, , ,

CARA MENGHILANGKAN GANGGUAN AGAR KHUSYUK DALAM SHALAT

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
CARA MENGHILANGKAN GANGGUAN AGAR KHUSYUK DALAM SHALAT
>> Itu adalah setan. Namanya Khinzib
Di dalam shalat terkadang berseliweran pikiran-pikiran sehingga mengurangi konsentrasi shalat. Apakah yang harus dilakukan untuk mendapatkan shalat yang khusyuk, dan menghilangkan pikiran-pikiran yang mengganggu tersebut?
 
Kasus semacam ini pernah dialami oleh salah seorang sahabat, yaitu Utsman bin Abil ‘Ash radhiallahu ‘anhu. Beliau datang kepada Nabi ﷺ mengadukan gangguan yang dia alami ketika shalat. Kemudian beliau ﷺ bersabda:
 
ذاك شيطان يقال له خنزب فإذا أحسسته فتعوذ بالله منه واتفل على يسارك ثلاثاً
 
“Itu adalah setan. Namanya Khinzib. Jika kamu merasa diganggu, mintalah perlindungan kepada Allah dari gangguannya dan meludahlah ke kiri tiga kali.”
 
Kata Utsman, “Aku pun melakukannya, kemudian Allah menghilangkan gangguan itu dariku.” [HR. Muslim, no. 2203]
 
Pelajaran Hadis:
 
Dalam hadis di atas Nabi ﷺ mengajarkan kepada kita dua cara untuk menghilangkan gangguan setan dalam shalat:
 
1. Memohon perlindungan kepada Allah dengan membaca ta’awudz (A’udzu billahi minas syaithanir rajim). Bacaan ini dilafalkan, bukan di batin. Ini hukumnya diperbolehkan dan tidak membatalkan shalat.
2. Meludah ringan ke kiri dengan cara meniupkan udara yang mengandung sedikit air ludah. Ini diperbolehkan, dengan syarat tidak mengganggu orang yang berada di sebelah kirinya dan tidak mengotori masjid.
 
Allahu a’lam.
 
Disadur dari “Madza Taf’alu fi Halatit Taliyah” karya Syekh Muhammad bin Shaleh Al-Munajjid.
 
Penulis: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)
#doa zikir, #adab akhlak, #sifat Sholat Nabi, #sholat, #shalat, #salat, #solat, #gangguan, #diganggu, #Khinzib, #setan Khinzib, #meludah tiga kali, #meludah 3 x, #ke arah kiri, #meludah ke kiri tiga kali #agarshalatkhusyuk #tipstipsshalatkhusyu
,

PAHALA SHALAT DI MAKKAH 100.000 KALI

PAHALA SHALAT DI MAKKAH 100.000 KALI
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
PAHALA SHALAT DI MAKKAH 100.000 KALI
>> Apakah hal itu berlaku di Masjidil Haram saja, ataukah di seluruh Makkah?
 
Tanah Haram (Makkah dan Madinah) adalah tempat yang mulia. Di antara kemuliaannya adalah akan dilipatgandakan pahala shalat di masjid di tanah tersebut. Khusus untuk Tanah Haram di Makkah kita ketahui, bahwa pahala shalat di Masjidil Haram adalah 100.000 kali dari shalat di masjid lainnya.
 
Dari Jabir, Nabi ﷺ bersabda:
 
صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ وَصَلاَةٌ فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ
 
“Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Haram. Shalat di Masjidil Haram lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya.” [HR. Ahmad 3/343 dan Ibnu Majah no. 1406, dari Jabir bin ‘Abdillah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1173]
 
Namun apakah hal itu berlaku di Masjidil Haram saja, ataukah di seluruh Makkah?
 
Komisi Fatwa di Kerajaan Saudi Arabia, Al Lajnah Ad Daimah ditanya:
“Apakah pahala shalat di seluruh tempat di Makkah berlipat-lipat sama dengan shalat di Masjidil Haram itu sendiri? Lalu apakah berbuat maksiat juga akan dilipatgandakan dosanya sebagaimana pada kebaikan?
 
Para ulama yang duduk di komisi tersebut menjawab:
 
Dalam masalah ini, ada silang pendapat antara para ulama. Pendapat terkuat, berlipatnya pahala berlaku umum di seluruh Tanah Haram (di seluruh Makkah). Karena dalam Alquran dan As Sunnah, seluruh tempat di Makkah disebut dengan Masjidil Haram.
 
Sedangkan mengenai maksiat, tidaklah dilipatgandakan dosanya secara jumlah, baik di Tanah Haram atau selainnya. Dosa itu dilipatgandakan dilihat dari maksiat yang dilakukan (kaifiyah), berbeda-beda antara dosa. Ada dosa yang amat berat, ada yang balasannya keras karena dilakukan di waktu dan tempat tertentu, seperti dilakukan di bulan Ramadan, di Tanah Haram yang mulia, di Madinah Al Munawwaroh dan semacamnya. Karena Allah taala berfirman:
 
مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَى إِلَّا مِثْلَهَا
 
“Barang siapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya. Dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat, maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya” [QS. Al An’am: 160]. Dan juga banyak hadis yang Shahih yang menerangkan hal ini.
 
