, , ,

IMAM MALIK: MEREKA MENYANGKA NABI MUHAMMAD TELAH MENGKHIANATI KERASULAN

IMAM MALIK: MEREKA MENYANGKA NABI MUHAMMAD TELAH MENGKHIANATI KERASULAN
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
IMAM MALIK: MEREKA MENYANGKA NABI MUHAMMAD TELAH MENGKHIANATI KERASULAN
 
Imam Malik rahimahullah mengatakan:
“Siapa saja yang mengadakan perkara baru dalam Islam ini dan menganggapnya baik, dia telah menyangka bahwa Muhammad ﷺ telah mengkhianati risalah.
 
Karena Allah ﷻ telah berfirman:
“Hari ini telah Aku lengkapi untuk kalian agama kalian.” [QS. Al Maidah:3]
 
Maka segala sesuatu yang pada hari diturunkannya ayat itu bukan merupakan agama, hari ini pun bukan merupakan agama.” [Disebutkan oleh Asy Syathibi dalam Al I’tisham]
 
, ,

KEUTAMAAN MEMPERINGATKAN BAHAYA BIDAH

KEUTAMAAN MEMPERINGATKAN BAHAYA BIDAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
KEUTAMAAN MEMPERINGATKAN BAHAYA BIDAH
 
 
Asy-Syaikh Rabi’ bin Hady al-Madkhaly hafizhahullah berkata:
 
التحذير من البدع أفضل وأرقى درجات الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر.
 
“Memperingatkan bahaya (mentahdzir) bidah adalah tingkatan yang paling afdhal dan paling tinggi dalam amar ma’ruf nahi munkar.” [Marhaban Yaa Thalibal ‘Ilmi, hlm. 329]
 
 
 
 
 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

#mentahdzir #mentahzir #tahdzir #tahzir #bahayabidah #ahlibidah #ahlulbidah #tingkatantertinggi #amarmarufnahimungkar #keutamaan #fadhilah #keutamaanmemperingatkanbahayabidah #nasihatulama #petuahulama

, , , ,

BERMAJELIS DENGAN AHLI BIDAH DAN MENGATAKAN CUKUPLAH UMAT INI BERPECAH

BERMAJELIS DENGAN AHLI BIDAH DAN MENGATAKAN CUKUPLAH UMAT INI BERPECAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
BERMAJELIS DENGAN AHLI BIDAH DAN MENGATAKAN CUKUPLAH UMAT INI BERPECAH
 
Penanya:
 
طالب علم يجالس أهل السنة وأهل البدع، ويقول: كفى الأمة تفريقاً وأنا أجالس الجميع.
 
Seorang penuntut ilmu bermajelis kepada Ahlussunnah dan Ahli Bidah, dan ia mengatakan: “Cukuplah umat ini berpecah dan aku tetap bermajelis kepada semuanya.”
 
Jawaban Asy-Syaikh Al-Allamah Shaleh Bin Muhammad Al-Luhaidan hafizhahullah:
 
( هذا مبتدع )، من لم يفرق بين الحق والباطل ويدعي أن هذا لجمع الكلمة فهذا هو الابتداع، نسأل الله أن يهديه. نعم ).
 
“Orang ini Mubtadi. Barang siapa yang tidak membedakan antara Al-Haq dan Al-Bathil dan mengklaim bahwasanya ini untuk menyatukan kalimat, maka ini adalah bidah. Kita memohon kepada Allah memberikan kepadanya hidayah.” [Disadur dari kaset pelajaran bakda Shalat Fajar di Masjid Mabawi pada 23/10/1418 H]
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 
#larangan #dilarang #bermajelisdenganahlulahlibidah #ahlulbidah #ahlibidah #bidah #mubtadi #alhaqalbathilbatil #harusbisabedakanalhaqkebenarandanalbathil #fatwaulama
, ,

YASINAN MALAM JUMAT SECARA BERJAMAAH ADAKAH TUNTUNANNYA?

 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
YASINAN MALAM JUMAT SECARA BERJAMAAH ADAKAH TUNTUNANNYA?
 
Sudah menjadi kebiasaan rutin pada tiap malam Jumat sebagian ibu-ibu yang tergabung dalam jamaah pengajian atau arisan RT mengadakan acara Yasinan, yaitu membaca Surat Yasin bersama-sama pada tiap rumah warga setempat secara bergiliran. Biasanya mereka melakukan hal tersebut selain sudah menjadi tradisi juga tidak terlepas untuk meraih fadhilah-fadhilah yang akan didapatkan apabila membaca Surat Yasin.
 
Terkadang dalam momen tertentu partai-partai politik juga ikut bagian memanfaatkan keadaan ini untuk menggalang masa dan dengan gencarnya menghidupkan acara ini. Mereka juga terkadang mencetak buku Yasin dengan gambar atau logo tertentu plus membagi-bagikan selendang atau jilbab dll. Maka jadilah perkumpulan Yasinan sebagai komoditi politik.
 
Membaca Alquran itu sangat di anjurkan dan bahkan mendapat pahala. Hanya saja apabila dibuat semacam pengkhususan, seakan-akan membaca Surat Yasin pada malam Jumat adalah suatu kewajiban, maka hal tersebut tentunya harus bersandar kepada dalil.
 
