,

MATI SUUL KHATIMAH (AKHIR HIDUP YANG BURUK)

MATI-SUUL-KHATIMAH-(AKHIR-HIDUP-YANG-BURUK)
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
MATI SUUL KHATIMAH (AKHIR HIDUP YANG BURUK)
 
Sakaratul Maut Rumayso Sakaratul Maut Yang Paling Ringan Rumaysho Su Uul Khatimah Adalah Ulama Suul Khotimah Tanda Tanda Kematian Rumaysho
 
Setiap orang pasti menginginkan berada pada akhir kehidupan yang baik (Husnul Khatimah), BUKAN pada yang buruk (Suul Khatimah). Namun sudah sering kita saksikan ada beberapa orang yang mati dengan sangat tragis, sangat mengerikan, yang mungkin kita belum pernah melihat sebelumnya. Suul Khatimah inilah yang patut kita waspadai dan berusaha untuk tidak berada di ujung kehidupan semacam itu.
 
Perlu kiranya kita mengetahui, bahwa Suul Khatimah (mati dalam keadaan buruk) memiliki sebab yang seharusnya setiap orang menjauhinya. Sebab utama adalah karena berpaling dari agama Allah. Hal ini dapat berupa berpaling dari istiqamah, lemahnya iman, rusaknya i’tiqad (keyakinan), dan terus menerus dalam maksiat.
 
Beberapa Kisah Akhir Hidup yang Begitu Jelek
 
Ada suatu kisah yang menunjukkan seseorang yang terlalu sibuk dengan dunia, sehingga lupa akan Akhirat. Lihatlah bagaimanakah akhir hidupnya.
 
Ia seorang pedagang yang biasa menjual kain. Tatkala sakratul maut ia bukan menyebut kalimat yang mulia “Laa ilaaha illallah.” Nmun yang ia sebut adalah: “Ini kain baru, ini kain baru. Ini pas untukmu. Kain ini amat murah.” Akhirnya ia pun mati setelah mengucapkan kalimat semacam itu. Padahal kalimat terbaik yang diucapkan saat sakratul maut adalah kalimat Laa ilaaha illallah. Rasulullah ﷺ bersabda:
 
مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ
 
“Barang siapa yang akhir perkataannya adalah ‘Lailaha illallah’, maka dia akan masuk Surga.” [HR. Abu Daud. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih no. 1621]
 
Ada juga orang yang kesehariannya sibuk bermain catur. Ketika sakratul maut, ia diperintahkan untuk menyebut kalimat “Laa ilaaha illallah”. Namun apa yang ia katakan kala maut menjemput? Ia malah mengucapkan: “Skak!” Lalu ia pun menghembuskan nafasnya yang terakhir. Mati bukan menyebut kalimat tahlil, namun menyebut kata “Skak”. Wallahul musta’an.
 
Ada pula orang yang kesehariannya biasa menegak arak (khomr). Ketika maut menjemput, ia ingin ditalqinkan (dituntun baca kalimat tahlil, Laa ilaaha illallah). Namun apa yang ia ucapkan? Ia malah berkata saat sakratul maut: “Mari tuangkan arak untukku, minumlah!” Lantas ia pun mati dalam keadaan seperti itu. Laa haula quwwata illa billah ‘aliyyil ‘azhim. [Kisah-kisah ini diperoleh dari risalah mungil yang berjudul ‘Alamaatu Husnul Khatimah wa Su’uha, terbitan Darul Qosim]
 
Pengaruh Teman Bergaul yang Buruk Semasa Hidup
 
Ulama tabi’in, Mujahid rahimahullah berkata: “Barang siapa mati, maka akan datang di hadapan dirinya orang yang satu majelis (setipe) dengannya. Jika ia biasa duduk di majelis orang yang selalu menghabiskan waktu dalam kesia-siaan, maka itulah yang akan menjadi teman dia tatkala sakratul maut. Sebaliknya jika di kehidupannya ia selalu duduk bersama Ahli Zikir (yang senantiasa mengingat Allah), maka itulah yang menjadi teman yang akan menemaninya saat sakratul maut.” [Tadzkiroh, Al Qurthubi, Asy Syamilah, 1/38]
 
Bukti dari perkataan Mujahid di atas terdapat pada kisah Abu Tholib berikut ini:
 
