,

PERINGATAN 40 HARI KEMATIAN ADALAH AJARAN FIRAUN

PERINGATAN 40 HARI KEMATIAN ADALAH AJARAN FIRAUN
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
PERINGATAN 40 HARI KEMATIAN ADALAH AJARAN FIRAUN
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah mengatakan tentang memperingati 40 hari kematian:
“عادة فرعونية كانت لدى الفراعنة قبل الإسلام، ثم انتشرت عنهم وسرت في غيرهم، وهي بدعة منكرة لا أصل لها في الإسلام”
“Itu adalah kebiasaan Firaun yang telah ada sebelum kedatangan Islam. Kemudian dari mereka tersebar dan dilakukan oleh selain mereka, dan itu merupakan bid’ah mungkar yang TIDAK ada asalnya dalam Islam.” [Majmu’ul Fatawa, jilid 13 hal. 398-399]
Sumber:  @JakartaMengaji
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#peringatan, #perayaan, #40harikematian, #Yasinan, #Tahlilan, #bidah, #bid’ah, #ahlibidah, #ahlulbidah, #ajaranFiraun, #Firaun, #Firaun #tauhid, #tawheed #mati, #meninggal dunia, #wafat, #kematian

SEMUA BID’AH ADALAH SESAT, TIDAK ADA YANG HASANAH

SEMUA BID’AH ADALAH SESAT, TIDAK ADA YANG HASANAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
SEMUA BID’AH ADALAH SESAT, TIDAK ADA YANG HASANAH
 
Tidak diragukan lagi, bahwa berpegang teguh dengan Al-Kitab dan As-Sunnah adalah kunci keselamatan dari terjerumusnya kepada bid’ah dan kesesatan. Allah berfirman, artinya:
Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya”. [Al-An’am: 153]
 
Rasulullah ﷺ telah menjelaskan hal itu dalam suatu hadis yang diriwayatkan sahabat Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, berkata: Rasulullah ﷺ membuat satu garis untuk kita, lalu bersabda:
“Ini adalah jalan Allah.” Kemudian beliau ﷺ membuat garis-garis di sebelah kanannya dan disebelah kirinya, lalu bersabda:
“Dan ini adalah beberapa jalan, di atas setiap jalan tersebut ada setan yang senantiasa mengajak (manusia) kepada jalan tersebut”.
 
Definisi bid’ah secara istilah yang paling bagus adalah definisi yang dikemukakan oleh Al Imam Asy Syatibi dalam Al I’tishom. Beliau mengatakan, bahwa bid’ah adalah:
 
عِبَارَةٌ عَنْ طَرِيْقَةٍ فِي الدِّيْنِ مُخْتَرَعَةٍ تُضَاهِي الشَّرْعِيَّةَ يُقْصَدُ بِالسُّلُوْكِ عَلَيْهَا المُبَالَغَةُ فِي التَّعَبُدِ للهِ سُبْحَانَهُ
 
Suatu istilah untuk suatu jalan dalam agama yang dibuat-buat (tanpa ada dalil, pen), yang menyerupai syariat (ajaran Islam), yang dimaksudkan ketika menempuhnya adalah untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah ta’ala.
 
Definisi di atas adalah untuk definisi bid’ah yang khusus ibadah dan TIDAK termasuk di dalamnya adat (tradisi).
 
Adapun yang memasukkan adat (tradisi) dalam makna bid’ah, mereka mendefinisikan bahwa bid’ah adalah:
 
طَرِيْقَةٌ فِي الدِّيْنِ مُخْتَرَعَةٍ تُضَاهِي الشَّرْعِيَّةَ يُقْصَدُ بِالسُّلُوْكِ عَلَيْهَا مَا يُقْصَدُ بِالطَّرِيْقَةِ الشَّرْعِيَّةِ
 
Suatu jalan dalam agama yang dibuat-buat (tanpa ada dalil, pen) dan menyerupai syariat (ajaran Islam), yang dimaksudkan ketika melakukan (adat tersebut), adalah sebagaimana niat ketika menjalani syariat (yaitu untuk mendekatkan diri pada Allah). [Al I’tishom, 1/26, Asy Syamilah]
 
Definisi yang tidak kalah bagusnya adalah dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Beliau rahimahullah mengatakan:
 
وَالْبِدْعَةُ : مَا خَالَفَتْ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ أَوْ إجْمَاعَ سَلَفِ الْأُمَّةِ مِنْ الِاعْتِقَادَاتِ وَالْعِبَادَاتِ
 
“Bid’ah adalah i’tiqod (keyakinan) dan ibadah yang menyelishi Al Kitab dan As Sunnah atau ijma’ (kesepakatan) salaf.” (Majmu’ Al Fatawa, 18/346, Asy Syamilah)
 
Ringkasnya, pengertian bid’ah secara istilah adalah SUATU HAL YANG BARU DALAM MASALAH AGAMA, setelah agama tersebut sempurna. [Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Al Fairuz Abadiy dalam Basho’iru Dzawit Tamyiz, 2/231, yang dinukil dari Ilmu Ushul Bida’, hal. 26, Dar Ar Royah]
 
Setelah kita mengetahui definisi bid’ah dan mengetahui, bahwa setiap bid’ah adalah TERCELA dan amalannya TERTOLAK, masih ada suatu kerancuan di tengah-tengah masyarakat, bahwa berbagai kemajuan teknologi saat ini seperti mobil, komputer, HP dan pesawat dianggap sebagai bid’ah yang tercela. Di antara mereka mengatakan:
“Kalau memang bid’ah itu terlarang, kita seharusnya memakai unta saja sebagaimana di zaman Nabi ﷺ”. Perkataan ini muncul karena TIDAK memahami bid’ah dengan benar.
 
Perlu sekali ditegaskan, bahwa yang dimaksudkan dengan bid’ah yang tercela sehingga membuat amalannya tertolak adalah bid’ah dalam AGAMA, dan BUKANLAH perkara baru dalam urusan dunia, yang tidak ada contoh sebelumnya, seperti komputer dan pesawat.
Asy Syatibi juga mengatakan: “Perkara non-ibadah (‘adat) yang murni tidak ada unsur ibadah, maka dia bukanlah bid’ah. Namun jika perkara non-ibadah tersebut dijadikan ibadah, atau diposisikan sebagai ibadah, maka dia bisa termasuk dalam bid’ah.” [Al I’tishom, 1/348]
 
Nabi ﷺ bersabda:
“Apabila itu adalah perkara dunia kalian, kalian tentu lebih mengetahuinya. Namun, apabila itu adalah perkara agama kalian, kembalikanlah padaku.” [HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengomentari bahwa sanad hadis ini Hasan)
 
Sumber:
SalamDakwah
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 
 
#posterdakwah #islamicquotes #sunnah #bidah, #bid’ah, #tidakadaidhhasanah, #setiapbidahadalahsesat, #setiapbidahadalahkessesatan, #amalantertolak, #arti, #definisi, #makna, #perkarabarudalamagama, #adatistiadat #kebudayaan
,

BOLEHKAH MENGHADIAHKAN AL FATIHAH UNTUK NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM?

