BAGAIMANA HUKUM SEORANG MUADZIN YANG BERHADATS?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
 
BAGAIMANA HUKUM SEORANG MUADZIN YANG BERHADATS?
 
Pertanyaan:
Apakah boleh azan bagi orang yang belum berwudhu? Dan apa hukum azan orang yang junub?
 
Jawaban:
Sah hukumnya azan orang yang berhadats, kecil maupun besar. TAPI, lebih utama baginya adalah azan dalam keadaan suci dari kedua hadats itu.
 
Wabillahit taufiq, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wasallam.
 
[Fatawa al- Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyah wal Ifta’ no. 8966, diketuai oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah]
 
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: https://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#hukumseorangmuadzinyangberhadats #hukumseorangmuazinyanghadats #muadzin #muazin #hadats #hadas #berhadats #berhadas #hukum

BOLEHKAH MANDI JUNUB DENGAN AIR HANGAT?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
BOLEHKAH MANDI JUNUB DENGAN AIR HANGAT?
 
Pertanyaan:
Misalnya ada yang hubungan intim di malam hari, lantas ia menunda mandinya hingga Subuh. Bolehkah menggunakan air hangat atau air panas untuk manji junubnya, karena keadaan saat itu dingin?
 
Jawaban:
Bismmillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du:
 
Bagi orang junub yang tidak memungkinkan untuk mandi dengan air dingin, dibolehkan menggunakan air hangat. Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah:
 
Dari Aslam Al-Qurasyiy Al-‘Adawy, mantan budak Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu, beliau bercerita:
 
أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ كَانَ يَغْتَسِلُ بِالْمَاءِ الْحَمِيمِ
 
“Sesungguhnya Umar dahulu mandi dari air yang hangat.” [HR. Abdurrazzaq dalam Mushannaf-nya 675, dan Ibnu Hajar mengatakan sanadnya shahih Fathul Bari, 1:299]
 
Ibnu Hajar menjelaskan:
 
وأما مسألة التطهر بالماء المسخن فاتفقوا على جوازه الا ما نقل عن مجاهد
 
“Masalah bersuci dengan air hangat, para ulama sepakat bolehanya, kecuali riwayat yang dinukil dari Mujahid.” [Fathul Bari, 1:299]
 
Kemudian diriwayatkan dari Atha’, bahwa beliau mendengar Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma mengatakan:
 
«لَا بَأْسَ أَنْ يُغْتَسَلَ بِالْحَمِيمِ وَيُتَوَضَّأُ مِنْهُ»
 
“Boleh seseorang mandi atau wudhu dengan air hangat.” [HR. Abdurrazzaq dalam Mushannaf-nya, 677]
 
 
Adapun hadis dari Aisyah radhiallahu ‘anha, yang mengatakan:
 
دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ سَخَّنْتُ مَاءً فِي الشَّمْسِ ، فَقَالَ : لَا تَفْعَلِي يَا حُمَيْرَاءُ فَإِنَّهُ يُورِثُ الْبَرَصَ
 
Rasulullah ﷺ masuk menemuiku, sementara saya telah menghangatkan air dengan sinar matahari. Maka beliau ﷺ bersabda: “Jangan kamu lakukan itu wahai Humaira (Aisyah), karena itu bisa menyebabkan penyakit sopak.”
 
Hadis ini disebutkan oleh Ad-Daraquthni (1:38), Ibnu Adi dalam Al-Kamil 3:912, dan Al-Baihaqi 1:6 dari jalan Khalid bin Ismail dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari Aisyah.
 
Tentang Khalid bin Ismail, Ibnu Adi berkomentar:
 
كَانَ يَضَعُ الْحَدِيثَ
 
“Dia telah memalsukan hadis.”
 
Dalam sanad yang lain, hadis ini juga diriwayatkan dari jalur Wahb bin Wahb Abul Bukhtari dari Hisyam bin Urwah. Ibnu Adi mengatakan: “Wahb lebih buruk dari pada Khalid.”
 
Kesimpulannya, hadis ini TIDAK BISA JADI DALIL karena statusnya hadis yang lemah.
 
Demikian keterangan Ibnu Hajar di At-Talkhish Al-Habir, 1:21.
 
Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia, Al-Lajnah Ad-Daimah pernah ditanya:
“Jenis air yang bagaimana yang digunakan untuk mandi junub? Apakah harus dengan air dingin atau boleh dengan air panas? Bagaimana jika tidak mampu menggunakan air dingin?”
 
Jawab ulama Al-Lajnah Ad-Daimah:
Boleh saja bagi Muslim menggunakan air panas atau air dingin sesuai yang ia anggap maslahat untuk dirinya. Dalam masalah ini begitu longgar untuk memilih. Ingatlah, Islam adalah agama yang memberi kemudahan. Sebagaimana Allah taala berfirman:
 
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
 
“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” [QS. Al-Baqarah: 185]
 
Wa billah at-taufiq. (Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah di masa Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah, soal kesepuluh dari fatwa no. 5612)
 
 
 
Sumber:
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: https://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 #mandijanabah #mandijunub #mandiwajib #hukum #pakaiairpanas #pakaiairhangat #thaharah #thoharoh

TIDAK DISYARIATKAN MEMBERSIHKAN KENCING DENGAN CARA BERLEBIH-LEBIHAN

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
#FikihThaharah
TIDAK DISYARIATKAN MEMBERSIHKAN KENCING DENGAN CARA BERLEBIH-LEBIHAN
 
Pertanyaan:
Apakah dibolehkan seorang laki-laki Muslim membuka, atau mengusap, atau melihat saluran kencing pada kemaluannya, untuk memastikan apakah masih ada yang keluar, ataukah cukup melihat zahirnya saja? Apa hukum seseorang yang melihat bekas cairan di dalam kulup kemaluannya. Apakah wudhu dan puasanya diterima ketika itu, sedangkan cairan tersebut belum sampai ke bagian luar kemaluannya?
 
Jawaban:
Alhamdulillah.
 
TIDAK DISYARIATKAN bagi seorang laki-laki untuk melihat saluran kencing pada kemaluannya, untuk memastikan bahwa kencingnya telah habis. Karena hal itu termasuk perkara berlebihan dan memberatkan, serta bertentangan dengan prinsip syariat yang memudahkan dan toleran. Itupun termasuk dalam sikap was was. Yang disyariatkan adalah mencuci ujung kemaluan setelah selesai kencing. Disyariatkan pula menyiram area kemaluan untuk menghindari perasaan was was.
 
Ibnu Majah (no. 464) meriwayatkan dari Jabir radhiallahu anhu, dia berkata: “Rasulullah ﷺ berwudhu, kemudian dia menyiram kemaluannya.” [Dinyatakan Shahih oleh Al-Albany dalam Shahih Ibnu Majah]
 
Disebutkan dalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah (4/125): “Ulama kalangan Mazhab Hanafi, Syafii dan Hambali menyebutkan, bahwa jika seseorang selesai istinja dengan air, disunahkan baginya untuk menyiram kemaluannya atau celananya dengan sedikit air, untuk menghentikan was was. Sehingga apabila dia ragu, maka basah itu dia anggap sebagai bekas siraman tadi, selama dia tidak meyakini selain itu.”
 
