WAFATNYA RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
WAFATNYA RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM
 
Rasulullah ﷺ kembali dari Haji Wada setelah Allah ﷻ menurunkan firman-Nya:
 
إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ. وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا. فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا.
 
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” [QS:An-Nashr Ayat: 1-3]
 
Setelah itu Rasulullah ﷺ mulai mengucapkan kalimat dan melakukan sesuatu yang menyiratkan perpisahan. Beliau ﷺ bersabda pada Haji Wada:
 
لتأخذوا عني مناسككم لعلي لا ألقاكم بعد عامي هذا
 
“Pelajarilah dariku tata cara haji kalian. Bisa jadi aku tidak berjumpa lagi dengan kalian setelah tahun ini.” [HR. al-Bukhari, 4430]
 
Kemudian di Madinah, beliau ﷺ berziarah ke makam Baqi’, mendoakan keluarganya. Juga menziarahi dan mendoakan syuhada Perang Uhud. Beliau juga berkhotbah di hadapan para sahabatnya, berucap pesan seorang yang hendak wafat kepada yang hidup.
 
Pada akhir bulan Shafar tahun 11 H, Nabi ﷺ mulai mengeluhkan sakit kepala. Beliau ﷺ merasakan sakit yang berat. Sepanjang hari-hari sakitnya beliau ﷺ banyak berwasiat, di antaranya:
 
Pertama: Beliau ﷺ mewasiatkan agar orang-orang musyrik dikeluarkan dari Jazirah Arab [HR. al-Bukhari, Fathul Bari, 8/132 No. 4431]
 
Kedua: Berpesan untuk berpegang teguh dengan Alquran.
 
Ketiga: Pasukan Usamah bin Zaid hendaknya tetap diberangkatkan memerangi Romawi.
 
Keempat: Berwasiat agar berbuat baik kepada orang-orang Anshar.
 
Kelima: Berwasiat agar menjaga shalat dan berbuat baik kepada para budak.
 
Beliau ﷺ mengecam dan melaknat orang-orang Yahudi yang menjadikan kuburan para nabi sebagai masjid. Lalu beliau ﷺ melarang kubur beliau ﷺ dijadikan berhala yang disembah.
 
Di antara pesan beliau ﷺ adalah agar orang-orang Yahudi dikeluarkan dari Jazirah Arab. Sebagaimana termaktub dalam Musnad Imam Ahmad, 1/195.
 
Beliau ﷺ berpesan kepada umatnya tentang dunia. Janganlah berlomba-lomba mengejar dunia, agar dunia tidak membuat umatnya binasa, sebagaiman umat-umat sebelumnya binasa karena dunia.
 
Dalam keadaan sakit berat, beliau ﷺ tetap menjaga adab terhadap istri-istrinya, dan adil terhadap mereka. Nabi ﷺ meminta izin pada istri-istrinya untuk dirawat di rumah Aisyah. Mereka pun mengizinkannya.
 
Karena sakit yang kian terasa berat, Nabi ﷺ memerintahkan Abu Bakar untuk mengimami masyarakat. Abu Bakar pun menjadi imam shalat selama beberapa hari di masa hidup Rasulullah ﷺ.
 
Sehari sebelum wafat, beliau ﷺ bersedekah beberapa Dinar, lalu bersabda:
 
لا نورث، ما تركناه صدقة
 
“Kami (para nabi) tidak mewariskan. Apa yang kami tinggalkan menjadi sedekah.” [HR. al-Bukhari dalam Fathul Bari, 12/8 No. 6730]
 
Pada Senin, Rabiul Awal tahun 11 H, Nabi ﷺ wafat. Hari itu adalah waktu Dhuha yang penuh kesedihan. Wafatnya manusia Sayyid anaknya Adam. Bumi kehilangan orang paling mulia yang pernah menginjakkan kaki di atasnya.
 
Aisyah bercerita: “Ketika kepala beliau ﷺ terbaring tidur di atas pahaku, beliau ﷺ pingsan. Kemudian (saat tersadar) mengarahkan pandangannya ke atas, seraya berucap, ‘Allahumma ar-rafiq al-a’la’.” [HR. al-Bukhari dalam Fathul Bari, 8/150 No. 4463]
 
Beliau ﷺ memilih perjumpaan dengan Allah ﷻ di Akhirat. Beliau ﷺ wafat setelah menyempurnakan risalah dan menyampaikan amanah.
 
Berita di pagi duka itu menyebar di antara para sahabat. Dunia terasa gelap bagi mereka. Mereka bersedih karena berpisah dengan al-Kholil al-Musthafa. Hati-hati mereka bergoncang, tak percaya bahwa kekasih mereka telah tiada, hingga di antara mereka menyanggahnya. Umar angkat bicara, “Rasulullah ﷺ tidak wafat. Beliau ﷺ tidak akan pergi hingga Allah memerangi orang-orang munafik.” [Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, 8/146]
 
Abu Bakar hadir, “Duduklah Umar”, perintah Abu Bakar pada Umar. Namun Umar menolak duduk. Orang-orang mulai mengalihkan diri dari Umar menuju Abu Bakar. Kata Abu Bakar:
“Amma ba’du… Siapa di antara kalian yang menyembah Muhammad ﷺ, maka Muhammad telah wafat. Siapa yang menyembah Allah, maka Allah Maha Hidup dan tidak akan wafat. Kemudian ia membacakan firman Allah:
 
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا ۗ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ
 
“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikit pun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” [QS:Ali Imran | Ayat: 144]
 
Mendengar ayat yang dibacakan Abu Bakar, orang-orang seakan merasakan ayat itu baru turun hari itu. Mereka begitu larut dalam kesedihan. Mereka merasakan kosong. Bagaimana tidak, mereka ditinggal orang yang paling mereka cintai. Orang yang mereka rindu untuk berjumpa setiap hari. Orang yang lebih mereka cintai dari ayah, ibu, anak, dan semua manusia. Mereka lupa akan ayat itu. Dan mereka diingatkan oleh Abu Bakar, seorang yang paling kuat hatinya di antara mereka.
 
Penutup
 
Para ulama sepakat bahwa Nabi ﷺ wafat pada hari Senin 11 H. Namun berbeda pendapat tentang tanggal wafatnya Nabi ﷺ. Mayoritasnya berpendapat 12 Rabiul Awal. Sebagian menyatakan, 12 Rabiul Awal tidak tepat, karena Haji Wada terjadi pada Jumat. Melihat urut hari sejak itu, maka 12 Rabiul Awal tidak tepat jika dikatakan Senin.
 
