, ,

SUNNAH MENGANGKAT TANGAN DALAM SHALAT DAN TEMPATNYA

SUNNAH MENGANGKAT TANGAN DALAM SHALAT DAN TEMPATNYA
SUNNAH MENGANGKAT TANGAN DALAM SHALAT DAN TEMPATNYA
 
Pertanyaan:
Apakah pada semua shalat setiap awal rakaat (rakaat pertama, kedua, ketiga dan keempat) takbirnya selalu dengan mengangkat tangan dan ketika akan ruku’ juga takbirnya selalu dengan mengangkat tangan? Mohon dijelaskan dengan dalilnya.
 
Jawaban:
TIDAK setiap awal rakaat diharuskan mengangkat tangan dalam bertakbir. Namun para ulama menetapkan mengangkat tangan dalam takbir disunnahkan dalam empat tempat:
 
1. Pada Takbiratul Ihram dirakaat yang pertama
2. Ketika hendak ruku’
3. Ketika mengucapkan Samiallahu liman hamidah setelah ruku’
4. Ketika berdiri dari rakaat kedua menuju rakaat ketiga
 
Ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari Nafi’ maula Ibnu Umar rahimahullah, beliau mengatakan:
 
أَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ إِذَا دَخَلَ فِى الصَّلاَةِ كَبَّرَ ، وَرَفَعَ يَدَيْهِ وَإِذَا رَكَعَ رَفَعَ يَدَيْهِ ، وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَفَعَ يَدَيْهِ ، وَإِذَا قَامَ مِنَ الرَّكْعَتَيْنِ رَفَعَ يَدَيْهِ ورَفَعَ ذلكَ ابنُ عُمَر إلى نبيِّ اللهِ – صلى الله عليه وسلم -.
 
Sesungguhnya Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma biasanya jika hendak memulai shalatnya beliau bertakbir dan mengangkat kedua tangannya. Jika hendak ruku’ juga mengangkat kedua tangannya. Jika beliau mengucapkan, ”Sami’allahu liman hamidah” juga mengangkat kedua tangannya. Jika bangkit berdiri dari rakaat kedua juga mengangkat kedua tangannya. Ibnu Umar Radhiyallahu anhu memarfu’kannya kepada Nabi ﷺ .” [HR. Al-Bukhari, no. 739 dan Muslim no. 390]
 
Sedangkan Salim bin Abdillah bin Umar rahimahullah menyampaikan dari bapaknya radhiyallahu anhu yang berkata:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ إِذَا افْتَتَحَ الصَّلاَةَ، وَإِذَا كَبَّرَ لِلرُّكُوعِ، وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ، رَفَعَهُمَا كَذَلِكَ أَيْضًا، وَقَالَ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، رَبَّنَا وَلَكَ الحَمْدُ، وَكَانَ لاَ يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي السُّجُودِ “
 
Sesungguhnya Rasulullah ﷺ dahulu mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua bahunya apabila memulai shalat, dan ketika bertakbir untuk ruku’, dan ketika mengangkat kepala dari ruku’. Beliau juga mengangkat kedua tangannya dan mengucapkan, “Sami’allahu liman hamidah rabbana wa lakal hamdu” dan beliau tidak melakukan hal itu dalam sujudnya.” [HR. Al-Bukhari]
 
Syaikh Abdurrahman bin Naashir as-Sa’di rahimahullah berkata:
“Mengangkat kedua tangan sejajar dengan kedua bahunya atau sejajar dengan cuping telinganya (bagian bawah daun telinga) dalam empat tempat:
 
1. Ketika Takbiratul Ihram di rakaat yang pertama.
2. Ketika hendak ruku’
3. Ketika bangun dari ruku’
4. Ketika berdiri dari Tasyahud Awal ” [Lihat Syarh Manhajus Salikin wa Taudhihil Fiqh Fid Din 1/87].
 