Syaikhul Islam Ibnu Taimiah rahimahullah berkata dalam Majmu Fatawa (21/106): “Memeriksa kemaluan dengan berupaya mengalirkan air (yang ada di dalamnya) atau selainnya, merupakan perbuatan bid’ah, bukan wajib juga bukan sunah menurut para tokoh ulama. Begitu pula dengan menggerak-gerakkan kemaluan merupakan bid’ah berdasarkan pendapat yang Shahih. Hal itu tidak disyariatkan oleh Rasulullah ﷺ.
 
Demikian pula berupaya mengeluarkan kencing, merupakan bid’ah yang TIDAK DISYARIATKAN oleh Rasulullah ﷺ. Hadis yang diriwayatkan dalam masalah ini adalah Dhaif, TIDAK ADA dasarnya. Karena kencing itu keluar secara alami. Jika selesai, dia pun akan berhenti dengan sendirinya. Sebagaimana dikatakan, seperti susu, jika engkau biarkan, dia tetap (berhenti). Dan jika engkau perah, dia keluar.
 
Selama seseorang berusaha membukanya, maka akan ada yang keluar darinya. Tapi jika dia tidak membukanya, maka tidak keluar. Kadang seseorang merasa ada yang keluar darinya, maka itu adalah PERASAAN WAS WAS. Kadang orang merasa ada sesuatu yang dingin di ujung kemaluannya, lalu dia mengira ada sesuatu yang keluar darinya, padahal tidak ada yang keluar.
 
Kencing itu pada dasarnya tertahan di saluran kencing dan tidak keluar. Jika kemaluannya diurut, baik dengan batu atau dengan jari, akan keluar sesuatu yang lembab. Cara inipun merupakan bid’ah. Kencing yang telah tertahan tersebut TIDAK PERLU dikeluarkan, berdasarkan kesepakatan para ulama, baik dengan batu, dengan jari atau lainnya. Bahkan setiap kali dikeluarkan, akan datang berikutnya. Adapun membersihkan kemaluan dengan batu sudah cukup, tidak perlu menyiram kemaluan dengan air. Disunahkan bagi orang yang istinja untuk menyiramnya dengan air. Sehingga jika merasakan ada sesuatu yang basah, dia dapat mengatakan bahwa itu adalah air tersebut.”
 
Jika kencing belum keluar, maka tidak ada hukumnya. Seseorang tidak dianggap bernajis karenanya, dan tidak ada pengaruhnya terhadap wudhu dan shalat. Adapun puasa, tidak mengapa jika keluar kencing.
 
Wallahua’lam.
 
Sumber: https://islamqa.info/id/65521

KEUTAMAAN MANDI JUMAT

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#MutiaraSunnah

KEUTAMAAN MANDI JUMAT

Mandi Jumat adalah salah satu amalan yang diperintahkan di hari yang penuh berkah, hari Jumat. Di antara keutamaannya adalah sebab mendapatkan ampunan pada waktu Jumat.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

مَنِ اغْتَسَلَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَصَلَّى مَا قُدِّرَ لَهُ ثُمَّ أَنْصَتَ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْ خُطْبَتِهِ ثُمَّ يُصَلِّىَ مَعَهُ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الأُخْرَى وَفَضْلَ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ

“Barang siapa yang mandi kemudian mendatangi Jumat, lalu ia shalat semampunya dan diam (mendengarkan khutbah) hingga selesai, kemudian ia lanjutkan dengan shalat bersama Imam, maka akan diampuni (dosa-dosa yang dilakukannya) antara hari itu dan Jumat yang lain. Dan bahkan hingga lebih tiga hari.” [HR. Muslim no. 857].

Dari Salman Al Farisi, ia berkata bahwa Rasul ﷺ bersabda:

“Apabila seseorang mandi pada waktu Jumat, dan bersuci semampunya, lalu memakai minyak dan harum-haruman dari rumahnya, kemudian ia keluar rumah. Lantas ia tidak memisahkan di antara dua orang, kemudian ia mengerjakan shalat yang diwajibkan, dan ketika imam berkhutbah, ia pun diam, maka ia akan mendapatkan ampunan antara Jumat yang satu dan Jumat lainnya.” [HR. Bukhari no. 883]

Silakan di-share, semoga bermanfaat.

 

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah

Sumber: https://rumaysho.com/2074-keutamaan-mandi-jumat.html

CELAKALAH TUMIT YANG TIDAK TERBASUH WUDHU!

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatWudhuNabi

CELAKALAH TUMIT YANG TIDAK TERBASUH WUDHU!

Banyak di antara kaum Muslimin yang ketika mencuci/membasuh kaki saat berwudhu tidak memerhatikan tumitnya. Mereka tergesa-gesa ketika berwudhu, hanya sekadar menjulurkan kaki di bawah kran air yang mengalir, sehingga ada banyak bagian dari tumitnya yang tidak terbasuh dengan air. Ini adalah kesalahan besar yang wajib untuk diingatkan, karena mereka menunaikan shalat dalam keadaan tidak sah wudhunya

Ada hadis yang membicarakan ancaman bagi orang yang tidak berwudhu dengan sempurna. Dalilnya adalah:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ تَخَلَّفَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فِى سَفَرٍ سَافَرْنَاهُ فَأَدْرَكَنَا وَقَدْ أَرْهَقْنَا الصَّلاَةَ صَلاَةَ الْعَصْرِ وَنَحْنُ نَتَوَضَّأُ ، فَجَعَلْنَا نَمْسَحُ عَلَى أَرْجُلِنَا ، فَنَادَى بِأَعْلَى صَوْتِهِ « وَيْلٌ لِلأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ » . مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثً

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata: “Kami pernah tertinggal dari Rasulullah ﷺ dalam suatu safar. Kami lalu menyusul beliau dan ketinggalan shalat, yaitu shalat ‘Ashar. Kami berwudhu sampai bagian kaki hanya diusap (tidak dicuci, -pen). Lalu beliau ﷺ memanggil dengan suara keras dan berkata: “Celakalah tumit-tumit dari api Neraka.” Beliau ﷺ menyebut dua atau tiga kali. (HR. Bukhari no. 96 dan Muslim no. 241). Yang namanya diusap, berarti tangan cukup dibasahi lalu menyentuh bagian anggota wudhu, tanpa air mesti dialirkan.

Dalam riwayat Muslim, disebutkan bahwa ‘Abdullah bin ‘Amr berkata:

رَجَعْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مِنْ مَكَّةَ إِلَى الْمَدِينَةِ حَتَّى إِذَا كُنَّا بِمَاءٍ بِالطَّرِيقِ تَعَجَّلَ قَوْمٌ عِنْدَ الْعَصْرِ فَتَوَضَّئُوا وَهُمْ عِجَالٌ فَانْتَهَيْنَا إِلَيْهِمْ وَأَعْقَابُهُمْ تَلُوحُ لَمْ يَمَسَّهَا الْمَاءُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « وَيْلٌ لِلأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ أَسْبِغُوا الْوُضُوءَ »

“Kami pernah kembali bersama Rasulullah ﷺ dari Makkah menuju Madinah hingga sampai di air di tengah jalan, sebagian orang tergesa-gesa untuk shalat ‘Ashar. Lalu  mereka berwudhu dalam keadaan terburu-buru. Kami pun sampai pada mereka dan melihat air tidak menyentuh tumit mereka. Rasulullah ﷺ lantas bersabda: “Celakalah tumit-tumit dari api Neraka. Sempurnakanlah wudhu kalian.” (HR. Muslim no. 241).

