, ,

ALQURAN PENYEMBUH SEGALA PENYAKIT

ALQURAN PENYEMBUH SEGALA PENYAKIT
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
ALQURAN PENYEMBUH SEGALA PENYAKIT
 
 
وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلۡقُرۡءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٞ وَرَحۡمَةٞ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارٗا ٨٢
 
“Dan Kami turunkan dari Alquran suatu yang menjadi penyembuh, dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Dan Alquran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” [QS. Al-Isra`: 82)
 
Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat
نُنَزِّلُ
“Kami turunkan.”
 
Jumhur Ahli Qiraah membacanya dengan diawali nun dan bertasydid. Adapun Abu ‘Amr membacanya dengan tanpa tasydid (نُنْزِلُ). Sedangkan Mujahid membacanya dengan diawali huruf ya` dan tanpa tasydid (يُنْزِلُ). Al-Marwazi juga meriwayatkan demikian dari Hafs. [Tafsir Al-Qurthubi, 10/315 dan Fathul Qadir, Asy-Syaukani, 3/253]
 
مِنَ ٱلۡقُرۡءَانِ
 
“Dari Alquran.”
 
Kata min (مِنْ) dalam ayat ini, menurut pendapat yang rajih (kuat), menjelaskan jenis dan spesifikasi yang dimiliki Alquran. Kata min di sini tidak bermakna “sebagian”, yang mengesankan bahwa di antara ayat-ayat Alquran, ada yang tidak termasuk syifa` (penawar), sebagaimana yang dirajihkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah.
 
Kata min pada ayat ini seperti halnya yang terdapat dalam firman-Nya:
 
وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسۡتَخۡلِفَنَّهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ
 
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi…” [QS. An-Nur: 55)
 
Kata min dalam lafal tidaklah bermakna sebagian, sebab mereka seluruhnya adalah orang-orang yang beriman dan beramal saleh. [Lihat Tafsir al-Qurthubi, 10/316, Fathul Qadir, 3/253, dan at-Thibb an-Nabawi, Ibnul Qayyim, hal. 138]
 
شِفَآءٞ
“Penyembuh.”
Penyembuh yang dimaksud di sini meliputi penyembuh atas segala penyakit, baik rohani maupun jasmani, sebagaimana yang akan dijelaskan dalam tafsirnya.
 
Penjelasan Tafsir Ayat
 
Ibnu Katsir rahimahullah berkata:
“Allah ‘azza wa jalla mengabarkan tentang kitab-Nya yang diturunkan kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Alquran, yang tidak terdapat kebatilan di dalamnya, baik dari sisi depan maupun belakang, yang diturunkan dari Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji, bahwa sesungguhnya Alquran itu merupakan penyembuh dan rahmat bagi kaum Mukminin. Yaitu menghilangkan segala hal berupa keraguan, kemunafikan, kesyirikan, penyimpangan, dan penyelisihan yang terdapat dalam hati. Alquran-lah yang menyembuhkan itu semua.
 
Di samping itu, ia (Alquran) merupakan rahmat, yang dengannya membuahkan keimanan, hikmah, mencari kebaikan, dan mendorong untuk melakukannya. Hal ini tidaklah didapatkan, kecuali oleh orang yang mengimani, membenarkan, serta mengikutinya. Bagi orang yang seperti ini, Alquran akan menjadi penyembuh dan rahmat.
 
Adapun orang kafir yang menzalimi dirinya sendiri, maka tatkala mendengarkan Alquran tidaklah bertambah baginya, melainkan semakin jauh dan semakin kufur. Dan sebab ini ada pada orang kafir itu, BUKAN pada Alqurannya. Seperti firman Allah ‘azza wa jalla:
 
قُلۡ هُوَ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ هُدٗى وَشِفَآءٞۚ وَٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ فِيٓ ءَاذَانِهِمۡ وَقۡرٞ وَهُوَ عَلَيۡهِمۡ عَمًىۚ أُوْلَٰٓئِكَ يُنَادَوۡنَ مِن مَّكَانِۢ بَعِيدٖ ٤٤
 
“Katakanlah: ‘Alquran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Alquran itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh’.” [QS. Fushshilat: 44)
 
Dan Allah ‘azza wa jalla juga berfirman:
 
وَإِذَا مَآ أُنزِلَتۡ سُورَةٞ فَمِنۡهُم مَّن يَقُولُ أَيُّكُمۡ زَادَتۡهُ هَٰذِهِۦٓ إِيمَٰنٗاۚ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ فَزَادَتۡهُمۡ إِيمَٰنٗا وَهُمۡ يَسۡتَبۡشِرُونَ ١٢٤ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ فَزَادَتۡهُمۡ رِجۡسًا إِلَىٰ رِجۡسِهِمۡ وَمَاتُواْ وَهُمۡ كَٰفِرُونَ ١٢٥
 
“Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: ‘Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?’ Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira.
 
Adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir.” [QS At-Taubah: 124-125]
 
Dan masih banyak ayat yang menjelaskan tentang hal ini.” [Tafsir Ibnu Katsir, 3/60)
 
Al-’Allamah Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata pula dalam menjelaskan ayat ini:
 
“Alquran mengandung penyembuh dan rahmat. Dan ini tidak berlaku untuk semua orang, namun hanya bagi kaum Mukminin yang membenarkan ayat-ayat-Nya dan berilmu dengannya. Adapun orang-orang zalim yang tidak membenarkan dan tidak mengamalkannya, maka ayat-ayat tersebut tidaklah menambah baginya, kecuali kerugian. Karena hujjah telah ditegakkan kepadanya dengan ayat-ayat itu.
 
Penyembuhan yang terkandung dalam Alquran bersifat umum, meliputi penyembuhan hati dari berbagai syubhat, kejahilan, berbagai pemikiran yang merusak, penyimpangan yang jahat, dan berbagai tendensi yang batil. Sebab ia (Alquran) mengandung ilmu yakin, yang dengannya akan musnah setiap syubhat dan kejahilan. Ia merupakan pemberi nasihat serta peringatan, yang dengannya akan musnah setiap syahwat yang menyelisihi perintah Allah ‘azza wa jalla. Di samping itu, Alquran juga menyembuhkan jasmani dari berbagai penyakit.
 
Adapun rahmat, maka sesungguhnya di dalamnya terkandung sebab-sebab dan sarana untuk meraihnya. Kapan saja seseorang melakukan sebab-sebab itu, maka dia akan menang dengan meraih rahmat dan kebahagiaan yang abadi, serta ganjaran kebaikan, cepat ataupun lambat.” [Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 465]
 
Alquran Menyembuhkan Penyakit Jasmani
 
Suatu hal yang menjadi keyakinan setiap Muslim, bahwa Alquranul Karim diturunkan Allah ‘azza wa jalla untuk memberi petunjuk kepada setiap manusia, menyembuhkan berbagai penyakit hati yang menjangkiti manusia, bagi mereka yang diberi hidayah oleh Allah ‘azza wa jalla dan dirahmati-Nya. Namun apakah Alquran dapat menyembuhkan penyakit jasmani?
 
Dalam hal ini, para ulama menukilkan dua pendapat: Ada yang mengkhususkan penyakit hati. Ada pula yang menyebutkan penyakit jasmani dengan cara meruqyah, ber-ta’awudz, dan semisalnya. Ikhtilaf ini disebutkan al-Qurthubi dalam Tafsir-nya. Demikian pula disebutkan asy-Syaukani dalam Fathul Qadir, lalu beliau berkata: “Dan tidak ada penghalang untuk membawa ayat ini kepada dua makna tersebut.” [Fathul Qadir, 3/253]
 
Pendapat ini semakin ditegaskan Syaikhul Islam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Zadul Ma’ad:
 
“Alquran adalah penyembuh yang sempurna dari seluruh penyakit hati dan jasmani, demikian pula penyakit dunia dan Akhirat. Dan tidaklah setiap orang diberi keahlian dan taufik untuk menjadikannya sebagai obat. Jika seorang yang sakit konsisten berobat dengannya, dan meletakkan pada sakitnya dengan penuh kejujuran dan keimanan, penerimaan yang sempurna, keyakinan yang kokoh, dan menyempurnakan syaratnya, niscaya penyakit apapun tidak akan mampu menghadapinya selama-lamanya.
 
Bagaimana mungkin penyakit tersebut mampu menghadapi firman Dzat yang memiliki langit dan bumi? Jika diturunkan kepada gunung, maka ia akan menghancurkannya. Atau diturunkan kepada bumi, maka ia akan membelahnya. Maka tidak satu pun jenis penyakit, baik penyakit hati maupun jasmani, melainkan dalam Alquran ada cara yang membimbing kepada obat dan sebab (kesembuhan)nya.” [Zadul Ma’ad, 4/287]
 
Berikut ini kami sebutkan beberapa riwayat berkenaan tentang pengobatan dengan Alquran.
 
Di antaranya adalah apa yang diriwayatkan Al-Bukhari, Muslim, dan lainnya dari hadis ‘Aisyah radhiallahu ‘anha. Beliau radhiallahu ‘anha berkata: “Adalah Rasulullah ﷺ terkena sihir [1], sehingga beliau ﷺ menyangka, bahwa beliau ﷺ mendatangi istrinya, padahal tidak mendatanginya.
 
