, ,

JANGAN MUDAH MEMUTUSKAN “INI HALAL DAN ITU HARAM”

JANGAN MUDAH MEMUTUSKAN “INI HALAL DAN ITU HARAM”

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

#SayNoToBidah, #MutiaraTafsir

JANGAN MUDAH MEMUTUSKAN “INI HALAL DAN ITU HARAM”

>> Seorang Hamba Tidak Boleh Mengatakan Halal atau Haram, Kecuali Setelah Mengetahui, Bahwa Allah Menghalalkan atau Mengharamkannya

 

Allah ﷻ berfirman:

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit, dan bagi mereka azab yang pedih. [QS An-Nahl /16 : 116-117]

Penjelasan Ayat

Budaya Jahiliyah, Mengatur Penetapan Hukum dengan Hawa Nafsu

Budaya bangsa Jahiliyah yang berlawanan dengan ajaran Islam sungguh banyak. Islam datang untuk MENGHAPUSKANNYA, supaya umat manusia selalu berada di atas fitrah penciptaannya.

Ayat di atas membicarakan salah satu dari sekian banyak budaya jahiliyyah yang berkembang di tengah masyarakat zaman dulu, sebelum akhirnya terhapus syariat Muhammad ﷺ. Yakni, mengharamkan dan menghalalkan sesuatu tanpa mengindahkan. dan tanpa merujuk kepada wahyu Ilahi. maupun ketetapan-ketetapan hukum samawi lainnya yang berasal dari Allah ﷻ, Yang Maha Mengetahui kemaslahatan seluruh makhluk. Padahal mereka mengklaim sebagai para penganut ajaran Nabi Ibraahim Alaihissallam. Sehingga Allah ﷻ melarang umat Islam mengikuti jalan kaum musyrikin tersebut. [Tafsirul-Qur`anil-‘Azhim (4/609), Aisarut-Tafasir (1/326)]

Realita yang terjadi, mereka mengharamkan hal-hal yang dihalalkan, dan sebaliknya, menghalalkan hal-hal yang diharamkan oleh Allah al-Khaaliq. Mereka menetapkan hukum-hukum halal dan haram sesuai dengan hawa nafsunya. Dengan tindakan ini, mereka telah melakukan iftira ‘alallah ta’ala (kedustaan atas nama Allah ta’ala).

Allah ﷻ telah menjelaskan substansi ayat di atas melalui beberapa ayat lainnya. Di antaranya:

قُلْ هَلُمَّ شُهَدَاءَكُمُ الَّذِينَ يَشْهَدُونَ أَنَّ اللَّهَ حَرَّمَ هَٰذَا ۖ فَإِنْ شَهِدُوا فَلَا تَشْهَدْ مَعَهُمْ

Katakanlah: “Bawalah kemari saksi-saksi kamu yang dapat memersaksikan, bahwasanya Allah telah mengharamkan (makanan yang kamu) haramkan ini”. Jika mereka memersaksikan, maka janganlah kamu ikut (pula) menjadi saksi bersama mereka… [QS Al-An’am/6 : 150]

Allah ﷻ berfirman:

قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ لَكُمْ مِنْ رِزْقٍ فَجَعَلْتُمْ مِنْهُ حَرَامًا وَحَلَالًا قُلْ آللَّهُ أَذِنَ لَكُمْ ۖ أَمْ عَلَى اللَّهِ تَفْتَرُونَ

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal”. Katakanlah: “Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini), atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?” [QS.Yunus/10 : 59].

Pengertian ayat ini (QS. An-Nahl/16 ayat 116-117) akan kian jelas, dengan memerhatikan ayat sebelumnya. Bahwasanya Allah ﷻ memerintahkan agar mereka memakan makanan-makanan yang baik-baik lagi halal. Allah ﷻ berfirman:

فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاشْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu. Dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah. [QS. An-Nahl/16 : 114].

Selanjutnya, Allah ﷻ menjelaskan hal-hal yang diharamkan atas diri mereka dalam ayat berikutnya:

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ ۖ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah. Tetapi barang siapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS. An Nahl/16 : 115].

Kenyataannya justru tidak sejalan dengan apa yang telah dinyatakan oleh Allah al-Hakam (Dzat Yang Maha Menentukan hukum) dalam ayat tersebut. Mereka justru menghalalkan bangkai, darah dan binatang-binatang yang mereka sembelih tanpa dengan menyebut nama Allah ta’ala. Dan sebaliknya, mereka mengharamkan pemanfaatan binatang-binatang, baik untuk dikonsumsi maupun sebagai tunggangan, yang sebenarnya dihalalkan bagi umat manusia.

Sebagai contoh, sebagaimana tertuang dalam firman Allah ta’ala berikut ini:

مَا جَعَلَ اللَّهُ مِنْ بَحِيرَةٍ وَلَا سَائِبَةٍ وَلَا وَصِيلَةٍ وَلَا حَامٍ ۙ وَلَٰكِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۖ وَأَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ

Allah sekali-kali tidak pernah mensyariatkan adanya Bahirah, Saibah, Washilah dan Ham. Akan tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti. [QS. Al-Ma`idah/5:103] [Bahirah, Saibah, Washilah dan Ham, adalah sebutan untuk hewan ternak dalam kondisi tertentu. Kaum Jahiliyah mengharamkan pemanfaatannya sama sekali. Tentang makna istilah-istilah di atas, lihat footnote Alquran Terjemah yang diterbitkan Departemen Agama RI pada ayat tersebut. Contoh sikap pengharaman lainnya, silahkan lihat QS. al-An’am/6 ayat 138, 139, 140].

Demikianlah, konsep halal-haram di mata orang-orang Jahiliyyah pada masa lalu. Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menyatakan, yang menjadi biang keladi dalam masalah ini, ialah karena adanya perangkap nafsu dan syahwat serta doktrin tokoh-tokoh besar mereka [Lihat kitab al-Ath’imah wa Ahkamish Shaidi wadz-Dzaba`ih, karya Syaikh Dr. Shalih al-Fauzan, Maktabah al-Ma’arif, Riyadh, Cetakan II, Tahun 1419H-1999M, hlm. 26].

Ringkasnya, permulaan ayat ini MELARANG seseorang untuk menjatuhkan penilaian tentang halal dan haram terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak dihalalkan atau diharamkan oleh Allah ﷻ. Karena hal itu merupakan kedustaan dan kebohongan dengan mengatasnamakan Allah ta’ala. [Taisirul-Karimir-Rahman (451), al-Jalalain, hlm. 575]

Melebihi Kesalahan Perbuatan Syirik

Tak diragukan, perbuatan syirik merupakan perbuatan dosa yang sangat besar, dan merupakan kesalahan sangat fatal. Perbuatan syirik ini lantaran mengandung perbuatan yang menyamakan antara al-Khaaliq Yang Maha Sempurna dari segala sisi, dengan makhluk yang sarat dengan segala kelemahan dari setiap sisi. Namun telah diberitakan oleh Allah ﷻ, bahwa ada dosa yang lebih tinggi derajat keburukannya dibandingkan syirik. Dosa itu ialah berdusta atas nama Allah ﷻ. Karena, sebenarnya, seluruh maksiat berawal dari kedustaan atas nama Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman:

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Katakanlah: “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) memersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu, dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah, apa saja yang tidak kamu ketahui”. [QS. Al-An’am/7:33].

