, , , ,

APA ARTI NASHIHAH UNTUK RASULULLAH?

Apa Arti Nashihah untuk Rasulullah?

Apa Arti Nashihah untuk Rasulullah?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عن تميم الداري أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ” الدين النصيحة ” ثلاثا . قلنا : لمن ؟ قال : ” لله ولكتابه ولرسوله ولأئمة المسلمين وعامتهم ” . رواه مسلم

Dari Tamim Ad-Dari: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda sebanyak tiga kali: “Agama ini adalah nashihah.” Kami berkata: “Untuk siapa?” Beliau bersabda: “Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, pemimpin kaum muslimin, dan umat-Nya.” (HR. Muslim)

***

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan: “Nashihah untuk Rasul-Nya melalui beberapa perkara, di antaranya:

1. Sepenuhnya mengikuti segala tuntunannya, dan tidak mengikuti orang lain yang (petunjuknya bertentangan dengan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, pen.). Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat, dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)

2. Beriman kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan keimanan yang murni – bukan iman yang palsu – serta tidak mendustakan risalah yang beliau bawa. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah utusan Allah yang jujur dan ucapannya selalu dibenarkan.

3. Beriman terhadap seluruh berita yang beliau sampaikan, baik itu berita tentang masa lampau, masa sekarang, maupun masa yang akan datang.

4. Mengerjakan perintah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana yang dituntunkan.

5. Menjauhi larangan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.

6. Membela syariat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.

7. Meyakini bahwa setiap hal yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sebagaimana hal yang dituntunkan Allah Ta’ala, dalam kaitannya dengan wajibnya beramal sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebabnya, setiap hal yang ditetapkan dalam Sunnah (tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam), maka pasti itu sesuai dengan tuntunan yang ada dalam Alquran.

8. Menolong Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sewaktu beliau masih hidup, wujudnya adalah bersama seiring dengan beliau dan berada di sisi beliau. Selepas wafatnya beliau, wujud pertolongan itu adalah membantu (tegak dan tersebarnya) Sunnah (tuntunan) beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sumber: Syarah Al-Arba’in An-Nawawiyyah, 1:117.

Diterjemahkan oleh Tim Penerjemah WanitaSalihah.Com

Artikel WanitaSalihah.Com

***

قال الشيخ ابن عثيمين رحمه الله :
” النصيحة لرسوله تكون بأمور منها:
الأول : تجريد المتابعة له ، وأن لا تتبع غيره ، لقول الله تعالى: (لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً)
الثاني: الإيمان بأنه رسول الله حقاً، لم يَكذِب ، ولم يُكذَب ، فهو رسول صادق مصدوق.
الثالث : أن تؤمن بكل ما أخبر به من الأخبار الماضية والحاضرة والمستقبلة .
الرابع : أن تمتثل أمره .
الخامس : أن تجتنب نهيه .
السادس : أن تذبّ عن شريعته .
السابع : أن تعتقد أن ما جاء عن رسول الله ، فهو كما جاء عن الله تعالى ، في لزوم العمل به ، لأن ما ثبت في السنة ، فهو كالذي جاء في القرآن .
الثامن : نصرة النبي صلى الله عليه وسلم : إن كان حياً : فمعه وإلى جانبه ، وإن كان ميتاً : فنصرة سنته صلى الله عليه وسلم ”
#شرح_الأربعين_النووية ( 117/1)

http://wanitasalihah.com/apa-arti-nashihah-untuk-rasulullah/

, , , ,

TERAPI PENYAKIT SUKA TERHADAP SESAMA JENIS

Terapi Penyakit Suka Terhadap Sesama Jenis

Terapi Penyakit Suka Terhadap Sesama Jenis

Pertanyaan:
Saya seorang akhwat, sekarang duduk di bangku kuliah. Sejak kecil saya tidak pernah menyukai laki-laki. Saya lebih tertarik kepada sesama jenis. Saya sendiri tidak tahu apa penyebabnya. Yang pasti saya lebih tertarik melihat perempuan daripada laki-laki. Keluarga saya tidak ada yang tahu. Saya tahu ini dosa besar, dan saya tersiksa dengan ini. Saya ingin menjadi wanita yang solehah. Saya takut akan siksa Allah. Alhamdulillah kakak-kakak saya ahlussunnah. Saya pun mulai ikut mengaji (baru waktu tingkat 2 ini), tapi saya sudah lama mengenakan jilbab.

Yang ingin saya tanyakan, apa solusi masalah saya? Sekarang yang ada di pikiran saya adalah menikah. Saya ingin ada yang membimbing sepenuhnya. Dan saya berharap bisa mencintai suami saya karena Allah semata. Kebetulan semua kakak-kakak saya telah menikah, jadi tidak banyak waktu untuk berkumpul, dan tidak setiap saat mereka bisa membimbing saya. Tapi masalah yang kedua yang saya hadapi adalah kalau saya menikah, orang tua saya menuntut saya untuk menyelesaikan kuliah terlebih dahulu. Tapi ustadz, itu tidak mungkin. Saya takut saya akan melakukan maksiat. Saya ingin sembuh ustadz. Saya benar-benar ingin menjadi ahlussunnah. Saya terganggu dengan perasaan ganjil pada diri saya, karena setiap saya ingin melangkah pada kebenaran, saya selalu ingat perasaan ini dan akhirnya saya jadi malas untuk menuntut ilmu syar’i (karena setiap ingat, hati saya selalu berkata “Percuma kalau ngaji, tapi masih punya perasaan ganjil”). Terlalu lama jika harus menunggu selesai kuliah.

Saya berencana tetap menikah. Tapi sementara kuliah, saya tidak tinggal serumah dengan suami saya. Hubungan jarak jauh, karena saya ingin menyelesaikan kuliah dulu. Minimal ketemu suami 1 kali dalam sepekan. Ya mungkin hanya berbicara via telepon itu cukup (Saya ingin pacaran tanpa ada zina, terikat pernikahan). Tapi ustadz, apakah boleh menikah dengan menunda untuk jima’? Dan apakah boleh saya merahasiakan ini dari calon suami saya, karena saya terlalu malu untuk mengatakan ini, karena ini aib terbesar dalam hidup saya dan saya takut suami saya kecewa. Demikian ustadz pertanyaan dari saya. Jawaban dari ustadz sangat ana nantikan. Jazakallah khairan.

Jawaban Ustadz Muhammad Arifin Badri:

بسم الله الرحمن الرحيم

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam, keluarga, sahabat dan seluruh pengikutnya hingga Hari Kiamat.

