,

MATI SUUL KHATIMAH (AKHIR HIDUP YANG BURUK)

MATI-SUUL-KHATIMAH-(AKHIR-HIDUP-YANG-BURUK)
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
MATI SUUL KHATIMAH (AKHIR HIDUP YANG BURUK)
 
Sakaratul Maut Rumayso Sakaratul Maut Yang Paling Ringan Rumaysho Su Uul Khatimah Adalah Ulama Suul Khotimah Tanda Tanda Kematian Rumaysho
 
Setiap orang pasti menginginkan berada pada akhir kehidupan yang baik (Husnul Khatimah), BUKAN pada yang buruk (Suul Khatimah). Namun sudah sering kita saksikan ada beberapa orang yang mati dengan sangat tragis, sangat mengerikan, yang mungkin kita belum pernah melihat sebelumnya. Suul Khatimah inilah yang patut kita waspadai dan berusaha untuk tidak berada di ujung kehidupan semacam itu.
 
Perlu kiranya kita mengetahui, bahwa Suul Khatimah (mati dalam keadaan buruk) memiliki sebab yang seharusnya setiap orang menjauhinya. Sebab utama adalah karena berpaling dari agama Allah. Hal ini dapat berupa berpaling dari istiqamah, lemahnya iman, rusaknya i’tiqad (keyakinan), dan terus menerus dalam maksiat.
 
Beberapa Kisah Akhir Hidup yang Begitu Jelek
 
Ada suatu kisah yang menunjukkan seseorang yang terlalu sibuk dengan dunia, sehingga lupa akan Akhirat. Lihatlah bagaimanakah akhir hidupnya.
 
Ia seorang pedagang yang biasa menjual kain. Tatkala sakratul maut ia bukan menyebut kalimat yang mulia “Laa ilaaha illallah.” Nmun yang ia sebut adalah: “Ini kain baru, ini kain baru. Ini pas untukmu. Kain ini amat murah.” Akhirnya ia pun mati setelah mengucapkan kalimat semacam itu. Padahal kalimat terbaik yang diucapkan saat sakratul maut adalah kalimat Laa ilaaha illallah. Rasulullah ﷺ bersabda:
 
مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ
 
“Barang siapa yang akhir perkataannya adalah ‘Lailaha illallah’, maka dia akan masuk Surga.” [HR. Abu Daud. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih no. 1621]
 
Ada juga orang yang kesehariannya sibuk bermain catur. Ketika sakratul maut, ia diperintahkan untuk menyebut kalimat “Laa ilaaha illallah”. Namun apa yang ia katakan kala maut menjemput? Ia malah mengucapkan: “Skak!” Lalu ia pun menghembuskan nafasnya yang terakhir. Mati bukan menyebut kalimat tahlil, namun menyebut kata “Skak”. Wallahul musta’an.
 
Ada pula orang yang kesehariannya biasa menegak arak (khomr). Ketika maut menjemput, ia ingin ditalqinkan (dituntun baca kalimat tahlil, Laa ilaaha illallah). Namun apa yang ia ucapkan? Ia malah berkata saat sakratul maut: “Mari tuangkan arak untukku, minumlah!” Lantas ia pun mati dalam keadaan seperti itu. Laa haula quwwata illa billah ‘aliyyil ‘azhim. [Kisah-kisah ini diperoleh dari risalah mungil yang berjudul ‘Alamaatu Husnul Khatimah wa Su’uha, terbitan Darul Qosim]
 
Pengaruh Teman Bergaul yang Buruk Semasa Hidup
 
Ulama tabi’in, Mujahid rahimahullah berkata: “Barang siapa mati, maka akan datang di hadapan dirinya orang yang satu majelis (setipe) dengannya. Jika ia biasa duduk di majelis orang yang selalu menghabiskan waktu dalam kesia-siaan, maka itulah yang akan menjadi teman dia tatkala sakratul maut. Sebaliknya jika di kehidupannya ia selalu duduk bersama Ahli Zikir (yang senantiasa mengingat Allah), maka itulah yang menjadi teman yang akan menemaninya saat sakratul maut.” [Tadzkiroh, Al Qurthubi, Asy Syamilah, 1/38]
 