Sedangkan Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim mengatakan: “Inilah empat tempat, dimana sangat disunnahkan mengangkat kedua tangan. Namun disunnahkan juga kadang-kadang mengangkat kedua tangan pada setiap hendak bangkit dan akan turun. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari Malik bin al-Huwairits radhiyallahu anhu:
 
أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَفَعَ يَدَيْهِ فِي صَلَاتِهِ وَإِذَا رَكَعَ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ وَإِذَا سَجَدَ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ السُّجُودِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا فُرُوعَ أُذُنَيْهِ
 
Sesungguhnya beliau pernah melihat Nabi ﷺ shalat dengan mengangkat kedua tangannya setiap kali hendak bangkit dan akan turun, ketika bangkit dari ruku’, ketika hendak sujud dan bangkit dari sujud. Beliau ﷺ mengangkat kedua tangannya hingga sejajar kedua telinganya “ [HR. An-Nasa’i, no. 672 dan Ahmad no. 493. Penulis Shahih Fiqh Sunnah menilai hadis ini Shahih). [Lihat Shahih Fiqh Sunnah oleh Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim, hlm. 1/343-344]
 
Kesimpulan:
 
Sangat disunnahkan mengangkat kedua tangan dalam shalat pada empat keadaan:
 
1. Ketika hendak memulai shalat,
2. Ketika hendak ruku’
3. Ketika mengucapkan “Sami’allahu liman hamidah”
4. Ketika hendak berdiri dari rakaat kedua menuju ke rakaat ketiga
 
Semoga bermanfaat. Wallahu‘alam
 
 
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XIX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
 
 
 
 

 

#4keadaan #empatkeadaan #mengangkattangansebelumruku, #hukummengangkattanganketikabangundarisujud, #adakahkewajibanmengangankattangandalamshalat, #dlmsolat, #mengangkattanganketikashalat, #mengangkattanganketikahendaksujud, #takbiratulihram, #takbiratulihrom, #bangkitdarirakaatkedua, #rakaatke-2, #kerakaatke-3, #ke rakaat ketiga, #muslimah, #perempuan, #wanita, #sifatshalatnabi, #sifatsholatnabi, #tatacara, #cara, #mengangkattangansetelahtasyahudawal, #sunnamengangkattangandalamshalat, #berapakalimengkattangansaatshalat, #takbiratulihramsetelahsujud, #berapakalitakbirdalamshalat

,

TEMPAT-TEMPAT MENGANGKAT TANGAN DALAM SHALAT

TEMPAT-TEMPAT MENGANGKAT TANGAN DALAM SHALAT

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

 

TEMPAT-TEMPAT MENGANGKAT TANGAN DALAM SHALAT

Pertanyaan:
Apakah Nabi ﷺ pada setiap perpindahan dari satu rakaat ke rakaat berikutnya selalu takbir dengan mengangkat tangan? Ataukah hanya pada saat perpindahan dari rakaat kedua menuju ke rakaat ketiga saja? Dan bagaimana pula bila makmum masbuk untuk menyempurnakan shalat, apakah juga harus mengangkat tangan?

Jawaban:
Yang biasa dilakukan Nabi ﷺ dalam masalah mengangkat tangan saat shalat, yaitu pada waktu Takbiratul Ihram, pada waktu akan ruku` dan bangkit dari ruku`, dan pada waktu berdiri dari rakaat kedua. ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhuma berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ إِذَا افْتَتَحَ الصَّلَاةَ وَإِذَا كَبَّرَ لِلرُّكُوعِ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ رَفَعَهُمَا كَذَلِكَ أَيْضًا وَقَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ وَكَانَ لَا يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي السُّجُودِ

Sesungguhnya Rasulullah ﷺ biasa mengangkat kedua tangannya dalam shalat sejajar dengan kedua pundaknya apabila memulai shalat, setelah itu bertakbir untuk ruku`, dan apabila mengangkat kepalanya dari ruku’ beliau juga mengangkat kedua tangannya …. [HR al-Bukhari, no. 735. Muslim, no. 390]

Adapun riwayat yang menjelaskan mengangkat tangan setelah bangkit dari Tasyahhud Awal ialah sebagai berikut:

