TAUHID KUNCI AMPUNAN

TAUHID KUNCI AMPUNAN
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
TAUHID KUNCI AMPUNAN
 
Bagi kebanyakan orang awam, yang dianggap masalah besar saat ini adalah jika ada yang melakukan korupsi sampai milyaran Rupiah.
 
Tetapi,
• Jika ada seseorang percaya pada ramalan bintang,
• Meyakini ampuhnya pelet dan jimat;
• Meyakini bahwa jika ingin doa mudah dikabulkan, maka bertawasullah kepada wali atau pak kyai yang telah meninggal dunia, nanti mereka yang menyampaikan doa pada Allah; justru hal-hal seperti ini dianggap sebagai perkara biasa. Tidak ada yang takuti, tidak ada yang merasa khawatir. Bahkan banyak yang tidak tahu, kalau hal-hal tersebut termasuk syirik. Padahal di sisi Allah, jika dosa syirik tidak ditobati sebelum mati, maka dosa tersebut tidak akan diampuni. Berbeda halnya dengan seseorang melakukan dosa di bawah kesyirikan seperti korupsi, zina dan minum minuman keras. Allah taala berfirman:
 
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
 
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” [QS. An Nisa’: 48]
 
Dosa Syirik yang Dibawa Mati
 
Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya berkata:
“Allah taala tidak akan mengampuni dosa syirik, yaitu ketika seorang hamba bertemu Allah dalam keadaan berbuat syirik.” [Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, terbitan Dar Ibnul Jauzi, 3: 129]
 
Maksud ayat ini kata Ibnul Jauzi, yaitu Allah tidak akan mengampuni pelaku syirik (musyrik) yang ia mati dalam kesyirikan [Lihat Zaadul Masiir, 2: 103]. Ini berarti jika sebelum meninggal dunia, ia sudah bertobat dan menyesali kesyirikan yang ia perbuat, maka ia selamat.
 
Yang dimaksud dengan “Mengampuni” dalam ayat di atas bermakna, Allah akan menutupi dan memaafkan. Jika dikatakan bahwa Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, berarti Allah tidak akan memaafkan dan menutupi orang yang berbuat syirik pada-Nya. Syirik yang dimaksudkan di sini adalah syirik dalam Rububiyah, Uluhiyah, dan Asma’ Wa Shifat. Karena menauhidkan Allah adalah seutama-utamanya kewajiban. Sehingga jika ada yang berbuat syirik (sebagai lawan dari tauhid), maka Allah tidak akan mengampuninya. Berbeda dengan perbuatan maksiat lainnya yang berada di bawah syirik atau selain syirik.
 
Dalam hadis dari Jabir, Nabi ﷺ bersabda:
 
مَنْ مَاتَ لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ
 
“Barang siapa yang mati dalam keadaan tidak berbuat syirik pada Allah dengan sesuatu apa pun, maka ia akan masuk Surga. Barang siapa yang mati dalam keadaan berbuat syirik pada Allah, maka ia akan masuk Neraka.” [HR. Muslim no. 93]
 
Semoga kita semua didekatkan kepada segala hal yang membuat kita hanya beribadah kepada ALLAH taala saja.
 
 
 
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

#tauhidkunciampunan #dosasyiriktidakdiampuni #syirik #kesyirikan #dosatidakdiampuni #kekaldineraka #lawantauhidadalahsyirik #shirk #Allahtidakakanmengampunipelakusyirik #musyrik #matidalamkesyirikan

, ,

MENJUAL AGAMA DENGAN TUJUAN DUNIA

MENJUAL AGAMA DENGAN TUJUAN DUNIA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

MENJUAL AGAMA DENGAN TUJUAN DUNIA

 

Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda:

بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

“Bersegeralah melakukan amalan saleh sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap gulita. Seseorang paginya beriman, namun sorenya menjadi kafir. Atau seseorang yang sorenya masih beriman, namun paginya telah kafir. Dia menjual agamanya dengan tujuan-tujuan dunia” [HR. Muslim no. 328]

Hadis ini berisi perintah untuk bersegera melakukan amalan saleh. Yang disebut amalan saleh adalah jika memenuhi dua syarat, yaitu ikhlas pada Allah dan mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ. Jika tidak memenuhi syarat ini, suatu amalan TIDAKLAH diterima di sisi Allah.

Dalam hadis ini dikabarkan bahwa akan datang fitnah seperti potongan malam. Artinya fitnah tersebut tidak terlihat. Ketika itu manusia tidak tahu ke manakah mesti berjalan. Ia tidak tahu di manakah tempat keluar.

Fitnah boleh jadi karena syubuhaat (racun pemikiran), boleh jadi timbul dari syahwat (dorongan hawa nafsu untuk bermaksiat).

Fitnah di atas itu diibaratkan dengan potongan malam yang gelap gulita, tidak terlihat. Sehingga seseorang di pagi hari dalam keadaan beriman, dan sore harinya dalam keadaan kafir. Dalam satu hari, bayangkanlah ada yang bisa demikian. Atau ia di sore hari dalam keadaan beriman, dan di pagi harinya kafir. Mereka bisa menjadi kafir karena menjual agamanya.

Bagaimanakah bisa menjual agama? Menjual agama yang dimaksud di sini adalah menukar agama dengan harta, kekuasaan, kedudukan atau bahkan dengen perempuan.

Pelajaran lainnya dari hadis ini:

1- Wajibnya berpegang teguh dengan agama.

2- Bersegera dalam amalan saleh sebelum datang cobaan yang mengubah keadaan.

3- Fitnah akhir zaman begitu menyesatkan. Satu fitnah datang dan akan berlanjut pada fitnah berikutnya.

4- Jika seseorang punya kesempatan untuk melakukan satu kebaikan, maka segeralah melakukannya, jangan menunda-nunda.

5- Jangan menukar agama dengan dunia yang murah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk bersegera dalam kebaikan dan terus menjaga agama kita.

Referensi:

Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhish Salehin, Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al Hilaliy, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H, 1: 150.

Syarh Riyadhish Salehin, Syaikh Muhammad bin Saleh Al ‘Utsaimin, terbitan Madarul Wathon, cetakan tahun 1426 H, 2: 16-20.

 

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Sumber: https://rumaysho.com/3468-bersegeralah-beramal-sholeh-sebelum-datang-musibah.html

 

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
www.nasihatsahabat.com

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

#menjualagamadengantujuandunia #Segeralahberamalsebelumdatangnyafitnahfitnah #sepertipotonganpotonganmalamyanggelapgulita #Seseorangpaginyaberimannamunsorenyamenjadikafir

, , , ,

DEMI SEBUAH KURSI KEDUDUKAN

DEMI SEBUAH KURSI KEDUDUKAN
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
DEMI SEBUAH KURSI KEDUDUKAN
>> Nasihat yang sangat baik untuk mereka yang mengaku sedang memperjuangkan Islam, kepada mereka yang merasa sedang mengibarkan bendera Islam
>> Ambisi untuk memperoleh kedudukan dapat merusak agama seseorang
>> Benarkah jika kita tidak menduduki kursi-kursi penting, maka Islam akan diinjak-injak?
 
