, ,

BUAH DARI BERIMAN KEPADA TAKDIR ALLAH

BUAH DARI BERIMAN KEPADA TAKDIR ALLAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
BUAH DARI BERIMAN KEPADA TAKDIR ALLAH
 
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
 
والإيمان بالقضاء والقدر والرضا به ، يبعد عن العبد : الهمّ.. والغم.. والحزن
 
“Beriman kepada Qadha dan Qadar serta rida dengan hal tersebut akan menjauhkan seorang hamba dari:
  • Kesedihan,
  • Kesusahan,
  • Kedukaan.” [Madarijus Salikin 2]
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#buah, #hasil, #imankepadatakdirAllah #buahdariberiman #kepadatakdirAllah #taqdir #qadha #qodho #qadar #qodar #imankepadatakdir
,

UJIAN DAN MUSIBAH TANDA ALLAH CINTA

UJIAN DAN MUSIBAH TANDA ALLAH CINTA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
 
UJIAN DAN MUSIBAH TANDA ALLAH CINTA
>> Pahala yang Setimpal
 
hadist hadis Allah menguji hambanya jika Allah mencintai suatu kaum maka Allah akan mengujinya apabila Allah mencintai hambanya bila alloh cinta maka diuji jika Allah mencintai seorang hamba
 
Inilah yang patut dipahami setiap insan beriman, bahwa cobaan kadang dapat meninggikan derajat seorang Muslim di sisi Allah dan tanda, bahwa Allah semakin menyayangi dirinya. Dan semakin tinggi kualitas imannya, semakin berat pula ujiannya. Namun ujian terberat ini akan dibalas dengan pahala yang besar pula. Sehingga kewajiban kita adalah bersabar. Sabar ini merupakan tanda keimanan dan kesempurnaan tauhidnya. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
 
إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَفَّى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
 
“Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada Hari Kiamat kelak.” [HR. Tirmidzi no. 2396, Hasan shahih kata Syaikh Al Albani]
 
Juga dari hadis Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau ﷺ bersabda:
 
إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ
 
“Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barang siapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barang siapa siapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” [HR. Ibnu Majah no. 4031, Hasan kata Syaikh Al Albani]
 
Faidah dari dua hadis di atas:
 
1- Musibah yang berat (dari segi kualitas dan kuantitas) akan mendapat balasan pahala yang besar.
 
2- Tanda Allah cinta, Allah akan menguji hamba-Nya. Dan Allah yang lebih mengetahui keadaan hamba-Nya. Kata Lukman, seorang shalih, pada anaknya:
 
يا بني الذهب والفضة يختبران بالنار والمؤمن يختبر بالبلاء
 
“Wahai anakku ketahuilah, bahwa emas dan perak diuji keampuhannya dengan api, sedangkan seorang Mukmin diuji dengan ditimpakan musibah.”
 
3- Siapa yang rida dengan ketetapan Allah, ia akan meraih rida Allah dengan mendapat pahala yang besar.
 
4- Siapa yang tidak suka dengan ketetapan Allah, ia akan mendapat siksa yang pedih.
 
5- Cobaan dan musibah dinilai sebagai ujian bagi wali Allah yang beriman.
 
6- Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia dengan diberikan musibah yang ia tidak suka sehingga ia keluar dari dunia dalam keadaan bersih dari dosa.
 
7- Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada Hari Kiamat kelak. Ath Thibiy berkata: “Hamba yang tidak dikehendaki baik, maka kelak dosanya akan dibalas hingga ia datang di Akhirat penuh dosa sehingga ia pun akan disiksa karenanya.” [Lihat Faidhul Qodir, 2: 583, Mirqotul Mafatih, 5: 287, Tuhfatul Ahwadzi, 7: 65]
 
8- Dalam Tuhfatul Ahwadzi disebutkan: “Hadis di atas adalah dorongan untuk bersikap sabar dalam menghadapi musibah setelah terjadi, dan bukan maksudnya untuk meminta musibah datang karena ada larangan meminta semacam ini.”
 
Jika telah mengetahui faidah-faidah di atas, maka mengapa mesti bersedih? Sabar dan terus bersabar, itu solusinya.
 
Semoga Allah memberi kita taufik dalam bersabar ketika menghadapi musibah.
WAllahul muwaffiq.
 
Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah
[www.rumaysho.com]
 
 
 
 
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#pahalayangsetimpal, #pahalabesar, #balasanujianberat, #Allahcintasuatukaum, #Allahmencintaisuatukaum, #Allahmenimpakanujian, #ridho, #ridha, #rida, #ujianAllah, #Allahmurka, #Allahtidakmurka, #meraihridaAllah, #meraihridhaAllah #ridhaAllah #ridhoAllah #ridaAllah #mutiarasunnah #ujiandanmusibah, #tandaAllahcinta, #tandacintaAllah, #besarnyapahala, #besarnyaujian, #fitnah, #ujian #hadist #hadis #Allahmengujihambanya #jikaAllahmencintaisuatukaum #Allahakanmengujinya #apabilaAllahmencintaihambanya #bilaallohcinta #diuji #jikaAllahmencintaiseoranghamba #ujiandanmusibah, #tandaAllahcinta, #tandacintaAllah, #besarnyapahala, #besarnyaujian, #fitnah, #ujian
,

INSYAALLAH BUKANLAH SEKADAR KALIMAT PEMANIS BIBIR

INSYAALLAH BUKANLAH SEKADAR KALIMAT PEMANIS BIBIR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#AkidahTauhid

INSYAALLAH BUKANLAH SEKADAR KALIMAT PEMANIS BIBIR

>> Katakanlah “Insyaallah”! Mudah-Mudahan Allah Membantumu Melaksanakannya

Kasus Pertama

Di antara sebab turunnya Surat al Kahfi adalah ketika orang-orang Quraisy bertanya tiga pertanyaan titipan orang-orang Yahudi kepada Rasulullah ﷺ:

Pertama: Tanyakan tentang para pemuda yang pergi di masa lalu, apa yang mereka lakukan. Sesungguhnya mereka mengalami peristiwa yang menakjubkan.

Kedua: Tanyakan padanya tentang lelaki yang sering berkelana. Ia telah mengunjungi seluruh penjuru bumi.

Ketiga: Tanyakan padanya tentang apa itu ruh.

Rasulullah ﷺ pun menjawab: “Akan kujawab apa yang kamu tanyakan besok”. Namun apa yang terjadi? sampai 15 hari, jawaban tersebut tidaklah turun. Dan akhirnya turunlah Surat al Kahfi untuk mennjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, yang di antara ayatnya ada sebuah teguran kepada Rasulullah ﷺ untuk TIDAK memastikan sesuatu kecuali dengan kata insyaallah.

وَلاَتَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًاإِلآ أَن يَشَآءَ اللهُ

“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: ‘Sesungguhnya kau akan mengerjakan itu besok pagi’, kecuali (dengan menyebut), ‘Insyaallah’”. (QS. Al Kahfi: 24)

Ternyata kuncinya adalah ucapan “Insyaallah”.

Kasus Kedua

Kalau kita membuka-buka kembali Alquran, kita juga akan dapati sebuah kisah orang-orang Yahudi di zaman Nabi Musa, yang diperintahkan untuk menyembelih sapi betina, namun mereka ngeyel. Mereka terus bertanya-tanya model sapinya:

Kali pertama disuruh mereka bertanya:

قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَاهِيَ

“Mohonkanlah kepada Rabb-mu untuk kami, agar dia menerangkan kepada kami, sapi betina apakah itu?” (QS. Al Baqarah: 68)

Setelah dijelaskan masih bertanya lagi:

قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَالَوْنُهَا

”Mohonkanlah kepada Rabb-mu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya”. (QS. Al Baqarah: 69)

Setelah dijelaskan, masih bertanya lagi, namun kali ini Bani Israil itu menambahkan kalimat, “insyaallah”

قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَاهِيَ إِنَّ الْبَقَرَ تَشَابَهَ عَلَيْنَا وَإِنَّا إِن شَآءَ اللَّهُ لَمُهْتَدُونَ

”Mohonkanlah kepada Rabb-mu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami, bagaimana hakikat sapi betina itu. Karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami, dan sesungguhnya kami insyaallah akan mendapat petunjuk” (QS. Al Baqarah: 70)

Barulah, mereka menyembelihnya

فَذَبَحُوهَا وَمَاكَادُوا يَفْعَلُونَ

”Kemudian mereka menyembelihnya, dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.” (QS. Al Baqarah: 71)

Ternyata, kuncinya adalah kalimat “Insyaallah”.

Kasus Ketiga

Dalam hadis diriwayatkan kisah Ya’juj dan Ma’juj. Disebutkan kisah Ya’juj dan Ma’juj yang mencoba membongkar tembok yang telah dibuat oleh Dzulqarnain.

“Sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj membongkarnya setiap hari, sampai ketika mereka hampir melihat cahaya matahari. Pemimpin mereka berkata: ‘Kita pulang, kita teruskan besok’. Lalu Allah mengembalikannya lebih kuat dari sebelumnya. Ketika masa mereka telah tiba dan Allah ingin mengeluarkan mereka kepada manusia, mereka menggali. Ketika mereka hampir melihat cahaya matahari, pemimpin mereka berkata: ‘Kita pulang, kita teruskan besok insyaallah’. Mereka mengucapkan insyaallah. Mereka kembali ke tempat mereka menggali, mereka mendapatkan galian seperti kemarin. Akhirnya mereka berhasil menggali dan keluar kepada manusia”. (HR Ibnu Majah dan at Tirmidzi dishahihkan oleh Al Albani dalam Silsilah ash Shahihah)

Maka sekali lagi kita dapati bahwa kuncinya adalah kalimat ”Insyaallah”.

Kasus Keempat

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan juga oleh Bukhari, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

“Sulaiman bin Dawud berkata: ‘Sungguh aku akan menggilir sembilan puluh istriku pada malam ini. Masing-masing akan melahirkan satu pejuang yang akan berjuang di jalan Allah.’ Lalu sahabatnya berkata: ‘Ucapkan insyaallah!’, tetapi beliau tidak mengucapkannya. Akhirnya dia menggauli semua istrinya itu, dan tidak satu orang pun dari mereka hamil, kecuali satu istri saja yang melahirkan anak dengan wujud setengah manusia. Demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya, seandainya dia mengucapkan ‘insyaallah’, niscaya mereka semua akan (melahirkan) para pejuang yang berjuang di jalan Allah.”

Lagi, ternyata kuncinya adalah kalimat “Insyaallah”.

Kasus Kelima

Dalam Alquran yang mulia disebutkan tentang pemilik kebun yang bersumpah pasti akan memetik hasil kebun mereka pada pagi hari:

إِنَّا بَلَوْنَاهُمْ كَمَا بَلَوْنَا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ إِذْ أَقْسَمُوا لَيَصْرِمُنَّهَا مُصْبِحِينَ .وَلَا يَسْتَثْنُونَ .فَطَافَ عَلَيْهَا طَائِفٌ مِّن رَّبِّكَ وَهُمْ نَائِمُونَ.فَأَصْبَحَتْ كَالصَّرِيمِ

“Sesungguhnya Kami telah menguji mereka (musyrikin Mekah), sebagaimana Kami telah mennguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah, bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari, tetapi mereka tidak menyisihkan (dengan mengucapkan, insyaallah). Lalu kebun itu ditimpa bencana yang datang dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur. Maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita” (QS. Al Qalam: 68)

Pada ayat “وَلَا يَسْتَثْنُونَ ” dalam Tafsir Al-Qurtubi: {اي ولم يقولوا إن شاء الله } yaitu mereka belum mengatakan insyaallah. Begitu juga di Tafsir Al Muyassar.

Sekali lagi, ternyata kuncinya adalah kalimat “Insyaallah”.

Maka, insyaallah bukanlah sekadar kalimat pemanis bibir. Dengan mengucapkan insyaallah, kita berharap kepada Allah, agar Dia menetapkan janji dan rencana amal saleh yang kita buat.

 

***

Penyusun: Irilaslogo

Sumber:

  • http://muslimah.or.id, dari status ustadz Amrullah Akadhinta
  • Anakku Sudah Tepatkah Pendidikannya? Karya Musthafa Al-Adawi
,

MENGUCAPKAN INSYA ALLAH BUKANLAH KARENA RAGU, AKAN TETAPI SEBAGAI HARAPAN, AGAR ALLAH MEWUJUDKAN KEINGINAN KITA

MENGUCAPKAN INSYA ALLAH BUKANLAH KARENA RAGU, AKAN TETAPI SEBAGAI HARAPAN, AGAR ALLAH MEWUJUDKAN KEINGINAN KITA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#AkidahTauhid

MENGUCAPKAN INSYA ALLAH BUKANLAH KARENA RAGU, AKAN TETAPI SEBAGAI HARAPAN, AGAR ALLAH MEWUJUDKAN KEINGINAN KITA

Dijelaskan Imam Ibnu Taimiyyah dalam Kitabul Iimaan:

“Orang ini mengatakan insya Allah bukan karena ia RAGU akan kehendak dan ambisinya tersebut. Hanya saja, pada perwujudan apa yang dikehendakinya dan di’azzamkannya tersebut, (maka ia menyandarkannya pada kehendak Allah ﷻ). Dia TAKUT apabila TIDAK mengucapkan insya Allah, maka (Allah) akan mengurangi hasratnya, dan (ia pun) tidak berhasil mendapatkan apa yang dikehendakinya.”

Beliau juga berkata:

“…Mengucapkan insya Allah, BUKANLAH karena RAGU tentang apa yang diharapkan atau dikehendaki, akan tetapi sebagai HARAPAN, agar Allah mewujudkan keinginannya tersebut…” [Kitaabul Iimaan, Edisi Indonesia: Al Iimaan, Pustaka Darul Falah]

Lihatlah dalam perkataan ini saja, sudah tercakup DUA UNSUR PENTING DALAM IBADAH: rasa harap dan rasa takut.