BOLEHKAH MENGHADIAHKAN AL FATIHAH UNTUK NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

BOLEHKAH MENGHADIAHKAN AL FATIHAH UNTUK NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM?
>> Hukum Kirim Al-Fatihah untuk Nabi ﷺ
 
Pertanyaan:
Bolehkah menghadiahkan bacaan al-Fatihah untuk Nabi ﷺ? Sering saya lihat pas ada acara-acara di tempat saya.
 
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
 
Di antara prinsip yang perlu pahami, bahwa Nabi ﷺ mendapatkan pahala atas semua amal yang dilakukan umatnya. Karena beliaulah yang pertama kali mengajarkan amal itu kepada umat manusia. Kemudian turun-temurun diajarkan dari satu generasi ke generasi berikutnya, hingga sampai ke kita.
 
Dan manusia akan diberi pahala dari amal yang dia lakukan dan amal orang lain yang mengikutinya. Allah berfirman:
 
إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآَثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ
 
“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata.” [QS. Yasin: 12]
 
Ayat ini menjelaskan, bahwa yang dicatat oleh Allah tidak hanya amal kita, tapi juga dampak dan pengaruh dari amal kita.
 
Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
 
مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا
 
Siapa yang mengajak kepada kebaikan, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. [HR. Muslim 6980 dan Abu Daud 4611]
 
Dalam hadis lain, dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ juga bersabda:
 
مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ
Siapa yang mengajarkan amalan baik dalam Islam lalu diikuti oleh orang generasi setelahnya, maka dicatat untuknya pahala seperti orang yang mengamalkannya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. [HR. Muslim 6975]
 
Semua ini menunjukkan, bahwa setiap ibadah yang kita lakukan, Nabi ﷺ turut mendapatkan pahalanya. Baik kita hadiahkan ke beliau maupun tidak kita hadiahkan. Hanya sajaada yang perlu dipertimbangkan:
 
[1] Jika pahala itu tidak kita hadiahkan, maka pahala itu tetap menjadi milik kita, dan Nabi ﷺ juga mendapatkannya.
 
[2] Jika pahala itu kita hadiahkan kepada Nabi ﷺ, maka pahala itu tidak bisa kita miliki.
 
Karena itulah para sahabat tidak melakukan hal ini, menghadiahkan pahala amal untuk Nabi ﷺ. Imaduddin Ibnul Athar muridnya an-Nawawi pernah ditanya:
 
هل تجوز قراءة القرآن وإهداء الثواب إليه صلى الله عليه وسلم وهل فيه أثر؟
 
Bolehkah membaca Alquran dan menghadiahkan pahalanya untuk Nabi ﷺ? Adakah dalil praktik sahabat dalam masalah ini? Jawaban yang beliau sampaikan:
 
أما قراءة القرآن العزيز فمن أفضل القربات ، وأما إهداؤه للنبي صلى الله عليه وسلم فلم ينقل فيه أثر ممن يعتد به ، بل ينبغي أن يمنع منه ، لما فيه من التهجم عليه فيما لم يأذن فيه ، مع أن ثواب التلاوة حاصل له بأصل شرعه صلى الله عليه وسلم ، وجميع أعمال أمته في ميزانه
 
Membaca Alquran termasuk amal saleh yang sangat utama. Akan tetapi menghadiahkannya untuk Nabi ﷺ tidak pernah ada nukilan yang bisa dipertanggung jawabkan. Bahkan sebaliknya, selayaknya amalan ini DICEGAH karena termasuk membebani diri yang TIDAK disyariatkan. Sementara pahala bacaan Alquran juga beliau dapatkan, disebabkan beliau yang pertama kali mensyariatkannya. Dan semua amal umatnya juga sama. [Mawahib al-Jalil, 3/520]
 
Kemudian juga dinyatakan oleh as-Sakhawi, murid Ibn Hajar al-Asqalani, beliau ditanya tentang orang yang membaca Alquran, lalu dia hadiahkan pahalanya untuk menambah kemuliaan Nabi ﷺ, jawaban beliau:
 
هذا مخترع من متأخري القراء لا أعلم لهم سلفا فيه
 
Ini perbuatan BID’AH yang dibuat-buat oleh para pembaca Alquran generasi belakangan ini. Saya tidak mengetahui adanya ulama pendahulu untuk mereka dalam masalah ini. [Mawahib al-Jalil, 3/520]
 
Syaikhul Islam memiliki satu catatan dalam masalah ini, berjudul: Ihda’us Tsawab ila an-Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Beliau menyimpulkan:
 
لم يكن من عمل السلف أنهم يصلُّون ويصومون ويقرؤون القرآن ويهدون للنبي صلى الله عليه وسلم ، كذلك لم يكونوا يتصدقون عنه ، ويعتقون عنه ؛ لأن كل ما يفعله المسلمون فله مثل أجر فعلهم من غير أن ينقص من أجورهم شيئاً
 
TIDAK pernah ada amalan para sahabat, bahwa mereka shalat, puasa, atau membaca Alquran, kemudian mereka hadiahkan untuk Nabi ﷺ. Mereka juga tidak bersedekah atau membebaskan budak atas nama Nabi ﷺ. Karena semua yang dilakukan kaum Muslimin, beliau ﷺ juga mendapatkan pahala seperti pahala amal mereka, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. [Ihda’ ats-Tsawab ila an-Nabi ﷺ, hlm. 125]
 
Meskipun ada juga ulama yang membolehkan. Mereka berdalil dengan praktik Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau pernah umrah atas nama Nabi ﷺ. Namun riwayat ini tidak jelas, dan dinilai lemah para ualama.
 
Di antara yang membolehkan adalah al-Buhuti, ulama Hambali. Beliau mengatakan:
 
كل قربة فعلها المسلم وجعل ثوابها أو بعضها كالنصف والثلث أو الربع لمسلم حي أو ميت جاز ذلك ونفعه ذلك، لحصول الثواب له، حتى لرسول الله صلى الله عليه وسلم
 
Semua ibadah yang dilakukan Muslim dan dia hadiahkan semua pahalanya atau sebagiannya, seperti setengah, sepertiga, atau seperempat kepada Muslim yang lain, baik masih hidup atau sudah mati, hukumnya boleh dan bisa bermanfaat bagi penerima. Sampai pun untuk Rasulullah ﷺ. [Kasyaf al-Qina’, 2/147]
 
Hanya saja pendapat ini TIDAK TEPAT, karena TIDAK didukung dalil atau praktik para sahabat di masa silam. Sementara mereka sangat mencintai Nabi ﷺ, namun mereka tidak menghadiahkan amalnya untuk Nabi ﷺ.
 
Demikian, Allahu a’lam.
 
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

#bid’ah, #bidah, #StopBidah, #hukum, #hadiahkan, #menghadiahkan, #AlFatihah, #alFatehah, #bacaanalquran, #AlQur’an, #AlQuran, #kepadaNabi, #untukNabi,

,

SHAHIHKAH HADIS MAKNA PERJANJIAN/ IKRAR IJAB QOBUL?

SHAHIHKAH HADIS MAKNA PERJANJIAN/ IKRAR IJAB QOBUL?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

SHAHIHKAH HADIS MAKNA PERJANJIAN/ IKRAR IJAB QOBUL?
 
Pertanyaan:
Shahihkah hadis berikut ini:
 
Arti dari Ijab Qobul:
”Aku terima nikahnya si dia binti ayah si dia dengan mas kawinnya ,,,,,,,”
Singkat, padat dan jelas. Tapi tahukan makna “perjanjian/ikrar” tersebut?
 
