, ,

TATA CARA WUDHU BAGI MUSLIMAH KETIKA BERADA DI TEMPAT UMUM

TATA CARA WUDHU BAGI MUSLIMAH KETIKA BERADA DI TEMPAT UMUM
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
TATA CARA WUDHU BAGI MUSLIMAH KETIKA BERADA DI TEMPAT UMUM
 
Kondisi paling aman bagi Muslimah adalah berwudhu di ruangan tertutup, sehingga ketika Muslimah hendak menyempurnakan mengusap atau membasuh anggota tubuh yang wajib dikenakan air wudhu, auratnya tidak terlihat oleh orang-orang yang bukan mahramnya. Sayangnya, tidak semua masjid menyediakan tempat wudhu yang berada di ruangan tertutup.

Lalu, bagaimana cara berwudhu jika kita berada di tempat umum yang terbuka?  Berdasarkan riwayat dari ‘Amru bin Umayyah radhiyallahu ‘anhu, dari bapaknya, beliau berkata:

 
رأيت النبي صلّى الله عليه وسلّم، يمسح على عمامته وخفَّيه
 
“Aku pernah melihat Nabi ﷺ mengusap bagian atas surbannya dan kedua khufnya.” [HR. Al-Bukhari dalam Fathul Bari (1/308 no. 205) dan lainnya]
 
Juga dari Bilal radhiyallahu ‘anhu:
 
أن النبي صلّى الله عليه وسلّم، مسح على الخفين والخمار
 
“Bahwasanya Nabi ﷺ mengusap kedua khuf dan khimarnya.” [HR. Muslim (1/231) no. 275]
Hal yang sama juga pernah dilakukan oleh Ummu Salamah (istri Nabi ﷺ), bahwa beliau berwudhu dan mengusap kerudungnya. [Disebutkan oleh Ibnu Qudamah dari Ibnu Al-Mundzir]. Karena itu, wanita yang berwudhu di tempat umum TIDAK BOLEH melepas jilbabnya, namun cukup mengusap bagian atas jilbabnya.
 
Catatan:
Dijelaskan oleh ulama bahwa tutup kepala boleh diusap, jika memenuhi dua syarat:
1. Menutupi seluruh bagian kepala.
2. Terdapat kesulitan untuk melepaskannya.
Karena itu, sebatas (menggunakan) peci (menyebabkan peci) tidak boleh diusap, tetapi (bagian kepalalah yang) harus (tetap) diusap. [Shifat Wudhu Nabi ﷺ, hlm. 28]
Alternatif lain adalah dengan wudhu di kamar mandi. Sebagian orang merasa khawatir dan ragu-ragu, bila wudhu di kamar mandi wudhunya tidak sah, karena kamar mandi merupakan tempat yang biasa digunakan untuk buang hajat, sehingga kemungkinan besar terdapat najis di dalamnya. Wudhu di kamar mandi hukumnya boleh, asalkan tidak dikhawatirkan terkena/ terpercik najis yang mungkin ada di kamar mandi.
 
Kita ingat kaidah yang menyebutkan: “Sesuatu yang yakin tidak bisa hilang dengan keraguan.” Keragu-raguan atau kekhawatiran kita terkena najis TIDAK BISA dijadikan dasar tidak bolehnya wudhu di kamar mandi, kecuali setelah kita benar-benar yakin, bahwa jika wudhu di kamar mandi kita akan terkena/ terpeciki najis. Jika kita telah memastikan bahwa lantai kamar mandi bersih dari najis, dan kita yakin tidak akan terkena/ terperciki najis, maka insya Allah tak mengapa wudhu di kamar mandi.
 
Sedangkan pelafalan “Bismillah” di kamar mandi, menurut pendapat yang lebih tepat adalah BOLEH melafalkannya di kamar mandi. Hal ini dikarenakan membaca Bismillah pada saat wudhu hukumnya wajib, sedangkan menyebut nama Allah di kamar mandi hukumnya makruh. Kaidah mengatakan, bahwa “Makruh itu berubah menjadi mubah jika ada hajat. Dan melaksanakan kewajiban adalah hajat.”
 
Adapun membaca zikir setelah wudhu dapat dilakukan setelah keluar kamar mandi, yaitu setelah membaca doa keluar kamar mandi. Untuk itu disarankan setelah berwudhu, tidak berlama-lama di kamar mandi (segera keluar).
 
Bagaimana bila kita yakin bahwa bila wudhu di kamar mandi kita akan terkena/ terperciki najis?
 
> Dengan alasan terkena najis, maka sebaiknya tidak wudhu di kamar mandi atau disiram dulu sampai bersih.
 
> Alternatif lainnya adalah dengan cara mengusap khuf. jaurab, dan jilbab tanpa harus membukanya. Pembahasan tentang ini masuk dalam bab mengusap khuf. Tentu timbul pertanyaan lain, bagaimana dengan tangan? Jika jilbab kita sesuai dengan syariat, insya Allah hal ini bisa diatasi. Karena bagian tangan yang perlu dibasuh bisa dilakukan di balik jilbab kita yang terulur panjang. Sehingga tangan kita tidak akan terlihat oleh umum, insya Allah.
 
Wallahu a’lam bi shawab.
Sumber:
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#tempatumum, #mallmall,  #luar rumah #tatacara, #cara, #wudhuk, #wudluk, #muslimah, #wanita, #perempuan, #kerudung, #hijab, #jilbab, #khuff, #kaoskaki, #kauskaki, #sepatu, #sandal, #kaidah, #kaedah, #fikih, #fiqih, #fiqh
,

TERHAPUSNYA DOSA YANG DIPERBUAT ANGGOTA WUDHU BERSAMAAN DENGAN KELUARNYA TETESAN AIR WUDHU

TERHAPUSNYA DOSA YANG DIPERBUAT ANGGOTA WUDHU BERSAMAAN DENGAN KELUARNYA TETESAN AIR WUDHU

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#MutiaraSunnah, #SifatWudhuNabi

TERHAPUSNYA DOSA YANG DIPERBUAT ANGGOTA WUDHU BERSAMAAN DENGAN KELUARNYA TETESAN AIR WUDHU
 
Orang yang berwudhu dengan benar dan sempurna, maka dosa-dosa yang diperbuat oleh anggota wudhunya akan keluar (terhapus), bersamaan dengan keluarnya tetesan air wudhunya. Hal ini sebagaimana hadis berikut ini:
 
عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ خَرَجَتْ خَطَايَاهُ مِنْ جَسَدِهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ أَظْفَارِهِ ».
 
Dari Utsman bin Affan radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa yang berwudhu, lalu membaguskan wudhunya’, keluarlah dosa-dosanya dari badannya, bahkan (dosa-dosanya) akan keluar dari bawah kuku-kukunya.” [Shahih. HR. Muslim I/149 no.601]
 
Maksud memerbaiki wudhu adalah mengerjakannya secara sempurna (mencakup rukun, wajib, dan sunnah wudhu), sesuai dengan petunjuk Nabi ﷺ.
 
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِذَا تَوَضَّأَ الْعَبْدُ الْمُسْلِمُ – أَوِ الْمُؤْمِنُ – فَغَسَلَ وَجْهَهُ خَرَجَ مِنْ وَجْهِهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ نَظَرَ إِلَيْهَا بِعَيْنَيْهِ مَعَ الْمَاءِ – أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ – فَإِذَا غَسَلَ يَدَيْهِ خَرَجَ مِنْ يَدَيْهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ كَانَ بَطَشَتْهَا يَدَاهُ مَعَ الْمَاءِ – أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ – فَإِذَا غَسَلَ رِجْلَيْهِ خَرَجَتْ كُلُّ خَطِيئَةٍ مَشَتْهَا رِجْلاَهُ مَعَ الْمَاءِ – أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ – حَتَّى يَخْرُجَ نَقِيًّا مِنَ الذُّنُوبِ ».
 
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila seorang hamba Muslim atau Mukmin berwudhu, lalu membasuh wajahnya, maka keluarlah dari wajahnya segala dosa-dosa karena penglihatan matanya, bersama dengan air, atau bersama tetes air yang terakhir. Apabila membasuh kedua tangannya, maka keluarlah dari kedua tangannya, segala dosa-dosa karena perbuatan kedua tangannya, bersama dengan air, atau bersama tetes air yang terakhir. Apabila membasuh kedua kakinya, maka keluarlah dari kedua kakinya, segala dosa-dosa yang ditempuh oleh kedua kakinya, bersama dengan air, atau bersama tetes air yang terakhir, sehingga ia keluar dalam keadaan bersih dari dosa-dosa”. [Shahih. HR. Ahmad II/303 no.8007, Muslim I/215 no.244, Tirmidzi I/6 no.2, dan selainnya].
, ,

CELAKALAH TUMIT YANG TIDAK TERBASUH WUDHU!

CELAKALAH TUMIT YANG TIDAK TERBASUH WUDHU!

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatWudhuNabi

CELAKALAH TUMIT YANG TIDAK TERBASUH WUDHU!

Banyak di antara kaum Muslimin yang ketika mencuci/membasuh kaki saat berwudhu tidak memerhatikan tumitnya. Mereka tergesa-gesa ketika berwudhu, hanya sekadar menjulurkan kaki di bawah kran air yang mengalir, sehingga ada banyak bagian dari tumitnya yang tidak terbasuh dengan air. Ini adalah kesalahan besar yang wajib untuk diingatkan, karena mereka menunaikan shalat dalam keadaan tidak sah wudhunya

Ada hadis yang membicarakan ancaman bagi orang yang tidak berwudhu dengan sempurna. Dalilnya adalah:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ تَخَلَّفَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فِى سَفَرٍ سَافَرْنَاهُ فَأَدْرَكَنَا وَقَدْ أَرْهَقْنَا الصَّلاَةَ صَلاَةَ الْعَصْرِ وَنَحْنُ نَتَوَضَّأُ ، فَجَعَلْنَا نَمْسَحُ عَلَى أَرْجُلِنَا ، فَنَادَى بِأَعْلَى صَوْتِهِ « وَيْلٌ لِلأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ » . مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثً

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata: “Kami pernah tertinggal dari Rasulullah ﷺ dalam suatu safar. Kami lalu menyusul beliau dan ketinggalan shalat, yaitu shalat ‘Ashar. Kami berwudhu sampai bagian kaki hanya diusap (tidak dicuci, -pen). Lalu beliau ﷺ memanggil dengan suara keras dan berkata: “Celakalah tumit-tumit dari api Neraka.” Beliau ﷺ menyebut dua atau tiga kali. (HR. Bukhari no. 96 dan Muslim no. 241). Yang namanya diusap, berarti tangan cukup dibasahi lalu menyentuh bagian anggota wudhu, tanpa air mesti dialirkan.