 
عَنِ ابْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ الْأَنْصَارِيِّ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ :قَالَ رَسُولُ الله ِn: مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلاَ فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ
 
Dari Ka’ab bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidaklah dua ekor serigala yang lapar dilepas di tengah sekawanan kambing, lebih merusak daripada merusaknya seseorang terhadap agamanya, karena ambisinya untuk mendapatkan harta dan kedudukan.”
[HR At-Tirmidzi (no. 2482) Al-Imam Ahmad (3/456) Asy-Syaikh Muqbil di dalam Ash-Shahihul Musnad (2/178) dan Asy-Syaikh Al-Albani di dalam Shahihul Jami’ (no. 5620)]
 
Makna Hadis
 
Makna hadis ini, kerusakan yang ditimbulkan oleh dua ekor serigala lapar yang dibiarkan bebas di antara sekawanan kambing masih belum seberapa, apabila dibandingkan kerusakan yang muncul karena ambisi seseorang untuk mendapatkan kekayaan dan kedudukan. Karena ambisi untuk mendapatkan harta dan kedudukan akan mendorong seseorang untuk mengorbankan agamanya. Adapun harta, dikatakan merusak karena ia memiliki potensi untuk mendorongnya terjatuh dalam syahwat, serta mendorongnya untuk berlebihan dalam bersenang-senang dengan hal-hal mubah, sehingga akan menjadi kebiasaannya. Terkadang ia terikat dengan harta, lalu tidak dapat mencari dengan cara yang halal, akhirnya ia terjatuh dalam perkara syubhat. Ditambah lagi, harta akan melalaikan seseorang dari zikrullah. Hal-hal seperti ini tidak akan terlepas dari siapa pun.
 
Adapun kedudukan, cukuplah sebagai bukti kerusakannya, bahwa harta dikorbankan untuk meraih kedudukan. Sementara kedudukan tidak mungkin dikorbankan hanya untuk mendapatkan harta. Inilah yang dimaksud dengan syirik khafi (syirik yang tersamar). Dia tenggelam di dalam sikap oportunis, merelakan prinsipnya hilang, kenifakan, dan seluruh akhlak tercela. Maka ambisi terhadap kedudukan lebih merusak dan lebih merusak. [Tuhfatul Ahwadzi Syarah Sunan At-Tirmidzi]
 
Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah berkata:
“Nabi Muhammad ﷺ (di dalam hadis ini) mengabarkan, bahwa ambisi untuk memperoleh kedudukan dapat merusak agama seseorang. Kerusakannya tidak kurang dari kerusakan yang ditimbulkan oleh dua ekor serigala terhadap sekawanan kambing. Agama seorang hamba tidak akan selamat bila ia memiliki ambisi untuk memperoleh harta dan kedudukan. Hanya sedikit yang dapat selamat. Perumpamaan yang teramat agung ini memberikan pesan untuk benar-benar waspada dari keburukan ambisi untuk memperoleh harta dan kedudukan di dunia.”
 
Beliau rahimahullah juga berkata:
“Ambisi seseorang terhadap kedudukan tentu lebih berbahaya dibandingkan ambisinya terhadap harta. Karena usaha untuk mendapatkan kedudukan duniawi, derajat tinggi, kekuasaan atas orang lain, dan kepemimpinan di atas muka bumi, lebih besar mudaratnya dibandingkan usaha mencari harta. Sungguh besar mudaratnya. Bersikap zuhud dalam hal ini begitu sulit.” [Syarh Ibnu Rajab]
 
Menjaga Agama adalah Cita-cita Mulia
 
Di dalam hadis ini terdapat faidah yang mengingatkan kita, bahwa perkara yang terpenting bagi seorang hamba adalah menjaga agamanya. Serta merasa rugi apabila muncul kekurangan di dalam menjalankan agama. Cinta seorang hamba terhadap harta dan kedudukan, upaya yang ia tempuh untuk mendapatkannya, ambisi untuk meraih harta dan kedudukan, serta kerelaan bersusah-payah untuk mengalahkan, hanya akan menyebabkan kehancuran agama dan runtuhnya sendi-sendi agamanya. Simbol-simbol agama akan terhapus. Bangunan-bangunan agamanya pun akan roboh. Ditambah lagi bahaya yang akan ia hadapi karena menempuh sebab-sebab kebinasaan.
 
Kepada mereka yang mengaku sedang memperjuangkan Islam, kepada mereka yang merasa sedang mengibarkan bendera Islam, apakah mereka lebih baik dari Salaf, generasi pertama umat Islam? Perhatikanlah sabda Rasulullah ﷺ kepada Abdurrahman bin Samurah radhiyallahu ‘anhu dalam Riwayat Muslim:
 
يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ، لاَ تَسْأَلِ الْإِمَارَةَ فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا وَإِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا
 
“Wahai Abdurrahman, janganlah engkau meminta kepemimpinan. Karena sesungguhnya bila engkau memperoleh kepemimpinan karena permintaanmu, maka engkau akan dibiarkan. Dan jika engkau memperolehnya tanpa dasar permintaan, engkau akan dibantu.” [Silakan merujuk majalah Asy Syariah Vol I/No. 06/Maret 2004/Muharram 1425 untuk keterangan lebih lengkap tentang hadis ini, dengan tema Hukum Meminta Jabatan]
 
Maka, apakah mereka yang berebut kursi dan mencari suara terbanyak dapat dikatakan sedang memperjuangkan Islam? Dusta dan sungguh dusta lisan mereka. Mungkin terbersit dalam benak, jika kita tidak menduduki kursi-kursi penting, maka Islam akan diinjak-injak? Maka, jawabnya ada pada pendirian seorang Imam Ahlus Sunnah Ahmad bin Hanbal rahimahullahu ta’ala. Disebutkan dalam Mihnatul Imam Ahmad (hal. 70-72) beliau berkata: ”Sungguh, sekali-kali tidak mungkin hal itu akan terjadi! Sesungguhnya Allah taala pasti akan membela agama-Nya. Sesungguhnya ajaran Islam ini memilki Rabb yang akan menolongnya. Dan sesungguhnya dienul Islam ini sangat kuat dan kokoh.”
 
Jadilah orang-orang yang tidak menginginkan kekuasaan dan kerusakan di atas muka bumi. Padahal mereka lebih mulia kedudukannya dibanding yang lain. Allah taala berfirman:
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” [QS. Ali Imran: 139]
Alangkah banyak orang yang mengharapkan kekuasaan padahal justru membuat dirinya semakin terhina. Betapa banyak orang yang diangkat kedudukannya, padahal dirinya tidak berharap kekuasaan dan kerusakan. [As-Siyasah Asy-Syar’iyyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu ta’ala]
 
Wallahu a’lam.
 
 
 
Dinukil dari tulisan yang berjudul: “Demi Sebuah Kursi Kedudukan
yang ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

#rakushartadankedudukan #gilajabatan #hukummemintajabatan #duaserigalalapar #berebutkursi, #mencarisuaraterbanyak #demokstrasi #pemilu #pilkada #ambisiterhadapjabatanlebihberbahayadaripadaharta #merusakagamaseseorang #dilepasditengahsekawanankambing

PENJELASAN ROH YANG BERGENTAYANGAN DAN PERTEMUAN DENGAN ORANG YANG SUDAH MENINGGAL

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
PENJELASAN ROH YANG BERGENTAYANGAN DAN PERTEMUAN DENGAN ORANG YANG SUDAH MENINGGAL
>> Kenali Jin yang Mendampingi Anda
 
Tidak sedikit orang yang masih percaya dengan keyakinan kuno, bahwa orang meninggal setelah dikuburkannya bisa pulang lagi. Mereka berkeyakinan, bahwa orang mati masih bisa menengok keluarga, atau memberi pesan buat keluarganya. Dalam masyarakat kita juga dikenal ritual untuk memanggil roh.
 
