JUDI TERSELUBUNG (100 PENDAFTAR PERTAMA)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
Pertanyaan:
Sebagian orang menuduh kami (kami sebut “menuduh” karena mereka tidak menyertai dalilnya) dalam situsnya, telah mendukung PERJUDIAN TERSELUBUNG. Alasannya adalah karena dalam beberapa kegiatan, kami menyediakan fasilitas seperti CD kajian, makan siang, blocknote dan lain-lain, hanya bagi beberapa pendaftar pertama (misal: bagi 100 pendaftar pertama). Uang untuk membeli fasilitas tersebut adalah uang yang didapatkan panitia dari sponsor atau donator dan bukan uang dari pendaftaran peserta.
 
Pertanyaan kami, apakah tuduhan tersebut benar? Apakah ada dalil yang menunjukkan hal tersebut? Jika bisa, kami ingin meminta keterangan dari para ulama di sana tentang hal ini untuk bisa kami sebarluaskan.
 
Jawaban Ustadz:
Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat dan seluruh pengikutnya hingga Hari Kiamat, amiin.
 
Permasalahan yang antum tanyakan, yaitu memberikan hadiah kepada peserta daurah yang diadakan dengan cara:
1. Peserta membayar biaya pendaftaran.
2. Hadiah hanya diperuntukkan kepada beberapa orang saja, misal 100 pendaftar pertama, atau yang serupa.
3. Pemberian hadiah tersebut dengan diumumkan kepada masyarakat umum terlebih dahulu, yang tujuannya adalah guna menarik minat peserta.
 
Praktik-praktik seperti ini adalah salah satu bentuk perjudian, karena terdapat faktor untung-untungan. Dan peserta pun berlomba-lomba untuk masuk ke dalam kategori 100 pendaftar pertama, yang keinginan ini sudah barang tentu tidak dapat dicapai oleh setiap pendaftar. Prinsip untung-untungan seperti ini adalah prinsip dasar perjudian. Oleh karena itu para ulama tidak membolehkan praktik-praktik semacam ini.
 
Kalau memang panitia daurah hendak memberikan hadiah, maka tidak usah diumumkan, agar tidak menimbulkan keinginan untuk berlomba-lomba, sehingga terjadi faktor dasar dalam perjudian, yaitu untung-untungan. Akan tetapi cara yang benar ialah dengan cara memberikan hadiah yang bersifat spontan dan tanpa diumumkan terlebih dahulu. Dan hendaknya pemberian hadiah tidak senantiasa dilakukan dalam setiap daurah yang diadakan, akan tetapi kadang-kadang saja, guna menghindari sikap berlomba-lomba mengharapkan hadiah.
 
Wallahu a’lam bisshowab.
 
 
Demikianlah yang bisa saya sampaikan, dan sebelumnya pertanyaan ini sudah saya konsultasikan dengan Syaikh Sulaiman Ar Ruhaili, dosen di Fakultas As Syari’ah di Universitas Islam Madinah.
 
 
***
 
 
Penanya: LBI Al-Atsary
Dijawab oleh: Ustadz Muhammad Arifin Badri
#judi #perjudian #juditerselubung #kajianberhadiah #daurahberhadiah #100pendaftarpertama #untunguntungan

DI ANTARA KEUTAMAAN ORANG MISKIN

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
DI ANTARA KEUTAMAAN ORANG MISKIN
 
Dari Harits bin Wahb radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia berkata:
 
أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ الْجَنَّةِ كُلُّ ضَعِيفٍ مُتَضَعِّفٍ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لأَبَرَّهُ ، أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ
 
“Maukah ku beritahu pada kalian, siapakah Ahli Surga itu? Mereka itu adalah setiap orang yang lemah dan dianggap lemah oleh para manusia. Tetapi jika ia bersumpah atas nama Allah, pastilah Allah mengabulkan apa yang disumpahkannya. Maukah ku beritahu pada kalian, siapakah Ahli Neraka itu? Mereka itu adalah setiap orang yang keras, kikir, dan gemar mengumpulkan harta lagi sombong.” [HR. Bukhari no. 4918 dan Muslim no. 2853]
 
Orang yang lemah yang dimaksud adalah orang yang diremehkan orang lain karena keadaan yang lemah di dunia (alias: miskin). Ini cara baca mutadho’af dalam hadis. Bisa juga dibaca mutadho’if yang artinya orang yang rendah diri dan tawadhu. Al Qadhi menyatakan, bahwa yang dimaksud orang yang lemah adalah orang yang lembut hatinya dan tawadhu’. [Lihat Syarh Shahih Muslim, 17: 168]
 
Orang Miskin Mendahului Orang Kaya Masuk Surga
 
Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Orang beriman yang miskin akan masuk Surga sebelum orang-orang kaya, yaitu lebih dulu setengah hari, yang sama dengan 500 tahun.” [HR. Ibnu Majah no. 4122 dan Tirmidzi no. 2353. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadis ini Hasan]
 
Berkah dari Doa Orang Miskin
 
Dalam hadis disebutkan, bahwa Sa’ad menyangka, bahwa ia memiliki kelebihan dari sahabat lainnya karena melimpahnya dunia pada dirinya. Lantas Rasulullah ﷺ bersabda:
“Kalian hanyalah mendapat pertolongan dan rezeki dengan sebab adanya orang-orang lemah dari kalangan kalian.” [HR. Bukhari no. 2896]
 
Dalam lafal lain disebutkan, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah menolong umat ini dengan sebab orang-orang lemah mereka di antara mereka, yaitu dengan doa, shalat, dan keikhlasan mereka.” [HR. An Nasai no. 3178. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih]
 
Ibnu Baththol berkata:
“Ibadah orang-orang lemah dan doa mereka lebih ikhlas dan lebih terasa khusyu, karena mereka tidak punya ketergantungan hati pada dunia dan perhiasannya. Hati mereka pun jauh dari yang lain, kecuali dekat pada Allah saja. Amalan mereka bersih dan doa mereka pun mudah diijabahi (dikabulkan)”.
 
Al Muhallab berkata:
“Yang Nabi ﷺ maksudkan adalah dorongan bagi Sa’ad agar bersifat tawadhu’, tidak sombong, dan tidak usah menoleh pada harta yang ada pada Mukmin yang lain.” [Lihat Syarh Al Bukhari li Ibni Baththol, 9: 114]
 
 
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: https://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 
 
 
#orangberimanyangmiskinakanmasukSurgasebelumorangorangkaya #diantarakeutamaanorangmiskinlemah #diantarafadhilahorangmiskinlemah #keutamaan #fadhilah #orangorangmiskinlemah #doaberkahorangmiskin #doaorangmiskinAllahkabulkanijabah #doaorangmiskinmudahdiijabahidikabulkan #tawadhu #jangansombong #orangmiskindulanmasukSurga

TUJUH KAIDAH DALAM MENAGIH UTANG

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
TUJUH KAIDAH DALAM MENAGIH UTANG
Oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)
 
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
 
Islam tidak pernah menyia-nyiakan amal hamba. Sampaipun sekadar memberikan bantuan yang ringan bagi orang lain. Termasuk memberikan utang kepada orang lain, yang itu pasti dikembalikan. Padahal kita tahu, dalam memberikan utang untuk tempo pendek, tidak ada harta kita yang berkurang, selain karena pengaruh propaganda orang kafir, penurunan nilai mata uang (time value of money).
 
