PERBANDINGAN WAKTU DUNIA DAN AKHIRAT 1000 TAHUN ATAU 50000 TAHUN?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
PERBANDINGAN WAKTU DUNIA DAN AKHIRAT 1000 TAHUN ATAU 50000 TAHUN?
 
Ayat Pertama:
 
سَأَلَ سَائِلٌ بِعَذَابٍ وَاقِعٍ (١)لِلْكَافِرينَ لَيْسَ لَهُ دَافِعٌ (٢)مِنَ اللَّهِ ذِي الْمَعَارِجِ (٣)تَعْرُجُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ (٤)فَاصْبِرْ صَبْرًا جَمِيلا (٥)
 
“Seseorang telah meminta kedatangan azab yang akan menimpa orang-orang kafir, yang tidak seorang pun dapat menolaknya, (yang datang) dari Allah, yang mempunyai tempat-tempat naik. Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun. Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang baik.” [ QS. Al-Ma’arij: 1-5]

 

Ayat kedua:
 
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ مَا لَكُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا شَفِيعٍ أَفَلا تَتَذَكَّرُونَ (٤)يُدَبِّرُ الأمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الأرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ أَلْفَ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ (٥)ذَلِكَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (٦)
 
“Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Tidak ada bagi kamu selain dari pada-Nya seorang penolong pun dan tidak (pula) seorang pemberi syafaat. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadanya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu. Yang demikian itu ialah Tuhan yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” [QS. As-Sajadah: 4-6]
 
Allah juga berfirman:
 
وَيَسْتَعْجِلُونَكَ بِالْعَذَابِ وَلَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ وَعْدَهُ وَإِنَّ يَوْمًا عِنْدَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ (٤٧)
 
“Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, Padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu menurut perhitunganmu.” [QS. Al-Hajj: 47]
 
Sesungguhnya ayat- ayat ini sama sekali TIDAK ADA KONTRADIKISI padanya. Hal ini dapat kita lihat dari beberapa sisi:
 
Pertama: Sesungguhnya Allah azza wajalla telah mentazkiyah (menyucikan) kitab-Nya Alquran dari sesuatu yang kontradiksi (bertolak belakang). Sehingga pemahaman kitalah yang diciptakan sebagai manusia lemah atau karena kekurangan ilmu, sehingga kita tidak bisa memahami dan mengiranya sebagai sesuatu yang kontradiksi.
 
Allah berfirman:
 
أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلافًا كَثِيرًا (٨٢)
 
“Maka apakah mereka tidak memerhatikan Alquran? Kalau kiranya Alquran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” [QS. An-Nisa: 82]
 
Syaikh Abdurrahman Ibnu Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata:
 
ومن فوائد التدبر لكتاب الله: أنه بذلك يصل العبد إلى درجة اليقين والعلم بأنه كلام الله، لأنه يراه يصدق بعضه بعضا، ويوافق بعضه بعضا. فترى الحكم والقصة والإخبارات تعاد في القرآن في عدة مواضع، كلها متوافقة متصادقة، لا ينقض بعضها بعضا، فبذلك يعلم كمال القرآن وأنه من عند من أحاط علمه بجميع الأمور
 
“Dan di antara faidah-faidah dari menadabburi kitab Allah (Alquran) adalah dengan hal itu. Seorang hamba akan mencapai derajat keyakinan dan mengetahui dengan pasti, bahwa ini merupakan firman Allah. Karena ia akan menemukan ayat-ayat yang saling membenarkan satu sama lainnya dan saling sesuai. Ia akan melihat hukum-hukum, kisah dan berita-berita yang disebutkan di dalam Alquran pada beberapa tempat, semuanya saling membenarkan dan saling menunjukkan kesesuaiannya, tidak berlawanan antara yang satu dengan yang lainnya. Sehingga dengan itu ia akan mengetahui kesempurnaan Alquran dan ia mengetahui dengan seyakin-yakinnya ,bahwa hal ini merupakan dari Dzat yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.” [Taisiru al-Karimi ar-Rahman Fi Tafsiiri al-Kalami al-Mannan: 205 Cetakan al-Bayan]
 
Syaikh Utsaimin rahimahullah berkata:
 
قبل الإجابة على هذا السؤال أود أن أبين أنه ليس في كتاب الله ، ولا في ما صح عن رسول صلى الله عليه وسلم ، تعارض أبداً ، وإنما يكون التعارض فيما يبدو للإنسان ويظهر له ، إما لقصور في فهمه ، أو لنقص في علمه ، وإلا فكتاب الله وما صح عن رسوله صلى الله عليه وسلم ليس فيهما تعارض إطلاقاً ، قال الله تعالى : ( أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلافاً كَثِيراً
 
 
فإذا بدا لك أيها الأخ شيء من التعارض بين آيتين من كتاب الله ، أو حديثين عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ، أو بَيْن آية وحديث : فَأَعِد النظر مرة بعد أخرى ، فسيتبين لك الحقُّ ووجهُ الجمع ، فإن عجزت عن ذلك فاعلم أنه إما لقصور فهمك ، أو لنقص علمك ، ولا تتهم كتاب الله عز وجل ، وما صح عن رسوله صلى الله عليه وسلم ، بتعارضٍ وتناقض أبدا .
 