Berkembang pula anggapan, bahwa roh orang yang sudah meninggal akan bergentayangan. Dalam sebagian keyakinan kelompok lain, bahwa roh orang yang sudah meninggal bahkan akan menitis (reinkarnasi/raj’ah) kembali dalam kehidupan baru di dunia ini. Mereka menyebutkan beberapa kejadian yang berkaitan dengan peristiwa kematian, dan juga hasil dari cerita-cerita orang-orang tertentu sebagai sebuah bukti. Tentu anggapan semacam itu tidak lepas dari pengetahuan dan informasi yang diterimanya. Keyakinan demikian muncul karena yang mereka temui, alami, dan peroleh mengarah kepada simpulan tersebut.
 
Persis Berarti Sama Dengan?
 
Pengakuan yang sering terjadi di kalangan masyarakat kebanyakan adalah kerabatnya yang telah meninggal bisa kembali pulang untuk suatu keperluan. Entah itu kakek atau nenek, bapak atau ibu, guru, bahkan anak. Ada yang mengaku diberi petunjuk sesuatu. Ada yang mengatakan mendapat pesan. Ada yang katanyamendapatkan wasiat yang tidak sempat ditinggalkan. Dan seterusnya.
 
Sebutlah sebagai contoh. Ada sebuah keluarga yang baru saja ditinggal mati kakek yang sudah tua. Dengan penjelasan yang panjang lebar, sebagian cucunya berhasil meyakinkan keluarga besarnya untuk merawat dan menguburkan sang kakek sesuai ketentuan Islam. Kebanyakan keluarganya memang masih cukup terikat oleh paham animisme primitif. Meski cukup tegang beberapa saat, penjelasan beberapa cucunya bisa diterima, meski dengan setengah hati. Beberapa hari kemudian, sebagian keluarganya mengaku didatangi kakek yang baru saja meninggal tersebut. Digambarkan sang kakek datang kembali dengan muka sedih sembari protes, kenapa tidak dirawat sesuai dengan adat kebiasaan yang berlaku di masyarakat. Sebelum pergi, kakek tersebut berpesan untuk menebus ”kesalahan” tersebut, diminta keluarga yang ditinggalkan agar membuat nisan yang tinggi. Sebelumnya keluarganya juga diminta mencarikan tanah dari areal pekuburan Wali Songo. Selain itu, selama tiga bulan agar ada keluarganya yang menemaninya pada setiap hari meninggalnya. Masih banyak pesan yang ditinggalkan pada salah satu keluarga tersebut.
 
Keributan kecil kembali terjadi pada keluarga tersebut. Sebagian percaya dengan kejadian tersebut. Sebagiaan tidak percaya begitu saja. Bahkan sebagian merasa begitu saja tidak percaya. Bagaimana mungkin seorang yang sudah meninggal bisa pulang kembali untuk sebuah keperluan? Sementara yang mengalami (didatang roh sang kakek) berusaha meyakinkan, bahwa wujud yang datang itu memang sang kakek tua; dari gaya bicaranya, mengenakan pakaian yang disukainya, hingga gerak-gerik tubuhnya. Baginya berbagai ciri tersebut sama dengan ciri kakeknya. Karena itu kesimpulannya, wujud yang datang itu memang sang kakek.
 
Jin Qarin Sang Pendamping
 
Sebenarnya sulit untuk mengatakan sesuatu yang mirip itu sama. Betapa tidak sedikit pemain sandiwara bisa memerankan seseorang tokoh secara mirip. Mirip dalam penampilan fisiknya, mirip gaya bicaranya hingga mirip gerak-geriknya. Orang-orang terkenal, bekas presiden, misalnya, menjadi obyek untuk ditiru. Sebut saja mantan presiden Soeharto, hingga yang baru saja tidak aktif, SBY. Berbagai parodi digelar dengan cerita tentang kehidupan pejabat yang diperankan dengan sangat mirip oleh tokoh-tokoh di muka. Apakah lantas pemeran dalam parodi tersebut sama dengan Soeharto atau Habibie, misalnya? Tentu saja tidak! Soeharto adalah sosok tersendiri, sementara pemeran yang mirip Soeharto adalah individu yang berbeda, meskipun mampu memerankan gerak dan suaranya dengan sangat mirip. Kemampuan tersebut, selain karena bakat, merupakan hasil pengamatan yang cukup intens terhadap tokoh yang diperankannya.
 
Demikian pula sosok yang sering dipercayai sebagai orang meninggal yang kembali ”pulang”. Dalam akidah Islam roh orang yang sudah meninggal tidak bisa bebas pergi pulang semaunya. Mereka ditempatkan oleh Allah dalam tempat tertentu. Lantas siapa sosok yang tidak jarang digambarkan oleh sebagian kalangan sebagai orang meninggal yang coba kembali pulang menemui kerabatnya?
 
Dalam beberapa ayat dan hadis disebutkan, bahwa SETIAP MANUSIA DIBERI PENDAMPING DARI GOLONGAN JIN. Sering disebut dengan istilah QARIN. Di antaranya adalah sebagai berikut:
 
وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ
 
“Barang siapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Alquran), Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan). Maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” [QS. Al-Zukhruf: 36]
 
سعيد الجريري قال بلغنا أن الكافر إذا بعث من قبره يوم القيامة سفع بيده شيطان فلم يفارقه حتى يصيرهما الله تبارك وتعالى إلى النار فذلك حين يقول ( يا ليت بيني وبينك بعد المشرقين فبئس القرين )
 
Orang yang lalai dari peringatan Allah akan dijerumuskan oleh setan sebagai Qarinnya ke jalan Neraka.
 
Sa’id al-Jariri mengomentari ayat tersebut dan beberapa ayat berikutnya mengatakan:
“Telah sampai berita kepada kami, bahwa orang kafir apabila dibangkitkan pada Hari Kiamat, setan akan mendorong dengan tangannya, hingga ia tidak bisa melawannya, sampai Allah menempatkan keduanya di dalam api Neraka. Dan ketika itu ia berkata (tersebut dalam surat yang sama nomor ayat ke-38.): ‘Aduhai, kiranya (jarak) antaraku dan kamu seperti jarak antara Timur dan Barat. Setan memang sejelek-jelek teman pendamping.’ [Tafsir al-Quran al-Azhim Ibnu Katsir juz 4/129]
 
Dalam sebuah kesempatan Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepada para sahabatnya, bahwa setiap manusia memang diciptakan dengan memiliki Qarin (pendamping) dari jin. Sabda Nabi ﷺ:
 
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ وُكِّلَ بِهِ قَرِينُهُ مِنْ الْجِنِّ قَالُوا وَإِيَّاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ وَإِيَّايَ إِلَّا أَنَّ اللَّهَ أَعَانَنِي عَلَيْهِ فَأَسْلَمَ فَلَا يَأْمُرُنِي إِلَّا بِخَيْرٍ
 