Perbedaan pendapat ulama juga terjadi pada tanggal kelahiran beliau ﷺ. Bahkan perbedaannya lebih banyak: antara 2 Rabiul Awal, atau 8, 10, 12, 17 Rabiul Awal, dan 8 hari sebelum habisnya Rabiul Awal. Berdasarkan penelitian ulama Ahli Sejarah Muhammad, Sulaiman Al Mansurfury dan Ahli Astronomi Mahmud Basya disimpulkan, bahwa Senin pagi yang bertepatan dengan permulaan tahun dari peristiwa Penyerangan Pasukan Gajah dan 40 tahun setelah kekuasaan Kisra Anusyirwan atau bertepatan dengan 20 atau 22 april tahun 571, Senin tersebut bertepatan dengan 9 Rabiul Awal.
Allahu a’lam.
 
Sumber: Az-Zaid, Zaid bin Abdulkarim. 1424. Fiqh as-Sirah. Riyadh: Dar at-Tadmuriyah.
 
Oleh: Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Sumber: http://kisahmuslim.com/5347-wafatnya-rasulullah-%EF%B7%BA.html
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#wafatnya, #detikdetikmenjelang, #Nabi, #Rasulullah, #meninggalnya #tatacarahaji

KISAH MENGHARUKAN ANTARA IMAM BESAR AHLUSSUNNAH DENGAN SEORANG PENJAHAT BESAR

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
KISAH MENGHARUKAN ANTARA IMAM BESAR AHLUSSUNNAH DENGAN SEORANG PENJAHAT BESAR
 
Abdullah bin Ahmad bin Hambal berkata:
“Seringkali dahulu aku mendengar ayahku (al-Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah) berkata:
Ya Allah, ampunilah Abul Haitsam. Ya Allah, rahmati Abul Haitsam.
Maka aku bertanya padanya: “Wahai ayahanda, siapakah Abul Haitsam?”
Beliau menjawab: “Seseorang dari kalangan Arab (Badui) yang wajahnya sama sekali tak pernah kulihat. Suatu malam ketika aku selesai dicambuk dahulu (karena fitnah Alquran adalah makhluk-pent), mereka (penguasa) menahanku di penjara bawah tanah yang gelap.
Lalu seseorang mencolekku dan bertanya: “Apakah engkau Ahmad bin Hambal?”
Al-Imam Ahmad: “Benar.”
Dia berkata: “Apakah engkau mengenalku?”
Al-Imam Ahmad: “Tidak.”
Dia berkata kembali: “Aku adalah Abul Haitsam, sang perampok, peminum khamr, dan tukang begal. Tertulis dalam catatan Amirul Mukminin, bahwasanya aku telah dicambuk sebanyak 18 ribu kali cambukan yang bermacam macam. Dan sungguh aku telah mampu bersabar menanggung semua (siksaan) ini di atas jalan setan. Maka bersabarlah engkau wahai Ahmad, (karena engkau disiksa) di jalan Allah!
Maka ketika mereka mengikatku dan memulai cambukannya, setiap kali cambuk mendarat di punggungku, aku teringat ucapan Abul Haitsam dan aku berkata dalam hati: “Bersabarlah, engkau di jalan Allah wahai Ahmad!” [Manaqib al-Imam Ahmad bin Hambal hal 450-45]
 
Semoga Allah mengampuni dan merahmati Abul Haitsam, si pemberi semangat sang Imam untuk tetap kokoh di atas kebenaran, walaupun dirinya sendiri bergelimang kejelekan.
 
Penerjemah: Abu Abdillah Rahmat غفر الله له
Muraja’ah: Al-Ustadz Musa bin Hadi hafizhahullah
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#kisahmuslim, #ImamAhmad, #penjahatkambuhan, #cambuk, #dijalanAllah, #bersabar, #sabar
,

MATI SUUL KHATIMAH (AKHIR HIDUP YANG BURUK)

MATI-SUUL-KHATIMAH-(AKHIR-HIDUP-YANG-BURUK)
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
MATI SUUL KHATIMAH (AKHIR HIDUP YANG BURUK)
 
Sakaratul Maut Rumayso Sakaratul Maut Yang Paling Ringan Rumaysho Su Uul Khatimah Adalah Ulama Suul Khotimah Tanda Tanda Kematian Rumaysho
 
Setiap orang pasti menginginkan berada pada akhir kehidupan yang baik (Husnul Khatimah), BUKAN pada yang buruk (Suul Khatimah). Namun sudah sering kita saksikan ada beberapa orang yang mati dengan sangat tragis, sangat mengerikan, yang mungkin kita belum pernah melihat sebelumnya. Suul Khatimah inilah yang patut kita waspadai dan berusaha untuk tidak berada di ujung kehidupan semacam itu.
 
Perlu kiranya kita mengetahui, bahwa Suul Khatimah (mati dalam keadaan buruk) memiliki sebab yang seharusnya setiap orang menjauhinya. Sebab utama adalah karena berpaling dari agama Allah. Hal ini dapat berupa berpaling dari istiqamah, lemahnya iman, rusaknya i’tiqad (keyakinan), dan terus menerus dalam maksiat.
 
Beberapa Kisah Akhir Hidup yang Begitu Jelek
 
Ada suatu kisah yang menunjukkan seseorang yang terlalu sibuk dengan dunia, sehingga lupa akan Akhirat. Lihatlah bagaimanakah akhir hidupnya.
 
Ia seorang pedagang yang biasa menjual kain. Tatkala sakratul maut ia bukan menyebut kalimat yang mulia “Laa ilaaha illallah.” Nmun yang ia sebut adalah: “Ini kain baru, ini kain baru. Ini pas untukmu. Kain ini amat murah.” Akhirnya ia pun mati setelah mengucapkan kalimat semacam itu. Padahal kalimat terbaik yang diucapkan saat sakratul maut adalah kalimat Laa ilaaha illallah. Rasulullah ﷺ bersabda:
 
مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ
 
“Barang siapa yang akhir perkataannya adalah ‘Lailaha illallah’, maka dia akan masuk Surga.” [HR. Abu Daud. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih no. 1621]
 
Ada juga orang yang kesehariannya sibuk bermain catur. Ketika sakratul maut, ia diperintahkan untuk menyebut kalimat “Laa ilaaha illallah”. Namun apa yang ia katakan kala maut menjemput? Ia malah mengucapkan: “Skak!” Lalu ia pun menghembuskan nafasnya yang terakhir. Mati bukan menyebut kalimat tahlil, namun menyebut kata “Skak”. Wallahul musta’an.
 