“Sebelum saya menjawab pertanyaan ini saya ingin menjelaskan, bahwasanya tidak akan ada di dalam Alquran atau pada hadis-hadis Nabi ﷺ yang shahih sesuatu yang kontradiksi. selama-lamanya!! Sesungguhnya kontradiksi itu hanya terjadi pada sesuatu yang nampak padanya saja. Entah karena kurangnya pemahamannya atau karena kurangnya ilmunya. Adapun di dalam Alquran dan hadis-hadis yang shahih dari Nabi ﷺ, tidak akan pernah ada yang kontradiksi. Ini secara mutlak. Sebagaimana firman Allah: “Maka apakah mereka tidak memerhatikan Alquran? Kalau kiranya Alquran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” [QS. An-Nisa: 82]
 
Oleh karena itu, jauhkanlah dirimu wahai saudaraku dari pemahaman, bahwa terjadi kontradiksi antara kedua ayat ini, atau antara hadis-hadis Nabi ﷺ, atau antara hadis dan ayat Alquran. Perhatikan kembali setelah engkau membacanya secara berulang-ulang. Sungguh akan jelas kepadamu kebenaran dan kesesuain penggabungan darinya. Jika engkau lemah dari menemukan hal itu, itu terjadi karena kurangnya pemahamanmu atau kurangnya ilmumu. Maka janganlah engkau melempar tuduhan, bahwa di dalam Alquran dan hadis-hadis terdapat sesuatu yang kontradiksi.” [Nur Ala Darb Libni Utsaimin: 2/72 (Maktabah Syamilah)]
 
Kedua: Telah tsabit hadis-hadis yang menyebutkan tentang kedatangan Dajjal, bahwa pada hari kedatangannya selama 40 hari, hari pertama serasa setahun, hari kedua serasa sebulan, dan hari ke tiga serasa seminggu, kemudian hari-hari berikutnya sama dengan hari-hari biasanya. Ini menunjukkan bahwa Allah mampu menciptakan perbedaan perputaran waktu atau panjangnya hari, walau kita masih menyebutnya sebagai satu hari, namun hakikat perputaran waktunya berbeda. Hadis tersebut juga menunjukkan perbedaan hari yang terjadi dan bukan hari yang sama.
 
Ketiga: Kesimpulan yang tepat dari penjelasan poin kedua adalah bahwa antara ayat pertama yang menyebutkan angka lima puluh ribu dan ayat kedua yang menyebutkan seribu tahun adalah hari yang berbeda. Sehingga tidak terjadi kontradiksi dalam hal ini.
 
Jika kita memperhatikan dengan baik ayat -ayat tersebut kita akan mendapatkan kesimpulan, bahwa:
 
– Ayat pertama pada permasalahan di atas yang menyebutkan angka lima puluh ribu tahun adalah lamanya kehidupan satu hari di Hari Kiamat, yang menyamai waktu lima puluh ribu tahun di dunia.
 
– Sedangkan ayat kedua yang menyebutkan angka seribu tahun adalah masa penciptaan dan pengaturan kehidupan dunia yang kadarnya sehari di sisi Allah sama dengan seribu tahun bagi kita di dunia. Dan sama sekali tidak menyebutkan perhitungan hari di Hari Kiamat kelak.
 
Syaikh Muhammad Ibnu Shaleh al-Utsaimin rahimahullah berkata:
 
أن آية السجدة في الدنيا ، فإنه سبحانه وتعالى يدبر الأمر من السماء إلى الأرض ثم يعرج إليه في يوم ، كان مقدار هذا اليوم – الذي يعرج إليه الأمر – مقداره ألف سنة مما نعد ، لكنه يكون في يوم واحد ، ولو كان بحسب ما نعد من السنين لكان عن ألف سنة
 
“Bahwasanya ayat pada Surat as-Sajadah menyebutkan ukuran waktu saat manusia hidup di dunia, di mana Allah subhanahu wataala mengatur semua perkara-perkara dari langit ke bumi, kemudian naik lagi kepada-Nya, itu terjadi dalam satu hari bagi-Nya. Adapun jika dihitung dalam perhitungan kita sebagai manusia yang hidup di dunia berlangsung selama seribu tahun. Padahal hakikatnya di sisi Allah hanya satu hari. Jika seandainya kita menghitung harinya, niscaya akan sampai seribu tahun lamanya.
 
وأما الآية التي في سورة المعارج، فإن ذلك يوم القيامة كما قال تعالى : (سَأَلَ سَائِلٌ بِعَذَابٍ وَاقِعٍ لِلْكَافِرينَ لَيْسَ لَهُ دَافِعٌ . مِنْ اللَّهِ ذِي الْمَعَارِجِ. تَعْرُجُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ. وقوله : ( في يوم ) ليس متعلقاً بقوله تعالى : ( الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ)، لكنه متعلق بما قبل ذلك .
 
“Adapun ayat yang disebutkan dalam surah al-Ma’arij, sesungguhnya ayat itu menyebutkan perbandingan hari untuk Hari Kiamat. Allah berfirman: “Seseorang telah meminta kedatangan azab yang akan menimpa orang-orang kafir, yang tidak seorang pun dapat menolaknya, (yang datang) dari Allah, yang mempunyai tempat-tempat naik. Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan.” Adapun kata “Dalam sehari” tidak berhubungan dengan firman Allah: “Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan.” Tapi berhubungan dengan ayat sebelumnya (yaitu permintaan seseorang tentang azab yang terjadi pada Hari Kiamat).” [Nur Ala Darb Libni Utsaimin: 2/72 (Maktabah Syamilah)]
 
Sehingga jelas bahwa ayat-ayat ini tidaklah kontradikisi.
Wallahu a’lam bishshowab.
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: https://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 
 
#perbandinganwaktuduniadanAkhirat #100tahunatau50000tahun #seributahun #50ributahun #satuharidiAkhirat #ayatAlqurantidakkontradiksi

KENAPA MUSLIM TIDAK MERAYAKAN HARI VALENTINE?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
KENAPA MUSLIM TIDAK MERAYAKAN HARI VALENTINE?
 