Bukti dari perkataan Mujahid di atas terdapat pada kisah Abu Tholib berikut ini:
 
لَمَّا حَضَرَتْ أَبَا طَالِبٍ الْوَفَاةُ جَاءَهُ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَوَجَدَ عِنْدَهُ أَبَا جَهْلِ بْنَ هِشَامٍ ، وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِى أُمَيَّةَ بْنِ الْمُغِيرَةِ ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – لأَبِى طَالِبٍ « يَا عَمِّ ، قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، كَلِمَةً أَشْهَدُ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ » . فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِى أُمَيَّةَ يَا أَبَا طَالِبٍ ، أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَلَمْ يَزَلْ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَعْرِضُهَا عَلَيْهِ ، وَيَعُودَانِ بِتِلْكَ الْمَقَالَةِ ، حَتَّى قَالَ أَبُو طَالِبٍ آخِرَ مَا كَلَّمَهُمْ هُوَ عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ ، وَأَبَى أَنْ يَقُولَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ
 
“Ketika menjelang wafatnya Abu Tholib, Rasulullah ﷺ mendatanginya dan ternyata sudah ada Abu Jahal bin Hisyam dan ‘Abdullah bin Abu Umayyah bin Al Mughirah. Maka Rasulullah ﷺ berkata kepada Abu Tholib: “Wahai pamanku, katakanlah Laa ilaaha illallah, suatu kalimat yang dengannya aku akan menjadi saksi atasmu di sisi Allah”. Maka berkata Abu Jahal dan ‘Abdullah bin Abu Umayyah: “Wahai Abu Thalib, apakah kamu akan meninggalkan agama ‘Abdul Muthalib?”. Rasulullah ﷺ terus menawarkan Kalimat Syahadat kepada Abu Tholib, dan bersamaan itu pula kedua orang itu mengulang pertanyaannya, yang berujung Abu Tholib pada akhir ucapannya tetap mengikuti agama ‘Abdul Muthalib, dan enggan untuk mengucapkan Laa ilaaha illallah.” [HR. Bukhari no. 1360 dan Muslim no. 24]
 
Akibat Maksiat dan Godaan Setan
 
Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Sesungguhnya dosa, maksiat, dan syahwat adalah sebab yang dapat menggelincirkan manusia saat kematiaanya. Ditambah lagi dengan godaan setan. Jika maksiat dan godaan setan terkumpul, ditambah lagi dengan lemahnya iman, maka sungguh amat mudah berada dalam Suul Khatimah (akhir hidup yang jelek).” [Al Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, 9/184 (sesuai standar)]
 
Agar Selamat dari Suul Khatimah
 
Ibnu Katsir rahimahullah kembali melanjutkan penjelasannya:
 
“Suul Khatimah (akhir hidup yang jelek), semoga Allah melindungi kita darinya, tidaklah terjadi pada orang yang secara lahir dan batin itu baik dalam bermuamalah dengan Allah. Begitu pula tidak akan terjadi pada orang yang benar perkataan dan perbuatannya. Keadaan semacam ini tidak pernah didengar, bahwa orangnya mati dalam keadaan Suul Khatimah sebagaimana kata ‘Abdul Haq Al Isybili. Suul Khatimah akan mudah terjadi pada orang yang rusak batinnya dilihat dari i’tiqod (keyakinannya) dan rusak lahiriahnya yaitu pada amalnnya. Suul Khatimah lebih mudah terjadi pada orang yang terus menerus dalam dosa besar dan lebih menyukai maksiat. Akhirnya ia terus menerus dalam keadaan berlumuran dosa semacam tadi, sampai maut menjemput sebelum ia bertobat.” [Al Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, 9/184 (sesuai standar)]
 
Jika telah mengetahui hal ini dan tidak ingin kehidupan kita berakhir buruk sebagaimana kisah-kisah yang telah diutarakan di atas, maka sudah sepantasnya kita menyegerakan tobat terhadap semua dosa yang kita perbuat, baik itu dosa kesyirikan, bid’ah, dosa besar dan maksiat. Begitu pula segeralah kita kembali taat pada Allah dengan mengawali segalanya dengan ilmu. Kita tidak tahu kapan nyawa kita diambil. Entah besok, entah lusa, entah minggu depan, boleh jadi lebih cepat dari yang kita kira. Yang tua dan muda sama saja, tidak ada yang tahu bahwa ia akan berumur panjang. Selagi masih diberi kesempatan, selagi masih diberi nafas, teruslah bertobat dan kembali taat pada-Nya. Lakukan kewajiban, sempurnakan dengan amalan sunnah. Jauhi maksiat dan berbagai hal yang makruh. Jangan sia-siakan waktu, teruslah isi dengan kebaikan.
 