Bukankah jika dalam hati kita ketika mengucapkan perkataan ini, dan kuat rasa harap dan takut kita kepada Allah, akan berbuah sebagai amalan saleh yang tinggi nilainya!? (sebesar rasa takut dan harap kita ketika beramal!?)

Demikianlah, SATU UCAPAN orang yang berilmu dan menghadirkan hatinya, SANGAT JAUH dengan ucapan orang yang tidak tahu ilmunya, atau ucapannya orang yang lalai hatinya, meskipun ia tahu ilmunya.

Dibalik ucapan insya Allah pun terkandung tawakkal dan perwujudan keimanan terhadap qadha dan qadar-Nya!

Tidak hanya itu… ucapan insya Allah… juga merupakan perwujudan ilmu kita tentang TAWAKKAL kepada Allah, dan juga perwujudan ilmu kita akan keimanan kita terhadap qadha dan qadarNya!

Syaikhul Islaam berkata tentang firman Allah:

وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَٰلِكَ غَدًا . إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ

“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: ‘Sesungguhnya aku akan pasti mengerjakan ini besok pagi…’ kecuali (dengan menyebut): ‘Insyaa Allah’ (jika Allah menghendaki)…” (al Kahfi 23-24)

إِنِّي فَاعِلٌ ذَٰلِكَ غَدًا

“Aku benar-benar akan mengerjakan yang demikian esok hari…” terkandung makna pengharapan dan pengabaran.

Pengharapannya itu KUAT dan PASTI (ada di hatinya). Adapun jika apa yang diharapkannya tersebut terjadi, maka itu karena Allah menghendakinya (terjadi)…

Dalam permintaannya ini, terkandung permintaan kepada Allah. Sedangkan tentang pengabaran, dia tidak mengabarkan, kecuali apa yang diketahui Allah. Oleh karenanya, siapa YANG MEMASTIKAN tanpa istisnaa’, maka dia seperti orang yang yakin terhadap Allah, namun kemudian Allah mendustakannya.

Maka seorang MUSLIM yang berhasrat akan sesuatu, yang ia sangat ingin dan mengharapkannya tanpa ada keraguan padanya, maka hendaklah ia (tetap) mengucapkan insya Allah, agar apa yang diharapkannya terwujud. Sebab hal tersebut sekali-kali tidak akan terjadi, kecuali dengan kehendak Allah. (Sehingga ucapan istisnaa’ ini) bukan karena keragu-raguan kehendaknya.

PENGGUNAAN YANG BENAR tentang insya Allah, adalah sebagaimana dijelaskan al-Ustadz Firanda Andirja hafizhahullaahu ta’aala dalam tulisan berikut ini:

PENGGUNAAN KATA “INSYAA ALLAH” UNTUK TIGA FUNGSI YANG BENAR DAN SATU FUNGSI YANG SALAH

Penggunaan kata “Insyaa Allah” untuk tiga fungsi yang benar, dan satu fungsi yang salah:

(1) Untuk menekankan sebuah kepastian. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ dalam doa ziarah kubur:

“Dan kami insyaa Allah akan menyusul kalian, wahai penghuni kuburan”.

Dan tentunya kita semua pasti meninggal. Demikian juga firman Allah:

“Sesungguhnya kalian pasti akan memasuki Masjdil Haram insyaa Allah, dalam keadaan aman.” [QS Al-Fath: 27]

(2) Untuk menyatakan usaha/kesungguhan, akan tetapi keberhasilan pelaksanaannya di tangan Allah, seperti perkataan kita: “Bulan depan saya akan umroh, insyaa Allah”.

(3) Karena ada keraguan, akan tetapi masih ada keinginan.

(4) Yaitu SALAH penggunaan fungsi: Sebagai senjata untuk melarikan diri atau untuk menolak. Seperti perkataan seseorang tatkala diundang ke sebuah acara, lantas dalam hatinya ia tidak mau hadir, maka ia pun berkata: “Insyaa Allah”.

Atau tatkala diminta bantuan, lantas ia tidak berkenan, maka dengan mudah ia berlindung di balik kata “Insyaa Allah”.

Inilah fenomena yang menyedihkan tatkala perkataan “Insyaa Allah” yang seharusnya untuk menyatakan kesungguhan, malah digunakan untuk menolak [Sumber: https://firanda.com/index.php/artikel/status-facebook/267-penggunaan-kata-qinsyaa-allahq-untuk-3-fungsi-yang-benar-dan-1-fungsi-yang-salah]

Wallahu a’lam.