Lalu beliau ﷺ berkata: ‘Wahai ‘Aisyah, tahukah kamu, bahwa Allah ‘azza wa jalla telah mengabulkan permohonanku? Dua lelaki telah datang kepadaku. Kemudian salah satunya duduk di sebelah kepalaku dan yang lain di sebelah kakiku.
Yang di sisi kepalaku berkata kepada yang satunya: ‘Kenapa beliau?’
Dijawab: ‘Terkena sihir.’
Yang satu bertanya: ‘Siapa yang menyihirnya?’
Dijawab: ‘Labid bin Al-A’sham, lelaki dari Banu Zuraiq sekutu Yahudi. Ia seorang munafik.’
(Yang satu) bertanya: ‘Dengan apa?’
Dijawab: ‘Dengan sisir, rontokan rambut.’
(Yang satu) bertanya: ‘Di mana?’
Dijawab: ‘Pada mayang korma jantan di bawah batu yang ada di bawah sumur Dzarwan’.”
Aisyah radhiallahu ‘anha lalu berkata: “Nabi ﷺ lalu mendatangi sumur tersebut hingga beliau ﷺ mengeluarkannya.
Beliau ﷺ lalu berkata: ‘Inilah sumur yang aku diperlihatkan seakan-akan airnya adalah air daun pacar dan pohon kormanya seperti kepala-kepala setan’. Lalu dikeluarkan.
Aku bertanya: ‘Mengapa engkau tidak mengeluarkannya (dari mayang korma jantan tersebut, pen.)?’
Beliau ﷺ menjawab: ‘Demi Allah, sungguh Allah telah menyembuhkanku dan aku membenci tersebarnya kejahatan di kalangan manusia’.”
 
[Hadis ini diriwayatkan al-Bukhari dalam Shahih-nya (kitab at-Thib, bab Hal Yustakhrajus Sihr? jilid 10, no. 5765, bersama al-Fath). Juga dalam Shahih-nya (kitab al-Adab, bab Innallaha Ya`muru bil ‘Adl, jilid 10, no. 6063]
 
[Juga diriwayatkan oleh al-Imam asy-Syafi’i sebagaimana yang terdapat dalam Musnad asy-Syafi’i (2/289, dari Syifa`ul ‘Iy), al-Asfahani dalam Dala`ilun Nubuwwah (170/210), dan al-Lalaka`i dalam Syarah Ushul ‘azza wa jalla’tiqad Ahlis Sunnah (2/2272)]. Namun ada tambahan bahwa ‘Aisyah berkata: “Dan turunlah (firman Allah ‘azza wa jalla):
 
قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلۡفَلَقِ ١ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ ٢
 
Hingga selesai bacaan surah tersebut.”
 
Demikian pula yang diriwayatkan al-Imam Bukhari rahimahullah dalam Shahihnya, dari hadis Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu, beliau berkata:
“Sekelompok [2] sahabat Nabi berangkat dalam suatu perjalanan yang mereka tempuh. Singgahlah mereka di sebuah kampung Arab. Mereka pun meminta agar dijamu sebagai tamu, namun penduduk kampung tersebut enggan menjamu mereka.
 
Selang beberapa waktu kemudian, pemimpin kampung tersebut terkena sengatan (kalajengking). Penduduk kampung tersebut pun berusaha mencari segala upaya penyembuhan, namun sedikit pun tak membuahkan hasil. Sebagian mereka ada yang berkata: ‘Kalau sekiranya kalian mendatangi sekelompok orang itu (yaitu para sahabat), mungkin sebagian mereka ada yang memiliki sesuatu.’
 
Mereka pun mendatanginya, lalu berkata: “Wahai rombongan, sesungguhnya pemimpin kami tersengat (kalajengking). Kami telah mengupayakan segala hal, namun tidak membuahkan hasil. Apakah salah seorang di antara kalian memiliki sesuatu?
 
Sebagian sahabat menjawab: ‘Iya. Demi Allah, aku bisa meruqyah. Namun demi Allah, kami telah meminta jamuan kepada kalian, namun kalian tidak menjamu kami. Maka aku tidak akan meruqyah untuk kalian, hingga kalian memberikan upah kepada kami.’
 
Mereka pun setuju untuk memberi upah beberapa ekor kambing [3]. Maka dia (salah seorang sahabat) pun meludahinya dan membacakan atas pemimpin kaum itu Alhamdulillahi rabbil ‘alamin (al-Fatihah). Pemimpin kampung tersebut pun merasa terlepas dari ikatan, lalu dia berjalan tanpa ada gangguan lagi.
Mereka lalu memberikan upah sebagaimana telah disepakati.
 
Sebagian sahabat berkata: ‘Bagilah.’
 
Sedangkan yang meruqyah berkata: ‘Jangan kalian lakukan, hingga kita menghadap Rasulullah ﷺ lalu kita menceritakan kepadanya apa yang telah terjadi. Kemudian menunggu apa yang beliau ﷺ perintahkan kepada kita.’
 
Mereka pun menghadap Rasulullah ﷺ kemudian melaporkan hal tersebut.
 
Maka beliau ﷺ bersabda: ‘Tahu dari mana kalian bahwa itu (al-Fatihah, pen.) memang ruqyah?’
 
Lalu beliau ﷺ berkata: ‘Kalian telah benar. Bagilah (upahnya) dan berilah untukku bagian bersama kalian’, sambil beliau ﷺ tertawa.”
 
Adapun hadis yang diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
 
“Sebaik-baik obat adalah Alquran.”
 
Dan hadis:
 
الْقُرْءآنُ هُوَ الدَّوَاءُ
 
“Alquran adalah obat.”
Keduanya adalah hadis yang Dhaif, telah dilemahkan oleh al-Allamah al-Albani rahimahullah dalam Dha’if al-Jami’ ash-Shagir, no. 2885 dan 4135.
 
Membuka Klinik Ruqyah
 
Di antara penyimpangan terkait dengan ruqyah adalah menjadikannya sebagai profesi, seperti halnya dokter atau bidan yang membuka praktik khusus. Ini merupakan amalan yang menyelisihi metode ruqyah di zaman Rasulullah ﷺ.
 
Asy-Syaikh Saleh Alus Syaikh berkata ketika menyebutkan beberapa penyimpangan dalam meruqyah:
 
“Pertama, dan yang paling besar (kesalahannya), adalah menjadikan bacaan (untuk penyembuhan) atau ruqyah sebagai sarana untuk mencari nafkah, di mana dia memfokuskan diri secara penuh untuk itu. Memang telah dimaklumi, bahwa manusia membutuhkan ruqyah. Namun memfokuskan diri untuk itu, bukanlah bagian dari petunjuk para sahabat di masanya. Padahal di antara mereka ada yang sering meruqyah. Namun bukan demikian petunjuk para sahabat dan tabi’in. (Menjadikan meruqyah sebagai profesi) baru muncul di masa-masa belakangan.
 
Petunjuk Salaf dan bimbingan as-Sunnah dalam meruqyah adalah seseorang memberikan manfaat kepada saudara-saudaranya, baik dengan upah ataupun tidak. Namun janganlah dia memfokuskan diri dan menjadikannya sebagai profesi seperti halnya dokter yang mengkhususkan dirinya (pada perkara ini). Ini baru dari sudut pandang bahwa hal tersebut tidak terdapat (contohnya) pada zaman generasi pertama.
 
Demikian pula dari sisi lainnya. Apa yang kami saksikan pada orang-orang yang mengkhususkan diri (dalam meruqyah) telah menimbulkan banyak hal terlarang. Siapa yang mengkhususkan dirinya untuk meruqyah, niscaya engkau mendapatinya memiliki sekian penyimpangan. Sebab dia butuh prasyarat-prasyarat tertentu yang harus dia tunaikan dan yang harus dia tinggalkan. Serta ‘menjual’ tanpa petunjuk.
 
Barang siapa meruqyah melalui kaset-kaset, suara-suara, di mana dia membaca di sebuah kamar, sementara speaker berada di kamar yang lain, dan yang semisalnya, merupakan hal yang menyelisihi nash. Ini sepantasnya dicegah untuk menutup pintu (penyimpangan). Sebab sangat mungkin akan menjurus kepada hal-hal tercela dari para peruqyah yang mempopulerkan perkara-perkara yang terlarang atau yang tidak diperkenankan syariat. [Ar-Ruqa wa Ahkamuha, Asy-Syaikh Saleh Alus Syaikh, hal. 20-21]
 
 
 
Ditulis oleh al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi
 
 
Catatan Kaki:
 
[1] Sebagian para pengekor hawa nafsu dari kalangan Orientalis dan Ahli Bid’ah mengingkari hadis yang menjelaskan bahwa Nabi ﷺ pernah terkena sihir, dan berusaha menolaknya dengan berbagai alasan batil. Dan telah kami bantah, walhamdulillah, para penolak hadis ini dalam sebuah kitab yang berjudul “Membedah Kebohongan Ali Umar Al-Habsyi Ar-Rafidhi, Bantahan ilmiah terhadap kitab: Benarkah Nabi Muhammadﷺ pernah tersihir? Dan kami membahas secara rinci menurut ilmu riwayat maupun dirayah hadis. Silakan merujuk kepada kitab tersebut.
[2] Dalam riwayat lain mereka berjumlah 30 orang.
[3] Dalam riwayat lain: 30 ekor kambing, sesuai jumlah mereka.
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#nasihatsahabat #mutiarasunnah #motivasiIslami #petuahulama #hadist #hadits #nasihatulama #fatwaulama #sunnah #aqidah #akidah #dakwahsunnah #Islam #makna, #alquran, #penyembuh, #asysyifa, #ashshifa, #penyembuh, #quranichealing, #penyembuhanalquran, #alQuran, #syubhat, #syahwat, #makna, #arti, #definisi #penyakitdalamdada,#obat, #maksud #nasihatulama #petuahulama #semuapenyakithati #Alquransebagaisyifa #tafsir #penyimpangandalammeruqyah #ruqyah #alquranpenyembuhsegalapenyakit #rukyah obat, #sembuhkan
, , ,

MAKNA ALQURAN SEBAGAI PENYEMBUH

MAKNA ALQURAN SEBAGAI PENYEMBUH
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
MAKNA ALQURAN SEBAGAI PENYEMBUH
 
Pertanyaan:
Mohon penjelasan maksud tafsir “Penyembuh” dalam Alquran Surat Yunus(10):57 dan Surat Fussilat (41):44?
 