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan: “Allah mengharamkan berkata atas nama Allah tanpa dasar ilmu dalam urusan fatwa atau hukum pengadilan. Dia mengategorikannya termasuk perkara haram yang terbesar. Bahkan menempatkannya di urutan pertama [I’lamul-Muwaqqi’in, 2/73]. Karena urutan perkara-perkara yang diharamkan dalam ayat di atas secara at-ta’ali (dari urutan rendah menuju peringkat terparah) [At-Ta’alum wa Atsaruhu ‘alal Fikri wal-Kitab, Dr. Bakr Abu Zaid, Darul-‘Ashimah, Cetakan IV, Tahun 1418 H].

Pangkal Dari Suatu Musibah

Gejala memrihatinkan ini jelas berpangkal dari faktor tertentu, bukan merupakan peristiwa yang terjadi begitu saja tanpa sebab-musabab. Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah menunjuk fenomena at-ta’alum (sok pintar) sebagai faktor utama. Yakni, sifat merasa lebih mengetahui, merasa memiliki kapabilitas mengeluarkan fatwa atau menjawab, padahal kemampuannya masih sangat jauh dan penuh kekurangan.

Kata Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah: “Sesungguhnya at-ta’alum merupakan pintu masuk menuju ‘Berkata atas nama Allah tanpa dasar ilmu’. Tidak itu saja, ta’alum, keganjilan pendapat, mencari-cari rukhshah, fanatisme buta, semua itu merupakan pintu-pintu menuju kejahatan berkata atas nama Allah tanpa ilmu”. [At-Ta’alum wa Atsaruhu ‘alal Fikri wal-Kitab, Dr. Bakr Abu Zaid, Darul-‘Ashimah, Cetakan IV, Tahun 1418 H]

Berfatwa merupakan kedudukan yang penting. Dalam fatwa ini seseorang mencoba untuk menyelesaikan masalah yang dihadapai seseorang atau masyarakat. Karena kuatnya pengaruh tindakan pemberian fatwa ini, maka tidak ada yang boleh menyampaikan fatwa, kecuali orang-orang yang memang telah mencapai kemampuan ilmiah tertentu. Bukan sembarangan orang. [Kitabul-‘Ilmi, Syaikh al-Utsaimin, ats-Tsurayya, I, 1420-1999, hlm. 75]

Ahli Bid’ah Terancam Oleh Ayat Ini

Imam Ibnu Katsiir rahimahullah berkata: “Termasuk dalam konteks ayat ini, yaitu setiap orang yang melakukan perbuatan bid’ah” [Tafsirul-Qur`anil-‘Azhim, 4/609]. Alasannya sangat jelas. Yakni, mereka menambah-nambahkan sesuatu dengan beranggapan, bahwa semua yang mereka tetapkan merupakan bagian dari agama Islam, setelah mengganggapnya sebagai perbuatan baik, padahal syariat tidak mengatakannya.

Ancaman Berat Terhadap Pelaku yang Berdusta Mengatasnamakan Allah

Manakala suatu perbuatan salah sudah menempati level yang sangat membahayakan, maka tak aneh jika balasannya pun sangat berat. Untuk perbuatan dusta atas nama Allah ta’ala dengan menghalalkan atau mengharamkan secara serampangan, maka Allah ﷻ telah menetapkan balasannya sebagaimana tertera dalam firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

…Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit; dan bagi mereka azab yang pedih. [QS. An Nahl /16:116-117].

Allah ﷻ menyampaikan ancaman terhadap perbuatan dusta yang mengatasnamakan nama-Nya dalam hukum-hukum syari. Juga terhadap pernyataan mereka tentang perkara yang tidak diharamkan “Ini haram”, atau pada perkara yang tidak dihalalkan “Ini halal”. Ayat ini menjadi penjelasan dari Allah ta’ala, bahwa seorang hamba TIDAK BOLEH mengatakan halal atau haram, kecuali setelah mengetahui bahwa Allah menghalalkan atau mengharamkannya [I’lamul-Muwaqqi’iin, 2/ 73-74].

Mereka tidak akan beruntung di dunia maupun di Akhirat. Dan pasti Allah ﷻ akan menampakkan kehinaan mereka. Meskipun mereka menikmati hidup dengan nyaman di dunia ini, akan tetapi itu hanyalah kenikmatan sekejap. Tempat kembali mereka adalah Neraka. Di sana, bagi mereka siksaan yang pedih. [Taisirul-Karimir-Rahman, 451]

Pengendalian Berkata Atas Nama Allah Tanpa Ilmu

Di tengah masyarakat, kita dapat menyaksikan banyak bertebaran fatwa tanpa dasar yang dibenarkan. Anehnya, orang-orang berusaha menahan diri berbicara (berpendapat) dalam disiplin ilmu-ilmu umum di hadapan para ahlinya. Konkritnya, seorang yang bukan dokter merasa tidak nyaman berbicara dalam masalah-masalah kedokteran di hadapan dokter. Atau bukan arsitek merasa tidak nyaman berbicara tentang arsitektur di hadapan seorang insiyur. Namun sikap serupa tidak disaksikan dalam urusan-urusan agama, -sifat merasa lebih mengetahui terlalu menonjol. Padahal mereka meyakini Allah Maha Mendengar segala perkataan, Maha Melihat saat mengeluarkan hukum, penilaian maupun fatwa [Lihat Hasha`idul-Alsun, Syaikh Husain al-‘Awayisyah, Daarul-Hijrah, Cet. I, Th. 1412H-1992M, hlm. 51].

Pendapat-pendapat ganjil pun mengemuka. Bahkan terkadang sangat menggelikan, hingga benar-benar memerlihatkan betapa dangkal ilmu yang dimilikinya. Kekacauan sudah menjalar di mana-mana. Jadi, solusi “Problematika sosial” yang sudah mewabah dan tak bisa dianggap ringan ini, yang juga merupakan solusi bagi seluruh masalah ialah, menanamkan rasa takut kepada Allah ﷻ dan meningkatkan kadar ketakwaan, hingga terbentuk mentalitas wajib menahan diri tidak berbicara atau tidak menjawab, dan tidak mengeluarkan fatwa, jika benar-benar tidak mengetahui apa-apa, atau hanya setengah tahu. Dan hendaklah dimengerti, bahwa Allah-lah yang berhak menetapkan dan menciptakan (al-khalqu wal-amru). Tidak ada pencipta selain-Nya. Tidak ada syariat bagi makhluk selain syariat-Nya. Dia-lah yang berhak mewajibkan sesuatu, mengharamkannya, menganjurkan dan menghalalkan.

Oleh karena itu, jika seseorang ditanya permasalahan yang TIDAK diketahuinya, hendaklah dengan lantang menjawab tanpa malu-malu dan mengatakan “Aku tidak tahu, aku belum tahu, tanya orang lain saja”. Jawaban seperti ini justru menunjukkan kesempurnaan akalnya, kebaikan iman dan ketakwaannya, serta kesopanan di hadapan Allah ﷻ [Kitabul-‘Ilmi, hlm. 77].