Wabillahit taufiq. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
 
[Fatwa Al Lajnah Ad Daimah no. 6267, pertanyaan keempat. Yang menandatangani fatwa ini: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz selaku ketua, Syaikh ‘Abdurrozaq ‘Afifi selaku wakil ketua, Syaikh ‘Abdullah bin Ghudayan dan Syaikh ‘Abdullah bin Qu’ud selaku anggota].
 
 
***
 
Dari sini, meskipun kita shalat di masjid lainnya di Makkah, atau wanita Muslimah menunaikan shalat di hotelnya selama itu masih di Makkah (Tanah Haram), maka akan dilipatgandakan pahala demikian.
 
Semoga Allah memudahkan kita menginjakkan kaki kita di Tanah Haram yang mulia. Allahumma yassir wa a’in.
 
 
 
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
[www.rumaysho.com]
 

 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

#HaditsTentangPahalaShalatDiMasjidilHaram #PahalaSholatDiMasjidNabawi #HadisKeutamaanShalatDiMasjidilHaram #KeutamaanMasjidilHaramDanMasjidNabawi #PahalaShalatDiMasjidNabawiDanMasjidilHaram #sifatsholatNabi #tatacara #seratusribu #100000 #pahalashalat #Makkah #Mekah #Mekkah #Mecca #MasjidilHaram #MasjidNabawi #keutamaan #fadhilah

,

MENGAPA RASULULLAH TIDAK TARAWIH BERJAMAAH SEBULAN PENUH?

MENGAPA RASULULLAH TIDAK TARAWIH BERJAMAAH SEBULAN PENUH?
MENGAPA RASULULLAH TIDAK TARAWIH BERJAMAAH SEBULAN PENUH?
>> Apakah Disyariatkan Tarawih Sebulan Penuh?
 
Syaikh Abdullah bin Jibrin rahimahullah pernah ditanya: “Apakah disyariatkan shalat Tarawih secara berjamaah di bulan Ramadan? Mengapa Nabi ﷺ tidak shalat Tarawih secara berjamaah secara terus-menerus?”
 
Beliau menjawab:
 
Abu Muhammad Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni mengatakan:
 
المختار عند أبي عبد الله فعلها في الجماعة، قال في رواية يوسف بن موسى: الجماعة في التراويح أفضل. وإن كان رجل يُقتدى به فصلاَّها في بيته خفت أن يقتدي الناس به، وقد جاء عن النبي صلى الله عليه وسلم: “اقتدوا بالخلفاء”. وقد جاء عن عمر أنه كان يُصلي في الجماعة، وبهذا قال المزني، وابن عبد الحكم، وجماعة من أصحاب أبي حنيفة، قال أحمد: كان جابر وعلي وعبد الله يصلونها في جماعة
 
 “Pendapat yang valid dari Abu Abdillah (Imam Ahmad) adalah disyariatkannya shalat Tarawih secara berjamaah. Diriwayatkan juga dari Yusuf bin Musa bahwa Imam Ahmad berkata: ‘Secara berjamaah itu lebih utama’. Jika ada orang yang ingin meniru Nabi ﷺ dengan shalat Tarawih di rumah karena alasan khawatir orang-orang mengikutinya, maka terdapat hadis dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda: ‘Teladanilah para Khulafa Ar-Rasyidin‘. Terdapat hadis dari Ibnu Umar, bahwa beliau melaksanakan shalat Tarawih secara berjamaah. Ini juga dikatakan oleh Al-Muzanni, Ibnu Abdil Hakam, dan sejumlah ulama Hanafiyah. Imam Ahmad juga mengatakan: ‘Jabir, Ali dan Abdullah, mereka shalat Tarawih secara berjamaah.” [selesai perkataan Ibnu Qudamah].
 
 
Adapun hadis yang Marfu tentang hal ini, terdapat dalam Shahih Muslim, dari ‘Aisyah radhiallahu’anha, ia berkata:
 
صلى النبي، صلى الله عليه وسلم، في المسجد ذات ليلة، فصلى بصلاته ناس، ثم صلى من القابلة، وكثر الناس، ثم اجتمعوا من الليلة الثالثة أوالرابعة، فلم يخرج إليهم رسول الله صلى الله عليه وسلم، فلما أصبح قال
قد رأيت الذي صنعتم، فلم يمنعني من الخروج إليكم إلا أنني خشيت أن تفرض عليكم وذلك في رمضان
“Nabi ﷺ shalat di masjid pada suatu malam. Maka orang-orang pun shalat bermakmum kepada beliau ﷺ. Kemudian kabilah-kabilah pun ikut shalat bersama beliau ﷺ, sehingga jumlahnya sangat banyak. Kemudian pada malam yang ketiga atau keempat mereka sudah berkumpul di masjid, namun Rasulullah ﷺ tidak keluar. Ketika pagi hari tiba beliau ﷺ bersabda: ‘Aku telah melihat apa yang kalian lakukan. Tidaklah ada yang menghalangi aku untuk keluar, kecuali aku khawatir shalat tersebut diwajibkan atas kalian’. Itu ketika Ramadan.”
 