Namun umumnya orang yang memberi utang merasa cemas ketika uangnya yang berada di tangan orang lain. Dan Allah yang Maha Pemurah tidak menyia-nyiakan kebaikan hamba, sekalipun yang dia korbankan hanya perasaaan dan kecemasan karena menyerahkan uang kepada orang lain, Allah gantikan ini dengan pahala.
 
Dalam hadis dari Ibn Mas’ud, Nabi ﷺ bersabda:
 
كل قرض صدقة
 
“Setiap mengutangi orang lain adalah sedekah.” [HR. Thabrani dengan sanad Hasan, al-Baihaqi, dan dishahihkan al-Albani)
 
Kemudian dari Abu Umamah, Nabi ﷺ bersabda: “Ada seseorang yang masuk Surga kemudian dia melihat ada tulisan di pintunya:
 
الصدقة بعشر أمثالها والقرض بثمانية عشر
 
“Sedekah itu nilainya sepuluh kalinya dan utang nilainya 18 kali.” [HR. Thabrani, al-Baihaqi dan dishahihkan al-Albani dalam Shahih Targhib)
 
Juga dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
 
مَنْ أَقْرَضَ اللَّهَ مَرَّتَيْنِ، كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ أحدهما لو تصدق به
 
Siapa yang memberi utang dua kali karena Allah, maka dia mendapat pahala seperti sedekah dengannya sekali. [HR. Ibnu Hibban 5040 dan diHasankan Syuaib al-Arnauth]
 
Terlebih lagi ketika orang yang berutang mengalami kesulitan, kemudian dia memberikan penundaan pembayaran, Rasulullah ﷺ janjikan pahala yang besar. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
 
مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا أَوْ وَضَعَ لَهُ، أَظَلَّهُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لا ظِلَّ إِلا ظِلُّهُ
 
Barang siapa yang memberi waktu tunda pelunasan bagi orang yang kesusahan membayar utang atau membebaskannya, maka Allah akan menaunginya dalam naungan (Arsy)-Nya pada hari Kiamat, yang tidak ada naungan selain naungan (Arsy)-Nya. [HR. Ahmad, 2/359, Muslim 3006, dan Turmudzi 1306, dan dishahihkan al-Albani]
 
Beberapa Aturan dalam Menagih Utang
 
Islam memberikan aturan dalam masalah utang-piutang, agar orang yang memberikan utang (kreditur) tidak terjebak dalam kesalahan dan dosa besar, yang akan membuat amalnya sia-sia. Dosa itu adalah dosa riba dan kezaliman. Karena umumnya riba dan tindakan kezaliman terjadi dalam masalah utang piutang.
 
Pertama, Islam menyarankan agar dilakukan pencatatan dalam transaksi utang piutang, terlebih ketika tingkat kepercayaanya kurang sempurna. Semua ini dalam rangka menghendari sengketa di belakang. Allah berfirman:
 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ
 
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah [179] tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. [QS. al-Baqarah: 282]
 
Dalam tafsir as-Sa’di dinyatakan:
 
الأمر بكتابة جميع عقود المداينات إما وجوبا وإما استحبابا لشدة الحاجة إلى كتابتها، لأنها بدون الكتابة يدخلها من الغلط والنسيان والمنازعة والمشاجرة شر عظيم
 
Perintah untuk mencatat semua transaksi utang piutang bisa hukumnya wajib dan bisa hukumnya sunah, mengingat beratnya kebutuhan untuk mencatatnya. Karena jika tanpa dicatat, rentan tercampur dengan bahaya besar, kesalahan, lupa, sengketa dan pertikaian. [Tafsir as-Sa’di, hlm. 118]
 
Kedua, Allah memerintahkan kepada orang yang memberikan utang agar memberi penundaan waktu pembayaran, ketika orang yang berutang mengalami kesulitan pelunasan.
 
وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
 
Jika (orang yang berutang itu) dalam kesulitan, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. [QS. al-Baqarah: 280]
 
Al-Hafidz Ibnu Katsir mengatakan:
 
يأمر تعالى بالصبر على المعسر الذي لا يجد وفاء، فقال: { وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَة } لا كما كان أهل الجاهلية يقول أحدهم لمدينه إذا حل عليه الدين: إما أن تقضي وإما أن تربي ثم يندب إلى الوضع عنه، ويعد على ذلك الخير والثواب الجزيل
 
Allah perintahkan kepada orang yang memberi utang untuk bersabar terhadap orang yang kesulitan, yang tidak mampu melunasi utangnya. ”Jika (orang yang berutang itu) dalam kesulitan, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan..” tidak seperti tradisi jahiliyah. Mereka mengancam orang yang berutang kepadanya ketika jatuh tempo pelunasan telah habis, ’Kamu lunasi utang atau ada tambahan pembayaran (riba).’ Kemudian Allah menganjurkan untuk menggugurkan utangnya, dan Allah menjanjikan kebaikan dan pahala yang besar baginya. [Tafsir Ibnu Katsir, 1/717]
 
Rasulullah ﷺ menjanjikan baginya pahala sedekah selama masa penundaan. Beliau ﷺ bersabda:
 
مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا كَانَ لَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ صَدَقَةٌ، وَمَنْ أَنْظَرَهُ بَعْدَ حِلِّهِ كَانَ لَهُ مِثْلُهُ، فِي كُلِّ يَوْمٍ صَدَقَةٌ
 
Siapa yang memberi tunda orang yang kesulitan, maka dia mendapatkan pahala sedekah setiap harinya. Dan siapa yang memberi tunda kepadanya setelah jatuh tempo, maka dia mendapat pahala sedekah seperti utang yang diberikan setiap harinya. [HR. Ahmad 23046, Ibnu Majah 2418 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth]
 
Kaidah Ketiga, memberikan utang termasuk transaksi sosial. Amal saleh yang berpahala. Karena itu orang yang memberi utang dilarang mengambil keuntungan karena utang yang diberikan, apapun bentuknya, selama utang belum dilunasi.
 
Sahabat Fudhalah bin Ubaid radhiallahu ‘anhu mengatakan:
 
كل قرض جر منفعة فهو ربا
 
“Setiap piutang yang memberikan keuntungan, maka (keuntungan) itu adalah riba.”
 