Kehati-Hatian Generasi Salaf dalam Masalah Ini [I’lamul-Muwaqqi’in (2/75-77), Adhwa`ul-Bayan (3/347), Riyadhush-Shalihin (Bahjatun-Naazhirin)]

Dahulu, para generasi Ulama Salaf, mereka bersikap wara` (menjaga diri) dalam mengeluarkan pernyataan “Ini halal dan itu haram”, lantaran takut terhadap ayat di atas. Selain itu, ialah untuk menunjukkan tingginya sopan santun mereka di hadapan Allah dan Rasul-Nya ﷺ, yang berhak menetapkan hukum atas umat manusia, padahal mereka mengetahui dalil penghalalan atau pengharamannya dengan jelas.

Imam Maalik rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya dari Qabishah bin Dzuaib, bahwasanya ada seorang lelaki yang bertanya kepada ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu anhu mengenai dua perempuan bersaudara yang sebelumnya berstatus sebagai budak. ‘Utsman radhiyallahu anhu menjawab: “Sebuah ayat menghalalkannya, dan ayat lain telah mengharamkannya. Adapun saya, tidak suka untuk melakukannya” [Isnadnya shahih. Lihat al-Muwaththa (2/538), al-Umm (5/3), al-Baihaqi (7/163). Dinukil dari catatan kaki di I’lamul-Muwaqqi’in, 2/75. Dalam riwayat ini, ‘Utsman Radhiyallahu anhu dengan kehati-hatiannya menisbatkan penghalalan dan pengharaman kepada nash Alquran, bukan kepada dirinya, Pen].

Imam al-Qurthubi rahimahullah meriwayatkan: Ad-Darimi berkata dalam Musnad-nya: Harun telah memberitahukan kepada kami dari Hafsh dari al-A’masy, ia berkata: “Aku belum pernah mendengar Ibrahim (an-Nakha`i) berkata ‘(Ini) halal atau haram,’ akan tetapi ia mengatakan (bila menghukumi): ‘Dahulu, orang-orang tidak menyukainya. Atau, dahulu orang-orang menyukainya’.” [Al-Jami li Ahkamil-Qur`an]

Ibnu Wahb rahimahullah berkata dari Imam Malik rahimahullah: “Tidaklah menjadi kebiasaan orang-orang (sekarang) atau orang-orang yang telah berlalu, juga bukan menjadi kebiasaan orang-orang yang aku ikuti untuk mengatakan ‘Ini halal, itu haram’. Mereka tidak berani untuk melakukannya. Kala itu mereka hanya mengatakan nakrahu kadza (kami tidak menyukainya), naraahu hasanan (kami melihatnya baik), nattaqi hadza (kami menghindarinya), wala nara hadza (kami tidak berpandangan demikian)”.

Dalam riwayat lain: “Mereka tidak mengatakan ‘Ini halal atau haram’. Tidakkah engkau mendengar Allah berfirman (yang artinya):

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal”. Katakanlah: “Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini), atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?” (QS. Yunus/10 : 59), lantas beliau berkata: “Yang halal adalah semua yang dihalalkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Yang haram adalah semua yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya” [I’lamul-Muwaqqi’in, 2].

Dalam kitab Al-Umm, Imam asy-Syafi’i rahimahullah sering mengatakan: Ahabbu ilayya, uhibbu, akrahu dan lafal-lafal semisal lainnya untuk menilai berbagai macam perkara. Wallahu a’lam.

Pelajaran dari Ayat:

1. Haram menetapkan halal dan haram tanpa dasar syari, qath’i maupun zhanni, kecuali yang sudah hampir diyakini sebagai hal yang diharamkan.

2. Haram berdusta atas nama Allah ta’ala.

3. Orang yang berdusta atas nama Allah ta’ala, ia tidak akan beruntung di Akhirat kelak. Sementara di dunia, ia akan dirundung oleh kehinaan.

4. Wajib menjaga lisan dan berhati-hati dalam berbicara.

5. Ahli bid’ah diancam dengan ayat di atas.

Wallahu a’lam

 

Maraaji’:

1. Aisarut-Tafasir, Abu Bakar Jabir al-Jazairi, Maktabah ‘Ulum wal-Hikam, Madinah.

2. Al-Jami li Ahkamil-Qur`an (Tafsir al-Qurthubi), Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Anshari al-Qurthubi, Tahqiq: ‘Abdur-Razzaq al-Mahdi, Darul-Kitabil-‘Arabi, Cetakan IV, Tahun 1422 H – 2001 M.

3. I’laamul Muwaqqi’in ‘An Rabbil ‘Alamin Ibnul Qayyim, Tahqiq: Abu ‘Ubaidah Masyhuur bin Hasan Alu Salmaan Daar, Ibnu Jauzi, Cet. I, Th. 1423H.

4. Kitabul-‘Ilmi, Syaikh al-Utsaimin, ats-Tsurayya, I, 1420H-1999M.

5. Ma’alimut-Tanzil, Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud al-Baghawi, Tahqiq dan Takhrij: Muhammad ‘Abdullah an-Namr, ‘Utsman Jum’ah Dhumairiyyah, dan Sulaiman Muslim al-Kharsy, Dar Thaibah, Tahun 1411 H.

6. Tafsirul-Qur`anil-‘Azhim, al-Hafizh Abul-Fida Isma’il bin ‘Umar bin Katsir al-Qurasyi, Tahqiq: Sami bin Muhammad as-Salamah, Dar Thaibah, Cetakan I, Tahun 1422 H – 2002 M.

7. Taisirul-Karimir-Rahman, ‘Allamah Syaikh Abdur-Rahman bin Nashir as-Sa’di, Darul-Mughni, Riyadh, Cet. I, Th. 1419 H – 1999 M.

 

Penulis: Ustadz Ashim bin Mushthofa hafizahullah

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06-07/Tahun XII/Ramadhan 1429/2008M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

 

Sumber: https://almanhaj.or.id/3346-jangan-mudah-memutuskan-ini-halal-dan-itu-haram.html

,

TAMPAKKANLAH NIKMAT ALLAH

TAMPAKKANLAH NIKMAT ALLAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MutiaraTafsir

TAMPAKKANLAH NIKMAT ALLAH

Bagian syukur dari nikmat adalah dengan menampakkan nikmat tersebut secara lahiriyah. Bukan malah kita menjadi orang pelit dan pura-pura “kere” (miskin). Kalau memang Allah beri kelapangan rezeki, nampakkanlah nikmat tersebut pada makanan dan pakaian kita.

Allah ta’ala berfirman:

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

Wa amma binikmati Robbika Fahaddits

Artinya:

“Dan terhadap nikmat Rabb-mu, maka hendaklah kamu siarkan.” [QS. Adh Dhuha: 11].

Berikut ini adalah beberapa pendapat ulama mengenai ayat di atas:

Dari Abu Nadhroh, ia berkata:

كان المسلمون يرون أن من شكر النعم أن يحدّث بها.

“Dahulu kaum Muslimin menganggap dinamakan mensyukuri nikmat adalah dengan seseorang menyiarkan (menampakkan) nikmat tersebut.” [Diriwayatkan oleh Ath Thobari dalam kitab tafsirnya, Jaami’ Al Bayaan ‘an Ta’wili Ayyil Qur’an (24: 491)].