Yang dimaksud a’qoob dalam hadis di atas adalah urat di atas tumit, disebut ‘aroqib. Kata ‘wail’ dalam hadis menunjukkan ancaman dan hukuman.

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah berkata: “Hadis di atas adalah ancaman untuk tumit (perkara yang kecil), namun ancaman ini berlaku juga untuk hal yang lebih dari itu. Karena jika tidak dimaafkan yang sepele seperti tumit, maka yang lebih dari itu tentu tidak dimaafkan.” (At Ta’liqot ‘ala ‘Umdatil Ahkam, hal. 26).

Hadis ini juga menerangkan wajibnya menyempurnakan wudhu dan perintah membasuh anggota-anggota wudhu. Yang luput dari hal ini, ia terjerumus dalam dosa besar karena diancam dengan Neraka seperti itu. Diterangkan oleh Syaikh As Sa’di di halaman yang sama.

Syaikh As Sa’di juga mengatakan: “Jika menganggap sepele dalam berwudhu tercela, begitu pula berlebihan dan mendapati was-was dalam wudhu juga sama tercela.” (At Ta’liqot ‘ala ‘Umdatil Ahkam, hal. 26).

Faidah yang terdapat dalam Hadis:

Pertama:

Wajibnya membasuh/mencuci kedua kaki dengan air secara sempurna ketika berwudhu. Tidak cukup hanya dengan mengusapnya. Sebab seandainya dengan mengusap saja cukup, niscaya Nabi ﷺ tidak akan memberikan ancaman Neraka bagi orang yang tidak membasuh/mencuci kedua tumitnya. Demikian penjelasan Ibnu Khuzaimah, Ibnu Abdil Barr, dan an-Nawawi. Dalam sebagian riwayat Muslim dari jalan Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi ﷺ bersabda: “Celakalah mata kaki -yang tidak terbasuh air itu- karena jilatan api Neraka.” Dalam riwayat ini juga dikatakan, bahwa suatu ketika Nabi ﷺ melihat seorang lelaki yang tidak membasuh kedua tumitnya, lantas beliau ﷺ memberikan teguran keras semacam itu. Sehingga hal ini menjadi bantahan bagi kaum Syiah yang hanya mewajibkan mengusap kaki. Ini adalah pendapat yang batil, menyelisihi Alquran dan Sunnah Rasulullah ﷺ serta Ijma’ umat Islam. Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فاغْسِلُواْ وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُواْ بِرُؤُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَينِ…

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuhlah) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” [QS. Al Maidah: 6]

Abdurrahman bin Abi Laila berkata: “Para sahabat Rasulullah ﷺ sepakat mengenai wajibnya membasuh/mencuci kedua kaki.” (Lihat Syarh Muslim [3/29-32], Fath al-Bari [1/319-320], al-Istidzkar [2/51] pdf).

Kedua:

Menunjukkan siksa Neraka ada dua macam. Pertama siksaan yang sifatnya menyeluruh tanpa terkecualikan (seluruh badan). Dan yang kedua adalah siksaan yang sifatnya parsial, seperti disebutkan dalam hadis. Hanya tumitnya saja yang disiksa tanpa anggota tubuh yang lain.

Ketiga:

Perintah untuk menyempurnakan wudhu. Yang dimaksud menyempurnakan wudhu adalah menunaikan hak masing-masing anggota badan yang dibersihkan/dibasuh ketika wudhu (Lihat Taudhih al-Ahkam [1/217], Syarh Muslim [3/41])

Keempat: Termasuk dalam perintah menyempurnakan wudhu adalah menyela-nyelai jari-jari kaki dengan air. Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Tirmidzi dan dihasankan oleh Bukhari dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma:

“Apabila kamu berwudhu, maka sela-selailah jari tangan dan jari kakimu.”

Hadis semakna juga diriwayatkan oleh Tirmidzi dari sahabat Laqith bin Shabirah radhiyallahu’anhu yang disahkan oleh Tirmidzi sendiri, al-Baghawi dan Ibnu al-Qaththan (Lihat Nail al-Authar [1/182] dan Tuhfat al-Ahwadzi [1/149-150] ).

Kelima: Barang siapa meninggalkan anggota wudhu tidak terbasuh oleh air, meskipun hanya selebar kuku, maka wudhunya tidaklah sah. Berkata Al Imam An Nawawy: Ini adalah perkara yang telah disepakati (oleh para ulama). Telah diriwayatkan oleh Al Imam Muslim dari shahabat Umar Ibnul Khattab, beliau berkata:

أَنَّ رَجُلًا تَوَضَّأَ فَتَرَكَ مَوْضِعَ ظُفُرٍ عَلَى قَدَمِهِ فَأَبْصَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ ارْجِعْ فَأَحْسِنْ وُضُوءَكَ فَرَجَعَ ثُمَّ صَلَّى

“Bahwa seorang laki-laki berwudhu, lalu meninggalkan (kering) selebar kuku di atas kakinya. Saat Nabi ﷺ melihatnya, maka beliau ﷺ pun bersabda: “Kembali dan perbaguslah wudhumu.” Maka dia kembali (berwudhu) kemudian melakukan shalat.”

Wallahu ta’ala a’lam.

 

Diambil dari berbagai sumber, di antaranya:

Bagian Tubuh yang Tidak Terbasuh Saat Wudhu

 

http://abuayaz.blogspot.co.id/2011/05/celakalah-tumit-yang-tidak-terbasuh-air.html

 

 

MENGUSAP KEDUA KHUF

بسم الله الرحمن الرحيم

#SifatWudhuNabi
#DakwahSunnah
MENGUSAP KEDUA KHUF

Matan Kitab: Mengusap Kedua Khuf

(فصل) والمسح على الخفين جائز بثلاث شرائط أن يبتدئ لبسهما بعد كمال الطهارة وأن يكونا ساترين لمحل الفرض من القدمين وأن يكونا مما يمكن تتابع المشي عليهما ويمسح المقيم يوما وليلة والمسافر ثلاثة أيام بلياليهن وابتداء المدة من حين يحدث بعد لبس الخفين فإن مسح في الحضر ثم سافر أو مسح في السفر ثم أقام أتم مسح مقيم.ويبطل المسح بثلاثة أشياء بخلعهما وانقضاء المدة وما يوجب الغسل.

Mengusap khuf (kaus kaki khusus) itu boleh dengan 3 (tiga) syarat:

  • Memakai khuf setelah suci dari hadats kecil dan hadats besar.
  • Khuf (kaus kaki) menutupi mata kaki.
  • Dapat dipakai untuk berjalan.

Orang mukim dapat memakai khuf selama satu hari satu malam (24 jam). Sedangkan musafir selama 3 (tiga) hari 3 malam.