Selanjutnya, membaca problem yang sedang anti hadapi, saya dapat memahami perasaan dan pikiran anti. Semoga Allah Ta’ala senantiasa melimpahkan kerahmatan dan hidayah-Nya kepada anti dan kita semua, sehingga kita dapat menempuh jalan-jalan yang diridhoi-Nya. Dan semoga Allah Ta’ala menyucikan anti dan juga jiwa kita semua, sehingga tidaklah timbul dari diri kita, kecuali kebaikan. Dan tidaklah muncul dari jiwa kita, selain pikiran yang baik dan diridhoi-Nya.

Ukhti yang semoga senantiasa mendapatkan taufiq dan hidayah dari Allah, dalam mengarungi bahtera kehidupan di dunia ini, setiap manusia tidak boleh terlepas dari keimanan kepada Allah Ta’ala. Segala yang kita hadapi, kita rasakan, dan kita dapatkan, datangnya dari Allah semata. Segala kenikmatan, kesembuhan dan kemudahan, hanya milik Allah Ta’ala.

Oleh karena itu seorang yang beriman kepada Allah Ta’ala akan senantiasa berjiwa besar dan bertekad baja dalam menghadapi apapun yang terjadi di dunia ini. Ketika ia menghadapi kenikmatan, ia tidak akan lupa daratan. Dan ketika ia menghadapi cobaan, ia tidak akan pernah putus asa dan menyerah kepada kegagalan.

عجبا لأمر المؤمن إن أمره كله خير وليس ذاك لأحد إلا للمؤمن إن أصابته سراء شكر فكان خيرا له وإن أصابته ضراء صبر فكان خيرا له رواه مسلم

“Amat mengherankan urusan seorang Mukmin. Sesungguhnya urusannya itu semuanya baik. Dan ini tidaklah dimiliki melainkan oleh seorang yang beriman. Bila ia ditimpa kesenangan, maka ia bersyukur, maka urusannya itu menjadi baik baginya. Dan bila ia ditimpa kejelekan, maka ia bersabar, maka urusannya itu akan menjadi baik baginya.” (Muslim)

Benar-benar jiwa besar dan mental baja, sehingga dalam kesenangan ia dapat bersyukur dan tidak menjadi lupa daratan, sehingga dengan kenikmatannya itu ia tetap istiqamah pada jalan Allah, beribadah kepada-Nya, dan tetap mengamalkan syariat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam.

Dalam kesusahan ia bersabar, sehingga tidak putus asa, dan menyeleweng dari syariat. Bila seorang Mukmin ditimpa kesusahan berupa musibah, kesusahan, maka ia bersabar dengan menerima takdir tersebut tanpa keluh kesah. Dan ia tetap yakin dengan sepenuhnya, bahwa kemudahan hanya akan dapat dicapai, bila kita tetap istiqomah dalam kebenaran. Dan kemudahan hanya milik Allah, sehingga hanya kepada-Nya kita memohon kemudahan. Oleh karena itu dahulu Nabi shollallahu ’alaihiwasallam mencontohkan kepada kita untuk berdoa:

اللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً

ALLAHUMMA LAA SAHLA ILLA MAA JA’ALTAHU SAHLAA, WA ANTA TAJ’ALUL HAZNA IDZA SYI’TA SAHLAA

Artinya:
Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki, pasti akan menjadi mudah [Hadis ini dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya (3/255)].

Seorang Muslim bila dihadapkan kepada kesusahan, ia tetap berjiwa besar dan berkeyakinan kokoh, lebih kokoh dari pada gunung yang menjulang tinggi ke langit, bahwa amat mudah dan ringan bagi Allah untuk memberikan jalan keluar kepada hambanya. Tidak ada kata susah dan sulit bagi Allah Ta’ala. Semuanya mudah dan ringan bagi-Nya.

Bila ia dihadapkan dengan kemaksiatan, ia bersabar dengan cara menahan diri darinya, sehingga ia dapat menjaga keimanan dan ketakwaannya dari noda-noda kemaksiatan dan syahwat. Oleh karena itu, tatkala Allah Ta’ala menceritakan kisah Nabi Yusuf ‘alaihissalam, Allah berfirman:

إنه من يتق ويصبر فإن الله لا يضيع أجر المحسنين

“Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (Yusuf: 90)

Ibnul Qayyim berkata: “Dengan kesabaran, bisikan syahwat dapat ditinggalkan, dan dengan keyakinan, berbagai syubhat dapat ditepis.” (I’ilamul Muwaqi’in 1/137)

Dan bila sedang menjalankan ketaatan, ia bersabar, sehingga tidak luntur semangat dan keimanannya, karena berbagai aral dan rintangan yang menghadang setiap sepak terjangnya.

عن خباب بن الأرت رضي الله عنه قال: شكونا إلى رسول الله صلى الله عليه و سلم وهو متوسد بردة له في ظل الكعبة، قلنا له: ألا تستنصر لنا؟ ألا تدعو الله لنا؟ قال: كان الرجل فيمن قبلكم يحفر له في الأرض، فيجعل فيه، فيجاء بالمنشار فيوضع على رأسه، فيشق باثنتين وما يصده ذلك عن دينه، ويمشط بأمشاط الحديد ما دون لحمه من عظم أو عصب، وما يصده ذلك عن دينه. والله ليتمن هذا الأمر حتى يسير الراكب من صنعاء إلى حضرموت، لا يخاف إلا الله أو الذئب على غنمه، ولكنكم تستعجلون.) رواه البخاري

“Dari sahabat Khabab bin Al Arat rodiallahu’anhu, ia menuturkan: Kami mengeluh kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, sedangkan beliau dalam keadaan berebah dengan berbantalkan bajunya di bawah Kakbah. Kami berkata kepadanya: Tidakkah engkau memohonkan pertolongan untuk kami? Tidakkah engkau berdoa kepada Allah untuk kami? Beliau menjawab: Dahulu, salah seorang sebelum kalian, digalikan untuknya lubang di bumi, kemudian ia ditanam di dalamnya, kemudian didatangkan untuknya gergaji, dan kemudian diletakkan di kepalanya, kemudian kepalanya dibelah menjadi dua, akan tetapi hal itu tidaklah dapat menghalang-halanginya dari agamanya, dan (yang lain) disisir dengan sisir besi dari bawah daging, sehingga nampaklah tulang belulangnya atau urat-uratnya, dan itu tidaklah dapat menghalang-halanginya dari agamanya. Sungguh demi Allah, urusan ini (agama ini) akan menjadi sempurna, hingga akan ada seseorang yang mengendarai kendaraannya dari San’a’ hingga Hadraumaut, sedangkan ia tidak takut, kecuali dari Allah atau serigala yang akan menerkam kambingnya. Akan tetapi kalian terburu-buru.” (Bukhori)