Al Hasan bin ‘Ali berkata mengenai ayat di atas:

ما عملت من خير فَحَدث إخوانك

“Kebaikan apa saja yang kalian perbuat, maka siarkanlah pada saudara kalian.” [Disebutkan oleh Ibnu Katsir, dari Laits, dari seseorang, dari Al Hasan bin ‘Ali (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14: 387)].

Tentu saja nikmat atau kebaikan disampaikan pada orang lain jika mengandung maslahat, bukan dalam rangka menyombongkan diri dan pamer atau ingin cari muka (cari pujian, alias ‘riya’). Lihat perkataan Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di dalam kitab tafsirnya:

“Yang dimaksud dalam ayat tersebut mencakup nikmat din (Akhirat) maupun nikmat dunia. Adapun “fahaddits” bermakna “Pujilah Allah atas nikmat tersebut”. Bentuk syukur di sini adalah dengan lisan dan disebut khusus dalam ayat, dibolehkan jika memang mengandung maslahat. Namun boleh juga penampakkan nikmat ini secara umum (tidak hanya dengan lisan). Karena menyebut-nyebut nikmat Allah adalah tanda seseorang bersyukur. Perbuatan semacam ini membuat hati seseorang semakin cinta pada pemberi nikmat (yaitu Allah Ta’ala). Itulah tabiat hati yang selalu mencintai orang yang berbuat baik padanya.” (Taisir Al Karimir Rahman, 928)

Ulama besar dari negeri ‘Unaizah, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin dalam tafsir Juz ‘Amma menjelaskan: “Tahadduts Ni’mah (menyebut-nyebut nikmat Allah) adalah dengan ditampakkan, yaitu dilakukan dalam rangka syukur kepada pemberi nikmat (yaitu Allah Ta’ala), bukan dalam rangka menyombongkan diri pada yang lain. Karena jika hal itu dilakukan karena sombong, maka itu jadi tercela.”

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah memberikan penjelasan menarik tentang ayat di atas. Beliau rahimahullah berkata: “Allah memerintahkan kepada Nabi ﷺ untuk menyebut-nyebut nikmat yang Allah berikan. Nikmat itu disyukuri dengan ucapan dan juga ditampakkan dengan amalan. Tahadduts Ni’mah (menyiarkan nikmat) dalam ayat tersebut berarti seperti seorang Muslim mengatakan: “Alhamdulillah, saya dalam keadaan baik. Saya memiliki kebaikan yang banyak. Allah memberi saya nikmat yang banyak. Aku bersyukur pada Allah atas nikmat tersebut.”

Tidak baik seseorang mengatakan dirinya itu miskin (fakir), tidak memiliki apa-apa. Seharusnya ia bersyukur pada Allah dan Tahadduts Ni’mah (siarkan nikmat tersebut). Hendaklah ia yakin, bahwa kebaikan tersebut Allah-lah yang memberi. Jangan ia malah menyebut-nyebut dirinya itu tidak memiliki harta dan pakaian. Janganlah mengatakan seperti itu. Namun hendaklah ia menyiarkan nikmat yang ada, lalu ia bersyukur pada Allah ta’ala. Jika Allah memberi pada seseorang nikmat, hendaklah ia menampakkan nikmat tersebut dalam pakaian, makanan dan minumnya. Itulah yang Allah suka. Jangan menampakkan diri seperti orang miskin (kere). Padahal Allah telah memberi dan melapangkan harta. Jangan pula ia berpakaian atau mengonsumsi makanan seperti orang kere (padahal keadaan dirinya mampu, pen). Yang seharusnya dilakukan adalah menampakkan nikmat Allah dalam makanan, minuman dan pakaiannya. Namun hal ini jangan dipahami, bahwa kita diperintahkan untuk berlebih-lebihan, melampaui batas dan boros.” [Majmu’ Fatawa wa Maqolaat Mutanawwi’ah, juz ke-4, http://www.ibnbaz.org.sa/mat/32]

Semoga kita diberi taufik untuk merealisasikan syukur kepada Allah.

Wallahu waliyyut taufiq.

Referensi:

  • Tafsir Ath Thobari Jaami’ul Bayan ‘an Ta’wil Ayil Qur’an, Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath Thobari, terbitan Dar Hijr.
  • Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Abul Fida’ Ismail bin Katsir Ad Dimasyqi, terbitan Muassasah Qurthubah.
  • Taisir Al Karimir Rahman fii Tafsir Kalamil Mannan, ‘Abdurrahman bin Naashir As Sa’di, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, 1420 H.
  • Tafsir Juz ‘Amma, Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin, Asy Syamilah.
  • Mawqi’ Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz, ibnbaz.org.sa.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

[www.rumaysho.com]

Sumber: https://rumaysho.com/2027-tampakkanlah-nikmat-allah.html

,

MENGGAPAI DERAJAT YANG TINGGI DENGAN MENUNTUT ILMU SYARI

MENGGAPAI DERAJAT YANG TINGGI DENGAN MENUNTUT ILMU SYARI

بسم الله الرحمن الرحيم

#MutiaraAyat

MENGGAPAI DERAJAT YANG TINGGI DENGAN MENUNTUT ILMU SYARI

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu, dan orang-orang yang diberi ilmu, beberapa derajat.” [Al-Mujadilah: 11]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

يرفع الله المؤمن العالم على المؤمن غير العالم ورفعة الدرجات تدل على الفضل إذ المراد به كثرة الثواب وبها ترتفع الدرجات ورفعتها تشمل المعنوية في الدنيا بعلو المنزلة وحسن الصيت والحسية في الآخرة بعلو المنزلة في الجنة

1) Allah mengangkat derajat seorang Mukmin yang berilmu, melebihi Mukmin yang tidak berilmu.

2) Terangkatnya derajat menunjukkan keutamaan, yaitu banyaknya pahala, yang dengan itu terangkatlah derajat.

3) Ketinggian derajat mencakup ‘Maknawiyah’ di dunia, seperti kedudukan yang tinggi, dan disebut dengan kebaikan, dan juga mencakup ‘Hissiyah’ di Akhirat, yaitu kedudukan yang tinggi di Surga. [Fathul Baari, 1/141]

Ayo ke majelis ilmu dan raih keutamaannya. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu agama, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju Surga.” [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/799017530247731:0

, ,

ORANG KAFIR TIDAK AKAN MASUK SURGA, SAMPAI ADA UNTA MASUK LUBANG JARUM!

ORANG KAFIR TIDAK AKAN MASUK SURGA, SAMPAI ADA UNTA MASUK LUBANG JARUM!

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahSunnah #MutiaraAyat
#DakwahTauhid
ORANG KAFIR TIDAK AKAN MASUK SURGA, SAMPAI ADA UNTA MASUK LUBANG JARUM!

Oleh: Ustadz Abu Ismail Muslim al-Atsari

Allah Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ ﴿٤٠﴾ لَهُمْ مِنْ جَهَنَّمَ مِهَادٌ وَمِنْ فَوْقِهِمْ غَوَاشٍ ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ ﴿٤١﴾ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk Surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan. Mereka memunyai tikar tidur dari api Neraka, dan di atas mereka ada selimut (api Neraka). Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zalim. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang, melainkan sekadar kesanggupannya. Mereka itulah penghuni-penghuni Surga; mereka kekal di dalamnya.” [Al-A’raf/7:40-42].