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
 
Kita akan simak ayatnya,
 
Di Surat Yunus, Allah berfirman:
 
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ
 
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. [QS. Yunus: 57]
 
Indah sekali, Allah sebut Alquran sebagai,
1. Mau’idzah (nasihat) dari Rabb kita
2. Syifa’ (penyembuh) bagi penyakit hati
3. Huda (sumber petunjuk)
4. Rahmat bagi orang yang beriman.
 
Ibnu Katsir mengatakan:
 
“وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ” أي: من الشُبَه والشكوك، وهو إزالة ما فيها من رجس ودَنَس
 
“Syifa bagi penyakit-penyakit dalam dada” artinya, penyakit syubhat, keraguan. Hatinya dibersihkan dari setiap najis dan kotoran.” [Tafsir Ibnu Katsir, 4/274]
 
Di ayat lain, Allah berfirman:
قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آَمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ وَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ فِي آَذَانِهِمْ وَقْرٌ
 
Katakanlah: “Alquran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang Mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan. [QS. Fushilat: 44]
 
Makna dua ayat ini saling melengkapi. Keterangan global di Surat Fushilat didetailkan dengan keterangan di Surat Yunus. Sehingga yang dimaksud Alquran sebagai syifa bagi orang yang beriman, adalah OBAT BAGI SEGALA PENYAKIT HATI.
 
Kita simak keterangan Imam as-Sa’di:
 
ALQURAN ADALAH PENYEMBUH BAGI SEMUA PENYAKIT HATI, baik berupa penyakit syahwat yang menghalangi manusia untuk taat kepada syariat, atau penyakit syubuhat, yang mengotori akidah dan keyakinan. Karena dalam Alquran terdapat nasihat, motivasi, peringatan, janji, dan ancaman, yang akan memicu perasaan harap dan sekaligus takut, bagi para hamba.
 
Jika muncul dalam perasaannya, motivasi untuk berbuat baik, dan rasa takut untuk maksiat, dan itu terus berkembang karena selalu mengaji makna Alquran, itu akan membimbing dirinya untuk lebih mendahulukan perintah Allah dari pada bisikan nafsunya. Sehingga dia menjadi hamba yang lebih mencari rida Allah dari pada nafsu syahwatnya.
 
Demikian pula berbagai hujjah dan dalil yang Allah sebutkan dengan sangat jelas, ini akan menghilangkan setiap kerancuan berfikir yang menghalangi kebenaran masuk dalam dirinya, dan mengotori akidahnya, sehingga hatinya sampai pada puncak derajat keyakinan.
 
Ketika hati itu sehat, tidak banyak berisi penyakit syahwat dan syubhat, keadaannya akan diikuti oleh anggota badannya. Karena anggota badan akan jadi baik, disebabkan kebaikan hati. Dan menjadi rusak, disebabkan rusaknya hati. [Tafsir as-Sa’di, hlm. 366]
 
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#makna, #alquran, #penyembuh, #asy syifa, #ash shifa, #penyembuh, #quranichealing, #penyembuhanalquran, #alQuran, #syubhat, #syahwat, #makna, #arti, #definisi #penyakitdalamdada,obat, #maksud #nasihatulama #petuahulama #semuapenyakithati #Alquransebagaisyifa
, ,

HIDAYAH HANYA MILIK ALLAH

HIDAYAH-HANYA-MILIK-ALLAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
HIDAYAH HANYA MILIK ALLAH
 
Dalam shirah Nabi ﷺ dijelaskan, bahwa paman Nabi ﷺ, Abu Thalib, biasa melindungi Nabi ﷺ dari gangguan kaumnya. Perlindungan yang diberikan ini tidak ada yang menandinginya. Oleh karenanya Nabi ﷺ mengharapkan hidayah itu datang pada pamannya. Saat menjeleng wafatnya, Nabi ﷺ menjenguk pamannya tersebut dan ingin menawarkan pamannya masuk Islam. Beliau ﷺ ingin agar pamannya bisa menutupi hidupnya dengan kalimat “Laa ilaha illallah” karena kalimat inilah yang akan membuka pintu kebahagiaan di Akhirat. Berikut kisah yang disebutkan dalam hadis.
 
Dari Ibnul Musayyib, dari ayahnya, ia berkata: “Ketika menjelang Abu Thalib (paman Nabi ﷺ) meninggal dunia, Rasulullah ﷺ menemuinya. Ketika itu di sisi Abu Thalib terdapat ‘Abdullah bin Abu Umayyah dan Abu Jahl. Ketika itu Nabi ﷺ mengatakan pada pamannya:
أَىْ عَمِّ ، قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ . كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ
 
“Wahai pamanku, katakanlah ‘Laa ilaha illalah’, yaitu kalimat yang aku nanti bisa beralasan di hadapan Allah (kelak).”
 
Abu Jahl dan ‘Abdullah bin Abu Umayyah berkata:
 
يَا أَبَا طَالِبٍ ، تَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ
 
“Wahai Abu Thalib, apakah engkau tidak suka pada agamanya Abdul Muthallib?” Mereka berdua terus mengucapkan seperti itu, namun kalimat terakhir yang diucapkan Abu Thalib adalah ia berada di atas ajaran Abdul Mutthalib.
 
Rasulullah ﷺ kemudian mengatakan:
لأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْهُ
 
“Sungguh aku akan memohonkan ampun bagimu wahai pamanku, selama aku tidak dilarang oleh Allah.”
 
Kemudian turunlah ayat:
 
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ
 
“Tidak pantas bagi seorang Nabi dan bagi orang-orang yang beriman, mereka memintakan ampun bagi orang-orang yang musyrik, meskipun mereka memiliki hubungan kekerabatan, setelah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu adalah penghuni Neraka Jahanam.” [QS. At-Taubah: 113]
 
Allah ta’ala pun menurunkan ayat:
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ
 
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak bisa memberikan hidayah (ilham dan taufik) kepada orang-orang yang engkau cintai.” [QS. Al-Qasshash: 56] [HR. Bukhari no. 3884] 
 
Dari pembahasan hadis di atas dapat disimpulkan hidayah itu ada dua macam:
 
1. Hidayah Irsyad Wa Dalalah, maksudnya adalah hidayah berupa memberi petunjuk pada orang lain.
2. Hidayah Taufik, maksudnya adalah hidayah untuk membuat seseorang itu taat pada Allah.
 
Hidayah pertama bisa disematkan pada manusia. Contohnya pada firman Allah:
وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
 
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” [QS. Asy-Syura: 52] Memberi petunjuk yang dimaksud di sini adalah memberi petunjuk berupa penjelasan. Ini bisa dilakukan oleh Nabi dan yang lainnya.
 
Namun untuk hidayah kedua, yaitu hidayah supaya bisa beramal dan taat, TIDAK dimiliki kecuali hanya Allah saja. Seperti dalam firman Allah ta’ala:
 
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ
 
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak bisa memberikan hidayah (ilham dan taufik) kepada orang-orang yang engkau cintai.” [QS. Al-Qasshash: 56]
 
Allah ta’ala berfirman:
لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ
 
“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufik) siapa yang dikehendaki-Nya.” [QS. Al-Baqarah: 272] [Lihat bahasan Taisir Al-‘Aziz Al-Hamid, 1: 618 dan Hasyiyah Kitab At-Tauhid, hlm. 141]
 
Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
, ,

FAIDAH SURAT YASIN: PENDAKWAH HANYA MENYAMPAIKAN, HIDAYAH MILIK ALLAH

FAIDAH SURAT YASIN: PENDAKWAH HANYA MENYAMPAIKAN, HIDAYAH MILIK ALLAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
FAIDAH SURAT YASIN: PENDAKWAH HANYA MENYAMPAIKAN, HIDAYAH MILIK ALLAH
 
Ingatlah, pendakwah hanya menyampaikan, sedangkan pemberi hidayah adalah Allah.
 
Mari kita ambil pelajaran dari bahasan surat Yasin berikut, yang rata-rata sudah dihafalkan oleh kaum muslimin di negeri kita.
 
Tafsir Surah Yasin Ayat 13-17
 
وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلًا أَصْحَابَ الْقَرْيَةِ إِذْ جَاءَهَا الْمُرْسَلُونَ (13) إِذْ أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوا إِنَّا إِلَيْكُمْ مُرْسَلُونَ (14) قَالُوا مَا أَنْتُمْ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُنَا وَمَا أَنْزَلَ الرَّحْمَنُ مِنْ شَيْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَكْذِبُونَ (15) قَالُوا رَبُّنَا يَعْلَمُ إِنَّا إِلَيْكُمْ لَمُرْسَلُونَ (16) وَمَا عَلَيْنَا إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ (17)
 
“Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka.
(yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya. Kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang diutus kepadamu.”
Mereka menjawab: “Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatu pun. Kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka.”
Mereka berkata: “Rabb kami mengetahui, bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu.”
Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas.” [QS. Yasin: 13-17]
 
Penjelasan Ayat
 
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan permisalan suatu negeri yang diutus dua orang utusan (rasul). Mereka berdakwah untuk mengajak manusia supaya bisa beribadah pada Allah semata, dan mengikhlaskan ibadah pada-Nya. Mereka pun berdakwah untuk melarang dari kesyirikan dan maksiat.
 
