,

NAFAS PENGHUNI NERAKA YANG SANGAT MENGERIKAN!

NAFAS PENGHUNI NERAKA YANG SANGAT MENGERIKAN!
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
NAFAS PENGHUNI NERAKA YANG SANGAT MENGERIKAN!
 
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasulullahﷺ:
 
لو كان في هذا المسجد مائة ألف أو يزيدون وفيه رجل من أهل النار فتنفس فأصابهم نَفَسُه لاحترق المسجد ومن فيه
 
Kalau seandainya di masjid ini ada seratus ribu orang atau bahkan lebih, dan di situ pula ada seorang penduduk Neraka, lalu dia bernafas dan nafasanya mengenai mereka, maka pasti akan terbakar masjid tersebut, dan juga terbakar pula orang yang ada di dalamnya. [Silsilah ash Shahihah no 2509 shahih oleh al Albani]
 
 
 
, ,

HUKUMAN YANG KERAS BAGI ORANG YANG TIDAK KONSISTEN

HUKUMAN YANG KERAS BAGI ORANG YANG TIDAK KONSISTEN
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
HUKUMAN YANG KERAS BAGI ORANG YANG TIDAK KONSISTEN
Oleh: Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
 
Berkata Al Imam An Nawawi di dalam kitabnya Riyadhus Shalihin:
 
Dari Abu Zaid Usamah bin Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, bahwa beliau mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
 
يُؤْتَى بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُ بَطْنِهِ فَيَدُورُ بِهَا كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ فِي الرَّحَا فَيَجْتَمِعُ إِلَيْهِ أَهْلُ النَّارِ فَيَقُولُونَ يَا فُلَانُ مَا لَكَ؟ أَلَمْ تَكُ تَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ؟! فَيَقُولُ بَلَى كُنْتُ آمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا آتِيْهِ وَأَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ وَآتِيْهِ
 
“Di Hari Kiamat nanti akan didatangkan seseorang yang diseret lalu dilempar ke dalam Neraka, sehingga keluar usus-usus perutnya. Lalu dia berputar-putar padanya, sebagaimana berputarnya keledai di alat penggilingan. Maka berkerumunlah Ahli Neraka dan mereka berkata: ‘Hai Fulan, ada apa denganmu?! Bukankah engkau yang menyuruh kepada yang baik dan melarang dari yang mungkar?’ Ia menjawab: ‘Benar, dahulu akulah yang menganjurkan kebaikan, tetapi aku tidak mengerjakannya.Dan aku melarang kemungkaran, tapi aku melakukannya.’ [HR. Al Bukhari dan Muslim]
 
Penjelasan (oleh Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin):
 
Dalam hadis ini terkandung peringatan yang sangat keras bagi orang yang melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar, namun ucapan dan perbuatannya menyelisihi.
 
Rasulullah ﷺ bersabda:
 
يُؤْتَى بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
 
“Di Hari Kiamat nanti akan didatangkan seseorang”, yakni para malaikat akan membawanya, lalu benar-benar akan dilemparkan ke api Neraka. Dia tidak akan masuk Neraka dengan lembut, namun dia akan dilempar ke api Neraka sebagaimana batu dilempar ke lautan, sehingga keluar usus-usus perutnya, karena lemparan yang sangat keras. Wal iyyadzubillah.
 
Sabda beliau ﷺ:
 
فَيَدُورُ بِهَا كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ فِي الرَّحَا
 
“Lalu dia berputar-putar padanya, sebagaimana berputarnya keledai di alat penggilingan.”
 
Penyerupaan ini untuk penghinaan. Rasulullah ﷺ menyamakannya dengan keledai yang berputar di alat penggilingan. Dan gambarannya adalah dia berada di alat penggilingan kuno sebelum ditemukannya alat-alat yang terbuat dari besi ini. Dijadikan dua batu besar dan keduanya akan melindas dan menggiling benda yang berada di antara keduanya, lalu diletakkan sebuah lubang di tempat yang paling tinggi dari keduanya untuk tempat masuk biji-bijian. Dan di dalamnya ada sepotong kayu yang diikat pada punggung keledai, kemudian keledai itu berputar di alat penggilingan, dan selama perputarannya tersebut alat gilingan akan berputar.
 