Allah Ta’ala berfirman:

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

“Dan Kami jadikan di antara mereka para pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, tatkala mereka bersabar dan mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (As Sajdah: 24)

Ibnu Taimiyyah berkata: “Maka dengan kesabaran dan keyakinan, kepemimpinan dalam urusan agama dapat dicapai.” (Majmu Fatawa 3/358)

Ibnul Qayyim juga berkata: “Allah mengabarkan, bahwa Ia telah menjadikan dari mereka (pengikut Nabi Musa ‘alaihissalam) sebagai para pemimpin yang dijadikan sebagai panutan oleh orang setelah mereka; berkat kesabaran dan keyakinan mereka. Karena hanya dengan kesabaran dan keyakinanlah, kepemimpinan dalam urusan agama dapat dicapai.” (I’ilamul Muwaqi’in 4/135)

Itulah hal pertama yang harus anti lakukan dalam menghadapi permasalahan anti ini.

Kedua: Anti harus senantiasa dan banyak-banyak berlindung kepada Allah Ta’ala dari godaan setan dan bisikannya, yaitu dengan cara membaca ta’awudz:

أَعُوْذُ باللهِ مِنَ الشَّيطَانِ الرَّجِيْمِ

A’udzu billahi minasy syaithonir rojiim

Artinya:
Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.

Sebab bisikan dan godaan untuk bermaksiat itu datangnya adalah dari setan, sehingga dengan kita banyak-banyak berlindung kepada Allah dari godaannya, yaitu dengan membaca ta’awudz semacam ini, niscaya kita akan terjauhkan dari godaan dan kejahatannya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Dan bila engkau ditimpa sesuatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.” (Al A’araf: 200)

Ketiga: Senantiasa membaca dzikir pagi dan sore, dan sebelum dan sesudah tidur, sebelum makan, setelah makan, ketika menutup dan membuka pintu rumah, masuk WC dan keluar darinya dst. Untuk mengetahui bacaan-bacan dzikir yang dimaksud dan diajarkan oleh Nabi shollallahu’alaihiwasallam, silakan membeli buku (Do’a & Wirid Mengobati Guna-Guna dan Sihir Menurut Alquran dan As Sunnah) yang disusun oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawwas.

Di antara yang seyogyanya anti lakukan ialah senantiasa membaca Ayat Kursi sebelum tidur dan seusai sholat fardhu.

Sebagaimana saya anjurkan, agar anti senantiasa membaca Alquran di rumah tempat tinggal anti, karena dengan cara ini setan tidak akan dapat masuk ke rumah kita.

Keempat: Banyak-banyak berdoa kepada Allah agar diberi kesucian jiwa, dan dijauhkan dari akhlak yang tercela. Di antara doa-doa yang diajarkan Nabi shollallahu ’alaihiwasallam adalah sebagai berikut:

اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الْأَخْلاَقِ وَالْأَعْمَالِ وَالْأَهْوَاءِ. رواه الترمذي والحاكم والطبراني

ALLAHUMMA INNI A’UDZU BIKA MIN MUNKAROTIL AKHLAAQI WAL A’MAALI WAL AHWAA’

Artinya:
“Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari akhlak, amalan, dan hawa nafsu yang buruk.” (Riwayat At Tirmizy, Al Hakim, dan At Thabrani)

Dan akan lebih efektif bila anti senantiasa melakukan sholat malam, dan setelahnya berdoa kepada Allah Ta’ala, agar diberikan kesucian jiwa dan dikaruniai keistiqomahan dalam beragama, dan dikaruniai seorang suami yang sholeh, yang dapat membimbing anti kepada kehidupan seorang muslimah yang sejati.

Kelima: Senantiasa bersahabat dengan wanita-wanita yang sholihah, dan jangan sekali-kali pernah menyendiri atau berkawan dengan wanita yang kurang baik. Jangan sampai bisikan yang ada di hati anti ini malah menjadikan anti menyendiri. Karena semakin anti menyendiri, maka godaan ini akan semakin kuat. Dan semakin anti berkawan dengan wanita-wanita baik yang senantiasa berbicara dengan hal-hal baik, dan tidak sekedar omong kosong, maka dengan izin Allah godaan setan akan semakin berkurang. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

ما من ثلاثة في قرية فلا يؤذن ولا تقام فيهم الصلوات الا استحوذ عليهم الشيطان عليك بالجماعة فإنما يأكل الذئب من الغنم القاصية. رواه أحمد وأبو داود وغيرهما وصححه الألباني

“Tidaklah ada tiga orang manusia di suatu desa, kemudian tidak dikumandangkan adzan dan tidak juga didirikan sholat berjamaah, melainkan mereka itu telah dikuasai oleh setan. Hendaknya engkau senantiasa bersama jamaah (jamaah sholat) karena srigala hanyalah memakan kambing yang menyendiri.” (Riwayat Ahmad, Abu dawud dll, dan dishahihkan oleh Al Albani)

Anti harus yakin bahwa bagi seorang yang beriman kepada Allah Ta’ala dan Hari Akhir, tidak dibenarkan untuk merasa, bahwa dirinya itu kotor dan tidak layak menjadi orang baik. Sebab setiap manusia diciptakan di dunia ini telah dibekali kesiapan untuk menjadi orang baik (dalam keadaan fitrah/suci). Hanya saja lingkungan dan pendidikan serta godaan setanlah yang telah merusak fitrah baiknya.

عن أبي هريرة رضي الله عنه أنه كان يقول: قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : (ما من مولود إلا يولد على الفطرة فأبواه يهودانه وينصرانه ويمجسانه، كما تنتج البهيمة بهيمة جمعاء، هل تحسون فيها من جدعاء) متفق عليه

“Dari sahabat Abu Hurairah rodiallahu’anhu, ia menuturkan: Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam: Tidaklah ada seorang yang dilahirkan melainkan dilahirkan dalam keadaan fitrah (Muslim). Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi. Perumpamaannya bagaikan seekor binatang yang dilahirkan dalam keadaan utuh anggota badannya, nah apakah kalian mendapatkan padanya hidung yang dipotong?” (Muttafaqun ‘alaih)

Jadi sebenarnya anti memiliki fitrah yang baik, dan normal. Akan tetapi karena pengaruh pendidikan atau mungkin lingkungan atau lainnya yang memengaruhi cara berfikir anti. Oleh karena itu anti harus mengobarkan tekad dan semangat anti untuk mengembalikan fitrah anti sebagai seorang wanita yang sempurna.