”Maka aku tanggung dosa-dosanya si dia dari ayah dan ibunya, dosa apa saja yang telah dia lakukan, dari tidak menutup aurat hingga ia meninggalkan sholat. Semua yang berhubungan dengan si dia, aku tanggung dan bukan lagi orang tuanya yang menanggung, serta akan aku tanggung semua dosa calon anak-anakku”.
 
Jika aku GAGAL?
”Maka aku adalah suami yang fasik, ingkar dan aku rela masuk Neraka. Aku rela malaikat menyiksaku hingga hancur tubuhku”. [HR. Muslim]
 
Duhai para istri,,
Begitu beratnya pengorbanan suamimu terhadapmu, karena saat Ijab terucap, Arsy-Nya berguncang karena beratnya perjanjian yang dibuat olehnya di depan Allah, dengan di saksikan para malaikat dan manusia. Maka andai saja kau menghisap darah dan nanah dari hidung suamimu, maka itu pun belum cukup untuk menebus semua pengorbanan suami terhadapmu.
 
Jawaban Ustadz Muhammad Wasitha LC. MA
 
Setelah saya baca isi pesan broadcast ini dari awal hingga akhir, tampak jelas bagi kita, bahwa kalimat-kalimat yang tercantum di dalamnyanya BUKAN hadis Nabi ﷺ. Dan saya menduga, yang menyusunnya dan menisbatkannya kepada Imam Muslim secara dusta adalah orang-orang yang iseng dan pendusta.
 
Apalagi kalimat (hadis) terakhir yang berbunyi “Andai saja kau (yakni istri) menghisap darah dan nanah dari hidung suamimu, maka itu pun belum cukup untuk menebus semua pengorbanan suami terhadapmu” adalah hadis yang sangat lemah.
 
Wallahu a’lam bish-showab.
 
 

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

#arti, #makna, #ikrar, #perjanjian, #ijabqabul, #ijabqobul, #ijabkabul, #nikah, #pernikahan, #kawin, #perkawinan, #menanggungdosaistri, #sayaterimanikahnya, #bidah, #haditslemah, #hadistlemah, #pendusta, hadistpalsu, #haditspalsu

HUKUM MENGHADIRI DAN MAKANAN DARI PERAYAAN BID’AH

HUKUM MENGHADIRI DAN MAKANAN DARI PERAYAAN BID’AH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#StopBidah
 
HUKUM MENGHADIRI DAN MAKANAN DARI PERAYAAN BID’AH
 
Terdapat sejumlah pertanyaan seputar makanan-makanan yang berasal dari acara-acara bid’ah atau yang tidak disyariatkan. Berikut beberapa fatwa ulama tentang hal tersebut:
 
Guru kami, Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr, pernah ditanya:
“Apakah boleh memakan makanan Ahlul Bid’ah? Perlu diketahui bahwa mereka membuat makanan ini untuk bid’ah tersebut, seperti makanan untuk Maulid Nabi.
 
Beliau menjawab:
“Yang wajib adalah mengingatkan mereka untuk menjauhi bid’ah-bid’ah dan meninggalkan perkara-perkara yang diharamkan. Terhadap seorang manusia, (kita mengingatkan) agar tidak memakan makanan yang dibuat untuk perkara-perkara bid’ah dan perkara-perkara yang diharamkan.” [Pelajaran Sunan Abu Dawud, kaset no. 137]
 
Dalam Fatwa Al-Lajnah Ad-Da`imah 22/270-271 yang ditandatangani oleh Syaikh Abdul ‘Aziz Alu Asy-Syaikh, Syaikh Shalih Al-Fauzan, dan Syaikh Bakr Abu Zaid, disebutkan tanya-jawab sebagai berikut:
 
“Apa hukum memakan makanan yang dipersiapkan untuk acara-acara tertentu atau suatu kebiasaan, seperti memakan makanan musim semi yang siapkan dengan tepung putih dan tanaman ketika musim semi telah tiba?”
 
Jawaban:
Apabila makanan-makanan ini tidak berhubungan dengan hari-hari raya dan acara-acara bid’ah, serta tidak ada penyerupaan terhadap orang-orang kafir, tetapi hanya kebiasaan-kebiasaan untuk menganekaragamkan makanan seiring pergantian musim, tidak masalah dalam memakannya, karena asal dalam kebiasaan adalah pembolehan.”
 
Dari jawaban di atas tampak, bahwa pensyaratan pembolehan adalah bila TIDAK berhubungan dengan hari-hari raya dan acara-acara bid’ah, serta tidak ada penyerupaan terhadap orang-orang kafir.
 
Risalah Ilmiyah An-Nashihah, vol. 09 Th. 1/1426 H/2005 M, hal. 2-3, memuat tanya-jawab berikut:
 
Pertanyaan:
Di negeri kami sebagian orang mengadakan perayaan Maulid dan perayaan-perayaan bid’ah lainnya. Kemudian mereka mengirim sebagian makanan dari perayaan-perayaan tersebut ke rumah kami. Apakah kami boleh memakannya?
 
Jawaban:
Mufti Umum Arab Saudi, Abdul Aziz bin Abdullah bin Muhammad Alu Asy-Syaikh, pada malam Jum’at, 8 Sya’ban 1425 H, bertepatan dengan 29 September 2004, menjawab sebagai berikut:
“Wallahu a’lam. Tentang acara-acara yang diselenggarakan untuk perkara-perkara bid’ah, TIDAKLAH BOLEH memakan (makanan) pada (acara) tersebut, karena makanan tersebut diletakkan di atas hal yang tidak disyariatkan.”
 
Syaikh Abdullah bin Abdurrahim Al-Bukhary, pada sore 5 Syawal 1425 H, bertepatan dengan 17 November 2004, menjawab sebagai berikut:
“Makanan perayaan-perayaan Maulid adalah bid’ah dalam agama, menurut (pendapat) yang benar, dan menyelisihi petunjuk Nabi ﷺ dan para shahabat beliau. Nabi ﷺ bersabda sebagaimana dalam kitab Ash-Shahihain (Shahih Al-Bukhary dan Shahih Muslim):
 
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
 
“Barang siapa yang mengada-adakan perkara baru dalam agama kami, yang tidak termasuk dari (agama) tersebut, (perkara) itu tertolak.”
 
Tentunya manusia tidak hanya terbatas dengan mengadakan Maulid-Maulid, bid’ah-bid’ah seperti perayaan Maulid ini, perayaan-perayaan lain yang berkaitan dengan hal seperti ini, bahkan mereka juga menambahnya dengan sembelihan-sembelihan dan berbagai jenis makanan. Oleh karena itu, kiriman makanan tersebut kepada manusia, menurutku, TIDAKLAH pantas untuk diambil dan dimakan, karena ada bentuk menolong Ahlil Bid’ah ‘pelaku bid’ah’. Jika seseorang melihat seorang Sunni (pengikut sunnah), atau selainnya mengambil atau memakan makanan seperti itu dan membolehkan hal seperti ini untuk dirinya, manusia akan menjadi bingung, sehingga mereka tidak mengetahui yang haq dari yang batil. Maka manusia seharusnya diberitahu, bahwa hal seperti ini TIDAKLAH BOLEH, dan makanan-makanan seperti itu TIDAKLAH BOLEH. Juga bahwa TIDAKLAH pantas menghidupkan bentuk (perayaan) seperti ini. Jelaskanlah kepada mereka, ingatkanlah mereka, dan buatlah mereka takut terhadap Allah Jalla wa ‘Azza.
 