Orang yang dilempar ke dalam api Neraka ini akan berputar mengelilingi ususnya, wal iyyadzubillah, sebagaimana keledai berputar mengelilingi alat penggilingan. Lalu para penghuni Neraka akan mengerumuinya seraya bertanya kepadanya: “Ada apa denganmu? Apa yang membuatmu datang ke tempat ini? Bukankah kamu dulunya menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar?” Maka dia menjawab mengakui dirinya: “Dahulu akulah yang menganjurkan kebaikan, tetapi aku tidak mengerjakannya.” Dia menyerukan kepada manusia untuk shalat, sedangkan dia sendiri tidak shalat. Lalu menyuruh orang lain untuk menunaikan zakat, sedangkan dia sendiri tidak membayar zakat. Menyuruh untuk berbakti kepada orang tua, sedangkan dia sendiri tidak melakukannya. Dan demikianlah, dia menyuruh kepada kebajikan, namun dia sendiri tidak melakukannya.
 
Lalu dia mengatakan: “Dan aku melarang kemungkaran, tapi aku melakukannya.” Dia menyeru kepada manusia untuk jangan berbuat ghibah, melakukan riba, melakukan penipuan dalam jual beli, jangan berbuat jelek dalam pergaulan dan bertetangga, serta hal-hal yang semacamnya dari perkara-perkara haram yang dia larang, namun dia sendiri melakukannya. Wal iyyadzubillah.
 
Dia berbuat riba dalam jual beli, menipu, jelek dalam pergaulan, berbuat jahat kepada tetangga dan yang lainnya. Dengan demikian dia menyuruh kepada kebajikan, namun dia tidak melakukannya. Dia melarang dari kemungkaran, namun dia sendiri melakukannya. Kita memohon keselamatan kepada Allah ﷻ. Orang ini pun disiksa dan dihinakan dengan siksaan dan penghinan seperti ini. Makanya wajib bagi semua orang untuk memulai dari dirinya sendiri. Dia suruh dirinya untuk berbuat kebajikan, dan dia larang dari perkara mungkar, karena hak manusia yang paling tinggi bagi kita setelah Rasulullah ﷺ adalah diri kita sendiri, sebagaimana kata penyair:
 
Mulailah dengan dirimu, laranglah dirimu dari kesesatan,
Maka jika jiwamu berhenti dari kesesatan itu, maka kamu seorang yang bijaksana.
 
Mulailah dari diri kita, kemudian berusahalah untuk menasihati saudara-saudara kita. Perintahlah mereka melakukan kebajikan, dan laranglah mereka dari kemungkaran, supaya kita menjadi seorang yang baik dan memperbaiki orang lain.
 
Kita memohon kepada Allah ﷻ supaya menjadikan kita termasuk orang yang baik dan memperbaiki orang lain. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pemurah lagi Maha Mulia. (Selesai)
 
 
[Diterjemahkan oleh: Wira Mandiri Bachrun untuk https://ulamasunnah.wordpress.com dari Syarh Riyadhus Shalihin karya Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin]
 
 
 
#hukumanyangkerasbagiorangyangtidakkonsisten #bahayaperbuatanmenyalahiucapan #keledaiyangberputardialatpenggilingan #ususususperutnyakeluar #ucapanmenyelisihiperbuatan
, ,

KAPAN WAKTU YANG TEPAT MEMBACA AL-KAHFI DI HARI JUMAT?

KAPAN WAKTU YANG TEPAT MEMBACA AL-KAHFI DI HARI JUMAT?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
KAPAN WAKTU YANG TEPAT MEMBACA AL-KAHFI DI HARI JUMAT?
 
Pertanyaan:
Kapan waktu yang tepat untuk membaca Surat al-Kahfi? Apakah di malam Jumat (Kamis malam) atau siang hari Jumat?
 
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.
 
Sebelumnya kita akan simak beberapa hadis berikut:
 
Dari Abu Sa‘id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa yang membaca Surat al-Kahfi pada malam Jumat, dia akan disinari cahaya antara dirinya dan rumah yang mulia (Kakbah)” [HR. ad-Darimi No. 3470 dan dishahihkan al-Albani dalam Shahihul Jami’ No. 6471]
 
Dalam riwayat lain beliau ﷺ bersabda:
“Barang siapa yang membaca Surat al-Kahfi pada waktu Jumat, dia akan disinari cahaya di antara dua Jumat.” [HR. Hakim No. 6169, Baihaqi No. 635, dan dishahihkan al-Albani dalam Shahihul Jami’ No. 6470]
 
Pada hadis pertama Nabi ﷺ menyebutkan: ‘Membaca Surat al-Kahfi di malam Jumat’. Sementara di hadis kedua, beliau ﷺ menyatakan: ‘Membaca Surat al-Kahfi pada waktu Jumat.’
 