Bila Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mengambarkan, bahwa pada mulanya setiap orang dilahirkan dalam keadaan beragama Islam, mengakui keesaan Allah, akan tetapi karena pengaruh lingkungan, ia menjadi Yahudi, Nasrani, dan Majusi, padahal dosa berpindah agama lebih besar dari pada dosa melakukan perilaku kaum Nabi Luth ‘alaihissalam, maka demikian jugalah yang menimpa diri anti, anti telah terpengaruh dengan faktor luar dari diri anti, sehingga menjadikan anti lebih suka kepada sesama jenis dari pada lawan jenis.

Bila orang yang telah berubah fitrahnya sehingga beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi dapat berubah dan kembali kepada fitrahnya, yaitu dengan belajar, dakwah, dan memohon hidayah dari Allah, maka anti lebih memungkinkan untuk kembali kepada fitrah anti yang semula. Kuncinya hanya ada di hati anti. bila anti serius memohon petunjuk kepada Allah, dan disertai dengan upaya yang serius, maka dalam waktu yang amat singkat fitrah anti akan kembali suci dan bersih.

Keenam: Lakukanlah kegiatan-kegiatan yang bersifat feminim/keibuan, misalnya mengasuh anak kecil (keponakan, atau adik, atau lainnya), memasak, berdandan memercantik diri (khusus ketika berada di dalam rumah), menjahit, membuat karangan bunga, dll. Serta hindari segala perbuatan dan perilaku yang biasa dilakukan oleh lawan jenis, misalnya mengendarai motor, mengenakan celana panjang walaupun di rumah, sandal laki-laki, atau yang serupa.

Ketujuh: Kenali betapa bahagianya kehidupan seorang wanita yang telah berumah tangga, telah dikaruniai anak keturunan yang sholeh, pandai, cakep, berbakti pada orang tua. Tidakkah anti iri dengan keadaan wanita tersebut yang hidup penuh dengan kebahagiaan sebagai ibu rumah tangga, istri, pengasuh anaknya sendiri, bukan anak angkat. Dan betapa bangganya dan berbuanga-bunganya hati anti bila suatu saat di hari yang cerah, anak anti pulang dari sekolah dengan membawa berita gembira, berupa kenaikan kelas anak anti dengan prestasi yang memuaskan, misalnya rangking satu di kelas, atau yang serupa.

Kedelapan: Di antara jalan yang harus anti tempuh guna membentengi diri anti, ialah dengan cara mengetahui dan memikirkan dampak jelek dan buruk yang akan menimpa orang yang menyelisihi fitrahnya, baik dampak buruk yang akan timbul dalam tempo dekat atau jauh, di antaranya: Betapa besarnya rasa malu yang akan anti dan keluarga anti hadapi bila perbuatan maksiat itu diketahui orang lain. Bagaimanakah masa depan anti kelak, baik masa depan secara sosial, atau kejiwaan, di mana bila seorang wanita tidak menikah dengan lelaki, maka ia tidak akan pernah punya anak keturunan yang akan menjaga dan melayaninya di masa tua, dan mendoakan untuknya sepeninggalnya kelak. Belum lagi betapa besarnya dosa yang akan anti tanggung, bila anti hanyut dengan godaan setan ini.

Ukhti fillah, besarkan hati anti, bulatkan tekad anti dan kobarkan semangat anti untuk kembali kepada fitrah. Gantungkanlah harapan anti hanya kepada Allah Ta’ala. Angkatlah kedua telapak tangan anti seusai anti sholat dan pada malam hari guna memohon hidayah dan perlindungan kepada Allah Ta’ala dari godaan setan yang terkutuk dan bisikan nafsu yang tidak baik.

Kesembilan: Adapun rencana anti untuk menikah tapi tidak hidup serumah dengan calon suami anti, maka menurut hemat saya itu tidak perlu dilakukan, sebab saya khawatir bila anti dikecewakan oleh calon suami anti, malah semakin memerburuk keadaan dan perasaan anti. Cobalah kiat-kiat yang telah saya jabarkan di atas dengan sepenuh hati. Semoga anti berhasil mengusir belenggu setan yang telah melilit dalam sanubari anti.

Tak lupa, saya juga turut berdoa untuk anti, semoga Allah Ta’ala menyucikan jiwa anti dan menjaga kehormatan anti, serta melindungi anti dari godaan setan dan bisikan hawa nafsu yang dimurkai Allah. Wallahu a’lam bis showab.

***

Penanya: Seorang Hamba Allah
Dijawab oleh: Ustadz Muhammad Arifin Badri
(Doktor Universitas Islam Madinah, Madinah, Saudi Arabia)

Sumber: muslim.or.id

,

SUDAHKAH ENGKAU MEMERSIAPKAN HARI ESOK?

Sudahkah Engkau Memersiapkan Hari Esok?

Sudahkah Engkau Memersiapkan Hari Esok?

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memerhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk Hari Esok (Akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hasyr: 18).

Sudahkah Engkau Memersiapkan Hari Esok?

Qatadah mengatakan bahwa bahwa Hari Kiamat itu dekat. Jadi hari esok yang dimaksud dalam ayat adalah Kiamat. (Tafsir Ath Thobari, 14: 65).

Ibnu Jarir Ath Thobari menafsirkan ayat di atas: “Lihatlah apa yang akan terjadi di Hari Kiamat kelak, dari amalan-amalan yang diperbuat manusia. Apakah amalan shalih yang menghiasi dirinya, ataukah amalan kejelekan yang berakibat jelek di Akhirat?” (Tafsir Ath Thobari, 14: 65).

Introspeksi Diri

Tentang ayat di atas, Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Haasibu anfusakum qobla an tuhaasabu (Artinya: Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab). Lihatlah amalan shalih apa yang telah kalian persiapkan sebagai bekal untuk Hari Akhirat dan menghadap Allah Rabb kalian.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 235).

Jadikan Akhirat Sebagai Tujuan

Syaikh As Sa’di rahimahullah berkata: “Allah Ta’ala memerintahkan kepada hamba-Nya yang beriman untuk memenuhi hal-hal yang dapat mewujudkan iman dan takwa, baik amalan yang dilakukan secara tersembunyi ataukah terang-terangan, dalam setiap keadaan. Hendaklah mereka memerhatikan perintah, syariat dan batasan-batasan Allah.