Ada pula orang yang kesehariannya biasa menegak arak (khomr). Ketika maut menjemput, ia ingin ditalqinkan (dituntun baca kalimat tahlil, Laa ilaaha illallah). Namun apa yang ia ucapkan? Ia malah berkata saat sakratul maut: “Mari tuangkan arak untukku, minumlah!” Lantas ia pun mati dalam keadaan seperti itu. Laa haula quwwata illa billah ‘aliyyil ‘azhim. [Kisah-kisah ini diperoleh dari risalah mungil yang berjudul ‘Alamaatu Husnul Khatimah wa Su’uha, terbitan Darul Qosim]
 
Pengaruh Teman Bergaul yang Buruk Semasa Hidup
 
Ulama tabi’in, Mujahid rahimahullah berkata: “Barang siapa mati, maka akan datang di hadapan dirinya orang yang satu majelis (setipe) dengannya. Jika ia biasa duduk di majelis orang yang selalu menghabiskan waktu dalam kesia-siaan, maka itulah yang akan menjadi teman dia tatkala sakratul maut. Sebaliknya jika di kehidupannya ia selalu duduk bersama Ahli Zikir (yang senantiasa mengingat Allah), maka itulah yang menjadi teman yang akan menemaninya saat sakratul maut.” [Tadzkiroh, Al Qurthubi, Asy Syamilah, 1/38]
 
Bukti dari perkataan Mujahid di atas terdapat pada kisah Abu Tholib berikut ini:
 
لَمَّا حَضَرَتْ أَبَا طَالِبٍ الْوَفَاةُ جَاءَهُ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَوَجَدَ عِنْدَهُ أَبَا جَهْلِ بْنَ هِشَامٍ ، وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِى أُمَيَّةَ بْنِ الْمُغِيرَةِ ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – لأَبِى طَالِبٍ « يَا عَمِّ ، قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، كَلِمَةً أَشْهَدُ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ » . فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِى أُمَيَّةَ يَا أَبَا طَالِبٍ ، أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَلَمْ يَزَلْ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَعْرِضُهَا عَلَيْهِ ، وَيَعُودَانِ بِتِلْكَ الْمَقَالَةِ ، حَتَّى قَالَ أَبُو طَالِبٍ آخِرَ مَا كَلَّمَهُمْ هُوَ عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ ، وَأَبَى أَنْ يَقُولَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ
 
“Ketika menjelang wafatnya Abu Tholib, Rasulullah ﷺ mendatanginya dan ternyata sudah ada Abu Jahal bin Hisyam dan ‘Abdullah bin Abu Umayyah bin Al Mughirah. Maka Rasulullah ﷺ berkata kepada Abu Tholib: “Wahai pamanku, katakanlah Laa ilaaha illallah, suatu kalimat yang dengannya aku akan menjadi saksi atasmu di sisi Allah”. Maka berkata Abu Jahal dan ‘Abdullah bin Abu Umayyah: “Wahai Abu Thalib, apakah kamu akan meninggalkan agama ‘Abdul Muthalib?”. Rasulullah ﷺ terus menawarkan Kalimat Syahadat kepada Abu Tholib, dan bersamaan itu pula kedua orang itu mengulang pertanyaannya, yang berujung Abu Tholib pada akhir ucapannya tetap mengikuti agama ‘Abdul Muthalib, dan enggan untuk mengucapkan Laa ilaaha illallah.” [HR. Bukhari no. 1360 dan Muslim no. 24]
 
Akibat Maksiat dan Godaan Setan
 
Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Sesungguhnya dosa, maksiat, dan syahwat adalah sebab yang dapat menggelincirkan manusia saat kematiaanya. Ditambah lagi dengan godaan setan. Jika maksiat dan godaan setan terkumpul, ditambah lagi dengan lemahnya iman, maka sungguh amat mudah berada dalam Suul Khatimah (akhir hidup yang jelek).” [Al Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, 9/184 (sesuai standar)]
 
Agar Selamat dari Suul Khatimah
 
Ibnu Katsir rahimahullah kembali melanjutkan penjelasannya:
 
“Suul Khatimah (akhir hidup yang jelek), semoga Allah melindungi kita darinya, tidaklah terjadi pada orang yang secara lahir dan batin itu baik dalam bermuamalah dengan Allah. Begitu pula tidak akan terjadi pada orang yang benar perkataan dan perbuatannya. Keadaan semacam ini tidak pernah didengar, bahwa orangnya mati dalam keadaan Suul Khatimah sebagaimana kata ‘Abdul Haq Al Isybili. Suul Khatimah akan mudah terjadi pada orang yang rusak batinnya dilihat dari i’tiqod (keyakinannya) dan rusak lahiriahnya yaitu pada amalnnya. Suul Khatimah lebih mudah terjadi pada orang yang terus menerus dalam dosa besar dan lebih menyukai maksiat. Akhirnya ia terus menerus dalam keadaan berlumuran dosa semacam tadi, sampai maut menjemput sebelum ia bertobat.” [Al Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, 9/184 (sesuai standar)]
 
Jika telah mengetahui hal ini dan tidak ingin kehidupan kita berakhir buruk sebagaimana kisah-kisah yang telah diutarakan di atas, maka sudah sepantasnya kita menyegerakan tobat terhadap semua dosa yang kita perbuat, baik itu dosa kesyirikan, bid’ah, dosa besar dan maksiat. Begitu pula segeralah kita kembali taat pada Allah dengan mengawali segalanya dengan ilmu. Kita tidak tahu kapan nyawa kita diambil. Entah besok, entah lusa, entah minggu depan, boleh jadi lebih cepat dari yang kita kira. Yang tua dan muda sama saja, tidak ada yang tahu bahwa ia akan berumur panjang. Selagi masih diberi kesempatan, selagi masih diberi nafas, teruslah bertobat dan kembali taat pada-Nya. Lakukan kewajiban, sempurnakan dengan amalan sunnah. Jauhi maksiat dan berbagai hal yang makruh. Jangan sia-siakan waktu, teruslah isi dengan kebaikan.
 
Semoga Allah mematikan kita dalam keadaan Husnul Khatimah dan menjauhkan kita dari akhir hidup yang jelek, Suul Khatimah. Amin Yaa Mujibas Saailin.
 