“Tidak ada seorang pun dari kalian melainkan disertakan kepadanya Qarin (teman) dari Jin’. Para sahabat bertanya: “Kepada engkau juga, wahai Rasulullah?’ Beliau ﷺ menjawab, ‘Kepada saya juga. Akan tetapi Allah telah menolongku atasnya (Qarin) sehingga dia tunduk. Maka dia tidak pernah menyuruhku melainkan kepada kebaikan.” [Shahih Muslim (2814) dan Musnad Ahmad (3309, 3611, & 4160)]
 
Adalah sesuatu yang wajar, jika pendamping sangat mengenal yang didampinginya. Demikian pula jin pendamping tentu akan sangat mengenal orang yang didampinginya. Sangat mungkin, karena kalau roh tidak mungkin. Kemudian jin jahat tersebut MENYERUPAKAN DIRI DALAM WUJUD ORANG YANG DIDAMPINGINYA tersebut. Interaksi yang lama dengan manusia yang didampinya menjadikannya begitu mudah untuk meniru tingkah laku orang yang pernah didampinginya, seperti halnya para pelaku seni peran. Jin Qarin bisa MENIRUKAN SECARA PERSIS, dari gaya bicaranya, hingga gerak-gerik tubuhnya, termasuk tahu hal-hal yang disukai manusia yang didampinginya.
 
Tentang wujud yang mirip dengan manusia yang didampinginya, jangan dilupa, bahwa jin punya kemampuan untuk beralih rupa. Dengan izin Allah, jin bisa berubah-ubah bentuk menyerupai makhluk lain, termasuk rupa makluk aneh yang mungkin belum terlintas dalam benak manusia. Tentang berubahnya wujud jin ini pernah juga terjadi ketika terjadi pertempuran antara kaum Muslimin dengan musyrikin di zaman Rasulullah ﷺ ketika Perang Badar. Saat itu ada setan yang menyerupakan diri dalam wujud Suraqah bin Malik. Dia melakukan provokasi dan menjanjikan bantuan perang pada kaum musyrikin.
 
وَإِذْ زَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ وَقَالَ لاَغَالِبَ لَكُمُ الْيَوْمَ مِنَ النَّاسِ وَإِنِّي جَارٌ لَّكُمْ فَلَمَّا تَرَآءَتِ الْفِئَتَانِ نَكَصَ عَلَى عَقِبَيْهِ وَقَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِّنكُمْ إِنِّي أَرَى مَالاَتَرَوْنَ
 
“Dan ketika setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan: “Tidak ada seorang manusia pun yang dapat menang terhadap kamu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu”. Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), setan itu balik ke belakang seraya berkata: “Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu. Sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat…” [QS. Al-Anfal:48]
 
Cerita di atas merupakan salah satu kasus tertipunya manusia oleh setan dari golongan jin. Mereka tertipu karena tidak mengenal ajaran Islam, tidak mau mengenal tentang sifat-sifat setan, dan tidak mau mengenal jenis-jenis perbuatan setan. Contoh kejadian tersebut di atas tidak lain adalah bentuk-bentuk kejahatan setan kepada manusia untuk menjerumuskan manusia ke dalam lembah kesesatan. Modusnya adalah setan menyaru dan mengaku sebagai orang yang bangkit dari kematiannya, untuk kemudian menyuntikkan racun keyakinan kepada manusia. Sayang masih banyak orang yang gampang tergoda dan percaya dengan tipuan setan tersebut, hanya dengan alasan bentuknya sama dengan orang yang telah meninggal dunia. Bentuk penyesatan itu dilakukan oleh kelompok jenis jin pendamping (Qarin).
[Luqath al-Marjan fi al-Ahkam al-Jan, Imam Jalaluddin al-Suyuthi]
 
 
Sumber: http://binbaz.atturots.or.id/berita-kenali-jin-yang-mendampingi-anda.html
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 
 
 
#jin #jinqarin #Qarin #Qorin #jinpendampingmanusia #rohgentayangan, #bertemuorangyangsudahmeninggaldunia #ruhgentayangan, #reinkarnasi, #akidah, #tauhid, #aqidah, #tawheed

INILAH HADIS-HADIS PALSU DAN LEMAH TENTANG KEUTAMAAN MEMBACA SURAT YASIN

INILAH HADIS-HADIS PALSU DAN LEMAH TENTANG KEUTAMAAN MEMBACA SURAT YASIN
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
INILAH HADIS-HADIS PALSU DAN LEMAH TENTANG KEUTAMAAN MEMBACA SURAT YASIN
 
Muqaddimah
 
Kebanyakan kaum Muslimin membiasakan membaca Surat Yasin, baik pada malam Jumat, ketika mengawali atau menutup majelis taklim, ketika ada atau setelah kematian, dan pada acara-acara lain yang mereka anggap penting. Saking seringnya Surat Yasin dijadikan bacaan di berbagai pertemuan dan kesempatan, sehingga mengesankan Alquran itu hanyalah berisi Surat Yasin saja. Dan kebanyakan orang membacanya memang karena tergiur oleh fadhilah atau keutamaan Surat Yasin dari hadis-hadis yang banyak mereka dengar, atau menurut keterangan dari guru mereka.
 
Alquran yang di wahyukan Allah adalah terdiri dari 30 juz. Semua surat dari Al-Fatihah sampai An-Nas jelas memiliki keutamaan yang setiap umat Islam wajib mengamalkannya. Oleh karena itu sangat dianjurkan agar umat Islam senantiasa membaca Alquran. Dan kalau sanggup hendaknya menghatamkan Alquran setiap pekan sekali, atau sepuluh hari sekali, atau dua puluh hari sekali atau khatam setiap bulan sekali. [HR Bukhari, Muslim dan lainnya]
 
Sebelum melanjutkan pembahasan, yang perlu dicamkan dan diingat dari tulisan ini adalah dengan membahas masalah ini BUKAN berarti penulis melarang atau mengharamkan membaca Surat Yasin.
 
Sebagaimana surat-surat Alquran yang lain, Surat Yasin juga harus kita baca. Akan tetapi di sini penulis hanya ingin menjelaskan kesalahan mereka yang menyandarkan tentang fadhilah dan keutamaan Surat Yasin kepada Nabi ﷺ.
 
Selain itu untuk menegaskan, bahwa tidak ada tauladan dari Nabi ﷺ membaca Surat Yasin setiap malam Jumat, setiap memulai atau menutup majelis ilmu, ketika dan setelah kematian dan lain-lain.
 
Mudah-mudahan keterangan berikut ini tidak membuat patah semangat, tetapi malah memotivasi untuk membaca dan menghafalkan seluruh isi Alquran serta mengamalkannya.
 
Kelemahan Hadis-Hadis Tentang Fadhilah Surat Yasin
 
Kebanyakan umat Islam membaca Surat Yasin karena, sebagaimana dikemukakan di atas, fadhilah dan ganjaran yang disediakan bagi orang yang membacanya. Tetapi setelah penulis melakukan kajian dan penelitian tentang hadis-hadis yang menerangkan fadhilah Surat Yasin, penulis dapati SEMUANYA ADALAH LEMAH.
 