Keuntungan yang dimaksud dalam riwayat di atas mencakup semua bentuk keuntungan, bahkan sampai bentuk keuntungan pelayanan. Dari Abdullah bin Sallam radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan:
 
إِذَا كَانَ لَكَ عَلَى رَجُلٍ حَقٌّ، فَأَهْدَى إِلَيْكَ حِمْلَ تِبْنٍ، أَوْ حِمْلَ شَعِيرٍ، أَوْ حِمْلَ قَتٍّ، فَلاَ تَأْخُذْهُ فَإِنَّهُ رِبًا
 
“Apabila kamu mengutangi orang lain, kemudian orang yang diutangi memberikan fasilitas kepadamu dengan membawakan jerami, gandum, atau pakan ternak, maka janganlah menerimanya, karena itu riba.” [HR. Bukhari 3814]
 
Kemudian diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu:
 
إذا أقرض أحدكم قرضا فأهدى له أو حمله على الدابة فلا يركبها ولا يقبله
 
“Apabila kalian mengutangkan sesuatu kepada orang lain, kemudian (orang yang berutang) memberi hadiah kepada yang mengutangi atau memberi layanan berupa naik kendaraannya (dengan gratis), janganlah menaikinya dan jangan menerimanya.” [HR. Ibnu Majah 2432]
 
Keempat, terkait nilai penurunan mata uang
 
Orang yang memberi utang hendaknya siap menerima resiko penurunan nilai mata uang. Karena ulama sepakat, orang yang memberi utang hanya berhak meminta pengembalian sebesar uang yang dia berikan, tanpa memperhatikan keadaan penurunan nilai mata uang.
 
Dalam Mursyid al-Hairan – kitab Mumalah Madzhab Hanafi – dinyatakan:
 
وإن استقرض شيئا من المكيلات والموزونات والمسكوكات من الذهب والفضة فرخصت أسعارها أو غلت فعليه رد مثلها ولا عبرة برخصها أو غلائها
 
Apabila orang berutang sesuatu berupa barang yang ditakar atau ditimbang atau emas perak yang dicetak, kemudian harganya mengalami penurunan atau kenaikan, maka dia wajib mengembalikan utangnya sama seperti yang dia pinjam, tanpa memperhitungkan penurunan maupun kenaikan harga. (Mursyid al-Hairan ila Ma’rifah Ahwalil Insan fil Muamalat ’ala Madzhabi Abu hanifah an-Nu’man, keterangan no. 805).
 
Ibnu Abidin mengatakan semisal:
 
إنه لا يلزم لمن وجب له نوعٌ منها سواه بالإجماع
 
Tidak ada kewajiban bagi orang yang memiliki utang selain yang sama dengannya, dengan sepakat ulama. [Tanbih ar-Ruqud ’ala Masail an-Nuqud, hlm. 64]
 
Demikian keterangan dalam Madzhab Hanafi. Keteranga yang sama juga disampaikan dalam Madzhab Syafiiyah.
 
As-Syairazi mengatakan:
 
ويجب على المستقرِض ردُّ المثل فيما له مثل؛ لأن مقتضى القرض: رد المثل
 
Wajib bagi orang yang berutang untuk mengembalikan yang semisal, untuk harta yang ada padanannya. Karena konsekuensi utang adalah mengembalikan dengan yang semisal. [Al-Muhadzab, 2/81]
 
Kemudian keterangan dalam Madzhab Hambali, kita simpulkan dari penjelasan Ibnu Qudamah:
 
الْمُسْتَقْرِضَ يَرُدُّ الْمِثْلَ فِي الْمِثْلِيَّاتِ، سَوَاءٌ رَخُصَ سِعْرُهُ أَوْ غَلَا، أَوْ كَانَ بِحَالِهِ
 
Orang yang berutang wajib mengembalikan yang semisal, untuk barang yang memiliki padanan. Baik harganya turun maupun naik atau sesuai keadaan awal. [Al-Mughni, 4/244]
 
Di tempat lain beliau mengatakan, bahwa itu sepakat ulama:
 
ويجب رد المثل في المكيل والموزون. لا نعلم فيه خلافا. قال ابن المنذر: أجمع كل من نحفظ عنه من أهل العلم، على أن من أسلف سلفا، مما يجوز أن يسلف، فرد عليه مثله، أن ذلك جائز وأن للمسلف أخذ ذلك
 
Wajib mengembalikan yang semisal untuk barang yang ditakar maupun ditimbang. Kami tidak mengetahui adanya perselisihan dalam masalah ini.
 
Ibnul Mundzir mengatakan:
”Semua ulama yang kami ketahui, mereka sepakat, bahwa orang yang berutang sesuatu yang halal, kemudian dia menembalikan dengan semisal, maka hukumnya boleh dan bagi pemberi utang, bisa menerimanya.” [Al-Mughni, 4/239]
 
Kelima, apabila uang yang dulu tidak berlaku
Utang dengan uang masa silam, kemudian masyarakat tidak lagi memberlakukannya, dengan apapun sebabnya, maka yang wajib dilakukan adalah mengembalikan dengan mata uang yang senilai dengan mata uang yang tidak berlaku itu atau dengan emas atau perak. Karena untuk mengembalikan yang semisal [Al-Mitsl) tidak memungkinkan, sehingga dikembalikan dalam bentuk nilai [Al-Qimah).
 
Ibnu Qudamah mengatakan:
 
وَإِنْ كَانَ الْقَرْضُ فُلُوسًا أو مكسرة فَحَرَّمَهَا السُّلْطَانُ، وَتُرِكَتْ الْمُعَامَلَةُ بِهَا، كَانَ لِلْمُقْرِضِ قِيمَتُهَا، وَلَمْ يَلْزَمْهُ قَبُولُهَا، سَوَاءٌ كَانَتْ قَائِمَةً فِي يَدِهِ أَوْ اسْتَهْلَكَهَا ؛ لِأَنَّهَا تَعَيَّبَتْ فِي مِلْكِهِ
 
Apabila utang dalam bentuk uang kertas atau uang logam, kemudian pemerintah menariknya, dan tidak lagi menggunakan jenis uang ini, maka orang mengutangi berhak mendapat uang yang senilai. Dan dia tidak harus menerima uang kuno itu, baik uang yang diutangkan itu masih ada di tangan maupun sudah rusak, karena tidak memungkinkan untuk memilikinya. [Al-Mughni, 4/244]
 
Kemudian beliau menegaskan:
 
يقومها كم تساوي يوم أخذها؟ ثم يعطيه، وسواء نقصت قيمتها قليلا أو كثيرا
 
Dia tentukan berapa nilai uang ketika dia mengambilnya, kemudian dia berikan uang itu, baik nilainya turun sedikit maupun banyak. [Al-Mughni, 4/244]
 
Sebagai ilustrasi, tahun 1991 si A memberi utang 50 ribu bergambar Presiden Orba. Di tahun 2011 si B melunasi dengan uang 50 ribu bergambar I Gusti Ngurah Rai, karena uang kuno tidak berlaku. Meskipun nilai 50 ribu dari tahun 1991 hingga 2011 mengalami penurunan yang sangat tajam.
 