لَمَّا حَضَرَتْ أَبَا طَالِبٍ الْوَفَاةُ جَاءَهُ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَوَجَدَ عِنْدَهُ أَبَا جَهْلِ بْنَ هِشَامٍ ، وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِى أُمَيَّةَ بْنِ الْمُغِيرَةِ ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – لأَبِى طَالِبٍ « يَا عَمِّ ، قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، كَلِمَةً أَشْهَدُ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ » . فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِى أُمَيَّةَ يَا أَبَا طَالِبٍ ، أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَلَمْ يَزَلْ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَعْرِضُهَا عَلَيْهِ ، وَيَعُودَانِ بِتِلْكَ الْمَقَالَةِ ، حَتَّى قَالَ أَبُو طَالِبٍ آخِرَ مَا كَلَّمَهُمْ هُوَ عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ ، وَأَبَى أَنْ يَقُولَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ
 
“Ketika menjelang wafatnya Abu Tholib, Rasulullah ﷺ mendatanginya dan ternyata sudah ada Abu Jahal bin Hisyam dan ‘Abdullah bin Abu Umayyah bin Al Mughirah. Maka Rasulullah ﷺ berkata kepada Abu Tholib: “Wahai pamanku, katakanlah Laa ilaaha illallah, suatu kalimat yang dengannya aku akan menjadi saksi atasmu di sisi Allah”. Maka berkata Abu Jahal dan ‘Abdullah bin Abu Umayyah: “Wahai Abu Thalib, apakah kamu akan meninggalkan agama ‘Abdul Muthalib?”. Rasulullah ﷺ terus menawarkan Kalimat Syahadat kepada Abu Tholib, dan bersamaan itu pula kedua orang itu mengulang pertanyaannya, yang berujung Abu Tholib pada akhir ucapannya tetap mengikuti agama ‘Abdul Muthalib, dan enggan untuk mengucapkan Laa ilaaha illallah.” [HR. Bukhari no. 1360 dan Muslim no. 24]
 
Akibat Maksiat dan Godaan Setan
 
Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Sesungguhnya dosa, maksiat, dan syahwat adalah sebab yang dapat menggelincirkan manusia saat kematiaanya. Ditambah lagi dengan godaan setan. Jika maksiat dan godaan setan terkumpul, ditambah lagi dengan lemahnya iman, maka sungguh amat mudah berada dalam Suul Khatimah (akhir hidup yang jelek).” [Al Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, 9/184 (sesuai standar)]
 
Agar Selamat dari Suul Khatimah
 
Ibnu Katsir rahimahullah kembali melanjutkan penjelasannya:
 
“Suul Khatimah (akhir hidup yang jelek), semoga Allah melindungi kita darinya, tidaklah terjadi pada orang yang secara lahir dan batin itu baik dalam bermuamalah dengan Allah. Begitu pula tidak akan terjadi pada orang yang benar perkataan dan perbuatannya. Keadaan semacam ini tidak pernah didengar, bahwa orangnya mati dalam keadaan Suul Khatimah sebagaimana kata ‘Abdul Haq Al Isybili. Suul Khatimah akan mudah terjadi pada orang yang rusak batinnya dilihat dari i’tiqod (keyakinannya) dan rusak lahiriahnya yaitu pada amalnnya. Suul Khatimah lebih mudah terjadi pada orang yang terus menerus dalam dosa besar dan lebih menyukai maksiat. Akhirnya ia terus menerus dalam keadaan berlumuran dosa semacam tadi, sampai maut menjemput sebelum ia bertobat.” [Al Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, 9/184 (sesuai standar)]
 
Jika telah mengetahui hal ini dan tidak ingin kehidupan kita berakhir buruk sebagaimana kisah-kisah yang telah diutarakan di atas, maka sudah sepantasnya kita menyegerakan tobat terhadap semua dosa yang kita perbuat, baik itu dosa kesyirikan, bid’ah, dosa besar dan maksiat. Begitu pula segeralah kita kembali taat pada Allah dengan mengawali segalanya dengan ilmu. Kita tidak tahu kapan nyawa kita diambil. Entah besok, entah lusa, entah minggu depan, boleh jadi lebih cepat dari yang kita kira. Yang tua dan muda sama saja, tidak ada yang tahu bahwa ia akan berumur panjang. Selagi masih diberi kesempatan, selagi masih diberi nafas, teruslah bertobat dan kembali taat pada-Nya. Lakukan kewajiban, sempurnakan dengan amalan sunnah. Jauhi maksiat dan berbagai hal yang makruh. Jangan sia-siakan waktu, teruslah isi dengan kebaikan.
 