Tidak salah membaca Surat Yasin atau surat apapun pada malam Jumat secara sendirian. Dan sangat salah juga kalau melarang seseorang membaca Alquran.
 
Hanya saja kekeliruan anggapan bagusnya membaca Surat Yasin pada malam Jumat pada sebagian umat Islam tersebut menjadi timbul karena keliru dalam memahami fadhilah-fadhilah Surat Yasin. Dan dalam praktiknya Surat Yasin tersebut dibaca secara berjamaah, sehingga tidak ada lagi yang menyimak bacaan tersebut karena masing-masing membaca. Bagi yang kurang bisa membaca Alquran biasanya hanya mengikuti membaca bagian ujung pada setiap ayat dengan suara yang keras, sehingga tidak ada yang mengoreksi benar atau salah bacaan tersebut. Padahal alangkah baiknya seandainya membaca Alquran tersebut secara tartil dan mengerti apa maksud ayat tersebut.
Rasulullah ﷺ, para sahabat, tabi’in dan tabiut tabi’in adalah orang yang PALING MENGERTI AGAMA ISLAM. Mereka TIDAK melakukan baca Yasin pada malam Jumat secara berjamaah, walaupun mungkin sebagian manusia menganggapnya baik.
 
Pahamilah “Kaidah” yang agung ini:
 
لو كان خيرا لسبقون اليه
 
“Lau Kaana Khairan Lasabaquuna ilaihi.”
 
SEANDAINYA PERBUATAN ITU BAIK, MAKA RASULULLAH, PARA SAHABAT, TABI’IN DAN TABIUT TABI’IN PASTI MEREKA LEBIH DAHULU MENGAMALKANNYA DARIPADA KITA. Karena mereka paling tahu tentang nilai sebuah kebaikan daripada kita yang hidup di jaman sekarang ini.
 
Yang perlu diketahui juga, setelah diteliti, ternyata hadis-hadis tentang keutamaan Surat Yasin satu pun TIDAK ADA yang shahih. Silakan klik dan baca link ini:
 
 
Bahkan yang dianjurkan malah membaca Surat Al Kahfi.
Silakan klik dan baca link ini:
 
Namun ketika dinasihati akan hal tersebut biasanya mereka langsung berdalih dan mengatakan dan bergumam: “Masa baca Surat Yasin saja dilarang?!” Atau ada pula yang berkata: “Masa baca zikir saja dilarang?!”
 
Untuk menyanggah perkataan di atas, perlu sekali kita ketahui mengenai dua macam bidah, yaitu Bidah Hakikiyah dan Idhofiyah.
 
Bidah Hakikiyah adalah setiap bidah yang TIDAK ADA dasarnya sama sekali baik dari Alquran, As Sunnah, Ijma’ kaum Muslimin, dan bukan pula dari penggalian hukum yang benar menurut para ulama baik secara global maupun terperinci. (Al I’tishom, 1/219)
 
Di antara contoh Bidah Hakikiyah adalah puasa mutih (dilakukan untuk mencari ilmu sakti), mendekatkan diri pada Allah dengan kerahiban (hidup membujang seperti para biarawati), dan mengharamkan yang Allah halalkan dalam rangka beribadah kepada Allah. Ini semua tidak ada contohnya dalam syariat.
 
Bidah Idhofiyah adalah setiap bidah yang memiliki dua sisi yaitu
[a] Dari satu sisi memiliki dalil. Maka dari sisi ini BUKANLAH bidah dan
[b] Di sisi lain tidak memiliki dalil. Maka ini sama dengan Bidah Hakikiyah. (Al I’tishom, 1/219)
 
Jadi Bidah Idhofiyah dilihat dari satu sisi adalah perkara yang disyariatkan. Namun ditinjau dari sisi lain yaitu dilihat dari enam aspek adalah bidah. Enam aspek tersebut adalah waktu, tempat, tatacara (kaifiyah), sebab, jumlah, dan jenis.
 
Contoh Bidah Idhofiyah adalah zikir setelah shalat atau di berbagai waktu secara berjamaah dengan satu suara. Zikir adalah suatu yang masyru’ (disyariatkan), namun pelaksanaannya dengan tatacara semacam ini TIDAK disyariatkan dan termasuk bidah yang menyelisihi sunnah.
 
Contoh lainnya adalah puasa atau shalat malam hari Nishfu Syaban (Pertengahan Syaban). Begitu pula shalat Roghoib pada malam Jumat pertama Rajab. Kedua contoh ini termasuk Bidah Idhofiyah. Shalat dan puasa adalah ibadah yang disyariatkan, namun terdapat bidah dari sisi pengkhususan zaman, tempat dan tatacara. TIDAK ADA dalil dari Al Kitab dan As Sunnah yang mengkhususkan ketiga hal tadi.
 