Hal ini mengisyaratkan, bahwa Surat al-Kahfi bisa dibaca selama 24 jam di hari Jumat, dimulai sejak terbenamnya matahari di hari Kamis, hingga Maghrib hari Jumat.
 
Al-Munawi menukil keterangan al-Hafizh Ibnu Hajar, kata al-Hafizh Ibnu Hajar dalam kitabnya al-Amali:
“Anjuran membaca Surat al-Kahfi ada di beberapa riwayat. Ada yang menyatakan ‘Jumat’ dalam riwayat lain ‘Malam Jumat’. Bisa kita kompromikan, bahwa waktu yang dimaksud adalah siang dan malam Jumat”. [Lihat Faidhul Qadir [6/258]
 
Al-Munawi juga mengatakan:
“Dianjurkan untuk membaca Surat al-Kahfi pada waktu Jumat atau malam Jumatnya, sebagaimana ditegaskan asy-Syafi‘i.” [Lihat Faidhul Qadir [6/257]
 
Berdasarkan keterangan di atas, tidak ada waktu khusus untuk membaca Surat al-Kahfi. Kita bisa membacanya selama waktu Jumat, yaitu malam Jumat (dimulai sejak terbenamnya matahari di hari Kamis) atau Jumat pagi/siang/sore harinya, hingga sebelum matahari terbenam di hari Jumat. Kita bisa pilih waktu yang paling longgar, paling nyaman, sehingga bisa membaca dengan penuh perenungan. Dengan demikian kita bisa berharap, janji yang Allah berikan bagi orang yang membaca Surat al-Kahfi, yaitu diberi cahaya, berpeluang untuk kita dapatkan.
 
Sumber: www.konsultasisyariah.com
#adabhariJumat #kapanwaktumembacaSuratalKahfi #QSAlKahfi #hariJumat #KamismalamJumat #fadhilah #keutamaan #disinaricahaya
,

JADILAH ANAK-ANAK AKHIRAT

JADILAH ANAK-ANAK AKHIRAT
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
JADILAH ANAK-ANAK AKHIRAT
 
“Dunia itu membelakangi/membokongi kita, sedangkan Akhirat itu menghadap kepada kita. Para ulama mengatakan, alangkah anehnya orang yang menghadap kepada sesuatu yang membelakangi dia, dan membelakangi sesuatu yang menghadap kepadanya.
 
Aneh, seharusnya kita menghadap kepada sesuatu yang menghadap kepada kita, dan membelakangi kepada sesuatu yang membelakangi kita. Manusia tertipu dunia, dunia memberikan belakangnya. Masing-masing dunia dan Akhirat memiliki anak-anak.
 
Jadilah kamu anak-anak Akhirat , dan janganlah kamu menjadi anak-anak dunia. Karena pada hari ini adalah tempat untuk beramal, kita tidak dihisab di dunia ini. Dan besok ketika kita mati dan berada di Akhirat, akan ada hisab dan tidak ada amal.”
 
[Ustaadz Abdul Hakim bin Amir Abdat hafidzhahullahu]

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
www.nasihatsahabat.com

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

 

#jadilahanakanakAkhirat, #larangan, #dilarang, #jadianakanakdunia, #duniainihina, #duniapenjarabagiorangmukmin, #duniaSurgabagiorangkafir

, ,

MENJUAL AGAMA DENGAN TUJUAN DUNIA

MENJUAL AGAMA DENGAN TUJUAN DUNIA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

MENJUAL AGAMA DENGAN TUJUAN DUNIA

 

Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda:

بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

“Bersegeralah melakukan amalan saleh sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap gulita. Seseorang paginya beriman, namun sorenya menjadi kafir. Atau seseorang yang sorenya masih beriman, namun paginya telah kafir. Dia menjual agamanya dengan tujuan-tujuan dunia” [HR. Muslim no. 328]

Hadis ini berisi perintah untuk bersegera melakukan amalan saleh. Yang disebut amalan saleh adalah jika memenuhi dua syarat, yaitu ikhlas pada Allah dan mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ. Jika tidak memenuhi syarat ini, suatu amalan TIDAKLAH diterima di sisi Allah.