Semoga Allah mematikan kita dalam keadaan Husnul Khatimah dan menjauhkan kita dari akhir hidup yang jelek, Suul Khatimah. Amin Yaa Mujibas Saailin.
 
 
 
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
[www.rumaysho.com]
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#su’ul, #khotimah, #khatimah, #chatimah, #chotimah, #suul, #mati, #meninggaldunia, #akhirhidup, #akhirayat, #husnul, #khusnul #chusnul #husnulkhatimah, #husnulkhotimah #akhirhidupyangjelek, #akhirhidupyangburuk, #akhirhidupyangbaik, #akhirhidupyangindah #suul khotimah, #suulkhatimah
,

UJIAN DAN MUSIBAH TANDA ALLAH CINTA

UJIAN DAN MUSIBAH TANDA ALLAH CINTA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
 
UJIAN DAN MUSIBAH TANDA ALLAH CINTA
>> Pahala yang Setimpal
 
hadist hadis Allah menguji hambanya jika Allah mencintai suatu kaum maka Allah akan mengujinya apabila Allah mencintai hambanya bila alloh cinta maka diuji jika Allah mencintai seorang hamba
 
Inilah yang patut dipahami setiap insan beriman, bahwa cobaan kadang dapat meninggikan derajat seorang Muslim di sisi Allah dan tanda, bahwa Allah semakin menyayangi dirinya. Dan semakin tinggi kualitas imannya, semakin berat pula ujiannya. Namun ujian terberat ini akan dibalas dengan pahala yang besar pula. Sehingga kewajiban kita adalah bersabar. Sabar ini merupakan tanda keimanan dan kesempurnaan tauhidnya. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
 
إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَفَّى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
 
“Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada Hari Kiamat kelak.” [HR. Tirmidzi no. 2396, Hasan shahih kata Syaikh Al Albani]
 
Juga dari hadis Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau ﷺ bersabda:
 
إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ
 
“Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barang siapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barang siapa siapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” [HR. Ibnu Majah no. 4031, Hasan kata Syaikh Al Albani]
 
Faidah dari dua hadis di atas:
 
1- Musibah yang berat (dari segi kualitas dan kuantitas) akan mendapat balasan pahala yang besar.
 
2- Tanda Allah cinta, Allah akan menguji hamba-Nya. Dan Allah yang lebih mengetahui keadaan hamba-Nya. Kata Lukman, seorang shalih, pada anaknya:
 
يا بني الذهب والفضة يختبران بالنار والمؤمن يختبر بالبلاء
 
“Wahai anakku ketahuilah, bahwa emas dan perak diuji keampuhannya dengan api, sedangkan seorang Mukmin diuji dengan ditimpakan musibah.”
 
3- Siapa yang rida dengan ketetapan Allah, ia akan meraih rida Allah dengan mendapat pahala yang besar.
 
4- Siapa yang tidak suka dengan ketetapan Allah, ia akan mendapat siksa yang pedih.
 
5- Cobaan dan musibah dinilai sebagai ujian bagi wali Allah yang beriman.
 
6- Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia dengan diberikan musibah yang ia tidak suka sehingga ia keluar dari dunia dalam keadaan bersih dari dosa.
 
7- Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada Hari Kiamat kelak. Ath Thibiy berkata: “Hamba yang tidak dikehendaki baik, maka kelak dosanya akan dibalas hingga ia datang di Akhirat penuh dosa sehingga ia pun akan disiksa karenanya.” [Lihat Faidhul Qodir, 2: 583, Mirqotul Mafatih, 5: 287, Tuhfatul Ahwadzi, 7: 65]
 
8- Dalam Tuhfatul Ahwadzi disebutkan: “Hadis di atas adalah dorongan untuk bersikap sabar dalam menghadapi musibah setelah terjadi, dan bukan maksudnya untuk meminta musibah datang karena ada larangan meminta semacam ini.”
 