 
Dan juga dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, ia berkata:
 “Suatu ketika Rasulullah ﷺ keluar. Beliau ﷺ melihat orang-orang shalat (Tarawih) di masjid pada waktu Ramadan. Nabi ﷺ bertanya: ‘Apa yang mereka lakukan?’. Seseorang menjawab: ‘Mereka adalah orang-orang yang tidak punya Alquran, dan Ubay bin Ka’ab shalat mengimami mereka’. Nabi ﷺ bersabda: ‘Mereka melakukan hal yang benar. Dan sungguh itu merupakan sebaik-baik perbuatan’” [HR. Abu Daud]
 
Terdapat hadis juga dalam Shahih Muslim, dari ‘Aisyah radhiallahu’anha:
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم، خرج من جوف الليل، فصلى في المسجد، فصلى رجال بصلاته، فأصبح الناس يتحدثون بذلك، فاجتمع أكثر منهم، فخرج رسول الله صلى الله عليه وسلم، في الليلة الثانية، فصلوا بصلاته، فأصبح الناس يذكرون ذلك، فكثر أهل المسجد من الليلة الثالثة، فخرج فصلوا بصلاته، فلما كانت الليلة الرابعة عجز المسجد عن أهله، فلم يخرج إليهم رسول الله صلى الله عليه وسلم فطفق رجال منهم يقولون: الصلاة، فلم يخرج إليهم رسول الله صلى الله عليه وسلم، حتى خرج لصلاة الفجر، فلما قضى الفجر أقبل على الناس، ثم تشهد، فقال
“أما بعد فإنه لم يخف عليَّ شأنكم الليلة، ولكني خشيت أن تُفرض عليكم صلاة الليل، فتعجزوا عنها”
“Rasulullah ﷺ keluar di tengah malam, kemudian shalat di masjid. Kemudian beberapa orang sahabat pun bermakmum kepada beliau ﷺ. Di pagi hari, orang-orang membicarakan hal tersebut. Sehingga berkumpullah orang yang banyak (di masjid). Kemudian Rasulullah ﷺ keluar lagi untuk shalat di malam yang kedua, orang-orangpun bermakmum kepada beliau. Di pagi hari, orang-orang pun membicarakan hal tersebut, sehingga bertambah banyaklah orang-orang di masjid pada malam yang ketiga. Kemudian Rasulullah ﷺ keluar lagi untuk shalat dan orang-orang pun bermakmum kepada beliau ﷺ. Di malam yang keempat, masjid tidak lagi bisa menampung orang-orang dan Rasulullah ﷺ belum juga keluar, hingga datang waktu Subuh baru beliau ﷺ keluar. Setelah selesai shalat Subuh Nabi ﷺ menghadap kepada orang-orang (untuk berkhutbah), beliau ﷺ membaca syahadat, lalu berkata: ‘Amma ba’du. Apa yang kalian lakukan tadi malam tidaklah samar bagiku. Namun aku khawatir shalat malam diwajibkan atas kalian, sehingga kalian merasa tidak bisa melakukannya.”
 
Rasulullah ﷺ Khawatir Shalat Tarawih Menjadi Wajib
 
Dalam hadis-hadis ini kita ketahui, bahwa Nabi ﷺ shalat Tarawih berjamaah bersama sebagian sahabatnya, namun beliau ﷺ TIDAK melakukannya terus-menerus (hingga akhir Ramadan). Alasannya adalah karena beliau ﷺ khawatir shalat Tarawih diwajibkan atas umat beliau ﷺ. Maka setelah masa pensyariatan berakhir, Umar radhiallahu’anhu mengumpulkan orang-orang untuk shalat Tarawih berjamaah. Sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abdurrahman bin Abidin, ia berkata:
خرجت مع عمر -رضي الله عنه- ليلة في رمضان إلى المسجد، فإذا الناس أوزاع متفرقون، يُصلي الرجل لنفسه، ويصلي الرجل فيصلي بصلاته الرهط، فقال عمر: إني أرى لو جمعت هؤلاء على قارئ واحد لكان أمثل، ثم عزم فجمعهم على أُبي بن كعب
“Aku keluar bersama Umar radhiallahu’anhu pada suatu malam Ramadan ke masjid. Ketika itu orang-orang di masjid shalat berkelompok-kelompok terpisah-pisah. Ada yang shalat sendiri-sendiri, ada juga yang membuat jamaah bersama beberapa orang. Umar berkata: ‘Menurutku, jika aku satukan mereka ini untuk shalat bermakmum di belakang satu orang qari’ itu akan lebih baik’. Maka Umar pun bertekad untuk mewujudkannya, dan ia pun menyatukan orang-orang untuk shalat Tarawih berjamaah bermakmum kepada Ubay bin Ka’ab”.
 