Sesungguhnya, makanan seperti ini seharusnya ditinggalkan berdasarkan atsar Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, bahwa seorang maulanya (budaknya) menghadiahkan makanan kepadanya kemudian berkata: ‘Makanan ini berasal dari perdukunan yang saya lakukan pada masa jahiliyah.’ Maka, Abu Bakr memasukkan tangannya, lalu mengeluarkan makanan tersebut dari perutnya, seraya berkata: ‘Demi Allah, andaikata saya tahu bahwa ruhku akan keluar bersama makanan tersebut, niscaya saya akan mengeluarkan (ruhku).’ [1]
 
Hal ini menunjukkan kesempurnaan wara’ beliau radhiyallahu ‘anhu. Maka, dibangun di atas dasar nash ini dan selainnya, seseorang TIDAKLAH pantas membantu orang-orang tersebut, serta tidak boleh memakan makanannya. Tetapi meninggalkan (makanan) itu. Itulah yang terbaik.”
 
Demikian fatwa-fatwa ulama kita yang TIDAK memperbolehkan.
 
Dalam catatan kaki Hasyiyah Fathul Majid, Syaikh Abdul Aziz Ibnu Baz meluruskan pendapat Syaikh Muhammad Hamid Al-Faqiy. Di antara penjelasan beliau adalah:
“… akan tetapi, bila makanan tersebut berasal dari daging sembelihan kaum musyrikin, lemak, atau kuah (daging) itu, hal tersebut adalah HARAM, karena sembelihan (kaum musyrikin) berada pada hukum bangkai, sehingga menjadi haram dan menajisi makanan yang bercampur dengannya. Berbeda dengan roti dan yang semisalnya berupa hal-hal yang tidak bercampur dengan suatu sembelihan kaum musyrikin apapun, hal tersebut adalah halal bagi siapa saja yang mengambilnya ….”
 
 
Catatan Kaki:
[1] Dalam konteks riwayat Al-Bukhary no. 3842 dari hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha, Aisyah bertutur:
 
كَانَ لِأَبِي بَكْرٍ غُلاَمٌ يُخَرِّجُ لَهُ الخَرَاجَ، وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ يَأْكُلُ مِنْ خَرَاجِهِ، فَجَاءَ يَوْمًا بِشَيْءٍ فَأَكَلَ مِنْهُ أَبُو بَكْرٍ، فَقَالَ لَهُ الغُلاَمُ: أَتَدْرِي مَا هَذَا؟ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: وَمَا هُوَ؟ قَالَ: كُنْتُ تَكَهَّنْتُ لِإِنْسَانٍ فِي الجَاهِلِيَّةِ، وَمَا أُحْسِنُ الكِهَانَةَ، إِلَّا أَنِّي خَدَعْتُهُ، فَلَقِيَنِي فَأَعْطَانِي بِذَلِكَ، فَهَذَا الَّذِي أَكَلْتَ مِنْهُ، فَأَدْخَلَ أَبُو بَكْرٍ يَدَهُ، فَقَاءَ كُلَّ شَيْءٍ فِي بَطْنِهِ
 
“Adalah Abu Bakr memiliki seorang budak yang memberi setoran kepadanya, dan Abu Bakr makan dari setoran tersebut. Pada suatu hari budak itu datang membawa sesuatu, dan Abu Bakr memakan (sesuatu) itu. Budak tersebut berkata kepadanya: ‘Tahukah engkau, apa ini?’ Abu Bakr balik bertanya: ‘Apa ini?’ (Budak) itu menjawab: ‘Dahulu saya melakukan perdukunan pada seseorang di masa jahiliyah. Saya sebenarnya tidak pandai melakukan perdukunan tersebut, tetapi saya menipunya. Lalu, ia memberi (makanan) tersebut kepadaku, dan inilah makanan yang telah engkau makan.’ Maka, Abu Bakr memasukkan tangannya lalu memuntahkan seluruh isi perutnya.”
 
 
 
 
Catatan Tambahan:
Jadi barang siapa yang diundang untuk acara perayaan bid’ah tersebut dan mengetahui, atau besar perkiraannya, bahwa undangan tersebut adalah dalam rangka perayaan kebid’ahan, maka TIDAK disyariatkan untuk menghadirinya, karena kehadirannya termasuk mengakui kemungkaran dan mendukungnya. Allah ta’ala berfirman:
 
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ ) المائدة/2
 
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” [QS. Al Maidah: 2]

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

SEKILAS TENTANG KITAB BARZANJI DAN KEBERADAANNYA DI KALANGAN KAUM MUSLIMIN

SEKILAS TENTANG KITAB BARZANJI DAN KEBERADAANNYA DI KALANGAN KAUM MUSLIMIN

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#StopBidah
 

SEKILAS TENTANG KITAB BARZANJI DAN KEBERADAANNYA DI KALANGAN KAUM MUSLIMIN

Keberadaan Kitab Barzanji di Kalangan Kaum Muslimin
 
Kitab ‘Iqdul Jauhar Fi Maulid an-Nabiyyi al-Azhar’ atau yang terkenal dengan nama Maulid Barzanji, adalah sebuah kitab yang sangat populer di kalangan dunia Islam, demikian juga di negara kita Indonesia, terutama di kalangan para santri dan pondok-pondok pesantren.
 
Maka tidak mengherankan jika di setiap rumah mereka terdapat kitab Barzanji ini. Bahkan sebagian di antara mereka sudah menghafalnya. Sudah menjadi ritual di antara mereka untuk membacanya setiap malam Senin, karena meyakini adanya keutamaan dalam membacanya pada malam hari kelahiran Nabi Muhammad ﷺ. Ada juga yang membacanya setiap malam Jumat karena mengharap keberkahan malam hari tersebut. Ada juga yang membacanya setiap bulan sekali, dan ada juga pembacaan Maulid Barzanji ini pada hari menjelang kelahiran sang bayi, atau pada hari dicukur rambutnya. Sudah kita ketahui, bahwa mereka beramai-ramai membacanya dengan berjamaah, kemudian berdiri ketika dibacakan detik-detik kelahiran beliau ﷺ. Hal ini mereka lakukan pada perayaan Maulid beliau ﷺ pada 12 Rabi’ul Awwal. Mereka meyakini, bahwa dengan membaca Barzanji ini mereka telah mengenang dan memuliakan Nabi Muhammad ﷺ, sehingga mereka akan memperoleh ketentraman, kedamaian dan keberkahan yang melimpah. Demikianlah cara mereka untuk mewujudkan cinta sejati mereka kepada Rasulullah ﷺ.
 