 
 
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
[www.rumaysho.com]
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#su’ul, #khotimah, #khatimah, #chatimah, #chotimah, #suul, #mati, #meninggaldunia, #akhirhidup, #akhirayat, #husnul, #khusnul #chusnul #husnulkhatimah, #husnulkhotimah #akhirhidupyangjelek, #akhirhidupyangburuk, #akhirhidupyangbaik, #akhirhidupyangindah #suul khotimah, #suulkhatimah

POTRET SEORANG MUSLIM KETIKA KEPEPET

POTRET SEORANG MUSLIM KETIKA KEPEPET
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
POTRET SEORANG MUSLIM KETIKA KEPEPET
 
Disebutkan dalam sebuah kisah yang sahih, bahwa Urwah bin Zubair bin Awwam, salah seorang ulama tabi’in senior, cucu dari Abu Bakr As-Siddiq, pernah melakukan perjalanan untuk menemui Khalifah Bani Umayah, Abdul Malik bin Marwan. Pada waktu itu kaki Urwah sedang sakit, dan ada binatang kecil yang menggelayuti bagian luka di kakinya.
 
Ketika Urwah sampai di kediaman Abdul Malik bin Marwan, sang Khalilfah mendiskusikan masalah kaki Urwah yang sakit. Singkat cerita, Tabib kerajaan pun memeriksa penyakit yang dialami Urwah. Beliau mengusulkan, “Tidak ada jalan keluar selain kami harus memotong kaki Anda.” Urwah bertanya, “Bagaimana caranya?”
 
Sang Tabib menyarankan, “Anda minum khamar sampai mabuk. Setelah itu, kami potong (kaki Anda, ed.), sehingga Anda tidak mengalami rasa sakit.” Spontan ulama bersahaja ini menjawab, “Aku tidak mau! Aku tidak ingin menghindari ujian Allah ini dengan bermaksiat kepada-Nya. Izinkan aku untuk shalat. Jika aku sedang berkonsentrasi dalam shalat, potonglah kakiku.” Setelah beliau benar-benar khusyuk dalam shalatnya, sang Tabib memotong kakinya.
 
Berselang seminggu setelah kakinya dipotong, anaknya jatuh dari atap dan meninggal. Beliau memiliki tujuh anak. Ketika informasi tentang anaknya ini sampai di telinga Urwah, beliau mengatakan, “Ya Allah, hanya milik-Mu segala puji. Engkau mengambil salah satu di antara anakku dan Engkau sisakan enam. Engkau mengambil salah satu di antara anggota badanku dan Engkau sisakan tiga yang lainnya ….” [Jannatur Ridha, karya Abu Ishaq Al-Huwaini, hlm. 3]
 
Bisa kita bayangkan seandainya posisi kita sebagaimana Urwah, ketika anestesi belum ditemukan seperti sekarang. Hanya ada dua pilihan: menahan rasa sakit amputasi manual yang luar biasa, atau menerjang maksiat kepada Allah dengan minum khamar. Pada posisi ini manusia mendapatkan ujian mental. Di sini keberanian manusia diuji. Mereka bisa jadi melawan sesuatu yang bertolak belakang dengan keinginan jiwanya.
 
Kita yakin, bahwa keadaan semacam ini nyaris tidak pernah luput dari perjalanan hidup manusia. Mulailah manusia terbelah menjadi dua golongan:
– Kelompok pemenang yang tegar di atas kebenaran, meskipun nyaris merenggut nyawa, dan
– Golongan para pecundang yang mudah menyerah dengan keadaan.
 
Seseorang yang begitu tegar dalam menghadapi setiap masalah, tidak mengalami stres hanya gara-gara menghadapi ujian berupa kesempitan hidup. Hatinya tetap tegar dan wajahnya tetap menunjukkan sikap rida terhadap semua takdir Allah.
 
Motivasinya jauh menembus batas dunia. Karena itu, sehebat apapun ujian yang dialaminya, dia tidak gentar, tidak memelas kepada orang lain, dan tidak mudah menerima tawaran yang bertolak belakang dengan aturan syariat.
 
Sebaliknya seorang pecundang akan lebih memilih solusi yang paling enak dan paling sesuai dengan seleranya. Halal-haram itu masalah belakangan, yang penting kenyang. Betapa banyak pengusaha yang rela untuk bergabung di kubangan riba, dengan alasan “Kepepet cari modal”. Betapa banyak kaum Muslimin yang bergabung di perusahaan yang “melanggar syariat”. Alasannya, yang penting dapat pekerjaan. Merekalah gambaran orang yang kalah sebelum berperang.
 
Barangkali ilustrasi di atas terlalu berat untuk kita praktikkan. Namun satu hal yang perlu kita yakini, bahwa diri kita bisa dilatih. Hanya saja kita perlu keberanian tinggi untuk memulai. Mencoba mengambil keputusan yang tidak melanggar syariat, meskipun sangat menyakitkan diri kita.
 
Ini mungkin sangat sulit, namun tidak akan sesulit yang dibayangkan, bagi mereka yang mendapatkan rahmat dari Allah. Karena itu, bantulah jiwamu untuk mendidik diri sendiri dengan banyak berdoa kepada Dzat Yang Maha Kuasa.
 
Allahu a’lam.
 
***
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#potret, #kisahmuslim, #motivasi, #kepepet, #halalharam #kalahsebelumberperang, #tegardiatasalhaq, #tegardiataskebenaran
, ,

KISAH WANITA PEZINA YANG MEMBERI MINUM ANJING

KISAH WANITA PEZINA YANG MEMBERI MINUM ANJING

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#KisahMuslim, #MutiaraSunnah

KISAH WANITA PEZINA YANG MEMBERI MINUM ANJING

Ada hadis yang membicarakan tentang keutamaan memberikan minum pada hewan. Ini menunjukkan, bahwa Islam mengajarkan untuk berbuat baik pada setiap makhluk, termasuk pula hewan. Di antara hadis yang diangkat adalah membicarakan wanita pezina yang memberi minum anjing, dan akhirnya ia mendapatkan pengampunan dosa. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

أَنَّ امْرَأَةً بَغِيًّا رَأَتْ كَلْبًا فِى يَوْمٍ حَارٍّ يُطِيفُ بِبِئْرٍ قَدْ أَدْلَعَ لِسَانَهُ مِنَ الْعَطَشِ فَنَزَعَتْ لَهُ بِمُوقِهَا فَغُفِرَ لَهَا

“Ada seorang wanita pezina melihat seekor anjing di hari yang panasnya begitu terik. Anjing itu menngelilingi sumur tersebut sambil menjulurkan lidahnya karena kehausan. Lalu wanita itu melepas sepatunya (lalu menimba air dengannya). Ia pun diampuni karena amalannya tersebut.” [HR. Muslim no. 2245]

Beberapa faidah dari hadis di atas, di antaranya:

1- Yang dimaksud dengan hewan yang ditolong adalah hewan yang dihormati, yang tidak diperintahkan untuk dibunuh. Memberi minum pada hewan itu akan meraih pahala. Memberi makan juga termasuk bentuk berbuat baik padanya. Demikian penjelasan dari Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (14: 214).