Hendaklah mereka perhatikan kebaikan dan keburukan yang mereka akan peroleh kelak. Hendaklah mereka memikirkan apa buah yang diperoleh dari amalan mereka kelak di Hari Kiamat. Apakah akan menuai hasil yang baik, ataukah malah akan membahayakan karena kejelekan yang dilakukan.

Jadi seseorang menjadikan Akhirat sebagai tujuan di hadapannya dan jadi tambatan hati, terus bersungguh-sungguh untuk menempuh jalan menuju Akhirat.

Bersungguh-sungguhlah dengan melakukan banyak amalan yang dapat mengantarkan pada Akhirat. Lalu bersihkanlah jalan tersebut dari berbagai duri dan rintangan.

Jika mereka pun yakin, Allah itu Maha Tahu terhadap apa yang mereka kerjakan, Allah Maha Tahu terhadap apa yang mereka sembunyikan. Allah tidak mungkin lalai dari memerhatikan mereka. Dari sini, semestinya kita semakin serius dan sungguh-sungguh dalam beramal.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 853).

Pelajaran penting yang bisa kita ambil adalah: Jjadikan Akhirat sebagai tujuan. Begitu pula jika kita diberi karunia materi dan rezeki yang melimpah, jadikanlah itu sebagaimana perantara menuju kebaikan dan bekal menuju alam Akhirat.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِىَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهَ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ

“Barang siapa yang niatnya untuk menggapai Akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya. Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai. Dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barang siapa yang niatnya hanya untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya. Dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya.” (HR. Tirmidzi no. 2465. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat penjelasan hadis ini di Tuhfatul Ahwadzi, 7: 213)

Semoga kita semakin memerhatikan amalan kita sebagai bekal di Akhirat kelak.

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

Referensi:

Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, terbitan Dar Ibnil Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H.

Tafsir Ath Thobari (Jami’ul Bayan ‘an Ta’wili Ayil Quran), Muhammad bin Jarir Ath Thobari, terbitan Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun 1423 H.

Taisir Al Karimir Rahman, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1423 H.

Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jami’ At Tirmidzi, terbitan Darus Salam, cetakan pertama, tahun 1432 H.


Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

https://muslim.or.id/22905-sudahkah-engkau-mempersiapkan-hari-esok.html

, ,

BISA JADI KAMU BENCI SESUATU TAPI ITU BAIK BAGIMU

Bisa Jadi Kamu Benci Sesuatu Tapi Itu Baik Bagimu

Bisa Jadi Kamu Benci Sesuatu Tapi Itu Baik Bagimu

Allah ta’ala berfirman:

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

Dalam ayat ini ada beberapa hikmah dan rahasia serta maslahat untuk seorang hamba. Karena sesungguhnya jika seorang hamba tahu bahwa sesuatu yang dibenci itu terkadang membawa sesuatu yang disukai, sebagaimana yang disukai terkadang membawa sesuatu yang dibenci, ia pun tidak akan merasa aman untuk tertimpa sesuatu yang mencelakakan menyertai sesuatu yang menyenangkan. Dan ia pun tidak akan putus asa untuk mendapatkan sesuatu yang menyenangkan menyertai sesuatu yang mencelakakan. Ia tidak tahu akibat suatu perkara, karena sesungguhnya Allah ta’ala mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh hamba. Dan ini menumbuhkan pada diri hamba beberapa hal:

  1. Bahwa tidak ada yang lebih bermanfaat bagi hamba daripada melakukan perintah Allah ta’ala, walaupun di awalnya terasa berat. Karena seluruh akibatnya adalah kebaikan dan menyenangkan, serta kenikmatan-kenikmatan dan kebahagiaan. Walaupun jiwanya benci, akan tetapi hal itu akan lebih baik dan bermanfaat. Demikian pula, tidak ada yang lebih mencelakakan dia daripada melakukan larangan, walaupun jiwanya cenderung dan condong kepadanya. Karena semua akibatnya adalah penderitaan, kesedihan, kejelekan, dan berbagai musibah.

Ciri khas orang yang berakal sehat, ia akan bersabar dengan penderitaan sesaat, yang akan berbuah kenikmatan yang besar dan kebaikan yang banyak. Dan ia akan menahan diri dari kenikmatan sesaat yang mengakibatkan kepedihan yang besar dan penderitaan yang berlarut-larut.

Adapun pandangan orang yang bodoh itu (dangkal), sehingga ia tidak akan melampaui permukaan dan tidak akan sampai kepada ujung akibatnya. Sementara orang yang berakal lagi cerdas akan senantiasa melihat kepada puncak akibat sesuatu yang berada di balik tirai permukaannya. Ia pun akan melihat apa yang di balik tirai tersebut berupa akibat-akibat yang baik ataupun yang jelek. Sehingga ia memandang suatu larangan itu bagai makanan lezat yang telah tercampur dengan racun yang mematikan. Setiap kali kelezatannya menggodanya untuk memakannya, maka racunnya menghalanginya (untuk memakannya). Ia juga memandang perintah-perintah Allah ta’ala bagai obat yang pahit rasanya, namun mengantarkan kepada kesembuhan dan kesehatan. Maka, setiap kali kebenciannya terhadap rasa (pahit)nya menghalanginya untuk mengonsumsinya, manfaatnya pun akan memerintahkannya untuk mengonsumsinya.

Akan tetapi, itu semua memerlukan ilmu yang lebih, yang dengannya ia akan mengetahui akibat dari sesuatu. Juga memerlukan kesabaran yang kuat, yang mengokohkan dirinya untuk memikul beban perjalanannya, demi mendapatkan apa yang dia harapkan di pengujung jalan. Kalau ia kehilangan ilmu yang yakin dan kesabaran, maka ia akan terhambat dari memerolehnya. Tetapi bila ilmu yakinnya dan kesabarannya kuat, maka ringan baginya segala beban yang ia pikul dalam rangka memeroleh kebaikan yang langgeng dan kenikmatan yang abadi.