Keenam, pembayaran utang dalam bentuk yang lain
 
Dibolehkan menerima pembayaran utang dalam bentuk yang lain, misalnya utang uang dibayar emas, atau utang rupiah dibayar dollar, atau semacamnya dengan syarat:
 
1. Kesepakatan beda jenis pembayaran ini tidak dilakukan pada saat utang, namun baru disepakati pada saat pelunasan.
2. Menggunakan standar harga waktu pelunasan, dan bukan harga waktu utang.
(Fatwa Dar al-Ifta’ Yordan: http://aliftaa.jo/Question.aspx?QuestionId=2032#.VAfLYdeSz6d)
 
Keterangan di atas berdasarkan keputusan Majma’ al-Fiqhi al-Islami no. 75 (6/7), yang menyatakan:
 
يجوز أن يتفق الدائن والمدين يوم السداد – لا قبله – على أداء الدين بعملة مغايرة لعملة الدين، إذا كان ذلك بسعر صرفها يوم السداد
 
Boleh dilakukan kesepakatan antara kreditur dan debitur pada waktu pelunasan – bukan pada waktu sebelumnya – untuk pelunasan utang dengan mata uang yang berbeda dengan mata uang ketika utang, jika standar harga sesuai harga tukar uang itu, waktu pelunasan.
 
Dalil bolehnya hal ini adalah hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa beliau menjual unta di Baqi’ dengan Dinar, dan mengambil pembayarannya dengan Dirham. Kemudian beliau mengatakan:
 
أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ: إِنِّي أَبِيعُ الْإِبِلَ بِالْبَقِيعِ بِالدَّنَانِيرِ وَآخُذُ الدَّرَاهِمَ، قَالَ: «لَا بَأْسَ أَنْ تَأْخُذَ بِسِعْرِ يَوْمِهَا مَا لَمْ تَفْتَرِقَا، وَبَيْنَكُمَا شَيْءٌ»
 
Aku mendatangi Nabi ﷺ dan kusampaikan: ”Saya menjual unta di Baqi’ dengan Dinar secara kredit dan aku menerima pembayarannya dengan Dirham. Beliau ﷺ bersabda:
”Tidak masalah kamu mengambil dengan harga hari pembayaran, selama kalian tidak berpisah, sementara masih ada urusan jual beli yang belum selesai.” [HR. Ahmad 5555, Nasai 4582, Abu Daud 3354, dan yang lainnya]
 
Sebagai ilustrasi:
 
Misal, tahun 1991 harga emas 25 ribu/gr. Tahun 2014 harga emas 400 ribu/gr. Tahun 91, uang Rp 1 juta mendapat 40 gr emas, tahun 2014, hanya mendapat 2,5 gr.
 
Tahun 1991 si A utang 1 juta ke si B. Selanjutnya mereka berpisah lama. Tahun 2014, mereka ketemu dan si B meminta utang si A dilunasi dengan emas. Ada beberapa kasus di sini:
 
a) Si B menuntut agar utang si A dibayar dengan 40 gr emas
b) Si B menuntut agar utang si A dibayar dengan uang senilai 40 gr emas, sekitar 16 juta.
c) Si B menuntut agar utang si A dibayar dengan 2,5 gr emas
d) Si B menuntut agar utang si A dibayar dengan uang senilai 2,5 gr emas, sehingga nilainya tetap 1 juta.
Dari keempat kasus di atas, untuk kasus poin a dan poin b statusnya terlarang, karena termasuk riba dalam utang piutang. Dan ini tidak memenuhi syarat kedua seperti yang disebutkan dalam fatwa di atas, meskipun tahun 1991, mereka tidak pernah melakukan kesepakatan ini.
 
Sementara kasus poin c dan poin d ini yang benar, memenuhi kedua syarat yang disebutkan dalam fatwa di atas.
 
Secara sederhana, si B mengalami kerugian. Karena nilai 1 juta dulu dan sekarang, jauh berbeda. Namun sekali lagi, ini konsekuensi utang piutang. Pemberi utang mendapatkan pahala karena membantu orang lain, di sisi lain, dia harus siap dengan konsekuensi penurunan nilai mata uang.
 
Ketujuh, kelebihan dalam pelunasan utang
 
Dibolehkan adanya kelebihan dalam pelunasan utang dengan syarat:
 
1. Tidak ada kesepakatan di awal
2. Dilakukan murni atas inisiatif orang yang berutang
3. Bukan tradisi masyarakat setempat
 
Dalilnya hadis dari Abu Rafi’ radhiallahu ‘anhu, beliau menceritakan:
 
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم اسْتَسْلَفَ من رَجُلٍ بَكْرًا، فَقَدِمَتْ عليه إِبِلٌ من إِبِلِ الصَّدَقَةِ، فَأَمَرَ أَبَا رَافِعٍ أَنْ يَقْضِيَ الرَّجُلَ بَكْرَهُ، فَرَجَعَ إليه أبو رَافِعٍ، فقال: لم أَجِدْ فيها إلا خِيَارًا رَبَاعِيًا، فقال: أَعْطِهِ إِيَّاهُ إِنَّ خِيَارَ الناس أَحْسَنُهُمْ قَضَاءً
 
Pada suatu saat Rasulullah ﷺ berutang seekor anak unta dari seseorang. Lalu datanglah kepada Nabi ﷺ unta-unta zakat. Maka beliau ﷺ memerintahkan Abu Raafi’ untuk mengganti anak unta yang beliau utang dari orang tersebut. Tak selang beberapa saat, Abu Raafi’ kembali menemui beliau dan berkata: “Aku hanya mendapatkan unta yang telah genap berumur enam tahun.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya: “Berikanlah unta itu kepadanya, karena sebaik-baik manusia adalah orang yang paling baik pada saat melunasi piutangnya.” (Muttafaqun ‘alaih)
 
Akan tetapi jika keberadaan tambahan ini diberikan karena ada kesepakatan di awal, atau permintaan pihak yang mengutangi (kreditor), atau karena masyarakat setempat memiliki kebiasaan, bahwa setiap utang harus bayar lebih, maka tambahan semacam ini terhitung riba.
 
Demikian beberapa kaidah terkait penagihan utang. Semoga Allah menjadikan kita Muslim yang selalu menyesuaikan diri dengan aturan syariat.
 