Dalam hadis ini dikabarkan bahwa akan datang fitnah seperti potongan malam. Artinya fitnah tersebut tidak terlihat. Ketika itu manusia tidak tahu ke manakah mesti berjalan. Ia tidak tahu di manakah tempat keluar.

Fitnah boleh jadi karena syubuhaat (racun pemikiran), boleh jadi timbul dari syahwat (dorongan hawa nafsu untuk bermaksiat).

Fitnah di atas itu diibaratkan dengan potongan malam yang gelap gulita, tidak terlihat. Sehingga seseorang di pagi hari dalam keadaan beriman, dan sore harinya dalam keadaan kafir. Dalam satu hari, bayangkanlah ada yang bisa demikian. Atau ia di sore hari dalam keadaan beriman, dan di pagi harinya kafir. Mereka bisa menjadi kafir karena menjual agamanya.

Bagaimanakah bisa menjual agama? Menjual agama yang dimaksud di sini adalah menukar agama dengan harta, kekuasaan, kedudukan atau bahkan dengen perempuan.

Pelajaran lainnya dari hadis ini:

1- Wajibnya berpegang teguh dengan agama.

2- Bersegera dalam amalan saleh sebelum datang cobaan yang mengubah keadaan.

3- Fitnah akhir zaman begitu menyesatkan. Satu fitnah datang dan akan berlanjut pada fitnah berikutnya.

4- Jika seseorang punya kesempatan untuk melakukan satu kebaikan, maka segeralah melakukannya, jangan menunda-nunda.

5- Jangan menukar agama dengan dunia yang murah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk bersegera dalam kebaikan dan terus menjaga agama kita.

Referensi:

Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhish Salehin, Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al Hilaliy, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H, 1: 150.

Syarh Riyadhish Salehin, Syaikh Muhammad bin Saleh Al ‘Utsaimin, terbitan Madarul Wathon, cetakan tahun 1426 H, 2: 16-20.

 

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Sumber: https://rumaysho.com/3468-bersegeralah-beramal-sholeh-sebelum-datang-musibah.html

 

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
www.nasihatsahabat.com

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

#menjualagamadengantujuandunia #Segeralahberamalsebelumdatangnyafitnahfitnah #sepertipotonganpotonganmalamyanggelapgulita #Seseorangpaginyaberimannamunsorenyamenjadikafir

,

INGATLAH ALLAH DI SAAT SENANG MAUPUN SEDIHMU

INGATLAH ALLAH DI SAAT SENANG MAUPUN SEDIHMU
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
INGATLAH ALLAH DI SAAT SENANG MAUPUN SEDIHMU
 
Rasulullah ﷺ bersabda:
 
تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ
 
“Kenalilah Allah di masa lapang (senang), niscaya Allah akan mengenalimu di masa engkau menghadapi kesulitan.” [Shahihul Jaami’ 2961]
 
Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullahu ta’ala berkata:
 
يعنـي قـم بحـق الله عـزّ وجل فـي حـال الرخـاء ، وفـي حـال الصحـة ، وفـي حـال الغـنى ؛ يَعـرِفكَ فـي الشّـدةِ. إذا زالـت عـنك الصحـة ، وزال عـنك الغنـى ، واشتـدت حاجتـك: عـرفك بـما سبـق لـك ، أو بـما سـبق فعـل الخـير الـذي تعرفـت بـه إلـى الله عـزّ وجـل
 
“Yaitu tunaikanlah hak Allah dalam keadaan lapang, dalam keadaan sehat, dan dalam keadaan berkecukupan, pasti Allah akan mengenalimu dalam keadaan susah. Apabila engkau sakit, engkau tertimpa kemiskinan dan kebutuhanmu meningkat, pasti Allah akan mengenalimu dengan apa yang telah engkau berikan, atau dengan kebaikan yang telah engkau kerjakan, dari kebaikan yang dengannya engkau mengenal Allah Azza wa Jalla.” [Syarah Arbain an-Nawawiyyah 202]
 
Oleh karenanya Nabi ﷺ mengabarkan:
 
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَسْتَجِيبَ اللَّهُ لَهُ عِنْدَ الشَّدَائِدِ وَالْكَرْبِ فَلْيُكْثِرْ الدُّعَاءَ فِي الرَّخَاءِ
 
“Barang siapa yang senang Allah kabulkan doanya di masa kesulitan dan di masa genting, hendaknya memperbanyak doa (ketika) di masa lapang.” [HR. At-Tirmidzi, shohih oleh Adz Dzahabi, hasan oleh Al-Albani, silsilah Ash Shahihah 595]
 
Allah taala berfirman:
 
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ
 
“Maka ingatlah Aku, niscaya Aku akan mengingat kalian.” [QS. Al-Baqarah 152]
 
Apabila kita selalu berusaha menunaikan hak Allah di saat lapang waktu kita, maka niscaya Allah akan menolong kita di saat kita menghadapi kesempitan atau kesusahan. Karena balasan yang didapat sesuai dengan amal perbuatan.
 