Perlu ditegaskan di sini, jika telah tegak hujjah dan dalil, maka kita tidak boleh berdusta atas nama Nabi Muhammad ﷺ, sebab ancamannya adalah Neraka. [HR Bukhari, Muslim, Ahmad dan lainnya]
 
Hadis Dhaif dan Maudhu
 
Adapun hadis-hadis yang semuanya Dhaif (Lemah) dan atau Maudhu (Palsu) yang dijadikan dasar tentang fadhilah Surat Yasin di antaranya adalah sebagai berikut:
 
Hadis 1
Artinya: “Siapa yang membaca Surat Yasin dalam suatu malam, maka ketika ia bangun pagi hari diampuni dosanya. Dan siapa yang membaca surat Ad-Dukhan pada malam Jumat, maka ketika ia bangun pagi hari diampuni dosanya.” [Ibnul Jauzi, Al-Maudhuat, 1/247]
>> Keterangan: Hadis ini Palsu
 
Ibnul Jauzi mengatakan, hadis ini dari semua jalannya adalah batil, tidak ada asalnya. Imam Daruquthni berkata: Muhammad bin Zakaria yang ada dalam sanad hadis ini adalah tukang memalsukan hadis. [Periksa: Al-Maudhuat, Ibnul Jauzi, I/246-247, Mizanul I’tidal III/549, Lisanul Mizan V/168, Al-Fawaidul Majmua’ah hal. 268 No. 944]
 
Hadis 2
Artinya: “Siapa yang membaca Surat Yasin pada malam hari karena mencari keridaan Allah, niscaya Allah mengampuni dosanya.”
>> Keterangan: Hadis ini Lemah
 
Diriwayatkan oleh Thabrani dalam kitabnya Mu’jamul Ausath dan As-Shaghir dari Abu Hurairah, tetapi dalam sanadnya ada rawi Aghlab bin Tamim. Kata Imam Bukhari, ia Munkarul Hadis. Kata Ibnu Ma’in, ia tidak ada apa-apanya (tidak kuat). [Periksa: Mizanul I’tidal I:273-274 dan Lisanul Mizan I: 464-465]
 
Hadis 3
Artinya: “Siapa yang terus menerus membaca Surat Yasin pada setiap malam, kemudian ia mati, maka ia mati syahid.”
>> Keterangan: Hadis ini Palsu
 
Hadis ini diriwayatkan oleh Thabrani dalam Mu’jam Shaghir dari Anas, tetapi dalam sanadnya ada Sa’id bin Musa Al-Azdy, ia seorang pendusta dan dituduh oleh Ibnu Hibban sering memalsukan hadis. [Periksa: Tuhfatudz Dzakirin, hal. 340, Mizanul I’tidal II: 159-160, Lisanul Mizan III: 44-45]
 
Hadis 4
Artinya: “Siapa yang membaca Surat Yasin pada permulaan siang (pagi hari), maka akan diluluskan semua hajatnya.”
>> Keterangan: Hadis ini Lemah
 
Ia diriwayatkan oleh Ad-Darimi dari jalur Al-Walid bin Syuja’. Atha’ bin Abi Rabah, pembawa hadis ini tidak pernah bertemu Nabi ﷺ. Sebab ia lahir sekitar tahun 24H dan wafat tahun 114H.
[Periksa: Sunan Ad-Darimi 2:457, Misykatul Mashabih, takhrij No. 2177, Mizanul I’tidal III:70 dan Taqribut Tahdzib II:22]
 
Hadis 5
Artinya: “Siapa yang membaca Surat Yasin satu kali, seolah-olah ia membaca Alquran dua kali.” [HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman]
>> Keterangan: Hadis ini Palsu
 
[Lihat Dhaif Jamiush Shaghir, No. 5801 oleh Syaikh Al-Albani]
Hadis 6
Artinya: “Siapa yang membaca Surat Yasin satu kali, seolah-olah ia membaca Alquran sepuluh kali.” [HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman]
>> Keterangan: Hadis ini Palsu
 
[Lihat Dhaif Jami’ush Shagir, No. 5798 oleh Syaikh Al-Albani]
 
Hadis 7
Artinya: “Sesungguhnya tiap-tiap sesuatu mempunyai hati dan hati (inti) Alquran itu ialah Surat Yasin. Siapa yang membacanya, maka Allah akan memberikan pahala bagi bacaannya itu seperti pahala membaca Alquran sepuluh kali.”
>> Keterangan: Hadis ini Palsu
 
Hadis ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (No. 304 8) dan Ad-Darimi 2:456. Di dalamnya terdapat Muqatil bin Sulaiman. Ayah Ibnu Abi Hatim berkata: Aku mendapati hadis ini di awal kitab yang di susun oleh Muqatil bin Sulaiman. Dan ini adalah hadis batil, tidak ada asalnya. [Periksa: Silsilah Hadis Dhaif no. 169, hal. 202-203). Imam Waqi’ berkata: Ia adalah tukang dusta. Kata Imam Nasa’i: Muqatil bin Sulaiman sering dusta.
 
[Periksa: Mizanul I’tidal IV:173]
 
Hadis 8
Artinya: “Siapa yang membaca Surat Yasin di pagi hari, maka akan dimudahkan (untuknya) urusan hari itu sampai sore. Dan siapa yang membacanya di awal malam (sore hari), maka akan dimudahkan urusannya malam itu sampai pagi.”
>> Keterangan: Hadis ini Lemah
 
Hadis ini diriwayatkan Ad-Darimi 2:457 dari jalur Amr bin Zararah. Dalam sanad hadis ini terdapat Syahr bin Hausyab. Kata Ibnu Hajar: Ia banyak memursalkan hadis dan banyak keliru. [Periksa: Taqrib I:355, Mizanul I’tidal II:283]
 
Hadis 9
Artinya: “Bacakanlah Surat Yasin kepada orang yang akan mati di antara kamu.”
>> Keterangan: Hadis ini Lemah
 
Di antara yang meriwayatkan hadis ini adalah Ibnu Abi Syaibah (4:74 cet. India), Abu Daud No. 3121. Hadis ini lemah karena Abu Utsman, di antara perawi hadis ini adalah seorang yang majhul (tidak diketahui), demikian pula dengan ayahnya. Hadis ini juga mudtharib (goncang sanadnya/tidak jelas).
 
Hadis 10
Artinya: “Tidak seorang pun akan mati, lalu dibacakan Yasin di sisinya (maksudnya sedang naza’) melainkan Allah akan memudahkan (kematian itu) atasnya.”
>> Keterangan: Hadis ini Palsu
 
Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam kitab Akhbaru Ashbahan I:188. Dalam sanad hadis ini terdapat Marwan bin Salim Al Jazari. Imam Ahmad dan Nasa’i berkata, ia tidak bisa dipercaya. Imam Bukhari, Muslim dan Abu Hatim berkata, ia Munkarul Hadis. Kata Abu ‘Arubah Al Harrani, ia sering memalsukan hadis. [Periksa: Mizanul I’tidal IV: 90-91).
 
 
Penjelasan:
Abdullah bin Mubarak berkata:
Aku berat sangka, bahwa orang-orang zindiq (yang pura-pura Islam) itulah yang telah membuat riwayat-riwayat itu (hadis-hadis tentang fadhilah surat-surat tertentu).
 