Kapan seorang Muslim disebut meniru gaya orang kafir (Tasyabbuh)? Saat orang itu mengikuti apa-apa yang menjadi kekhasan orang kafir tersebut, baik dari pakaiannya, penampilan, dalam bergaya, dan lainnya. Dalam hadis disebutkan dari Ibnu ‘Umar, Nabi ﷺ bersabda:
“Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.”[(HR. Ahmad dan Abu Daud]
 
Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami.” [HR. Tirmidzi]
 
Ibnu Taimiyah dalam kitab lainnya berkata:
“Sesungguhnya Tasyabbuh (meniru gaya) orang kafir secara lahiriyah mewariskan kecintaan dan kesetiaan dalam batin. Begitu pula kecintaan dalam batin mewariskan Tasyabbuh secara lahiriyah. Hal ini sudah terbukti secara inderawi atau eksperimen. Sampai-sampai jika ada dua orang yang dulunya berasal dari kampung yang sama, kemudian bertemu lagi di negeri asing, pasti ada kecintaan, kesetiaan dan saling berkasih sayang. Walau dulu di negerinya sendiri tidak saling kenal atau saling terpisah.” Bukankah banyak dari kita yang masih enggan meninggalkan budaya kaum kafir, setelah menirukan budaya tersebut sekali, dua kali, tiga kali, sehingga menjadi tradisi? Bukankah masih banyak yang masih terus melakukan budaya merayakan ulang tahun, Valentine’s Day, bahkan sampai mengucapkan selamat hari raya kaum kafir yang sangat terlarang bagi umat Muslim.
 
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata:
“Patokan disebut Tasyabbuh adalah jika melakukan sesuatu yang menjadi kekhususan orang yang ditiru. Misalnya yang disebut Tasyabbuh pada kafir adalah seorang Muslim melakukan sesuatu yang menjadi kekhususan orang kafir. Adapun jika sesuatu sudah tersebar di tengah-tengah kaum Muslimin dan tidak jadi kekhasan atau pembeda dengan orang kafir, maka tidak lagi disebut Tasyabbuh. Seperti itu tidaklah dihukumi Tasyabbuh, namun bisa jadi dinilai haram dari sisi lain.” Semoga kita semua bisa menjauh dan meninggalkan budaya kaum kafir.
 
 
 
Sumber: www.khalidbasalamah.com
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: https://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 
 
 
#muslimtidakmerayakanhariValentine #ValentinesDay #tasyabuh,#tasyabbuh #meniruorangkafir #bukanbagiankami #batasanmeniruorangkafir #ciritasyabuh #ciritasyabbuh #patokandisebuttasyabuh #perayaanValetine

WAJIBNYA MENGENAL AKIDAH ISLAM

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

WAJIBNYA MENGENAL AKIDAH ISLAM

 
Berkata asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah:
“Ketahuilah, semoga Allah memberikan taufik kepadaku dan kalian, bahwasannya wajib atas setiap Muslim untuk mempelajari akidah Islam, agar dia mengerti makna dan prinsip-prinsipnya, yang akidah ini tegak di atasnya. Kemudian mengenal apa saja yang berlawanan dengannya, dan yang dapat membatalkannya, atau mengurangi (kesempurnaannya), yaitu berupa kesyirikan yang besar ataupun yang kecilnya.
 
Allah taala berfirman:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِك
 
“Maka ketahuilah, bahwasannya tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah, dan mohonlah ampunan bagi dosamu.” [QS. Muhammad: 19]
 
Berkata al-Imam al-Bukhari rahimahullah: “Bab Berilmu Sebelum Berucap dan Beramal
Maka dari sinilah perhatian para ulama terfokus untuk mempelajari hukum-hukum (ilmu-ilmu) tentang akidah dan mengajarkannya. Dan mereka menilai (menjadikan) ilmu akidah ini sebagai ilmu-ilmu yang mendasar dan prioritas. Dan mereka telah menulis karya-karya khusus (yang membahas) tentangnya.
 
Kalimat “Laa Ilaaha Illallah” bukan hanya diucapkan di lisan semata. Namun kalimat ini mempunyai kandungan, makna dan konsekuensi yang wajib untuk diketahui seluruhnya, dan diamalkan baik secara lahir maupun batin. Dan kalimat ini (juga) mempunyai pembatal-pembatalnya, dan hal-hal yang akan menguranginya, dan hal itu tidak akan jelas kecuali dengan mempelajarinya.”
 
[Diringkaskan dari kitab al-Irsyad ila Shahihil I’tiqad karya al-‘Allamah Shalih al-Fauzan hafizhahullah halaman 13]
 
 
 
سلسلة صحيح الاعتقاد (٢)
 
 
● وجوب معرفة العقيدة الإسلامية
 
 
» اعلموا وفقني الله وإياكم أنه يجب على كل مسلم أن يتعلم العقيدة الإسلامية؛ ليعرف معناها وما تقوم عليه، ثم يعرف ما يضادها ويبطلها أو ينقصها من الشرك الأكبر والأصغر: قال الله تعالى : (فاعلم أنه لا إله إلا الله واستغفر لذنبك).
 
 
● قال الإمام البخاري رحمه الله: “باب العلم قبل القول والعمل”.
 
 
» ومن هنا اتجهت همم أهل العلم إلى تعلم أحكام العقيدة وتعليمها، واعتبروا ذلك من أوليات العلوم، وألفوا فيها مؤلفات خاصة.
» (لا إله إلا الله) ، ليست مجرد كلمة تقال باللسان، بل لها مدلول ومعنى ومقتضى، تجب معرفتها كلها، والعمل بها ظاهراً وباطناً، ولها مناقشات ومنقصات، ولا يتضح ذلك إلا بالتعلم.
 
 
[ملخصاً من كتاب: الإرشاد إلى صحيح الاعتقاد، ص13 – للشيخ العلامة صالح الفوزان حفظه الله]
 
 
Sumber: t.me/fawzaan
 
 
 #akidahIslam #aqidahIslam #wajibnyamengenalakidahIslam #pembatalKeislaman #syirik #kesyirikan #urgensibelajartauhid #tauhid #tawheed

PRINSIP YANG BENAR: IKUTILAH ALQURAN DAN AS SUNNAH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
PRINSIP YANG BENAR: IKUTILAH ALQURAN DAN AS SUNNAH
>> Wajibkah kita bermadzhab?
>> Apakah orang awam wajib memilih madzhab tertentu untuk beragama?
 