 
 
Sumber:
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: https://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#caramenagihutangmenurutIslam #menagihutangdalamIslam #hukummenagihutangdalamIslam #hukummenagihutang #caramenagihutangdalamIslam #hukum #menagih #utang #hutang #menurutIslam #cara #yangsusah #bayar #secara #adabberutang #adab berhutang #utangpiutang #ngutang #caranagihutang #caranagihhutang

KEWAJIBAN MENJELASKAN KEBENARAN DAN KEBATILAN BESERTA DALILNYA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

KEWAJIBAN MENJELASKAN KEBENARAN DAN KEBATILAN BESERTA DALILNYA

 

Syaikh Shālih Al Fauzān hafizhahullah berkata:

“Wajib bagi para ulama’ dan penuntut ilmu untuk menjelaskan kebenaran dan kebatilan kepada manusia. Hendaknya menjelaskan kebenaran beserta dalilnya, dan menjelaskan kebatilan dengan berbagai coraknya beserta dalilnya, supaya manusia bisa mengambil kebenaran dan meninggalkan kebatilan berdasarkan ilmu. Jika tidak demikian, yaitu tidak menjelaskan kebenaran dan kebatilan, maka manusia akan bingung. Mereka menyangka kebenaran sebagai kebatilan, dan kebatilan sebagai kebenaran.” [I’anatul Mustafid, (1/491)]

 

Sumber: @muslimssay

 

 

#kewajibanmenjelaskankebenarandankebatilanbesertadalilnya #wajibjelaskankebenarandankebatilanbesertadalilnya #alhaq #batil #kebenaran #kebatilan #bathil #mengambilkebenaranmeninggalkankebatilandenganilmu #ilmu #penuntutilmu #menuntutilmu #tholabulilmi #thalabulilmi #menjelaskandengandalil

PILAR-PILAR KEHIDUPAN SEORANG MUKMIN

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
PILAR-PILAR KEHIDUPAN SEORANG MUKMIN
 
Rasulullah ﷺ bersabda:
 
اَلْمُؤْمِنُ اَلْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اَللَّهِ مِنْ اَلْمُؤْمِنِ اَلضَّعِيفِ, وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ, اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ, وَاسْتَعِنْ بِاَللَّهِ, وَلَا تَعْجَزْ, وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَكَذَا, وَلَكِنْ قُلْ: قَدَّرَ اَللَّهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ; فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ اَلشَّيْطَانِ
 
“Mukmin yang kuat imannya lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada Mukmin yang lemah imannya, namun pada keduanya terdapat kebaikan. Bersemangatlah dalam meraih apa yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah kepada Allah, dan janganlah kamu lemah. Dan apabila kamu ditimpa suatu musibah, maka janganlah kamu katakan: “Andaikan aku melakukan yang ini, tentunya yang akan terjadi ini dan itu” tetapi katakanlah:
 
قَدَّرَ اَللَّهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ
 
“Qoddarollaahu wa maa syaa-a fa’ala” (bisa juga dibaca: Qodarullaahi wa maa syaa-a fa’ala)
 
“Allah telah menakdirkan. Dan apa yang Dia kehendaki, maka Dia melakukannya.” Karena sesungguhnya ucapan “Andaikan” membuka amalan setan.” [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]
 
Dalam hadis yang mulia ini terdapat pilar-pilar penting yang menopang kehidupan seorang Mukmin, untuk meraih kebahagiaan di dunia dan Akhirat, yaitu:
 
1) Kekuatan iman. Inilah kekuatan yang dimaksudkan dalam hadis ini, bukan kekuatan fisik belaka.
 
2) Bersemangat dalam meraih sesuatu yang bermanfaat. Ini mencakup manfaat untuk kehidupan dunia, terlebih lagi untuk kehidupan yang kekal di Akhirat.
 
3) Meninggalkan yang tidak bermanfaat, apalagi yang membahayakan di dunia dan Akhirat.
 
4) Senantiasa meminta pertolongan kepada Allah taala dan berharap serta bergantung hanya kepada-Nya.
 
5) Tidak takjub dan tidak sombong dengan kemampuan diri.
 
6) Tidak merasa lemah, selalu optimis dan bersemangat.
 
7) Apabila yang ditakdirkan tidak sesuai harapan dan cita-cita, maka terimalah takdir tersebut dengan lapang dada, seraya tetap bergantung kepada Allah taala untuk meraih yang lebih baik di masa yang akan datang.
 
8) Apabila telah terjadi musibah tidak lagi berandai-andai ke belakang, karena itu tanda kelemahan.
 
9) Beriman dengan takdir Allah taala dan berserah diri kepada-Nya, serta beradab dalam ucapan terhadap takdir-Nya.
 
10) Tidak membuka pintu bagi setan dan tidak menuruti godaan dan tipu dayanya.
 
 
 
 
Penulis: Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: https://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 
 
 
#pilarpilarkehidupanseorangmukminِ #imankuat #imanlemah #tinggalkanyangtidakbermanfaat #ujub #sombong #riya #dasardasarkehidupanmukmin

SIKAP PERTENGAHAN, MENDEKATI BENAR

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

SIKAP PERTENGAHAN, MENDEKATI BENAR

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
 
Allah berfirman:
 
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ
 
Demikianlah Kami telah jadikan kamu (umat Islam), umat yang adil, umat pilihan, agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia [QS. al-Baqarah: 143]
Allah jadikan umat Islam sebagai umat pertengahan. Karena pertengahan, dia menjadi umat paling adil dan umat pilihan. Tidak ekstrim kanan dan tidak ekstrim kiri. Karena pertengahan, mereka bisa menilai kesalahan umat-umat lainnya yang ekstrim. Karena pertengahan, mereka menjadi saksi bagi seluruh umat manusia.
 
Dalam Masalah Ilmu dan Amal
  • Orang Yahudi menyimpang karena memahami ilmu, tapi tidak mau mengamalkan.
  • Orang Nasrani menyimpang karena semangat beramal, tapi tanpa landasan ilmu.
  • Umat Islam pertengahan, mereka belajar ilmu (Alquran dan Hadis) dan berusaha mengamalkannya.
 
Dalam Masalah Bermuamalah dengan Para Nabi
  • Orang Yahudi bersikap ekstrim dengan merendahkan para nabi, hingga mereka menuduh para nabi dengan kekejian.
  • Orang Nasrani ekstrim dalam mengagungkan para nabi, hingga memosisikan mereka layaknya Tuhan.
  • Orang Islam bersikap pertengahan. Mereka mengagungkan dan menghormati para nabi sebagai utusan Allah, namun mereka tidak mengultuskan hingga memosisikannya layaknya Tuhan. Para nabi adalah hamba yang tidak memiliki sifat ketuhanan, dan mereka utusan Allah yang wajib ditaati secara mutlak.
 