2- Boleh bersafar seorang diri tanpa membawa bekal, selama tidak khawatir kesulitan berat saat safar. (Fathul Bari, 5: 42).

3- Hadis di atas juga berisi motivasi untuk berbuat baik pada manusia. Jika dengan memberikan minum pada anjing bisa mendapatkan pengampunan dosa, maka memberi minum pada manusia tentu pula akan mendapatkan pahala yang besar. (Idem)

4- Boleh memberikan sedekah sunnah pada orang musyrik, selama tidak ada yang Muslim. Namun jika ada, ia lebih berhak. (Idem)

5- Jika ada hewan yang butuh minum, manusia pun demikian. Maka manusia yang lebih didahulukan. (Idem)

6- Memberikan minum pada hewan yang membutuhkan, termasuk pula anjing, akan menuai pahala dan terhapusnya dosa.

7- Besarnya karunia Allah dan keluasan rahmat-Nya. Dia membalas dengan balasan yang besar atas perbuatan yang sedikit. Allah mengampuni dosa orang tersebut hanya dengan sedikit perbuatan, yaitu dengan memberi minum anjing.

8- Seorang Muslim pelaku dosa besar tidak divonis kafir. Bisa jadi Allah mengampuni dosa besar tanpa tobat, karena dia melakukan kebaikan, yang dengannya Allah mengampuninya. Wanita pezina itu diampuni bukan karena tobatnya, namun karena dia memberi minum anjing, sebagaimana hal itu jelas terlihat dari hadis. Tidak mengafirkan seorang Muslim karena suatu dosa adalah sesuatu yang ditetapkan di dalam syariat Taurat, juga dalam syariat Islam.

Semoga bermanfaat.

 

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah

Sumber: https://rumaysho.com/7395-kisah-wanita-pezina-yang-memberi-minum-pada-anjing.html

,

KSA: POTRET NYATA NEGERI YANG DIBERKAHI

KSA: POTRET NYATA NEGERI YANG DIBERKAHI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

KSA: POTRET NYATA NEGERI YANG DIBERKAHI

Selama mendampingi Syaikh Anis Thahir di Indonesia, ada beberapa kejadian yang terkadang membuat saya tersenyum bila mengingatnya.

Di antaranya saat akan memasuki jalan tol, syaikh bertanya: “Kenapa kita harus bayar? Bukankah jalan ini fasilitas umum?

Selanjutnya setiap kali meninggalkan tempat pemberhentian/parkir, syaikh lagi-lagi bertanya, mengapa harus bayar? Bukankah ini tempat umum?

Saya hanya diam dan tersenyum.

Syaikh lalu berkata: “Puji syukur kepada Allah, zakat dan sedekah telah membebaskan kami dari semua pungutan ini”.

Alhamdulillah.

Bagi orang yang pernah bermukim di KSA pastinya akan takjub dengan berbagai nikmat yang Allah limpahkan terhadap negeri ini.

Di negeri ini, kita bisa menikmati jalan bebas hambatan tanpa pungutan. Kita pun bisa memarkir mobil di mana saja tanpa ada pungutan.

Di negeri ini, pajak tidak diberlakukan. Listrik dan air bersih disubsidi pemerintah. Kesehatan dan pendidikan 100% ditanggung negara. Negara bahkan memberikan uang saku bagi pelajar pada tingkat SMA dan perguruan tinggi.

Di negeri ini, harga air minum kemasan jauh lebih mahal dari BBM.
Satu botol air kemasan 600 ml harganya SR 1,00 = Rp 3800. Sedangkan satu liter bensin harganya 50 Halalah atau setengah Reyal. Buah dan sayur pun terbilang murah.

Setiap Ramadan tiba, tak terhitung jumlah dermawan yang membagikan makan gratis. Begitu juga di musim haji.
Selain nikmat materi, adalagi nikmat yang mungkin akan sulit kita dapatkan di tempat lain, yaitu nikmat keamanan.

Di sini, kendaraan dibiarkan pemiliknya terparkir di luar rumah tanpa penjaga.
Bahkan Anda bisa memanaskan mobil dan meninggalkannya begitu saja tanpa ada rasa takut diambil orang.
Bila azan tiba, semua menuju tempat azan dikumandangkan. Sebagian pedagang menutup dagangannya hanya dengan kain seadanya, tanpa takut kemalingan.

Di sini, barang yang ketinggalan di taksi/mobil tumpangan masih bisa kembali. Banyak kisah yang pernah dialami teman-teman soal ini. Kami pun pernah beberapa kali mengalaminya. Waktu itu dalam perjalanan menuju Masjid Nabawi HP dan tas uang kami tertinggal di naql (mobil tumpangan) milik seorang Badui. Tahun itu adalah tahun pertama kami di Madinah.
Saya sempat cemas bukan kepalang, mengingat di HP tersebut tersimpan nomor-nomor penting serta catatan harian kami.

Tapi masyaallah…
Rupanya pada hari itu, setiap selesai sholat pemilik naql itu berdiri pintu no 8 Masjid Nabawi. Iya, pintu no 8 adalah pintu yang biasa dilalui mahasiswa UIM. Pemilik naql itu melihat satu persatu mahasiswa yang keluar.
Saat kami keluar, tiba-tiba ada yang menepuk bahu kami dari belakang. “Ya akhi… Kemana saja. Sejak tadi saya berdiri di sini menunggu Anda. Ini HP dan tas Anda yang ketinggalan di mobil saya tadi, ucapnya dengan dielek Badui yang khas. Setelah menyerahkan HP dan tas, ia pun berlalu masuk dalam kerumunan orang banyak, yang baru saja keluar dari Masjid Nabawi.

Pernah juga, untuk kesekian kalinya, tas saya tertinggal di naql. Alhamdulillah, pemilik naql menitipkannya pada salah seorang teman. Seingat kami, pemilik naql itu menitipkannya kepada Ustadz Ahmad Syakir hafidzohullah-. Jazahumullah khoiron.

Maha Benar Allah yang telah berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ.

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi”

Begitulah

Keberkahan akan membuat negeri yang tandus menjadi Surga bagi penduduknya. Sebaliknya, negeri yang hijau akan berubah bak Neraka bagi penduduknya, bila keberkahan diangkat dari negeri tersebut.

وَلَٰكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka, disebabkan perbuatannya.” (Al-A’raf: 96)

Hatiku berguman.
“Indonesia juga bisa.
Setidaknya harapan itu masih ada. Insyaallah.
Mari kita mulai dari Bab Akidah…”

Catatan:

Perlu disadari, bahwa penduduk negeri ini bukan malaikat. Sehingga wajar bila masih ada kekurangan di sana sini. Apalagi dengan semakin bertambahnya jumlah imigran di KSA, setidaknya telah memengaruhi pertumbuhan kriminal di negeri ini. Meskipun demikian, angka kriminal masih terbilang kecil dibanding di negara-negara lain.

Wallahu a’lam

 

Penulis: Aan Chandra Thalib – ACT El-Gharantaly

KISAH UMAR BIN KHATAB DAN UNTA YANG DISEWANYA

KISAH UMAR BIN KHATAB DAN UNTA YANG DISEWANYA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#KisahMuslim

KISAH UMAR BIN KHATAB DAN UNTA YANG DISEWANYA

Suatu hari khalifah ‘Umar bin Khatab menyewa unta untuk membesuk sahabatnya.

Tanpa disadarinya, sorban Khalifah ‘Umar tersangkut pohon dan terlepas.

Ketika diberitahu sorbannya jatuh, Khalifah ‘Umar bergegas turun dari untanya dan lari mengambil sorbannya, lalu cepat cepat menaiki kembali untanya.

Sang pemilik unta berkata: “Kenapa kau tidak putar saja untanya untuk kembali ke belakang sedikit untuk mengambil sorbanmu wahai khalifah?”

Khalifah ‘Umar berkata dengan tersenyum: “Sebab unta ini akadnya aku sewa untuk pergi dari rumahku menuju rumah sahabatku. Tidak ada perjanjian balik sebentar untuk keperluan lain.”

Pemilik unta: “Kalau begitu, kenapa kau tidak menyuruh aku sebagai rakyat terhadap khalifah untuk mengambil sorbanmu?”

Khalifah ‘Umar menjawab: “Karena sorban itu milikku, bukan milikmu. Kenapa aku mesti menyuruhmu? Apakah kau kira jabatan khalifah punya wewenang untuk memerintahkan orang lain mengerjakan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan tugasku?”

Inilah Pemimpin Islam Sejati.

 

[Dikutip dari buku The Great of Two ‘Umars]

 

KELEDAI YANG TIDAK MAU MAKANAN HARAM

KELEDAI YANG TIDAK MAU MAKANAN HARAM

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#KisahMuslim

KELEDAI YANG TIDAK MAU MAKANAN HARAM

Ibnu Katsir menyebutkan kisah Syaikh Muhammad bin Manshur al-Qubari. Beliau pernah menjual keledainya ke seseorang. Setelah berlangsung beberapa hari, pembeli ini datang ke beliau dan komplain:

ﻳﺎﺳﻴﺪﻱ ﺇﻥ ﺍﻟﺪﺍﺑﺔ ﻻ ﺗﺄﻛﻞ ﻋﻨﺪﻱ ﺷﻴﺌﺎ

“Wahai tuanku, keledai ini tidak mau makan apapun makanan yang aku punya.”

ﻓﻨﻈﺮ ﺇﻟﻴﻪ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻪ : ﻣﺎ ﺗﻌﺎﻧﻲ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﻨﺎﺋﻊ

Syaikh Muhammad bin Manshur lalu memandanginya dan bertanya,: “Apa pekerjaan kamu?”

Jawab pembeli:

ﺭﻗﺎﺹ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻮﺍﻟﻲ

“Saya penari di kerajaan.”

Jawab Syaikh:

ﺇﻥ ﺩﺍﺑﺘﻨﺎ ﻻ ﺗﺄﻛﻞ ﺍﻟﺤﺮﺍﻡ. ﻭﺩﺧﻞ ﻣﻨﺰﻟﻪ ﻓﺄﻋﻄﺎﻩ ﺩﺭﺍﻫﻤﻪ

Keledai ini tidak mau makan dari hasil yang haram.

Beliau pun masuk ke rumahnya dan mengembalikan uangnya.

[Al-Bidayah wa an-Nihayah, 17/456]

 

Sumber: https://nasehat.net/525-keledai-tidak-mau-makanan-haram.html

, ,

ANDAI WAKTU MEREKA BISA KUBELI

ANDAI WAKTU MEREKA BISA KUBELI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#KisahMuslim
#TazkiyatunNufus

ANDAI WAKTU MEREKA BISA KUBELI

Syaikh Ali Thantawi dalam kitab beliau “Dzikrayaat” mengisahkan tentang seorang ulama besar bernama Jamaludin Al-Qasimi.

Suatu ketika beliau ini melewati sekumpulan anak muda yang suka foya-foya dan menghabiskan waktu mereka dalam maksiat. Melihat keadaan seperti itu, Syaikh Jamaludin Al-Qasimi lantas berkata:

ليت أنَّ الوقت يباع ويشترى لاشتريت منهم أوقاتهم

“Andai saja waktu itu bisa dijual dan dibeli, sungguh akan kubeli waktu mereka.”

Saking merasa sayangnya terhadap waktu yang pergi sia-sia, tanpa faidah, dan karena saking sibuknya beliau dalam mengajarkan ilmu dan menulis buku.

Dikatakan jumlah buku karya beliau melebihi umur beliau. Umur beliau 50 tahun, sedangkan kitab karangan beliau melebihi 50 judul kitab. Syaikh Muhammad Rasyid Ridho dalam majalah Al Manar menerangkan, bahwa karya beliau mencapai 80 judul buku. Di antara karya beliau adalah “Mahaasinut Ta’wiil“; kitab tafsir setebal tujuh belas jilid.

Seandainya kita katakan beliau mulai mengarang kitab sejak tahun pertama beliau keluar dari perut ibu. Maka untuk mencapai 50 karya buku dalam usia yang 50 tahun, setiap tahunnya beliau menulis satu judul buku. Ini bila beliau mulai menulis di tahun pertama kelahiran beliau. Tentu ini suatu hal yang mustahil, anak bayi baru lahir bisa nulis buku.

Minimal secara kasat mataseorang mulai mampu menulis buku di usia dewasa, kisaran 14 atau 15 tahun. Ini baru hitungan-hitungan 50 buku. Bagaimana dengan 80 judul buku?!

Anda bisa bayangkan, dalam setahun berapa buku yang beliau tulis. Inilah Syaikh Jamaluddin Al-Qasimi. Sungguh umur yang diberkahi, kehidupan yang indah penuh dengan kebaikan,  mengajarkan ilmu dan berkarya.