Waktunya dihitung mulai dari saat hadats (kecil) setelah memakai khuf. Apabila memakai khuf di rumah kemudian bepergian, atau mengusap khuf di perjalanan kemudian mukim, maka dianggap mengusap khuf untuk mukim.

Mengusap khuf batal oleh 3 (tiga) hal:

  • Melepasnya,
  • Habisnya masa,
  • Hadats besar.

[Fiqh AtTaqrib Matan Abi Syuja’]

Apa yang Dimaksud dengan Al-Khuf?

Al-khuf adalah bentuknya seperti kaus kaki namun dia terbuat dari kulit yang tebal dan berfungsi sebagai penutup dan pelindung kaki. Dan terkadang sampai pertengahan betis ataupun di bawah itu.

Dan yang semakna dengan khuf tadi adalah Al-Jawrab (kaus kaki) yang terbuat dari kain katun atau kaus atau semisalnya. Dan juga termasuk makna dari khuf adalah sepatu.

Hukum Mengusap Khuf Atau yang Semakna Dengannya

قال المصنف:

((والمسح على الخفين جائز))

((Dan mengusap kedua khuf (atau yang semakna) adalah boleh))

Mengusap kedua khuf ini adalah sebagai ganti dari mencuci kaki tatkala seseorang berwudhu’. Dan ini adalah pendapat Asy-Syafi’iyyah, para ulama madzhab, dan juga keyakinan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, bahkan dikatakan ini adalah ijma’.

Yang menyelisihi pendapat ini adalah kelompok yang sesat yang menyimpang dari agama, yaitu kelompok Syi’ah dan kelompok Khawarij, yang menyatakan bahwa mengusap khuf atau yang sejenisnya adalah mutlak dilarang.

Pendapat mereka ini bertentangan dengan petunjuk Nabi ﷺ, di antaranya dalam hadis Jabir radhiyallahu ta’ala ‘anhu, beliau menceritakan:

أنَّه رأى النبيَّ صلَّى الله عليه وسلَّمَ يَمسحُ على الخُفَّينِ

“Bahwasanya beliau melihat Nabi ﷺ mengusap kedua khufnya.” [HR. Muslim]

Begitu pula hadis ‘Ali radhiyallahu ta’ala ‘anhu, beliau berkata:

لَوْ كان الدِّينُ بالرأي لكان أسْفَلُ الْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلاَهِ…

“Seandainya agama ini adalah dengan akal saja, maka bagian bawah dari khuf (sepatu) itu lebih pantas untuk diusap daripada bagian atasnya…”

Kenapa? Karena bagian bawahlah bagian yang kotor, kenapa yang diusap bagian atasnya? Akan tetapi agama ini adalah dengan dalil dari Rasulullah ﷺ.

Oleh karena itu, kata ‘Ali radhiyallahu ta’ala ‘anhu:

… وَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم يَمْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيْهِ

“…Dan sungguh saya melihat Rasulullah ﷺ, beliau mengusap bagian atas dari kedua khufnya.” [HR. Abu Dawud dan Daruquthni dan sanadnya dishahīhkan oleh Syaikh Al-Albaniy]

Syarat Diperbolehkannya Seseorang Untuk Mengusap Kedua Khufnya

قال المصنف:

((بثلاث شروط))

((Dengan memenuhi tiga syarat))

Di sini Penulis menyebutkan tiga syarat dan di sana ada syarat-syarat yang lainnya, di antaranya bahwasanya:

✓Khuf/kaus kaki/sepatu yang digunakan itu terbuat dari bahan yang suci.

Kita akan sebutkan syarat yang disebutkan oleh Mushannif.

  • Syarat (1)

((أن يبتدئ لبسهما بعد كمال الطهارة))

((Memakai dua khuf, setelah sempurna dari thaharah/berwudhu’))

Seseorang, setelah selesai berwudhu’ kemudian memakai khufnya, maka dia diperbolehkan untuk mengusap khufnya, apabila nanti batal kemudian berwudhu’, karena dia memakai khufnya dalam keadaan suci. Dan ini sebagaimana yang disebutkan hadis Mughīrah bin Syu’bah, beliau mengatakan:

سكبت لرسول الله صلى الله عليه وسلم الوضوء فلما انتهيت إلى الخفين أهويت لأنزعهما فقال دعهما فإني أدخلتهما طاهرتان فمسح عليهما

“Saya menuangkan air dari bejana kepada Rasulullah ﷺ untuk berwudhu’.

Manakala sampai pada bagian kedua khufnya, saya pun membungkuk hendak melepaskan keduanya.

Maka beliau ﷺ pun bersabda: “Tinggalkanlah keduanya (maksudnya jangan dilepas), karena saya memasukkan kedua kaki tersebut dalam keadaan suci.” [HR. Al-Khamsah]

  • Syarat (2)

((وأن يكونا ساترين لمحل الفرض من القدمين))

((Dan harus menutup bagian kaki yang wajib dicuci))

⇒ Ini adalah pendapat Syafi’iyyah dan kesepakatan aimmah madzhab, bahwasanya khuf (atau yang semakna) yang dipakai, maka dia harus menutupi sampai mata kaki, karena bagian yang wajib dicuci adalah sampai mata kaki.

Dan pendapat yang kedua mengatakan bahwasanya:

◆ Tidak harus sampai menutupi mata kaki, seperti sepatu yang dipakai tidak sampai menutupi mata kaki, minimal adalah sebagian besar menutupi kakinya.

⇒ Ini adalah pendapat Ibnu Hazm yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahumallah.

  • Syarat (3)

((وأن يكونا مما يمكن تتابع المشي عليهما))

((Kedua khuf ini bisa dipakai berjalan di atasnya))

Yaitu dibuat dari bahan yang bisa dipakai untuk berjalan di atasnya seperti kulit, kain yang kuat atau yang semisalnya.

Apabila dibuat dari bahan yang akan tercabik-cabik (robek) tatkala diusap, maka tidak diperkenankan untuk mengusap khuf tadi.

Waktu yang Diperbolehkan Untuk Mengusap Khuf (Atau yang Semakna dengan Khuf)

قال المصنف:

((و يمسح المقيم يوما و ليلة و المسافر ثلاثة أيام بلياليهن))

((Orang yang mukim/tinggal/menetap, dia diberi rukshah untuk mengusap selama satu hari satu malam. Sedangkan untuk musafir/orang yang bepergian dia diberi rukshah selama tiga hari tiga malam))

Ini pendapat Syafi’iyyah dan Jumhur Mayoritas Ulama, kecuali Malikiyyah. Dalil Jumhur, bahwasanya di sana ada hadis ‘Ali radhiyallahu ta’ala ‘anhu, beliau berkata:

جَعَلَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلاثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيَهُنَّ لِلْمُسَافِرِ ، وَيَوْمًا وَلَيْلَةً لِلْمُقِيمِ

“Rasulullah ﷺ menetapkan waktu untuk mengusap bagi orang-orang yang safar (orang yang bepergian/musafir) selama tiga hari tiga malam. Dan untuk orang-orang yang tinggal (menetap), diberi rukshah satu hari satu malam.” [HR. Muslim]

Kapan Mulai Dihitung Waktu Untuk Mengusap Khuf Tersebut?