Semoga Allah mematikan kita dalam keadaan Husnul Khatimah dan menjauhkan kita dari akhir hidup yang jelek, Suul Khatimah. Amin Yaa Mujibas Saailin.
 
 
 
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
[www.rumaysho.com]
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#su’ul, #khotimah, #khatimah, #chatimah, #chotimah, #suul, #mati, #meninggaldunia, #akhirhidup, #akhirayat, #husnul, #khusnul #chusnul #husnulkhatimah, #husnulkhotimah #akhirhidupyangjelek, #akhirhidupyangburuk, #akhirhidupyangbaik, #akhirhidupyangindah #suul khotimah, #suulkhatimah
, ,

HINANYA MENJADI BUDAK DUNIA

HINANYA MENJADI BUDAK DUNIA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
HINANYA MENJADI BUDAK DUNIA
Al-Hasan al-Bashry rahimahullah mengatakan seraya bersumpah:
«ما أعز أحد الدرهم إلا أذله الله عز وجل»
“Tidaklah seseorang memuliakan Dirham (harta), kecuali Allah Azza wa Jalla pasti menghinakannya.” [Diriwayatkan oleh Ahmad dalam az-Zuhd, no. 1556]
Sumber: @JakartaMengaji
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#duniaituhina, #laranganmemuliakandunia, #Dirham, #muliakanDirham, #Allahakanmenghinakan #hinanyamenjadibudakdunia, #budakdunia
,

DALAM MENASIHATI, JANGAN MENUNGGU DIRI MENJADI SEMPURNA

DALAM MENASIHATI, JANGAN MENUNGGU DIRI MENJADI SEMPURNA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
DALAM MENASIHATI, JANGAN MENUNGGU DIRI MENJADI SEMPURNA
 
Berikanlah nasihat dan pesan kebaikan kepada orang lain, walaupun Anda masih banyak kekurangan. Ibnu Rajab Al-Hambali berkata:

فلا بد للإنسان من الأمر بالمعروف و النهي عن المنكر و الوعظ و التذكير و لو لم يعظ إلا معصوم من الزلل لم يعظ الناس بعد رسول الله صلى الله عليه و سلم أحد لأنه لا عصمة لأحد بعده

“Tetap bagi setiap orang untuk mengajak yang lain pada kebaikan dan melarang dari kemungkaran. Tetap ada saling menasihati dan saling mengingatkan. Seandainya yang mengingatkan hanyalah orang yang maksum (yang bersih dari dosa, pen.), tentu tidak ada lagi yang bisa memberi nasihat sepeninggal Nabi . Karena sepeninggal Nabi  tidak ada lagi yang maksum.” [Lathaif Al-Ma’arif fima Al-Mawasim Al-‘Aam mi Al-Wazhaif. Cetakan pertama, tahun 1428 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Al-Maktab Al-Islami]

Justru dengan langkah ‘memberi nasihat’ itu, kita akan berusaha menjadi lebih baik, dan menambah rasa ‘malu’ kita untuk bermaksiat.
 
Dan pahala untuk orang yang menunjukkan kebaikan kepada orang lain TIDAK disyaratkan harus menjadi sempurna atau harus melakukannya lebih dulu. Wallahu a’lam.
 
“SIAPAPUN yang menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya pahala orang yang melakukannya”, sebagaimana sabda Nabi ﷺ.
 
 
Penulis: Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى
Sumber: http://bbg-alilmu.com/archives/10635

 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

 

 

#haruskahsempurna, #amarmarufnahimungkar, #tidakharussempurnadahulu, #memberikannasihat, #nasihat, #nasehat, #hilangpemberinasihat, #minimlahorangorangyangmaumengingatkan #orangsempurna #tunggusempurna #jangantunggusempurna #janganmenunggusempurnadahulu #memberinasihat #memberinasehat #menasehati #menasihati #bersihdaridosa, #maksum, #makshum #syaratmenasehati, #syaratmenasihati, #syarat

,

HARUSKAH MENJADI SEMPURNA UNTUK BISA MENASIHATI?

HARUSKAH MENJADI SEMPURNA UNTUK BISA MENASIHATI?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
HARUSKAH MENJADI SEMPURNA UNTUK BISA MENASIHATI?
 