Begitu juga hal ini dalam acara Yasinan dan Tahlilan. Bacaan tahlil adalah bacaan yang disyariatkan. Bahkan barang siapa mengucapkan bacaan tahlil dengan memenuhi konsekuensinya ,maka dia akan masuk Surga. Namun yang dipermasalahkan adalah pengkhususan waktu, tatacara dan jenisnya. Perlu kita tanyakan, manakah dalil yang mengkhususkan pembacaan tahlil pada hari ke-3, 7, dan 40 setelah kematian. Juga manakah dalil yang menunjukkan harus dibaca secara berjamaah dengan satu suara. Mana pula dalil yang menunjukkan, bahwa yang harus dibaca adalah bacaan Laa ilaha illallah, bukan bacaan tasbih, tahmid atau takbir. Dalam acara Yasinan juga demikian. Kenapa yang dikhususkan hanya Surat Yasin, bukan Surat Al Kahfi, Surat As Sajdah atau yang lainnya? Apa memang yang teristimewa dalam Alquran hanyalah Surat Yasin bukan surat lainnya? Lalu apa dalil yang mengharuskan baca Surat Yasin setelah kematian? Perlu diketahui, bahwa kebanyakan dalil yang menyebutkan keutamaan (fadhilah) Surat Yasin adalah dalil-dalil yang lemah bahkan sebagian palsu.
 
Jadi yang dipermasalahkan di sini adalah BUKAN puasa, shalat, bacaan Alquran maupun bacaan zikir yang ada. Akan tetapi yang kami permasalahkan adalah pengkhususan waktu, tempat, tatacara, dan lain sebagainya. Manakah dalil yang menunjukkan hal ini?
 
 
 
 
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#Yasinan #YasinansetiapmalamJumat #YasinansetiapKamisMalam #adakahtuntunannya #adakahdalilnya #bidah #acarabidah

INILAH HADIS-HADIS PALSU DAN LEMAH TENTANG KEUTAMAAN MEMBACA SURAT YASIN

INILAH HADIS-HADIS PALSU DAN LEMAH TENTANG KEUTAMAAN MEMBACA SURAT YASIN
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
INILAH HADIS-HADIS PALSU DAN LEMAH TENTANG KEUTAMAAN MEMBACA SURAT YASIN
 
Muqaddimah
 
Kebanyakan kaum Muslimin membiasakan membaca Surat Yasin, baik pada malam Jumat, ketika mengawali atau menutup majelis taklim, ketika ada atau setelah kematian, dan pada acara-acara lain yang mereka anggap penting. Saking seringnya Surat Yasin dijadikan bacaan di berbagai pertemuan dan kesempatan, sehingga mengesankan Alquran itu hanyalah berisi Surat Yasin saja. Dan kebanyakan orang membacanya memang karena tergiur oleh fadhilah atau keutamaan Surat Yasin dari hadis-hadis yang banyak mereka dengar, atau menurut keterangan dari guru mereka.
 
Alquran yang di wahyukan Allah adalah terdiri dari 30 juz. Semua surat dari Al-Fatihah sampai An-Nas jelas memiliki keutamaan yang setiap umat Islam wajib mengamalkannya. Oleh karena itu sangat dianjurkan agar umat Islam senantiasa membaca Alquran. Dan kalau sanggup hendaknya menghatamkan Alquran setiap pekan sekali, atau sepuluh hari sekali, atau dua puluh hari sekali atau khatam setiap bulan sekali. [HR Bukhari, Muslim dan lainnya]
 
Sebelum melanjutkan pembahasan, yang perlu dicamkan dan diingat dari tulisan ini adalah dengan membahas masalah ini BUKAN berarti penulis melarang atau mengharamkan membaca Surat Yasin.
 
Sebagaimana surat-surat Alquran yang lain, Surat Yasin juga harus kita baca. Akan tetapi di sini penulis hanya ingin menjelaskan kesalahan mereka yang menyandarkan tentang fadhilah dan keutamaan Surat Yasin kepada Nabi ﷺ.
 
Selain itu untuk menegaskan, bahwa tidak ada tauladan dari Nabi ﷺ membaca Surat Yasin setiap malam Jumat, setiap memulai atau menutup majelis ilmu, ketika dan setelah kematian dan lain-lain.
 
Mudah-mudahan keterangan berikut ini tidak membuat patah semangat, tetapi malah memotivasi untuk membaca dan menghafalkan seluruh isi Alquran serta mengamalkannya.
 
Kelemahan Hadis-Hadis Tentang Fadhilah Surat Yasin
 
Kebanyakan umat Islam membaca Surat Yasin karena, sebagaimana dikemukakan di atas, fadhilah dan ganjaran yang disediakan bagi orang yang membacanya. Tetapi setelah penulis melakukan kajian dan penelitian tentang hadis-hadis yang menerangkan fadhilah Surat Yasin, penulis dapati SEMUANYA ADALAH LEMAH.
 