Dalam riwayat Muslim, disebutkan bahwa ‘Abdullah bin ‘Amr berkata:

رَجَعْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مِنْ مَكَّةَ إِلَى الْمَدِينَةِ حَتَّى إِذَا كُنَّا بِمَاءٍ بِالطَّرِيقِ تَعَجَّلَ قَوْمٌ عِنْدَ الْعَصْرِ فَتَوَضَّئُوا وَهُمْ عِجَالٌ فَانْتَهَيْنَا إِلَيْهِمْ وَأَعْقَابُهُمْ تَلُوحُ لَمْ يَمَسَّهَا الْمَاءُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « وَيْلٌ لِلأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ أَسْبِغُوا الْوُضُوءَ »

“Kami pernah kembali bersama Rasulullah ﷺ dari Makkah menuju Madinah hingga sampai di air di tengah jalan, sebagian orang tergesa-gesa untuk shalat ‘Ashar. Lalu  mereka berwudhu dalam keadaan terburu-buru. Kami pun sampai pada mereka dan melihat air tidak menyentuh tumit mereka. Rasulullah ﷺ lantas bersabda: “Celakalah tumit-tumit dari api Neraka. Sempurnakanlah wudhu kalian.” (HR. Muslim no. 241).

Yang dimaksud a’qoob dalam hadis di atas adalah urat di atas tumit, disebut ‘aroqib. Kata ‘wail’ dalam hadis menunjukkan ancaman dan hukuman.

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah berkata: “Hadis di atas adalah ancaman untuk tumit (perkara yang kecil), namun ancaman ini berlaku juga untuk hal yang lebih dari itu. Karena jika tidak dimaafkan yang sepele seperti tumit, maka yang lebih dari itu tentu tidak dimaafkan.” (At Ta’liqot ‘ala ‘Umdatil Ahkam, hal. 26).

Hadis ini juga menerangkan wajibnya menyempurnakan wudhu dan perintah membasuh anggota-anggota wudhu. Yang luput dari hal ini, ia terjerumus dalam dosa besar karena diancam dengan Neraka seperti itu. Diterangkan oleh Syaikh As Sa’di di halaman yang sama.

Syaikh As Sa’di juga mengatakan: “Jika menganggap sepele dalam berwudhu tercela, begitu pula berlebihan dan mendapati was-was dalam wudhu juga sama tercela.” (At Ta’liqot ‘ala ‘Umdatil Ahkam, hal. 26).

Faidah yang terdapat dalam Hadis:

Pertama:

Wajibnya membasuh/mencuci kedua kaki dengan air secara sempurna ketika berwudhu. Tidak cukup hanya dengan mengusapnya. Sebab seandainya dengan mengusap saja cukup, niscaya Nabi ﷺ tidak akan memberikan ancaman Neraka bagi orang yang tidak membasuh/mencuci kedua tumitnya. Demikian penjelasan Ibnu Khuzaimah, Ibnu Abdil Barr, dan an-Nawawi. Dalam sebagian riwayat Muslim dari jalan Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi ﷺ bersabda: “Celakalah mata kaki -yang tidak terbasuh air itu- karena jilatan api Neraka.” Dalam riwayat ini juga dikatakan, bahwa suatu ketika Nabi ﷺ melihat seorang lelaki yang tidak membasuh kedua tumitnya, lantas beliau ﷺ memberikan teguran keras semacam itu. Sehingga hal ini menjadi bantahan bagi kaum Syiah yang hanya mewajibkan mengusap kaki. Ini adalah pendapat yang batil, menyelisihi Alquran dan Sunnah Rasulullah ﷺ serta Ijma’ umat Islam. Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فاغْسِلُواْ وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُواْ بِرُؤُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَينِ…

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuhlah) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” [QS. Al Maidah: 6]

Abdurrahman bin Abi Laila berkata: “Para sahabat Rasulullah ﷺ sepakat mengenai wajibnya membasuh/mencuci kedua kaki.” (Lihat Syarh Muslim [3/29-32], Fath al-Bari [1/319-320], al-Istidzkar [2/51] pdf).

Kedua:

Menunjukkan siksa Neraka ada dua macam. Pertama siksaan yang sifatnya menyeluruh tanpa terkecualikan (seluruh badan). Dan yang kedua adalah siksaan yang sifatnya parsial, seperti disebutkan dalam hadis. Hanya tumitnya saja yang disiksa tanpa anggota tubuh yang lain.

Ketiga:

Perintah untuk menyempurnakan wudhu. Yang dimaksud menyempurnakan wudhu adalah menunaikan hak masing-masing anggota badan yang dibersihkan/dibasuh ketika wudhu (Lihat Taudhih al-Ahkam [1/217], Syarh Muslim [3/41])

Keempat: Termasuk dalam perintah menyempurnakan wudhu adalah menyela-nyelai jari-jari kaki dengan air. Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Tirmidzi dan dihasankan oleh Bukhari dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma:

“Apabila kamu berwudhu, maka sela-selailah jari tangan dan jari kakimu.”

Hadis semakna juga diriwayatkan oleh Tirmidzi dari sahabat Laqith bin Shabirah radhiyallahu’anhu yang disahkan oleh Tirmidzi sendiri, al-Baghawi dan Ibnu al-Qaththan (Lihat Nail al-Authar [1/182] dan Tuhfat al-Ahwadzi [1/149-150] ).

Kelima: Barang siapa meninggalkan anggota wudhu tidak terbasuh oleh air, meskipun hanya selebar kuku, maka wudhunya tidaklah sah. Berkata Al Imam An Nawawy: Ini adalah perkara yang telah disepakati (oleh para ulama). Telah diriwayatkan oleh Al Imam Muslim dari shahabat Umar Ibnul Khattab, beliau berkata:

أَنَّ رَجُلًا تَوَضَّأَ فَتَرَكَ مَوْضِعَ ظُفُرٍ عَلَى قَدَمِهِ فَأَبْصَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ ارْجِعْ فَأَحْسِنْ وُضُوءَكَ فَرَجَعَ ثُمَّ صَلَّى

“Bahwa seorang laki-laki berwudhu, lalu meninggalkan (kering) selebar kuku di atas kakinya. Saat Nabi ﷺ melihatnya, maka beliau ﷺ pun bersabda: “Kembali dan perbaguslah wudhumu.” Maka dia kembali (berwudhu) kemudian melakukan shalat.”

Wallahu ta’ala a’lam.

 

Diambil dari berbagai sumber, di antaranya:

 

http://abuayaz.blogspot.co.id/2011/05/celakalah-tumit-yang-tidak-terbasuh-air.html

 

 

, , ,

APA YANG HARUS DILAKUKAN KETIKA KITA MENEMUI KONDISI BERIKUT?

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

APA YANG HARUS DILAKUKAN KETIKA KITA MENEMUI KONDISI BERIKUT?

>> Jawaban dari Banyak Masalah Penting Yang Munking Pernah Kita Alami dalam Kehidupan Sehari-hari

Tulisan ini disadur dari risalah “Maadza Taf’alu Fil Haalaati At-Taliyah” karya Syaikh Muhammad Sholeh al-Munajid. Temukan jawaban untuk kasus-kasus penting, yang mungkin pernah kita alami dalam kehidupan sehari-hari.

Menghilangkan Penghalang Air Wudhu

>> Ketika seseorang berwudhu, ternyata di salah satu anggota wudhu ada bagian yang tertutupi benda tertentu, (misalnya cat untuk kuku), sehingga menghalangi air terkena bagian kulit. Apakah berusaha membersihkan benda semacam ini bisa menyebabkan wudhu seseorang terputus?

Jawaban:

Usaha membersihkan benda penghalang wudhu semacam ini, tidaklah menyebabkan wudhu terputus, menurut pendapat yang lebih kuat. Sehingga tidak perlu mengulangi wudhu dari awal. Meskipun anggota wudhu sebelumnya sudah kering. Sebagai contoh: seseorang berwudhu dengan sempurna. Giliran mencuci kaki, ternyata ada cat di kuku yang belum dibersihkan. Kemudian dia berusaha membersihkannya. Dalam kondisi semacam ini, dia tidak perlu mengulangi wudhu dari awal, tapi cukup mencuci kaki, setelah membersihkan bekas cat, meskipun wajah dan tangan sudah kering.

Penjelasannya:

Melakukan kegiatan di tengah-tengah wudhu hukumnya dibagi menjadi dua:

  1. Melakukan kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan berwudhunya, seperti mengambil air, menyalakan pompa air, pindah dari satu kran ke kran yang lain, membersihkan benda najis di bagian anggota wudhu, atau membersihkan sesuatu yang menghalangi air dari anggota wudhu. Semua kegiatan ini TIDAK memutus wudhu, sehingga tidak perlu mengulangi wudhu dari awal, meskipun anggota wudhu sebelumnya telah kering.
  2. Melakukan kegiatan yang tidak ada hubungannya dengan wudhu, seperti membersihkan najis di pakaian, makan, minum, menolong orang, mengobrol, baik langsung maupun lewat telepon, atau yang lainnya. Kegiatan semacam ini, jika dilakukan di tengah-tengah wudhu, dan mengakibatkan anggota wudhu sebelumnya kering, maka wudhunya harus diulangi dari awal.

Demikian penjelasan dari Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin [Majmu’ Fatawa Ibn Utsaimin, 11/146]

Darah Ketika Keguguran

>> Apabila seorang wanita mengalami keguguran, kemudian keluar darah, apa yang harus dilakukan?

Jawaban:

Kondisi semacam ini dikembalikan kepada jenis darah yang keluar, apakah darah nifas ataukah darah istihadhah. Para ulama memberikan batasan: “Darah yang keluar setelah wanita melahirkan karena keguguran, dan janin sudah berbentuk manusia, maka dihukumi darah nifas. Namun jika darah ini keluar, sementara janin yang keguguran baru sebatas segumpal darah atau daging, maka tidak dihukumi nifas.” [Al-Mughni, 1/392).

Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin mengatakan:

Ketika janin yang keguguran belum berbentuk manusia, maka dalam keadaan ini darah yang keluar adalah darah istihadhah. Wanita ini disyariatkan untuk berwudhu setiap hendak melaksanakan shalat, setelah masuk waktu shalat, dan boleh langsung melaksanakannya. Adapun jika janin yang keguguran sudah berbentuk makhluk (manusia), atau sudah berada pada tahap pembentukan salah satu anggota badan, seperti tangan, kaki, atau kepala, maka darah yang keluar ketika persalinan dihukumi darah nifas.

Jika ada yang mengatakan: Proses persalinan ini dilakukan di rumah sakit, sementara para tim medis langsung mengambilnya dan mengamankannya, sehingga orang tuanya tidak tahu. Lalu apa yang harus dilakukan? Syaikh Utsaimin menjawab: Para pakar telah menyebutkan, bahwa batas waktu minimal, di mana bisa kelihatan pembentukan salah satu anggota badan adalah 81 hari usia kehamilan. [Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, 4/292]

Komentar Syaikh Muhammad Munajid:

Namun selayaknya, masalah semacam ini dikonsultasikan kepada para dokter. Kemudian disesuai dengan prediksi dokter, sehingga dia bisa mendapatkan informasi yang lebih valid tentang janinnya.