Dan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata:
Semua hadis yang mengatakan, barang siapa membaca surat ini akan diberikan ganjaran begini dan begitu SEMUA HADIS TENTANG ITU ADALAH PALSU. Sesungguhnya orang-orang yang memalsukan hadis-hadis itu telah mengakuinya sendiri. Mereka berkata, tujuan kami membuat hadis-hadis palsu adalah agar manusia sibuk dengan (membaca surat-surat tertentu dari Alquran) dan menjauhkan mereka dari isi Alquran yang lain, juga kitab-kitab selain Alquran. [Periksa: Al-Manarul Munffish Shahih Wadh-Dhaif, hal. 113-115).
 
Kesimpulan:
Dengan demikian jelaslah, bahwa hadis-hadis tentang fadhilah dan keutamaan Surat Yasin, semuanya LEMAH dan PALSU. Oleh karena itu, hadis-hadis tersebut TIDAK dapat dijadikan hujjah untuk menyatakan keutamaan surat ini dan surat-surat yang lain, dan tidak bisa pula untuk menetapkan ganjaran atau penghapusan dosa bagi mereka yang membaca surat ini. Memang ada hadis-hadis Shahih tentang keutamaan surat Alquran selain Surat Yasin, tetapi tidak menyebut soal pahala. Wallahu a’lam.
 
 
***
 
 
Penyusun: Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

#QSYasin #fadhilah #keutamaan #hadisfadhilahmembacaSuratYasinpalsulemah #SuratYasin #Yasinan #tidakadayangshahih #membacaSuratYasin #hadispalsu #hadislemah #tidakadayangshahih #bidah

, ,

LEBURLAH DOSA DENGAN TOBAT YANG TULUS

LEBURLAH DOSA DENGAN TOBAT YANG TULUS
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
LEBURLAH DOSA DENGAN TOBAT YANG TULUS
 
Allah taala berfirman:
 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا
 
“Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobatan nasuhaa (tobat yang semurni-murninya).” [QS. At Tahrim: 8]
 
Dijelaskan oleh Ibnu Katsir rahimahullah, bahwa makna tobat yang tulus (Tobatan Nashuhah) sebagaimana kata para ulama adalah:
“Menghindari dosa untuk saat ini. Menyesali dosa yang telah lalu. Bertekad tidak melakukannya lagi di masa akan datang. Lalu jika dosa tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia, maka ia harus menyelesaikannya/ mengembalikannya.” [Tafsir Alquran Al ‘Azhim, 14/61]
 
Penuhilah Syarat Diterimanya Tobat
 
Berdasarkan penjelasan Ibnu Katsir di atas, syarat tobat yang mesti dipenuhi oleh seseorang yang ingin bertobat dapat dirinci secara lebih lengkap sebagai berikut:
 
1. Tobat dilakukan dengan ikhlas, bukan karena makhluk atau untuk tujuan duniawi.
 
2. Menyesali dosa yang telah dilakukan dahulu, sehingga ia pun tidak ingin mengulanginya kembali. Sebagaimana dikatakan oleh Malik bin Dinar: “Menangisi dosa-dosa itu akan menghapuskan dosa-dosa, sebagaimana angin mengeringkan daun yang basah.” [Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 203, Darul Muayyid, cetakan pertama, 1424 H] ‘Umar, ‘Ali dan Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa tobat adalah dengan menyesal. [Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, hal. 206]
 
3. Tidak terus menerus dalam berbuat dosa saat ini. Maksudnya, apabila ia melakukan keharaman, maka ia segera tinggalkan. Dan apabila ia meninggalkan suatu yang wajib, maka ia kembali menunaikannya. Dan jika berkaitan dengan hak manusia, maka ia segera menunaikannya atau meminta maaf.
 
4. Bertekad untuk tidak mengulangi dosa tersebut di masa akan datang. Karena jika seseorang masih bertekad untuk mengulanginya, maka itu pertanda, bahwa ia tidak benci pada maksiat. Hal ini sebagaimana tafsiran sebagian ulama yang menafsirkan tobat adalah bertekad untuk tidak mengulanginya lagi. [Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, hal. 206]
 
5. Tobat dilakukan pada waktu diterimanya tobat, yaitu sebelum datang ajal atau sebelum matahari terbit dari arah Barat. Jika dilakukan setelah itu, maka tobat tersebut tidak lagi diterima. [Kami sarikan syarat tobat ini dari penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Sholihin]
 
Bacalah Doa Ampunan Versi Abu Bakr
 
Doa yang bisa diamalkan adalah doa meminta ampunan yang diajarkan oleh Nabi ﷺ pada Abu Bakr Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Dari Abu Bakr Ash Shiddiq, beliau berkata kepada Rasulullah ﷺ:
 
عَلِّمْنِى دُعَاءً أَدْعُو بِهِ فِى صَلاَتِى . قَالَ « قُلِ :اللَّهُمَّ إِنِّى ظَلَمْتُ نَفْسِى ظُلْمًا كَثِيرًا وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ ، فَاغْفِرْ لِى مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ ، وَارْحَمْنِى إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ »
 
“Ajarkanlah aku suatu doa yang bisa aku panjatkan saat shalat!” Maka beliau ﷺ pun berkata: “Bacalah:
 
ALLAHUMMA INNII ZHOLAMTU NAFSII ZHULMAN KATSIIRON WA LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUBA ILLAA ANTA FAGHFIRLII MAGHFIROTAN MIN ‘INDIKA WARHAMNII INNAKA ANTAL GHOFUURUR ROHIIM
 
Artinya:
Ya Allah, sungguh aku telah menzhalimi diriku sendiri dengan kezhaliman yang banyak, sedangkan tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau. Maka itu ampunilah aku dengan suatu pengampunan dari sisi-Mu, dan rahmatilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [HR. Bukhari no. 834 dan Muslim no. 2705]
 
 

 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

#tobat #taubat #syaratsyarattobat, #persyaratantobat, #syaratditerimanyatobat, #menyesalidosayanglalu, #sesalidosayanglalu #doazikir, #doaAbuBakar, #doaAbuBakr  #doamohonampunan #bertaubat #bertobat #syaratditerimanyatobat