Jika telah mengetahui faidah-faidah di atas, maka mengapa mesti bersedih? Sabar dan terus bersabar, itu solusinya.
 
Semoga Allah memberi kita taufik dalam bersabar ketika menghadapi musibah.
WAllahul muwaffiq.
 
Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah
[www.rumaysho.com]
 
 
 
 
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#pahalayangsetimpal, #pahalabesar, #balasanujianberat, #Allahcintasuatukaum, #Allahmencintaisuatukaum, #Allahmenimpakanujian, #ridho, #ridha, #rida, #ujianAllah, #Allahmurka, #Allahtidakmurka, #meraihridaAllah, #meraihridhaAllah #ridhaAllah #ridhoAllah #ridaAllah #mutiarasunnah #ujiandanmusibah, #tandaAllahcinta, #tandacintaAllah, #besarnyapahala, #besarnyaujian, #fitnah, #ujian #hadist #hadis #Allahmengujihambanya #jikaAllahmencintaisuatukaum #Allahakanmengujinya #apabilaAllahmencintaihambanya #bilaallohcinta #diuji #jikaAllahmencintaiseoranghamba #ujiandanmusibah, #tandaAllahcinta, #tandacintaAllah, #besarnyapahala, #besarnyaujian, #fitnah, #ujian
, ,

HINANYA MENJADI BUDAK DUNIA

HINANYA MENJADI BUDAK DUNIA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
HINANYA MENJADI BUDAK DUNIA
Al-Hasan al-Bashry rahimahullah mengatakan seraya bersumpah:
«ما أعز أحد الدرهم إلا أذله الله عز وجل»
“Tidaklah seseorang memuliakan Dirham (harta), kecuali Allah Azza wa Jalla pasti menghinakannya.” [Diriwayatkan oleh Ahmad dalam az-Zuhd, no. 1556]
Sumber: @JakartaMengaji
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#duniaituhina, #laranganmemuliakandunia, #Dirham, #muliakanDirham, #Allahakanmenghinakan #hinanyamenjadibudakdunia, #budakdunia
,

PERINGATAN 40 HARI KEMATIAN ADALAH AJARAN FIRAUN

PERINGATAN 40 HARI KEMATIAN ADALAH AJARAN FIRAUN
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
PERINGATAN 40 HARI KEMATIAN ADALAH AJARAN FIRAUN
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah mengatakan tentang memperingati 40 hari kematian:
“عادة فرعونية كانت لدى الفراعنة قبل الإسلام، ثم انتشرت عنهم وسرت في غيرهم، وهي بدعة منكرة لا أصل لها في الإسلام”
“Itu adalah kebiasaan Firaun yang telah ada sebelum kedatangan Islam. Kemudian dari mereka tersebar dan dilakukan oleh selain mereka, dan itu merupakan bid’ah mungkar yang TIDAK ada asalnya dalam Islam.” [Majmu’ul Fatawa, jilid 13 hal. 398-399]
Sumber:  @JakartaMengaji
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#peringatan, #perayaan, #40harikematian, #Yasinan, #Tahlilan, #bidah, #bid’ah, #ahlibidah, #ahlulbidah, #ajaranFiraun, #Firaun, #Firaun #tauhid, #tawheed #mati, #meninggal dunia, #wafat, #kematian
,

TIDAK BERHARAP SEDIKIT PUN KEPADA MAKHLUK MERUPAKAN KUNCI PERTOLONGAN DARI ALLAH

TIDAK-BERHARAP-SEDIKIT-PUN-KEPADA-MAKHLUK-MERUPAKAN-KUNCI-PERTOLONGAN-ALLAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
TIDAK BERHARAP SEDIKIT PUN KEPADA MAKHLUK MERUPAKAN KUNCI PERTOLONGAN DARI ALLAH
 
Al-Fudhail bin Iyyadh rahimahullah berkata:
 
والله، لو يئست من الخلق حتى لا تريد منهم شيئا، لأعطاك الله مولاك كل ما تريد.
“Demi Allah, seandainya engkau benar-benar putus asa dari makhluk hingga engkau tidak berharap sedikit pun dari mereka, niscaya Allah akan memberimu semua yang engkau inginkan.” ]Jami’ul Ulum wal Hikam, hlm. 264]
 