 
 
Penyusun | Abdullah bin Suyitno (عبدالله بن صيتن)
 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

#ingatlahAllah #diwaktusenangdansedih #diwaktulapangdansempit #tunaikanlahhakAllahdalamkeadaanlapang #ingatlahAkuniscayaAkuakanmengingatkalian #ingindoanyadikabulkandimasakesulitan #perbanyakdoaketikadimasalapang

,

JALAN GOLONGAN YANG SELAMAT

JALAN GOLONGAN YANG SELAMAT
JALAN GOLONGAN YANG SELAMAT
>> Firqatun Najiyah
 
Istilah golongan yang selamat yang dalam bahasa Arab disebut dengan Al-Firqatu An-Najiyah ( الفرقة الناجية ) muncul berdasarkan hadis Nabi ﷺ yakni:
 
افترقت اليهود على إحدى و سبعين فرقة ، فواحدة في الجنة و سبعين في النار ، و افترقت النصارى على اثنين و سبعين فرقة فواحدة في الجنة و إحدى و سبعين في النار ، و الذي نفسي بيده لتفترقن أمتي على ثلاث و سبعين فرقة ، فواحدة في الجنة و ثنتين و سبعين في النار ، قيل يا رسول الله من هم ؟ قال : هم الجماعة
 
“Yahudi telah berpecah-belah menjadi 71 golongan, maka satu di Surga dan tujuh puluh di Neraka. Dan Nashara telah berpecah belah menjadi 72 golongan, maka satu di Surga dan tujuh puluh satu di Neraka. Dan demi yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh umatku akan berpecah belah menjadi 73 golongan, maka satu di Surga dan tujuh puluh dua di Neraka. Dikatakan “Wahai Rasul ALLAH, siapa mereka itu?” Beliau ﷺ berkata: “Mereka adalah al-Jamaah.”” [HR Ahmad, shahih]
 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

#jalangolonganyangselamat #alfirqatunannajiyah #Umatkuberpecahbelah #menjadi73Golongan #73Golongan #72Golongan #71Golongan #Yahudi #Nashara #Nasharo #N

, , , ,

DEMI SEBUAH KURSI KEDUDUKAN

DEMI SEBUAH KURSI KEDUDUKAN
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
DEMI SEBUAH KURSI KEDUDUKAN
>> Nasihat yang sangat baik untuk mereka yang mengaku sedang memperjuangkan Islam, kepada mereka yang merasa sedang mengibarkan bendera Islam
>> Ambisi untuk memperoleh kedudukan dapat merusak agama seseorang
>> Benarkah jika kita tidak menduduki kursi-kursi penting, maka Islam akan diinjak-injak?
 
 
عَنِ ابْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ الْأَنْصَارِيِّ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ :قَالَ رَسُولُ الله ِn: مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلاَ فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ
 
Dari Ka’ab bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidaklah dua ekor serigala yang lapar dilepas di tengah sekawanan kambing, lebih merusak daripada merusaknya seseorang terhadap agamanya, karena ambisinya untuk mendapatkan harta dan kedudukan.”
[HR At-Tirmidzi (no. 2482) Al-Imam Ahmad (3/456) Asy-Syaikh Muqbil di dalam Ash-Shahihul Musnad (2/178) dan Asy-Syaikh Al-Albani di dalam Shahihul Jami’ (no. 5620)]
 
Makna Hadis
 
Makna hadis ini, kerusakan yang ditimbulkan oleh dua ekor serigala lapar yang dibiarkan bebas di antara sekawanan kambing masih belum seberapa, apabila dibandingkan kerusakan yang muncul karena ambisi seseorang untuk mendapatkan kekayaan dan kedudukan. Karena ambisi untuk mendapatkan harta dan kedudukan akan mendorong seseorang untuk mengorbankan agamanya. Adapun harta, dikatakan merusak karena ia memiliki potensi untuk mendorongnya terjatuh dalam syahwat, serta mendorongnya untuk berlebihan dalam bersenang-senang dengan hal-hal mubah, sehingga akan menjadi kebiasaannya. Terkadang ia terikat dengan harta, lalu tidak dapat mencari dengan cara yang halal, akhirnya ia terjatuh dalam perkara syubhat. Ditambah lagi, harta akan melalaikan seseorang dari zikrullah. Hal-hal seperti ini tidak akan terlepas dari siapa pun.
 