قال المصنف:

((وابتداء المدة من حين يحدث بعد لبس الخفين))

((Waktu untuk mengusap mulai terhitung, yaitu pada saat hadats yang pertama kali setelah menggunakan kedua khuf tadi))

Jadi misalnya, seseorang berwudhu’ dan memakai khuf/kaus kaki/sepatu pada jam 1 siang setelah Zuhur, kemudian dia berhadats pada jam 4 sore maka waktu rukshah terhitung dari jam 4 sore tadi.

Ini adalah pendapat Syafi’iyyah, Hanafiyyah dan riwayat yang masuk dari Hanabilah.

◆ Dan di sana ada pendapat kedua yang merupakan pendapat yang rajih dan kuat, adalah terhitung sejak awal bersuci setelah hadats yang pertama.

Misal contoh di atas (contoh sebelumnya).

  • Dia batal pada jam 4 sore.

⇒ Ini adalah hadats yang pertama setelah memakai khufnya

  • Kemudian bersuci jam 6 sore.

⇒ Ini adalah dia berwudhu’ yang pertama kali. Maka yang terhitung adalah yang jam 6 sore.

Pendapat ini dipilih oleh Ibnul Mundzir dan Imam Nawawi Asy-Syafi’i, Syaikh Bin Baz dan Syaikh ‘Utsaimin. Dalilnya adalah suatu riwayat dari Abi ‘Utsman An-Nahdiy, beliau mengatakan:

حَضَرْتُ سَعْدًا , وَابْنَ عُمَرَ , يَخْتَصِمَانِ إِلَى عُمَرَ فِي الْمَسْحِ عَلَى الْخُفَّيْنِ ، فَقَالَ عُمَرُ: يَمْسَحُ فَقَالَ عُمَرُ: ” يَمْسَحُ عَلَيْهِمَا إِلَى مِثْلِ سَاعَتِهِ مِنْ يَوْمِهِ وَلَيْلَتِهِ”

“Saya menghadiri tatkala Sa’dan dan Ibnu ‘Umar berselisih pada masalah mengusap kedua khuf (dan dan bertahqin kepada ‘Umar).

Maka ‘Umar pun mengatakan: “Hendaknya dia mengusap keduanya dihitung sehari semalam seperti waktu dia mengusapnya.” [HR. ‘Abdurazzaq dalam Mushannaf dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani]

Kemudian Penulis mengatakan:

((فإن مسح في الحضر ثم سافر، أو مسح في السفر ثم أقام، أتم مسح مقيم))

((Didalam Madzhab Syafi’i, di dalam dua keadaan:

  • (1) Jika dia mengusap pada saat mukim/tinggal kemudian safar/bepergian, atau
  • (2) Mengusap pada saat safar, kemudian dia mukim/tinggal))

Maka (kata beliau), yang berlaku adalah rukshah mengusap bagi orang yang mukim, atau hanya satu hari satu malam saja. Ini adalah pendapat Syafi’iyyah di dalam dua keadaan. Namun untuk keadaan yang pertama, yang rajih dan dipilih oleh Syaikh ‘Utsaimin adalah:

◆ Tetap berlaku rukshah mengusap untuk musafir, karena predikat yang melekat pada dia adalah predikat seorang musafir. Maka berlaku pada dia adalah semua yang berlaku pada orang-orang yang safar.

Pembatal-Pembatal dari Rukshah untuk Mengusap Dua Khuf

((و يبطل المسح بثلاثة أشياء))

((Dan hukum mengusap kedua khuf ini batal dengan tiga macam hal))

  • Pembatal (1)

((بخلعهما))

((Dengan melepas dua khuf/kaus kaki/sepatunya))

Maka secara otomatis rukshah untuk mengusap dua khuf tadi adalah batal.

  • Pembatal (2)

((وانقضاء المدة))

((Waktunya sudah habis))

⇒ Untuk yang mukim satu hari satu malam.

⇒ Untuk yang musafir tiga hari tiga malam.

  • Pembatal (3)

((وما يوجب الغسل))

((Dan hal-hal yang mewajibkan untuk mandi))

Jika terdapat halangan ini, maka dia batal rukshah untuk mengusap kedua khufnya. Berdasarkan sebuah hadis:

كَانَ رسول الله صلى الله عليه وسلم يَأْمُرُنَا إذَا كُنّا مُسَافِرِيْنَ أَنْ نَمْسَحَ عَلَى خِفَافنَا وَلَا نَنْزِعَهَا ثَلاثةَ أَيّامٍ مِنْ غَائِطٍ وَبَوْلٍ وَنَوْمٍ إِلِّا مِنْ جَنَابَةِ (رواه النساعي و ترمذي بسند صحيح)

“Bahwasanya Rasulullah ﷺ memerintahkan kami, apabila kami dalam keadaan safar (bepergian) untuk mengusap khuf-khuf kami dan tidak melepasnya selama tiga hari walaupun buang air besar, buang air kecil, maupun dari tidur, kecuali apabila junub*.” [HR. Nasa’i, Tirmidzi dengan sanad yang shahīh]

*Apabila junub maka seseorang melepaskannya dan kemudian dia bersuci.

Demikian yang bisa kita sampaikan.

 

و صلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه و سلم

وآخر دعونا عن الحمد لله رب العلمين

______________________________

Catatan Tambahan Diambil dari Website islamqa.info:

Adapun cara mengusapnya adalah letakkan tangan yang sudah dibasahi air di atas jari jemari kaki, kemudian diusap ke arah (pangkal) betis (mulai dari ujung jari kaki ke arah pangkal betis – pent). Kaki kanan diusap oleh tangan kanan, dan kaki kiri diusap oleh tangan kiri. Jari tangan direnggangkan, dan mengusap dilakukan hanya sekali. [Lihat Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi, oleh Al-Fauzan, 1/43].

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: ‘Maksudnya adalah, bahwa yang diusap adalah bagian atas khuf. Maka tangannya dijalankan dari jari kaki hingga pangkal betis saja. Dan mengusap dilakukan dengan kedua tangan sekaligus. Maksudnya, tangan kanan mengusap kaki kanan, dan tangan kiri mengusap kaki kiri PADA SAAT YANG BERSAMAAN, sebagaimana halnya mengusap kedua telinga. Karena itulah yang tampak dari perkataan Mughirah bin Syu’bah radhiallahu anhu, ‘(Beliau ﷺ ) mengusap keduanya’. Dia tidak mengatakan, bahwa beliau (Nabi ﷺ ) mulai mengusap dengan tangan kanan sebelum kiri. Banyak orang yang mengusap dengan kedua tangannya kaki kanan, dan kedua tangannya kaki kiri. Ini tidak ada landasannya sepengetahuan kami. Akan tetapi dengan cara mana saja jika yang diusap bagian atas khuf, maka usapannya sah. Akan tetapi apa yang telah kami jelaskan (caranya), itulah yang lebih utama. [Lihat Fatawa Al-Mar’ah Al-Muslimah, 1/250]

Tidak boleh mengusap bagian samping khuf atau belakangnya. Tidak satu pun riwayat yang menjelaskan cara mengusap demikian.

Wallahu a’lam.