Dalam Masalah Mengimani Takdir
  • Kelompok Qadariyah bersikap ekstrim dengan menolak takdir. Perbuatan manusia di luar takdir Allah.
  • Kebalikannya kelompok Jabariyah, mereka menganggap manusia sama sekali tidak punya kehendak, layaknya wayang yang dikendalikan dalang. Sehingga apapun yang mereka lakukan tidak akan dihisab. Takdir menjadi alasan untuk bermaksiat.
  • Ahlus Sunnah pertengahan. Mereka meyakini manusia punya kehendak, dan perbuatannya akan dihisab. Namun kehendak manusia di bawah kehendak Allah.
 
Dalam Masalah Kehormatan Ali
  • Orang Khawarij menganggap Ali bin Abi Thalib dan para pengikutnya kafir.
  • Orang Syiah mengultuskan Ali layaknya nabi atau lebih tinggi dari nabi. Meyakini bahwa beliau maksum.
  • Ahlus Sunnah pertengahan. Ali adalah sahabat mulia yang dijamin masuk Surga. Namun beliau bukan nabi dan tidak maksum.
Dalam Berinteraksi dengan Orang Saleh
  • Kaum Liberal merendahkan orang saleh dan tidak menghormati mereka.
  • Orang Sufi mengaggungkan orang saleh dan mengambil berkah dengan ludahnya.
  • Ahlus Sunnah menghormati orang saleh dan tidak mengultuskannya. Mereka menghormati sesuai batasan syariat, dengan mengikuti pendapatnya yang sesuai kebenaran.
 
Dalam Interaksi dengan Pemerintah
  • Satu kelompok bersikap ekstrim, hingga menganggap Thaghut semua jajaran pemerintah.
  • Satu kelompok justru serakah dan berusaha merebutnya dengan segala cara.
  • Ahlus Sunnah pertengahan. Mereka tidak mengafirkan pemerintah tanpa bukti yang jelas, menghormati keputusan pemerintah yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam, namun mereka bukan orang yang serakah dengan jabatan.
 
Dalam berinteraksi dengan Nabi ﷺ
  • Orang Liberal menghina dan mencela Nabi ﷺ. Hingga ada yang meragukan kejujuran beliau ﷺ sebagai seorang nabi.
  • Orang Sufi mengagungkan beliau ﷺ hingga membuat pujian untuk beliau layaknya Tuhan, atas nama shalawat.
  • Ahlus Sunnah mengagungkan dan menjunjung tinggi beliau ﷺ, dan berusaha mengikuti semua sunah beliau ﷺ. Namun mereka tidak mengultuskan beliau dengan pujian yang berlebihan.
 
Hindari sikap ekstrim dalam segala urusan. Sikap ekstrim akan menghalangi manusia untuk bersikap adil.
 
 
Allahu a’lam
 
 
#SikapPertengahan #MendekatiBenar #alhaq #kebenaran #agamapertengahan #adil #tidakberlebihan #tengah, #ekstrimkirim, #ekstrimkanan, #Sufi, #Yahudi, #Khawarij, #Khowarij, #Jabariyah, #Qadariyah, #imankepadatakdir #Sufi, #ahlussunnah #Nasrani #AhlusSunnahpertengahan #umatpilihan #umatMuhammad

KAJIAN ANAK “AKU TIDAK MAU MASUK NERAKA” 30 DESEMBER 2017

INFO KAJIAN ANAK USIA SD SABTU PEKAN KELIMA
@MASJID NURUL IMAN, BLOK M SQUARE, JAKARTA
 
 
بسم الله
اسلام عليكم ورحمة الله وبر كاته
 
 
Adik-adik di Hari Libur, Kajian Yuuuk
Pekan ini bersama
KANG ODJA (Rodja Ceria)
 
ان شا ء الله
 
Hari: SABTU / 30 Desember 2017
 
Waktu: 09.00 – 10.30 WIB
 
Tempat: Masjid Nurul Iman
Lantai 7 Blok M Square
Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
 
Tema:  “AKU TIDAK MAU MASUK NERAKA”
• Tausiyah
• Games
 
Contact Persons: 0811 100 147
 
 Notes Tata Tertib
 
1. Hadir di awal waktu.
 
2. Peserta wanita tidak diperkenankan memakai pakaian yang memperlihatkan aurat dan wajib menggunakan kerudung sesuai syariat Islam.
Bagi peserta pria tidak diperkenankan memakai celana pendek / berbahan jeans.
 
3. Bagi yang ingin INFAQ HADIAH dapat di serahkan ke panitia Kajian Anak di meja registrasi (hadiah games dengan harga yang biasa saja).
 
5. Peserta Usia SD
Membawa Alat Tulis ( Buku dan pinsil/ pulpen)
Dan mencatat
 
6. Peserta wajib menjaga kebersihan.
 
7. Peserta tidak di perkenankan membawa/ mengunakan /memainkan alat elektronik (handphone, PC tablet, MP3 player dsb) selama kegiatan kajian berlangsung.
 
8. Orang tua/ wali yang mengantar diwajibkan mengunakan pakaian sesuai syariat Islam.
 
9. Orang tua / wali yang datang dengan peserta kajian diperkenankan menemani di dalam masjid di area terpisah dan membantu menjaga kenyamanan dan kelancaran selama kegiatan kajian berlangsung hingga selesai.
 
10. Orang tua/ wali tidak diperkenankan masuk ke area ikhwan / akhwat, begitu pula anak-anak.
 
11. Ummi yang membawa anak laki-laki di tempat akhwat nanti panitia akan mengantarkan ke area ikhwan. Begitu pula abi yang membawa anak perempuannya, panitia akan mengantarkan ke area akhwat
 
12. Menjauhi ikhtilaf.
 
13. Menjaga anak-anak
 
 
KAJIAN ANAK INI TIDAK PERLU DAFTAR
GRATIIIIIIIIIISSS TIDAK DIPUNGUT BIAYA
 
 
Jazakumullahu khairan
BQC ( BAITUL QUR’AN CINERE) 

JANGAN TAKUT BERHIJRAH, TINGGALKAN MAKSIAT KARENA ALLAH ‘AZZA WA JALLA!

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
JANGAN TAKUT BERHIJRAH, TINGGALKAN MAKSIAT KARENA ALLAH ‘AZZA WA JALLA!
 
Rasulullah ﷺ bersabda:
 
إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا للهِ إلاَّ أَبْدَلَكَ اللهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ
 
“Sesungguhnya engkau tidaklah meninggalkan sesuatu karena Allah, kecuali Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik untukmu.” [HR. Ahmad no. 21996 dari Abu Qotadah dan Abud Dahmaa radhiyallahu’anhuma]
 
Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:
 
إنَّما يجد المشقَّةَ في ترك المألوفات والعوائد من تركها لغير الله، أمَّا من تركها صادقًا مُخلِصًا مِن قلبه لله فإنه لا يجد في تركها مشقَّةً إلاَّ في أَوَّل وهلة، لِيُمتحَن أصادقٌ هو في تركها أم هو كاذب؟ فإن صبر على تلك المشقَّة قليلاً استحالت لذَّة. قال ابن سيرين: سمعت شريحًا يحلف بالله ما ترك عبد لله شيئًا فوجد فقده
 
“Orang yang merasa berat meninggalkan sesuatu yang sudah terbiasa dan sering ia lakukan hanyalah karena ia meninggalkannya bukan karena Allah. Adapun orang yang meninggalkannya dengan jujur dan ikhlas karena Allah, maka ia tidak merasa berat, kecuali di awalnya saja, sebagai ujian baginya apakah ia jujur dalam hijrahnya ataukah dusta? Jika ia bersabar sedikit menghadapi kesulitan dalam berhijrah, maka kesulitan itu akan berubah menjadi kelezatan.
 