Kandungan Kitab Barzanji
 
Kitab ini mengandung sejarah dan perjalanan hidup Rasulullah ﷺ secara singkat, mulai sejak beliau ﷺ lahir, diangkat menjadi rasul, peristiwa hijrah dan pada peperangan, hingga wafat beliau ﷺ. Namun dalam penyajiannya dipenuhi dengan lafal-lafal ghuluw dan pujian-pujian yang melampaui batas kepada beliau ﷺ, terlebih ketika dibacakan masa-masa menjelang kelahiran beliau ﷺ. Disebutkan, bahwasanya binatang melata milik orang Quraisy sibuk memperbincangkan kelahiran beliau ﷺ dengan bahasa Arab yang fasih’, bahwa Asiah, Maryam binti Imran dan bidadari-bidadari dari Surga mendatangi ibu Nabi ﷺ yakni Aminah menjelang kelahiran beliau. Tanaman yang dulu kering menjadi tumbuh dan bersemi kembali setelah beliau ﷺ lahir, dan masih banyak lagi kemungkaran dalan Barzanji ini. Bahkan Rasulullah ﷺ diberikan sebagian hak Rububiyah yang tidak layak diberikan kecuali hanya kepada Allah ﷻ semata. Semua ini muncul karena sikap ghuluw atau ifrath dari kelompok yang mengaku cinta kepada Rasulullah ﷺ. Padahal, sikap ghuluw adalah sikap yang tercela dalam agama Islam dan merupakan sebab penyimpangan dan jauhnya kaum Muslimin dari kebenaran yang sebelumnya telah menghancurkan umat pendahulu kita. Allah Azza wa Jalla berfirman:
 
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ
 
“Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar”. [An-Nisa/4 : 171]
 
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
 
إِيَّاكُمْ وَاْلغُلُوُّ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ اْلغُلُوُّ
 
“Jauhilah sikap berlebih-lebihan, karena orang-orang sebelum kalian hancur binasa karena sikap berlebihan”. [HR Muslim]
 
Kitab Barzanji ini serta kitab-kitab yang semisalnya seperti Maulid Diba’i dan al Burdah, dijadikan pegangan oleh para Penyembah Kubur dan pemuja para wali dan Habib dalam rangka mengenang dan membela pribadi Rasulullah ﷺ yang mulia. Hal ini telah dikatakan oleh pendahulu mereka, seorang tokoh Quburi (Pengagum Kubur) yang hidup semasa dengan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah, yaitu Nuruddin Ali bin Ya’kub yang terkenal dengan nama al Bakri (673-724 H). Dia berkata: “Aku sungguh khawatir atas mayoritas penduduk negeri ini (keburukan akan menimpa mereka), dengan sebab mereka enggan untuk membela Rasulullah ﷺ“. Inilah dalih yang menjadi sandaran untuk membenarkan kebid’ahan mereka.
 
Sedangkan pernyataan ini telah dikupas dan dibantah oleh Syaikhul Islam dalam kitabnya Al Istighatsah Fi Ar-Radi ‘Alal Bakri. Begitulah dalih mereka sejak dahulu hingga sekarang dalam mengadakan acara Maulid dan membaca Barzanji atau semisalnya. Mereka membela pribadi Rasulullah ﷺ dengan menganggap, bahwa kaum Wahabi tidak cinta kepada Rasulullah ﷺ. Jelas hal ini merupakan KEDUSTAAN YANG BESAR atas Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, karena Ahlus sunnah Wal Jama’ah adalah orang yang paling cinta kepada Rasulullah ﷺ, namun kecintaan mereka berada di antara ifrath (ghuluw) dan tafrith (meremehkan).
 
Dalam buku Maulid Barzanji ini tidak dijumpai satu ayat pun dari Alquran dan juga tidak terdapat satu kalimat pun dari sabda Rasulullah ﷺ. Yang ada hanyalah sirah atau sejarah perjalanan hidup beliau ﷺ yang tersaji dalam untaian-untaian puisi sebagai sanjungan kepada Rasulullah ﷺ.
 
Kalau kita renungkan mengapa kaum Muslimin negeri kita sangat cinta membaca kitab Barzanji ini, mungkin di antara jawabannya adalah, bahwa mereka hanya mengikuti tradisi dari pendahulu-pendahulu mereka, sehingga mereka taklid buta dalam hal ini.
 
Padahal mencintai Rasulullah ﷺ BUKAN dengan membaca kitab Barzanji, tetapi dengan mewujudkan Syahadat “Anna Muhammadan Rasulullah” dengan konsekuensi membenarkan beritanya, menaati perintahnya, menjauhi larangannya, dan tidak beribadah kepada Allah Azza wa Jalla melainkan dengan yang disyariatkan beliau ﷺ. Inilah cinta sejati kepada Rasulullah ﷺ, yakni dengan merealisasikan mutaba’ah (keteladanan) kepada beliau ﷺ yang mulia, dan menerapkankan Sunnah beliau ﷺ dalam kehidupan sehari-hari.
 
Kitab Maulid Barzanji ternyata dipenuhi dengan kemungkaran akidah di dalamnya. Dan tidak selayaknya kaum Muslimin asyik membacanya dalam keadaan apapun, apalagi sebagian besar di antara mereka tidak memahami apa yang mereka baca.
 
Perayaan Maulid Nabi ﷺ tidak disyariatkan dalam agama kita, bahkan termasuk perbuatan bid’ah. Maka ajakan kami hendaknya kaum Muslimin semuanya kembali kepada ajaran Islam yang murni dengan berpegang kepada Alquran dan Sunnah di atas pemahaman Salaful Ummah dan istiqamah hingga wafat menjemput kita.
 
Semoga Allah Azza wa Jalla rida terhadap kita.
 

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

,

HATI-HATI TERHADAP VIRUS PEMIKIRAN KHAWARIJ

HATI-HATI TERHADAP VIRUS PEMIKIRAN KHAWARIJ

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#ManhajSalaf, #SayNoToDemonstrasi

HATI-HATI TERHADAP VIRUS PEMIKIRAN KHAWARIJ
>> Di antara Ciri Khawariji adalah Keluar dari Taat pada Penguasa

Suatu saat, Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah mendapat pertanyaan: “Orang yang suka mengafirkan penguasa dan memprovokasi kaum Muslimin untuk memberontak kepada para penguasa mereka. Apakah orang semacam itu termasuk dalam kategori Khawarij?”

Beliau menjawab:
Inilah madzhab/pemahaman Khawarij. Yaitu ketika dia memandang bolehnya memberontak kepada para pemimpin kaum Muslimin. Dan yang lebih parah daripada itu, apabila dia juga mengafirkan mereka, maka ini jelas termasuk Madzhab Khawarij.

Sumber: al-Ijabat al-Muhimmah fil Masyakil al-Mulimmah, Juz 1 halaman 8

Catatan redaksi:
Syaikh di sini menyatakan bahwa PERBUATAN tersebut adalah PEMIKIRAN KHAWARIJ. Beliau TIDAK mengatakan, orang yang melakukannya disebut orang khawarij. Ini DUA HAL YANG BERBEDA. Vonis individu bukan urusan ringan, dan banyak faktor yang perlu dilihat.

***
Sumber: https://Muslim.or.id/21905-fatwa-ulama-pemikiran-khawarij.html
***

Penerjemah: Ari Wahyudi

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

LEBARAN ANAK YATIM: TIDAK ADA DALILNYA

LEBARAN ANAK YATIM: TIDAK ADA DALILNYA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#StopBidah
LEBARAN ANAK YATIM: TIDAK ADA DALILNYA
>> Hukum Menyantuni Anak Yatim Di Hari Asyura
 
Pertanyaan:
Saat ini banyak tersebar keyakinan di masyarakat tentang anjuran menyantuni anak yatim di Hari Asyura. Apakah benar demikian? Adakah dalil tentang hal ini?
 