Sebagian orang enggan melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar karena merasa belum mampu melakukan amalan ma’ruf yang hendak ia perintahkan, atau meninggalkan kemungkaran yang hendak ia larang. Dia khawatir termasuk ke dalam golongan orang yang mengatakan apa yang tidak dia lakukan. Sebagaimana yang disinggung dalam firman Allah ta’ala:
 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ (2) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ(3)
 
“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kemurkaan Allah bila kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan” [QS. As-Shof: 2-3]
 
Pertanyaan yang harus kita temukan jawabannya adalah:
– Apakah seorang harus sempurna dulu amalannya untuk bisa menasihati orang lain? Kemudian,
– Apakah setiap orang yang tidak melakukan apa yang ia perintahkan, dan melanggar sendiri apa yang dia larang, masuk dalam ancaman ayat di atas?
 
Syaikh Anis Thahir Al-Indunisy, saat kajian membahas kitab Iqtidho’ as-Shirot al-Mustaqiem , di masjid Nabawi malam Senin (20 Rabi’us Tsani 1436 H) menerangkan, bahwa ada dua hal yang perlu dibedakan dalam masalah ini. Beliau mengatakan:
 
فيه فرق بين أن تنصح غيرك وأنت عاجز عن العفل، وبين أن تنصح غيرك و أنت قادر على الفعل
 
“Bedakan antara:
– Anda menasihati seorang, sementara Anda belum ada daya untuk melakukan apa yang Anda nasihatkan, dengan
– Anda menasihati seorang, sementara Anda mampu melakukan apa yang Anda nasihatkan.”
 
Jadi ada dua jenis orang dalam masalah ini:
 
Yang pertama adalah orang yang menasihati orang lain, namun dia sendiri belum mampu melakukan amalan ma’ruf yang ia sampaikan, atau meninggalkan kemungkaran yang ia larang.
Yang kedua adalah orang yang menasihati orang lain, sementara sejatinya dia mampu untuk melakukan pesan nasihat yang ia sampaikan, akan tetapi justru mengabaikan kemampuannya dan ia terjang sendiri nasihatnya, tanpa ada rasa bersalah dan menyesal. Ia merasa nyaman dan biasa-biasa saja dengan tindakan kurang terpuji tersebut.
Orang jenis pertama, dia belum bisa melakukan amalan ma’ruf yang dia perintahkan, karena dia belum memiliki daya untuk melakukannya. Bisa jadi karena hawa nafsunya yang mendominasi, setelah pertarungan batin dalam jiwanya. Sehingga saat ia melanggar sendiri apa yang dia nasihatkan, dia merasa bersalah dan menyesal atas kekurangannya ini, serta senantiasa memperbaharui taubatnya.
 
Saat ia tergelincir pada larangan yang ia larang, ia katakan pada dirinya, “Sampai kapan… sampai kapan kamu seperti ini?! Kamu menasihati orang-orang untuk menjauhi perbuatan ini.. sementara kamu sendiri yang melakukannya?! Tidakkah kamu takut kepada Allah.”
 
Untuk orang yang seperti ini, hendaknya ia jangan merasa enggan untuk beramar ma’ruf dan nahi munkar. Karena tidak menutup kemungkinan, nasihat yang ia sampaikan akan membuatnya terpacu untuk melaksanakan amalan ma’ruf yang dia perintahkan, atau meninggalkan kemungkaran yang dia larang. Hal ini sudah menjadi suatu hal yang lumrah dalam pengalaman seorang.
 
Adapun orang jenis kedua, dia menerjang sendiri pesan nasihatnya, setelah adanya daya dan kemampuan untuk melakukan nasihat tersebut. Namun justru dia abaikan. Saat menerjangnya pun dia tidak merasa menyesal dan bersalah atas tindakannya tersebut. Orang seperti inilah yang termasuk dalam ancaman ayat di atas.
 
Seperti seorang ayah merokok di samping anaknya yang dia juga merokok. Lalu Sang Ayah menasihatikan anaknya, “Nak…jangan ngrokok. Ndak baik ngrokok itu..” Sementara dia sendiri klepas-klepus ngrokok di samping anaknya, tanpa merasa menyesal dan bersalah.
 
Barangkali makna inilah yang disinggung dalam perkataan para Salafus Sholih dahulu.
 