Darah Yang Keluar Sebelum Melahirkan

>> Apa hukum darah yang keluar sebelum melahirkan?

Jawaban:

Tentang darah yang keluar beberapa saat sebelum melahirkan dirinci menjadi dua:

  1. Jika keluarnya darah tersebut disertai dengan sakitnya kontraksi karena proses pembukaan, maka darah adalah darah nifas.
  2. Jika keluarnya darah tersebut TIDAK disertai dengan kontraksi, maka darah itu bukan nifas, tetapi istihadhah.

Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin menerangkan bahwa Syaikhul Islam Ibn Taimiyah mengatakan:

Darah yang dilihat wanita ketika mulai berkontraksi, maka statusnya adalah darah nifas. Yang dimaksud kontraksi adalah proses pembukaan yang meruapakan tahapan proses melahirkan. Jika tidak disertai semacam ini, maka bukan nifas. [Majmu’ Fatawa Syaikh Ibn Utsaimin, 4/328]

Ketika Tidak Bisa Khusyu Dalam Shalat

>> Apa yang harus dilakukan, ketika kita merasa mendapat gangguan dari setan, terlintas pikiran yang mengganggu konsentrasi shalat, sehingga menyebabkan kita tidak bisa khusyu dalam shalat?

Jawaban:

Kasus semacam ini pernah dialami oleh salah seorang sahabat, yaitu Utsman bin Abil ‘Ash radhiallahu ‘anhu. Beliau datang kepada Nabi ﷺ mengadukan gangguan yang dia alami ketika shalat. Kemudian beliau ﷺ bersabda:

ذاك شيطان يقال له خنزب فإذا أحسسته فتعوذ بالله منه واتفل على يسارك ثلاثاً

“Itu adalah setan, namanya Khinzib. Jika kamu merasa diganggu, mintalah perlilndungan kepada Allah dari gangguannya, dan meludahlah ke kiri tiga kali.”

Kata Utsman: Akupun melakukannya, kemudian Allah menghilangkan gangguan itu dariku. [HR. Muslim no. 2203]

Pelajaran Hadis:

  1. Dalam hadis di atas, Nabi ﷺ mengajarkan kepada kita dua cara untuk menghilangkan gangguan setan dalam shalat:
  2. Memohon perlindungan kepada Allah, dengan membaca Ta’awudz (a-‘udzu billahi minas syaithanir rajiim). Bacaan ini dilafalkan, BUKAN dibatin. Dan ini hukumnya dibolehkan dan TIDAK membatalkan shalat.
  3. Meludah ringan ke kiri. Bentuknya dengan meniupkan udara yang mengandung sedikit air ludah. Ini dibolehkan, dengan syarat tidak mengganggu orang yang berada di sebelah kirinya, dan tidak mengotori masjid.

Allahu a’lam

Azan Subuh Terdengar Ketika Shalat Witir

>> Ketika sedang melaksanakan shalat Witir, tiba-tiba di tengah shalat terdengar azan Subuh. Bolehkah kita melanjutkan shalat Witir?

 

Jawaban:

Ketika seseorang mendengar azan Subuh, sementara dia sedang shalat Witir, maka dia sempurnakan shalat Witirnya, dan semacam ini dibolehkan. [Fatawa Islamiyah Syaikh Ibn Utsaimin, 1:346]

Permasalahan semacam ini sebenarnya termasuk dalam pembahasan waktu shalat Witir. Ulama berselisih pendapat, apakah berakhirnya waktu shalat Witir itu sampai terbit fajar ataukah sampai selesainya shalat Subuh. Mayoritas Ulama berpendapat, waktu berakhirnya shalat Witir adalah sampai terbit fajar. Meskipun banyak ulama lainnya yang membolehkan shalat Witir setelah azan Subuh, bagi yang berhalangan, sehingga tidak bisa melaksanakannya sebelum Subuh. [Mausu’ah Fiqhiyah Muyassarah]

Belum Ashar Tetapi Shalat Maghrib Sudah Dimulai

>> Ketika seseorang belum sempat melaksanakan shalat Ashar karena alasan yang dibenarkan, kemudian di datang ke masjid, dan ternyata shalat Maghrib telah dimulai, apa yang harus dilakukan?

Jawaban:

Syaikhul Islam Ibn Taimiyah rahimahullah mengatakan:

Dia disyariatkan untuk melaksanakan shalat Maghrib berjamaah bersama imam, kemudian shalat Ashar. Ini berdasarkan kesepakatan ulama. Apakah orang ini harus mengulangi shalat Maghribnya, setelah mengerjakan shalat Ashar? Dalam hal ini ada dua pendapat:

  1. Dia harus mengulangi Maghribnya. Ini adalah pendapat Ibn Umar, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan pendapat yang masyhur dari Imam Ahmad.
  2. Tidak perlu mengulangi Maghribnya. Ini adalah pendapat Ibn Abbas, Imam Syafi’i, dan pendapat kedua Imam Ahmad.

Pendapat kedua lebih kuat. Karena Allah tidaklah mewajibkan seorang hamba untuk melaksanakan shalat wajib dua kali, jika sikapnya ini disebabkan adanya uzur, diperbolehkan. [Majmu’ Fatawa Ibn Taimiyah, 22:106]

Makmum TidakMengetahui Apakah Imam Musafir atau Mukim

>> Ketika seorang musafir hendak mengikuti shalat jamaah, sementara dia tidak tahu apakah imamnya itu musafir ataukah penduduk asli, kemudian si musafir ini mengikuti shalat jamaah menjadi makmum, apakah dia niatkan untuk qashar ataukah niat sebagaimana shalatnya orang mukim, empat rakaat?

Jawaban:

Yang lebih kuat, hendaknya dia melihat ciri imamnya, sehingga bisa memerkirakan, apakah dia musafir ataukah mukim. Kemudian dia mengambil sikap sebagaimana dugaan kuat yang dia ketahui. Dalilnya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Ibn Abbas, bahwa beliau ditanya: Mengapa musafir shalatnya diqashar ketika sendirian dan empat rakaat ketika menjadi makmum orang yang mukim? Beliau menjawab: “Itu adalah sunnah Abul Qasim (Nabi Muhammad ﷺ).” Hadis ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir dalam ta’liq beliau untuk musnad Imam Ahmad.

Catatan:

Seorang musafir menjadi makmum masbuk, ketinggalan dua rakaat, dan dia berniat qashar, karena beranggapan imamnya seorang musafir, padahal imamnya bukan musafir. Setelah salam bersama imam, dia mendapat info, bahwa imam bukan musafir. Maka dia harus menambahi dua rakaat lagi untuk menyempurnakan shalatnya dan Sujud Sahwi setelah salam. Demikian keterangan Imam an-Nawawi dalam al-Majmu’, 4:356. Syaikh Muhammad al-Munajid menambahkan: Pembicaraan yang dilakukan orang ini di sela-sela shalatnya (setelah salam di rakaat kedua), tidaklah menyebabkan shalatnya putus. Namun dia dibolehkan melanjutkan dan menyempurnakan shalatnya, tanpa harus memulai dari awal. Selama pembicaraan itu bertujuan untuk kepentingan shalatnya.

Bolehnya Melakukan Gerakan Ringan di Luar Shalat, Bila Ada Kebutuhan Mendesak

>> Ketika di tengah shalat, tiba-tiba ada orang yang mengetuk pintu. Atau ada seorang ibu yang shalat, sementara bayinya melakukan tindakan yang berbahaya, apa yang harus dilakukan?

Jawaban:

Dibolehkan bagi orang yang shalat untuk melakukan gerakan ringan, karena suatu kebutuhan yang mendesak, dengan syarat, tidak mengubah arah Kiblatnya. Seperti membukakan pintu yang berada di arah Kiblat.

Dalilnya adalah hadis yang diriwayatkan Abu Daud, dari A’isyah radhiallahu ‘anha, beliau mengatakan:

Rasulullah ﷺ pernah shalat, sementara pintu rumah terkunci. Kemudian saya datang, dan saya minta agar dibukakan. Beliau ﷺ pun berjalan dan membukakan pintu, lalu beliau kembali lagi ke tempat shalatnya. Disebutkan bahwa pintu rumah beliau berada di arah Kiblat. [HR. Abu Daud no. 922 dan dishahihkan al-Albani]

Demikian pula seorang ibu yang sedang shalat, dan dia melihat anaknya melakukan hal yang membahayakan, maka dia dibolehkan untuk melakukan gerakan ringan ke kanan, ke kiri, ke depan, atau belakang. Dan ini tidak merusak shalatnya. Termasuk dalam hal ini adalah orang yang shalat, tiba-tiba sarungnya mau lepas, maka dia dibolehkan untuk melakukan gerakan dalam rangka mengencangkan sarungnya. Bahkan dalam kondisi tertentu yang sangat mendesak, syariat membolehkan melakukan gerakan yang banyak, meskipun menyebabkan Kiblatnya berubah. Sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Bunuhlah dua hewan yang hitam (meskipun) ketika sedang shalat, yaitu ular dan kalajegking.” [HR. Abu Daud no. 921 dan dishahihkan al-Albani]

Cara Menjawab Salam Ketika Shalat

>> Bagaimana cara menjawab salam ketika shalat?

Jawaban:

Dari Shuhaib bin Sinan radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan: “Saya melewati Nabi ﷺ ketika beliau sedang shalat. Kemudian saya mengucapkan salam kepada beliau dan beliau menjawabnya dengan isyarat.” [HR. Abu Daud no. 925 dan dishahihkan al-Albani)

Bagaimana Cara Isyaratnya?

Disebutkan dalam beberapa riwayat, di antaranya dari Ibn Umar radhiallahu ‘anhuma, beliau mengatakan: Rasulullah ﷺ pernah berangkat menuju masjid Quba untuk melaksanakan shalat. Kemudian datanglah sekelompok masyarakat Anshar dan mengucapkan salam kepada beliau ﷺ, ketika beliau sedang shalat. Ibn Umar bertanya kepada Bilal: “Bagaimana yang kamu lihat ketika Nabi ﷺ menjawab orang Anshar yang mengucapkan salam kepada beliau, sementara beliau ﷺ sedang shalat?” Bilal menjawab: “Beliau ﷺ berisyarat seperti ini.” Bilal membuka telapak tangannya. Salah seorang perawi yang bernama Ja’far bin ‘Aun membuka telapak tangannya, di mana bagian telapak tangan mengarah ke bawah dan bagaian punggung mengarah ke atas. [HR. Abu Daud no. 927 dan dishahihkan al-Albani]

>> Supaya Tidak Malu, Bagaimana Cara Meninggalkan Tempat Shalat Ketika Berhadats?