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
Terdapat sebuah hadis dalam kitab Tanbihul Ghafilin:
 
من مسح يده على رأس يتيم يوم عاشوراء رفع الله تعالى بكل شعرة درجة
 
Siapa yang mengusapkan tangannya pada kepala anak yatim, di Hari Asyura (10 Muharram), maka Allah akan mengangkat derajatnya, dengan setiap helai rambut yang diusap satu derajat.
Hadis ini menjadi motivator utama masyarakat untuk menyantuni anak yatim di Hari Asyura. Sehingga banyak tersebar di masyarakat anjuran untuk menyantuni anak yatim di Hari Asyura. Bahkan sampai menjadikan Hari Asyura ini sebagai hari istimewa untuk anak yatim.
 
Namun sayangnya, ternyata hadis di atas statusnya adalah HADIS PALSU. Dalam jalur sanad hadis ini terdapat seorang perawi yang bernama: Habib bin Abi Habib, Abu Muhammad. Para ulama hadis menyatakan, bahwa perawi ini Matruk (Ditinggalkan). Untuk lebih jelasnya, berikut komentar para ulama kibar dalam hadis tentang Habib bin Abi Habib:
 
a. Imam Ahmad: Habib bin Abi Habib pernah berdusta
b. Ibnu Ady mengatakan: Habib pernah memalsukan hadis [Al-Maudhu’at, 2/203]
c. Adz Dzahabi mengatakan: “Tertuduh berdusta.” [Talkhis Kitab al-Maudhu’at, 207]
 
Karena itu, para ulama menyimpulkan, bahwa hadis ini adalah HADIS PALSU. Abu Hatim mengatakan: “Ini adalah hadis batil, tidak ada asalnya.” [Al-Maudhu’at, 2/203]
 
Keterangan di atas sama sekali bukan karena mengingkari keutamaan menyantuni anak yatim. Bukan karena melarang kita untuk bersikap baik kepada anak yatim. Sama sekali bukan.
Tidak kita pungkiri, bahwa menyantuni anak yatim adalah satu amal yang mulia. Bahkan Nabi ﷺ menjanjikan dalam sebuah hadis:
 
أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ كَهَاتَيْنِ فِى الْجَنَّةِ , وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى , وَفَرَّقَ بَيْنَهُمَا قَلِيلاً
 
“Saya dan orang yang menanggung hidup anak yatim seperti dua jari ini ketika di Surga.” Beliau ﷺ berisyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah, dan beliau memisahkannya sedikit.” [HR. Bukhari no. 5304]
 
Dalam hadis shahih ini, Nabi ﷺ hanya menyebutkan keutamaan menyantuni anak yatim SECARA UMUM, tanpa beliau ﷺ sebutkan waktu khusus. Artinya, keutamaan menyantuni anak yatim berlaku KAPAN SAJA. Sementara kita tidak boleh meyakini adanya waktu khusus untuk ibadah tertentu, TANPA dalil yang shahih.
 
Dalam masalah ini, terdapat satu kaidah terkait masalah ‘Batasan Tata Cara Ibadah’ yang penting untuk kita ketahui:
 
كل عبادة مطلقة ثبتت في الشرع بدليل عام ؛ فإن تقييد إطلاق هذه العبادة بزمان أو مكان معين أو نحوهما بحيث يوهم هذا التقييد أنه مقصود شرعًا من غير أن يدلّ الدليل العام على هذا التقييد فهو بدعة
 
“Semua bentuk ibadah yang sifatnya mutlak dan terdapat dalam syariat berdasarkan dalil umum, maka membatasi setiap ibadah yang sifatnya mutlak ini dengan waktu, tempat, atau batasan tertentu lainnya, di mana akan muncul sangkaan, bahwa batasan ini merupakan bagian ajaran syariat, sementara dalil umum tidak menunjukkan hal ini, maka BATASAN INI TERMASUK BENTUK BID’AH.” [Qowa’id Ma’rifatil Bida’, hal. 52]
 
Karena pahala dan keutamaan amal adalah rahasia Allah, yang hanya mungkin kita ketahui berdasarkan dalil yang shahih.
Allahu a’lam.
 
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)
[Artikel www.KonsultasiSyariah.com]
 
 

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

, ,

BID’AH DALAM ACARA MEMASUKI RUMAH BARU

BID’AH DALAM ACARA MEMASUKI RUMAH BARU
  بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
#StopBidah
 
BID’AH DALAM ACARA MEMASUKI RUMAH BARU
>> Bid’ah dalam Adat Kebiasaan
 
Bid’ah, yaitu ibadah yang jauh dari tuntunan Islam, biasa kita temukan dalam hal ibadah. Yaitu ibadah tersebut dilakukan dengan tatacara, penetapan waktu, penetapan jumlah dan penetapan tempat, TANPA mengikuti petunjuk Nabi ﷺ. Bid’ah dalam masalah ibadahlah yang biasa dicela dalam hadis, sebagaimana dalam hadis ‘Aisyah, Rasulullah ﷺ bersabda:
 
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
 
“Barang siapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” [HR. Muslim no. 1718]
 
Namun sebenarnya adat kebiasaan bisa juga terdapat bid’ah, yaitu ketika dalam adat dimasuki amalan tertentu, TANPA adanya tuntunan dari Nabi ﷺ. Atau adat kebiasaan tersebut dicampuri ibadah dan dilakukan pada waktu atau tempat tertentu, TANPA adanya dasar sama sekali.
 
Sebagaimana kita dapat melihat pada perkataan Asy Syatibi rahimahullah yang telah ma’ruf, beliau berkata dalam kitabnya al I’tishom, Bid’ah dalam masalah adat adalah:
طَرِيْقَةٌ فِي الدِّيْنِ مُخْتَرَعَةٍ تُضَاهِي الشَّرْعِيَّةَ يُقْصَدُ
بِالسُّلُوْكِ عَلَيْهَا مَا يُقْصَدُ بِالطَّرِيْقَةِ الشَّرْعِيَّةِ
 
“Suatu jalan dalam agama yang dibuat-buat (tanpa ada dalil) dan menyerupai syariat (ajaran Islam), yang dimaksudkan ketika melakukan (adat tersebut) adalah sebagaimana niat ketika menjalani syariat (yaitu untuk mendekatkan diri pada Allah).” [Al I’tishom, 1/26, Asy Syamilah]
 
Dari sini kita dapat melihat, bahwa jika adat dicampur dengan ibadah yang tidak dituntunkan oleh Nabi ﷺ, maka ini dapat dikatakan bid’ah.
 
Sebagaimana ilmu yang kami dapat dari site Syaikh Sholih Al Munajjid “Al Islam Sual wa Jawab” atau “Islam Question and Answer”, beliau hafizhohullah menjelaskan demikian:
 
لا يشرع عند الانتقال إلى مسكن جديد الأذان في أركانه الأربعة ، أو في أي
ركن منها ، ولا قراءة سور مخصوصة ، أو تلاوة أوراد معينة ، حيث لا دليل
على شيء من ذلك في السنة .
 