Sumber: @JakartaMengaji
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#tidakberharapsedikitpun, #mahluq, #mahluk, #berharapkepadaAllahsaja, #menyandarkandirikepadaAllah,#mencariridaAllah, #ridha, #ridho, #rida, #Allahsemata, #bukanmencariridamanusia, #ridhamanusia
,

ORANG YANG TERTIPU

ORANG YANG TERTIPU
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
ORANG YANG TERTIPU
 
Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata:
 
قال الذهبي رحمه الله:
كل من لم يَخْشَ أن يكون في النار، فهو مغرور قد أمن مكر الله به.
سير أعلام النبلاء ٢٩١/٦
“Setiap orang yang tidak takut kalau dirinya akan masuk di Neraka berarti dia telah tertipu, telah merasa aman dari makar Allah terhadap dirinya.” [Siyar A’lam An-Nubala 6/291]
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

#orangyangtertipu, #tertipu, #tipuan, #tidaktakutmasukNeraka, #makarAllah, #tidaktakut

a, #makar llah, #tidak akut

, ,

HIDAYAH HANYA MILIK ALLAH

HIDAYAH-HANYA-MILIK-ALLAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
HIDAYAH HANYA MILIK ALLAH
 
Dalam shirah Nabi ﷺ dijelaskan, bahwa paman Nabi ﷺ, Abu Thalib, biasa melindungi Nabi ﷺ dari gangguan kaumnya. Perlindungan yang diberikan ini tidak ada yang menandinginya. Oleh karenanya Nabi ﷺ mengharapkan hidayah itu datang pada pamannya. Saat menjeleng wafatnya, Nabi ﷺ menjenguk pamannya tersebut dan ingin menawarkan pamannya masuk Islam. Beliau ﷺ ingin agar pamannya bisa menutupi hidupnya dengan kalimat “Laa ilaha illallah” karena kalimat inilah yang akan membuka pintu kebahagiaan di Akhirat. Berikut kisah yang disebutkan dalam hadis.
 
Dari Ibnul Musayyib, dari ayahnya, ia berkata: “Ketika menjelang Abu Thalib (paman Nabi ﷺ) meninggal dunia, Rasulullah ﷺ menemuinya. Ketika itu di sisi Abu Thalib terdapat ‘Abdullah bin Abu Umayyah dan Abu Jahl. Ketika itu Nabi ﷺ mengatakan pada pamannya:
أَىْ عَمِّ ، قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ . كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ
 
“Wahai pamanku, katakanlah ‘Laa ilaha illalah’, yaitu kalimat yang aku nanti bisa beralasan di hadapan Allah (kelak).”
 
Abu Jahl dan ‘Abdullah bin Abu Umayyah berkata:
 
يَا أَبَا طَالِبٍ ، تَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ
 
“Wahai Abu Thalib, apakah engkau tidak suka pada agamanya Abdul Muthallib?” Mereka berdua terus mengucapkan seperti itu, namun kalimat terakhir yang diucapkan Abu Thalib adalah ia berada di atas ajaran Abdul Mutthalib.
 
Rasulullah ﷺ kemudian mengatakan:
لأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْهُ
 
“Sungguh aku akan memohonkan ampun bagimu wahai pamanku, selama aku tidak dilarang oleh Allah.”
 
Kemudian turunlah ayat:
 
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ
 
“Tidak pantas bagi seorang Nabi dan bagi orang-orang yang beriman, mereka memintakan ampun bagi orang-orang yang musyrik, meskipun mereka memiliki hubungan kekerabatan, setelah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu adalah penghuni Neraka Jahanam.” [QS. At-Taubah: 113]
 
Allah ta’ala pun menurunkan ayat:
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ
 
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak bisa memberikan hidayah (ilham dan taufik) kepada orang-orang yang engkau cintai.” [QS. Al-Qasshash: 56] [HR. Bukhari no. 3884] 
 
Dari pembahasan hadis di atas dapat disimpulkan hidayah itu ada dua macam:
 
1. Hidayah Irsyad Wa Dalalah, maksudnya adalah hidayah berupa memberi petunjuk pada orang lain.
2. Hidayah Taufik, maksudnya adalah hidayah untuk membuat seseorang itu taat pada Allah.
 