Adapun kedudukan, cukuplah sebagai bukti kerusakannya, bahwa harta dikorbankan untuk meraih kedudukan. Sementara kedudukan tidak mungkin dikorbankan hanya untuk mendapatkan harta. Inilah yang dimaksud dengan syirik khafi (syirik yang tersamar). Dia tenggelam di dalam sikap oportunis, merelakan prinsipnya hilang, kenifakan, dan seluruh akhlak tercela. Maka ambisi terhadap kedudukan lebih merusak dan lebih merusak. [Tuhfatul Ahwadzi Syarah Sunan At-Tirmidzi]
 
Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah berkata:
“Nabi Muhammad ﷺ (di dalam hadis ini) mengabarkan, bahwa ambisi untuk memperoleh kedudukan dapat merusak agama seseorang. Kerusakannya tidak kurang dari kerusakan yang ditimbulkan oleh dua ekor serigala terhadap sekawanan kambing. Agama seorang hamba tidak akan selamat bila ia memiliki ambisi untuk memperoleh harta dan kedudukan. Hanya sedikit yang dapat selamat. Perumpamaan yang teramat agung ini memberikan pesan untuk benar-benar waspada dari keburukan ambisi untuk memperoleh harta dan kedudukan di dunia.”
 
Beliau rahimahullah juga berkata:
“Ambisi seseorang terhadap kedudukan tentu lebih berbahaya dibandingkan ambisinya terhadap harta. Karena usaha untuk mendapatkan kedudukan duniawi, derajat tinggi, kekuasaan atas orang lain, dan kepemimpinan di atas muka bumi, lebih besar mudaratnya dibandingkan usaha mencari harta. Sungguh besar mudaratnya. Bersikap zuhud dalam hal ini begitu sulit.” [Syarh Ibnu Rajab]
 
Menjaga Agama adalah Cita-cita Mulia
 
Di dalam hadis ini terdapat faidah yang mengingatkan kita, bahwa perkara yang terpenting bagi seorang hamba adalah menjaga agamanya. Serta merasa rugi apabila muncul kekurangan di dalam menjalankan agama. Cinta seorang hamba terhadap harta dan kedudukan, upaya yang ia tempuh untuk mendapatkannya, ambisi untuk meraih harta dan kedudukan, serta kerelaan bersusah-payah untuk mengalahkan, hanya akan menyebabkan kehancuran agama dan runtuhnya sendi-sendi agamanya. Simbol-simbol agama akan terhapus. Bangunan-bangunan agamanya pun akan roboh. Ditambah lagi bahaya yang akan ia hadapi karena menempuh sebab-sebab kebinasaan.
 
Kepada mereka yang mengaku sedang memperjuangkan Islam, kepada mereka yang merasa sedang mengibarkan bendera Islam, apakah mereka lebih baik dari Salaf, generasi pertama umat Islam? Perhatikanlah sabda Rasulullah ﷺ kepada Abdurrahman bin Samurah radhiyallahu ‘anhu dalam Riwayat Muslim:
 
يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ، لاَ تَسْأَلِ الْإِمَارَةَ فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا وَإِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا
 
“Wahai Abdurrahman, janganlah engkau meminta kepemimpinan. Karena sesungguhnya bila engkau memperoleh kepemimpinan karena permintaanmu, maka engkau akan dibiarkan. Dan jika engkau memperolehnya tanpa dasar permintaan, engkau akan dibantu.” [Silakan merujuk majalah Asy Syariah Vol I/No. 06/Maret 2004/Muharram 1425 untuk keterangan lebih lengkap tentang hadis ini, dengan tema Hukum Meminta Jabatan]
 
Maka, apakah mereka yang berebut kursi dan mencari suara terbanyak dapat dikatakan sedang memperjuangkan Islam? Dusta dan sungguh dusta lisan mereka. Mungkin terbersit dalam benak, jika kita tidak menduduki kursi-kursi penting, maka Islam akan diinjak-injak? Maka, jawabnya ada pada pendirian seorang Imam Ahlus Sunnah Ahmad bin Hanbal rahimahullahu ta’ala. Disebutkan dalam Mihnatul Imam Ahmad (hal. 70-72) beliau berkata: ”Sungguh, sekali-kali tidak mungkin hal itu akan terjadi! Sesungguhnya Allah taala pasti akan membela agama-Nya. Sesungguhnya ajaran Islam ini memilki Rabb yang akan menolongnya. Dan sesungguhnya dienul Islam ini sangat kuat dan kokoh.”
 