Ibnu Sirin rahimahullah berkata:
Aku pernah mendengar Syuraih bersumpah dengan nama Allah, bahwa tidak mungkin seorang hamba meninggalkan sesuatu karena Allah, lalu ia tidak mendapat gantinya yang lebih baik.” [Al-Fawaaid, 1/107]
 
 
 
Penulis: Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray حفظه الله تعالى
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: https://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#jangantakutberhijrah, #jangantakuthijrah, #hijrah, #karenaAllah, #hijrahkarenaAllah, #hijrohmeninggalkansesuatukarenaAllah, #mendapatgantinyayanglebihbaik

HUKUM MENIKAHI WANITA HAMIL DI LUAR NIKAH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

HUKUM MENIKAHI WANITA HAMIL DI LUAR NIKAH

Wanita yang hamil karena perbuatan zina TIDAK BOLEH DINIKAHKAN, baik dengan laki-laki yang menghamilinya, ataupun dengan laki-laki lain, kecuali bila memenuhi dua syarat:
• Mereka berdua bertobat dan
• Harus beristibra’ (menunggu kosongnya rahim/melahirkan). Atau dengan menunggu satu kali haidl bila si wanita tidak hamil.
 
“Apakah mereka mempunyai Sembahan-Sembahan (sekutu) selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” [QS : As-syuura : 21]
 
Di dalam ayat ini Allah ﷻ menyatakan orang-orang yang membuat syariat bagi hamba-hamba-Nya sebagai sekutu. Berarti orang yang menghalalkan nikah dengan wanita pezina sebelum bertobat adalah orang musyrik. Namun bila sudah bertobat, maka halal menikahinya, bila syarat yang kedua terpenuhi. [Syaikh Al-Utsaimin di dalam Fatawa Islamiyyah 3/246]
 
Mungkin sebagian orang mengatakan, anak yang dirahim itu terbentuk dari air mani si laki-laki yang menzinahinya dan hendak menikahinya. Maka jawabnya ialah sebagaimana dikatakan Al-Imam Muhammad Ibnu Ibrahim Al Asyaikh rahimahullah:
“TIDAK BOLEH MENIKAHINYA, hingga dia bertobat dan selesai dari ‘iddahnya dengan melahirkan kandungannya. Karena perbedaan dua air (mani), najis dan suci, baik dan buruk, dan karena bedanya status menggauli dari sisi halal dan haram.” [HR. Abu Dawud]
 
Bila ternyata si wanita dalam keadaan hamil, maka TIDAK BOLEH melangsungkan akad nikah dengannya, kecuali setelah melahirkan kandungannya. Sebagai pengamalan hadis Nabi ﷺ yang melarang seseorang menuangkan air (maninya) di persemaian orang lain.” [Majallah Al-Buhuts Al-Islamiyyah 9/72]. Nabi ﷺ bersabda
“Tidak halal bagi orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, dia menuangkan air (maninya) pada semaian orang lain. [Abu Dawud, lihat, Artinya: ‘alimus Sunan 3/75-76]
 
Jika seseorang tetap menikahkan putrinya yang telah berzina tanpa beristibra’ terlebih dahulu dengan satu kali haidl atau sedang hamil tanpa menunggu melahirkan terlebih dahulu, sedangkan dirinya mengetahui bahwa pernikahan seperti itu tidak diperboleh, dan si laki-laki serta si wanita juga mengetahui bahwa hal itu diharamkan sehingga pernikahannya tidak diperbolehkan, maka PERNIKAHANNYA ITU TIDAK SAH. Apabila keduanya melakukan hubungan badan, maka itu termasuk zina, dan harus bertobat, kemudian pernikahannya harus diulangi bila telah selesai istibra.
 
Ulama-ulama yang tergabung dalam Al-Lajnah Ad-Daimah mengatakan:
“Dan bila dia (laki-laki yang menzinahinya setelah dia tobat) ingin menikahinya, maka dia wajib menunggu wanita itu beristibra’ dengan satu kali haidl sebelum melangsungkan akad nikah. Dan bila ternyata dia hamil, maka tidak boleh melangsungkan akad nikah dengannya, kecuali setelah dia melahirkan kandungannya, berdasarkan hadis Nabi ﷺ yang melarang seseorang menuangkan air (maninya) di persemaian orang lain.” [Majallah Al Buhuts Al Islamiyyah 9/72]
 
Bila seseorang nekad menikahkan putrinya yang telah berzina tanpa beristibra’ terlebih dahulu, sedangkan dia tahu bahwa pernikahan itu tidak boleh, dan si laki-laki serta si wanita juga mengetahui bahwa itu adalah haram, maka pernikahannya itu TIDAK SAH. Bila keduanya melakukan hubungan badan, maka itu adalah zina. Dia harus tobat dan pernikahannya harus diulangi, bila telah selesai istibra’ dengan satu kali haid dari hubungan badan yang terakhir, atau setelah melahirkan.
 
Semua madzhab yang empat (Madzhab Hanafi, Malikiy, Syafi’i dan Hambali) telah sepakat, bahwa anak hasil zina itu tidak memiliki nasab dari pihak laki-laki, dalam arti dia itu TIDAK MEMILIKI BAPAK, meskipun si laki-laki yang menzinahinya dan yang menaburkan benih itu mengaku bahwa dia itu anaknya. Pengakuan ini TIDAK DIANGGAP, karena anak tersebut hasil hubungan DI LUAR NIKAH. Di dalam hal ini, sama saja baik si wanita yang dizinai itu bersuami atau pun tidak bersuami.[ Al Mabsuth 17/154, Asy Syarhul Kabir 3/412, Al Kharsyi 6/101, Al Qawanin hal : 338, dan Ar Raudlah 6/44. dikutip dari Taisiril Fiqh 2/828]. Jadi anak itu TIDAK BERBAPAK. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ, yang artinya: “Anak itu bagi (pemilik) firasy dan bagi laki-laki pezina adalah batu (kerugian dan penyesalan).” [Al-Bukhari dan Muslim]
 
Firasy adalah tempat tidur, dan di sini maksudnya adalah si istri yang pernah digauli suaminya atau budak wanita yang telah digauli tuannya. Keduanya dinamakan firasy karena si suami atau si tuan menggaulinya atau tidur bersamanya.
 