Muqaddimah

Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah menciptakan jin dan manusia hanya untuk beriman dan beribadah kepada-Nya. Namun di antara mereka ada yang beriman dan ada juga yang kafir. Orang-orang beriman akan mendapatkan kebahagiaan, sedangkan orang-orang kafir akan mendapatkan kecelakaan.

Di antara KECELAKAAN TERBESAR bagi orang-orang kafir adalah mereka TIDAK AKAN MASUK SURGA, hingga ada unta masuk ke lubang jarum. Dan ini mustahil, sebagaimana Allah Azza wa Jalla telah memberitakan hakikat ini di dalam ayat-ayat di atas.

Penjelasan Ayat

Firman Allah Azza wa Jalla:

إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا

Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya

Imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah berkata: “Allah Yang Maha Tinggi sebutan-Nya berfirman: ‘Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan’ hujjah-hujjah dan dalil-dalil Kami, tidak membenarkannya, dan tidak mengikuti rasul-rasul Kami, ‘dan menyombongkan diri terhadapnya,’ takabbur dari membenarkannya, enggan mengikuti dan tunduk kepadanya karena sombong.” [Tafsir Thabari, 12/421]

Firman Allah Azza wa Jalla:

لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ

Sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit.

Imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah berkata: “Pintu-pintu langit tidak akan dibukakan bagi mereka untuk ruh-ruh mereka yang keluar dari jasad mereka. Perkataan dan perbuatan dalam kehidupan mereka tidak akan naik menuju Allah Azza wa Jalla, karena perbuatan-perbuatan mereka itu buruk. Sedangkan yang akan diangkat keharibaan Allah hanyalah perkataan yang baik dan perbuatan yang saleh, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ

Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik, dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. [Fathir/35:10]”. [Tafsir ath-Thabari, 12/421]

Firman Allah Azza wa Jalla:

وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ

Dan mereka tidak (pula) masuk Surga, hingga unta masuk ke lubang jarum.

Imam al-Baghawi rahimahullah berkata: “Maksudnya adalah mereka tidak akan masuk Surga selamanya. Karena, jika (penetapan) sesuatu disyaratkan dengan perkara yang mustahil terjadi, maka itu menunjukkan adanya PENEKANAN pada KEMUSTAHILANNYA. Seperti dikatakan (dalam bahasa Arab) ‘Aku tidak melakukannya hingga burung gagak beruban, atau hingga aspal menjadi putih’, maksudnya, aku tidak melakukannya selamanya”. [Tafsir al-Baghawi, 3/229]

Firman Allah Azza wa Jalla:

وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ

Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan.

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata: “Yaitu orang-orang yang banyak kejahatannya dan sikapnya yang melewati batas”. [Taisir Karimir-Rahman]

Firman Allah Azza wa Jalla:

لَهُمْ مِنْ جَهَنَّمَ مِهَادٌ وَمِنْ فَوْقِهِمْ غَوَاشٍ

(Mereka memunyai tikar tidur dari api Neraka dan di atas mereka ada selimut (api Neraka).

Imam al-Baghawi rahimahullah berkata: “Allah menghendaki, Neraka meliputi mereka dari seluruh sisi, sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla:

لَهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ ظُلَلٌ مِنَ النَّارِ وَمِنْ تَحْتِهِمْ ظُلَلٌ

Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka, dan di bawah merekapun lapisan-lapisan (dari api). [az-Zumar/39:16]. [Tafsir al-Baghawi, 3/229]

Firman Allah Azza wa Jalla:

وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ ﴿٤١﴾ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ

Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zalim, dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh.

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata: “Setelah Allah menyebutkan hukuman bagi orang-orang yang bermaksiat lagi zalim, Dia Azza wa Jalla menyebutkan pahala orang-orang yang taat. Allah berfirman: “Dan orang-orang yang beriman dengan hati mereka dan mengerjakan amal-amal yang saleh dengan anggota badan mereka, sehingga mereka menggabungkan antara iman dan amal, antara amal-amal lahir dan batin, antara melakukan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan perkara-perkara yang diharamkan.” [Taisir Karimir-Rahman, 1/289]

Firman Allah Azza wa Jalla:

لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

(Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang, melainkan sekadar kesanggupannya).

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata: “Karena firman-Nya “Mengerjakan amal-amal yang saleh,” adalah lafal umum yang mencakup seluruh amal-amal saleh, baik yang wajib maupun yang mustahab, dan bisa jadi sebagiannya tidak mampu dilakukan oleh seorang hamba, (maka) Allah Azza wa Jalla berfirman: “Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang, melainkan sekadar kesanggupannya”, yaitu seukuran dengan kekuatannya, dan tidak berat terhadapnya. Dalam kondisi seperti ini, kewajibannya adalah bertakwa kepada Allah sesuai dengan kemampuannya. Jika tidak mampu melakukan sebagian kewajiban yang orang lain mampu melakukannya, maka kewajiban itu gugur darinya, sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. [al-Baqarah/2:286]

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا

Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang, melainkan sekadar apa yang Allah berikan kepadanya. [Ath-Thalaq/65:7].

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

Dia sekali-kali Dia (Allah) tidak menjadikan suatu kesempitan untuk kamu dalam agama. [Al-Hajj/22:78]

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu. [At-Taghabun/64:16].

Maka tidak ada kewajiban jika tidak mampu, dan tidak ada yang haram ketika dalam keadaan darurat.” [Taisir Karimir-Rahman]

Firman Allah Azza wa Jalla:

أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Mereka itulah penghuni-penghuni Surga; mereka kekal di dalamnya.

Yaitu mereka tidak akan berpindah darinya dan mereka tidak akan mencari ganti terhadap Surga, karena di dalamnya mereka melihat bermacam-macam kelezatan dan perkara-perkara yang disukai yang berada pada puncaknya, dan tidaklah dicari yang lebih tinggi darinya. [Taisir Karimir-Rahman]

Faidah Ayat

Sangat banyak faidah, pelajaran dan petunjuk dari ayat-ayat ini, antara lain:

  1. Mendustakan ayat Allah Azza wa Jalla dan bersikap arogan terhadapnya merupakan kufur akbar (kekafiran besar).
  2. Penjelasan balasan orang-orang kafir, yaitu orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah Azza wa Jalla dan bersikap sombong terhadapnya, balasannya adalah tidak akan masuk Surga selamanya.
  3. Pintu-pintu langit tidak akan dibukakan untuk untuk ruh-ruh orang-orang kafir ketika mereka mati.
  4. Perkataan dan perbuatan orang-orang kafir tidak diterima oleh Allah, karena di antara syarat diterima amal adalah iman.
  5. Kewajiban agama yang tidak mampu dilakukan oleh seorang hamba, maka kewajiban itu gugur darinya.
  6. Iman dan amal saleh akan menghantarkan kemuliaan di dunia dan Akhirat dan sebab masuk Surga.