Sa’id bin Jubair mengatakan:
“Jika tidak boleh melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar kecuali orang yang sempurna, niscaya tidak ada satu pun orang yang boleh melakukannya”. Ucapan Sa’id bin Jubair ini dinilai oleh Imam Malik sebagai ucapan yang sangat tepat. [Tafsir Qurthubi, 1/410]
 
Al-Hasan Al-Bashri pernah berkata kepada Mutharrif bin Abdillah: “Wahai Mutharrif nasihatilah teman-temanmu”. Mutharrif mengatakan: “Aku khawatir mengatakan yang tidak kulakukan”. Mendengar hal tersebut, Hasan Al-Bashri mengatakan: “Semoga Allah merahmatimu. Siapakah di antara kita yang mengerjakan apa yang dia katakan? Sungguh setan berharap bisa menjebak kalian dengan hal ini, sehingga tidak ada seorang pun yang berani amar ma’ruf nahi mungkar.” [Tafsir Qurthubi, 1/410]
 
Al-Hasan Al-Bashri juga pernah mengatakan:
“Wahai sekalian manusia. Sungguh aku akan memberikan nasihat kepada kalian, padahal aku bukanlah orang yang paling saleh dan yang paling baik di antara kalian. Sungguh aku memiliki banyak maksiat dan tidak mampu mengontrol dan mengekang diriku supaya selalu taat kepada Allah. Andai seorang mukmin tidak boleh memberikan nasihat kepada saudaranya kecuali setelah mampu mengontrol dirinya, niscaya hilanglah para pemberi nasihat dan minimlah orang-orang yang mau mengingatkan.” [Tafsir Qurthubi, 1/410]
 
___
 
Referensi:
  • Faidah kajian pembahasan kitab Iqtidho’ as-Shirot al-Mustaqiem li mukholafati ash-Haabi al-Jahiim, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, bersama Syaikh Anis Thahir Al-Indunisy. Setiap malam senin di Masjid Nabawi.
  • Tulisan di Muslim.Or.Id, yang bertema “Antara Kata dan Perbuatan.” https://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasihat/antara-kata-dan-perbuatan.html
Penulis: Ahmad Anshori
[Artikel: Muslim.Or.Id]
 
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#haruskahsempurna, #amarmarufnahimungkar, #tidakharussempurnadahulu, #memberikannasihat, #nasihat, #nasehat, #hilangpemberinasihat, #minimlahorangorangyangmaumengingatkan #orangsempurna #tunggusempurna #jangantunggusempurna #janganmenunggusempurnadahulu #memberinasihat #memberinasehat #menasehati #menasihati
,

MENJAGA KESEHATAN HATI

MENJAGA KESEHATAN HATI
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
MENJAGA KESEHATAN HATI
 
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
 
Terdapat banyak dalil, bahwa iman, ibadah, dan ketaataan adalah nikmat. Iman itu manis, ibadah itu manis, taat itu manis, yang hanya bisa dirasakan oleh hati yang sehat. Dalam Alquran Allah menyebut wahyu dengan sebutan ar-Ruh:
 
وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا
 
“Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Ruh (Alquran) dengan perintah Kami…” [QS. as-Syura: 52]
 
Yang dimaksud Ruh pada ayat di atas adalah wahyu Alquran.
 
Rasulullah ﷺ dalam beberapa hadisnya juga menyebutkan, bahwa iman itu rasanya lezat. Di antaranya dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
 
ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ
 
Ada tiga hal, siapa yang memilikinya maka dia akan bisa merasakan manisnya iman:
[1] Allah dan Rasul-Nya menjadi sesuatu yang paling dia cintai melebihi yang lainnya.
[2] Mencintai orang lain yang latar belakangnya hanya karena Allah, dan
[3] Dia benci untuk kembali kepada kekufuran, sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke Neraka. [Bukhari 6941 & Muslim 174]
 
Kemudian dalam hadis yang lain, Nabi ﷺ menyebut shalat sebagai sesuatu yang menenangkan. Dalam hadis dari Anas bin Malik, Nabi ﷺ bersabda:
 
وَجُعِلَ قُرَّةُ عَيْنِى فِى الصَّلاَةِ
 
“Ketenangan hatiku dijadikan dalam shalat.” [HR. Ahmad12293, Nasai 3956, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth]
 
Mengapa Ketika Ibadah kita Tidak Nyaman?
 
Yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa ketika kita melakukan ketaatan, kita selalu merasa tidak nyaman? Kita merasa tidak betah. Bahkan umumnya kita berfikir, bagaimana agar ibadah itu segera selesai.
  • Bukankah taat itu nikmat?
  • Shalat itu menenangkan?
  • Ibadah itu rasanya lezat?
Tapi mengapa seolah menjadi beban yang sangat berat bagi kita?
 