Perlu ditegaskan di sini, jika telah tegak hujjah dan dalil, maka kita tidak boleh berdusta atas nama Nabi Muhammad ﷺ, sebab ancamannya adalah Neraka. [HR Bukhari, Muslim, Ahmad dan lainnya]
 
Hadis Dhaif dan Maudhu
 
Adapun hadis-hadis yang semuanya Dhaif (Lemah) dan atau Maudhu (Palsu) yang dijadikan dasar tentang fadhilah Surat Yasin di antaranya adalah sebagai berikut:
 
Hadis 1
Artinya: “Siapa yang membaca Surat Yasin dalam suatu malam, maka ketika ia bangun pagi hari diampuni dosanya. Dan siapa yang membaca surat Ad-Dukhan pada malam Jumat, maka ketika ia bangun pagi hari diampuni dosanya.” [Ibnul Jauzi, Al-Maudhuat, 1/247]
>> Keterangan: Hadis ini Palsu
 
Ibnul Jauzi mengatakan, hadis ini dari semua jalannya adalah batil, tidak ada asalnya. Imam Daruquthni berkata: Muhammad bin Zakaria yang ada dalam sanad hadis ini adalah tukang memalsukan hadis. [Periksa: Al-Maudhuat, Ibnul Jauzi, I/246-247, Mizanul I’tidal III/549, Lisanul Mizan V/168, Al-Fawaidul Majmua’ah hal. 268 No. 944]
 
Hadis 2
Artinya: “Siapa yang membaca Surat Yasin pada malam hari karena mencari keridaan Allah, niscaya Allah mengampuni dosanya.”
>> Keterangan: Hadis ini Lemah
 
Diriwayatkan oleh Thabrani dalam kitabnya Mu’jamul Ausath dan As-Shaghir dari Abu Hurairah, tetapi dalam sanadnya ada rawi Aghlab bin Tamim. Kata Imam Bukhari, ia Munkarul Hadis. Kata Ibnu Ma’in, ia tidak ada apa-apanya (tidak kuat). [Periksa: Mizanul I’tidal I:273-274 dan Lisanul Mizan I: 464-465]
 
Hadis 3
Artinya: “Siapa yang terus menerus membaca Surat Yasin pada setiap malam, kemudian ia mati, maka ia mati syahid.”
>> Keterangan: Hadis ini Palsu
 
Hadis ini diriwayatkan oleh Thabrani dalam Mu’jam Shaghir dari Anas, tetapi dalam sanadnya ada Sa’id bin Musa Al-Azdy, ia seorang pendusta dan dituduh oleh Ibnu Hibban sering memalsukan hadis. [Periksa: Tuhfatudz Dzakirin, hal. 340, Mizanul I’tidal II: 159-160, Lisanul Mizan III: 44-45]
 
Hadis 4
Artinya: “Siapa yang membaca Surat Yasin pada permulaan siang (pagi hari), maka akan diluluskan semua hajatnya.”
>> Keterangan: Hadis ini Lemah
 
Ia diriwayatkan oleh Ad-Darimi dari jalur Al-Walid bin Syuja’. Atha’ bin Abi Rabah, pembawa hadis ini tidak pernah bertemu Nabi ﷺ. Sebab ia lahir sekitar tahun 24H dan wafat tahun 114H.
[Periksa: Sunan Ad-Darimi 2:457, Misykatul Mashabih, takhrij No. 2177, Mizanul I’tidal III:70 dan Taqribut Tahdzib II:22]
 
Hadis 5
Artinya: “Siapa yang membaca Surat Yasin satu kali, seolah-olah ia membaca Alquran dua kali.” [HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman]
>> Keterangan: Hadis ini Palsu
 
[Lihat Dhaif Jamiush Shaghir, No. 5801 oleh Syaikh Al-Albani]
Hadis 6
Artinya: “Siapa yang membaca Surat Yasin satu kali, seolah-olah ia membaca Alquran sepuluh kali.” [HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman]
>> Keterangan: Hadis ini Palsu
 
[Lihat Dhaif Jami’ush Shagir, No. 5798 oleh Syaikh Al-Albani]
 
Hadis 7
Artinya: “Sesungguhnya tiap-tiap sesuatu mempunyai hati dan hati (inti) Alquran itu ialah Surat Yasin. Siapa yang membacanya, maka Allah akan memberikan pahala bagi bacaannya itu seperti pahala membaca Alquran sepuluh kali.”
>> Keterangan: Hadis ini Palsu
 
Hadis ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (No. 304 8) dan Ad-Darimi 2:456. Di dalamnya terdapat Muqatil bin Sulaiman. Ayah Ibnu Abi Hatim berkata: Aku mendapati hadis ini di awal kitab yang di susun oleh Muqatil bin Sulaiman. Dan ini adalah hadis batil, tidak ada asalnya. [Periksa: Silsilah Hadis Dhaif no. 169, hal. 202-203). Imam Waqi’ berkata: Ia adalah tukang dusta. Kata Imam Nasa’i: Muqatil bin Sulaiman sering dusta.
 
[Periksa: Mizanul I’tidal IV:173]
 
Hadis 8
Artinya: “Siapa yang membaca Surat Yasin di pagi hari, maka akan dimudahkan (untuknya) urusan hari itu sampai sore. Dan siapa yang membacanya di awal malam (sore hari), maka akan dimudahkan urusannya malam itu sampai pagi.”
>> Keterangan: Hadis ini Lemah
 
Hadis ini diriwayatkan Ad-Darimi 2:457 dari jalur Amr bin Zararah. Dalam sanad hadis ini terdapat Syahr bin Hausyab. Kata Ibnu Hajar: Ia banyak memursalkan hadis dan banyak keliru. [Periksa: Taqrib I:355, Mizanul I’tidal II:283]
 
Hadis 9
Artinya: “Bacakanlah Surat Yasin kepada orang yang akan mati di antara kamu.”
>> Keterangan: Hadis ini Lemah
 
Di antara yang meriwayatkan hadis ini adalah Ibnu Abi Syaibah (4:74 cet. India), Abu Daud No. 3121. Hadis ini lemah karena Abu Utsman, di antara perawi hadis ini adalah seorang yang majhul (tidak diketahui), demikian pula dengan ayahnya. Hadis ini juga mudtharib (goncang sanadnya/tidak jelas).
 