Peringatan

Sebagian orang beranggapan, bahwa ayat ke-40 dari surat al-A’raf ini sebagai dalil bahwa “Orang-orang Mukmin yang masuk Neraka tidak akan keluar selama-lamanya.” Maka ini merupakan kesesatan dan kebodohan yang nyata. Karena awal ayat ini jelas menunjukkan, bahwa ini balasan untuk orang-orang kafir.

إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ

Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk Surga, hingga unta masuk ke lubang jarum.

Karena perbuatan mendustakan ayat-ayat Allah dan menyombongkan diri terhadapnya adalah kufur akbar (kekafiran yang besar). Sehingga orang-orang kafir akan masuk Neraka, dan tidak akan keluar selama-lamanya. Dan ayat ini tidak menunjukkan, bahwa semua orang-orang yang masuk Neraka tidak akan keluar selama-lamanya.

Demikian juga anggapan, bahwa “Orang-orang yang masuk Neraka tidak akan keluar selama-lamanya” secara umum, adalah pendapat firqah (golongan sesat) Khawarij dan Mu’tazilah. Sedangkan Ahlus-Sunnah berkeyakinan, bahwa orang-orang yang akan memasuki Neraka ada dua golongan, yaitu:

  • (1) Orang-orang kafir, mereka kekal di dalam Neraka,
  • (2) Orang -orang Mukmin yang berbuat dosa besar, mereka akan keluar dari Neraka dan akan masuk Surga.

Hadis-hadis yang memberitakan, bahwa sebagian orang-orang Mukmin akan masuk Neraka dengan sebab dosa-dosa mereka, kemudian akan keluar dan masuk Surga sangat banyak. Dan hal itu tidak bertentangan dengan ayat-ayat Alquran.

Di antara hadis-hadis tersebut adalah sabda Nabi ﷺ:

أَمَّا أَهْلُ النَّارِ الَّذِينَ هُمْ أَهْلُهَا فَإِنَّهُمْ لَا يَمُوتُونَ فِيهَا وَلَا يَحْيَوْنَ وَلَكِنْ نَاسٌ أَصَابَتْهُمُ النَّارُ بِذُنُوبِهِمْ أَوْ قَالَ بِخَطَايَاهُمْ فَأَمَاتَهُمْ إِمَاتَةً حَتَّى إِذَا كَانُوا فَحْمًا أُذِنَ بِالشَّفَاعَةِ فَجِيءَ بِهِمْ ضَبَائِرَ ضَبَائِرَ فَبُثُّوا عَلَى أَنْهَارِ الْجَنَّةِ ثُمَّ قِيلَ يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ أَفِيضُوا عَلَيْهِمْ فَيَنْبُتُونَ نَبَاتَ الْحِبَّةِ تَكُونُ فِي حَمِيلِ السَّيْلِ

Adapun penduduk Neraka, yang mereka merupakan penduduknya, maka sesungguhnya mereka tidak akan mati di dalam Neraka dan tidak akan hidup. Tetapi orang-orang yang dibakar oleh Neraka dengan sebab dosa-dosa mereka, maka Dia (Allah) akan mematikan mereka. Sehingga apabila mereka telah menjadi arang, diizinkan mendapatkan syafaat. Maka mereka didatangkan dalam keadaan kelompok-kelompok yang berserakan. Lalu mereka ditebarkan di sungai-sungai Surga, kemudian dikatakan: “Wahai penduduk Surga tuangkan (air) kepada mereka!” Maka mereka pun tumbuh sebagaimana tumbuhnya bijian yang ada pada sisa-sisa banjir. [HR Muslim no. 185].

Semoga Allah selalu membimbing kita di atas jalan yang lurus. Aamiin, al-hamdulillahi rabbil-‘alamin.

 

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun XVII/1435H/2013M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

 

Sumber: https://almanhaj.or.id/4116-orang-kafir-tidak-akan-masuk-Surga-sampai-ada-unta-masuk-loba+ng-jarum.html

, ,

FAIDAH SURAT YASIN: ALQURAN UNTUK YANG HIDUP

FAIDAH SURAT YASIN: ALQURAN UNTUK YANG HIDUP

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

#MutiaraAyat
#DakwahSunnah

FAIDAH SURAT YASIN: ALQURAN UNTUK YANG HIDUP

Bisa dijadikan pelajaran lagi dari Surat Yasin. Ingat, Alquran itu untuk yang hidup. Apa maksudnya?

Allah ta’ala berfirman:

وَمَا عَلَّمْنَاهُ الشِّعْرَ وَمَا يَنْبَغِي لَهُ إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ وَقُرْآَنٌ مُبِينٌ (69) لِيُنْذِرَ مَنْ كَانَ حَيًّا وَيَحِقَّ الْقَوْلُ عَلَى الْكَافِرِينَ (70)

“Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad), dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Alquran itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan. Supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya), dan supaya pastilah (ketetapan azab) terhadap orang-orang kafir.” [QS. Yasin: 69-70]

Kesimpulan Mutiara Ayat

  • Orang Arab Jahiliyyah menyifati Alquran dengan syair. Padahal Alquran bukan syair.
  • Orang Arab Jahiliyyah menuduh Rasulullah ﷺ sebagai penyair, padahal derajat kenabian sangat jauh dari penyair.
  • Maksud Alquran adalah zikir ada tiga makna:
(a) Alquran adalah peringatan dan berisi nasihat;
(b) Alquran adalah bentuk zikir yang paling utama;
(c) Alquran adalah kemuliaan, sehingga yang berpegang teguh dengan Alquran menjadi orang-orang mulia.
  • Alquran itu disifati dengan Mubin, yaitu penerangan. Maksudnya, Alquran itu menjelaskan segala sesuatu. Sehingga apa saja yang dibutuhkan manusia dijelaskan dalam Alquran, baik dengan penjelasan yang tegas (sharih), yang tampak jelas, isyarat, atau penjelasan yang sifatnya umum.
  • Alquran itu sebagai peringatan untuk hati yang hidup. Bisa juga maksudnya, Alquran sebagai peringatan untuk setiap orang yang hidup di muka bumi. Dua makna ini disebutkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah.
  • Orang kafir tidak mungkin mengambil manfaat dari Alquran. Begitu pula siapa saja yang tidak mau mengambil manfaat dari Alquran (sama sekali), maka ia kafir. Jika ada yang hanya mengambil sebagian Alquran, dan menolak sebagian yang lain, berarti ada bagian kekafiran dalam dirinya.
  • Adh-Dhahaak rahimahullah menyatakan: bahwa Alquran itu rahmat bagi orang Mukmin dan perkataan yang menghujam bagi orang kafir.
  • Kata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah, Alquran pada hati ibarat hujan untuk tanah yang subur.

Referensi:

Tafsir Alquran Al-‘Azhim, Ibnu Katsir, 6: 357. Tafsir As-Sa’di, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, hlm. 740. Tafsir Alquran Al-Karim Surat Yasin, Syaikh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin, hlm. 242-256.

 

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/15714-faidah-surat-yasin-Alquran-untuk-yang-hidup.html

,

FAIDAH DARI ALLAH TIDAK TIDUR DAN TIDAK NGANTUK

FAIDAH DARI ALLAH TIDAK TIDUR DAN TIDAK NGANTUK

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FaidahTafsir

FAIDAH DARI ALLAH TIDAK TIDUR DAN TIDAK NGANTUK
>> Apa faidah dari Allah tidak tidur dan tidak ngantuk?