Sumber:

http://abuwt.blogspot.co.id/2015/12/mengusap-kedua-khuf.html

https://islamqa.info/id/12796

 

 

Cara Mengusap Khuff
Donasi Operasional & Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam

| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank 451
| No. Rek: 7103000507
| A.N: YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer: +628-222-333-4004
Website:
Home
Facebook Page:
Fb.com/TausiyahBimbinganIslam
Telegram Channel:
http://goo.gl/4n0rNp

TV Channel:
http://BimbinganIslam.tv

 

 

Website:

Home

�� Facebook Page:

Fb.com/TausiyahBimbinganIslam

�� Telegram Channel:

http://goo.gl/4n0rNp

�� TV Channel:

http://BimbinganIslam.tv

 

TATA CARA MANDI JUNUB

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatMandiNabi
TATA CARA MANDI JUNUB

  • Kitab Thaharah (Perihal Bersuci)

Oleh: Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi

a. Hal-Hal Yang Mewajibkan Mandi:

  1. Keluar Mani, Baik Saat Terjaga ataupun Tidur

Berdasarkan sabda Nabi ﷺ:

إِنَّمَا الْمَاءُ مِنَ الْمَاءِ.

“Sesungguhnya air (mandi) itu disebabkan air (keluarnya mani)” [Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/228 no. 130)], Shahiih Muslim (I/251 no. 313), dan Sunan at-Tirmidzi (I/80 no. 122)]

Dari Ummu Salamah Radhiyallahu anhuma, Ummu Sulaim Radhiyallahu anhuma, berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu terhadap kebenaran. Apakah seorang wanita wajib mandi jika mimpi bersetubuh?” Beliau ﷺ berkata: “Ya, jika dia melihat air.” [Sanadnya hasan shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (I/162)] dan Ahmad (al-Fat-hur Rabbaani) (I/247 no. 82)]

Khusus dalam keadaan terjaga disyaratkan adanya syahwat, sedangkan pada tidur tidak disyaratkan.

Berdasarkan sabda beliau ﷺ:

إِذَا حَذَفَتِ الْمَاءَ فَاغْتَسِلْ مِنَ الْجَنَابَةِ, فَإِذَا لَمْ تَكُنْ حَاذِفًا فَلاَ تَغْتَسِلْ.

“Jika engkau memancarkan air (mani), maka mandilah karena junub. Jika tidak memancarkannya, maka engkau tidak wajib mandi.” [Nailul Authaar (I/275)]

Asy-Syaukani berkata: [Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 216)], Sunan at-Tirmidzi (I/74 no. 113), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/399 no. 233)] “Memancarkan adalah melontarkan. Hal ini tidak mungkin terjadi kecuali disebabkan syahwat. Karena itulah penulis berkata: “Di sini terdapat peringatan terhadap apa yang keluar dengan tidak disertai syahwat. Mungkin karena sakit atau hawa dingin, yang semua itu tidak mewajibkan mandi.”

Barang siapa mimpi bersetubuh dan tidak melihat adanya air mani, maka dia tidak wajib mandi. Dan barang siapa melihat air mani, sedangkan dia tidak ingat apakah dia mimpi bersetubuh, maka dia tetap wajib mandi.

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Rasulullah ﷺ ditanya tentang seorang laki-laki yang mendapati basah (bekas air mani), sedangkan dia tidak ingat apakah ia mimpi bersetubuh. Beliau menjawab: ‘Dia wajib mandi.’ Dan tentang seorang laki-laki yang mimpi bersetubuh namun tidak mendapati basah (bekas air mani). Beliau menjawab: ‘Dia tidak wajib mandi’.” [Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 152)] dan Shahiih Muslim (I/271 no. 348)]

 

  1. Jima’, Walaupun Tidak Keluar Air Mani

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا اْلأَرْبَعِ، ثُمَّ جَهَدَهَا فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْلُ وَإِنْ لَمْ يُنْزِلْ.

“Jika ia telah duduk di antara keempat cabang istrinya, kemudian ia membuatnya kepayahan (kiasan untuk bersetubuh), maka ia wajib mandi, meskipun tidak keluar air mani.” [Shahih: [Irwaa’ al-Ghaliil (no. 128)], Sunan an-Nasa-i (I/109), Sunan at-Tirmidzi (II/58 no. 602), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/19 no. 351)]

  1. Masuk Islamnya Orang Kafir

Dari Qais bin ‘Ashim, ia menceritakan bahwa ketika masuk Islam, Nabi ﷺ menyuruhnya mandi dengan air dan bidara. [Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/420 no. 320)], Shahiih Muslim (I/262 no. 333), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/466 no. 279), dan Sunan at-Tirmidzi (I/82 no. 125), Sunan an-Nasa-i (I/186), lafal mereka selain al-Bukhari adalah: … “Maka cucilah darah itu darimu.”]

  1. Terputusnya Haid dan Nifas

Berdasarkan hadis ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma. Nabi ﷺ berkata kepada Fathimah binti Abi Khubaisy:

إِذَا أَقْبَلَتِ الْحَيْضَةُ فَدَعِـي الصَّلاَةَ، وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْتَسِلِيْ وَصَلِّي.

“Jika datang haid, maka tinggalkanlah shalat. Dan jika telah lewat, maka mandi dan shalatlah.” [Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (357/2 no. 879)], Shahiih Muslim (II/580 no. 346), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/4, 5 no. 337), Sunan an-Nasa-i (III/93), dan Sunan Ibni Majah (I/346 no. 1089)]

Nifas dan haid dihukumi sama secara ijma’.

  1. Hari Jumat

Dari Abu Sa’id al-Khudri, Rasulullah ﷺ bersabda:

غُسْلُ يَوْمِ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ.

“Mandi hari Jumat wajib bagi setiap orang yang telah baligh.” [Muttafaq ‘alaihi]

b. Rukun-Rukun Mandi

1. Niat

Berdasarkan hadis:

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ.

“Sesungguhnya perbuatan itu tergantung pada niatnya.”

  1. Meratakan air pada sekujur badan.

c. Tata Cara yang Disunnahkan Ketika Mandi

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Dahulu, jika Rasulullah ﷺ hendak mandi janabah (junub), beliau ﷺ memulainya dengan membasuh kedua tangannya. Kemudian menuangkan air dari tangan kanan ke tangan kirinya lalu membasuh kemaluannya. Lantas berwudhu sebagaimana berwudhu untuk shalat. Lalau beliau ﷺ mengambil air dan memasukkan jari-jemarinya ke pangkal rambut. Hingga jika beliau ﷺ menganggap telah cukup, beliau ﷺ tuangkan ke atas kepalanya sebanyak tiga kali tuangan. Setelah itu beliau ﷺ guyur seluruh badannya. Kemudian beliau ﷺ basuh kedua kakinya.” [Shahih: [Irwaa’ al-Ghaliil (no. 136)], Shahiih Muslim (I/259 no. 330), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/426 no. 248), Sunan an-Nasa-i (I/131), Sunan at-Tirmidzi (I/71 no. 105), dan Sunan Ibni Majah (I/198 no. 603)]

Catatan:

TIDAK WAJIB bagi seorang wanita mengurai rambutnya KETIKA MANDI JANABAH (JUNUB). Namun WAJIB dilakukan ketika MANDI SEHABIS HAID.