Hadis 10
Artinya: “Tidak seorang pun akan mati, lalu dibacakan Yasin di sisinya (maksudnya sedang naza’) melainkan Allah akan memudahkan (kematian itu) atasnya.”
>> Keterangan: Hadis ini Palsu
 
Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam kitab Akhbaru Ashbahan I:188. Dalam sanad hadis ini terdapat Marwan bin Salim Al Jazari. Imam Ahmad dan Nasa’i berkata, ia tidak bisa dipercaya. Imam Bukhari, Muslim dan Abu Hatim berkata, ia Munkarul Hadis. Kata Abu ‘Arubah Al Harrani, ia sering memalsukan hadis. [Periksa: Mizanul I’tidal IV: 90-91).
 
 
Penjelasan:
Abdullah bin Mubarak berkata:
Aku berat sangka, bahwa orang-orang zindiq (yang pura-pura Islam) itulah yang telah membuat riwayat-riwayat itu (hadis-hadis tentang fadhilah surat-surat tertentu).
 
Dan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata:
Semua hadis yang mengatakan, barang siapa membaca surat ini akan diberikan ganjaran begini dan begitu SEMUA HADIS TENTANG ITU ADALAH PALSU. Sesungguhnya orang-orang yang memalsukan hadis-hadis itu telah mengakuinya sendiri. Mereka berkata, tujuan kami membuat hadis-hadis palsu adalah agar manusia sibuk dengan (membaca surat-surat tertentu dari Alquran) dan menjauhkan mereka dari isi Alquran yang lain, juga kitab-kitab selain Alquran. [Periksa: Al-Manarul Munffish Shahih Wadh-Dhaif, hal. 113-115).
 
Kesimpulan:
Dengan demikian jelaslah, bahwa hadis-hadis tentang fadhilah dan keutamaan Surat Yasin, semuanya LEMAH dan PALSU. Oleh karena itu, hadis-hadis tersebut TIDAK dapat dijadikan hujjah untuk menyatakan keutamaan surat ini dan surat-surat yang lain, dan tidak bisa pula untuk menetapkan ganjaran atau penghapusan dosa bagi mereka yang membaca surat ini. Memang ada hadis-hadis Shahih tentang keutamaan surat Alquran selain Surat Yasin, tetapi tidak menyebut soal pahala. Wallahu a’lam.
 
 
***
 
 
Penyusun: Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

#QSYasin #fadhilah #keutamaan #hadisfadhilahmembacaSuratYasinpalsulemah #SuratYasin #Yasinan #tidakadayangshahih #membacaSuratYasin #hadispalsu #hadislemah #tidakadayangshahih #bidah