“TIDAK DISYARIATKAN ketika seseorang pindah ke kediaman baru untuk azan di empat tiang rumah atau di salah satunya, tidak disyariatkan pula membaca surat-surat tertentu, atau membaca zikir-zikir tertentu ketika itu, karena TIDAK ADA DALIL dalam sunnah Nabi ﷺ mengenai hal tersebut.” [Mawqi’ Al Islam Sual wa Jawab, Syaikh Sholih Al Munajjid, Fatawa no. 148863, http://islamqa.com/ar/ref/148863]
 
Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah pernah memberikan penjelasan:
 
ومن البدع : التخصيص بلا دليل ، بقراءة آية ، أو سورة في زمان أو مكان أو
لحاجة من الحاجات ، وهكذا قصد التخصيص بلا دليل
 
“Di antara bid’ah adalah mengkhususkan amalan tertentu tanpa adanya dalil, atau mengkhususkan membaca surat tertentu di waktu, tempat tertentu atau pada hajatan tertentu. Demikianlah niatan mengkhususkan amalan tertentu tanpa adanya dalil.” [Bid’ah Al Qiro’ah, hal. 14]
 
Jika seseorang membaca Alquran, hususnya surat Al Baqarah di rumah, dengan tujuan untuk mengusir setan, maka itu tidaklah mengapa. Namun hal ini tidak dikhususkan ketika memasuki rumah baru.
 
Dalil anjuran untuk membaca surat Al Baqarah adalah hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
 
لاَ تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ
الْبَيْتِ الَّذِى تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ
 
“Janganlah menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan akan lari dari suatu rumah yang dibacakan di dalamnya surat Al Baqarah” [HR. Muslim no. 780].
 
Namun ingat, hadis ini BUKAN memaksudkan untuk memasuki rumah baru. Jika kita ingin mengkhususkan membaca surat Al Baqarah atau surat lainnya ketika memasuki rumah baru, maka sudah barang tentu harus butuh dalil. Sedangkan tidak ada satu pun dalil yang menunjukkan adanya bacaan surat tertentu ketika itu. Karena suatu amalan tidaklah diterima, kecuali dengan mengikuti petunjuk Nabi ﷺ.
 
Bagaimana dengan Acara Makan-Makan Sebagai Tanda Syukur Ketika Memasuki Rumah Baru?
 
Adapun untuk acara makan-makan (diistilahkan dengan walimahan [Perlu diketahui bahwa yang dimaksud walimahan adalah makan-makan dan bukan yang dimaksud terbatas hanya pada acara pernikahan]) dalam rangka syukur, maka ini TIDAK ADA MASALAH, karena acara makan-makan bukanlah masuk dalam kategori ibadah mahdhoh (ibadah murni). Berbeda halnya dengan shalat dan membaca Alquran. Acara makan-makan semacam ini juga dapat memupuk ukhuwah antar tetangga dan sesama Muslim, serta dapat berbagi kebahagiaan ketika itu. Disebutkan dalam Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah:
 
الْوَلِيمَةُ لِلْبِنَاءِ مُسْتَحَبَّةٌ ، كَبَقِيَّةِ الْوَلاَئِمِ
الَّتِي تُقَامُ لِحُدُوثِ سُرُورٍ أَوِ انْدِفَاعِ شَرٍّ
 
“Acara makan-makan untuk rumah baru itu dianjurkan sebagaimana walimah (acara makan-makan) lainnya (seperti pada pernikahan), yang di mana walimahan tersebut dilakukan untuk berbagi kebahagiaan, atau menghilangkan suatu bahaya (rasa tidak senang dari lainnya).” [Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 8/207]
 
Namun perlu diberi catatann penting di sini, bahwa acara makan-makan ini BUKANLAH dimaksudkan untuk mendatangkan keselamatan bagi penghuni rumah, atau BUKAN untuk mendatangkan keberkahan. Acara makan-makan ini dilakukan hanya sebagai tanda syukur atas adanya kediaman baru tersebut.
 
Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya mengenai sembelihan yang dilakukan untuk menyelesaikan pembangunan rumah. Beliau rahimahullah menjawab:
 
“Hal ini butuh perincian. Jika sembelihan tadi dimaksudkan untuk mengusir jin atau untuk maksud lain dari si pemilik rumah, yaitu diyakini bahwa sembelihah ini dapat mendapatkan keselamatan demikian dan demikian, maka seperti ini tentu saja TIDAK DIBOLEHKAN. Hal ini termasuk bid’ah. Jika sembelihan tersebut disembahkan kepada jin, maka ini bisa jadi syirik akbar, karena termasuk menyerahkan suatu ibadah kepada selain Allah. Adapun jika sembelihan tersebut dilakukan dalam rangka syukur atas nikmat Allah, karena telah dimudahkan dalam pembangunan rumah, lalu si pemilik rumah mengundang kerabat, tetangga untuk makan-makan, maka seperti ini TIDAKLAH MENGAPA. Inilah yang seringkali dilakukan oleh kebanyakan orang. Mereka bersyukur atas nikmat Allah, karena Dia telah memberikan kemudahan untuk memiliki rumah baru tanpa mesti menyewa lagi. Semisal hal ini adalah ketika seseorang mengajak kerabat dan tetangganya selepas pulang dari perjalanan jauh. Ia mengundang mereka untuk bersyukur pada Allah atas nikmat keselamatan yang diberikan selama perjalanan. Nabi ﷺ sendiri pernah melakukan hal serupa. Ketika beliau pulang dari safar (perjalanan jauh), beliau menyembelih hewan dan mengundang yang lainnya untuk menikmati sembelihan tersebut.” [Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 5/388]
 
Syaikh Sholih Al Fauzan hafizhohullah menerangkan:
 
“Tidak mengapa melakukan acara makan-makan ketika ingin memasuki rumah baru, yaitu dengan mengundang sahabat dan kerabat, karena seperti ini adalah dalam rangka berbagi kebahagiaan. Namun jika acara ini dilaksanakan dengan keyakinan dapat mengusir jin, maka ini yang TIDAK DIBOLEHKAN. Ini adalah keyakinan syirik dan pemahaman yang rusak. Jika acara makan-makan semacam ini hanyalah adat kebiasaan, maka hukum asalnya tidak mengapa.” [Al Muntaqo min Fatawa Al Fauzan, 16/94]
 
Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya dengan teks soal sebagai berikut: Telah membudaya di tengah-tengah manusia, bahwa siapa saja yang pindah ke rumah baru atau membeli rumah baru, atau dia mendapat pekerjaan atau dia naik jabatan atau yang semisalnya, maka dia mengadakan semacam acara makan-makan. Apa hukum amalan ini?
 
Beliau menjawab: “Ini termasuk dari pesta-pesta yang mubah. Maka boleh bagi seseorang untuk mengadakan acara ketika dia pindah ke rumah baru, atau ketika dia lulus misalnya. Yang jelas, jika pestanya diadakan karena adanya momen tertentu, maka tidak ada masalah.”
 
Penutup
 
Intinya, hendaklah pemilik rumah baru bersyukur pada Allah atas kediaman baru yang ia peroleh. Jadikanlah rumah baru tersebut sebagai ladang kebaikan dan ibadah, serta tempat berzikir pada Allah.
 
Janganlah jadikan tempat tersebut sebagai tempat kehancuran, karena diisi dengan maksiat. Lakukanlah hal-hal di kediaman baru tersebut yang bisa mendatangkan rids Allah. Dan di sini TIDAK PERLU dikhususkan dengan amalan tertentu (doa bersama, bacaan surat, tahlil, zikir atau wiridan tertentu) ketika ingin memasukinya.
 