Dalam Ayat Kursi, seperti kita tahu, terdapat penggalan ayat berikut:

لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ

“Allah tidak mengantuk dan tidak tidur.” [QS. Al-Baqarah: 255]

Seperti yang kita tahu, makna Al-Hayyu Al-Qayyum adalah, Allah itu memiliki sifat hidup yang sempurna, dan Allah tidak bergantung pada makhluk-Nya.

Kata Syaikh As-Sa’di, di antara bentuk kesempurnaan dari sifat Allah Al-Hayyu Al-Qayyum, Allah itu tidak mengantuk dan tidak tidur. [Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hlm. 102]

Syaikh Abu Bakr Al-Jazairi berkata, bahwa kantuk dan tidur adalah sifat kekurangan. Sedangkan Allah ta’ala memiliki sifat yang sempurna secara mutlak. Kalimat yang menyatakan Allah tidak ngantuk dan tidak tidur, ada kaitannya dengan kalimat sebelumnya dalam ayat. Yaitu, siapa yang mengantuk dan tidur, tentu tidak memiliki sifat Qayumiyyah terhadap makhluknya. Artinya, kalau Allah itu mengantuk dan tertidur, tentu sulit untuk menjaga, memberi rezeki dan mengatur berbagai makhluk yang ada. [Lihat Aysar At-Tafasir, hlm. 117-118]

Sifat tidur tadi tentu lebih parah daripada kantuk.

Semoga Allah memberi taufik ,untuk bisa terus merenungkan nama dan sifat Allah.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/12001-faedah-dari-allah-tidak-tidur-dan-tidak-ngantuk.html

,

MENGGAPAI KESUCIAN HATI DENGAN MENJAGA PANDANGAN DAN KEMALUAN

MENGGAPAI KESUCIAN HATI DENGAN MENJAGA PANDANGAN DAN KEMALUAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah
#FaidahTafsir

MENGGAPAI KESUCIAN HATI DENGAN MENJAGA PANDANGAN DAN KEMALUAN

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Katakanlah kepada kaum laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan sebagian pandangannya, dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” [An-Nur: 30]

“Dan katakanlah kepada kaum wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan sebagian pandangannya, dan memelihara kemaluannya. Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak memunyai keinginan (terhadap wanita), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.” [An-Nur: 31]

#BEBERAPA_PELAJARAN:

1) Larangan bagi kaum yang memiliki iman, laki-laki maupun perempuan, untuk melihat yang diharamkan, yaitu:

  • Aurat sesama jenis,
  • Lawan jenis yang bukan mahram,
  • Anak laki-laki yang “cantik”, haram bagi laki-laki melihatnya,
  • Orang-orang yang dapat memunculkan fitnah (godaan),
  • Perhiasan dunia yang menggoda dan menjerumuskan dalam dosa.

2) Perintah bagi kaum Mukminin laki-laki dan perempuan untuk menjaga kemaluan, yaitu:

  • Tidak melakukan hubungan badan yang haram, baik melalui jalan depan maupun belakang, atau selain itu,
  • Tidak membiarkan orang yang tidak halal berhubungan badan dengannya,
  • Tidak membiarkan orang yang tidak halal menyentuhnya,
  • Tidak membiarkan orang yang tidak halal melihatnya.

3) Menjaga pandangan dan kemaluan lebih menyucikan dan memerbaiki diri, karena orang yang meninggalkan sesuatu karena Allah, akan Allah gantikan dengan yang lebih baik darinya. Al-Imam As-Sa’di rahimahullah berkata:

“Barang siapa meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Barang siapa menahan pandangannya dari yang haram, maka Allah akan menyinari penglihatan hatinya. Dan karena seorang hamba, apabila ia menjaga kemaluan dan pandangannya dari yang haram dan pengantar-pengantarnya, padahal syahwatnya mendorong untuk melakukannya, maka ia lebih dapat menjaga anggota tubuhnya yang lain dari perbuatan yang haram.” [Tafsir As-Sa’di, hal. 566]

4) Kata (من) dalam ayat di atas menunjukkan makna “Sebagian”, yaitu sebagian pandangan diharamkan. Berarti ada sebagian pandangan yang dibolehkan, contohnya:

  • Melihat sebagai saksi,
  • Pekerjaan yang mengharuskan untuk melihat lawan jenis (sesuai kadar yang diperlukan),
  • Melamar calon istri, dan lain-lain. Maka dilakukan sebatas kebutuhan tanpa disertai syahwat.

5) Larangan terkait perhiasan dan pakaian wanita:

Pertama: Tidak boleh menampakkan perhiasan wanita (sama saja apakah secara langsung atau melalui foto dan video), yaitu:

  • Pakaian yang indah,
  • Berbagai macam perhiasan yang dikenakan,
  • Seluruh tubuh wanita adalah perhiasan. Dan bukan berarti setelah ditutup lalu boleh diperlihatkan. Tetap saja tidak boleh, baik secara langsung maupun melalui foto dan video. Maka termasuk kesalahan besar sebagian orang yang menjadikan wanita sebagai model pakaian yang diperdagangkan, baik pakaian yang sesuai syariat, apalagi yang tidak sesuai syariat.

Kedua: Diperkecualikan adalah pakaian luar yang memang harus dikenakan wanita dengan syarat tidak menggoda, yaitu kerudung yang menutup dari kepala sampai ke dada, dan jilbab yang menutupi seluruh tubuh, sesuai dengan syarat-syarat pakaian wanita yang disyariatkan.

Ketiga: Kemudian diberikan pengecualian orang yang boleh melihat seluruh perhiasan wanita, yaitu suaminya.

Keempat: Lalu orang-orang yang boleh melihat sebagian perhiasan yang tidak memunculkan fitnah dari kalangan mahramnya:

  • Bapaknya, kakeknya dan seterusnya ke atas,
  • Anaknya, cucunya dan seterusnya ke bawah,
  • Anak suaminya (anak tiri), cucu suaminya dan seterusnya ke bawah,
  • Saudara kandung; sebapak dan seibu, sebapak saja atau seibu saja,
  • Keponakan (anak saudara laki sebapak dan seibu, sebapak saja atau seibu saja),
  • Keponakan (anak saudara perempuan sebapak dan seibu, sebapak saja atau seibu saja).

Kelima: Lalu orang-orang yang boleh melihat sebagian perhiasan yang tidak memunculkan fitnah dari kalangan selain mahramnya:

  • Sesama wanita atau maknanya sesama wanita beriman (ada perbedaan pendapat ulama. Yang benar insya Allah adalah sesama wanita, walau kafir, maka batasan auratnya sama).
  • Budak-budak yang dimiliki secara penuh.
  • Pelayan-pelayan laki-laki yang tidak memunyai syahwat sama sekali terhadap wanita, tidak pada kemaluannya, tidak pula hatinya.
  • Anak-anak yang belum mumayyiz, yang belum mengerti tentang aurat wanita, yang tidak muncul syahwatnya tatkala melihat wanita.