Jawabannya adalah karena hati kita sedang sakit…
 
Sebagaimana ketika fisik kita sedang sakit, semua terasa pahit, meskipun sejatinya itu nikmat.
Orang sakit diberi makanan selezat apapun, tidak akan bisa dia nikmati, karena semua terasa pahit.
Bagi orang sehat, mandi dengan air itu menyegarkan. Tapi bagi orang sakit, itu menyiksa dirinya.
Karena dia sakit, sehingga tidak bisa menikmati yang lezat…
 
Bagaimana penawarnya?
 
Ibnul Qoyim menyebutkan teori pengobatan orang sakit. Teori ini berlaku dalam semua tindakan pengobatan orang yang sakit, baik sakit fisik maupun sakit hati. Kata Ibnul Qoyim:
 
ومدار الصحة على حفظ القوة والحمية عن المؤذى واستفراغ المواد الفاسدة ونظر الطبيب دائر على هذه الأصول الثلاثة
 
Menjaga kesehatan berporos pada tiga hal:
 
[1] Menjaga kekuatan (حفظ القوة),
[2] Perlindungan dari sesuatu yang memperparah sakitnya (والحمية عن المؤذى) dan
[3] Membersihkan sumber penyakit (واستفراغ المواد الفاسدة).
 
Dan para dokter selalu memperhatikan tiga prinsip ini. [Ighatsah al-Lahafan, 1/16]
 
Selanjutnya kita akan merinci secara ringkas:
 
Pertama: Menjaga Kekuatan [حفظ القوة]
 
Dalam dunia kedokteran, pendekatan pertama yang digunakan dokter untuk mengobati pasiennya adalah menjaga kekuatan fisik pasien. Dokter akan meminta pasien untuk banyak mengonsumsi makanan bergizi, banyak beristirahat, jangan banyak berfikir berat, dan tidak lupa diberi multivitamin.
 
Dalam menjaga kesehatan hati yang sakit juga demikian. Kita harus memberikan nutrisi bagi hati. Di antaranya dengan banyak berzikir, banyak mendekatkan diri kepada Allah, banyak belajar agama, dst.
 
Karena wahyu itu ruh. Mendekat kepada wahyu, baik bentuknya amalan maupun menata pemahaman, berarti meningkatkan potensi kehidupan bagi hati.
 
Kedua: Perlindungan dari Sesuatu yang Memperparah Sakitnya [والحمية عن المؤذى]
 
Dalam dunia kedokteran, pendekatan kedua yang digunakan dokter untuk mengobati pasiennya adalah melindungi pasien dari sesuatu yang memperparah sakitnya. Dokter akan menyebutkan beberapa pantangan yang harus dihindari pasien. Tidak boleh makan berlemak, berkolestrol, dst.
 
Dalam menjaga kesehatan hati yang sakit juga demikian. Kita harus menjaga diri dari kondisi yang memperparah penyakit hati kita. Itulah dosa dan maksiat. Karena dosa dan maksiat adalah noda bagi hati.
 
Ketiga: Membersihakan Sumber Penyakit [واستفراغ المواد الفاسدة]
 
Dalam dunia kedokteran, ini pendekatan ketiga. Dokter akan mengobati sumber penyakit pasien. Pasien akan diberi obat misalnya antibiotik, anti radang, anti alergi, dst.
 
Dalam menjaga kesehatan hati yang sakit juga demikian. Kita harus membersihkan sumber penyakit hati. Dengan cara membersihkan noda dosa. Bentuknya, banyak bertobat kepada Allah, memohon ampun atas kesalahan yang kita lakukan, dst.
 
Allahu a’lam.
 
 
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#menjagakesehatanhati, #hatisehat, #hatisakit, #penyakithati, #sakithati, #hatisehat #manisnyaiman

IMAN ITU INDAH

IMAN ITU INDAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
IMAN ITU INDAH
 
Marilah menevaluasi hati kita.
 
Jika hati terasa nyaman dengan iman beserta konsekuensinya, rindu kepada amal-amal saleh, dan benci melihat segala bentuk maksiat kepada-Nya, maka, berbahagialah, karena kita berada di atas jalan yang lurus.
 