Jika ada orang yang berhadats ketika shalat jamaah, apa yang harus dia lakukan untuk bisa meninggalkan tempat, tanpa menimbulkan rasa malu?

Jawaban:

Hendaknya dia pegang hidungnya, kemudian keluar. Dalil tentang hal ini adalah hadis dari A’isyah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا أَحْدَثَ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ فَلْيَأْخُذْ بِأَنْفِهِ ثُمَّ لِيَنْصَرِفْ

“Apabila kalian berhadats ketika shalat jamaah, maka hendaknya dia pegang hidungnya kemudian dia meninggalkan tempat.” [HR. Abu Daud no. 1114 dan dishahihkan al-Albani)

Imam at-Thibi mengatakan: Adanya perintah memegang hidung ketika batal shalatnya, agar dikira dia mimisan. Dan ini tidak termasuk berbohong, namun sebatas menutupi keadaan dengan perbuatan. Tindakan semacam ini mendapatkan keringanan, agar setan tidak menggodanya untuk tidak melaksanakan jamaah karena malu dengan jamaah lainya. [Lihat Mirqatul Mafatih, 3: 18]

Syaikh Muhammad Munajid memberika komentar:

Semacam ini termasuk tauriyah yang dibolehkan, dan tindakan menutupi diri dengan bentuk yang terpuji, dalam rangka menghilangkan rasa malu. Sehingga orang yang melihatnya menyangka, kalau dia keluar disebabkan mimisan di hidungnya. Disamping itu, manfaat lain dari petunjuk Nabi ﷺ ini adalah untuk menghilangkan godaan setan, dengan tetap berada di shaf atau melanjutkan jamaah, sementara dia berhadats. Ini merupakan tindakan yang tidak Allah ridhai. Betapa tidak, padahal Nabi ﷺ mensyariatkan untuk pergi.

Meski Sudah Shalat, Tetap Diperintahkan Shalat Lagi. Kenapa?

>> Seseorang telah melaksanakan shalat di suatu masjid, kemudian dia berangkat menuju masjid yang lain untuk acara kegiatan tertentu, seperti kajian atau yang lainnya. Sesampainya di masjid kedua, ternyata shalat belum selesai. Apa yang harus dia lakukan?

Jawaban:

Hendaknya dia masuk masjid dan langsung ikut shalat berjamaah, dan dia niatkan sebagai shalat sunnah. Shalat ini boleh dilakukan, meskipun dilakukan di waktu-waktu yang terlarang untuk shalat. Dalilnya adalah hadis dari Yazid bin Aswad radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan:

Aku ikut haji bersama Nabi ﷺ. Kemudian aku shalat Subuh bersama beliau ﷺ di Masjid Khaif. Setelah selesai shalat, beliau ﷺ berbalik. Tiba-tiba ada dua orang duduk di belakang yang tidak ikut shalat bersama beliau ﷺ. Beliau ﷺ bersabda: “Suruh dua orang itu ke sini.” Keduanya pun disuruh menghadap Nabi ﷺ, sementara badannya gemetaran (karena takut). Beliau ﷺ bertanya: “Apa yang menghalangimu, sehingga tidak shalat jamaah bersama kami?” Mereka menjawab: Wahai Rasulullah, kami tadi sudah shalat di jalan. Kemudian beliau ﷺ bersabda: “Jangan kamu lakukan itu. Jika kalian telah shalat di jalan, kemudian kalian singgah di masjid yang sedang dilaksanakan jamaah, ikutlah shalat bersama mereka. Sesungguhnya shalat yang kedua ini menjadi shalat sunnah bagi kalian.” [HR. Turmudzi no. 219 dan dishahihkan al-Albani]

Syaikh Muhammad Munajid mengatakan:

Dalam hadis di atas disebutkan, bahwa kedua orang tersebut datang ke masjid setelah melaksanakan shalat Subuh. Dan ini termasuk waktu terlarang. Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam al-Muwatha’, dari Mihjan radhiallahu ‘anhu, bahwa beliau berada di majelis Nabi ﷺ. Tiba-tiba azan dikumandangkan. Rasulullah ﷺ pun melaksanakan shalat bersama jamaah, sementara Mihjan tetap berada di tempat duduknya dan tidak ikut shalat berjamaah. Rasulullah ﷺ bertanya: “Apa yang menghalangimu untuk ikut shalat jamaah? Bukankah kamu seorang Muslim?” Mihjan menjawab: “Betul, wahai Rasulullah, akan tetapi saya sudah shalat di rumahku.” Nabi ﷺ bersabda: “Jika kamu datang (di masjid), shalatlah berjamaah bersama masyarakat. Meskipun kamu sudah shalat.” [Al-Muwatha’, 1:130 dan dishahihkan al-Albani]

Ketika Hendak Shalat, Tapi Tidak Tahu Arah Kiblat

>> Jika dalam suatu tempat kita tidak tahu arah Kiblat, apa yang harus dilakukan?

Jawaban:

Yang harus dilakukan ketika orang hendak shalat, sementara dia tidak tahu Kiblat adalah:

Ibn Qudamah [Al-Mughni dengan as-Syarhul Kabir, 1: 490] mengatakan:

Orang yang tidak tahu arah Kiblat, maka dia wajib bertanya jika memungkinkan. Jika tidak, maka dia boleh berijtihad (berusaha mencari berdasarkan indikator tertentu), jika dia mampu melakukannya. Jika dia tidak mampu (sementara dia rombongan), maka dia mengikuti orang yang layak untuk diikuti dalam masalah ini. Jika tidak ada yang bisa diikuti (karena sama-sama tidak tahu), maka bertaqwalah kepada Allah semampunya, dan dia boleh shalat (ke arah yang dia yakini sebagai Kiblat) dan shalatnya sah (meskipun bisa jadi Kiblatnya salah). Akan tetapi bagi orang yang memungkinkan untuk mencari arah Kiblat, namun dia santai dan tidak berusaha mencarinya, kemudian langsung shalat, maka shalatnya batal dan wajib diulangi, karena orang ini dianggap meremehkan (arah Kiblat).

Jika Masing-Masing Anggota Rombongan Anggota Berbeda Pendapat dalam Menentukan Arah Kiblat

>> Jika dalam rombongan masing-masing anggota berbeda pendapat dalam menentukan arah Kiblat, bagaimana solusinya?

Jawaban:

Ulama berselisih pendapat tentang bolehnya mengikuti anggota rombongan yang lain. Apakah sah shalat salah satu anggota rombongan yang bermakmum di belakang anggota rombongan yang lain, sementara keduanya berbeda pendapat dalam menentukan arah Kiblat? Namun jika ada di antara mereka yang sama sekali tidak memahami Kiblat, maka dia harus memilih salah satu anggota rombongan yang paling bisa dipercaya dalam menentukan arah Kiblat, kemudian dia ikuti. [Al-Mughni dengan as-Syarhul Kabir, 1:473]

Jika ada orang yang shalat berjamaah, kemudian di tengah-tengah shalat mereka sadar bahwa arah Kiblatnya keliru, maka mereka harus bersama-sama mengubah arah Kiblat TANPA membatalkan shalat. Demikian pula, untuk orang yang shalat sendirian. Jika di tengah shalat, dia diberi tahu bahwa arah Kiblatnya salah, maka wajib untuk langsung mengubah arah, tanpa membatalkan shalat, kemudian langsung melanjutkannya.

Dalilnya adalah hadis Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan:

Dulu Rasulullah ﷺ shalat menghadap ke Baitul Maqdis (Palestina). Kemudian turun firman Allah:

قد نرى تقلب وجهك في السماء فلنولينك قبلة ترضاها فولِّ وجهك شطر المسجد الحرام

“Kami telah mengetahui bolak-balik wajahmu yang menengadahkan ke langit. Sungguh Kami akan mengubah arah Kiblat ke arah yang kamu inginkan. Karena itu, hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram.” [QS. Al-Baqarah: 144]

Setelah itu ada seseorang yang mendatangi Bani Salamah. Ketika itu mereka sedang shalat Subuh pada posisi sedang rukuk di rakaat kedua, kemudian orang ini berteriak: “Ketahuilah, arah Kiblat telah dipindah (ke Baitullah).” Kemudian jamaah ini memutar diri mereka ke arah Kiblat dalam posisi sebagaimana sebelumnya (rukuk). [HR. Muslim, no. 527]

Jika Makmum Ketinggalan Beberapa Gerakan Imam

>> Seorang wanita yang shalat berjamaah di balik tabir, sehingga tidak bisa melihat gerakan makmum lelaki, sementara suara imam tidak terdengar karena sebab tertentu, atau makmum ngantuk, sehingga ketinggalan beberapa gerakan imam, apa yang harus dilakukan?

Jawaban:

Dalam kondisi semacam ini, yang harus dilakukan makmum adalah melakukan rukun yang ketinggalan, hingga bisa mengejar imam. Ada beberapa keadaan, yang bisa dibawa dalam permasalahan ini:

Pertama: Imam membaca Ayat Sajdah, kemudian takbir. Makmum yang tidak melihat mengira imam Sujud Tilawah. Padahal aslinya imam rukuk. Setelah itu imam membaca: “sami’allahu liman hamidah”, sehingga makmum tadi tidak sempat melaksanakan rukuk bersama imam. Untuk kasus semacam ini, makmum tersebut harus langsung melaksanakan rukuk, i’tidal, hingga bisa menyusul imam. Karena mereka menyelisihi imam di luar kesengajaan.

Kedua, orang yang memerlama sujud agar bisa lebih banyak berdoa, sehingga dia ketinggalan rukun setelahnya bersama imam, Mayoritas Ulama berpendapat: Orang yang ketinggalan dua rukun berturut-turut bersama imam dengan sengaja dan tanpa uzur yang dibenarkan, maka shalatnya batal. [Kasyaful Qana’, 1: 467]

Dalil yang menunjukkan wajibnya mengikuti imam adalah sabda Nabi ﷺ:

إنما جعل الإمام ليؤتم به، فلا تختلفوا عليه، فإن ركع فاركعوا، وإذا قال سمع الله لمن حمده، فقولوا: ربنا لك الحمد، وإذا سجد فاسجدوا، وإذا صلّى جالساً فصلوا جلوساً أجمعون

“Sesungguhnya imam ditunjuk untuk diikuti. Karena itu janganlah kalian menyelisihinya. Jika dia rukuk, maka rukuklah kalian. Jika dia mengucapkan: Sami’allahu liman hamidah, maka ucapkanlah: Robbanaa lakal hamdu. Jika dia sujud, maka sujudlah. Jika dia shalat sambil duduk, maka shalatlah kalian semua sambil duduk.” [HR. Bukhari, no. 689]

Tiba-Tiba Imam Teringat Dia Belum Bersuci

>> Ketika shalat jamaah sedang berlangsung, tiba-tiba imam teringat, bahwa dia belum bersuci, apa yang dilakukan?