Sumber: Fatawa Syaikh Ibnu Jibrin, 24/10-11, Asy Syamilah
 
 
Penyusun: Yulian Purnama
Artikel: Muslim.or.id
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#sifatsholatNabi #shalat #solat #salat #sholat #taraweh #tarawih #witir #Ramadhan #Ramadan #satu1bulanpenuh #sebulanpenuh #30hari #terusmenerus
,

BERAPAKAH JUMLAH RAKAAT SUNNAH RAWATIB ZUHUR?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
BERAPAKAH JUMLAH RAKAAT SUNNAH RAWATIB ZUHUR?
 
Beberapa riwayat yang menjelaskan jumlah rakaat shalat sunnah Rawatib Zuhur, ialah sebagai berikut:
 
1. Dua rakaat sebelum Zuhur dan dua rakaat sesudahnya, sebagaimana dalam hadis Ibnu ‘Umar radhiyallahu anhuma yang berbunyi:
 
حَفِظْتُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ رَكَعَاتٍ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ فِي بَيْتِهِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ فِي بَيْتِهِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الصُّبْحِ وَكَانَتْ سَاعَةً لَا يُدْخَلُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهَا حَدَّثَتْنِي حَفْصَةُ أَنَّهُ كَانَ إِذَا أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ وَطَلَعَ الْفَجْرُ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ
 
Aku hafal dari Nabi ﷺ sepuluh rakaat: Dua rakaat sebelum Zuhur, dua rakaat sesudahnya, dua rakaat setelah Maghrib, dua rakaat setelah ‘Isya dan dua rakaat sebelum shalat Subuh. Dan ada waktu tidak dapat menemui Nabi ﷺ . Hafshah Radhiyallahu anhuma menceritakan kepadaku bahwa bila muadzin beradzan dan terbit fajar, beliau shalat dua rakaat. [HR al- Bukhari kitab Tahajjud, Bab: ar-Rakatain Qabla Zhuhur no.1180, dan Muslim kitab Shalat al-Musafirin wa Qashruha, Bab: Fadhlus-Sunan ar-Ratibah, 729]
 
2. Empat rakaat sebelumnya dan dua rakaat sesudahnya, sebagaimana dalam hadis ‘Aisyah radhiyallahu anha yang berbunyi:
 
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لَا يَدَعُ أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ
 
Sungguh, Nabi ﷺ dahulu tidak pernah meninggalkan empat rakaat sebelum Zuhur. [HR al-Bukhari dalam kitab al-Jum’at, Bab: ar-Rak’atain Qablal-Zhuhri, no. 1110]
 
Hadis ‘Abdullah bin Syaqiq Radhiyallahu anhu ketika bertanya kepada ‘Aisyah Radhiyallahu anha tentang shalat sunnah yang dikerjakan Rasulullah ﷺ, dan beliau radhiyallahu anha menjawab:
 
كَانَ يُصَلِّي فِي بَيْتِي قَبْلَ الظُّهْرِ أَرْبَعًا ثُمَّ يَخْرُجُ فَيُصَلِّي بِالنَّاسِ ثُمَّ يَدْخُلُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ
 
Beliau ﷺ dahulu shalat di rumahnya sebelum Zuhur empat rakaat, kemudian keluar dan shalat mengimami manusia. Kemudian masuk (rumah lagi) dan shalat dua rakaat. [HR Muslim, kitab Shalat al-Musafirin wa Qashruha, Bab: Jawaz an-Nafilah Qaiman wa Qa’idan, no. 730]
 
3. Empat rakaat sebelumnya dan empat rakaat setelahnya, sebagaimana terdapat dalam hadis Ummu Habibah yang berbunyi:
 
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ حَافَظَ عَلَى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَأَرْبَعٍ بَعْدَهَا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ
 
Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa yang menjaga empat rakaat sebelum Zuhur dan empat rakaat setelahnya, maka Allah mengharamkannya dari Neraka”. [HR at-Tirmidzi, kitab ash-Shalat, no. 428; Ibnu Majah, kitab ash-Shalat, no. 428; Abu Dawud kitab ash-Shalat, Bab: al-Arba’ Qablal-Zhuhri wa Ba’daha, no. 1269; dan Ibnu Majah kitab ash-Shalat was-Sunnah fiha, Bab: Ma Ja`a fiman Shalla Qablal-Zhuhri Arba’an wa Ba’daha Arba’an, no. 1160. Dishahihkan Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah, 1/191]
 
Dengan demikian, siapa saja yang menunaikan seluruhnya, maka ia telah melaksanakan sunnah. Namun yang muakkad (yang ditekankan), ialah empat rakaat sebelum Zuhur dan dua rakaat setelahnya, sebagaimana telah dirajihkan oleh Ibnul-Qayyim rahimahullah dan Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin. [Lihat pembahasan Majalah As-Sunnah, Edisi 05/Tahun XI/1428H/2007M, Rubrik Fiqh, halaman 49-52]
 
Keutamaan Sunnah Rawatib Zuhur
Shalat Rawatib Zuhur termasuk yang tidak pernah ditinggalkan Nabi ﷺ , kecuali ketika dalam keadaan bersafar. Shalat ini memiliki keutamaan seperti keumuman shalat Rawatib lainnya. Namun ada beberapa hadis yang menjelaskan keutamaannya, khususnya seperti hadis Ummu Habibah yang berbunyi:
 
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ حَافَظَ عَلَى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَأَرْبَعٍ بَعْدَهَا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ
 
Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa yang menjaga empat rakaat sebelum Zuhur dan empat rakaat setelahnya, maka Allah mengharamkannya dari Neraka”.
 