Semoga Allah ta’ala menjaga keistiqamahan kita dalam meniti jalan-Nya. Aamiin!
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#imanituindah, #bencimaksiat, #rinduamalansaleh, #shaleh, #sholih, #shaleh, #jalanyanglurus #istiqamah, #istiqomah
,

RAHASIAKAN AMAL SALEHMU

RAHASIAKAN AMAL SALEHMU
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
RAHASIAKAN AMAL SALEHMU
 
Siapa saja yang takut kepada beratnya Hari Kebangkitan, beramal salehlah dengan ikhlas. Amal yang hanya tersambung antara hamba dan Allah ta’ala. Amal saleh itu TIDAK CUKUP, jika TIDAK diiringi dengan tauhid, tidak menyekutukan Allah ta’ala dengan apapun. [Tafsir ibnu Abbas]
 
Semoga Allah ta’ala meringankan keadaan kita ketika dibangkitkan kelak. Aamiin!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#rahasiakan, #amalsalehmu, #amalsholihmu, #amalshalehmu #riya #pamer

POTRET SEORANG MUSLIM KETIKA KEPEPET

POTRET SEORANG MUSLIM KETIKA KEPEPET
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
POTRET SEORANG MUSLIM KETIKA KEPEPET
 
Disebutkan dalam sebuah kisah yang sahih, bahwa Urwah bin Zubair bin Awwam, salah seorang ulama tabi’in senior, cucu dari Abu Bakr As-Siddiq, pernah melakukan perjalanan untuk menemui Khalifah Bani Umayah, Abdul Malik bin Marwan. Pada waktu itu kaki Urwah sedang sakit, dan ada binatang kecil yang menggelayuti bagian luka di kakinya.
 
Ketika Urwah sampai di kediaman Abdul Malik bin Marwan, sang Khalilfah mendiskusikan masalah kaki Urwah yang sakit. Singkat cerita, Tabib kerajaan pun memeriksa penyakit yang dialami Urwah. Beliau mengusulkan, “Tidak ada jalan keluar selain kami harus memotong kaki Anda.” Urwah bertanya, “Bagaimana caranya?”
 
Sang Tabib menyarankan, “Anda minum khamar sampai mabuk. Setelah itu, kami potong (kaki Anda, ed.), sehingga Anda tidak mengalami rasa sakit.” Spontan ulama bersahaja ini menjawab, “Aku tidak mau! Aku tidak ingin menghindari ujian Allah ini dengan bermaksiat kepada-Nya. Izinkan aku untuk shalat. Jika aku sedang berkonsentrasi dalam shalat, potonglah kakiku.” Setelah beliau benar-benar khusyuk dalam shalatnya, sang Tabib memotong kakinya.
 
Berselang seminggu setelah kakinya dipotong, anaknya jatuh dari atap dan meninggal. Beliau memiliki tujuh anak. Ketika informasi tentang anaknya ini sampai di telinga Urwah, beliau mengatakan, “Ya Allah, hanya milik-Mu segala puji. Engkau mengambil salah satu di antara anakku dan Engkau sisakan enam. Engkau mengambil salah satu di antara anggota badanku dan Engkau sisakan tiga yang lainnya ….” [Jannatur Ridha, karya Abu Ishaq Al-Huwaini, hlm. 3]
 
Bisa kita bayangkan seandainya posisi kita sebagaimana Urwah, ketika anestesi belum ditemukan seperti sekarang. Hanya ada dua pilihan: menahan rasa sakit amputasi manual yang luar biasa, atau menerjang maksiat kepada Allah dengan minum khamar. Pada posisi ini manusia mendapatkan ujian mental. Di sini keberanian manusia diuji. Mereka bisa jadi melawan sesuatu yang bertolak belakang dengan keinginan jiwanya.
 
Kita yakin, bahwa keadaan semacam ini nyaris tidak pernah luput dari perjalanan hidup manusia. Mulailah manusia terbelah menjadi dua golongan:
– Kelompok pemenang yang tegar di atas kebenaran, meskipun nyaris merenggut nyawa, dan
– Golongan para pecundang yang mudah menyerah dengan keadaan.
 
Seseorang yang begitu tegar dalam menghadapi setiap masalah, tidak mengalami stres hanya gara-gara menghadapi ujian berupa kesempitan hidup. Hatinya tetap tegar dan wajahnya tetap menunjukkan sikap rida terhadap semua takdir Allah.
 