Keenam: Ayat yang mulia ini juga menjelaskan batas aurat dan perhiasan wanita saat bersama mahramnya atau sesama wanita, adalah tempat-tempat perhiasannya. Disebutkan dalam fatwa Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa, Kerajaan Saudi Arabia:

أما ما يجوز للمرأة أن تبديه من زينتها لمحارمها غير زوجها فهو وجهها وكفاها وخلخالها وقرطاها وأساورها وقلادتها ومواضعها ورأسها وقدماها

“Adapun perhiasan yang dibolehkan bagi wanita untuk menampakkannya kepada mahramnya selain suaminya adalah: Wajahnya, dua telapak tangannya, perhiasan di pergelangan kakinya, gelang tangannya, kalung lehernya, semua anggota tubuh tempat perhiasan tersebut, kepalanya dan dua kakinya.” [Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 17/296 no. 2923]

[Disarikan disertai tambahan dari Taisirul Kariimir Rahman fi Tafsiril Kalaamil Mannan karya Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah, hal. 566-567]

 

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

 

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Baca Selengkapnya:

,

PATUTKAH KAMU MENYEMBAH SELAIN ALLAH?

PATUTKAH KAMU MENYEMBAH SELAIN ALLAH?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#Faidah_Tafsir

PATUTKAH KAMU MENYEMBAH SELAIN ALLAH…!?

Allah ‘azza wa jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ لَن يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ وَإِن يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لاَّ يَسْتَنقِذُوهُ مِنْهُ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ مَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

 “Wahai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan ini: Sesungguhnya segala yang kamu sembah selain Allah, sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walau mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemah yang menyembah dan amat lemah (pula) yang disembah. Mereka tidak mengenal (keagungan) Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” [Al-Hajj: 73-74]

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

أَخْبَرَ تَعَالَى أَنَّهُ لَوِ اجْتَمَعَتْ آلِهَتُهُمْ كُلُّهَا، مَا اسْتَطَاعُوا خَلْقَ ذُبَابَةٍ، بَلْ لَوِ أستَلبتهم الذُّبَابَةُ شَيْئًا مِنْ حَقير الْمَطَاعِمِ وَطَارَتْ، لَمَا اسْتَطَاعُوا إِنْقَاذَ ذَلِكَ مِنْهَا، فَمَنْ هَذِهِ صِفَتُهُ وَحَالُهُ، كَيْفَ يُعْبَدُ لِيَرْزُقَ وَيُسْتَنْصَرُ؟ وَلِهَذَا قَالَ تَعَالَى: {لَا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ} أَيْ: بَلْ هُمْ مَخْلُوقُونَ مَصْنُوعُونَ كَمَا قَالَ الْخَلِيلُ: {قَالَ أَتَعْبُدُونَ مَا تَنْحِتُونَ وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ}

“Allah ta’ala mengabarkan, bahwa andaikan seluruh Sesembahan selain Allah bersatu untuk menciptakan seekor lalat, niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya. Bahkan jika seekor lalat merampas sedikit makanan dari mereka, lalu terbang kembali, niscaya mereka tidak akan sanggup menyelematkan makanan tersebut darinya. Maka makhluk yang sangat lemah pada sifat dan keadaannya ini, bagaimana mungkin disembah, agar ia memberi rezeki dan dimintai pertolongan?!

Oleh karena itu Allah ta’ala berfirman:

لَا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ

“(Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah) tidak dapat menciptakan sesuatu apa pun, sedang berhala-berhala itu (sendiri) dibuat orang.” (An-Nahl: 19)

Maknanya: Bahkan mereka (sesembahan-sesembahan itu) adalah makhluk yang dibuat-buat.

Sebagaimana ucapan Al-Khalil (Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam, kepada orang-orang yang menyembah selain Allah):

قَالَ أَتَعْبُدُونَ مَا تَنْحِتُونَ وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

“Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam berkata: Apakah patut kamu menyembah patung yang kamu pahat sediri, padahal Allah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu kerjakan?” (Ash-Shofat: 95-96).” [Tafsir Ibnu Katsir, 3/529]

 

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah

Sumber: https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/774679606014857:0

 

, , ,

TAFSIR SURAH AL MUJADALAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FaidahTafsir

TAFSIR SURAH AL MUJADALAH

Oleh: Ustadz Djazuli,Lc

 

,

MAKNA QS. SAD: 72 TENTANG PENIUPAN ROH KE JASAD MANUSIA

MAKNA QS. SAD: 72 TENTANG PENIUPAN ROH KE JASAD MANUSIA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#FaidahTafsir

MAKNA QS. SAD: 72 TENTANG PENIUPAN ROH KE JASAD MANUSIA

Pertanyaan:

Apa makna QS. Sad: 72, yang isinya tentang Peniupan Roh ke Jasad Manusia?

Bagi sebagian orang, ini dijadikan dalil, bahwa diri manusia memiliki Unsur Ilahiyah (Ketuhanan), karena mereka memaknai, bahwa Allah meniupkan sebagian roh-Nya, merujuk pada kata “Mir ruuhi” {bukan diartikan roh (ciptaan)-Nya}.

Menurut saya itu tidak tepat. Saya sendiri belum pernah mendengar ucapan ulama Manhaj Salaf mengatakan manusia ada unsur Ketuhanan.

Bagaimana yang benar? Dan bagaimana kita menyanggah pernyataan orang-orang tersebut?

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

KELIRU jika difahami, “Min Ruhii itu adalah Roh-Nya Allah”. Mereka hanya main akal-akalan saja, ketika memahami roh Allah yang ditiupkan. Ini TIDAK MUNGKIN, baik secara akal maupun secara syari.

Seperti Allah mengatakan Baitullah Rumah Milik Allah, bukan berarti rumah tersebut adalah bagian dari Allah. Naudzubillah min dzalik. Tapi maksud dari rumah Allah, adalah rumah Milik Allah.

Kalau dikatakan rumah bagian dari Allah, berarti Allah menyatu dengan segala hal di dunia, karena semua milik Allah. Apa kita akan mengatakan, bahwa Allah menyatu degan segala sesuatu? Naudzubillah min dzalik.

Tapi maksud dari Ruuhii (Roh-Ku) adalah roh yang diciptakan oleh Allah, dan roh tadi adalah makhluk, bukan bagian dari diri Allah ta’ala. Dan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah sepakat, maksud dari roh dalam ayat tadi adalah makhluk ciptaan Allah, bukan bagian dari Allah.

Imam Ibnu Abil ‘Izz Al Hanfi berkata:

 وَاتَّفَقَ أَهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ أَنَّهَا مَخْلُوقَةٌ, وَمِمَّنْ نَقَلَ الْإِجْمَاعَ عَلَى ذَلِكَ: مُحَمَّدُ بْنُ نَصْرٍ الْمَرْوَزِيُّ، وَابْنُ قُتَيْبَةَ وَغَيْرُهُمَا

 “Dan Ahlus Sunnah bersepakat, bahwa roh tadi adalah makhluk. Di antara yang menukil ijma’ ini adalah Muhammad bin Nasr Al Marwazi dan Ibnu Qutaibah dan yang lainnya”

[Sumber Syarah Aqidah Thahawiyah: 1/391]

Wallahu a’lam

 

Dijawab dengan ringkas oleh: Ustadz Abul Aswad Al-Bayati حفظه الله

Sumber: https://bimbinganislam.com/makna-qs-shaad-72/