Prinsip yang benar adalah mengikuti Alquran dan As Sunnah. Selama perkataan Imam Madzhab sejalan dengan keduanya, maka barulah perkataan mereka layak diambil. Sedangkan memaksakan seseorang untuk bermadzhab dengan pendapat salah seorang di antara mereka, ini adalah menetapkan perintah tanpa adanya dalil. Allah taala berfirman:
 
اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ
 
“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya).” [QS. Al A’rof: 3]
 
قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ
 
“Katakanlah: “Taatilah Allah dan Rasul-Nya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”. [QS. Ali Imron: 32]
 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ
 
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan Ulil Amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Alquran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian” [QS. An Nisa’: 59]
 
Hal ini juga dapat dilihat dalam hadis Al ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu. Seolah-olah inilah nasihat terakhir Nabi ﷺ. Beliau ﷺ menasihati para sahabat radhiyallahu ‘anhum:
 
فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
 
“Berpegang teguhlah dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rosyidin yang mendapatkan petunjuk (dalam ilmu dan amal). Pegang teguhlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian.” [HR. Abu Daud, At Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban. At Tirmidizi mengatakan hadis ini Hasan Shahih. Syaikh Al Albani mengatakan hadis ini Shahih. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 37]
 
Salah seorang Khulafaur Rosyidin dan manusia terbaik setelah Nabi ﷺ, Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu mengatakan:
 
لَسْتُ تَارِكًا شَيْئًا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَعْمَلُ بِهِ إِلَّا عَمِلْتُ بِهِ إِنِّي أَخْشَى إِنْ تَرَكْتُ شَيْئًا مِنْ أَمْرِهِ أَنْ أَزِيْغَ
 
“Aku tidaklah biarkan satu pun yang Rasulullah ﷺ amalkan, kecuali aku mengamalkannya. Karena aku takut jika meninggalkannya sedikit saja, aku akan menyimpang.” [Lihat Shahih wa Dho’if Sunan Abi Daud, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa atsar ini Shahih]
 
Ibnu Baththoh dalam Al Ibanah, 1/246, mengomentari perkataan Abu Bakar di atas, beliau rahimahullah mengatakan: “Inilah, wahai saudaraku! Orang yang paling shiddiq (paling jujur) seperti ini saja masih merasa takut dirinya akan menyimpang jika dia menyelisihi sedikit saja dari perintah Nabi ﷺ. Bagaimana lagi dengan orang yang mengejek Nabi dan perintahnya (ajarannya), membanggakan diri dengan menyelisihinya, mencemooh petunjuknya (ajarannya). Kita memohon kepada Allah agar terjaga dari kesalahan dan agar terselamatkan dari amal yang jelek.
 
Para Imam Madzhab Sendiri Memerintahkan Kita untuk Mengikuti Petunjuk Nabi ﷺ
 
Imam Abu Hanifah dan muridnya Abu Yusuf berkata:
 
لاَ يَحِلُّ لأَِحَدٍ أَنْ يَقُوْلَ بِقَوْلِنَا حَتَّى يَعْلَمُ مِنْ أَيْنَ قُلْنَاهُ
 
“Tidak boleh bagi seorang pun mengambil perkataan kami sampai ia mengetahui dari mana kami mengambil perkataan tersebut (artinya sampai diketahui dalil yang jelas dari Alquran dan Hadis Nabawi, pen).” [I’lamul Muwaqi’in, 2/211, Darul Jail]
 
Imam Malik berkata:
 
إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أُخْطِىءُ وَأُصِيْبُ فَانْظُرُوا فِي قَوْلِي فَكُلُّ مَا وَافَقَ الكِتَابَ وَالسُّنَّةَ فَخُذُوْا بِهِ وَمَا لَمْ يُوَافِقْ االكِتَابَ وَالسُّنَّةّ فَاتْرُكُوْهُ
 
“Sesungguhnya aku hanyalah manusia yang bisa keliru dan benar. Lihatlah setiap perkataanku. Jika itu mencocoki Alquran dan Hadis Nabawi, maka ambillah. Sedangkan jika itu tidak mencocoki Alquran dan Hadis Nabawi, maka tinggalkanlah. [I’lamul Muwaqi’in, 1/75]
 
Imam Abu Hanifah dan Imam Asy Syafi’i berkata:
 
إِذَا صَحَّ الحَدِيْثُ فَهُوَ مَذْهَبِي
 
“Jika hadis itu shahih, itulah pendapatku.” [Dinukil dari Shahih Fiqh Sunnah, 1/39, 41]
 
Imam Asy Syafi’i berkata:
 
إذَا صَحَّ الْحَدِيثُ فَاضْرِبُوا بِقَوْلِي الْحَائِطَ وَإِذَا رَأَيْت الْحُجَّةَ مَوْضُوعَةً عَلَى الطَّرِيقِ فَهِيَ قَوْلِي
 
“Jika terdapat hadis yang shahih, maka lemparlah pendapatku ke dinding. Jika engkau melihat hujjah diletakkan di atas jalan, maka itulah pendapatku.” [Majmu’ Al Fatawa, 20/211, Darul Wafa’]
 
Imam Ahmad berkata:
 
مَنْ رَدَّ حَدِيْثَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهُوَ عَلَى شَفَا هَلَكَةٍ
 
“Barang siapa yang menolak hadis Rasulullah ﷺ, maka ia berarti telah berada dalam jurang kebinasaan.” [Ibnul Jauzi dalam Manaqib, hal. 182. Dinukil dari sifat Shalat Nabi hal. 53]
 
Semoga Allah memberikan taufik bagi siapa saja yang membaca risalah yang ringkas ini.
Amin Yaa Mujibas Saailin.
 