Rahimahullah. Semoga Allah merahmati beliau.

Penulis: Ustadz Ahmad Anshari

Sumber: https://Muslimah.or.id/6655-andai-waktu-mereka-bisa-kubeli.html

,

HAKIKAT JILBAB

HAKIKAT JILBAB

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah
#KisahNyata

HAKIKAT JILBAB

>> Sebuah Kisah yang Sangat Perlu Dibaca Para Wanita

Kisah nyata ini berasal dari kawan saya bekerja. Semoga berguna bagi yang membacanya, terutama kaum hawa. Juga bagi yang punya istri, anak perempuan, adik perempuan, saudara perempuan, kakak perempuan, yang masih punya ibu, yang punya keponakan perempuan, dan lain lain.

Begini cerita sahabatku:

Ini cerita tentang adikku Nur Annisa, gadis yang baru beranjak dewasa, namun rada bengal dan tomboy. Pada saat umur adikku menginjak 17 tahun, perkembangan dari tingkah lakunya agak mengkhawatirkan ibuku. Banyak teman cowoknya yang datang ke rumah, dan hal itu tidak mengenakkan ibuku yang berprofesi sebagai seorang guru ngaji.

Untuk mengantisipasi hal itu, ibuku menyuruh adikku memakai jilbab, namun selalu ditolaknya. Hingga timbul pertengkaran pertengkaran kecil di antara mereka.

Pernah satu kali adikku berkata dengan suara yang agak keras: “Mama coba lihat deh, tetangga sebelah anaknya pakai jilbab, namun kelakuannya tidak ada bedanya sama kita-kita. Malah teman teman Ani yang di sekolah pakai jilbab dibawa om-om, sering jalan-jalan. Masih mending Ani, walaupun begini-gini, Ani tidak pernah ma, seperti itu.” Bila sudah seperti itu, ibuku hanya bisa mengelus dada. Kadangkala di akhir malam kulihat ibuku menangis, lirih terdengar doanya:

“Ya Allah, kenalkan Ani dengan hukum-Mu ya Allah“.

Pada satu hari, di dekat rumahku ada tetangga yang baru pindah. Satu keluarga dengan enam anak yang masih kecil-kecil. Suaminya bernama Abu Khoiri (entah nama aslinya siapa). Aku kenal dengannya waktu di masjid.

Setelah beberapa lama mereka pindah, timbul desas-desus mengenai istri Abu Khoiri yang tidak pernah keluar rumah, hingga dijuluki si buta, bisu dan tuli. Hal ini terdengar pula oleh adikku, dan dia bertanya kepadaku: “Kak, memang yang baru pindah itu istrinya buta, bisu dan tuli?

“Hus,” aku jawab sambil lalu. “Kalau kamu mau tahu, datang saja langsung ke rumahnya”.

Eehhh, adikku benar-benar datang ke rumah tetangga baru.

Sekembalinya dari rumah tetanggaku, kulihat perubahan yang drastis pada dirinya. Wajahnya yang biasanya cerah tidak pernah muram atau lesu, tiba-tiba berubah mejadi pucat pasi. Entah apa yang terjadi.

Namun tidak kusangka, selang dua hari kemudian dia meminta ibuku untuk membuatkannya jilbab yang panjang, rok panjang, lengan panjang.

Aku sendiri menjadi bingung. Aku tambah bingung bercampur syukur kepada Allah, karena kulihat perubahan yang ajaib. Yah kubilang ajaib, karena dia berubah total.

Tidak banyak lagi anak cowok atau teman-teman wanitanya yang datang ke rumah, untuk sekedar bicara yang tidak karuan.

Kulihat dia banyak merenung, banyak membaca-baca majalah Islam, yang biasanya dia suka beli. Majalah anak muda seperti majalah Gadis atau Femina berganti menjadi majalah-majalah Islam, dan kulihat ibadahnya pun melebihi aku.

Tak ketinggalan tahajudnya, baca Alqurannya, sholat sunnahnya. Dan yang lebih menakjubkan lagi, bila temanku datang, dia menundukkan pandangannya.

Segala puji bagi Engkau ya Allah, jerit hatiku.

Tidak berapa lama kemudian aku mendapat panggilan kerja di Kalimantan, untuk bekerja di satu perusahaan asing (PMA).

Dua bulan aku bekerja di sana, aku mendapat kabar, bahwa adikku sakit keras, hingga ibuku memanggilku untuk pulang ke rumah (rumahku di Madiun).

Di pesawat tak henti-hentinya aku berdoa kepada Allah, agar adikku diberikan kesembuhan. Namun aku hanya berusaha. Ketika aku tiba di rumah, di depan pintu sudah banyak orang. Tak dapat kutahan, aku lari masuk ke dalam rumah. Kulihat ibuku menangis. Aku langsung menghampiri dan memeluk ibuku. Sambil tersendat-sendat, ibuku berkata:

“Dhi, adikmu bisa ucapkan Dua Kalimat Syahadat di akhir hidupnya.“ Tak dapat kutahan air mata ini.

Setelah selesai acara penguburan dan lainnya, iseng-iseng aku masuk ke kamar adikku dan kulihat buku catatan harian di atas mejanya.

Buku catatan harian yang selalu dia tulis, tempat dia menghabiskan waktunya sebelum tidur, kala kulihat sewaktu adikku rahimahullah masih hidup. Kemudian kubuka selembar demi selembar, hingga tertuju pada satu halaman yang menguak misteri, dan pertanyaan yang selalu timbul di hatiku. Perubahan yang terjadi ketika adikku sehabis pulang dari rumah Abu Khoiri.

Di situ kulihat tanya jawab antara adikku dan istri dari tetanggaku, isinya seperti ini:

Tanya jawab (kulihat di lembaran itu banyak bekas tetesan air mata):

Annisa: Aku bergumam (wajah wanita ini cerah dan bersinar layaknya bidadari): “Ibu, wajah ibu sangat muda dan cantik.”

Istri Tetanggaku: “Alhamdulillah, sesungguhnya kecantikan itu datang dari lubuk hati.”

Annisa: “Ibu kan sudah punya anak enam, tapi masih kelihatan cantik.”

Istri Tetanggaku: “Subhanallah. Sesungguhnya keindahan itu milik Allah. Dan bila Allah  berkehendak, siapakah yang bisa menolaknya?”