, ,

MEMBANTAH KESESATAN TUGAS MULIA ORANG YANG BERILMU, BUKAN YANG BARU BELAJAR SUNNAH

Bantah Syubhat Sesat Tugas Orang Ilmu Bukan Baru Belajar Sunnah

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

MEMBANTAH KESESATAN TUGAS MULIA ORANG YANG BERILMU, BUKAN YANG BARU BELAJAR SUNNAH
Para pendekar medsos bermunculan, melakukan aksi pembelaan terhadap Sunnah dan membantah kesesatan. Namun sayang masih banyak yang belum memahami kadar dirinya, yang berani berbicara mendahului orang-orang yang berilmu, membantah hanya bermodal semangat, tapi kurang ilmu.
Maka tersebarlah dari mereka bantahan-bantahan yang tidak ilmiah dan rapuh. Masih pun dibumbui dengan kata-kata kasar dan tidak hikmah, bahkan menghina pribadi. Bukannya mematahkan syubhat dan membungkam penyebar kesesatan, justru memberi angin kepada Ahlul Batil untuk membantah balik. Entahlah, apakah niat mereka murni membela Sunnah dan membantah kesesatan karena Allah ﷻ, ataukah ada penyusup di tengah-tengah Ahlus Sunnah untuk memperburuk wajah dakwah Ahlus Sunnah di negeri tercinta ini?
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
“Sesungguhnya membantah kesesatan dengan cacian dan ancaman, maka semua orang bisa melakukannya. Padahal jika seseorang membantah kaum musyrikin dan Ahlul Kitab, maka wajib baginya menyebutkan hujjah (argumentasi ilmiah) yang dapat menjelaskan kebenaran Islam, dan membantah kebatilan mereka (bukan dengan cacian dan ancaman).” [Al-Fatawa, 4/186-187]
Asy-Syaikh Prof. DR. Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata:
“Bantahan yang berasal dari Ahlul Ilmi yang memiliki pengetahuan dan bashiroh (hujjah yang terang) untuk menjelaskan kebenaran dan menghilangkan kebatilan, maka ini bermanfaat dan harus dilakukan.
Adapun bantahan yang berasal dari orang-orang bodoh dan para penuntut ilmu yang belum memiliki kemampuan, atau bantahan yang berasal dari hawa nafsu dan kepentingan-kepentingan, maka tidak boleh. Karena bantahan-bantahan mereka hanya memudaratkan dan tidak bermanfaat.
Dan bantahan-bantahan yang benar yang datang dari Ahlul Ilmi yang tegak di atas prinsip menjelaskan kebenaran bukan di atas hawa nafsu, maka harus dilakukan.
Karena tidak boleh diam saja membiarkan orang-orang yang sesat menyebarkan kesesatan mereka, dan menipu umat serta menipu para pemuda umat.” [Transkrip Syarh Manzhumah Adab, Kaset no. 33]
Saudaraku yang baru belajar Sunnah yang merasa masih jahil berhentilah. Jangan membantah tanpa ilmu, jangan pula dengan cacian, hinaan dan ancaman.
Tugas Anda adalah mempelajari ilmu-ilmu yang lebih mendasar, agar Anda memiliki kaki yang lebih kuat pijakan ilmiahnya.
Serahkan urusan membantah kesesatan kepada orang-orang yang berilmu, karena itu memang tugas mulia mereka. Dan boleh bagi Anda membantu penyebarannya. Jangan ditambah-tambahi dengan cacian dan hinaan, apalagi menjatuhkan pribadi. Rasulullah ﷺ bersabda:
يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلْفٍ عُدُولُهُ , يَنْفُونَ عَنْهُ تَحْرِيفَ الْغَالِينَ , وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِينَ , وَتَأْوِيلَ الْجَاهِلِينَ
 “Yang membawa ilmu agama ini pada setiap zaman adalah orang-orang terbaiknya. Mereka menolak penyimpangan orang-orang yang berlebihan dalam agama, membantah kedustaan Ahlul Batil, dan meluruskan takwil orang-orang jahil.” [HR. Al-Baihaqi dari Ibrahim bin AbdirRahman Al-‘Udzri, Al-Misykah: 248]
Al-‘Allamah Ali Al-Qoori rahimahullah berkata:
“Bahwa mereka (orang-orang yang berilmu) melindungi syariat dan teks-teks riwayat hadis dari penyelewengan orang-orang yang berlebihan dalam agama. Mereka juga melindungi sanad-sanad hadis dari pemutarbalikan dan kedustaan, dan membantah syubhat-syubhat akibat takwil Ahlul Bidah yang sesat, yaitu dengan menukil nash-nash yang jelas, agar yang belum jelas dipahami dengan yang sudah jelas.” [Al-Mirqoh: 248]
Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah
Sumber: https://web.facebook.com/sofyanruray.info/posts/918808284935321
,

TAHUN BARU KOK MALAH ZIKIR BERSAMA???

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

TAHUN BARU KOK MALAH ZIKIR BERSAMA???

Jujur, dari dulu saya pun heran, kenapa sebagian dari umat Muslim malah mengadakan acara keislaman seperti zikir bersama atau tabligh akbar saat tahun baru 1 Januari. Wake up dooong ayo sadaaar. Perayaan ini datangnya dari orang kafir.

Dikutip dari tulisan Ustadz Ammi Nur Baits dalam artikelnya, tahun baru merupakan pesta warisan dari orang Romawi. Mereka (orang-orang Romawi) mendedikasikan perayaan itu untuk Dewa Janus, yakni The God of Gates, Doors, and Beginnings. Dewa Janus memiliki dua wajah, satu menatap ke depan dan satunya lagi menatap ke belakang, sebagai filosofi masa depan dan masa lalu, layaknya momen pergantian tahun.

Lalu apakah dengan melakukan zikir bersama pada malam perayaan tahun baru, untuk Dewa Janus, akan menjadikannya diperbolehkan dalam Islam???

🔽
Perbedaan orang yang zikir bersama dengan orang yang begadang hura-hura saat tahun baru itu hanya pada CARA dia merayakannya. Orang yang satu dengan ibadah, sementara yang satu dengan maksiat. Tapi tetap kedua-duanya SALAH. Sama-sama bertasyabbuh. Karena poinnya di sini BUKAN pada “BAGAIMANA merayakan itu” tapi “APA perayaan itu”. Entah kita berusaha mengislam-islamkan tahun baru dengan zikir pun, itu TIDAK AKAN mengubah kenyataan, bahwa tahun baru adalah perayaan agama lain.

🔽
Saudara Muslim kita merayakan tahun baru mungkin didasari atas ketidakpahaman mereka. Maka tugas kita adalah menasihati mereka agar mereka tidak merayakannya lagi. Bukan lantas mengemas acara tahun baru dengan konsep Islami. Ini justru akan menimbulkan keyakinan pada mereka, bahwa merayakan tahun baru itu boleh, asal dengan ibadah.

Apakah jika orang Nasrani merayakan Natal dengan bernyanyi lalu orang Islam merayakan Natal dengan bershalawat? Itu akan menjadikan perayaan Natal diperbolehkan dalam Islam??? Tidak toh?! Begitu pula dengan tahun baru. Berpikirlah wahai umat Muhammad ﷺ. Jangan kita perlahan menyerupai Yahudi dan Nasrani.

Allah ﷻ berfirman dalam QS al-Baqarah ayat 42, Janganlah kamu campur adukkan yang haq dengan yang batil.

Barakallahu fiik.

 

 

Silakan simak video berikut ini:

Atau

 

 

 

 

Atau:

 

 

 

 

 

 

 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

#tahunbaru, #NewYear, #merayakantahunbaru #happynewyear #perayaantahunbaru, #mengucapkanselamattahunbaru, #hukum, #tasyabuh, #tasyabbuh #Majusi #Yahudi #Nasrani #Nasharoh #perayaanorangkafir #zikirbersamatahunbaru, #dzikirbersamatahunbaru, #zikirtahunbaru #zikirmalamtahun, #zikirperayaantahunbaruhijriyah #hijriyyah, #masehi, #tahunbarumasehi, #tahunbaruhijriyah #bidah #bukanperayaankesilaman #taonbaru #taunbaru #dzikirakbar, #zikirakbar, #bidah, #doabersamamalamtahunbaru

 

 

 

,

TAHUN BARU PERAYAAN JAHILIYAH

TAHUN BARU PERAYAAN JAHILIYAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
TAHUN BARU PERAYAAN JAHILIYAH
 
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, dahulu orang-orang Jahiliyyah memiliki dua hari di setiap tahun, yang mana mereka biasa bersenang-senang ketika itu. Ketika Nabi ﷺ datang ke kota Madinah, beliau ﷺ bersabda:
“Dahulu kalian memiliki dua hari di mana kalian bersenang-senang ketika itu. Sekarang Allah telah menggantikan untuk kalian dengan dua hari besar yang lebih baik, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.” [HR. Abu Daud no. 1134; An-Nasa’i no. 1556. Sanad hadis ini Shahih menurut Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan dalam Minhah Al-‘Allam, 4: 142]
 
Yakin masih ingin merayakan Tahun Baru?
  • Yang menyalakan kembang api seperti kaum Majusi,
  • Meniup terompet seperti kaum Yahudi,
  • Bernyanyi layaknya kaum Nasrani, dst.
 