Oleh karena anak hasil zina itu tidak dinasabkan kepada laki-laki yang berzina maka:
• Anak itu tidak berbapak.
• Anak itu tidak saling mewarisi dengan laki-laki itu.
• Bila anak itu perempuan dan di kala dewasa ingin menikah, maka walinya adalah wali hakim, karena dia itu tidak memiliki wali. Rasulullah ﷺ bersabda, yang artinya “Maka sulthan (pihak yang berwenang) adalah wali bagi orang yang tidak memiliki wali.” [Hadis hasan Riwayat Asy Syafi’iy, Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah]
 
Sumber:
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: https://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#istibra, #beristibra, #istibro, #farasy, #kasur, #tempat tidur, #anakzina, #hukum, #nisbatkan, #dinisbatkan #wanita, #perempuan, #muslimah. #hamildiluarnikah, #kawin, #nikah, #pernikahan, #perkawinan, #walinikah, #statushukum, #statushukumanakzina #tekdung #perzinahan

HUKUM POLIGAMI DALAM ISLAM

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
HUKUM POLIGAMI DALAM ISLAM
 
Hukum asal poligami dalam Islam berkisar antara Ibaahah (mubah/boleh dilakukan dan boleh tidak) atau Istihbaab (dianjurkan) [Lihat kitab “Ahkaamut Ta’addud Fi Dhau-Il Kitaabi Was Sunnah” (hal. 18)].
 
Adapun makna perintah dalam firman Allah taala:
{وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ}
 
“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat” [QS an-Nisaa’:3]
 
Perintah Allah dalam ayat ini TIDAK menunjukkan wajibnya poligami, karena perintah tersebut dipalingkan dengan kelanjutan ayat ini, yaitu firman-Nya:
 
{فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا}
 
“Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya” [QS an-Nisaa’:3]
 
Maka dengan kelanjutan ayat ini jelaslah, bahwa ayat di atas meskipun berbentuk perintah, akan tetapi maknanya adalah larangan, yaitu larangan menikahi lebih dari satu wanita, jika dikhawatirkan tidak dapat berbuat adil [maksudnya adil yang sesuai dengan syariat]. Atau maknanya, “Janganlah kamu menikahi, kecuali wanita yang kamu senangi”.
 
Yang dituntut dari sikap adil adalah adil di dalam membagi giliran dan nafkah. Adapun sikap adil dalam kasih sayang dan kecenderungan hati kepada para istri, itu di luar kemampuan manusia. Inilah yang dimaksud dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala:
 
وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ
 
“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian” [An-Nisa/4 : 129] [Dinukil dari Fatawa Mar’ah. 2/62 – Syaikh Abdul Aziz bin Baz]
 
Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Abdulah bin Baz ketika ditanya, “Apakah poligami dalam Islam hukumya mubah (boleh) atau dianjurkan?”
 
Beliau rahimahullah menjawab:
“Poligami (hukumnya) disunnahkan (dianjurkan) bagi yang mampu, karena firman Allah taala (beliau menyabutkan ayat tersebut di atas), dan karena perbuatan Rasulullah ﷺ. Beliau ﷺ menikahi sembilan wanita. Allah memberi manfaat (besar) bagi umat ini dengan (keberadaan) para istri Nabi ﷺ tersebut. Dan ini (menikahi sembilan wanita) termasuk kekhususan bagi beliau ﷺ. Adapun selain beliau ﷺ tidak boleh menikahi lebih dari empat wanita [Sebagaimana yang diterangkan dalam bebrapa hadis yang shahih, di antaranya HR at-Tirmidzi (3/435) dan Ibnu Majah (1/628), dishahihkan oleh at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani].
 
Karena dalam poligami banyak terdapat kemslahatan/kebaikan yang agung bagi kaum laki-laki maupun permpuan, bahkan bagi seluruh umat Islam. Sebab dengan poligami akan memudahkan bagi laki-laki maupun perempuan untuk menundukkan pandangan, menjaga kemaluan (kesucian), memperbanyak (jumlah) keturunan, dan (memudahkan) bagi laki-laki untuk memimpin beberapa orang wanita dan membimbing mereka kepada kebaikan, serta menjaga mereka dari sebab-sebab keburukan dan penyimpangan. Adapun bagi yang tidak mampu melakukan itu dan khawatir berbuat tidak adil, maka cukuplah dia menikahi seorang wanita (saja), karena Allah taala berfirman:
 
{فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا}
 
“Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya” [QS an-Nisaa’:3]
 
Semoga Allah (senantiasa) memberi taufik-Nya kepada semua kaum Muslimin untuk kebaikan dan keselamatan mereka di dunia dan Akhirat [Dinukil dalam majalah “al-Balaagh” (edisi no. 1028, tgl 1 Rajab 1410 H/28 Januari 1990 M)].
 
Senada dengan ucapan di atas, Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata:
“…Seorang laki-laki, jika dia mampu dengan harta, badan (tenaga) dan hukumnya (bersikap adil), maka lebih utama (baginya) untuk menikahi (dua) sampai empat (wanita), jika dia mampu. Dia mampu dengan badannya, karena dia enerjik, (sehingga) dia mampu menunaikan hak yang khusus bagi istri-istrinya. Dia (juga) mampu dengan hartanya, (sehingga) dia bisa memberi nafkah (yang layak) bagi istri-istrinya. Dan dia mampu dengan hukumnya untuk (bersikap) adil di antara mereka. (Kalau dia mampu seperti ini), maka hendaknya dia menikah (dengan lebih dari seorang wanita). Semakin banyak wanita (yang dinikahinya) maka itu lebih utama. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Orang yang terbaik di umat ini adalah yang paling banyak istrinya [Atsar yang shahih riwayat imam al-Bukhari (no. 4787).]”…[ Liqaa-il baabil maftuuh (12/83)].
 
Syaikh Shaleh bin Fauzan al-Fauzan berkata:
“Adapun (hukum) asal (pernikahan), apakah poligami atau tidak, maka aku tidak mendapati ucapan para (ulama) ahli tafsir, yang telah aku baca kitab-kitab tafsir mereka yang membahas masalah ini. Ayat Alquran yang mulia (surat an-Nisaa’:3) menunjukkan, bahwa seorang yang memiliki kesiapan (kesanggupan) untuk menunaikan hak-hak para istri secara sempurna, maka dia boleh untuk berpoligami (dengan menikahi dua) sampai empat orang wanita. Dan bagi yang tidak memiliki kesiapan (kesanggupan), cukup dia menikahi seorang wanita, atau memiliki budak. Wallahu a’lam” [Fataawal mar’atil Muslimah (2/690)].
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: https://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 #hukum, #poligami, #polygamy, #polygami, #taaduud, #taadud, #empatistri, #istrilebihdari atu