  1. Di antara rahasia ayat ini, bahwa ayat ini menghendaki seorang hamba untuk menyerahkan urusan kepada Dzat yang mengetahui akibat segala perkara, serta ridha dengan apa yang Ia pilihkan dan takdirkan untuknya, karena dia mengharapkan dari-Nya akibat-akibat yang baik.
  1. Bahwa seorang hamba tidak boleh memiliki suatu pandangan yang mendahului keputusan Allah ta’ala, atau memilih sesuatu yang tidak Allah ta’ala pilih serta memohon-Nya sesuatu yang ia tidak mengetahuinya. Karena barangkali di situlah kecelakaan dan kebinasaannya, sementara ia tidak mengetahuinya. Sehingga janganlah ia memilih sesuatu mendahului pilihan-Nya. Bahkan semestinya ia memohon kepada-Nya pilihan-Nya yang baik untuk dirinya serta memohon-Nya agar menjadikan dirinya ridha dengan pilihan-Nya. Karena tidak ada yang lebih bermanfaat untuknya daripada hal ini.
  1. Bahwa bila seorang hamba menyerahkan urusan kepada Rabbnya serta ridha dengan apa yang Allah ta’ala pilihkan untuk dirinya, Allah ta’ala pun akan mengirimkan bantuan-Nya kepadanya untuk melakukan apa yang Allah ta’ala pilihkan, berupa kekuatan dan tekad serta kesabaran. Juga, Allah ta’ala akan palingkan darinya segala yang memalingkannya darinya, di mana hal itu menjadi penghalang pilihan hamba tersebut untuk dirinya. Allah ta’ala pun akan memerlihatkan kepadanya akibat-akibat baik pilihan-Nya untuk dirinya, yang ia tidak akan mampu mencapainya, walaupun sebagian dari apa yang dia lihat pada pilihannya untuk dirinya.
  1. Di antara hikmah ayat ini, bahwa ayat ini membuat lega hamba dari berbagai pikiran yang meletihkan pada berbagai macam pilihan. Juga melegakan kalbunya dari perhitungan-perhitungan dan rencana-rencananya, yang ia terus-menerus naik turun pada tebing-tebingnya. Namun demikian, ia pun tidak mampu keluar atau lepas dari apa yang Allah ta’ala telah takdirkan. Seandainya ia ridha dengan pilihan Allah ta’ala maka takdir akan menghampirinya dalam keadaan ia terpuji dan tersyukuri, serta terkasihi oleh Allah ta’ala. Bila tidak, maka takdir tetap akan berjalan padanya dalam keadaan ia tercela dan tidak mendapatkan kasih sayang-Nya, karena ia bersama pilihannya sendiri. Dan ketika seorang hamba tepat dalam menyerahkan urusan kepada Allah ta’ala dan ridhanya kepada-Nya, ia akan diapit oleh kelembutan-Nya dan kasih sayang-Nya dalam menjalani takdir ini. Sehingga ia berada di antara kelembutan-Nya dan kasih sayang-Nya. Kasih sayang-Nya melindunginya dari apa yang ia khawatirkan, dan kelembutan-Nya membuatnya merasa ringan dalam menjalani takdir-Nya.

Bila takdir itu terlaksana pada seorang hamba, maka di antara sebab kuatnya tekanan takdir itu pada dirinya adalah usahanya untuk menolaknya. Sehingga bila demikian, tiada yang lebih bermanfaat baginya daripada berserah diri dan melemparkan dirinya di hadapan takdir dalam keadaan terkapar, seolah sebuah mayat. Dan sesungguhnya binatang buas itu tidak akan rela memakan mayat.

 

(Diterjemahkan oleh Qomar ZA dari buku Al-Fawa’id hal. 153-155)

 

(Ibnul Qayyim)

 

http://asysyariah.com/bisa-jadi-kamu-benci-sesuatu-tapi-itu-baik-bagimu/

PERBAIKILAH HUBUNGANMU DENGAN ALLAH

Perbaikilah Hubunganmu Dengan Allah

Imam Syafi’i -rahimahullah- berkata:
“Sungguh engkau tidak akan mampu menjadikan SEMUA manusia RELA kepadamu. Maka, perbaikilah hubunganmu dengan ALLAH azza wajalla…

Lalu jika engkau telah memperbaiki hubunganmu dengan Allah, maka JANGAN kau PEDULIKAN manusia.”
(Kitab Zuhud Kabir, Karya Imam Baihaqi, hal: 105)

Intinya: Kita hidup adalah untuk Allah. Sehingga yang terpenting adalah pandangan Allah terhadap kita… Jika ini bisa tercapai, kita takkan lagi peduli dengan penilaian manusia… Hasilnya adalah puncak dari KEIKHLASAN dan KETEGARAN !

Semoga bermanfaat.

Ditulis oleh: Ustadz Musyaffa’ ad Dariny via Muslim.or.id

Read more

JANGAN MERASA KEREN, JIKA MASIH BODOH DALAM ILMU AGAMA

Bodoh Dalam Ilmu Agama

بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين, أما بعد:
Kawan pembaca, semoga Anda selalu dilindungi Allah Ta’ala…
Keren dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya adalah Gagah, Perlente.

Terkadang terlihat seorang merasa lebih keren dengan pakaiannya yang modis. Terkadang terlihat seorang merasa lebih gagah  dengan alat tranportasi yang ia tunggangi. Padahal yang pantas merasa keren, tampak gagah dan ayu adalah seorang yang pintar ilmu agama. Di bawah ini tulisan mengajak untuk mendalami ilmu agama, menghilangkan kebodohan terhadap ilmu agama, jangan merasa perlente padahal ilmu agama masih minim, wallahul musta’an.

Kebodohan Dicela Oleh Allah Ta’ala Dan Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

{ وَإِنْ كَانَ كَبُرَ عَلَيْكَ إِعْرَاضُهُمْ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَبْتَغِيَ نَفَقًا فِي الْأَرْضِ أَوْ سُلَّمًا فِي السَّمَاءِ فَتَأْتِيَهُمْ بِآيَةٍ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَمَعَهُمْ عَلَى الْهُدَى فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْجَاهِلِينَ} [الأنعام: 35]
Artinya: ” Dan jika perpalingan mereka (darimu) terasa amat berat bagimu, maka jika kamu dapat membuat lobang di bumi atau tangga ke langit, lalu kamu dapat mendatangkan mukjizat kepada mereka, (maka buatlah).  Kalau Allah menghendaki tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk. Sebab itu janganlah kamu sekali-kali termasuk orang-orang yang jahil.” [QS. Al An’am: 35].
{قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلَا تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ} [هود: 46]
Artinya: ” Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan). Sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakikat) nya. Sesungguhnya Aku memeringatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.” [QS. Hud: 46].

Para Nabi ‘Alaihimussalam Berlindung Dari Kebodohan

{ وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةً قَالُوا أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ} [البقرة: 67]
Artinya: ” Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina”. Mereka berkata: “Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?” Musa menjawab: “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil”. [QS. Al Baqarah: 67].

{ قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُنْ مِنَ الْجَاهِلِينَ} [يوسف: 33]
Artinya: ” Yusuf berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku.  Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.” QS. Yusuf:33.

Tidak Akan Pernah Sama Orang Bodoh Dengan Orang Berilmu

{قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الأَلْبَابِ} [الزُّمر:9].
Artinya: “Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?.” [QS. Az Zumar:9].
Berkata As Sa’dy rahimahullah:

{ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ } ربهم ويعلمون دينه الشرعي ودينه الجزائي، وما له في ذلك من الأسرار والحكم { وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ } شيئا من ذلك؟ لا يستوي هؤلاء ولا هؤلاء، كما لا يستوي الليل والنهار، والضياء والظلام، والماء والنار.
“Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mnegetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Maksudnya adalah Rabb, mereka dan orang-orang yang mengetahui agama yang berupa syariat dan hukum, dan apa dimilikinya berupa rahasia dan hikmah-hikmah (yang tersembunyi), “ dengan orang-orang yang tidak mengetahui”, yaitu sesuatu pun dari hal itu?! Tidak akan sama mereka dengan mereka, sebagaimana tidak sama malam dan siang, cahaya dan kegelapan serta air dan api.” Lihat kitab Taisir Al Karim Ar Rahman di dalam ayat ini.

Oleh sebab ini Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata:
«من علم ليس كمن لم يعلم»

“Barang siapa yang berilmu, tidak seperti seorang yang belum mengilmui.” Lihat kitab Jami’ Bayan Al Ilmu wa Fadhlih, 1/192.
Kebodohan Ilmu Agama Adalah Tanda Buruk Yang Menujukkan Semakin Dekatnya Hari Kiamat
عن ابن مسعود وَأَبِي مُوسَى رضي الله عنهما قَالا: قال النبي صلى الله عليه وسلم:إِنَّ بين يَدَيْ السَّاعَةِ لأيَّامًا يَنْزِلُ فيها الْجَهْلُ وَيُرْفَعُ فيها الْعِلْمُ وَيَكْثُرُ فيها الْهَرْجُ وَالْهَرْجُ الْقَتْلُ).

Artinya: “Abdullah bin Mas’ud dan Abu Musa Al Asy’ary radhiyallahu ‘anhuma, keduanya berkata: “Nabi Muhammad shallallahu  ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya di hadapan kiamat benar-benar ada hari-hari yang akan turun di dalamnya kebodohan dan diangkat di dalamnya ilmu, dan akan banyak terjadi di dalamnya al Harju (pembunuhan). [HR. Bukhari].

عن أَنَسِ رضي الله عنه قال: قال رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: إِنَّ من أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ وَيَظْهَرَ الزِّنَا)
Artinya: “Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya dari tanda kiamat adalah akan diangkatnya ilmu, ditetapkannya kebodohan, diminumnya khamr dan terlihatnya (terbiasa) perzinahan.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Kebodohan Mendatangkan Kesesatan Dan Menyesatkan

عَنْ عَبْد اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ النَّاسِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يَتْرُكْ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا ».

Artinya: “Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu seketika dari manusia, akan tetapi mencabut ilmu dengan dicabutnya (diwafatkannya) para alim, sehingga tidak meninggalkan seorang alim pun. Akhirnya orang-orang menjadikan pemimpin-pemimpin orang-orang bodoh. Lalu mereka ditanya dan mereka memberi fatwa tanpa ilmu. Maka mereka telah sesat dan menyesatkan.”  HR. Muslim.

Orang Bodoh Ilmu Tentang Dasar-Dasar Agama Itu Ndeso

Berkata As Suyuthi rahimahullah:

«كل من جهل تحريم شيء ممّا يشترك فيه غالب النّاس لم يقبل إلّا أن يكون قريب عهد بالإسلام، أو نشأ ببادية يخفى عليه مثل ذلك»)

“Setiap orang yang bodoh tentang pengharaman sesuatu dari perkara yang kebanyakan manusia bersepakat di dalamnya, maka tidak akan diterima darinya (kebodohan ini), kecuali ia baru masuk Islam atau seorang yang hidup di daerah pedalaman, tersembunyi baginya perkata tersebut.” Lihat kitab Al Asybah wa An Nazhair, hal 200.

Bodoh Tanda Kehinaan Dan Perendahan Dari Allah Ta’ala

عَنِ مُعَاوِيَةَ بْنَ أَبِى سُفْيَانَ وَهُوَ يَخْطُبُ يَقُولُ إِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ وَإِنَّمَا أَنَا قَاسِمٌ وَيُعْطِى اللَّهُ ».

Artinya: “Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhuma, ketika berhothbah berkata: “Sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda: “Barang siapa yang diinginkan oelh Allah kebaikan, niscaya Allah memahamkannya dalam urusan agama. Sesungguhnya aku hanyalah pembagi, Yang Memberi adalah Allah.” [HR. Bukhari dan Muslim].

{ يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ} [المجادلة: 11]

Artinya: “niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [QS. Al Mujadilah:11].

Berkata Al Hasan Al Bashry rahimahullah:

“إِذَا اِسْتَرْذَلَ اَللَّهُ عَبْدًا زَهَّدَهُ فِي اَلْعِلْمِ”.

“Jika Allah menghendaki untuk menghinakan seorang hamba, niscaya Allah akan menjauhkannya di dalam ilmu.”

Di dalam sajak dikatakan:

احْفَظْ الْعِلْمَ مَا اسْتَطَعْتَ … فإِنَّكَ إِنْ كُنْتَ خَامِلاً رَفَعَكَ
وَاتْرُكِ الْجَهْلَ مَا اسْتَطَعْتَ … فَإنَّكَ إِنْ كُنْتَ عَالِيًا وَضَعَكَ

“Hafalkanlah ilmu semampumu … Karena sesungguhnya, walau kamu melarat niscaya ia akan mengangkatmu. Dan tinggalkanlah kebodohan semampumu … Karena sesungguhnya, walau kamu berkedudukan di atas, niscaya  ia akan merendahkanmu”

 Orang Bodoh Laksana Orang Mati

وَفي الجَهلِ قَبلَ المَوتِ مَوتٌ لأَهلِهِ … فَأَجسامُهُم قَبلَ القُبورِ قُبورُ
وَإِنَّ اِمرَءاً لَم يُحيى بِالعِلمِ مَيِّتٌ … فَلَيسَ لَهُ حَتّى النَشورِ نُشورُ
“Dan di dalam kebodohan sebelum kematian datang adalah kematian bagi orang bodoh … Badan-badan mereka sebelum dikubur adalah kuburan”.