Dari Ummu Salamah Radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku adalah wanita berkepang dengan kepangan yang sulit diurai. Apakah aku harus mengurainya ketika mandi janabah? Beliau ﷺ berkata:

لاَ، إِنَّمَا يَكْفِيْكِ أَنْ تَحْثِيَ عَلَى رَأْسِكِ ثَلاَثَ حَثَيَاتٍ ثُمَّ تَفِيْضِيْنَ عَلَيْكِ الْمَاءَ فَتَطْهُرِيْنَ.

“Tidak. Cukuplah engkau tuangkan air ke atas kepalamu sebanyak tiga kali. Kemudian guyurkan air ke seluruh tubuhmu. Maka, sucilah engkau.” [Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 172)] dan Shahiih Muslim (I/261 no. 332 (61)]

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, bahwasanya Asma’ bertanya kepada Nabi ﷺ tentang mandi setelah selesai haid. Beliau ﷺ lalu bersabda: “Hendaklah salah seorang dari kalian mengambil air dan bidaranya, lalu bersuci (yaitu berwudhu menurut penafsiran sejumlah ulama’, sebagaimana tata cara mandi Nabi ﷺ -ed.) dengan sebaik-baiknya. Kemudian mengucurkannya ke atas kepala dan menguceknya kuat-kuat hingga ke pangkal kepalanya. Lantas mengguyur seluruh badannya dengan air. Setelah itu hendaklah ia mengambil secarik kapas yang diberi minyak misk, lalu bersuci dengannya.” Asma’ berkata: “Bagaimana cara dia bersuci dengannya?” Beliau ﷺ berkata: “Subhaanallaah, bersucilah dengannya.” ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma berkata sambil seolah berbisik: “Ikutilah bekas-bekas darah itu dengannya.”

Dan aku (Asma’) bertanya lagi kepada beliau ﷺ tentang mandi (junub) janabah. Beliau ﷺ lalu bersabda:

تَأْخُذُ إِحْدَاكُنَّ مَاءً فَتَطَهَّرَ فَتُحْسِنُ الطُّهُوْرَ أَوْ تَبْلُغُ الطُّهُوْرَ ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتُدَلِّكُهُ حَتَّى تَبْلُغَ شُؤُوْنَ رَأْسِهَا ثُمَّ تَفِيْضُ عَلَيْهَا الْمَاءَ.

“Hendaklah salah seorang dari kalian mengambil air lalu bersuci, (yaitu berwudhu menurut penafsiran sejumlah ulama’-ed.) dengan sebaik-baiknya atau menyempurnakannya. Kemudian menuangkan air ke atas kepala dan menguceknya sampai ke dasar kepala. Setelah itu mengguyurkan air ke seluruh badannya.” [Tahdziib Sunan Abi Dawud, karya Ibnul Qayyim (I/167 no. 166) dengan pengubahan]

Dalam hadis ini terdapat perbedaan jelas antara mandinya wanita karena haid dan karena (junub) janabah. Yaitu ditekankannya pada wanita yang haid agar bersuci dan mengucek dengan kuat dan sungguh-sungguh. Sedangkan pada MANDI JANABAH TIDAK ditekankan hal tersebut. Dan hadis Ummu Salamah adalah dalil bagi tidak wajibnya mengurai rambut saat mandi janabah. [Tahdziib Sunan Abi Dawud, karya Ibnul Qayyim (I/167 no. 166) dengan pengubahan]

Tujuan mengurai rambut adalah untuk meyakinkan sampainya air hingga ke dasar rambut. Hanya saja pada mandi (junub) janabah masih ditolerir. Karena seringnya dilakukan, serta adanya kesulitan yang sangat ketika mengurainya. Lain halnya dengan mandi haid yang hanya terjadi setiap sebulan sekali.

Catatan:

Diperbolehkan bagi suami istri untuk mandi bersama dalam satu tempat. Diperbolehkan juga bagi masing-masing untuk melihat aurat pasangannya.

Berdasarkan hadis ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma:

كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ وَنَحْنُ جُنُبَانِ.

“Aku dan Rasulullah ﷺ pernah mandi dari satu bejana. Kami berdua dalam keadaan junub.” [Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih Muslim (I/256 no. 321)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/374 no. 263), dan Sunan an-Nasa-i (I/129)]

d. Mandi-Mandi yang Disunnahkan:

  1. Mandi Pada Setiap Selesai Jima’

Berdasarkan hadis Abu Rafi’: “Pada suatu malam Nabi ﷺ menggilir istri-istrinya. Beliau mandi setiap selesai dari Fulanah dan dari si Fulanah. Dia berkata: “Wahai Rasulullah, kenapa Anda tidak mandi sekali saja?” Beliau ﷺ berkata: “Yang seperti ini lebih suci, lebih baik, dan lebih bersih.” [Hasan: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 480)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (1370 no. 216), dan Sunan Ibni Majah (I/194 no. 590)]

  1. Mandinya Wanita Mustahadhah (istihadhah – keluamya darah terus-menerus pada seorang wanita -pen) Setiap Akan Shalat

Atau sekali mandi untuk shalat Zuhur dan ‘Ashar. Juga sekali mandi untuk shalat Maghrib dan ‘Isya’. Serta untuk Subuh sekali mandi.

Berdasarkan hadis ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Sesungguhnya Ummu Habibah istihadhah pada zaman Rasulullah ﷺ. Lalu beliau ﷺ menyuruhnya mandi pada setiap akan shalat…” [Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 269)] dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/483 no. 289)]

Dan dalam satu riwayat lain dari ‘Aisyah, ia berkata: “Seorang wanita istihadhah pada zaman Rasulullah ﷺ. Lalu ia disuruh memajukan ‘Ashar dan mengakhirkan Zuhur, serta mandi satu kali untuk keduanya. Juga mengakhirkan Maghrib dan memajukan ‘Isya’, serta mandi satu kali untuk keduanya. Dan mandi satu kali untuk shalat Subuh. [Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 273)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/487 no. 291), dan Sunan an-Nasa-i (I/184)]

  1. Mandi Setelah Pingsan

Berdasarkan hadis ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Rasulullah ﷺ sakit parah. Beliau ﷺ lalu berkata: ‘Apakah orang-orang sudah shalat?’ Kami berkata: ‘Belum, mereka menunggu Anda, wahai Rasulullah.’ Beliau ﷺ berkata: ‘Letakkanlah air di bejana untukku.’ Kami pun melakukannya. Beliau ﷺ lalu mandi lantas bangkit dengan semangat. Namun beliau ﷺ pingsan lagi, lalu tersadar dan berkata: ‘Apakah orang-orang sudah shalat?’ Kami berkata: ‘Belum. Mereka menunggu Anda, wahai Rasulullah.’” ‘Aisyah lalu menyebutkan penisbatan hadis ini ke Abu Bakar dan kelanjutannya. [Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih Muslim (I/311 no. 418)] dan Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/172 no. 687)]

  1. Mandi Setelah Menguburkan Orang Musyrik

Berdasarkan hadis ‘Ali bin Thalib Radhiyallahu anhu. Dia mendatangi Nabi ﷺ dan berkata: “Sesungguhnya Abu Thalib telah meninggal dunia.” Beliau ﷺ berkata: “Pergi dan kuburkan dia.” Ketika aku telah menguburkannya, aku kembali kepada Nabi ﷺ. Beliau ﷺ bersabda: “Mandilah.” [Sanadnya Shahih: [Ahkaamul Janaa-iz (134)], Sunan an-Nasa-i (I/110), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IX/32 no. 3198)]

  1. Mandi Pada Dua Hari Raya dan Hari ‘Arafah

Berdasarkan riwayat al-Baihaqi dari jalur asy-Syafi’i dari Zadzan. Dia mengatakan bahwa seorang laki-laki bertanya kepada ‘Ali Radhiyallahu anhu tentang mandi. ‘Ali menjawab: “Mandilah tiap hari jika kau suka.” Dia berkata: “Bukan, maksud saya mandi yang benar-benar mandi (yang disyariatkan dalam agama-pent).” Dia berkata: “(Mandi) hari Jumat, hari ‘Arafah, hari raya Qurban, dan hari ‘Idul Fithri.”