Namun ada amalan shalat yang bisa dilakukan ketika ingin memasuki rumah, yaitu shalat dua rakaat:
 
Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis Shahih:
 
إِذَا خَرَجْتَ مِنْ مَنْزِلِكَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ يَمْنَعَانِكَ مِنْ
مَخْرَجِ السُّوْءِ وَإِذَا دَخَلْتَ إِلَى مَنْزِلِكَ فَصَلِّ
رَكْعَتَيْنِ يَمْنَعَانِكَ مِنْ مَدْخَلِ السُّوْءِ
 
“Jika engkau keluar dari rumahmu, maka lakukanlah shalat dua rakaat, yang dengan ini akan menghalangimu dari kejelekan yang berada di luar rumah. Jika engkau memasuki rumahmu, maka lakukanlah shalat dua rakaat yang akan menghalangimu dari kejelekan yang masuk ke dalam rumah.” [HR. Al Bazzar, hadis ini Shahih. Lihat As Silsilah Ash Shohihah no. 1323]
 
Shalat dua rakaat ketika memasuki atau keluar rumah berlaku setiap saat, bukan hanya ketika memasuki rumah baru. Shalat ini bisa dilakukan dengan satu niat dengan shalat rawatib atau shalat sunnah lainnya. Karena yang dimaksud hadis di atas, lakukanlah shalat dua rakaat –apa saja- ketika memasuki atau keluar dari rumah.
 
Selain itu, semoga Allah menjadikan rumah tersebut dijadikan rumah yang berkah. Setiap harinya isilah dengan memperbanyak tilawah Alquran (secara lafal atau makna melalui kitab tafsir), perbanyaklah shalat sunnah dan bacaan zikir di dalamnya. Rumah yang berkah adalah yang selalu diisi dengan ibadah. Semoga Allah selalu memberkahi.
 
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
 
Sumber:
, ,

BERLINDUNG DARI RIHUL AHMAR, TIDAK ADA TUNTUNANNYA

BERLINDUNG DARI RIHUL AHMAR, TIDAK ADA TUNTUNANNYA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 

#StopBidah, #DoaZikir
 
BERLINDUNG DARI RIHUL AHMAR, TIDAK ADA TUNTUNANNYA
 
Pertanyaan:
Apakah artikel berikut ini shahih dan apakah boleh diamalkan doanya?
 
Obat Stroke
 
Pada satu ketika, di mana Nabi Allah Sulaiman ‘alaihi salaam duduk di singgasananya, datang satu angin yang cukup besar. Maka bertanya Nabi Allah, Sulaiman ‘alaihi salaam: “Siapakah engkau.?”
 
Maka dijawablah oleh angin tersebut, bahwa akulah Angin Rihul Ahmar…. Dan aku bila memasuki rongga anak Adam, maka lumpuh, keluar darah dari rongga. Dan apabila aku memasuki otak anak Adam, maka menjadi gilalah anak Adam.
 
Maka diperintahkan oleh Nabi Sulaiman ‘alaihi salaam supaya membakar angin tersebut. Berkatalah Rihul Ahmar kepada Nabi Sulaiman ‘alaihi salaam, bahwa “Aku kekal sampai Hari Kiamat tiba, tiada sesiapa yang dapat membinasakan aku melainkan Allah.
 
Lalu Rihul Ahmar pun menghilang.
 
Diriwayatkan cucu Nabi Muhammad ﷺ terkena Rihul Ahmar, sehingga keluar darah dari rongga hidungnya. Maka datang malaikat Jibril kepada Nabi ﷺ dan bertanya Nabi ﷺ kepada Jibril. Maka menghilang sebentar, lalu malaikat Jibril kembali mengajari akan doa Rihul Ahmar kepada Nabi ﷺ, kemudian dibaca doa tersebut kepada cucunya dan dengan sekejap cucu Rasulullah ﷺ sembuh serta merta. Lalu bersabda Nabi ﷺ. bahwa barang siapa membaca doa stroke/ doa Rihul Ahmar walau sekali dalam seumur hidupnya, maka akan dijauhkan dari penyakit ANGIN AHMAR atau STROKE.
 
Doa menjauhkan terhindar dari angin ahmar dan penyakit kronik:
 
اللهم إني أعوذبك من الريح الأحمر والدم الأسود والداء الأكبر
 
Allahumma inni a’uzubika minarrihil ahmar, waddamil aswad, waddail akbar.
 
Artinya;
Ya Allah Tuhanku, lindungi aku dari angin merah ,dan lindungi aku dari darah hitam (stroke) dan dan dari penyakit berat.
 
Syukron atas jawabannya ustadz, Jazakallahu khairan katsiran
 
(Fulanah, Sahabat BiAS T06 G-47)
 
Jawaban:
Alhamdulillah
 
Washshalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa ash habihi ajma’in.
 
Keberadaan fenomena tersebut di atas adalah merupakan pembicaraan terhadap hal gaib. Dan kita TIDAK BOLEH memercayai kegaiban, melainkan harus berdasarkan wahyu, berdasarkan Alquran dan Sunnah Nabi ﷺ. Dan TIDAK ADA di dalam keduanya, keterangan tentang keberadaan fenomena Rihul Ahmar ini. Disebutkan dalam salah satu fatwa para ulama besar yang tergabung dalam Lajnah Daaimah:
 
بعد النظر في الأوراق المذكورة تبين أن فيها مخالفات شرعية كثيرة، لا يجوز إقرارها ولا توزيعها بين الناس؛ لأنها تشتمل على بدع وشركيات وألفاظ غريبة، فمن ذلك:
 
قوله: (ثم تقول بصوت دون صوتك بتلاوة القرآن، ثم تقول بصوت خفيض) وتحديد الصوت بهذه الكيفية لا دليل عليه.
 
yفي قوله في الاستعاذة من شر المخلوقات ومن الريح الأحمر، وتحديد هذا النوع من الريح لا دليل عليه؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم استعاذ من شر الريح مطلقًا.
 
“Setelah diadakan penelitian terhadap selebaran ini, maka menjadi jelas adanya PENYIMPANGAN yang sangat banyak. Maka TIDAK BOLEH disetujui dan tidak boleh di-share di kalangan khalayak ramai, karena selebaran ini mengandung banyak kesyirikan, kebid’ahan dan lafal-lafal yang aneh. Di antaranya disebutkan di sana:
 
“Kemudian Engkau berkata dengan suara yang bukan suara-Mu dengan membaca Alquran. Kemudian engkau bersuara dengan suara rendah.”
 
Membatasi suara dengan pembatasan seperti ini tidak ada dalilnya sama sekali.
 
Di dalamnya juga ada permintaan perlindungan dari keburukan makhluk dan dari keburukan Rihul Ahmar (Angin Merah). Penyebutan angin dengan kriteria seperti ini TIDAK ADA dalilnya sama sekali, karena Nabi ﷺ berlindung dari keburukan angin secara mutlak.” [Fatawa Lajnah Daimah: 24/280].
 
Wallahu a’lam
 
 
Dijawab dengan ringkas oleh: Ustadz Abul Aswad Al Bayaty حفظه الله
 
Tanya Jawab
Grup WA Bimbingan Islam T06