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
‘Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka” [HR Abu Dawud]
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#tahunbaru #bidah #NewYear #perayaantahunbaru, #tahunbarujahiliyah, #jahiliyyah, #jahiliyah, #tahunbarujahiliyah #Yahudi, #Majusi, #Nasrani, #Nashrani, #Nasharoh #duahariIed, #IdulFitri, #IdulFithri, #IdulAdha #bersenangsenang #bermainmain
,

SEMAKIN DEKATNYA HARI KIAMAT

SEMAKIN DEKATNYA HARI KIAMAT
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
SEMAKIN DEKATNYA HARI KIAMAT
 
Nabi ﷺ bersabda:
 
بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ، وَيُشِيْرُ بِإِصْبَعَيْهِ فَيَمُدُّ بِهِمَا.
 
“Jarak diutusnya aku dan Hari Kiamat seperti dua (jari) ini.” Beliau ﷺ berisyarat dengan kedua jarinya (jari telunjuk dan jari tengah), lalu merenggangkannya.” [Shahiih al-Bukhari, kitab ar-Riqaaq bab Qaulin Nabiyyi ﷺ Bu’itstu Ana was Saa’atu ka Haataini dari Sahl z (XI/347, al-Fat-h)]
 
Dan beliau ﷺ bersabda:
بُعِثْتُ فيِ نَسْمِ السَّاعَةِ.
 
“Aku diutus pada awal hembusan angin Kiamat.” [Al-Albani berkata, “Hadis ini diriwayatkan oleh ad-Daulabi dalam al-Kuna’ (I/23), Ibnu Mandah dalam al-Ma’rifah (II/234/2) dari Abi Hazim dari Abi Jabirah secara Marfu’, ini adalah sanad yang Shahih dan semua rijalnya (rawi) tsiqah (dipercaya), ada perbedaan pendapat tentang Abu Jabirah, apakah dia seorang Sahabat? Sementara al-Hafizh dalam at-Taqriib mentarjih (menguatkan), bahwa beliau adalah seorang Sahabat. (Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah) (II/467, no. 808). Dan lihat Tahdziibut Tahdziib (XII/52-53/al-Kuna), cet. Majlis Da-irah al-Ma’arif, India, cet. I th. 1327 H dan Taqriibut Tahdziib (II/405), tahqiq ‘Abdul Wahhab ‘Abdul Lathif, cet. Darul Ma’rifah, cet. II th. 1395 H]
 
Dan beliau ﷺ bersabda:
 
إِنَّمَا أَجَلُكُمْ -فِي أَجَلِ مَنْ خَلاَ مِنَ اْلأُمَمِ- مَا بَيْنَ صَلاَةِ الْعَصْرِ إِلَى مَغْرِبِ الشَّمْسِ.
 
“Sesungguhnya ajal kalian jika dibandingkan dengan ajal umat terdahulu adalah seperti jarak antara shalat Ashar dan Maghrib.” [Shahiih al-Bukhari, kitab Ahaadiitsul Anbiyaa’, bab Maa Dzukira ‘an Banii Israa-iil (VI/495, al-Fat-h)]
 
Dan diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, beliau berkata:
 
كُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالشَّمْسُ عَلَـى قُعَيْقِعَـانَ بَعْدَ الْعَصْرِ، فَقَالَ: مَا أَعْمَارُكُمْ فِي أَعْمَارِ مَنْ مَضَى إِلاَّ كَمَا بَقِيَ مِنَ النَّهَارِ فِيمَا مَضَى مِنْهُ.
 
“Kami pernah duduk-duduk bersama Nabi ﷺ sementara matahari berada di atas gunung Qu’aiqa’aan setelah waktu Ashar. [(قُعَيْقِعَـانَ)
dengan didhammahkan qaf yang pertama, dan dikasrahkan yang kedua, dengan lafal Tashghir, “Sebuah gunung di sebelah Selatan Makkah sejauh dua belas mil. Dinamakan Qu’aiqa’aan karena ketika Kabilah Jurhum melakukan peperangan di sana terdengar banyak gemerincing senjata. Dan jelas bahwasanya perkataan Nabi ﷺ ini terjadi pada haji Wada atau pada peperangan Fat-hu Makkah, dan waktu itu Ibnu ‘Umar mengikutinya beserta para Sahabat. Lihat an-Nihaayah, karya Ibnul Atsir (IV/88) dan Syarh Musnad Ahmad (VIII/ 176), karya Ahmad Syakir]
 
Lalu beliau ﷺ bersabda: ‘Tidaklah umur-umur kalian dibandingkan dengan umur orang yang telah berlalu kecuali bagaikan sisa hari (ini) dibandingkan dengan waktu siang yang telah berlalu.’” [Musnad Ahmad (VIII/176, no. 5966) syarah Ahmad Syakir, dan beliau berkata: “Isnadnya shahih.” Ibnu Katsir berkata: “Isnad ini hasan la ba’-sa bihi.” (An-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/194)). Dan Ibnu Hajar berkata: “Hasan,” (Fat-hul Baari XI/350)]
 
Hadis ini menunjukkan, bahwa waktu yang tersisa sangat sedikit jika dibandingkan dengan waktu yang telah berlalu. Akan tetapi waktu yang telah berlalu tidak ada yang mengetahui kecuali Allah taala. Belum pernah ada satu riwayat pun dengan sanad yang Shahih dari Rasulullah ﷺ yang menerangkan batasan waktu dunia, sehingga bisa dijadikan sebagai rujukan agar diketahui sisa waktu yang ada. Tentunya waktu sisa ini sangat sedikit jika dibandingkan dengan waktu yang telah berlalu. [An-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/195) tahqiq Dr. Thaha Zaini]
 
Tidak ada sebuah ungkapan yang lebih jelas tentang dekatnya Hari Kiamat daripada sabda beliau ﷺ:
 
بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ جَمِيعًا إِنْ كَادَتْ لَتَسْبِقُنِي.
 
“Jarak diutusnya aku dan Hari Kiamat secara bersamaan. Hampir saja dia mendahuluiku.” [Musnad Ahmad (V/348, Muntakhabul Kanzi), dan Taariikhul Umam wal Muluuk (I/8), karya ath-Thabrani]
 
Ini adalah isyarat SANGAT DEKATNYA Hari Kiamat dengan waktu diutusnya Nabi ﷺ, sehingga beliau ﷺ takut jika Kiamat itu mendahului beliau karena sangat dekatnya.
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#kiamatsemakindekat #tandatandabesar #dekatnyaKiamat #ciriciri #harikiamat #semakindekat