“Dan sesungguhnya seseorang yang tidak menghidupkan hidupnya dengan ilmu adalah seorang mayat … Tidak ada baginya (bagiannya) sampai dibangkitnya manusia dari kuburnya”.[ Lihat kitab Adab Ad Dunya wa Ad Din, hal 51].

COBA BEDAKAN ANTARA ILMU DAN KEBODOHAN, ANTARA SEORANG YANG BERLIMU DENGAN SEORANG YANG BODOH
قَالَ: ” أَخَذَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ بِيَدِي فَأَخْرَجَنِي إِلَى نَاحِيَةِ الْجَبَّانِ، فَلَمَّا أَصْحَرْنَا جَلَسَ ثُمَّ تَنَفَّسَ ثُمَّ قَالَ: ” يَا كُمَيْلُ بْنَ زِيَادٍ الْقُلُوبُ أَوْعِيَةٌ فَخَيْرُهَا أَوْعَاهَا، وَاحْفَظْ مَا أَقُولُ لَكَ: النَّاسُ ثَلَاثَةٌ: فَعَالِمٌ رَبَّانِيٌّ، وَمُتَعَلِّمٌ عَلَى سَبِيلِ نَجَاةٍ، وَهَمَجٌ رَعَاعٌ أَتْبَاعُ كُلِّ نَاعِقٍ، يَمِيلُونَ مَعَ كُلِّ رِيحٍ، لَمْ يَسْتَضِيئُوا بِنُورِ الْعِلْمِ، وَلَمْ يَلْجَئُوا إِلَى رُكْنٍ وَثِيقٍ. الْعِلْمُ خَيْرٌ مِنَ الْمَالِ، الْعِلْمُ يَحْرُسُكَ، وَأَنْتَ تَحْرُسُ الْمَالَ، الْعِلْمُ يَزْكُو عَلَى الْعَمَلِ، وَالْمَالُ تُنْقِصُهُ النَّفَقَةُ، وَمَحَبَّةُ الْعَالِمِ دَيْنٌ يُدَانُ بِهَا، الْعِلْمُ يُكْسِبُ الْعَالِمَ الطَّاعَةَ فِي حَيَاتِهِ، وَجَمِيلَ الْأُحْدُوثَةِ بَعْدَ مَوْتِهِ، وَصَنِيعَةُ الْمَالِ تَزُولُ بِزَوَالِهِ. مَاتَ خُزَّانُ الْأَمْوَالِ وَهُمْ أَحْيَاءٌ، وَالْعُلَمَاءُ بَاقُونَ مَا بَقِيَ الدَّهْرُ، أَعْيَانُهُمْ مَفْقُودَةٌ، وَأَمْثَالُهُمْ فِي الْقُلُوبِ مَوْجُودَةٌ… ”
Artinya: “Berkata Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu kepada Kumail bin Ziyad (seorang tabi’ie) rahimahullah: “Wahai Kumail bin Ziyad, hati itu bagaikan wadah. Maka sebaik-baik hati adalah yang paling dijaga, dan hafalkanlah apa yang aku ucapkan untukmu. Manusia itu ada tiga jenis:
1. Seorang yang berilmu yang bersifat Rabbany
2. Seorang yang belajar yang meniti jalan keselamatan
3. Seorang yang tidak teratur bodoh, mengikuti setiap orang yang menuntunnya. Ia miring bersamaan dengan setiap hembusan angin. Ia tidak mengambil cahaya dengan cahaya ilmu, tidak bersandar kepada pondasi yang kuat.

Ilmu Lebih Baik Dari Harta:
1. Ilmu yang akan menjagamu, sedangkan kamu yang akan menjaga harta.
2. Ilmu akan menyucikan jika diamalkan. Sedangkan harta akan berkurang dengan dinafkahkan.
3. Mencintai ilmu adalah agama yang dianut.
4. Ilmu menghasilkan ketaatan orang mengilmuinya di dalam kahidupannya.
5. Ilmu menghasilkan kenangan yang baik setelah kematiannya. Sedangkan pembuat harta akan hilang.
6. Para penyimpan harta dinyatakan mati sedangkan mereka masih hidup. Adapun para ulama (orang-orang yang berilmu) akan selalu hidup (/dikenang) selama masih ada dunia. Jasad mereka hilang, tetapi keberadaan mereka di dalam hati-hati (manusia) selalu ada…” [Lihat kitab Al faqih Wa Al Mutafaqqih, no. 177].
Kebodohan Adalah Penyakit Mematikan

Ibnul Qayyim (w: 751H) rahimahullah berkata:

والجهل داء قاتل وشفاؤه*** امران في التركيب متفقان
نص من القرآن أو من سنة*** وطبيب ذاك العالم الرباني

“Dan kebodohan itu adalah penyakit yang mematikan. Obatnya *** adalah dua perkara yang saling bergandengan” (yaitu) nash dari Al Quran atau dari As Sunnah *** Dan dokternya adalah seorang alim yang Rabbani” [Lihat Al Qashidah An Nuniyyah Al Kafiyah Asy Syafiya, karya Imam Ibnu Qayyimil Jauziyyah Muhammad bin Abi Bakr rahimahullah].
Kawan pembaca seiman…

Oleh sebab itu, OBATILAH DENGAN MENUNTUT ILMU DAN JANGAN BOSAN MENUNTUT ILMU
Berkata Sa’id bin Jubair (w: 95H) rahimahullah:
لا يزال الرجل عالماً ما تعلم فإذا ترك التعلم وظن أنه قد استغنى واكتفى بما عنده فهو أجهل ما يكون.

Artinya: “Seseorang masih saja disebut sebagai orang yang berilmu selama ia belajar. Jika ia meninggalkan belajar dan mengira ia tidak membutuhkan dan telah mencukupkan dengan apa yang ia miliki, maka ia adalah orang yang paling bodoh.” [Lihat kitab Adabul ‘alim wal muta’alim].

Dan Orang Bodoh Adalah Orang Yang Berat Dalam Menuntut Ilmu

وَقَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – : لَا يُثَبِّطُ عَنْ طَلَبِ الْعِلْمِ إلَّا جَاهِلٌ .

“Tidak ada seorang yang berat dari menuntut ilmu kecuali orang yang bodoh.” [Lihat kitab Ghadza Al Albab fi Syarh Manzhumat Al Adab, 2/517].
Read more