 
 
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
[Artikel https://rumaysho.com]
 
 
 
#laranganbermahdzab #bolehkahkitatidakbermadzhab #tidak bermazhab #apakahkitawajibbermazhab #apakahkitaharusbermadzhab #apakahwajibbermazhab  #mazhab #mahdzab #madzab #ImamEmpat #Imam4 #taqlidbuta #taklidbuta #fanatisme #mengekorbuta #wajibkahkitabermadzhab #madzhab

FIRAUN MENDUSTAKAN ALLAH BERADA DI ATAS LANGIT

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

FIRAUN MENDUSTAKAN ALLAH BERADA DI ATAS LANGIT

 
Firaun adalah salah satu manusia yang paling keji dan paling dilaknat di muka bumi. Firaun adalah manusia yang pernah mengaku-ngaku sebagai Rabb yang Maha Tinggi. Firaun berkata sebagaimana dalam Alquran:
 
فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى
 
Firaun berkata: “Aku adalah Rabb kalian yang paling tinggi”. [QS : An Nazi’at: 24].
 
Firaun termasuk manusia yang binasa karena perbuatannya ini dengan tenggelam di lautan. Allah berfirman:
 
قَالَ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا أَنْزَلَ هَؤُلَاءِ إِلَّا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ بَصَائِرَ وَإِنِّي لَأَظُنُّكَ يَا فِرْعَوْنُ مَثْبُورًا
 
Musa mengatakan: “Sesungguhnya kamu (Firaun) telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Tuhan langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata. Sesungguhnya aku memiliki persangkaan kuat kamu, hai Firaun, merupakan seorang yang akan binasa. [QS : Al Isra’: 102].
 
Bahkan Firaun mendapat hukuman khusus di alam kubur, yaitu ditampakkan Neraka baginya sebagai tempat ia disiksa, setiap pagi dan sore hari. Allah berfirman:
 
النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوّاً وَعَشِيّاً وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ
 
Kepada mereka dinampakkan Neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat (dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Firaun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras”. [QS Al Mu’min: 46]
 
Firaun mendustakan Rabb Nabi Musa ’alahissalam berada di langit
 
Firaun meminta orang dekatnya yaitu Haman untuk membangun bangunan yang tinggi agar ia bisa melihat Rabb Nabi Musa, karena Firaun menuduh Nabi Musa telah berdusta ketika mengatakan Rabbnya ada di atas langit. Allah taala berfirman:
 
(37) وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا هَامَانُ ابْنِ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَبْلُغُ الْأَسْبَابَ (36) أَسْبَابَ السَّمَاوَاتِ فَأَطَّلِعَ إِلَى إِلَهِ مُوسَى وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ كَاذِبًا
 
“Dan berkatalah Firaun: “Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Rabb Musa. Dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta”.” [QS. Al Mu’min: 36-37]
 
Dalam ayat yang lain:
 
وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَآأَيُّهَا الْمَلأُ مَاعَلِمْتُ لَكُم مِّنْ إِلَهٍ غَيْرِي فَأَوْقِدْ لِي يَاهَامَانُ عَلَى الطِّينِ فَاجْعَل لِّي صَرْحًا لَّعَلِّي أَطَّلِعُ إِلَى إِلَهِ مُوسَى وَإِنِّي لأَظُنُّهُ مِنَ الْكَاذِبِينَ
 
“Dan berkata Firaun: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui Tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku, tanah liat, kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa. Dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta.” [QS. Al Qashash: 38]
 
Ahli Tafsir At-Thabari menjelaskan, bahwa Firaun mendustakan Nabi Musa yang telah mengklaim memiliki Rabb, yaitu Allah di langit. Beliau berkata:
 
وقوله : ( وإني لأظنه كاذبا ) يقول : وإني لأظن موسى كاذبا فيما يقول ويدعي من أن له في السماء ربا أرسله إلينا
 
“Makna ayat perkataan Firaun ‘Sesungguhnya aku memandangnya (Musa) seorang pendusta’ yaitu Firaun menuduh Musa telah berdusta karena mengklaim memiliki Rabb di langit yang mengutus Musa kepada Firaun dan tentaranya.” [Tafsir At-Thabari]
 
Demikian juga penjelasan dari Ibnu Kastir, beliau berkata:
 
وهذا من كفره وتمرده ، أنه كذب موسى في أن الله – عز وجل – أرسله إليه
 
“Ini adalah kekafiran dari Firaun dan ketidakpatuhannya (ngeyel -dalam bahasa Jawa). Firaun mendustakan Musa, bahwa Allah telah mengutusnya kepada Firaun.” [Tafsir Ibnu Katsir]
 
Dalil mengenai Allah berada di atas langit sangat banyak. Kita diperintahkan menyakininya tanpa harus bertanya-tanya bagaimana hakikatnya, karena indra dan ilmu manusia tidak mampu untuk mengetahuinya.
 
Hakikatnya Firaun percaya Allah di atas langit, akan tetapi karena nafsu dan sombong, ia mendustakannya. Allah menegaskan hal ini dalam Alquran:
 
وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَآ أَنفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا فَانظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ
 
“Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka), padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan.” [QS. An Naml: 14]
 
Demikian semoga bermanfaat
 
 
 
 
Penyusun: Raehanul Bahraen

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: https://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

#Firaun #Allahadadimanamanadimana #FiraundustakanAllahberadadiataslangit #FiraunmenolakAllahberadadiataslangit #FiraunmendustakanNabiMusa #NabiMusa #Allahtidakdimanana #AllahdiatasArsy

MAKNA LA ILAHA ILLALLAH YANG BENAR

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
MAKNA LA ILAHA ILLALLAH YANG BENAR
 
La Ilaha Illallah ( لا إله إلا الله ) bermakna “Tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah. Dan sesuatu SELAIN Allah jika diibadahi, maka ibadah tersebut adalah ibadah yang batil atau salah”.
 