Jawaban:

Ada tiga cara yang bisa dilakukan imam:

  • Pertama, dia membatalkan shalat, keluar dari jamaah, dan menunjuk salah seorang di belakangnya untuk menggantikan posisinya sebagai imam hingga shalat selesai. Sebagaimana terdapat riwayat dari Umar, Ali, Alqamah, dan Atha’. Di antaranya adalah riwayat dari Umar bin Khatab radhiallahu ‘anhu, bahwa setelah beliau ditikam Abdullah bin Saba’, umar memegang tangan Abdurrahman bin Auf, dan menyuruhnya untuk menggantikan posisinya. Hadis ini diriwayatkan Bukhari (7/60). Tindakan Umar ini dilakukan di depan para sahabat, dan tidak ada satu pun yang mengingkarinya, sehingga dihukumi sebagai kesepakatan mereka.
  • Kedua, imam membatalkan shalat dan tidak menunjuk pengganti. Kemudian masing-masing makmum shalat sendiri-sendiri. Ini adalah pendapat Imam as-Syafi’i.
  • Ketiga, imam menyuruh makmum untuk tetap diam di tempat (tidak membatalkan shalat). Kemudian imam bersuci, lalu kembali ke tempat semula dan melanjutkan shalat jamaah. Ini berdasarkan hadis dari Abu Bakrah radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan:

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم، دخل في صلاة الفجر فأومأ بيده أن مكانكم ثم جاء ورأسه يقطر فصلى بهم

Bahwa Rasulullah ﷺ mengimami sahabat shalat Subuh. Tiba-tiba beliau ﷺ berisyarat kepada para sahabat agar tetap berada di tempatnya. (Kemudian beliau pergi), lalu beliau kembali, sementara kepalanya meneteskan air, dan beliau shalat jamaah bersama mereka. [HR. Abu Daud no. 233 dan dishahihkan al-Albani]

Imam Abu Daud membuat judul bab untuk hadis ini:

باب فى الجنب يصلى بالقوم وهو ناس

Bab, Orang Junub Mengimami Shalat Jamaah Karena Lupa. [Sunan Abu Daud, 1/93]

Dalam Syarh Abu Daud, Imam al-Khatabi mengatakan:

Dalam hadis ini terdapat dalil, bahwa jika ada imam yang shalat dalam keadaan junub, sementara makmum tidak tahu bahwa imam junub, maka shalatnya tetap dilanjutkan dan tidak wajib diulangi. Sedangkan imam wajib mengulangi shalatnya. [Ma’alimus Sunan, 1/78]

Jikat Makmum Melihat Aurat Imam Terbuka Ketika Shalat

>> Makmum melihat aurat imam terbuka dari belakang ketika shalat, baik karena bajunya robek atau terlalu ketat sehingga tertarik. Apa yang harus dilakukan makmum?

Ada dua cara yang bisa dilakukan makmum:

  • Pertama, dia maju kemudian membenahi pakaian imam atau menutupinya dengan kain yang lain. Cara pertama ini jika memungkinkan untuk dilakukan.
  • Kedua, membatalkan shalatnya dan keluar dari jamaah, kemudian mengingatkan imam. Misalnya dengan mengatakan: tutup aurat kita atau semacamnya.

Makmum yang mengetahui aurat imam terbuka tidak boleh diam saja dan tetap melanjutkan shalat. Karena dia mengetahui, bahwa shalatnya imam tidak sah (dengan terbukanya aurat, pen), sehingga bermakmum di belakangnya juga tidak sah. [Demikian keterangan dari Fatwa Syaikh Ibn Baz secara lisan]

Jika Imam Lupa Salah Satu Ayat yang Dia Baca

>> Jika imam lupa salah satu ayat yang dia baca, sementara tidak ada satu pun makmum yang mengingatkannya, apa yang harus dilakukan?

Jawaban:

Jika ayat yang kelupaan itu selain al-Fatihah, maka imam bisa melakukan beberapa pilihan:

  1. Berhenti membaca dan langsung rukuk
  2. Membaca ayat atau surat yang lain

Akan tetapi jika yang kelupaan adalah bacaan al-Fatihah, maka wajib dibaca semuanya, dan tidak boleh ada yang salah atau lupa. Karena membaca al-Fatihah merupakan rukun shalat. [Fatwa Ibnu Baz dalam Fatawa Islamiyah no. 396]

Bagaimana Jika Makmum Lupa Membaca Al-Fatihah?

>> Bagaimana jika makmum lupa membaca al-Fatihah, atau salah dalam membaca al-Fatihah? Padahal tidak mungkin ada yang mengingatkan.

Shalatnya makmum tetap sah, selama dia berjamaah bersama imam yang shalatnya sah. Dalilnya adalah hadis Abu Bakrah radhiallahu ‘anhu, yang ikut bergabung ke dalam jamaah ketika Nabi ﷺ sedang rukuk, dan dia (Abu Bakrah – pent) tidak membaca al-Fatihah. Kemudian Nabi ﷺ bersabda kepadanya:

زادك الله حرصاً ولا تعد

“Semoga Allah menambahkan semangatmu, dan jangan diulangi” [HR. Bukhari, no. 750]

Maksud beliau ﷺ adalah, jangan diulangi sikap buru-buru, karena Abu Bakrah datang sambil berlari untuk mengejar rukuknya imam.

Berdasarkan hadis ini, jika makmum lupa membaca al-Fatihah, atau tidak bisa membacanya, atau dia mulai ikut shalat jamaah ketika imam sedang rukuk, maka dalam kondisi ini shalatnya sah, dan tidak perlu diulangi. Karena dia tidak tahu, atau lupa. Ini merupakan pendapat Mayoritas Ulama. [Fatwa Syaikh Ibn Baz dalam Fatawa Islamiyah, 1/263]

Lupa Membaca: Subhana Rabbiyal Adziim Ketika Rukuk

>> Jika ada orang yang shalat melakukan I’tidal, setelah berdiri dia ingat, bahwa dia belum membaca: Subhana rabbiyal adziim ketika rukuk. Apa yang harus dilakukan?

Jawaban:

Orang ini tidak boleh kembali rukuk, karena kesempatan membaca doa rukuk telah berlalu dengan dia mulai i’tidal. Jika dia tetap kembali rukuk dengan sengaja, maka shalatnya batal, karena dia dianggap menambahi rukun shalat, yaitu rukuk dua kali dalam satu rakaat. Jika dia kembali rukuk karena lupa, maka salatnya tidak batal.

Selanjutnya, dalam kondisi lupa membaca doa rukuk, hendaknya dia melakukan Sujud Sahwi, jika dia salat sendirian atau menjadi Imam. Karena membaca doa rukuk hukumnya wajib, dan bisa ditutupi dengan Sujud Sahwi jika kelupaan.

Adapun jika dia sebagai makmum, maka kewajiban itu gugur, ketika dia lupa membacanya. Sehingga tidak perlu Sujud Sahwi. [Al-Mughni dengan as-Syarh al-Kabir, 1/679]

Ketika Makmum yang Masbuk Berdiri untuk Menyempurnakan Rakaat yang Ketinggalan, Tiba-Tiba Imam Sujud Sahwi Setelah Salam

>> Jika imam salam, kemudian makmum yang masbuk berdiri untuk menyempurnakan rakaat yang ketinggalan, tiba-tiba imam Sujud Sahwi setelah salam. Apa yang harus dilakukan makmum tersebut?

Jawaban:

Ada dua pilihan yang bisa dia lakukan, sesuai kondisinya:

  1. Jika makmum belum berdiri sempurna, maka dia kembali dan ikut Sujud Sahwi bersama imam.
  2. Jika dia sudah berdiri sempurna, maka dia tidak perlu kembali dan dilanjutkan menyelesaikan shalatnya. Kemudian setelah selesai salam, dia Sujud Sahwi. [Al-Mughni dengan as-Syarh al-Kabir, 1/697]

Bagaimana Cara Mengingatkan Imam Ketika Dia Lupa dan Meninggalkan Salah Satu Rukun Shalat?

>> Jika imam lupa dalam bentuk meninggalkan sujud kedua, kemudian para makmum mengingatkan dengan membaca tasbih, Subhanallah, namun imam tidak paham di mana letak kesalahannya, lalu imam malah berdiri ke rakaat berikutnya, karena mengira itu yang benar, apa yang harus dilakukan makmum?

Jawaban:

Para ulama memberikan keterangan terkait dengan cara memahamkan imam. Di antaranya adalah dengan mengeraskan bacaan untuk rukun yang ditinggalkan. Misalnya makmum mengeraskan bacaan: ‘subhana rabbiyal a’la‘ jika yang ditinggalkan adalah sujud, atau ‘rabbighfirlii….‘ jika yang ditinggalkan adalah duduk di antara dua sujud, dst.  [Al-Mughni dengan as-Syarh al-Kabir, 1/707]

 

***

Disusun oleh Ustadz Ammi Nur Baits

[Muslimah.or.id]

Sumber:

https://Muslimah.or.id/2019-apa-yang-harus-anda-lakukan-ketika-kondisi-berikut-bagian-1.html

https://Muslimah.or.id/2161-apa-yang-harus-anda-lakukan-ketika-kondisi-berikut-bagian-2.html

https://Muslimah.or.id/2420-apa-yang-harus-anda-lakukan-dalam-kondisi-berikut-bagian-3.html

https://Muslimah.or.id/2631-apa-yang-harus-anda-lakukan-dalam-kondisi-berikut-bagian-4.html

, ,

MENGUSAP KEDUA KHUF

MENGUSAP KEDUA KHUF

بسم الله الرحمن الرحيم

#SifatWudhuNabi
#DakwahSunnah
MENGUSAP KEDUA KHUF

Matan Kitab: Mengusap Kedua Khuf

(فصل) والمسح على الخفين جائز بثلاث شرائط أن يبتدئ لبسهما بعد كمال الطهارة وأن يكونا ساترين لمحل الفرض من القدمين وأن يكونا مما يمكن تتابع المشي عليهما ويمسح المقيم يوما وليلة والمسافر ثلاثة أيام بلياليهن وابتداء المدة من حين يحدث بعد لبس الخفين فإن مسح في الحضر ثم سافر أو مسح في السفر ثم أقام أتم مسح مقيم.ويبطل المسح بثلاثة أشياء بخلعهما وانقضاء المدة وما يوجب الغسل.

Mengusap khuf (kaus kaki khusus) itu boleh dengan 3 (tiga) syarat:

  • Memakai khuf setelah suci dari hadats kecil dan hadats besar.
  • Khuf (kaus kaki) menutupi mata kaki.
  • Dapat dipakai untuk berjalan.