Ada dua orang yang telah diutus, lalu diutus lagi rasul yang ketiga, jadilah ada tiga utusan. Tetap saja dakwah ditolak. Malah kaum yang didakwahi berkata: “Kami juga manusia semisal kalian.” Maksud mereka, apa yang membuat para rasul lebih unggul daripada mereka, padahal sama-sama rasul juga manusia. Namun para Rasul mengatakan pada umatnya:
 
قَالَتْ لَهُمْ رُسُلُهُمْ إِنْ نَحْنُ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَمُنُّ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ
 
“Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka: “Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya.” [QS. Ibrahim: 11]
 
Kaum tersebut intinya masih mengingkari wahyu yang diturunkan, dan mereka pun mendustakan para rasul yang diutus. Namun rasul ketiga mengatakan: “Rabb kami Maha Tahu, kalau kami adalah utusan untuk kalian.” Maksudnya, kalau para rasul itu berdusta, tentu mereka akan mendapatkan siksa.
 
Tugas setiap utusan (rasul) hanyalah memberikan penjelasan yang segamblang-gamblangnya sesuai yang diperintahkan. Sedangkan untuk memberikan hukuman bukanlah tugas para rasul. Jika yang dijelaskan itu diterima, maka itu adalah taufik dari Allah. Jika tidak diterima dan yang didakwahi tetap dalam keadaan belum mendapat hidayah, maka rasul utusan tidak bisa bertindak apa-apa.” [Tafsir As-Sa’di, hlm. 734-735]
 
Ibnu Katsir rahimahullah berkata:
 
يقولون إنما علينا أن نبلغكم ما أرسلنا به إليكم، فإذا أطعتم كانت لكم السعادة في الدنيا والآخرة، وإن لم تجيبوا فستعلمون غِبَّ ذلك ،والله أعلم.
 
“Utusan itu berkata: Sesungguhnya kami hanyalah menyampaikan apa yang mesti disampaikan pada kalian. Jika kalian taat, maka kebahagiaan bagi kalian di dunia dan Akhirat. Jika tidak mau mengikuti, kalian pun sudah tahu akibat jelek di balik itu semua. Wallahu a’lam.” [Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 333]
 
Pelajaran lain yang bisa diambil dari ayat di atas:
 
1. Baiknya memberikan perumpamaan ketika memberikan penjelasan. Dalam ayat yang dibahas dijelaskan, bahwa kalau Nabi Muhammad ﷺ ditolak dakwahnya. Mmaka itu juga terjadi untuk rasul atau utusan yang lain.
 
2. Orang kafir sama miripnya dilihat dari zaman dan tempat, sama-sama sulit menerima kebenaran.
 
3. Orang kafir telah diberikan peringatan dan penjelasan. Jika menolak, mereka akan mendapatkan siksa. [Aysar At-Tafasir, 4:370]
Allah ta’ala berfirman:

لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufik) kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” [QS. Al-Baqarah: 272] [Lihat bahasan Taisir Al-‘Aziz Al-Hamid, 1: 618 dan Hasyiyah Kitab At-Tauhid, hlm. 141]

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.



 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#kewajibankitahanyamengingatkan, #tugasmuhanyamenyampaikan, #kewajibanhanyamenyampaikan, #pendakwah, #bukanlahpekerjaan, #petunjukhanyaMilikAllah #hidayahhanyamilikAllah, #faidahsuratYasin, #pendakwahhanyamenyampaikan #hidayahmilikAllah #taufik #taufiq #milikAllahsaja #faedahsuratYasin #faidah #faedah #tukangdakwah #jurudakwah #ustadz #hidayahbukanmilikkita #Islam #sunnah #Islam #Alquran #SuratYasin #QSYasi
, ,

JANGAN MUDAH MEMUTUSKAN “INI HALAL DAN ITU HARAM”

JANGAN MUDAH MEMUTUSKAN “INI HALAL DAN ITU HARAM”

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

#SayNoToBidah, #MutiaraTafsir

JANGAN MUDAH MEMUTUSKAN “INI HALAL DAN ITU HARAM”

>> Seorang Hamba Tidak Boleh Mengatakan Halal atau Haram, Kecuali Setelah Mengetahui, Bahwa Allah Menghalalkan atau Mengharamkannya

 

Allah ﷻ berfirman:

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit, dan bagi mereka azab yang pedih. [QS An-Nahl /16 : 116-117]

Penjelasan Ayat

Budaya Jahiliyah, Mengatur Penetapan Hukum dengan Hawa Nafsu

Budaya bangsa Jahiliyah yang berlawanan dengan ajaran Islam sungguh banyak. Islam datang untuk MENGHAPUSKANNYA, supaya umat manusia selalu berada di atas fitrah penciptaannya.

Ayat di atas membicarakan salah satu dari sekian banyak budaya jahiliyyah yang berkembang di tengah masyarakat zaman dulu, sebelum akhirnya terhapus syariat Muhammad ﷺ. Yakni, mengharamkan dan menghalalkan sesuatu tanpa mengindahkan. dan tanpa merujuk kepada wahyu Ilahi. maupun ketetapan-ketetapan hukum samawi lainnya yang berasal dari Allah ﷻ, Yang Maha Mengetahui kemaslahatan seluruh makhluk. Padahal mereka mengklaim sebagai para penganut ajaran Nabi Ibraahim Alaihissallam. Sehingga Allah ﷻ melarang umat Islam mengikuti jalan kaum musyrikin tersebut. [Tafsirul-Qur`anil-‘Azhim (4/609), Aisarut-Tafasir (1/326)]

Realita yang terjadi, mereka mengharamkan hal-hal yang dihalalkan, dan sebaliknya, menghalalkan hal-hal yang diharamkan oleh Allah al-Khaaliq. Mereka menetapkan hukum-hukum halal dan haram sesuai dengan hawa nafsunya. Dengan tindakan ini, mereka telah melakukan iftira ‘alallah ta’ala (kedustaan atas nama Allah ta’ala).

Allah ﷻ telah menjelaskan substansi ayat di atas melalui beberapa ayat lainnya. Di antaranya:

قُلْ هَلُمَّ شُهَدَاءَكُمُ الَّذِينَ يَشْهَدُونَ أَنَّ اللَّهَ حَرَّمَ هَٰذَا ۖ فَإِنْ شَهِدُوا فَلَا تَشْهَدْ مَعَهُمْ

Katakanlah: “Bawalah kemari saksi-saksi kamu yang dapat memersaksikan, bahwasanya Allah telah mengharamkan (makanan yang kamu) haramkan ini”. Jika mereka memersaksikan, maka janganlah kamu ikut (pula) menjadi saksi bersama mereka… [QS Al-An’am/6 : 150]

Allah ﷻ berfirman:

قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ لَكُمْ مِنْ رِزْقٍ فَجَعَلْتُمْ مِنْهُ حَرَامًا وَحَلَالًا قُلْ آللَّهُ أَذِنَ لَكُمْ ۖ أَمْ عَلَى اللَّهِ تَفْتَرُونَ

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal”. Katakanlah: “Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini), atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?” [QS.Yunus/10 : 59].

Pengertian ayat ini (QS. An-Nahl/16 ayat 116-117) akan kian jelas, dengan memerhatikan ayat sebelumnya. Bahwasanya Allah ﷻ memerintahkan agar mereka memakan makanan-makanan yang baik-baik lagi halal. Allah ﷻ berfirman:

فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاشْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu. Dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah. [QS. An-Nahl/16 : 114].

Selanjutnya, Allah ﷻ menjelaskan hal-hal yang diharamkan atas diri mereka dalam ayat berikutnya:

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ ۖ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah. Tetapi barang siapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS. An Nahl/16 : 115].

Kenyataannya justru tidak sejalan dengan apa yang telah dinyatakan oleh Allah al-Hakam (Dzat Yang Maha Menentukan hukum) dalam ayat tersebut. Mereka justru menghalalkan bangkai, darah dan binatang-binatang yang mereka sembelih tanpa dengan menyebut nama Allah ta’ala. Dan sebaliknya, mereka mengharamkan pemanfaatan binatang-binatang, baik untuk dikonsumsi maupun sebagai tunggangan, yang sebenarnya dihalalkan bagi umat manusia.

Sebagai contoh, sebagaimana tertuang dalam firman Allah ta’ala berikut ini:

مَا جَعَلَ اللَّهُ مِنْ بَحِيرَةٍ وَلَا سَائِبَةٍ وَلَا وَصِيلَةٍ وَلَا حَامٍ ۙ وَلَٰكِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۖ وَأَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ

Allah sekali-kali tidak pernah mensyariatkan adanya Bahirah, Saibah, Washilah dan Ham. Akan tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti. [QS. Al-Ma`idah/5:103] [Bahirah, Saibah, Washilah dan Ham, adalah sebutan untuk hewan ternak dalam kondisi tertentu. Kaum Jahiliyah mengharamkan pemanfaatannya sama sekali. Tentang makna istilah-istilah di atas, lihat footnote Alquran Terjemah yang diterbitkan Departemen Agama RI pada ayat tersebut. Contoh sikap pengharaman lainnya, silahkan lihat QS. al-An’am/6 ayat 138, 139, 140].

Demikianlah, konsep halal-haram di mata orang-orang Jahiliyyah pada masa lalu. Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menyatakan, yang menjadi biang keladi dalam masalah ini, ialah karena adanya perangkap nafsu dan syahwat serta doktrin tokoh-tokoh besar mereka [Lihat kitab al-Ath’imah wa Ahkamish Shaidi wadz-Dzaba`ih, karya Syaikh Dr. Shalih al-Fauzan, Maktabah al-Ma’arif, Riyadh, Cetakan II, Tahun 1419H-1999M, hlm. 26].