, ,

MEMBANTAH KESESATAN TUGAS MULIA ORANG YANG BERILMU, BUKAN YANG BARU BELAJAR SUNNAH

Bantah Syubhat Sesat Tugas Orang Ilmu Bukan Baru Belajar Sunnah

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

MEMBANTAH KESESATAN TUGAS MULIA ORANG YANG BERILMU, BUKAN YANG BARU BELAJAR SUNNAH
Para pendekar medsos bermunculan, melakukan aksi pembelaan terhadap Sunnah dan membantah kesesatan. Namun sayang masih banyak yang belum memahami kadar dirinya, yang berani berbicara mendahului orang-orang yang berilmu, membantah hanya bermodal semangat, tapi kurang ilmu.
Maka tersebarlah dari mereka bantahan-bantahan yang tidak ilmiah dan rapuh. Masih pun dibumbui dengan kata-kata kasar dan tidak hikmah, bahkan menghina pribadi. Bukannya mematahkan syubhat dan membungkam penyebar kesesatan, justru memberi angin kepada Ahlul Batil untuk membantah balik. Entahlah, apakah niat mereka murni membela Sunnah dan membantah kesesatan karena Allah ﷻ, ataukah ada penyusup di tengah-tengah Ahlus Sunnah untuk memperburuk wajah dakwah Ahlus Sunnah di negeri tercinta ini?
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
“Sesungguhnya membantah kesesatan dengan cacian dan ancaman, maka semua orang bisa melakukannya. Padahal jika seseorang membantah kaum musyrikin dan Ahlul Kitab, maka wajib baginya menyebutkan hujjah (argumentasi ilmiah) yang dapat menjelaskan kebenaran Islam, dan membantah kebatilan mereka (bukan dengan cacian dan ancaman).” [Al-Fatawa, 4/186-187]
Asy-Syaikh Prof. DR. Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata:
“Bantahan yang berasal dari Ahlul Ilmi yang memiliki pengetahuan dan bashiroh (hujjah yang terang) untuk menjelaskan kebenaran dan menghilangkan kebatilan, maka ini bermanfaat dan harus dilakukan.
Adapun bantahan yang berasal dari orang-orang bodoh dan para penuntut ilmu yang belum memiliki kemampuan, atau bantahan yang berasal dari hawa nafsu dan kepentingan-kepentingan, maka tidak boleh. Karena bantahan-bantahan mereka hanya memudaratkan dan tidak bermanfaat.
Dan bantahan-bantahan yang benar yang datang dari Ahlul Ilmi yang tegak di atas prinsip menjelaskan kebenaran bukan di atas hawa nafsu, maka harus dilakukan.
Karena tidak boleh diam saja membiarkan orang-orang yang sesat menyebarkan kesesatan mereka, dan menipu umat serta menipu para pemuda umat.” [Transkrip Syarh Manzhumah Adab, Kaset no. 33]
Saudaraku yang baru belajar Sunnah yang merasa masih jahil berhentilah. Jangan membantah tanpa ilmu, jangan pula dengan cacian, hinaan dan ancaman.
Tugas Anda adalah mempelajari ilmu-ilmu yang lebih mendasar, agar Anda memiliki kaki yang lebih kuat pijakan ilmiahnya.
Serahkan urusan membantah kesesatan kepada orang-orang yang berilmu, karena itu memang tugas mulia mereka. Dan boleh bagi Anda membantu penyebarannya. Jangan ditambah-tambahi dengan cacian dan hinaan, apalagi menjatuhkan pribadi. Rasulullah ﷺ bersabda:
يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلْفٍ عُدُولُهُ , يَنْفُونَ عَنْهُ تَحْرِيفَ الْغَالِينَ , وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِينَ , وَتَأْوِيلَ الْجَاهِلِينَ
 “Yang membawa ilmu agama ini pada setiap zaman adalah orang-orang terbaiknya. Mereka menolak penyimpangan orang-orang yang berlebihan dalam agama, membantah kedustaan Ahlul Batil, dan meluruskan takwil orang-orang jahil.” [HR. Al-Baihaqi dari Ibrahim bin AbdirRahman Al-‘Udzri, Al-Misykah: 248]
Al-‘Allamah Ali Al-Qoori rahimahullah berkata:
“Bahwa mereka (orang-orang yang berilmu) melindungi syariat dan teks-teks riwayat hadis dari penyelewengan orang-orang yang berlebihan dalam agama. Mereka juga melindungi sanad-sanad hadis dari pemutarbalikan dan kedustaan, dan membantah syubhat-syubhat akibat takwil Ahlul Bidah yang sesat, yaitu dengan menukil nash-nash yang jelas, agar yang belum jelas dipahami dengan yang sudah jelas.” [Al-Mirqoh: 248]
Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah
Sumber: https://web.facebook.com/sofyanruray.info/posts/918808284935321
,

TAHUN BARU KOK MALAH ZIKIR BERSAMA???

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

TAHUN BARU KOK MALAH ZIKIR BERSAMA???

Jujur, dari dulu saya pun heran, kenapa sebagian dari umat Muslim malah mengadakan acara keislaman seperti zikir bersama atau tabligh akbar saat tahun baru 1 Januari. Wake up dooong ayo sadaaar. Perayaan ini datangnya dari orang kafir.

Dikutip dari tulisan Ustadz Ammi Nur Baits dalam artikelnya, tahun baru merupakan pesta warisan dari orang Romawi. Mereka (orang-orang Romawi) mendedikasikan perayaan itu untuk Dewa Janus, yakni The God of Gates, Doors, and Beginnings. Dewa Janus memiliki dua wajah, satu menatap ke depan dan satunya lagi menatap ke belakang, sebagai filosofi masa depan dan masa lalu, layaknya momen pergantian tahun.

Lalu apakah dengan melakukan zikir bersama pada malam perayaan tahun baru, untuk Dewa Janus, akan menjadikannya diperbolehkan dalam Islam???

🔽
Perbedaan orang yang zikir bersama dengan orang yang begadang hura-hura saat tahun baru itu hanya pada CARA dia merayakannya. Orang yang satu dengan ibadah, sementara yang satu dengan maksiat. Tapi tetap kedua-duanya SALAH. Sama-sama bertasyabbuh. Karena poinnya di sini BUKAN pada “BAGAIMANA merayakan itu” tapi “APA perayaan itu”. Entah kita berusaha mengislam-islamkan tahun baru dengan zikir pun, itu TIDAK AKAN mengubah kenyataan, bahwa tahun baru adalah perayaan agama lain.

🔽
Saudara Muslim kita merayakan tahun baru mungkin didasari atas ketidakpahaman mereka. Maka tugas kita adalah menasihati mereka agar mereka tidak merayakannya lagi. Bukan lantas mengemas acara tahun baru dengan konsep Islami. Ini justru akan menimbulkan keyakinan pada mereka, bahwa merayakan tahun baru itu boleh, asal dengan ibadah.