  1. Mandi Setelah Memandikan Mayat

Berdasarkan sabda beliau ﷺ:

مَنْ غَسَّلَ مَيْتاً فَلْيَغْتَسِلْ.

“Barang siapa memandikan mayat, maka hendaklah ia mandi.” [Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1195)] dan Sunan Ibni Majah (I/470 no. 1463)]

  1. Mandi Untuk Ihram ‘Umrah Atau Haji

Berdasarkan hadis Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu: “Dia melihat Nabi ﷺ melepas pakaian berjahit dan mengenakan pakaian ihram) serta mandi untuk ihram.” [Hasan: [Irwaa’ al-Ghaliil (no. 149)] dan Sunan at-Tirmidzi (II/163 no. 831)]

  1. Mandi Ketika Memasuki Kota Makkah

Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, bahwa dia tidak mendatangi Makkah kecuali bermalam di Dzu Thuwa hingga datang pagi, dan dia pun mandi. Kemudian dia memasuki Makkah pada siang hari. Dia menyebutkan bahwa Nabi ﷺ pernah melakukannya. [Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih Muslim (II/919 no. 1259 (227))], ini adalah lafal darinya, Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (III/435 no. 1573), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (V/318 no. 1848), dan Sunan at-Tirmidzi (II/172 no. 854)]

 
[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA – Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 – September 2007M]
 
Sumber: https://almanhaj.or.id/679-mandi.html
 

HUKUM MANDI JUMAT BAGI WANITA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#MuslimahSholihah
HUKUM MANDI JUMAT BAGI WANITA
Pertanyaan:
Apa hukum mandi Jumat bagi wanita, sementara mereka tidak ikut Jumatan?
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Pertama:
Ulama berbeda pendapat tentang hukum mandi Jumat. Mayoritas ulama berpendapat, hukumnya dianjurkan dan tidak wajib. Sementara ulama lain menyatakan sebaliknya, mandi Jumat hukumnya wajib. Dan inilah pendapat yang lebih kuat, berdasarkan beberapa dalil yang lebih tegas. Di antara dalil yang menunjukkan kesimpulan ini adalah:

  1. Hadis dari Abu Said al-Khudri radhiallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

غُسْلُ يَوْمِ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ

“Mandi Jumat itu wajib bagi setiap orang yang sudah baligh.” (HR. Muslim dan Abu Daud)

  1. Hadis dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

حق لله على كل مسلم أن يغتسل في كل سبعة أيام، يغسل رأسه وجسده

“Kewajiban setiap Muslim kepada Allah, mereka harus mandi setiap tujuh hari. Membasahi kepala (keramas) dan seluruh badannya.” (HR. Muslim)
Hadis di atas menunjukkan, bahwa kewajiban mandi Jumat ini berlaku umum bagi setiap Muslim yang sudah baligh, baik laki-laki maupun wanita.
Kedua, terdapat beberapa riwayat yang menunjukkan, bahwa kewajiban mandi Jumat ini hanya berlaku untuk kaum Muslimin yang hendak menghadiri Jumatan.
Di antara riwayat tersebut adalah:

  1. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, Nabi ﷺ bersabda:

إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمُ الجُمُعَةَ، فَلْيَغْتَسِلْ

“Apabila kalian menghadiri Jumatan, hendaknya dia mandi.” (HR. Bukhari)

  1. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa khalifah Umar pernah khutbah Jumat. Kemudian ada salah satu jamaah yang datang telat. Setelah diingatkan, jamaah ini mengaku bahwa dia hanya wudhu dan tidak mandi. Selanjutnya Umar mengatakan:

أَلَمْ تَسْمَعُوا النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا رَاحَ أَحَدُكُمْ إِلَى الجُمُعَةِ فَلْيَغْتَسِلْ»

“Tidakkah kalian pernah mendengar, Nabi ﷺ bersabda: ‘Apabila kalian menghadiri Jumatan, hendaknya dia mandi’.” (HR. Bukhari).
Dua riwayat di atas lebih ditegaskan oleh hadis Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ أَتَى الْجُمُعَةَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ فَلْيَغْتَسِلْ , وَمَنْ لَمْ يَأْتِهَا فَلَيْسَ عَلَيْهِ غُسْلٌ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ

“Siapa yang menghadiri Jumatan, baik lelaki maupun wanita, hendaknya dia mandi. Dan siapa yang tidak mendatangi Jumatan, maka dia tidak wajib mandi, baik lelaki maupun wanita.”
Hadis ini diriwayatkan Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya dari jalur Utsman bin Waqid al-Umri. Sebagian ulama meragukan tambahan: “Siapa yang tidak mendatangi Jumatan…” karena riwayat dari Ibnu Umar tidak ada tambahan ini. Mereka menyatakan, ini bagian dari kesalah-pahaman Utsman. (Jami’ Ahkam An-Nisa, 1:53)
 
Hanya saja, riwayat ini dikuatkan dengan keterangan Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, beliau mengatakan:

إِنَّمَا الغُسْلُ عَلَى مَنْ تَجِبُ عَلَيْهِ الجُمُعَةُ

“Mandi Jumat hanya wajib bagi orang yang wajib Jumatan.” (HR. Bukhari secara Muallaq).
Mengingat hukum Jumatan tidak wajib bagi wanita, mereka tidak diwajibkan untuk mandi pada hari Jumat. Hanya saja, dianjurkan bagi mereka untuk mandi setiap pekannya, berdasarkan keumuman sabda Nabi ﷺ:

حق لله على كل مسلم أن يغتسل في كل سبعة أيام، يغسل رأسه وجسده

“Kewajiban setiap Muslim kepada Allah, mereka harus mandi setiap tujuh hari. Membasahi kepala (keramas) dan seluruh badannya.” (HR. Muslim)
Dan lebih ditekankan lagi, ketika wanita ini hendak menghadiri Jumatan, berdasarkan hadis Ibnu Umar dari Nabi ﷺ: “Apabila kalian menghadiri Jumatan, hendaknya dia mandi.” (HR. Bukhari).
Allahu a’lam
 
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)
Sumber: https://konsultasisyariah.com/13616-hukum-mandi-Jumat-bagi-wanita.html