Jadilah orang-orang yang tidak menginginkan kekuasaan dan kerusakan di atas muka bumi. Padahal mereka lebih mulia kedudukannya dibanding yang lain. Allah taala berfirman:
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” [QS. Ali Imran: 139]
Alangkah banyak orang yang mengharapkan kekuasaan padahal justru membuat dirinya semakin terhina. Betapa banyak orang yang diangkat kedudukannya, padahal dirinya tidak berharap kekuasaan dan kerusakan. [As-Siyasah Asy-Syar’iyyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu ta’ala]
 
Wallahu a’lam.
 
 
 
Dinukil dari tulisan yang berjudul: “Demi Sebuah Kursi Kedudukan
yang ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

#rakushartadankedudukan #gilajabatan #hukummemintajabatan #duaserigalalapar #berebutkursi, #mencarisuaraterbanyak #demokstrasi #pemilu #pilkada #ambisiterhadapjabatanlebihberbahayadaripadaharta #merusakagamaseseorang #dilepasditengahsekawanankambing

, ,

JUJURLAH, KARENA KEJUJURAN AKAN LEBIH MENENANGKAN HATI

JUJURLAH, KARENA KEJUJURAN AKAN LEBIH MENENANGKAN HATI
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
JUJURLAH, KARENA KEJUJURAN AKAN LEBIH MENENANGKAN HATI
 
Keutamaan Jujur
 
Nabi ﷺ menganjurkan umatnya untuk selalu jujur, karena kejujuran merupakan mukadimah akhlak mulia yang akan mengarahkan pemiliknya kepada akhlak tersebut. Sebagaimana dijelaskan oleh Nabi ﷺ:
“Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebajikan.”
Kebajikan adalah segala sesuatu yang meliputi makna kebaikan, ketaatan kepada Allah, dan berbuat bajik kepada sesama.
Sifat jujur merupakan alamat keislaman, timbangan keimanan, dasar agama, dan juga tanda kesempurnaan bagi si pemilik sifat tersebut. Baginya kedudukan yang tinggi di dunia dan Akhirat. Dengan kejujurannya, seorang hamba akan mencapai derajat orang-orang yang mulia dan selamat dari segala keburukan.
 
Macam-Macam Kejujuran
 
1. Jujur dalam niat dan kehendak. Ini kembali kepada keikhlasan. Kalau suatu amal tercampuri dengan kepentingan dunia, maka akan merusakkan kejujuran niat, dan pelakunya bisa dikatakan sebagai pendusta. Sebagaimana kisah tiga orang yang dihadapkan kepada Allah, yaitu seorang mujahid, seorang qari’, dan seorang dermawan. Allah menilai ketiganya telah berdusta. bukan pada perbuatan mereka, tetapi pada niat dan maksud mereka.
 
2. Jujur dalam ucapan. Wajib bagi seorang hamba menjaga lisannya. Tidak berkata kecuali dengan benar dan jujur. Benar/jujur dalam ucapan merupakan jenis kejujuran yang paling tampak dan terang di antara macam-macam kejujuran.
 
3. Jujur dalam tekad dan memenuhi janji. Contohnya seperti ucapan seseorang, “Jikalau Allah memberikan kepadaku harta, aku akan membelanjakan semuanya di jalan Allah.” Maka yang seperti ini adalah tekad. Terkadang benar, tetapi adakalanya juga ragu-ragu atau dusta. Hal ini sebagaimana firman Allah:
“Di antara orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya).” [QS. al-Ahzab: 23]
 
Dalam ayat yang lain, Allah berfirman:“Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah, ‘Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.’ Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu dan berpaling. Dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).” [QS. at-Taubah: 75-76]
 
4. Jujur dalam perbuatan. Yaitu seimbang antara lahiriah dan batin, hingga tidaklah berbeda antara amal lahir dengan amal batin, sebagaimana dikatakan oleh Mutharrif: “Jika sama antara batin seorang hamba dengan lahiriahnya, maka Allah akan berfirman: ‘Inilah hambaku yang benar/jujur.’”
 