Ringkasnya, permulaan ayat ini MELARANG seseorang untuk menjatuhkan penilaian tentang halal dan haram terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak dihalalkan atau diharamkan oleh Allah ﷻ. Karena hal itu merupakan kedustaan dan kebohongan dengan mengatasnamakan Allah ta’ala. [Taisirul-Karimir-Rahman (451), al-Jalalain, hlm. 575]

Melebihi Kesalahan Perbuatan Syirik

Tak diragukan, perbuatan syirik merupakan perbuatan dosa yang sangat besar, dan merupakan kesalahan sangat fatal. Perbuatan syirik ini lantaran mengandung perbuatan yang menyamakan antara al-Khaaliq Yang Maha Sempurna dari segala sisi, dengan makhluk yang sarat dengan segala kelemahan dari setiap sisi. Namun telah diberitakan oleh Allah ﷻ, bahwa ada dosa yang lebih tinggi derajat keburukannya dibandingkan syirik. Dosa itu ialah berdusta atas nama Allah ﷻ. Karena, sebenarnya, seluruh maksiat berawal dari kedustaan atas nama Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman:

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Katakanlah: “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) memersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu, dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah, apa saja yang tidak kamu ketahui”. [QS. Al-An’am/7:33].

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan: “Allah mengharamkan berkata atas nama Allah tanpa dasar ilmu dalam urusan fatwa atau hukum pengadilan. Dia mengategorikannya termasuk perkara haram yang terbesar. Bahkan menempatkannya di urutan pertama [I’lamul-Muwaqqi’in, 2/73]. Karena urutan perkara-perkara yang diharamkan dalam ayat di atas secara at-ta’ali (dari urutan rendah menuju peringkat terparah) [At-Ta’alum wa Atsaruhu ‘alal Fikri wal-Kitab, Dr. Bakr Abu Zaid, Darul-‘Ashimah, Cetakan IV, Tahun 1418 H].

Pangkal Dari Suatu Musibah

Gejala memrihatinkan ini jelas berpangkal dari faktor tertentu, bukan merupakan peristiwa yang terjadi begitu saja tanpa sebab-musabab. Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah menunjuk fenomena at-ta’alum (sok pintar) sebagai faktor utama. Yakni, sifat merasa lebih mengetahui, merasa memiliki kapabilitas mengeluarkan fatwa atau menjawab, padahal kemampuannya masih sangat jauh dan penuh kekurangan.

Kata Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah: “Sesungguhnya at-ta’alum merupakan pintu masuk menuju ‘Berkata atas nama Allah tanpa dasar ilmu’. Tidak itu saja, ta’alum, keganjilan pendapat, mencari-cari rukhshah, fanatisme buta, semua itu merupakan pintu-pintu menuju kejahatan berkata atas nama Allah tanpa ilmu”. [At-Ta’alum wa Atsaruhu ‘alal Fikri wal-Kitab, Dr. Bakr Abu Zaid, Darul-‘Ashimah, Cetakan IV, Tahun 1418 H]

Berfatwa merupakan kedudukan yang penting. Dalam fatwa ini seseorang mencoba untuk menyelesaikan masalah yang dihadapai seseorang atau masyarakat. Karena kuatnya pengaruh tindakan pemberian fatwa ini, maka tidak ada yang boleh menyampaikan fatwa, kecuali orang-orang yang memang telah mencapai kemampuan ilmiah tertentu. Bukan sembarangan orang. [Kitabul-‘Ilmi, Syaikh al-Utsaimin, ats-Tsurayya, I, 1420-1999, hlm. 75]

Ahli Bid’ah Terancam Oleh Ayat Ini

Imam Ibnu Katsiir rahimahullah berkata: “Termasuk dalam konteks ayat ini, yaitu setiap orang yang melakukan perbuatan bid’ah” [Tafsirul-Qur`anil-‘Azhim, 4/609]. Alasannya sangat jelas. Yakni, mereka menambah-nambahkan sesuatu dengan beranggapan, bahwa semua yang mereka tetapkan merupakan bagian dari agama Islam, setelah mengganggapnya sebagai perbuatan baik, padahal syariat tidak mengatakannya.

Ancaman Berat Terhadap Pelaku yang Berdusta Mengatasnamakan Allah

Manakala suatu perbuatan salah sudah menempati level yang sangat membahayakan, maka tak aneh jika balasannya pun sangat berat. Untuk perbuatan dusta atas nama Allah ta’ala dengan menghalalkan atau mengharamkan secara serampangan, maka Allah ﷻ telah menetapkan balasannya sebagaimana tertera dalam firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

…Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit; dan bagi mereka azab yang pedih. [QS. An Nahl /16:116-117].

Allah ﷻ menyampaikan ancaman terhadap perbuatan dusta yang mengatasnamakan nama-Nya dalam hukum-hukum syari. Juga terhadap pernyataan mereka tentang perkara yang tidak diharamkan “Ini haram”, atau pada perkara yang tidak dihalalkan “Ini halal”. Ayat ini menjadi penjelasan dari Allah ta’ala, bahwa seorang hamba TIDAK BOLEH mengatakan halal atau haram, kecuali setelah mengetahui bahwa Allah menghalalkan atau mengharamkannya [I’lamul-Muwaqqi’iin, 2/ 73-74].

Mereka tidak akan beruntung di dunia maupun di Akhirat. Dan pasti Allah ﷻ akan menampakkan kehinaan mereka. Meskipun mereka menikmati hidup dengan nyaman di dunia ini, akan tetapi itu hanyalah kenikmatan sekejap. Tempat kembali mereka adalah Neraka. Di sana, bagi mereka siksaan yang pedih. [Taisirul-Karimir-Rahman, 451]

Pengendalian Berkata Atas Nama Allah Tanpa Ilmu

Di tengah masyarakat, kita dapat menyaksikan banyak bertebaran fatwa tanpa dasar yang dibenarkan. Anehnya, orang-orang berusaha menahan diri berbicara (berpendapat) dalam disiplin ilmu-ilmu umum di hadapan para ahlinya. Konkritnya, seorang yang bukan dokter merasa tidak nyaman berbicara dalam masalah-masalah kedokteran di hadapan dokter. Atau bukan arsitek merasa tidak nyaman berbicara tentang arsitektur di hadapan seorang insiyur. Namun sikap serupa tidak disaksikan dalam urusan-urusan agama, -sifat merasa lebih mengetahui terlalu menonjol. Padahal mereka meyakini Allah Maha Mendengar segala perkataan, Maha Melihat saat mengeluarkan hukum, penilaian maupun fatwa [Lihat Hasha`idul-Alsun, Syaikh Husain al-‘Awayisyah, Daarul-Hijrah, Cet. I, Th. 1412H-1992M, hlm. 51].

Pendapat-pendapat ganjil pun mengemuka. Bahkan terkadang sangat menggelikan, hingga benar-benar memerlihatkan betapa dangkal ilmu yang dimilikinya. Kekacauan sudah menjalar di mana-mana. Jadi, solusi “Problematika sosial” yang sudah mewabah dan tak bisa dianggap ringan ini, yang juga merupakan solusi bagi seluruh masalah ialah, menanamkan rasa takut kepada Allah ﷻ dan meningkatkan kadar ketakwaan, hingga terbentuk mentalitas wajib menahan diri tidak berbicara atau tidak menjawab, dan tidak mengeluarkan fatwa, jika benar-benar tidak mengetahui apa-apa, atau hanya setengah tahu. Dan hendaklah dimengerti, bahwa Allah-lah yang berhak menetapkan dan menciptakan (al-khalqu wal-amru). Tidak ada pencipta selain-Nya. Tidak ada syariat bagi makhluk selain syariat-Nya. Dia-lah yang berhak mewajibkan sesuatu, mengharamkannya, menganjurkan dan menghalalkan.

Oleh karena itu, jika seseorang ditanya permasalahan yang TIDAK diketahuinya, hendaklah dengan lantang menjawab tanpa malu-malu dan mengatakan “Aku tidak tahu, aku belum tahu, tanya orang lain saja”. Jawaban seperti ini justru menunjukkan kesempurnaan akalnya, kebaikan iman dan ketakwaannya, serta kesopanan di hadapan Allah ﷻ [Kitabul-‘Ilmi, hlm. 77].

Kehati-Hatian Generasi Salaf dalam Masalah Ini [I’lamul-Muwaqqi’in (2/75-77), Adhwa`ul-Bayan (3/347), Riyadhush-Shalihin (Bahjatun-Naazhirin)]

Dahulu, para generasi Ulama Salaf, mereka bersikap wara` (menjaga diri) dalam mengeluarkan pernyataan “Ini halal dan itu haram”, lantaran takut terhadap ayat di atas. Selain itu, ialah untuk menunjukkan tingginya sopan santun mereka di hadapan Allah dan Rasul-Nya ﷺ, yang berhak menetapkan hukum atas umat manusia, padahal mereka mengetahui dalil penghalalan atau pengharamannya dengan jelas.

Imam Maalik rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya dari Qabishah bin Dzuaib, bahwasanya ada seorang lelaki yang bertanya kepada ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu anhu mengenai dua perempuan bersaudara yang sebelumnya berstatus sebagai budak. ‘Utsman radhiyallahu anhu menjawab: “Sebuah ayat menghalalkannya, dan ayat lain telah mengharamkannya. Adapun saya, tidak suka untuk melakukannya” [Isnadnya shahih. Lihat al-Muwaththa (2/538), al-Umm (5/3), al-Baihaqi (7/163). Dinukil dari catatan kaki di I’lamul-Muwaqqi’in, 2/75. Dalam riwayat ini, ‘Utsman Radhiyallahu anhu dengan kehati-hatiannya menisbatkan penghalalan dan pengharaman kepada nash Alquran, bukan kepada dirinya, Pen].