Motivasinya jauh menembus batas dunia. Karena itu, sehebat apapun ujian yang dialaminya, dia tidak gentar, tidak memelas kepada orang lain, dan tidak mudah menerima tawaran yang bertolak belakang dengan aturan syariat.
 
Sebaliknya seorang pecundang akan lebih memilih solusi yang paling enak dan paling sesuai dengan seleranya. Halal-haram itu masalah belakangan, yang penting kenyang. Betapa banyak pengusaha yang rela untuk bergabung di kubangan riba, dengan alasan “Kepepet cari modal”. Betapa banyak kaum Muslimin yang bergabung di perusahaan yang “melanggar syariat”. Alasannya, yang penting dapat pekerjaan. Merekalah gambaran orang yang kalah sebelum berperang.
 
Barangkali ilustrasi di atas terlalu berat untuk kita praktikkan. Namun satu hal yang perlu kita yakini, bahwa diri kita bisa dilatih. Hanya saja kita perlu keberanian tinggi untuk memulai. Mencoba mengambil keputusan yang tidak melanggar syariat, meskipun sangat menyakitkan diri kita.
 
Ini mungkin sangat sulit, namun tidak akan sesulit yang dibayangkan, bagi mereka yang mendapatkan rahmat dari Allah. Karena itu, bantulah jiwamu untuk mendidik diri sendiri dengan banyak berdoa kepada Dzat Yang Maha Kuasa.
 
Allahu a’lam.
 
***
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#potret, #kisahmuslim, #motivasi, #kepepet, #halalharam #kalahsebelumberperang, #tegardiatasalhaq, #tegardiataskebenaran
,

BANYAK IBADAH JANGAN MERASA AMAN, BANYAK MAKSIAT JANGAN KECIL HATI

BANYAK IBADAH JANGAN MERASA AMAN, BANYAK MAKSIAT JANGAN KECIL HATI
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
BANYAK IBADAH JANGAN MERASA AMAN, BANYAK MAKSIAT JANGAN KECIL HATI
>> Penutupan yang Penting
 
Nabi ﷺ bersabda:
 
إِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ فِيمَا يَرَى النَّاسُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَإِنَّهُ لَمِنْ أَهْلِ النَّارِ
 
“Sungguh ada seorang hamba yang menurut pandangan orang banyak mengamalkan amalan penghuni Surga, namun berakhir menjadi penghuni Neraka.
 
وَيَعْمَلُ فِيمَا يَرَى النَّاسُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ
 
Sebaliknya ada seorang hamba yang menurut pandangan orang melakukan amalan-amalan penduduk Neraka, namun berakhir dengan menjadi penghuni Surga.
 
وَإِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا
 
Sungguh amalan itu tergantung dengan penutupannya.” [HR. Bukhari]
 
Sumber: Salam Dakwah
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

#amalanpenghuniSurga, #amalanpenghuniNeraka, #tergantungujungnya, #tergantungakhirnya, #tergantungpenutupnya #akhirnya, #ujungnya, #penutupnya, #amalanahlSurga, #amalanahliNeraka,  #penghuniSurga #penghuniNeraka #masukSurga, #masukNeraka, #husnulkhotimah, #husnulkhatimah, #chusnul, #khotimah, #chotimah #amalanitutergantungdenganpenutupannya #amalanitutergantungdenganpenutupnya #TazkiyatunNufus

,

MUSIBAH DATANG KARENA MAKSIAT DAN DOSA

MUSIBAH DATANG KARENA MAKSIAT DAN DOSA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
MUSIBAH DATANG KARENA MAKSIAT DAN DOSA
 
Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu mengatakan:
 
مَا نُزِّلَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِذَنْبٍ وَلاَ رُفِعَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِتَوْبَةٍ
 
“Tidaklah musibah tersebut turun melainkan karena dosa. Oleh karena itu, tidaklah bisa musibah tersebut hilang melainkan dengan taobat.” [Al Jawabul Kaafi, hal. 87]
 
Perkataan ‘Ali radhiyallahu ‘anhu di sini selaras dengan firman Allah Ta’ala:
 
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ
 
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” [QS. Asy Syuraa: 30]
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#DisebabkanOlehPerbuatanTanganmuSendiri #DosaDanMaksiat #SebabMusibah #Dosa #SebabKesusahan #MalapetakaDanBahayaAkanHilang #MasalahKarenaDosamusibah, #bencana, #malapetaka, #datang, #turun, #tiba, #maksiyat, #maksiat, #tobat, #taubat, #angkat, #diangkat