5. Jujur dalam kedudukan agama. Ini adalah kedudukan yang paling tinggi. Sebagaimana jujur dalam rasa takut dan pengharapan, dalam rasa cinta dan tawakal. Perkara-perkara ini mempunyai landasan yang kuat, dan akan tampak kalau dipahami hakikat dan tujuannya. Kalau seseorang menjadi sempurna dengan kejujurannya, maka akan dikatakan orang ini adalah benar dan jujur, sebagaimana firman Allah:“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” [QS. al-Hujurat: 15]
 
Realisasi perkara-perkara ini membutuhkan kerja keras. Tidak mungkin seseorang manggapai kedudukan ini hingga dia memahami hakikatnya secara sempurna. Setiap kedudukan (kondisi) mempunyai keadaannya sendiri-sendiri. Ada kalanya lemah, ada kalanya pula menjadi kuat. Pada waktu kuat, maka dikatakan sebagai seorang yang jujur. Dan jujur pada setiap kedudukan (kondisi) sangatlah berat. Terkadang pada kondisi tertentu dia jujur, tetapi di tempat lainnya sebaliknya. Salah satu tanda kejujuran adalah menyembunyikan ketaatan dan kesusahan, dan tidak senang orang lain mengetahuinya.
 
Nabi ﷺ bersabda:
“Tinggalkan apa yang meragukanmu kepada yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran lebih menenangkan jiwa. Sedangkan dusta (menipu) akan menggelisahkan jiwa.” [HR At- Tirmidzi]
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#jujur #kejujuran #dusta #bohong #akhlakmulia#tinggalkanapayangmeragukanmu #dustamenggelisahkanjiwa #menenangkanhati
, ,

KEDUDUKAN TINGGI DI SISI ALLAH

KEDUDUKAN TINGGI DI SISI ALLAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
KEDUDUKAN TINGGI DI SISI ALLAH
 
 
Jika Allah menakdirkan kita sebagai seorang hamba dengan kedudukan tinggi di sisi-Nya, tetapi ternyata amalan-amalan yang kita miliki tidak dapat mencapai derajat tersebut, maka Allah akan menguji kita dengan nikmat dan cobaan, sehingga kita senantiasa bersyukur dengan nikmat yang diberikan-Nya, serta pula sabar dan rida ketika mendapati suatu cobaan/musibah. Maka sesungguhnya, dengan itulah Allah mengangkat kedudukan kita sebagai seorang hamba.
 
إِذَا سَبَقَتْ لِلْعَبْدِ مِنْ اللَّهِ مَنْزِلَةٌ لَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ ابْتَلَاهُ اللَّهُ فِي جَسَدِهِ أَوْ فِي مَالِهِ أَوْ فِي وَلَدِهِ ثُمَّ صَبَّرَهُ حَتَّى يُبْلِغَهُ الْمَنْزِلَةَ الَّتِي سَبَقَتْ لَهُ مِنْهُ
 
“Jika seseorang hamba ditetapkan kedudukan mulia dari Allah, sementara ia belum mencapainya dengan amalannya, maka Allah akan memberinya musibah pada tubuhnya, atau hartanya, atau anaknya. Lalu Allah akan menjadikannya sabar (yakni, Allah memberi taufik kepadanya sehingga ia bersabar), sehingga kesabaran tersebut menghantarkanya hingga mencapai kedudukan mulia yang telah ditetapkan untuknya.” [HR. Ahmad Shahih, silsilah Al-Haadits Ash-shahihah 2599]
 
Mari kita renungkan …
Bukankah Allah taala akan menghapuskan dosa dari hamba-Nya yang bersabar dalam menghadapi ujian maupun cobaan? Dan juga bukankah Allah taala akan mengangkat derajat orang-orang yang bersabar?
 
Maka hendaklah kita selalu bersabar serta berharap balasan pahala yang terbaik, bahkan bisa lebih baik daripada apa yang kita duga dan dari apa yang kita upayakan..
 
وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
 
“Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl 96]
 
________________________________
 
Penulis: Abdullah bin Suyitno (عبدالله بن صيتن)
 
#kedudukantinggidisisiAllah #kedudukanmuliadisisiAllah #sabar, #bersabar,  #fitnah, #ujian, #musibah, #menggugurkandosadosa #pahalaorangbersabar