Imam al-Qurthubi rahimahullah meriwayatkan: Ad-Darimi berkata dalam Musnad-nya: Harun telah memberitahukan kepada kami dari Hafsh dari al-A’masy, ia berkata: “Aku belum pernah mendengar Ibrahim (an-Nakha`i) berkata ‘(Ini) halal atau haram,’ akan tetapi ia mengatakan (bila menghukumi): ‘Dahulu, orang-orang tidak menyukainya. Atau, dahulu orang-orang menyukainya’.” [Al-Jami li Ahkamil-Qur`an]

Ibnu Wahb rahimahullah berkata dari Imam Malik rahimahullah: “Tidaklah menjadi kebiasaan orang-orang (sekarang) atau orang-orang yang telah berlalu, juga bukan menjadi kebiasaan orang-orang yang aku ikuti untuk mengatakan ‘Ini halal, itu haram’. Mereka tidak berani untuk melakukannya. Kala itu mereka hanya mengatakan nakrahu kadza (kami tidak menyukainya), naraahu hasanan (kami melihatnya baik), nattaqi hadza (kami menghindarinya), wala nara hadza (kami tidak berpandangan demikian)”.

Dalam riwayat lain: “Mereka tidak mengatakan ‘Ini halal atau haram’. Tidakkah engkau mendengar Allah berfirman (yang artinya):

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal”. Katakanlah: “Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini), atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?” (QS. Yunus/10 : 59), lantas beliau berkata: “Yang halal adalah semua yang dihalalkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Yang haram adalah semua yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya” [I’lamul-Muwaqqi’in, 2].

Dalam kitab Al-Umm, Imam asy-Syafi’i rahimahullah sering mengatakan: Ahabbu ilayya, uhibbu, akrahu dan lafal-lafal semisal lainnya untuk menilai berbagai macam perkara. Wallahu a’lam.

Pelajaran dari Ayat:

1. Haram menetapkan halal dan haram tanpa dasar syari, qath’i maupun zhanni, kecuali yang sudah hampir diyakini sebagai hal yang diharamkan.

2. Haram berdusta atas nama Allah ta’ala.

3. Orang yang berdusta atas nama Allah ta’ala, ia tidak akan beruntung di Akhirat kelak. Sementara di dunia, ia akan dirundung oleh kehinaan.

4. Wajib menjaga lisan dan berhati-hati dalam berbicara.

5. Ahli bid’ah diancam dengan ayat di atas.

Wallahu a’lam

 

Maraaji’:

1. Aisarut-Tafasir, Abu Bakar Jabir al-Jazairi, Maktabah ‘Ulum wal-Hikam, Madinah.

2. Al-Jami li Ahkamil-Qur`an (Tafsir al-Qurthubi), Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Anshari al-Qurthubi, Tahqiq: ‘Abdur-Razzaq al-Mahdi, Darul-Kitabil-‘Arabi, Cetakan IV, Tahun 1422 H – 2001 M.

3. I’laamul Muwaqqi’in ‘An Rabbil ‘Alamin Ibnul Qayyim, Tahqiq: Abu ‘Ubaidah Masyhuur bin Hasan Alu Salmaan Daar, Ibnu Jauzi, Cet. I, Th. 1423H.

4. Kitabul-‘Ilmi, Syaikh al-Utsaimin, ats-Tsurayya, I, 1420H-1999M.

5. Ma’alimut-Tanzil, Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud al-Baghawi, Tahqiq dan Takhrij: Muhammad ‘Abdullah an-Namr, ‘Utsman Jum’ah Dhumairiyyah, dan Sulaiman Muslim al-Kharsy, Dar Thaibah, Tahun 1411 H.

6. Tafsirul-Qur`anil-‘Azhim, al-Hafizh Abul-Fida Isma’il bin ‘Umar bin Katsir al-Qurasyi, Tahqiq: Sami bin Muhammad as-Salamah, Dar Thaibah, Cetakan I, Tahun 1422 H – 2002 M.

7. Taisirul-Karimir-Rahman, ‘Allamah Syaikh Abdur-Rahman bin Nashir as-Sa’di, Darul-Mughni, Riyadh, Cet. I, Th. 1419 H – 1999 M.

 

Penulis: Ustadz Ashim bin Mushthofa hafizahullah

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06-07/Tahun XII/Ramadhan 1429/2008M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

 

Sumber: https://almanhaj.or.id/3346-jangan-mudah-memutuskan-ini-halal-dan-itu-haram.html

,

TAMPAKKANLAH NIKMAT ALLAH

TAMPAKKANLAH NIKMAT ALLAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraTafsir

TAMPAKKANLAH NIKMAT ALLAH

Bagian syukur dari nikmat adalah dengan menampakkan nikmat tersebut secara lahiriyah. Bukan malah kita menjadi orang pelit dan pura-pura “kere” (miskin). Kalau memang Allah beri kelapangan rezeki, nampakkanlah nikmat tersebut pada makanan dan pakaian kita.

Allah ta’ala berfirman:

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

Wa amma binikmati Robbika Fahaddits

Artinya:

“Dan terhadap nikmat Rabb-mu, maka hendaklah kamu siarkan.” [QS. Adh Dhuha: 11].

Berikut ini adalah beberapa pendapat ulama mengenai ayat di atas:

Dari Abu Nadhroh, ia berkata:

كان المسلمون يرون أن من شكر النعم أن يحدّث بها.

“Dahulu kaum Muslimin menganggap dinamakan mensyukuri nikmat adalah dengan seseorang menyiarkan (menampakkan) nikmat tersebut.” [Diriwayatkan oleh Ath Thobari dalam kitab tafsirnya, Jaami’ Al Bayaan ‘an Ta’wili Ayyil Qur’an (24: 491)].

Al Hasan bin ‘Ali berkata mengenai ayat di atas:

ما عملت من خير فَحَدث إخوانك

“Kebaikan apa saja yang kalian perbuat, maka siarkanlah pada saudara kalian.” [Disebutkan oleh Ibnu Katsir, dari Laits, dari seseorang, dari Al Hasan bin ‘Ali (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14: 387)].

Tentu saja nikmat atau kebaikan disampaikan pada orang lain jika mengandung maslahat, bukan dalam rangka menyombongkan diri dan pamer atau ingin cari muka (cari pujian, alias ‘riya’). Lihat perkataan Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di dalam kitab tafsirnya:

“Yang dimaksud dalam ayat tersebut mencakup nikmat din (Akhirat) maupun nikmat dunia. Adapun “fahaddits” bermakna “Pujilah Allah atas nikmat tersebut”. Bentuk syukur di sini adalah dengan lisan dan disebut khusus dalam ayat, dibolehkan jika memang mengandung maslahat. Namun boleh juga penampakkan nikmat ini secara umum (tidak hanya dengan lisan). Karena menyebut-nyebut nikmat Allah adalah tanda seseorang bersyukur. Perbuatan semacam ini membuat hati seseorang semakin cinta pada pemberi nikmat (yaitu Allah Ta’ala). Itulah tabiat hati yang selalu mencintai orang yang berbuat baik padanya.” (Taisir Al Karimir Rahman, 928)

Ulama besar dari negeri ‘Unaizah, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin dalam tafsir Juz ‘Amma menjelaskan: “Tahadduts Ni’mah (menyebut-nyebut nikmat Allah) adalah dengan ditampakkan, yaitu dilakukan dalam rangka syukur kepada pemberi nikmat (yaitu Allah Ta’ala), bukan dalam rangka menyombongkan diri pada yang lain. Karena jika hal itu dilakukan karena sombong, maka itu jadi tercela.”

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah memberikan penjelasan menarik tentang ayat di atas. Beliau rahimahullah berkata: “Allah memerintahkan kepada Nabi ﷺ untuk menyebut-nyebut nikmat yang Allah berikan. Nikmat itu disyukuri dengan ucapan dan juga ditampakkan dengan amalan. Tahadduts Ni’mah (menyiarkan nikmat) dalam ayat tersebut berarti seperti seorang Muslim mengatakan: “Alhamdulillah, saya dalam keadaan baik. Saya memiliki kebaikan yang banyak. Allah memberi saya nikmat yang banyak. Aku bersyukur pada Allah atas nikmat tersebut.”

Tidak baik seseorang mengatakan dirinya itu miskin (fakir), tidak memiliki apa-apa. Seharusnya ia bersyukur pada Allah dan Tahadduts Ni’mah (siarkan nikmat tersebut). Hendaklah ia yakin, bahwa kebaikan tersebut Allah-lah yang memberi. Jangan ia malah menyebut-nyebut dirinya itu tidak memiliki harta dan pakaian. Janganlah mengatakan seperti itu. Namun hendaklah ia menyiarkan nikmat yang ada, lalu ia bersyukur pada Allah ta’ala. Jika Allah memberi pada seseorang nikmat, hendaklah ia menampakkan nikmat tersebut dalam pakaian, makanan dan minumnya. Itulah yang Allah suka. Jangan menampakkan diri seperti orang miskin (kere). Padahal Allah telah memberi dan melapangkan harta. Jangan pula ia berpakaian atau mengonsumsi makanan seperti orang kere (padahal keadaan dirinya mampu, pen). Yang seharusnya dilakukan adalah menampakkan nikmat Allah dalam makanan, minuman dan pakaiannya. Namun hal ini jangan dipahami, bahwa kita diperintahkan untuk berlebih-lebihan, melampaui batas dan boros.” [Majmu’ Fatawa wa Maqolaat Mutanawwi’ah, juz ke-4, http://www.ibnbaz.org.sa/mat/32]

Semoga kita diberi taufik untuk merealisasikan syukur kepada Allah.