Inilah makna yang benar terhadap kalimat La Ilaha Illallah ( لا إله إلا الله ).
 
Allah ﷻ berfirman:
 
ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ
 
“Demikian itu, karena sesungguhnya Allah, Dialah (Sesembahan) Yang Hak dan sesungguhnya apa saja yang mereka sembah selain Allah, maka itu adalah sesembahan yang batil. Dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar” [QS. Al Hajj: 62]
 
Dan Allah ﷻ berfirman:
 
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ
 
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada yang berhak diibadahi melainkan Allah…” [QS. Muhammad: 19]
 
 
 
 
Diterjemahkan oleh Ustadz Bambang Abu Ubaidillah al Atsariy hafizhahullah dari kitab al Qaulul Mufid Fi Adillatit Tauhid
Sumber:
 Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: https://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#makna #arti #definisi #kalimattauhid #maknalailahaillallahyangbenar #laailahaillallah

BERMAJELIS DENGAN AHLI BIDAH DAN MENGATAKAN CUKUPLAH UMAT INI BERPECAH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
BERMAJELIS DENGAN AHLI BIDAH DAN MENGATAKAN CUKUPLAH UMAT INI BERPECAH
 
Penanya:
 
طالب علم يجالس أهل السنة وأهل البدع، ويقول: كفى الأمة تفريقاً وأنا أجالس الجميع.
 
Seorang penuntut ilmu bermajelis kepada Ahlussunnah dan Ahli Bidah, dan ia mengatakan: “Cukuplah umat ini berpecah dan aku tetap bermajelis kepada semuanya.”
 
Jawaban Asy-Syaikh Al-Allamah Shaleh Bin Muhammad Al-Luhaidan hafizhahullah:
 
( هذا مبتدع )، من لم يفرق بين الحق والباطل ويدعي أن هذا لجمع الكلمة فهذا هو الابتداع، نسأل الله أن يهديه. نعم ).
 
“Orang ini Mubtadi. Barang siapa yang tidak membedakan antara Al-Haq dan Al-Bathil dan mengklaim bahwasanya ini untuk menyatukan kalimat, maka ini adalah bidah. Kita memohon kepada Allah memberikan kepadanya hidayah.” [Disadur dari kaset pelajaran bakda Shalat Fajar di Masjid Mabawi pada 23/10/1418 H]
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: https://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 
#larangan #dilarang #bermajelisdenganahlulahlibidah #ahlulbidah #ahlibidah #bidah #mubtadi #alhaqalbathilbatil #harusbisabedakanalhaqkebenarandanalbathil #fatwaulama

JANGAN SEGAN KEPADA SIAPAPUN UNTUK MENGUCAPKAN YANG BENAR

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
 JANGAN SEGAN KEPADA SIAPAPUN UNTUK MENGUCAPKAN YANG BENAR
 
Rasulullah ﷺ bersabda:
 
أَلَا لَا يَمْنَعَنَّ رَجُلًا هَيْبَةُ النَّاسِ أَنْ يَقُولَ بِحَقٍّ إِذَا عَلِمَهُ
 
“Perhatikanlah, janganlah rasa segan kepada manusia menghalangi seseorang untuk mengucapkan yang benar ketika ia telah mengetahuinya.” [HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 168]
 
Asy-Syaikh Al-‘Allamah Al-Muhaddits Al-Albani rahimahullah berkata:
 
وفي الحديث: النهي المؤكد عن كتمان الحق خوفاً من الناس، أو طمعاً في المعاش، فكل من كتمه مخافة إيذائهم إياه بنوع من أنواع الإيذاء؛ كالضرب والشتم وقطع الرزق، أو مخافة عدم احترامهم إياه، ونحو ذلك؛ فهو داخل في النهي و مخالف للنبي ﷺ ، وإذا كان هذا حال من يكتم الحق و هو يعلمه؛ فكيف يكون حال من لا يكتفى بذلك، بل يشهد بالباطل على المسلمين الأبرياء، ويتهمهم في دينهم و عقيدتهم؛ مسايرة منه للرعاع، أو مخافة أن يتهموه هو أيضاً بالباطل إذا لم يسايرهم على ضلالهم واتهامهم؟! فاللهم ثبتنا على الحق، وإذا أردت بعبادك فتنة؛ فاقبضنا إليك غير مفتونين
 
“Dalam hadis yang mulia ini terdapat pelajaran, bahwa sangat terlarang menyembunyikan kebenaran karena takut kepada manusia, atau karena cinta dunia sehingga takut kehilangannya.
 
Maka setiap orang yang menyembunyikan kebenaran karena takut manusia menyakitinya dengan segala bentuk seperti memukul, mencaci, dan memutus penghasilan, atau takut mereka tidak menghormatinya dan yang semisalnya, maka ia masuk dalam larangan dalam hadis ini, dan ia menyelisihi Nabi ﷺ.
 
Dan apabila ini adalah hukum bagi orang yang menyembunyikan kebenaran yang telah ia ketahui, maka bagaimana lagi dengan orang yang tidak mau mengikuti kebenaran?!
 
Dan bagaimana lagi dengan orang yang menyalahkan kaum Muslimin yang tidak bersalah, atau menuduh mereka sesat dalam agama dan akidah, hanya demi mengikuti orang banyak, atau takut mereka menuduhnya juga sebagai pengikut kebatilan, apabila ia tidak mengikuti kesesatan para penuduh dan tuduhan dusta mereka?!
 