Dan hadis yang berbunyi:
 
أَرْبَعُ رَكَعَاتٍ قَبْل الظُّهْرِ يَعْدَلْنَ بِصَلاَةِ السَّجَرِ
 
Empat rakaat sebelum Zuhur menyamai shalat as-Sahar (menjelang terbit fajar). [HR Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya (2/15/2), dan dishahihkan Syaikh al-Albani dalam Silsilah Ahadits ash-Shahihah no. 1431. Lihat Silsilah (3/416)]
 
Wallahu a’lam.
 
 
 
#nasihatsahabat #mutiarasunnah #motivasiIslami #petuahulama #hadist #hadis #nasihatulama #fatwaulama #akhlak #akhlaq #sunnah #aqidah #akidah #salafiyah #Muslimah #adabIslami #ManhajSalaf #Alhaq #Kajiansalaf #dakwahsunnah #Islam #ahlussunnah #sunnah #tauhid #dakwahtauhid #Alquran #kajiansunnah #salafy
#shalat #sholat #salat #solat #Rawatib #Rowatib #Dzuhur #Zhuhur #Zuhur #Lohor #empatrakaat #4rakaat #sebelumdansesudahnya #haramkanNeraka
,

TETAP WAJIB QADHA SHALAT SETELAH SADAR BIUS OPERASI

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
TETAP WAJIB QADHA SHALAT SETELAH SADAR BIUS OPERASI
 
Sering beberapa pasien bertanya-tanya, jika dioperasi dan dibius total, apakah kita harus qadha shalat atau tidak? Jika diqadha, apakah bisa dijamak-qashar? Berikut fatwa mengenai hal ini.
 
Pertanyaan:
 
س124- من زال عقله بالبنج لمدة يوم أو يومين فهل عليه أن يصلي الصلوات التي فاتته إذا صحا من البنج؟
 
“Seseorang yang hilang kesadarannya karena dibius selama satu atau dua hari, apakah wajib baginya mengganti shalat yang terlewatkan jika telah sadar dari bius?
 
Jawaban:
 
جـ – يلزمه القضاء مرتبا فور إفاقته، فقد روي عن عمار بن ياسر – رضي الله عنه – أنه أغمي عليه ثلاثة أيام فقضاها؛ وذلك أن الإغماء ومثله زوال العقل بالبنج لا تطول مدته، فلا يسقط به التكليف لإمكان القضاء بلا مشقة، خلاف الجنون المطبق والإغماء الطويل، فإنه قد يبقى أشهرا أو سنوات، فيشق عليه قضاء ما فاته من الصلاة والصوم، فرفع عنه التكليف لقول النبي – صلى الله عليه وسلم – (( رفع القلم عن ثلاثة: النائم حتى يستيقظ، والمجنون حتى يفيق، والصغير حتى يبلغ )) ومعلوم أن النائم يقضي ما فاته من الصلوات بعد انتهاء نومه، وذلك لقول النبي – صلى الله عليه وسلم – (( من نام عن صلاة أو نسيها فليصلها إذا ذكرها، لا كفارة لها إلا ذلك. وقرأ قول الله تعالى: (( وأقم الصلاة لذكري )) )) والله أعلم
 
“Wajib baginya mengqadha secara berurutan dengan segera. Diriwayatkan dari Ammar bin Yasir radhiallahu ‘anhu, bahwasanya ia tidak sadar (pingsan), maka wajib baginya meng-qadha selama tiga hari (pingsannya). Hal ini karena pingsan dan pingsan akibat bius, kesadaran hilang tidak dalam jangka waktu yang lama. Maka tidak gugur beban kewajiban (shalat) tanpa kesusahan.
 
Berbeda halnya dengan orang gila atau tidak sadar dalam jangka waktu yang lama, ia tidak sadar berbulan-bulan atau bertahun-tahun, maka berat baginya meng-qadha apa yang tidak ia kerjakan berupa shalat dan puasa. Maka beban taklif diangkat (digugurkan) darinya, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
“Diangkat pena dari tiga:
  • Orang yang tidur hingga ia bangun,
  • Orang yang gila hingga ia sadar, dan
  • Anak kecil hingga ia baligh”
 
Dan telah diketahui, bahwa orang yang tidur meng-qadha shalat-shalat yang terlewatkan setelah berhenti dari tidur (bangun). Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
 “Barang siapa yang ketiduran dari shalat (tidak shalat) atau lupa, maka hendaklah ia shalat ketika mengingatnya. Tidak ada kafarah (tebusan) baginya keculai hal tersebut (yaitu qhada shalat)”
 
Kemudian beliau membaca firman Allah taala:
 “Dan tegakkanlah shalat untuk mengingat Aku.”
 