Annisa: “Ibu, selama ini aku selalu disuruh memakai jilbab oleh ibuku, namun aku selalu menolak, karena aku pikir tidak masalah kalau aku tidak pakai jilbab, asalka aku tidak macam-macam. Dan kulihat banyak wanita memakai jilbab, namun kelakuannya melebihi kami yang tidak memakai jilbab, hingga aku tidak pernah mau untuk pakai jilbab. Menurut ibu bagaimana?”

Istri Tetanggaku: Duhai Annisa, sesungguhnya Allah menjadikan seluruh tubuh wanita ini perhiasan, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Segala sesuatu dari tubuh kita yang terlihat oleh bukan mahram kita, semuanya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Ta’ala di Akhirat nanti. Jilbab adalah hijab untuk wanita.”

Annisa: “Tapi yang kulihat banyak wanita yang memakai jilbab yang kelakuannya nggak enak, nggak karuan.”

Istri Tetanggaku: “Jilbab hanyalah kain. Namun hakikat atau arti dari jilbab itu sendiri yang harus kita pahami.”

Annisa: “Apa itu hakikat jilbab?”

Istri Tetanggaku: “Hakikat jilbab adalah hijab lahir batin.

  • Hijab matamu dari memandang lelaki yang bukan mahrammu.
  • Hijab lidahmu dari berghibah (gosip) dan kesia-siaan. Usahakan selalu berzikir kepada Allah.
  • Hijab telingamu dari mendengar perkara yang mengundang mudharat, baik untuk dirimu maupun masyarakat.
  • Hijab hidungmu dari mencium cium segala yang berbau busuk.
  • Hijab tangan-tanganmu dari berbuat yang tidak senonoh.
  • Hijab kakimu dari melangkah menuju maksiat.
  • Hijab pikiranmu dari berpikir yang mengundang setan untuk memerdayai nafsmu.
  • Hijab hatimu dari sesuatu selain Allah.

Bila kamu sudah bisa maka jilbab, yang kamu pakai akan menyinari hatimu, itulah hakikat jilbab.”

Annisa: “Ibu, sekarang jadi jelas buatku, arti jilbab. Mudah mudahan aku bisa pakai jilbab. Namun bagaimana aku bisa melaksanakan semuanya?”

Istri Tetanggaku: “Duhai Anisa. Bila kamu memakai jilbab, itulah karunia dan rahmat yang datang dari Allah Yang Maha Pemberi Rahmat, Yang Maha Penyayang. Bila kamu mensyukuri rahmat itu, kamu akan diberi kekuatan untuk melaksanakan amalan-amalan jilbab, hingga mencapai kesempurnaan yang diinginkan Allah.

  • Duhai Anisa, ingatlah akan satu hari, di mana seluruh manusia akan dibangkitkan dari kuburnya.
  • Ketika ditiup Sangkakala yang kedua kali, pada saat ruh-ruh manusia seperti anai-anai yang bertebaran dan dikumpulkan dalam satu padang yang tiada batas, yang tanahnya dari logam yang panas, tidak ada rumput maupun tumbuhan.
  • Ketika matahari didekatkan di atas kepala kita, namun keadaan gelap gulita.
  • Ketika seluruh Nabi ketakutan.
  • Ketika ibu tidak memerdulikan anaknya, anak tidak memerdulikan ibunya, sanak saudara tidak kenal satu sama lain lagi, kadang satu sama lain bisa menjadi musuh. Satu kebaikan lebih berharga dari segala sesuatu yang ada di alam ini.
  • Ketika manusia berbaris dengan barisan yang panjang, dan masing-masing hanya memerdulikan nasib dirinya. Dan pada saat itu ada yang berkeringat karena rasa takut yang luar biasa, hingga menenggelamkan dirinya. Dan rupa bentuk manusia bermacam-macam, tergantung dari amalannya. Ada yang melihat ketika hidupnya, namun buta ketika dibangkitkan. Ada yang berbentuk seperti hewan. Ada yang berbentuk seperti setan. Semuanya menangis. Menangis, karena hari itu Allah murka. Belum pernah Allah murka sebelum dan sesudah hari itu, hingga ribuan tahun manusia didiamkan Allah  di Padang Mahsyar yang panas membara, hingga Timbangan Mizan digelar. Itulah hari Yaumul Hisab.

Duhai Annisa, bila kita tidak berusaha untuk beramal di hari ini, entah dengan apa nanti kita menjawab, bila kita disidang oleh Yang Maha Perkasa, Yang Maha Besar, Yang Maha Kuat, Yang Maha Agung, Allah. Di Yaumul Hisab nanti! Di Hari Perhitungan nanti!!”

Sampai di sini aku baca buku catatan hariannya. Kulihat banyak tetesan air mata yang jatuh dari pelupuk matanya. Subhanallah, kubalik lembar berikutnya dan kulihat tulisan kecil di bawahnya: Buta, tuli dan bisu, wanita yang tidak pernah melihat lelaki selain mahramnya. Wanita yang tidak pernah mau mendengar perkara yang dapat mengundang murka Allah ta’ala. Wanita yang tidak pernah berbicara ghibah, gosip dan segala sesuatu yang mengundang dosa dan sia sia. Tak tahan air mata ini pun jatuh membasahi buku catatan harian itu.

Itulah yang dapat saya baca dari buku catatan hariannya. Semoga Allah menerima adikku di sisi-Nya. Aamiin.

Bapak-bapak, ibu-ibu, saudara-saudaraku, adik-adikku dan anak-anakku yang semoga dimuliakan Allah, khususnya kaum hawa.

Saya mengharap kisah nyata ini bisa menjadi iktibar, menjadi pelajaran bagi kita, bagi putri-putri kita semua. Semoga meresap di hati yang membacanya, dan semoga Allah ta’ala senantiasa memberi petunjuk, memberi rahmat, hidayah bagi yang membaca dan menghayatinya.

Semoga Allah  senantiasa memberikan kekuatan iman kita untuk menjalankan (memenuhi) segala perintah-Nya dan menjauhi segala apa-apa yang dilarang-Nya, dan mendapat derajat takwa yang tinggi, selamat di dunia sampai di Akhirat nanti, mendapat pertolongan dan syafaat di hari Yaumul Hisab dan mendapat Surga yang tinggi. Aamiin.

Wallaahu a’lam bish shawab, billaahi taufik wal hidayah.
Wassalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakatuh.

 

Sumber: FB Maktabah Ilmu (dengan sedikit perbaikan kata)

http://enkripsi.wordpress.com/2010/11/24/hakikat-jilbab/

https://aslibumiayu.net/2949-hakikat-jilbab-sebuah-kisah-yang-wajib-kamu-baca.html