Maka, ya Allah kuatkan hati kami di atas kebenaran. Dan apabila Engkau hendak menimpakan ‘fitnah’ kepada hamba-hamba-Mu, maka ambillah kami menuju kepada-Mu tanpa terkena ‘fitnah’ itu.” [As-Silsilah Ash-Shahihah, 1/325]
 
 
 
Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: https://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

#jangantakutmengatakanyangbenar #jangantakutucapkanyangbenar #jangantakutkatakankebenaran #jangantakutkatakanalhaq #jangantakutkatakanyangbenar #jangantakut #jangansegan #beraniberkatabenar #akhlakmulia

PENTINGNYA MENGENAL ALLAH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
PENTINGNYA MENGENAL ALLAH
 
Para pecinta dan budak dunia adalah orang-orang yang menyibukkan diri dalam mengumpulkan dunia sebanyak-banyaknya sampai ia melupakan kewajiban-kewajiban dalam agama. Satu di antara kewajiban itu adalah marifatullah ‘Mengenal Allah’ sebagai Pencipta dan Sesembahan semua makhluk. Mereka lalai dari majelis-majelis ilmu yang di dalamnya diajarkan tentang Allah, sifat-sifat-Nya, dan syariat-Nya yang mulia. Padahal semua yang ia dapatkan di majelis ilmu merupakan kelezatan yang tiada taranya, bahkan lebih manis daripada dunia beserta isinya.
 
Seorang ulama tabi’in pada zamannya, Al-Imam Malik bin Dinar As-Samiy As-Sajiy Abu Yahya Al-Bashriy Az-Zahid (wafat pada 130 H) rahimahullah berkata:
 
خَرَجَ أَهْلُ الدُّنْيَا مِنَ الدُّنْيَا، وَلَمْ يَذُوْقُوْا أَطْيَبَ شَئٍْ فِيْهَا، قَالُوْا: وَمَا هُوَ يَا أَبَا يَحْيَى؟ قَالَ : مَعْرِفَةُ اللهِ تَعَالَى
 
“Para pencinta dunia telah keluar (pergi) dari dunia, sedang mereka belum merasakan sesuatu yang paling enak di dunia.”
Mereka bertanya: “Apa itu, wahai Abu Yahya (Sapaan Malik bin Dinar, -pen.)?”
Beliau menjawab: ” (Hal itu) adalah Marifatullah.”
[Atsar riwayat Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 2/358, Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqa 56/421 & 427, dan Ad-Dinawariy dalam Al-Majalis wa Jawahir Al-‘Ilm no. 222 & 1879]
 
Jahilnya seorang hamba tentang Rabb-nya merupakan sebab luputnya kelezatan dunia yang paling berharga dan akan diikuti oleh penyesalan pada Hari Pembalasan.
 
 
 
Penulis: Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc.
Sumber: [markazdakwah.or.id]

#pentingnyamengenalAllah #pentingnyakenalAllah #marifatullah #MalikbinDinar #nasihatulama #petuahulama

LARANGAN BERPUTUS ASA DARI RAHMAT ALLAH TAALA

 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
LARANGAN BERPUTUS ASA ATAS RAHMAT ALLAH TAALA
 
Bismillah. Washsholatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.
 
Sebagai seorang Muslim kita tentu memahami, bahwa berputus asa merupakan hal yang tercela dalam agama Islam yang mulia ini. Bahkan berputus asa dari rahmat Allah Ar Rahman merupakan salah satu tanda kebinasaan. Sebagaimana Allah subhanahu wa taala berfirman dalam Alquran, mengisahkan perkataan Nabi Yaqub ‘alaihissalam kepada putra-putranya:
 
يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ
 
Artinya: “Wahai anak-anakku, pergilah kalian dan carilah berita mengenai Yusuf dan saudaranya, dan janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidaklah ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang-orang kafir.” [QS. Yusuf: 87]
 
Putus asa dari rahmat Allah taala termasuk dosa besar. Allah taala berfirman:
 
قَالَ وَمَنْ يَقْنَطُ مِنْ رَحْمَةِ رَبِّهِ إِلَّا الضَّالُّونَ
 
“Ibrahim berkata : ’Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Rabbnya, kecuali orang-orang yang sesat.’”[QS. Al Hijr: 56]
 
Dan firman-Nya:
 
وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ
 
“Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.” [QS. Yusuf : 87]
 
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu memasukkan berputus asa dari rahmat Allah sebagai salah satu dosa besar yang letaknya di hati. Setelah membawakan ayat di atas sebagai dalil, beliau menambahkan dengan riwayat dari Abdullah ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma secara marfu’ (yang artinya), Nabi ﷺ ditanya: “’Apa sajakah yang termasuk dosa-dosa besar?’ Beliau ﷺ menjawab: ‘Mempersekutukan Allah, merasa aman dari makar Allah, dan berputus asa dari rahmat Allah.’” [l Kaba’ir. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Muhaqqiq: Isma’il Al Anshory. (e-book version via www.waqfeya.net)]
 
Maka berputus asa dari rahmat Allah dan merasa jauh dari rahmat-Nya merupakan dosa besar. Kewajiban seorang manusia adalah selalu berbaik sangka terhadap Rabb-nya:
  • Jika dia meminta kepada Allah, maka dia selalu berprasangka baik, bahwa Allah akan mengabulkan permintaannya.
  • Jika dia beribadah sesuai dengan syariat dia selalu optimis, bahwa amalannya akan diterima,dan
  • Jika dia ditimpa suatu kesusahan dia tetap berprasangka baik, bahwa Allah akan menghilangkan kesusahan tersebut.
Islam senantiasa mengajarkan optimisme dalam segala hal yang bermanfaat, baik bagi dunia maupun Akhirat bagi pemeluknya. Hal ini tercermin dalam sabda Nabi ﷺ:
 
احْرِصْ عَلَى مَايَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ
 
Artinya: “Bersemangatlah dalam apa yang bermanfaat bagimu. Mohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah merasa lemah.” [HR. Muslim]
 
Setelah kita mengetahui hal ini, maka JANGANLAH kita berputus asa ketika ditimpa sakit atau bencana. Apalagi jika kita mencari solusi yang sebenarnya polusi, seperti mendatangi dukun (untuk menyembuhkan penyakit), atau melakukan ritual-ritual kufur atau syirik lain!
 