Orang mukim dapat memakai khuf selama satu hari satu malam (24 jam). Sedangkan musafir selama 3 (tiga) hari 3 malam.

Waktunya dihitung mulai dari saat hadats (kecil) setelah memakai khuf. Apabila memakai khuf di rumah kemudian bepergian, atau mengusap khuf di perjalanan kemudian mukim, maka dianggap mengusap khuf untuk mukim.

Mengusap khuf batal oleh 3 (tiga) hal:

  • Melepasnya,
  • Habisnya masa,
  • Hadats besar.

[Fiqh AtTaqrib Matan Abi Syuja’]

Apa yang Dimaksud dengan Al-Khuf?

Al-khuf adalah bentuknya seperti kaus kaki namun dia terbuat dari kulit yang tebal dan berfungsi sebagai penutup dan pelindung kaki. Dan terkadang sampai pertengahan betis ataupun di bawah itu.

Dan yang semakna dengan khuf tadi adalah Al-Jawrab (kaus kaki) yang terbuat dari kain katun atau kaus atau semisalnya. Dan juga termasuk makna dari khuf adalah sepatu.

Hukum Mengusap Khuf Atau yang Semakna Dengannya

قال المصنف:

((والمسح على الخفين جائز))

((Dan mengusap kedua khuf (atau yang semakna) adalah boleh))

Mengusap kedua khuf ini adalah sebagai ganti dari mencuci kaki tatkala seseorang berwudhu’. Dan ini adalah pendapat Asy-Syafi’iyyah, para ulama madzhab, dan juga keyakinan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, bahkan dikatakan ini adalah ijma’.

Yang menyelisihi pendapat ini adalah kelompok yang sesat yang menyimpang dari agama, yaitu kelompok Syi’ah dan kelompok Khawarij, yang menyatakan bahwa mengusap khuf atau yang sejenisnya adalah mutlak dilarang.

Pendapat mereka ini bertentangan dengan petunjuk Nabi ﷺ, di antaranya dalam hadis Jabir radhiyallahu ta’ala ‘anhu, beliau menceritakan:

أنَّه رأى النبيَّ صلَّى الله عليه وسلَّمَ يَمسحُ على الخُفَّينِ

“Bahwasanya beliau melihat Nabi ﷺ mengusap kedua khufnya.” [HR. Muslim]

Begitu pula hadis ‘Ali radhiyallahu ta’ala ‘anhu, beliau berkata:

لَوْ كان الدِّينُ بالرأي لكان أسْفَلُ الْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلاَهِ…

“Seandainya agama ini adalah dengan akal saja, maka bagian bawah dari khuf (sepatu) itu lebih pantas untuk diusap daripada bagian atasnya…”

Kenapa? Karena bagian bawahlah bagian yang kotor, kenapa yang diusap bagian atasnya? Akan tetapi agama ini adalah dengan dalil dari Rasulullah ﷺ.

Oleh karena itu, kata ‘Ali radhiyallahu ta’ala ‘anhu:

… وَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم يَمْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيْهِ

“…Dan sungguh saya melihat Rasulullah ﷺ, beliau mengusap bagian atas dari kedua khufnya.” [HR. Abu Dawud dan Daruquthni dan sanadnya dishahīhkan oleh Syaikh Al-Albaniy]

Syarat Diperbolehkannya Seseorang Untuk Mengusap Kedua Khufnya

قال المصنف:

((بثلاث شروط))

((Dengan memenuhi tiga syarat))

Di sini Penulis menyebutkan tiga syarat dan di sana ada syarat-syarat yang lainnya, di antaranya bahwasanya:

✓Khuf/kaus kaki/sepatu yang digunakan itu terbuat dari bahan yang suci.

Kita akan sebutkan syarat yang disebutkan oleh Mushannif.

  • Syarat (1)

((أن يبتدئ لبسهما بعد كمال الطهارة))

((Memakai dua khuf, setelah sempurna dari thaharah/berwudhu’))

Seseorang, setelah selesai berwudhu’ kemudian memakai khufnya, maka dia diperbolehkan untuk mengusap khufnya, apabila nanti batal kemudian berwudhu’, karena dia memakai khufnya dalam keadaan suci. Dan ini sebagaimana yang disebutkan hadis Mughīrah bin Syu’bah, beliau mengatakan:

سكبت لرسول الله صلى الله عليه وسلم الوضوء فلما انتهيت إلى الخفين أهويت لأنزعهما فقال دعهما فإني أدخلتهما طاهرتان فمسح عليهما

“Saya menuangkan air dari bejana kepada Rasulullah ﷺ untuk berwudhu’.

Manakala sampai pada bagian kedua khufnya, saya pun membungkuk hendak melepaskan keduanya.

Maka beliau ﷺ pun bersabda: “Tinggalkanlah keduanya (maksudnya jangan dilepas), karena saya memasukkan kedua kaki tersebut dalam keadaan suci.” [HR. Al-Khamsah]

  • Syarat (2)

((وأن يكونا ساترين لمحل الفرض من القدمين))

((Dan harus menutup bagian kaki yang wajib dicuci))

⇒ Ini adalah pendapat Syafi’iyyah dan kesepakatan aimmah madzhab, bahwasanya khuf (atau yang semakna) yang dipakai, maka dia harus menutupi sampai mata kaki, karena bagian yang wajib dicuci adalah sampai mata kaki.

Dan pendapat yang kedua mengatakan bahwasanya:

◆ Tidak harus sampai menutupi mata kaki, seperti sepatu yang dipakai tidak sampai menutupi mata kaki, minimal adalah sebagian besar menutupi kakinya.

⇒ Ini adalah pendapat Ibnu Hazm yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahumallah.

  • Syarat (3)

((وأن يكونا مما يمكن تتابع المشي عليهما))

((Kedua khuf ini bisa dipakai berjalan di atasnya))

Yaitu dibuat dari bahan yang bisa dipakai untuk berjalan di atasnya seperti kulit, kain yang kuat atau yang semisalnya.

Apabila dibuat dari bahan yang akan tercabik-cabik (robek) tatkala diusap, maka tidak diperkenankan untuk mengusap khuf tadi.

Waktu yang Diperbolehkan Untuk Mengusap Khuf (Atau yang Semakna dengan Khuf)

قال المصنف:

((و يمسح المقيم يوما و ليلة و المسافر ثلاثة أيام بلياليهن))

((Orang yang mukim/tinggal/menetap, dia diberi rukshah untuk mengusap selama satu hari satu malam. Sedangkan untuk musafir/orang yang bepergian dia diberi rukshah selama tiga hari tiga malam))

Ini pendapat Syafi’iyyah dan Jumhur Mayoritas Ulama, kecuali Malikiyyah. Dalil Jumhur, bahwasanya di sana ada hadis ‘Ali radhiyallahu ta’ala ‘anhu, beliau berkata:

جَعَلَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلاثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيَهُنَّ لِلْمُسَافِرِ ، وَيَوْمًا وَلَيْلَةً لِلْمُقِيمِ

“Rasulullah ﷺ menetapkan waktu untuk mengusap bagi orang-orang yang safar (orang yang bepergian/musafir) selama tiga hari tiga malam. Dan untuk orang-orang yang tinggal (menetap), diberi rukshah satu hari satu malam.” [HR. Muslim]

Kapan Mulai Dihitung Waktu Untuk Mengusap Khuf Tersebut?

قال المصنف:

((وابتداء المدة من حين يحدث بعد لبس الخفين))

((Waktu untuk mengusap mulai terhitung, yaitu pada saat hadats yang pertama kali setelah menggunakan kedua khuf tadi))

Jadi misalnya, seseorang berwudhu’ dan memakai khuf/kaus kaki/sepatu pada jam 1 siang setelah Zuhur, kemudian dia berhadats pada jam 4 sore maka waktu rukshah terhitung dari jam 4 sore tadi.

Ini adalah pendapat Syafi’iyyah, Hanafiyyah dan riwayat yang masuk dari Hanabilah.

◆ Dan di sana ada pendapat kedua yang merupakan pendapat yang rajih dan kuat, adalah terhitung sejak awal bersuci setelah hadats yang pertama.

Misal contoh di atas (contoh sebelumnya).

  • Dia batal pada jam 4 sore.

⇒ Ini adalah hadats yang pertama setelah memakai khufnya

  • Kemudian bersuci jam 6 sore.

⇒ Ini adalah dia berwudhu’ yang pertama kali. Maka yang terhitung adalah yang jam 6 sore.

Pendapat ini dipilih oleh Ibnul Mundzir dan Imam Nawawi Asy-Syafi’i, Syaikh Bin Baz dan Syaikh ‘Utsaimin. Dalilnya adalah suatu riwayat dari Abi ‘Utsman An-Nahdiy, beliau mengatakan:

حَضَرْتُ سَعْدًا , وَابْنَ عُمَرَ , يَخْتَصِمَانِ إِلَى عُمَرَ فِي الْمَسْحِ عَلَى الْخُفَّيْنِ ، فَقَالَ عُمَرُ: يَمْسَحُ فَقَالَ عُمَرُ: ” يَمْسَحُ عَلَيْهِمَا إِلَى مِثْلِ سَاعَتِهِ مِنْ يَوْمِهِ وَلَيْلَتِهِ”

“Saya menghadiri tatkala Sa’dan dan Ibnu ‘Umar berselisih pada masalah mengusap kedua khuf (dan dan bertahqin kepada ‘Umar).

Maka ‘Umar pun mengatakan: “Hendaknya dia mengusap keduanya dihitung sehari semalam seperti waktu dia mengusapnya.” [HR. ‘Abdurazzaq dalam Mushannaf dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani]

Kemudian Penulis mengatakan:

((فإن مسح في الحضر ثم سافر، أو مسح في السفر ثم أقام، أتم مسح مقيم))

((Didalam Madzhab Syafi’i, di dalam dua keadaan:

  • (1) Jika dia mengusap pada saat mukim/tinggal kemudian safar/bepergian, atau
  • (2) Mengusap pada saat safar, kemudian dia mukim/tinggal))

Maka (kata beliau), yang berlaku adalah rukshah mengusap bagi orang yang mukim, atau hanya satu hari satu malam saja. Ini adalah pendapat Syafi’iyyah di dalam dua keadaan. Namun untuk keadaan yang pertama, yang rajih dan dipilih oleh Syaikh ‘Utsaimin adalah:

◆ Tetap berlaku rukshah mengusap untuk musafir, karena predikat yang melekat pada dia adalah predikat seorang musafir. Maka berlaku pada dia adalah semua yang berlaku pada orang-orang yang safar.

Pembatal-Pembatal dari Rukshah untuk Mengusap Dua Khuf

((و يبطل المسح بثلاثة أشياء))

((Dan hukum mengusap kedua khuf ini batal dengan tiga macam hal))

  • Pembatal (1)

((بخلعهما))

((Dengan melepas dua khuf/kaus kaki/sepatunya))

Maka secara otomatis rukshah untuk mengusap dua khuf tadi adalah batal.