Apakah jika orang Nasrani merayakan Natal dengan bernyanyi lalu orang Islam merayakan Natal dengan bershalawat? Itu akan menjadikan perayaan Natal diperbolehkan dalam Islam??? Tidak toh?! Begitu pula dengan tahun baru. Berpikirlah wahai umat Muhammad ﷺ. Jangan kita perlahan menyerupai Yahudi dan Nasrani.

Allah ﷻ berfirman dalam QS al-Baqarah ayat 42, Janganlah kamu campur adukkan yang haq dengan yang batil.

Barakallahu fiik.

 

 

Silakan simak video berikut ini:

Atau

 

 

 

 

Atau:

 

 

 

 

 

 

 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

#tahunbaru, #NewYear, #merayakantahunbaru #happynewyear #perayaantahunbaru, #mengucapkanselamattahunbaru, #hukum, #tasyabuh, #tasyabbuh #Majusi #Yahudi #Nasrani #Nasharoh #perayaanorangkafir #zikirbersamatahunbaru, #dzikirbersamatahunbaru, #zikirtahunbaru #zikirmalamtahun, #zikirperayaantahunbaruhijriyah #hijriyyah, #masehi, #tahunbarumasehi, #tahunbaruhijriyah #bidah #bukanperayaankesilaman #taonbaru #taunbaru #dzikirakbar, #zikirakbar, #bidah, #doabersamamalamtahunbaru

 

 

 

,

TAHUN BARU PERAYAAN JAHILIYAH

TAHUN BARU PERAYAAN JAHILIYAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
TAHUN BARU PERAYAAN JAHILIYAH
 
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, dahulu orang-orang Jahiliyyah memiliki dua hari di setiap tahun, yang mana mereka biasa bersenang-senang ketika itu. Ketika Nabi ﷺ datang ke kota Madinah, beliau ﷺ bersabda:
“Dahulu kalian memiliki dua hari di mana kalian bersenang-senang ketika itu. Sekarang Allah telah menggantikan untuk kalian dengan dua hari besar yang lebih baik, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.” [HR. Abu Daud no. 1134; An-Nasa’i no. 1556. Sanad hadis ini Shahih menurut Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam, 4: 142]
 
Yakin masih ingin merayakan Tahun Baru?
  • Yang menyalakan kembang api seperti kaum Majusi,
  • Meniup terompet seperti kaum Yahudi,
  • Bernyanyi layaknya kaum Nasrani, dst.
 
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
‘Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka” [HR Abu Dawud]
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#tahunbaru #bidah #NewYear #perayaantahunbaru, #tahunbarujahiliyah, #jahiliyyah, #jahiliyah, #tahunbarujahiliyah #Yahudi, #Majusi, #Nasrani, #Nashrani, #Nasharoh #duahariIed, #IdulFitri, #IdulFithri, #IdulAdha #bersenangsenang #bermainmain

MERAYAKAN MAULID NABI DAPAT SYAFAAT NABI?

MERAYAKAN MAULID NABI DAPAT SYAFAAT NABI?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
MERAYAKAN MAULID NABI DAPAT SYAFAAT NABI?
>> Hadis Palsu Tentang Maulid Nabi Nabi Muhammad ﷺ
>> Benarkah orang yang merayakan Maulid Nabi akan mendapat syafaat Nabi ﷺ?
 
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
 
Terdapat sebuah hadis yang sering dijadikan sebagai dalil pendukung Maulid Nabi. Teks hadisnya:
 
مَنْ عَظَّمَ مَولِدِى كُنتُ شَفيعًا لَه يَومَ القِيَامَة. وَمَنْ اَنْفَقَ دِرهَمًـا فِى مَولِدِى فَكَاَنَّمـَا اَنفَقَ جَبَلًا مِن ذَهَبٍ فِى سَبِيلِ اللهِ
 
“Siapa yang mengagungkan hari kelahiranku, niscaya aku akan memberi syafaat kepadanya kelak pada Hari Kiamat. Dan siapa mendermakan satu Dirham untuk menghormati kelahiranku, maka seakan-akan dia telah mendermakan satu gunung emas di dalam perjuangan fi sabilillah.”
 
Status Hadis
Kami tidak pernah menjumpai hadis ini. Bahkan ada keterangan dari sebagian ulama, bahwa hadis ini adalah HADIS PALSU, dusta atas nama Nabi ﷺ. Di antaranya Syaikh Abdullah Aljibrin, ketika ditanya tentang hadis ini, beliau mengatakan:
 
هذا الحديث لا يصح، ولم يرو في أصحاب الصحيح ولا أصحاب السنن فهو مكذوب
 
Hadis ini TIDAK SHAHIH, tidak pernah diriwayatkan para penulis kitab shahih atau penulis kitab sunan. Hadis ini dusta. [http://www.ibn-jebreen.com/fatwa/vmasal-6019-.html]
 
Agar Mendapatkan Syafaat Nabi ﷺ
 
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi ﷺ:
 
يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ القِيَامَةِ؟
 
“Ya Rasulullah, siapakah orang yang berbahagia karena mendapatkan syafaat Anda di Hari Kiamat?”
 