Wallahu ‘alam
 
Sumber: Fatawa As-Syar’iyyah fi masa’ilit thibbiyyah 2/83, bisa diakses juga di: http://ibn-jebreen.com/?t=books&cat=3&book=50&toc=2412&page=2247&subid=1417
 
 
Pertanyaan:
 
نومت في مستشفى الظهران العسكري من أجل التبرع بكلية فأدخلت في غرفة العمليات قبل الظهر ولم يخرج التخدير إلا عند صلاة العشاء فصليت الظهرو العصر جمعاً و قصراً وكذلك المغرب و العشاء جمعاً و قصراً فهل هذا العمل صحيح؟
 
 
“Saya dibius di rumah sakit militer di daerah Dahran karena menjalani operasi donor ginjal. Saya dimasukkan ke ruang operasi sebelum Zuhur, bius masih bekerja dan berakhir ketika shalat Isya. Aku pun shalat Zuzur dan Ashar dengan cara jamak-qashar. Demikian juga Magrib dan Isya, apakah perbuatan ini benar?
 
Jawaban:
 
فقد اختلف أهل العلم في وجوب القضاء على من زال عقله بالبنج
فقال بعضهم لا يقضي لأنه حصل بما هو مباح فصار كما لو أغمي عليه بمرض، وهذا قول محمد بن الحسن صاحب أبي حنيفة، فجعله في حكم المغمي عليه.
وقال آخرون يلزمه القضاء لأنه إغماء حصل بصنع العباد، وهذا قول أبي حنيفة وقال الشافعي: “يقضي لأن البنج في حكم الخمر”. ذكره النووي رحمه الله في المجموع.
وعند الحنابلة يقضي مطلقاً لأنهم يوجبون القضاء على المغمى عليه وعلى من زال عقله بمسكر فلو ألحقناه بأحدهما لم يختلف الحكم
 
“Ulama berselisih pendapat mengenai wajibnya meng-qadha bagi mereka yang hilang kesadarannya karena dibius. Sebagian mengatakan, tidak perlu di-qadha karena terjadi dengan sesuatu yang mubah, sebagaimana jika ia pingsang karena penyakit. Ini adalah pendapat Muhammad bin Hasan yang bermazhab Hanafiyyah. Ia menyamakan hukumnya dengan orang yang pingsan.
 
Berkata ulama yang lain, wajib baginya meng-qadha karena tidak sadar tersebut terjadi karena perbuatan manusia. Ini adalah pendapat Abu Hanifah dan Asy-Syafi’i, disebutkan oleh imam An-Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ mengenai hukum khamer.
 
Menurut ulama Mazhab Hanabilah, di-qadha secara mutlak, karena mereka mewajibkan qhada bagi orang yang pingsan ataupun orang yang hilang kesadarannya karena mabuk. Jika kita komparasikan dengan salah satu dari keduanya, maka hukumnya tidak berbeda.
 
واختار الشيخابن عثيمين رحمه الله تعالى:
 
“إن زال عقله بفعله ـ أي باختياره ـ فعليه القضاء وإن كان بغير اختياره فلا قضاء عليه” .
 
والقول بوجوب القضاء هو الأحوط والأبرأ للذمة.
 
وعلى القول بالقضاء فما فعلته من قصر الصلاة غير صحيح لأن قصر الصلاة يكون في السفر
 
وعليه فليزمك أن تعيد الصلاة بدون قصر.
 
 
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah taala berkata:
“Jika kesadarannya hilang karena pilihannya (dibius adalah pilihan pasien), maka wajib baginya meng-qadha. Jika tanpa pilihannya sendiri maka tidak perlu meng-qadha.”
 
Pendapat yang mewajibkan meng-qadha lebih hati-hati dan lebih melepaskan diri dari tanggungan kewajiban.
 
Menurut pendapat yang mewajibkan qhada, maka apa yang engkau perbuat dengan mengqashar shalat adalah tidak benar, karena qashar itu ketika safar. Maka wajib bagi engkau mengulangi shalat tanpa mengqahsar.
 
Sumber: http://www.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=51679
 
 
 
Kesimpulan:
– Wajib meng-qadha shalat yang terlewatkan selama dibius.
– Qhada dengan cara shalat berturut-turut TANPA diqashar.
 