  • Pembatal (2)

((وانقضاء المدة))

((Waktunya sudah habis))

⇒ Untuk yang mukim satu hari satu malam.

⇒ Untuk yang musafir tiga hari tiga malam.

  • Pembatal (3)

((وما يوجب الغسل))

((Dan hal-hal yang mewajibkan untuk mandi))

Jika terdapat halangan ini, maka dia batal rukshah untuk mengusap kedua khufnya. Berdasarkan sebuah hadis:

كَانَ رسول الله صلى الله عليه وسلم يَأْمُرُنَا إذَا كُنّا مُسَافِرِيْنَ أَنْ نَمْسَحَ عَلَى خِفَافنَا وَلَا نَنْزِعَهَا ثَلاثةَ أَيّامٍ مِنْ غَائِطٍ وَبَوْلٍ وَنَوْمٍ إِلِّا مِنْ جَنَابَةِ (رواه النساعي و ترمذي بسند صحيح)

“Bahwasanya Rasulullah ﷺ memerintahkan kami, apabila kami dalam keadaan safar (bepergian) untuk mengusap khuf-khuf kami dan tidak melepasnya selama tiga hari walaupun buang air besar, buang air kecil, maupun dari tidur, kecuali apabila junub*.” [HR. Nasa’i, Tirmidzi dengan sanad yang shahīh]

*Apabila junub maka seseorang melepaskannya dan kemudian dia bersuci.

Demikian yang bisa kita sampaikan.

 

و صلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه و سلم

وآخر دعونا عن الحمد لله رب العلمين

______________________________

Catatan Tambahan Diambil dari Website islamqa.info:

Adapun cara mengusapnya adalah letakkan tangan yang sudah dibasahi air di atas jari jemari kaki, kemudian diusap ke arah (pangkal) betis (mulai dari ujung jari kaki ke arah pangkal betis – pent). Kaki kanan diusap oleh tangan kanan, dan kaki kiri diusap oleh tangan kiri. Jari tangan direnggangkan, dan mengusap dilakukan hanya sekali. [Lihat Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi, oleh Al-Fauzan, 1/43].

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: ‘Maksudnya adalah, bahwa yang diusap adalah bagian atas khuf. Maka tangannya dijalankan dari jari kaki hingga pangkal betis saja. Dan mengusap dilakukan dengan kedua tangan sekaligus. Maksudnya, tangan kanan mengusap kaki kanan, dan tangan kiri mengusap kaki kiri PADA SAAT YANG BERSAMAAN, sebagaimana halnya mengusap kedua telinga. Karena itulah yang tampak dari perkataan Mughirah bin Syu’bah radhiallahu anhu, ‘(Beliau ﷺ ) mengusap keduanya’. Dia tidak mengatakan, bahwa beliau (Nabi ﷺ ) mulai mengusap dengan tangan kanan sebelum kiri. Banyak orang yang mengusap dengan kedua tangannya kaki kanan, dan kedua tangannya kaki kiri. Ini tidak ada landasannya sepengetahuan kami. Akan tetapi dengan cara mana saja jika yang diusap bagian atas khuf, maka usapannya sah. Akan tetapi apa yang telah kami jelaskan (caranya), itulah yang lebih utama. [Lihat Fatawa Al-Mar’ah Al-Muslimah, 1/250]

Tidak boleh mengusap bagian samping khuf atau belakangnya. Tidak satu pun riwayat yang menjelaskan cara mengusap demikian.

Wallahu a’lam.

Sumber:

http://abuwt.blogspot.co.id/2015/12/mengusap-kedua-khuf.html

https://islamqa.info/id/12796

 

 

Cara Mengusap Khuff
Donasi Operasional & Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam

| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank 451
| No. Rek: 7103000507
| A.N: YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer: +628-222-333-4004
Website:
Home
Facebook Page:
Fb.com/TausiyahBimbinganIslam
Telegram Channel:
http://goo.gl/4n0rNp

TV Channel:
http://BimbinganIslam.tv

 

 

Website:

�� Facebook Page:

Fb.com/TausiyahBimbinganIslam

�� Telegram Channel:

http://goo.gl/4n0rNp

�� TV Channel:

http://BimbinganIslam.tv

 

, , ,

HUKUM MENGANGKAT JARI/TANGAN KETIKA BERDOA SETELAH BERWUDHU

HUKUM MENGANGKAT JARI/TANGAN KETIKA BERDOA SETELAH BERWUDHU

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatWudhuNabi
#DoaZikir

HUKUM MENGANGKAT JARI/TANGAN KETIKA BERDOA SETELAH BERWUDHU

Aku mendengar bahwa Syekh Abdullah bin Jibrin berkata:

‘Dibolehkan mengankat jari setelah berwudhu dan membaca Laa ilaaha illallah, dan aku saksikan banyak orang yang melakukannya. Aku mohon pandangan yang menjelaskan masalah ini dengan tuntas.

Jawaban:

Alhamdulillah.

Tidak terdapat riwayat dari Sunnah Nabi ﷺ, sepengetahuan kami, yang menyatakan disunnahkannya mengangkat jari telunjuk ketika berdoa setelah wudhu secara khusus. Sebagaimana diketahui bahwa prinsip dasar dalam ibadah adalah tawqifi (ditetapkan berdasarkan wahyu, tidak dengan akal) dan tidak boleh ada penambahan dari apa yang dinyatakan dalam sunnah.

Yang disyariatkan bagi seorang Muslim setelah berwudhu adalah membaca:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Asyhadu Allaa ilaaha illallah wahdahu laa syariikalah, wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuuluh’ [HR. Muslim, no. 234]

Artinya:

Aku bersaksi, bahwa sesungguhnya  tidak ada Ilaah (Sesembahan) yang berhak diibadahi  dengan benar selain ALLAH yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku pun bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Dan tidak cukup hanya membaca ‘Laa ilaaha illallah’ saja.

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah pernah ditanya: Apa hukum mengangkat jari dalam doa setelah berwudhu, dan hal itu dilakukan secara terus menerus?

Beliau menjawab:

‘Saya tidak mengetahui adanya landasan dalam masalah itu. Akan tetapi yang disyariatkan bagi orang yang selesai berwudhu adalah membaca:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

Asyhadu Allaa ilaaha illallah wahdahu laa syariikalah, wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuuluh, Allahummaj’alni minattawwaabin waj’alni minal mutathahhirin.

Artinya:

Aku bersaksi, bahwa sesungguhnya  tidak ada Ilaah (Sesembahan) yang berhak diibadahi  dengan benar selain ALLAH yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku pun bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya ALLAH, jadikanlah aku termasuk golongan orang-orang yang bertaubat, dan jadikanlah aku termasuk golongan orang-orang yang selalu menyucikan diri”.

Dan itu sudah cukup. [Nurun Alad-Darbi, Fatawa Thaharah, Furudhul Wudhu wa Sifatuh]

Adapun yang disebutkan penanya, bahwa Syekh Ibnu Jibrin rahimahullah menyatakan, bahwa hal itu (mengangkat jari ketika membaca doa wudhu) adalah sunnah, tidak dapatkan ucapannya yang menyatakan sunnahnya perbuatan tersebut.

Memang ada beberapa hadis shahih yang mengajarkan untuk memberi isyarat dengan telunjuk saat membaca tasyahhud dalam shalat, dan saat seorang khatib berdoa di atas mimbarnya pada hari Jumat. Adapun ketetapan hal tersebut setelah berwudhu, tidak ada.

Peringatan

Allah memberi sifat bagi kalam (perkataan)-Nya, dengan sifat ‘Qaulun Fashl’ (Memisahkan antara yang hak dan yang batil), sebagaimana firman-Nya:

 إِنَّهُ لَقَوْلٌ فَصْلٌ .   وَمَا هُوَ بِالْهَزْل  (سورة الطارق: 13-14)

Sesungguhnya Alquran itu benar-benar firman yang memisahkan antara yang hak dan yang bathil. Dan sekali-kali bukanlah dia senda gurau. [QS. Ath-Thariq: 13-14]

Karena itu, tidak layak ijtihad para ulama dalam memahami teks dalam Alquran dan Sunnah dikatakan sebagai Qaulun Fashl, atau dengan redaksi lain: ‘Apakah kalimat yang tuntas dalam masalah ini?’ Kecuali jika pendapat tersebut dalilnya telah dinyatakan secara qath’i (jelas) dalam Alquran dan Sunnah, seperti haramnya zina, haramnya minuman keras, dll.

Adapun perkara ijtihad, maka tidak dikatakan padanya, ‘pendapat tuntas’, akan tetapi yang layak diucapkan adalah, ‘Yang lebih tampak..’ atau ‘yang lebih kuat, atau lebih benar’ dan redaksi yang semacamnya.

Wallahua’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/id/129501

, , ,

CARA BERWUDHU DENGAN SEGAYUNG AIR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatWudhuNabi

 

CARA BERWUDHU DENGAN SEGAYUNG AIR

 

 

,

BEBERAPA ANGGAPAN KELIRU SEPUTAR WUDHU

BEBERAPA ANGGAPAN KELIRU SEPUTAR WUDHU

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatWudhuNabi

BEBERAPA ANGGAPAN KELIRU SEPUTAR WUDHU

  1. Wudhu Tidak Sah Bila Tak Menutup Aurat

ﻳﻈﻦ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ ﻭﺃﻧﺖ ﻛﺎﺷﻒ ﻋﻮﺭﺗﻚ!

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻌﻼﻣﺔ ﺍﺑﻦ ﺑﺎﺯ :

ﻟﻴﺲ ﺳﺘﺮ ﺍﻟﻌﻮﺭﺓ ﺷﺮﻃًﺎ ﻓﻲ ﺻﺤﺔ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ

Sebagian orang mengira, tidak diperbolehkan berwudhu dengan aurat yang terbuka.

Jawaban Al Allaamah Ibnu Baz rahimahullah:

“Menutup aurat bukan syarat sah wudhu.” (Fatawa Ibnu Baz,10/101)

  1. Wudhu Tidak Sah Bila Menggunakan Air Merah

ﻳﻈﻦ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﺼﺢ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ ﺑﺎﻟﻤﺎﺀ ﺍﻷﺣﻤﺮ!

ﻭﺍﻟﺼﺤﻴﺢ : ﻻ ﺣﺮﺝ ﻓﻲ ﺍﺳﺘﻌﻤﺎﻟﻪ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﺗﻐﻴﺮﻩ ﺑﻐﻴﺮ ﻧﺠﺎﺳﺔ

Sebagian orang mengira, tidak sah wudhu dengan air yang berwarna merah.