Wallahu waliyyut taufiq.

Referensi:

  • Tafsir Ath Thobari Jaami’ul Bayan ‘an Ta’wil Ayil Qur’an, Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath Thobari, terbitan Dar Hijr.
  • Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Abul Fida’ Ismail bin Katsir Ad Dimasyqi, terbitan Muassasah Qurthubah.
  • Taisir Al Karimir Rahman fii Tafsir Kalamil Mannan, ‘Abdurrahman bin Naashir As Sa’di, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, 1420 H.
  • Tafsir Juz ‘Amma, Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin, Asy Syamilah.
  • Mawqi’ Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz, ibnbaz.org.sa.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

[www.rumaysho.com]

Sumber: https://rumaysho.com/2027-tampakkanlah-nikmat-allah.html

,

MENGGAPAI DERAJAT YANG TINGGI DENGAN MENUNTUT ILMU SYARI

MENGGAPAI DERAJAT YANG TINGGI DENGAN MENUNTUT ILMU SYARI

بسم الله الرحمن الرحيم

#MutiaraAyat

MENGGAPAI DERAJAT YANG TINGGI DENGAN MENUNTUT ILMU SYARI

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu, dan orang-orang yang diberi ilmu, beberapa derajat.” [Al-Mujadilah: 11]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

يرفع الله المؤمن العالم على المؤمن غير العالم ورفعة الدرجات تدل على الفضل إذ المراد به كثرة الثواب وبها ترتفع الدرجات ورفعتها تشمل المعنوية في الدنيا بعلو المنزلة وحسن الصيت والحسية في الآخرة بعلو المنزلة في الجنة

1) Allah mengangkat derajat seorang Mukmin yang berilmu, melebihi Mukmin yang tidak berilmu.

2) Terangkatnya derajat menunjukkan keutamaan, yaitu banyaknya pahala, yang dengan itu terangkatlah derajat.

3) Ketinggian derajat mencakup ‘Maknawiyah’ di dunia, seperti kedudukan yang tinggi, dan disebut dengan kebaikan, dan juga mencakup ‘Hissiyah’ di Akhirat, yaitu kedudukan yang tinggi di Surga. [Fathul Baari, 1/141]

Ayo ke majelis ilmu dan raih keutamaannya. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu agama, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju Surga.” [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/799017530247731:0

, ,

ORANG KAFIR TIDAK AKAN MASUK SURGA, SAMPAI ADA UNTA MASUK LUBANG JARUM!

ORANG KAFIR TIDAK AKAN MASUK SURGA, SAMPAI ADA UNTA MASUK LUBANG JARUM!

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahSunnah #MutiaraAyat
#DakwahTauhid
ORANG KAFIR TIDAK AKAN MASUK SURGA, SAMPAI ADA UNTA MASUK LUBANG JARUM!

Oleh: Ustadz Abu Ismail Muslim al-Atsari

Allah Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ ﴿٤٠﴾ لَهُمْ مِنْ جَهَنَّمَ مِهَادٌ وَمِنْ فَوْقِهِمْ غَوَاشٍ ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ ﴿٤١﴾ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk Surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan. Mereka memunyai tikar tidur dari api Neraka, dan di atas mereka ada selimut (api Neraka). Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zalim. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang, melainkan sekadar kesanggupannya. Mereka itulah penghuni-penghuni Surga; mereka kekal di dalamnya.” [Al-A’raf/7:40-42].

Muqaddimah

Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah menciptakan jin dan manusia hanya untuk beriman dan beribadah kepada-Nya. Namun di antara mereka ada yang beriman dan ada juga yang kafir. Orang-orang beriman akan mendapatkan kebahagiaan, sedangkan orang-orang kafir akan mendapatkan kecelakaan.

Di antara KECELAKAAN TERBESAR bagi orang-orang kafir adalah mereka TIDAK AKAN MASUK SURGA, hingga ada unta masuk ke lubang jarum. Dan ini mustahil, sebagaimana Allah Azza wa Jalla telah memberitakan hakikat ini di dalam ayat-ayat di atas.

Penjelasan Ayat

Firman Allah Azza wa Jalla:

إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا

Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya

Imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah berkata: “Allah Yang Maha Tinggi sebutan-Nya berfirman: ‘Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan’ hujjah-hujjah dan dalil-dalil Kami, tidak membenarkannya, dan tidak mengikuti rasul-rasul Kami, ‘dan menyombongkan diri terhadapnya,’ takabbur dari membenarkannya, enggan mengikuti dan tunduk kepadanya karena sombong.” [Tafsir Thabari, 12/421]

Firman Allah Azza wa Jalla:

لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ

Sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit.

Imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah berkata: “Pintu-pintu langit tidak akan dibukakan bagi mereka untuk ruh-ruh mereka yang keluar dari jasad mereka. Perkataan dan perbuatan dalam kehidupan mereka tidak akan naik menuju Allah Azza wa Jalla, karena perbuatan-perbuatan mereka itu buruk. Sedangkan yang akan diangkat keharibaan Allah hanyalah perkataan yang baik dan perbuatan yang saleh, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ

Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik, dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. [Fathir/35:10]”. [Tafsir ath-Thabari, 12/421]

Firman Allah Azza wa Jalla:

وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ

Dan mereka tidak (pula) masuk Surga, hingga unta masuk ke lubang jarum.

Imam al-Baghawi rahimahullah berkata: “Maksudnya adalah mereka tidak akan masuk Surga selamanya. Karena, jika (penetapan) sesuatu disyaratkan dengan perkara yang mustahil terjadi, maka itu menunjukkan adanya PENEKANAN pada KEMUSTAHILANNYA. Seperti dikatakan (dalam bahasa Arab) ‘Aku tidak melakukannya hingga burung gagak beruban, atau hingga aspal menjadi putih’, maksudnya, aku tidak melakukannya selamanya”. [Tafsir al-Baghawi, 3/229]

Firman Allah Azza wa Jalla:

وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ

Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan.

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata: “Yaitu orang-orang yang banyak kejahatannya dan sikapnya yang melewati batas”. [Taisir Karimir-Rahman]

Firman Allah Azza wa Jalla:

لَهُمْ مِنْ جَهَنَّمَ مِهَادٌ وَمِنْ فَوْقِهِمْ غَوَاشٍ

(Mereka memunyai tikar tidur dari api Neraka dan di atas mereka ada selimut (api Neraka).

Imam al-Baghawi rahimahullah berkata: “Allah menghendaki, Neraka meliputi mereka dari seluruh sisi, sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla:

لَهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ ظُلَلٌ مِنَ النَّارِ وَمِنْ تَحْتِهِمْ ظُلَلٌ

Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka, dan di bawah merekapun lapisan-lapisan (dari api). [az-Zumar/39:16]. [Tafsir al-Baghawi, 3/229]

Firman Allah Azza wa Jalla:

وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ ﴿٤١﴾ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ

Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zalim, dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh.

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata: “Setelah Allah menyebutkan hukuman bagi orang-orang yang bermaksiat lagi zalim, Dia Azza wa Jalla menyebutkan pahala orang-orang yang taat. Allah berfirman: “Dan orang-orang yang beriman dengan hati mereka dan mengerjakan amal-amal yang saleh dengan anggota badan mereka, sehingga mereka menggabungkan antara iman dan amal, antara amal-amal lahir dan batin, antara melakukan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan perkara-perkara yang diharamkan.” [Taisir Karimir-Rahman, 1/289]

Firman Allah Azza wa Jalla:

لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

(Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang, melainkan sekadar kesanggupannya).

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata: “Karena firman-Nya “Mengerjakan amal-amal yang saleh,” adalah lafal umum yang mencakup seluruh amal-amal saleh, baik yang wajib maupun yang mustahab, dan bisa jadi sebagiannya tidak mampu dilakukan oleh seorang hamba, (maka) Allah Azza wa Jalla berfirman: “Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang, melainkan sekadar kesanggupannya”, yaitu seukuran dengan kekuatannya, dan tidak berat terhadapnya. Dalam kondisi seperti ini, kewajibannya adalah bertakwa kepada Allah sesuai dengan kemampuannya. Jika tidak mampu melakukan sebagian kewajiban yang orang lain mampu melakukannya, maka kewajiban itu gugur darinya, sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. [al-Baqarah/2:286]

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا

Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang, melainkan sekadar apa yang Allah berikan kepadanya. [Ath-Thalaq/65:7].

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

Dia sekali-kali Dia (Allah) tidak menjadikan suatu kesempitan untuk kamu dalam agama. [Al-Hajj/22:78]

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu. [At-Taghabun/64:16].

Maka tidak ada kewajiban jika tidak mampu, dan tidak ada yang haram ketika dalam keadaan darurat.” [Taisir Karimir-Rahman]

Firman Allah Azza wa Jalla:

أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Mereka itulah penghuni-penghuni Surga; mereka kekal di dalamnya.

Yaitu mereka tidak akan berpindah darinya dan mereka tidak akan mencari ganti terhadap Surga, karena di dalamnya mereka melihat bermacam-macam kelezatan dan perkara-perkara yang disukai yang berada pada puncaknya, dan tidaklah dicari yang lebih tinggi darinya. [Taisir Karimir-Rahman]

Faidah Ayat

Sangat banyak faidah, pelajaran dan petunjuk dari ayat-ayat ini, antara lain:

  1. Mendustakan ayat Allah Azza wa Jalla dan bersikap arogan terhadapnya merupakan kufur akbar (kekafiran besar).
  2. Penjelasan balasan orang-orang kafir, yaitu orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah Azza wa Jalla dan bersikap sombong terhadapnya, balasannya adalah tidak akan masuk Surga selamanya.
  3. Pintu-pintu langit tidak akan dibukakan untuk untuk ruh-ruh orang-orang kafir ketika mereka mati.
  4. Perkataan dan perbuatan orang-orang kafir tidak diterima oleh Allah, karena di antara syarat diterima amal adalah iman.
  5. Kewajiban agama yang tidak mampu dilakukan oleh seorang hamba, maka kewajiban itu gugur darinya.
  6. Iman dan amal saleh akan menghantarkan kemuliaan di dunia dan Akhirat dan sebab masuk Surga.