 
 
Penulis: dr. Raehanul Bahraen
https://muslimafiyah.com/wajib-qadha-shalat-setelah-sadar-bius-operasi.html
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#shalat #sholat #salat #solat #qadha #qodho #pingsan #bius #dibius #tetapqadha #sesudahoperasi #tidaksadarkandiri #obatbius #dijamakqashar #diqadha #diqodho #setelahsadar #biusoperasi
,

ORANG MUNAFIK SHALAT DALAM KEADAAN MALAS DAN RIYA

ORANG MUNAFIK SHALAT DALAM KEADAAN MALAS DAN RIYA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
ORANG MUNAFIK SHALAT DALAM KEADAAN MALAS DAN RIYA
 
Sifat malas orang munafik itulah sifat yang nampak sebagaimana disebutkan dalam ayat:
 
وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَى
 
“Dan mereka tidaklah mengerjakan shalat, melainkan dalam keadaan malas” [QS. At Taubah: 54]
 
Yang dimaksud mereka riya’ dengan shalatnya adalah mereka tidak ikhlas dalam bermunajat pada Allah. Mereka pura-pura baik saja di hadapan manusia. Oleh karenanya, orang munafik secara umum tidak terlihat pada shalat Isya dan shalat Subuh, di mana keadaan kedua shalat tersebut masih gelap.
 
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:
 
إِنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَتُقَامَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيُصَلِّيَ بِالنَّاسِ ثُمَّ أَنْطَلِقَ مَعِي بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ لَا يَشْهَدُونَ الصَّلَاةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّارِ
 
“Shalat yang dirasakan paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat Isya dan shalat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui keutamaannya, niscaya mereka akan mendatanginya, sekalipun dengan merangkak. Sungguh aku berkeinginan untuk menyuruh seseorang sehingga shalat didirikan, kemudian kusuruh seseorang mengimami manusia, lalu aku bersama beberapa orang membawa kayu bakar mendatangi suatu kaum yang tidak menghadiri shalat, lantas aku bakar rumah-rumah mereka.” [HR. Al-Bukhari no. 141 dan Muslim no. 651]
 
Disebutkan dalam hadis yang dhaif, namun maknanya benar:
“Siapa yang memperbagus shalat ketika dilihat oleh orang, namun shalatnya rusak ketika tidak ada orang yang memperhatikan, maka itu termasuk menghinakan, yaitu ia termasuk merendahkan Allah dengan shalatnya.” [Dikeluarkan oleh Abu Ya’la dengan sanad dan matannya. Namun sanadnya dhaif karena adanya Ibrahim bin Muslim Al Hijriy. Lihat ta’liq Abu Ishaq Al Huwaini dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 3: 243]
 
Ibnu Hajar mengatakan, bahwa semua shalat itu berat bagi orang munafik sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:
 
وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَى
 
“Dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas.” [QS. At Taubah: 54]. Akan tetapi, shalat Isya dan shalat Subuh lebih berat bagi orang munafik, karena rasa malas yang menyebabkan enggan melakukannya. Karena shalat ‘Isya adalah waktu di mana orang-orang bersitirahat, sedangkan waktu Subuh adalah waktu nikmatnya tidur. [Fathul Bari, 2: 141]
 
Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan:
“Orang munafik itu shalat dalam keadaan riya dan sumah (ingin dilihat dan didengar orang lain). Di masa silam shalat Subuh dan shalat ‘Isya’ tersebut dilakukan dalam keadaan gelap, sehingga mereka, orang-orang munafik tidak menghadirinya. Mereka enggan menghadiri kedua shalat tersebut. Namun untuk shalat lainnya, yaitu shalat Zuhur, Ashar dan Maghrib, mereka tetap hadir, karena jamaah yang lain melihat mereka. Dan mereka kala itu cari muka dengan amalan shalat mereka tersebut. Mereka hanyalah sedikit berzikir kepada Allah. Di masa silam belum ada lampu listrik seperti saat ini. Sehingga menghadiri dua shalat itu terasa berat, karena mereka tidak bisa memamerkan amalan mereka. Alasan lainnya karena shalat Isya itu waktu istirahat, sedangkan shalat Subuh waktu lelapnya tidur.” [Syarh Riyadhis Sholihin, 5: 82]
 
 
 
#orangmunafik, #munafiqun #orangmunafik, #shalat, #sholat, #solat, #salat, #dalamkeadaanmalas danriya, #sumah, #riya, #walaupundenganmerangkak, #keutamaan, #fadhilah, #bakarrumah
, ,

PEMUDA ZAMAN NOW

PEMUDA ZAMAN NOW
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ  
 
PEMUDA ZAMAN NOW
 
Padahal, pemuda yang ia selalu terkait dengan masjid, akan mendapat naungan pada Hari Kiamat kelak.
Yang dimaksudkan naungan di sini adalah naungan ‘Arsy Allah, sebagaimana dikuatkan riwayatnya oleh Ibnu Hajar dalam Fath Al-Bari [2: 144]
 
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau ﷺ bersabda:
“Tujuh golongan yang dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya:
(1) Imam yang adil,
(2) Seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allah,
(3) Seorang yang hatinya bergantung ke masjid,
(4) Dua orang yang saling mencintai di jalan Allah, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya,
(5) Seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata: ‘Aku benar-benar takut kepada Allah.’
(6) Seseorang yang bersedekah dengan satu sedekah, lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan tangan kanannya, serta
(7) Seseorang yang berzikir kepada Allah dalam keadaan sepi, lalu ia meneteskan air matanya.” [HR. Bukhari, no. 1423 dan Muslim, no. 1031]
 
Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
“Barang siapa yang gembira bertemu dengan Allah besok dalam keadaan Muslim, maka jagalah shalat-shalat ini saat ia dipanggil untuk melaksanakannya. Karena Allah menyariatkan untuk Nabi kalian Sunanul Huda (Petunjuk). Dan shalat berjamaah termasuk Sunanul Huda (Petunjuk). Seandainya kalian shalat di rumah kalian sebagaimana orang yang menganggap remeh dengan shalat di rumahnya, itu berarti kalian telah meninggalkan ajaran Nabi kalian. Seandainya kalian meninggalkan ajaran Nabi kalian, niscaya kalian akan sesat. Aku telah melihat, bahwa tidak ada yang tertinggal dari shalat berjamaah melainkan orang munafik yang jelas kemunafikannya. Dan sungguh adakalanya seseorang biasa dibawa di antara dua orang (dipapah) sampai ia diberdirikan di dalam shaf.” [HR. Muslim, no. 654]
 
Semoga bermanfaat.
 
Sumber: [Rumaysho.Com]
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#pemudazamannow, #naungandiHariKiamat, #naunganArsyAllah, #hatiterkaitmasjid #shalat, #sholat, #salat, #solat, #jamaah #berjamaah
, ,

APABILA JUMAT TIBA, BERGEGASLAH MENUJU RUMAH-NYA

JUMAT BERGEGASLAH MENUJU RUMAH-NYA MASJID SEGERA SHALAT

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

APABILA JUMAT TIBA, BERGEGASLAH MENUJU RUMAH-NYA

 
Rasulullah ﷺ bersabda:
 
إذا كان يومُ الجمعةِ كان على كلِّ بابٍ من أبوابِ المسجدِ الملائكة يكتبون الأولَ فالأولَ، فإذا جلس الإمامُ طوَوُا الصحفَ وجاؤوا يستمعون الذكرَ.
 
“Apabila Jumat tiba maka akan ada para malaikat di setiap pintu-pintu masjid. Mereka akan mencatat orang yang pertama kali datang, lalu berikutnya, dan berikutnya, sampai apabila Imam telah duduk di mimbarnya, mereka pun melipat catatan-catatan tersebut. Lantas mereka pun datang dan ikut mendengarkan khutbah.” [HR. Bukhari 3211]
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#adabhariJumat #adabJumat #sholat #shalat #solat #salat #Jumat #bersegera #bergegaslah #menujumasjid #pergikemasjid, #malaikatmenunggudipintupintumasjid
,

KOREKSI SHALAT KITA

KOREKSI SHALAT KITA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
KOREKSI SHALAT KITA
 
Rasulullah ﷺ bersabda:
 
إنَّ الرجلَ ليُصلِّي ستِّينَ سنةً و ما تُقبَلُ له صلاةٌ ، لعله يتمُّ الركوعَ ، ولا يتمُّ السُّجودَ ، ويتمُّ السجودَ ولا يتمُّ الركوعَ .
 
“Sesungguhnya benar-benar ada seseorang yang telah mengerjakan shalat selama enam puluh tahun namun tidak ada yang diterima shalatnya. Mungkin dia telah menyempurnakan ruku akan tetapi TIDAK menyempunakan sujud. Atau sebaliknya, dia telah menyempurnakan sujud, akan tetapi TIDAK menyempurnakan ruku.” [Shahih At Targhib, 529, hasan oleh al Albani]
 
#sifatsholatNabi, #sholat, #shalat, #salat, #solat, #shalat60tahuntidakditerima, #60tahun, #perbaikishalat, #betulkanshalat, #koreksishalat #shalatselamaenampuluhtahun #tidakadayangditerimashalatnya
, ,

CATATAN MALAIKAT MENUNGGUMU DI PINTU-PINTU MASJID

CATATAN MALAIKAT MENUNGGUMU DI PINTU-PINTU MASJID
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
CATATAN MALAIKAT MENUNGGUMU DI PINTU-PINTU MASJID
 
Rasulullah ﷺ bersabda:
 
إذا كان يومُ الجمعةِ كان على كلِّ بابٍ من أبوابِ المسجدِ الملائكة يكتبون الأولَ فالأولَ، فإذا جلس الإمامُ طوَوُا الصحفَ وجاؤوا يستمعون الذكرَ.
“Apabila Jumat tiba maka akan ada para malaikat di setiap pintu-pintu masjid. Mereka akan mencatat orang yang pertama kali datang, lalu berikutnya, dan berikutnya, sampai apabila Imam telah duduk di mimbarnya, mereka pun melipat catatan-catatan tersebut. Lantas mereka pun datang dan ikut mendengarkan khutbah.” [HR. Bukhari 3211]
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#sholat, #salat, #shalat, #solat, #shalatJumat, #adabhariJumat, #malaikatmenunggudipintumasjid, #adabJumat