutupmendung #hujan
, ,

HIKMAH TIDAK DIKETAHUI KAPAN GERHANA

HIKMAH TIDAK DIKETAHUI KAPAN GERHANA
 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ  
HIKMAH TIDAK DIKETAHUI KAPAN GERHANA
 
Ibnu Baz rahimahullâh berkata:
 
أما أخبار الحسابيين عن أوقات الكسوف فلا يعول عليها , وقد صرح بذلك جماعة من أهل العلم , منهم: شيخ الإسلام ابن تيمية وتلميذه العلامة ابن القيم رحمة الله عليهما ; لأنهم يخطئون في بعض الأحيان في حسابهم , فلا يجوز التعويل عليهم , ولا يشرع لأحد أن يصلي صلاة الكسوف بناء على قولهم , وإنما تشرع صلاة الكسوف عند وقوعه ومشاهدته
 
 
فينبغي لوزارات الإعلام منع نشر أخبار أصحاب الحساب عن أوقات الكسوف حتى لا يغتر بأخبارهم بعض الناس ; ولأن نشر أخبارهم قد يخفف وقع أمر الكسوف في قلوب الناس , والله سبحانه وتعالى إنما قدره لتخويف الناس وتذكيرهم ; ليذكروه ويتقوه ويدعوه ويحسنوا إلى عباده، والله ولي التوفيق
 
“Adapun berita-berita Ahli Astronomi tentang waktu-waktu gerhana, maka TIDAK boleh dijadikan sandaran untuk melakukan Shalat Gerhana. Dan hal tersebut telah ditegaskan oleh banyak ulama, di antaranya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan murid beliau Al-‘Allamah Ibnul Qoyyim rahmatullaahi ‘alaihima. Karena para Ahli Astronomi tersebut kadang salah dan kadang benar dalam hisab mereka, maka tidak boleh bersandar kepada mereka, dan tidak disunnahkan bagi seorang pun untuk melakukan Shalat Gerhana dengan bersandarkan pendapat mereka. Hanyalah Shalat Gerhana itu disyariatkan ketika telah benar-benar terjadi dan disaksikan secara langsung.
 
Maka sepatutnya bagi Kementerian Komunikasi dan Informatika melarang para Ahli Astronomi untuk mengabarkan waktu-waktu terjadinya gerhana, agar sebagian orang tidak tertipu dengan berita-berita mereka (yang kadang salah dan kadang benar). Dan karena adanya penyebaran berita tersebut dapat mengurangi dahsyatnya pengaruh gerhana di hati-hati manusia, padahal Allah taala menetapkannya untuk memertakuti manusia dan mengingatkan mereka, agar mereka berzikir kepada-Nya, bertakwa kepada-Nya, berdoa kepada-Nya, dan berbuat baik kepada hamba-hamba-Nya. Wallaahu Waliyyuttaufiq.” [Majmu’ Al-Fatawa, 13/36]
 
Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah berkata:
 
الأولى فيما أرى عدم الإخبار، لأن إتيان الكسوف بغتة أشد وقعاً في النفوس، ولهذا نجد أن الناس لما علموا الأسباب الحسية للكسوف، وعلموا به قبل وقوعه، ضعف أمره في قلوب الناس، ولهذا كان الناس قبل العلم بهذه الأمور، إذا حصل كسوف خافوا خوفاً شديداً، وبكوا وانطلقوا إلى المساجد خائفين وجلين، والله المستعان
 
“Lebih baik menurutku tidak mengabarkan berita akan terjadinya gerhana, karena datangnya gerhana secara tiba-tiba tanpa diketahui sebelumnya lebih dahsyat pengaruhnya bagi jiwa. Oleh karena itu kita dapati, bahwa manusia apabila telah mengetahui sebab-sebab indrawi akan munculnya gerhana, dan mereka mengetahuinya sebelum terjadi, maka melemah pengaruhnya di dalam hati-hati manusia. Dan sebaliknya, apabila manusia belum mengetahui akan terjadinya, ketika terjadi maka mereka akan sangat takut, menangis dan bersegera menuju masjid-masjid dalam keadaan takut dan gemetar. Wallaahul Musta’an.” [Majmu’ Al-Fatawa war Rosaail: 5931]
 
Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah juga berkata:
 
لا يجوز أن يصلي اعتماداً على ما ينشر في الجرائد، أو يذكر بعض الفلكيين، إذا كانت السماء غيماً ولم ير الكسوف؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم علق الحكم بالرؤية، فقال عليه الصلاة والسلام: «فإذا رأيتموهما فافزعوا إلى الصلاة»، ومن الجائز أن الله تعالى يخفي هذا الكسوف عن قوم دون آخرين لحكمة يريدها
 
“Tidak boleh melakukan Shalat Gerhana hanya berdasarkan pada berita yang tersebar di koran-koran atau pengabaran Ahli Falak (tanpa melihat langsung), apabila langit mendung dan gerhana tidak terlihat, karena Nabi ﷺ mengaitkan hukum (shalat) dengan melihat (gerhana). Beliau ﷺ bersabda: “Maka apabila kalian melihat gerhana bersegeralah untuk shalat.” Dan bisa jadi Allah ta’ala tidak menampakkan gerhana ini bagi suatu kaum sedang yang lainnya dapat melihatnya, karena suatu hikmah yang Allah inginkan.” [Majmu’ Al-Fatawa war Rosaail: 3041]
 
 
 
#gerhanabulan #gerhanamatahari #sholat #salat #shalat #solat #Khusuf #Kusuf #hukum #tatacara #penyebaranberita #fatwaulama
, , ,

BOLEHKAH MANDI JUNUB DENGAN AIR HANGAT?