Hidayah pertama bisa disematkan pada manusia. Contohnya pada firman Allah:
وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
 
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” [QS. Asy-Syura: 52] Memberi petunjuk yang dimaksud di sini adalah memberi petunjuk berupa penjelasan. Ini bisa dilakukan oleh Nabi dan yang lainnya.
 
Namun untuk hidayah kedua, yaitu hidayah supaya bisa beramal dan taat, TIDAK dimiliki kecuali hanya Allah saja. Seperti dalam firman Allah ta’ala:
 
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ
 
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak bisa memberikan hidayah (ilham dan taufik) kepada orang-orang yang engkau cintai.” [QS. Al-Qasshash: 56]
 
Allah ta’ala berfirman:
لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ
 
“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufik) siapa yang dikehendaki-Nya.” [QS. Al-Baqarah: 272] [Lihat bahasan Taisir Al-‘Aziz Al-Hamid, 1: 618 dan Hasyiyah Kitab At-Tauhid, hlm. 141]
 
Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
, ,

FAIDAH SURAT YASIN: PENDAKWAH HANYA MENYAMPAIKAN, HIDAYAH MILIK ALLAH

FAIDAH SURAT YASIN: PENDAKWAH HANYA MENYAMPAIKAN, HIDAYAH MILIK ALLAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
FAIDAH SURAT YASIN: PENDAKWAH HANYA MENYAMPAIKAN, HIDAYAH MILIK ALLAH
 
Ingatlah, pendakwah hanya menyampaikan, sedangkan pemberi hidayah adalah Allah.
 
Mari kita ambil pelajaran dari bahasan surat Yasin berikut, yang rata-rata sudah dihafalkan oleh kaum muslimin di negeri kita.
 
Tafsir Surah Yasin Ayat 13-17
 
وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلًا أَصْحَابَ الْقَرْيَةِ إِذْ جَاءَهَا الْمُرْسَلُونَ (13) إِذْ أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوا إِنَّا إِلَيْكُمْ مُرْسَلُونَ (14) قَالُوا مَا أَنْتُمْ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُنَا وَمَا أَنْزَلَ الرَّحْمَنُ مِنْ شَيْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَكْذِبُونَ (15) قَالُوا رَبُّنَا يَعْلَمُ إِنَّا إِلَيْكُمْ لَمُرْسَلُونَ (16) وَمَا عَلَيْنَا إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ (17)
 
“Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka.
(yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya. Kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang diutus kepadamu.”
Mereka menjawab: “Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatu pun. Kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka.”
Mereka berkata: “Rabb kami mengetahui, bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu.”
Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas.” [QS. Yasin: 13-17]
 
Penjelasan Ayat
 
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan permisalan suatu negeri yang diutus dua orang utusan (rasul). Mereka berdakwah untuk mengajak manusia supaya bisa beribadah pada Allah semata, dan mengikhlaskan ibadah pada-Nya. Mereka pun berdakwah untuk melarang dari kesyirikan dan maksiat.
 
Ada dua orang yang telah diutus, lalu diutus lagi rasul yang ketiga, jadilah ada tiga utusan. Tetap saja dakwah ditolak. Malah kaum yang didakwahi berkata: “Kami juga manusia semisal kalian.” Maksud mereka, apa yang membuat para rasul lebih unggul daripada mereka, padahal sama-sama rasul juga manusia. Namun para Rasul mengatakan pada umatnya:
 
قَالَتْ لَهُمْ رُسُلُهُمْ إِنْ نَحْنُ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَمُنُّ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ
 
“Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka: “Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya.” [QS. Ibrahim: 11]
 
Kaum tersebut intinya masih mengingkari wahyu yang diturunkan, dan mereka pun mendustakan para rasul yang diutus. Namun rasul ketiga mengatakan: “Rabb kami Maha Tahu, kalau kami adalah utusan untuk kalian.” Maksudnya, kalau para rasul itu berdusta, tentu mereka akan mendapatkan siksa.
 