Peringatan

Sebagian orang beranggapan, bahwa ayat ke-40 dari surat al-A’raf ini sebagai dalil bahwa “Orang-orang Mukmin yang masuk Neraka tidak akan keluar selama-lamanya.” Maka ini merupakan kesesatan dan kebodohan yang nyata. Karena awal ayat ini jelas menunjukkan, bahwa ini balasan untuk orang-orang kafir.

إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ

Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk Surga, hingga unta masuk ke lubang jarum.

Karena perbuatan mendustakan ayat-ayat Allah dan menyombongkan diri terhadapnya adalah kufur akbar (kekafiran yang besar). Sehingga orang-orang kafir akan masuk Neraka, dan tidak akan keluar selama-lamanya. Dan ayat ini tidak menunjukkan, bahwa semua orang-orang yang masuk Neraka tidak akan keluar selama-lamanya.

Demikian juga anggapan, bahwa “Orang-orang yang masuk Neraka tidak akan keluar selama-lamanya” secara umum, adalah pendapat firqah (golongan sesat) Khawarij dan Mu’tazilah. Sedangkan Ahlus-Sunnah berkeyakinan, bahwa orang-orang yang akan memasuki Neraka ada dua golongan, yaitu:

  • (1) Orang-orang kafir, mereka kekal di dalam Neraka,
  • (2) Orang -orang Mukmin yang berbuat dosa besar, mereka akan keluar dari Neraka dan akan masuk Surga.

Hadis-hadis yang memberitakan, bahwa sebagian orang-orang Mukmin akan masuk Neraka dengan sebab dosa-dosa mereka, kemudian akan keluar dan masuk Surga sangat banyak. Dan hal itu tidak bertentangan dengan ayat-ayat Alquran.

Di antara hadis-hadis tersebut adalah sabda Nabi ﷺ:

أَمَّا أَهْلُ النَّارِ الَّذِينَ هُمْ أَهْلُهَا فَإِنَّهُمْ لَا يَمُوتُونَ فِيهَا وَلَا يَحْيَوْنَ وَلَكِنْ نَاسٌ أَصَابَتْهُمُ النَّارُ بِذُنُوبِهِمْ أَوْ قَالَ بِخَطَايَاهُمْ فَأَمَاتَهُمْ إِمَاتَةً حَتَّى إِذَا كَانُوا فَحْمًا أُذِنَ بِالشَّفَاعَةِ فَجِيءَ بِهِمْ ضَبَائِرَ ضَبَائِرَ فَبُثُّوا عَلَى أَنْهَارِ الْجَنَّةِ ثُمَّ قِيلَ يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ أَفِيضُوا عَلَيْهِمْ فَيَنْبُتُونَ نَبَاتَ الْحِبَّةِ تَكُونُ فِي حَمِيلِ السَّيْلِ

Adapun penduduk Neraka, yang mereka merupakan penduduknya, maka sesungguhnya mereka tidak akan mati di dalam Neraka dan tidak akan hidup. Tetapi orang-orang yang dibakar oleh Neraka dengan sebab dosa-dosa mereka, maka Dia (Allah) akan mematikan mereka. Sehingga apabila mereka telah menjadi arang, diizinkan mendapatkan syafaat. Maka mereka didatangkan dalam keadaan kelompok-kelompok yang berserakan. Lalu mereka ditebarkan di sungai-sungai Surga, kemudian dikatakan: “Wahai penduduk Surga tuangkan (air) kepada mereka!” Maka mereka pun tumbuh sebagaimana tumbuhnya bijian yang ada pada sisa-sisa banjir. [HR Muslim no. 185].

Semoga Allah selalu membimbing kita di atas jalan yang lurus. Aamiin, al-hamdulillahi rabbil-‘alamin.

 

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun XVII/1435H/2013M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

 

Sumber: https://almanhaj.or.id/4116-orang-kafir-tidak-akan-masuk-Surga-sampai-ada-unta-masuk-loba+ng-jarum.html

, ,

FAIDAH SURAT YASIN: ALQURAN UNTUK YANG HIDUP

FAIDAH SURAT YASIN: ALQURAN UNTUK YANG HIDUP

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

#MutiaraAyat
#DakwahSunnah

FAIDAH SURAT YASIN: ALQURAN UNTUK YANG HIDUP

Bisa dijadikan pelajaran lagi dari Surat Yasin. Ingat, Alquran itu untuk yang hidup. Apa maksudnya?

Allah ta’ala berfirman:

وَمَا عَلَّمْنَاهُ الشِّعْرَ وَمَا يَنْبَغِي لَهُ إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ وَقُرْآَنٌ مُبِينٌ (69) لِيُنْذِرَ مَنْ كَانَ حَيًّا وَيَحِقَّ الْقَوْلُ عَلَى الْكَافِرِينَ (70)

“Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad), dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Alquran itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan. Supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya), dan supaya pastilah (ketetapan azab) terhadap orang-orang kafir.” [QS. Yasin: 69-70]

Kesimpulan Mutiara Ayat

  • Orang Arab Jahiliyyah menyifati Alquran dengan syair. Padahal Alquran bukan syair.
  • Orang Arab Jahiliyyah menuduh Rasulullah ﷺ sebagai penyair, padahal derajat kenabian sangat jauh dari penyair.
  • Maksud Alquran adalah zikir ada tiga makna:
(a) Alquran adalah peringatan dan berisi nasihat;
(b) Alquran adalah bentuk zikir yang paling utama;
(c) Alquran adalah kemuliaan, sehingga yang berpegang teguh dengan Alquran menjadi orang-orang mulia.
  • Alquran itu disifati dengan Mubin, yaitu penerangan. Maksudnya, Alquran itu menjelaskan segala sesuatu. Sehingga apa saja yang dibutuhkan manusia dijelaskan dalam Alquran, baik dengan penjelasan yang tegas (sharih), yang tampak jelas, isyarat, atau penjelasan yang sifatnya umum.
  • Alquran itu sebagai peringatan untuk hati yang hidup. Bisa juga maksudnya, Alquran sebagai peringatan untuk setiap orang yang hidup di muka bumi. Dua makna ini disebutkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah.
  • Orang kafir tidak mungkin mengambil manfaat dari Alquran. Begitu pula siapa saja yang tidak mau mengambil manfaat dari Alquran (sama sekali), maka ia kafir. Jika ada yang hanya mengambil sebagian Alquran, dan menolak sebagian yang lain, berarti ada bagian kekafiran dalam dirinya.
  • Adh-Dhahaak rahimahullah menyatakan: bahwa Alquran itu rahmat bagi orang Mukmin dan perkataan yang menghujam bagi orang kafir.
  • Kata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah, Alquran pada hati ibarat hujan untuk tanah yang subur.

Referensi:

Tafsir Alquran Al-‘Azhim, Ibnu Katsir, 6: 357. Tafsir As-Sa’di, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, hlm. 740. Tafsir Alquran Al-Karim Surat Yasin, Syaikh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin, hlm. 242-256.

 

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/15714-faidah-surat-yasin-Alquran-untuk-yang-hidup.html

,

FAIDAH DARI ALLAH TIDAK TIDUR DAN TIDAK NGANTUK

FAIDAH DARI ALLAH TIDAK TIDUR DAN TIDAK NGANTUK

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FaidahTafsir

FAIDAH DARI ALLAH TIDAK TIDUR DAN TIDAK NGANTUK
>> Apa faidah dari Allah tidak tidur dan tidak ngantuk?

Dalam Ayat Kursi, seperti kita tahu, terdapat penggalan ayat berikut:

لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ

“Allah tidak mengantuk dan tidak tidur.” [QS. Al-Baqarah: 255]

Seperti yang kita tahu, makna Al-Hayyu Al-Qayyum adalah, Allah itu memiliki sifat hidup yang sempurna, dan Allah tidak bergantung pada makhluk-Nya.

Kata Syaikh As-Sa’di, di antara bentuk kesempurnaan dari sifat Allah Al-Hayyu Al-Qayyum, Allah itu tidak mengantuk dan tidak tidur. [Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hlm. 102]

Syaikh Abu Bakr Al-Jazairi berkata, bahwa kantuk dan tidur adalah sifat kekurangan. Sedangkan Allah ta’ala memiliki sifat yang sempurna secara mutlak. Kalimat yang menyatakan Allah tidak ngantuk dan tidak tidur, ada kaitannya dengan kalimat sebelumnya dalam ayat. Yaitu, siapa yang mengantuk dan tidur, tentu tidak memiliki sifat Qayumiyyah terhadap makhluknya. Artinya, kalau Allah itu mengantuk dan tertidur, tentu sulit untuk menjaga, memberi rezeki dan mengatur berbagai makhluk yang ada. [Lihat Aysar At-Tafasir, hlm. 117-118]

Sifat tidur tadi tentu lebih parah daripada kantuk.

Semoga Allah memberi taufik ,untuk bisa terus merenungkan nama dan sifat Allah.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/12001-faedah-dari-allah-tidak-tidur-dan-tidak-ngantuk.html