Jawaban Al Lajnah Ad Daimah (Lembaga Fatwa Saudi):

“Tidak mengapa menggunakannya, jika perubahan warna tersebut bukan karena najis.” (Al Lajnah Ad Daimah No.6401)

  1. Wudhu Tidak Sah Bila Mendahulukan Bagian Anggota Tubuh yang Kiri

ﻳﻈﻦ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺃﻥ ﻣﻦ ﻗﺪﻡ ﻏﺴﻞ ﺃﺣﺪ ﺃﻋﻀﺎﺋﻪ ﺍﻟﻴﺴﺮﻯ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻴﻤﻨﻰ ﻻ ﻳﺼﺢ ﻭﺿﻮﺀﻩ

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻨﻮﻭﻱ رحمه الله :

ﺃﺟﻤﻊ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﺗﻘﺪﻳﻢ ﺍﻟﻴﻤﻴﻦ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻴﺴﺎﺭ ﻣﻦ ﺍﻟﻴﺪﻳﻦ ﻭﺍﻟﺮﺟﻠﻴﻦ

ﻓﻲ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ ﺳﻨﺔ ﻟﻮ ﺧﺎﻟﻔﻬﺎ ﻓﺎﺗﻪ ﺍﻟﻔﻀﻞ ﻭﺻﺢ ﻭﺿﻮﺀﻩ

Sebagian orang mengira, mendahulukan salah satu anggota wudhu yang kiri sebelum kanan, wudhu nya tidak sah.

Imam Nawawi rahimahullah menjawab:

“Para ulama sepakat, mendahulukan bagian kanan sebelum yang kiri seperti pada dua tangan,  dua kaki ketika wudhu hukumnya sunnah. Meskipun demikian, seseorang yang menyelisihinya akan terluput (pahala) keutamaan. Adapun wudhunya tetap sah.” (Syarh Muslim 3/160)

  1. Mengangkat Jari Ketika Berdoa Setelah Wudhu

ﻛﺜﻴﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻳﺮﻓﻊ ﺍﻷﺻﺒﻊ ﺑﺎﻟﺘﺸﻬﺪ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻌﻼﻣﺔ ﺍﺑﻦ ﻋﺜﻴﻤﻴﻦ :

ﻻ ﺃﻋﻠﻢ ﻟﻪ ﺃﺻﻼ

Sebagian orang mengangkat jari-jarinya ketika membaca doa Tasyahud setelah wudhu.

Al Allaamah Ibnu Ustaimin rahimahullah  menjawab:

“Saya tidak mengetahui dasar perbuatan tersebut.” (Fatawa Nur Ala Darb, 8/117)

  1. Wudhunya Batal Jika Menyentuh Najis

ﻭﻳﻈﻦ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺃﻧﻚ ﺍﺫﺍ ﻟﻤﺴﺖ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﻳﺠﺐ ﺃﻥ ﺗﺘﻮﺿﺄ ﻣﻦ ﺟﺪﻳﺪ!

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻌﻼﻣﺔ ﺍﺑﻦ ﻋﺜﻴﻤﻴﻦ : ﺍﻟﻮﻁﺀ ﺑﺎﻟﻘﺪﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﻭﻫﻲ ﻻ ﺗﺰﺍﻝ ﺭﻃﺒﺔ ﻻ ﻳﻨﻘﺾ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ ، ﻭﻋﻠﻴﻪ ﺃﻥ ﻳﻄﻬﺮ ﻣﺎ ﻳﺠﺐ ﺗﻄﻬﻴﺮﻩ

ﺃﻱ : ﻳﻄﻬﺮ ﻣﻮﺿﻊ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﻓﻘﻂ

Sebagian orang mengira, jika engkau menyentuh najis wajib berwudhu lagi.

Al Allaamah Ibnu Utsaimin rahinahullah menjawab:

“Menginjak najis dengan kaki, sementara najis tersebut tetap basah (tidak kering), tidaklah membatalkan wudhu. Yang harus ia lakukan adalah membersihkan apa yang harus dibersihkan, yaitu membersihkan bagian yang terkena najis saja.” (Fatawa Ibn Ustaimin, 52/119)

  1. Mengusap Kaus Kaki Bergambar Makhluk Bernyawa

ﺑﻌﺾ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻳﻤﺴﺢ ﻋﻠﻰ ﺟﻮﺭﺏ ﻋﻠﻴﻪ ﺻﻮﺭﺓ ﻣﻦ ﺫﻭﺍﺕ ﺍﻷﺭﻭﺍﺡ

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻌﻼﻣﺔ ﺍﺑﻦ ﻋﺜﻴﻤﻴﻦ : ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺍﻟﻤﺴﺢ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺠﻮﺭﺏ ﺍﻟﺬﻱ ﻓﻴﻪ ﺻﻮﺭﺓ ﺣﻴﻮﺍﻥ

ﻷﻥ ﺍﻟﻤﺴﺢ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺨﻔﻴﻦ ﺭﺧﺼﺔ ﻓﻼ ﺗﺒﺎﺡ ﺑﺎﻟﻤﻌﺼﻴﺔ

Sebagian orang mengusap kaus kaki (saat wudhu), yang terdapat gambar makhluk bernyawa.

Al Allaamah Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan:

“Tidak diperbolehkan mengusap  kaus kaki yang termuat gambar hewan. Karena mengusap kaus kaki adalah keringanan, dan tidak diperbolehkan dengan jalan maksiat.”  (Fatawa Ibn Utsaimin,  11/116)

 

Sumber: https://telegram.me/Dawwa_khaier

Diterjemahkan oleh Tim Penerjemah Wanitasalihah.Com

Sumber: http://wanitasalihah.com/beberapa-anggapan-keliru-seputar-wudhu/

, ,

KETIKA SHOLAT, PAKAIAN TERKENA REMBESAN AIR KENCING

KETIKA SHOLAT, PAKAIAN TERKENA REMBESAN AIR KENCING

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#SifatWudhuNabi

KETIKA SHOLAT, PAKAIAN TERKENA REMBESAN AIR KENCING

Pertanyaan:

Apakah yang harus dilakukan dengan pakaian yang terkena air rembesan (dari kemaluan) sebanyak seperempat dari satu tetes, saat kita sedang shalat? Apakah harus diganti dan cuci, atau adakah sikap lain yang harus kita lakukan?

Jawaban:

Jika keluar atau tidaknya air kencing tersebut hanya merupakan was-was atau keragu-raguan, hanya perasaan, dan tidak ada buktinya, atau mungkin memang keluar tetapi hanya seperempat dari satu tetes (seperti yang ditanyakan), maka hal semacam ini tidaklah membatalkan wudhu, dan tidak pula membatalkan shalat atau thawaf. Ini hanyalah was-was setan untuk menggoda anak Adam agar ibadahnya rusak.

Abu Hurairah berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا وَجَدَ أَحَدُكُمْ فِي بَطْنِهِ شَيْئًا فًأَشْكَلَ عَلَيْهِ أَخْرَجَ مِنْهُ شَيْءٌ أَمْ لاَ فَلاَ يَخْرُجَنَّ مِنَ الْمَسْجِدِ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدُ رِيْحًا

“Apabila salah seorang di antara kamu menjumpai sesuatu di perutnya, sedangkan dia ragu-ragu apakah sesuatu itu keluar atau tidak, maka janganlah dia keluar dari mesjid (shalat), sehingga dia mendengar suara atau mencium baunya.” (Hr. Muslim: 805)

Al-‘Allamah Ibnu Baz ditanya: “Seusai saya buang air kecil dan berhenti kencing, maka tidak lama setelah saya bercebok, kemaluan saya bergerak dan terasa ada sesuatu yang keluar. Peristiwa ini sudah lama dan tidak bisa sembuh, tetapi hanya keluar air beberapa tetes sesudah kencing.

Apa yang harus saya lakukan? Apakah saya mencukupkan diri dengan wudhu yang pertama, lalu saya bersihkan kemaluan saya, kemudian saya sempurnakan wudhu, ataukah saya harus menunggu sampai selesai kencing? Mohon penjelasannya.”

Beliau menjawab: “Perkara ini bisa terjadi karena was-was atau ragu-ragu. Ini berasal dari setan, dan kadangkala memang terjadi betul.

Jika ternyata benar-benar terjadi, maka jangan terburu-buru sehingga selesai kencing, lalu membasuh kemaluan dengan air, dan ini sudah cukup.

Jika dikhawatirkan bahwa air kencing akan keluar lagi, setelah berwudhu hendaknya menyiram di sekeliling kemaluan. Selanjutnya, jika terasa ada sesuatu yang keluar setelah itu, hendaklah dipahami bahwa yang keluar itu adalah sisa air yang disiramkan tadi, karena ada dalil dari sunnah, bahwa hendaknya kita meninggalkan was-was setan. Orang Mukmin tidak perlu memerhatikan was-was setan ini, karena begitulah pekerjaan setan. Setan selalu berusaha merusak ibadah anak Adam, baik ketika shalat atau ibadah lainnya.” (Lihat: Majmu’ Fatawa Wa Maqakah Mutanawwi’ah, Ibnu Baz: 10/123)

Jawaban beliau ini sudah jelas sekali. Anda tidak perlu memerhatikan perasaan was-was ini. Serta, bila Anda khawatir air menetes pada celana dalam Anda, maka alasilah di bawah kemaluan Anda dengan kain setelah Anda bercebok, sampai nantinya Anda akan kencing lagi. Anda tidak perlu bercebok setiap ada perasaan was-was bahwa air kencing merembes, dan Anda pun tak perlu mengganti celana.

 

Sumber: Majalah Al-Furqon, edisi 10, tahun ke-4, 1426 H.

(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa dan aksara oleh redaksi www.konsultasisyariah.com)

 

Sumber: https://konsultasisyariah.com/1988-pakaian-terkena-kencing.html

 

Catatan Tambahan:

Di Antara Adab Ketika Buang Hajat adalah:

Memerciki kemaluan dan celana dengan air setelah kencing untuk menghilangkan was-was. Ibnu ‘Abbas mengatakan:

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- تَوَضَّأَ مَرَّةً مَرَّةً وَنَضَحَ فَرْجَهُ

“Nabi ﷺ berwudhu dengan satu kali – satu kali membasuh, lalu setelah itu beliau memerciki kemaluannya.”[HR. Ad Darimi no. 711. Syaikh Husain Salim Asad mengatakan bahwa sanad hadis ini shahih]
Jika tidak mendapati batu untuk istinja’, maka bisa digantikan dengan benda lainnya, asalkan memenuhi tiga syarat:

[1] Benda tersebut suci,

[2] Bisa menghilangkan najis, dan

[3] Bukan barang berharga seperti uang atau makanan [Lihat Kifayatul Akhyar, hal. 34]. Sehingga dari syarat-syarat ini, batu boleh digantikan dengan tisu yang khusus untuk membersihkan kotoran setelah buang hajat.

Sumber: https://rumaysho.com/1034-10-adab-ketika-buang-hajat.html