BOLEHKAH MANDI JUNUB DENGAN AIR HANGAT?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
BOLEHKAH MANDI JUNUB DENGAN AIR HANGAT?
 
Pertanyaan:
Misalnya ada yang hubungan intim di malam hari, lantas ia menunda mandinya hingga Subuh. Bolehkah menggunakan air hangat atau air panas untuk manji junubnya, karena keadaan saat itu dingin?
 
Jawaban:
Bismmillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du:
 
Bagi orang junub yang tidak memungkinkan untuk mandi dengan air dingin, dibolehkan menggunakan air hangat. Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah:
 
Dari Aslam Al-Qurasyiy Al-‘Adawy, mantan budak Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu, beliau bercerita:
 
أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ كَانَ يَغْتَسِلُ بِالْمَاءِ الْحَمِيمِ
 
“Sesungguhnya Umar dahulu mandi dari air yang hangat.” [HR. Abdurrazzaq dalam Mushannaf-nya 675, dan Ibnu Hajar mengatakan sanadnya shahih Fathul Bari, 1:299]
 
Ibnu Hajar menjelaskan:
 
وأما مسألة التطهر بالماء المسخن فاتفقوا على جوازه الا ما نقل عن مجاهد
 
“Masalah bersuci dengan air hangat, para ulama sepakat bolehanya, kecuali riwayat yang dinukil dari Mujahid.” [Fathul Bari, 1:299]
 
Kemudian diriwayatkan dari Atha’, bahwa beliau mendengar Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma mengatakan:
 
«لَا بَأْسَ أَنْ يُغْتَسَلَ بِالْحَمِيمِ وَيُتَوَضَّأُ مِنْهُ»
 
“Boleh seseorang mandi atau wudhu dengan air hangat.” [HR. Abdurrazzaq dalam Mushannaf-nya, 677]
 
 
Adapun hadis dari Aisyah radhiallahu ‘anha, yang mengatakan:
 
دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ سَخَّنْتُ مَاءً فِي الشَّمْسِ ، فَقَالَ : لَا تَفْعَلِي يَا حُمَيْرَاءُ فَإِنَّهُ يُورِثُ الْبَرَصَ
 
Rasulullah ﷺ masuk menemuiku, sementara saya telah menghangatkan air dengan sinar matahari. Maka beliau ﷺ bersabda: “Jangan kamu lakukan itu wahai Humaira (Aisyah), karena itu bisa menyebabkan penyakit sopak.”
 
Hadis ini disebutkan oleh Ad-Daraquthni (1:38), Ibnu Adi dalam Al-Kamil 3:912, dan Al-Baihaqi 1:6 dari jalan Khalid bin Ismail dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari Aisyah.
 
Tentang Khalid bin Ismail, Ibnu Adi berkomentar:
 
كَانَ يَضَعُ الْحَدِيثَ
 
“Dia telah memalsukan hadis.”
 
Dalam sanad yang lain, hadis ini juga diriwayatkan dari jalur Wahb bin Wahb Abul Bukhtari dari Hisyam bin Urwah. Ibnu Adi mengatakan: “Wahb lebih buruk dari pada Khalid.”
 
Kesimpulannya, hadis ini TIDAK BISA JADI DALIL karena statusnya hadis yang lemah.
 
Demikian keterangan Ibnu Hajar di At-Talkhish Al-Habir, 1:21.
 
Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia, Al-Lajnah Ad-Daimah pernah ditanya:
“Jenis air yang bagaimana yang digunakan untuk mandi junub? Apakah harus dengan air dingin atau boleh dengan air panas? Bagaimana jika tidak mampu menggunakan air dingin?”
 
Jawab ulama Al-Lajnah Ad-Daimah:
Boleh saja bagi Muslim menggunakan air panas atau air dingin sesuai yang ia anggap maslahat untuk dirinya. Dalam masalah ini begitu longgar untuk memilih. Ingatlah, Islam adalah agama yang memberi kemudahan. Sebagaimana Allah taala berfirman:
 
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
 
“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” [QS. Al-Baqarah: 185]
 
Wa billah at-taufiq. (Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah di masa Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah, soal kesepuluh dari fatwa no. 5612)
 
 
 
Sumber:
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 #mandijanabah #mandijunub #mandiwajib #hukum #pakaiairpanas #pakaiairhangat #thaharah #thoharoh