Tugas setiap utusan (rasul) hanyalah memberikan penjelasan yang segamblang-gamblangnya sesuai yang diperintahkan. Sedangkan untuk memberikan hukuman bukanlah tugas para rasul. Jika yang dijelaskan itu diterima, maka itu adalah taufik dari Allah. Jika tidak diterima dan yang didakwahi tetap dalam keadaan belum mendapat hidayah, maka rasul utusan tidak bisa bertindak apa-apa.” [Tafsir As-Sa’di, hlm. 734-735]
 
Ibnu Katsir rahimahullah berkata:
 
يقولون إنما علينا أن نبلغكم ما أرسلنا به إليكم، فإذا أطعتم كانت لكم السعادة في الدنيا والآخرة، وإن لم تجيبوا فستعلمون غِبَّ ذلك ،والله أعلم.
 
“Utusan itu berkata: Sesungguhnya kami hanyalah menyampaikan apa yang mesti disampaikan pada kalian. Jika kalian taat, maka kebahagiaan bagi kalian di dunia dan Akhirat. Jika tidak mau mengikuti, kalian pun sudah tahu akibat jelek di balik itu semua. Wallahu a’lam.” [Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 333]
 
Pelajaran lain yang bisa diambil dari ayat di atas:
 
1. Baiknya memberikan perumpamaan ketika memberikan penjelasan. Dalam ayat yang dibahas dijelaskan, bahwa kalau Nabi Muhammad ﷺ ditolak dakwahnya. Mmaka itu juga terjadi untuk rasul atau utusan yang lain.
 
2. Orang kafir sama miripnya dilihat dari zaman dan tempat, sama-sama sulit menerima kebenaran.
 
3. Orang kafir telah diberikan peringatan dan penjelasan. Jika menolak, mereka akan mendapatkan siksa. [Aysar At-Tafasir, 4:370]
Allah ta’ala berfirman:

لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufik) kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” [QS. Al-Baqarah: 272] [Lihat bahasan Taisir Al-‘Aziz Al-Hamid, 1: 618 dan Hasyiyah Kitab At-Tauhid, hlm. 141]

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.



 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#kewajibankitahanyamengingatkan, #tugasmuhanyamenyampaikan, #kewajibanhanyamenyampaikan, #pendakwah, #bukanlahpekerjaan, #petunjukhanyaMilikAllah #hidayahhanyamilikAllah, #faidahsuratYasin, #pendakwahhanyamenyampaikan #hidayahmilikAllah #taufik #taufiq #milikAllahsaja #faedahsuratYasin #faidah #faedah #tukangdakwah #jurudakwah #ustadz #hidayahbukanmilikkita #Islam #sunnah #Islam #Alquran #SuratYasin #QSYasi
,

MINUMAN PENGHUNI NERAKA

MINUMAN PENGHUNI NERAKA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
MINUMAN PENGHUNI NERAKA
 
Mereka masuk Neraka karena mendapati nenek moyang mereka dalam kesesatan, lalu mereka bergegas melangkah mengikuti kesesatan tersebut. Mereka meniru TANPA berfikir dahulu. [Tafsir ayat ke 69. Al-Muntakhab]
 
Semoga Allah ta’ala menambahkan ilmu untuk kita. Aamiin!
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#minumanpenghuniNeraka, #zaqum, #hamim, #airmendidih, #kafir, #musyrikin, #Neraka, #pendudukNeraka #minumanairmendidih, #pohonzaqum, #buahzaqum #penhuni

MERAIH DERAJAT IHSAN

MERAIH DERAJAT IHSAN
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
MERAIH DERAJAT IHSAN
 
Kedekatan seorang hamba kepada Allah ta’ala salah satunya tercermin dalam keadaan ibadahnya.
 
Derajat tertinggi ibadah dalam Islam adalah ihsan, yaitu ketika ia beribadah kepada Allah ta’ala seolah ia merasa diawasi langsung oleh Allah ta’ala. Meski ia tak sanggup melihat-Nya, sesungguhnya Allah ta’ala Maha Melihat semua makhluk-Nya, termasuk hamba-Nya yang kerdil di hadapan-Nya.
 
Semoga, Allah ta’ala mengaruniakan kepada kita derajat ihsan. Aamiin!
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#tipstips, #caracara, #raih, #meraih, #derajatihsan, #ihsan, #ichsan #derajat #drajat