Maka ketika DIRI KITA terjatuh kedalam maksiat, JANGANLAH KITA BERPUTUS ASA dari rahmat Allah. Bertobatlah kepada-Nya dengan BENAR, karena Allah ﷻ PASTI mengampuni orang-orang yang bertobat (namun apakah tobat yang kita lakukan sudah benar?!)
 
Di antara orang yang PUTUS ASA terhadap rahmat-Nya adalah ia merasa, bahwa dosa-dosa (yang sangat banyak, dan sangat besar). “Sepertinya” sulit baginya untuk mendapatkan pengampunan Allah. Ini keliru. Padahal Allah Maha Pengampun lagi Penerima Tobatnya orang-orang yang bertobat.
 
Demikian pula terhadap orang lain yang jatuh kepada maksiat. Janganlah menjadikannya putus asa dari rahmat Allah (meskipun kita pun tetap selalu mengingatkannya dari azab-Nya). Kita pun ingatkan dirinya (sebagaimana kita mengingatkan diri kita sendiri) tentang Hari Akhir, dsb. Yang semoga dengan hal itu, ia meninggalkan perbuatan jeleknya, dan bertobat kepada-Nya.
 
Janganlah kita sampai PUTUS ASA dari rahmat Allah kepadanya, dengan berkata: “Segala usaha sudah aku kerahkan. Sepertinya ia tidak mungkin untuk bertobat.” Ini adalah KEPUTUS-ASAAN. Jika BENAR bahwa kita mencintainya, maka kita akan berusaha dengan keras agar ia dapat bertobat, tidak gampang menyerah. Ini membuktikan KEPUTUSASAAN kita akan rahmat Allah terhadap dirinya.
 
Jangan pula kita SAMPAI berkata: “Temanku (–yang masih Muslim–) ini sepertinya AHLI NERAKA dan Allah tidak akan mengampuninya.”
 
Ini perkataan yang berbahaya.
Dari mana kita tahu, bahwa dia Ahli Neraka?
Dari mana kita tahu, bahwa Allah tidak mengampuninya?
Apakah kita mendapatkan WAHYU dari ALLAH yang mengabarkan demikian?!
Benar, PERBUATANnya tersebut diancam Neraka.
Benar, bahwa Allah akan mengazab orang YANG BERBUAT demikian.
Tapi apakah hal ini PASTI berlaku pada SETIAP ORANG?
Tidak demikian……
 
– Bisa jadi Allah memberikan hidayah kepada-Nya sebelum ia wafat, sehingga ia bertobat dan ia mati dalam keadaan SELURUH DOSANYA ALLAH AMPUNI. (inilah yang seharusnya senantiasa tertanam dalam diri kita terhadap saudara kita, sehingga kita terus berusaha mengingatkannya dan menasihatinya DAN TIDAK BERPUTUS ASA)
 
– KALAUPUN dia wafat dalam keadaan tidak bertobat, bukankah Allah berfirman:
 
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia MENGAMPUNI SEGALA DOSA SELAIN dari (syirik) itu, BAGI SIAPA YANG DIKEHENDAKI-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. [QS. An-Nisaa: 48]
 
>> Bukankah SECARA ZHAHIR dia mati tanpa membawa dosa kesyirikan?!
>> Bukankah BISA JADI, bahwa dia termasuk dalam ayat di atas “Bagi siapa yang dikehendaki-Nya”?!
>> Maka jangan sampai lisan kita berkata perkataan yang demikian ini tentang teman kita.
 
Ketahuilah, DAHULU ada dua orang dari Bani Israil. Yang satunya orang saleh dan yang satunya lagi suka maksiat. Si orang saleh ini senantiasa menasihati si tukang maksiat. Terus ia lakukan demikian, tapi ia tidak melihat adanya perubahan pada diri temannya yang suka maksiat ini. Kemudian dengan marah ia berkata: “Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu…”
Maka ketika di Hari Kiamat Allah mengumpulkan mereka berdua, dan berfirman:
 
مَنْ ذَا الَّذِى يَتَأَلَّى عَلَىَّ أَنْ لاَ أَغْفِرَ لِفُلاَنٍ فَإِنِّى قَدْ غَفَرْتُ لِفُلاَنٍ وَأَحْبَطْتُ عَمَلَكَ
“Siapakah yang bersumpah atas (nama)Ku agar Aku tidak mengampuni si Fulan ? Sesungguhnya Aku telah mengampuninya dan menghapus semua pahala amalmu.” [HR al-Bukhari]
 
Maka BERHATI-HATILAH.
  • Jangan sampai BANYAKNYA MAKSIAT YANG KITA PERBUAT juga menjadikan kita PUTUS ASA dari rahmat-Nya.
  • Jangan sampai pula RASA TAKUT kita terhadap azab-Nya menjadikan kita PUTUS ASA akan rahmat-Nya.
  • Jangan sampai pula RASA HARAP kita terhadap rahmat-Nya, menjadikan kita malah MERASA AMAN dari azab-Nya.
  • Akan tetapi, takutlah akan azab-Nya, dan jangan putus asa dari rahmat-Nya.
 
Allah taala berfirman:
 
فَإِن كَذَّبُوكَ فَقُل رَّبُّكُمْ ذُو رَحْمَةٍ وَاسِعَةٍ وَلَا يُرَدُّ بَأْسُهُ عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِينَ
 
Katakanlah: “Rabbmu mempunyai rahmat yang luas dan siksa-Nya tidak dapat ditolak dari kaum yang berdosa”. [QS. Al-An’aam: 147]
 
 
Sumber:
100 Pelajaran dari Kitab Aqidah al Wasithiyah, Syaikh Muhammad bin Saleh Al Utsaimin
 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: https://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

#laranganberputusasaatasrahmatAllah #dilarangberputusasaatasrahmatAllah #putusasadarirahmatAllah #janganputusasadarirahmatAllah #arti #makna #maksudnya #apamaksudnya