Jawab Nabi ﷺ:
 
لَقَدْ ظَنَنْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، أَلَّا يَسْأَلَنِي عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلَ مِنْكَ، لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الْحَدِيثِ، أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ خَالِصَةً مِنْ قِبَلِ نَفْسِهِ
 
Wahai Abu Hurairah, sudah saya duga, tidak ada seorang pun yang bertanya kepadaku tentang masalah ini sebelummu. Karena saya tahu, kamu sangat semangat untuk mendapatkan hadis.
 
Lalu beliau ﷺ bersabda:
“Orang yang berbahagia karena mendapatkan syafaatku adalah orang yang mengikrarkan Laa ilaaha illallah, ikhlas dari dalam dirinya.” [HR. Bukhari 99 dan yang lainnya]
 
Makna “Mengikrarkan Laa ilaaha illallah, ikhlas dari dalam hatinya” adalah menauhidkan Allah.
 
Nabi ﷺ memuji Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dengan pertanyaan ini. Bahkan beliau ﷺ sebut itu bagian dari semangat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dalam mendapatkan hadis.
 
Sehingga tentu Nabi ﷺ akan memberikan jawaban yang terbaik untuk pertanyaan ini.
 
Anda tahu bagaimana jawaban Nabi ﷺ?
 
Beliau ﷺ tidak menjawab:
“Orang yang berbahagia karena mendapatkan syafaatku adalah mereka yang memperingati hari kelahiranku…!!?”
 
Namun jawaban beliau ﷺ adalah: “Orang yang berbahagia karena mendapatkan syafaatku adalah orang yang mengikrarkan Laa ilaaha illallah, ikhlas dari dalam dirinya.”
 
Mereka yang mendapat syafaat Nabi ﷺ adalah mereka yang menauhidkan Allah, dan BUKAN mereka yang merayakan peringatan Maulid beliau ﷺ.
 
 
Demikian.
Allahu a’lam.
 
 
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#maulidNabi, #bidah, #perayaan, #merayakan, #ulangtahunNabi #tauhid, #menauhidkanAllah, #mentauhidkanAllah #syafaatNabi #kalimattauhid #Laailaahaillallah   #haditspalsu #hadistpalsu #maudhu
, ,

PERAYAAN MAULID BERTASYABBUH KEPADA AGAMA NASRANI & RAFIDHAH

PERAYAAN MAULID BERTASYABBUH KEPADA AGAMA NASRANI & RAFIDHAH
PERAYAAN MAULID BERTASYABBUH KEPADA AGAMA NASRANI & RAFIDHAH
>> Agama ini sejatinya telah sempurna dengan perayaan yang syari
 
Tiga perayaan yang syari (dalam Islam, -pent.):
1. Hari Raya Idul Adha
2. Hari Raya Idul Fitri
3. Hari Raya Jumat
 
Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah ﷺ memasuki Madinah dan pada mereka ada dua hari yang mereka bermain-main padanya. Maka beliau ﷺ berkata: “Dua hari apakah ini?”
Mereka menjawab: “Dahulu kami bermain pada dua hari tersebut di masa Jahiliyah.”
Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menggantikan keduanya untuk kalian yang lebih baik darinya:
• Hari Adha dan
• Hari Fitri.” [HR Abu Dawud, dan al-Albani telah menshahihkannya]
 
Berkata Rasulullah ﷺ mengenai Jumat:
“Sesungguhnya ini adalah hari raya, Allah telah menjadikannya untuk kaum Muslimin.” [HR Ibnu Majah, dan al-Albani telah menghasankannya]
 
Al-Allamah Ibnu Utsaimin rahimahullah:
 
Pertanyaan:
Siapakah yang pertama kali mengadakan bidah Maulid Nabi dan bagaimanakah sejarahnya?
 
Beliau menjawab:
Yang pertama kali mengadakan bidah tersebut adalah al Fathimiyyun (yang berkuasa) di Mesir pada abad ke-4 Hijriyah. Lalu pada abad ke-7 Hijriyah disemarakkan oleh Raja Irbil di Irak, hingga tersebarlah di tengah-tengah kaum Muslimin.
 
Adapun sebabnya sebagaimana yang dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab Iqtidha’ Shirathil Mustaqim:
 
Sebabnya:
• Bisa jadi karena kecintaan kepada Rasulullah ﷺ. Mereka menyangka, bahwa ini merupakan konsekuensi dari kecintaan tersebut.
 
• Bisa jadi pula sebabnya adalah menyerupai orang-orang Kristen, karena mereka mengadakan peringatan hari kelahiran al-Masih alaihissalam.
 
Terlepas apa sebab yang sebenarnya, maka setiap bidah adalah sesat. [Fatawa Liqa’ al Bab al Maftuh, hlm. 210]
 
Sumber: http://www.alfawaaid.net/2017/12/agama-ini-telah-sempurna-dengan.html
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 
#Fiqh #Ibadah #sunnah #bidah #perayaan #maulidnabi #fiqh #fiqih #fikih #bidah #perayaanIslami #harirayaorangIslam, #Jumat, #harirayamingguan, #IdulFitri, #IdulFithri, #IdulAdha #tigaharirayaumatIslam, #3harirayaumatIslam #syiah #rafidhah #rafidhoh #alFathimiyyun #setiapbidahsesat #sejarahmaulidnabi #tasyabbuh #Nasrani