عَنْ نَافِعٍ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ إِذَا دَخَلَ فِي الصَّلَاةِ كَبَّرَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ وَإِذَا رَكَعَ رَفَعَ يَدَيْهِ وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَفَعَ يَدَيْهِ وَإِذَا قَامَ مِنْ الرَّكْعَتَيْنِ رَفَعَ يَدَيْهِ وَرَفَعَ ذَلِكَ ابْنُ عُمَرَ إِلَى نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Nafi’, bahwasanya Ibnu ‘Umar jika memulai shalat biasa bertakbir dan mengangkat kedua tangannya. Jika ruku’, dia mengangkat kedua tangannya, dan jika mengatakan sami’allahu liman hamidah, ia mengangkat kedua tangannya. Dan jika bangkit dari rakaat kedua, ia mengangkat kedua tangannya. Ibnu ‘Umar menyatakan itu dari Nabi ﷺ. [HR al-Bukhari, no. 739]

 

 

Untuk lebih lengkapnya, silakan klik tautan berikut ini: https://almanhaj.or.id/4713-tempattempat-mengangkat-tangan-dalam-shalat.html
 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

 

#sifatsholatnabi, #sifatshalatnabi, #tatacaratempattempatmengangkattangan #tempattempatangkattangan, #dalamshalat, #dalamsholat, #sholat, #shalat, #salat, #solat #takbiratulihram, #takbiratulihrom, #angkattangan, #mengangkattangan

, ,

BAGI WANITA DI BULAN RAMADAN, MANA LEBIH UTAMA, SHALAT DI MASJIDIL HARAM ATAU DI RUMAH?

BAGI WANITA DI BULAN RAMADAN, MANA LEBIH UTAMA, SHALAT DI MASJIDIL HARAM ATAU DI RUMAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
BAGI WANITA DI BULAN RAMADAN, MANA LEBIH UTAMA, SHALAT DI MASJIDIL HARAM ATAU DI RUMAH?
 
Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya:
Bagi kaum wanita khususnya yang melakukan umrah di bulan Ramadan, dalam pelaksanaan shalat, baik itu shalat fardhu ataupun shalat Tarawih, manakah yang lebih utama bagi mereka, melaksanakannya di rumah atau di Masjidil Haram?
 
Jawaban:
Sunnah Rasul ﷺ menunjukkan, bahwa yang lebih utama bagi seorang wanita adalah melaksanakan shalat di dalam rumahnya, di mana saja ia berada, baik di rumahnya, di Mekkah ataupun selain di Mekkah. Karena itulah Nabi ﷺ bersabda:
 
لا تمنعوا إماء الله مساجد الله وبيوتهنّ خير لهنّ
 
“Janganlah kalian melarang kaum wanita untuk mendatangi masjid-masjid Allah, walaupun sesungguhnya rumah-rumah mereka adalah lebih baik bagi mereka.”
 
Beliau ﷺ mengucapkan sabda ini saat beliau ﷺ berada di Madinah, sedangkan saat itu beliau ﷺ telah menyatakan, bahwa shalat di Masjid Nabawi (Masjid di Madinah) terdapat tambahan kebaikan. Mengapa beliau ﷺ melontarkan sabda yang seperti ini? Karena jika seorang wanita melakukan shalat di rumahnya, maka hal ini adalah lebih bisa menutupi dirinya dari pandangan kaum pria asing kepadanya, dan dengan demikian ia lebih terhindar dari fitnah. Maka shalatnya seorang wanita di dalam rumahnya adalah lebih baik dan lebih utama.
 
 
Sumber: Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Jilid 1, Darul Haq, Cetakan VI, 2010
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#manalebihutama, #manalebihafdhal, #manalebihafdhol, #wanita, #perempuan, #muslimah, #shalat, #sholat, #salat, #solat, #rumah, #masjidNabawi, #masjidilHaram, #Mekkah, #Makkah, #Madinah, #umroh, #umrah, #haji, #penginapan, #hotel, #akomodasi #Mekah, #Medinah, #hukum, #wanitashalatdiMasjidNabawi, #wanitashalatdiMasjidilHaram #Ramadhan, #Ramadan, #Taraweh, #Tarawih #bulanramadhan #bulanramadan

#apakahsholatdirumahituharam, #dimanaperempuansholat, #hukumwanitasholatdimasjidilharam, #lebih utama shalatdirumahdandimasjid bagi wanita, #mesjid, #masjidilharamdibulanramadan, #masjidilharampadabulanpuasa, #ramadhandimasjidilharam, #shalattarawehdimasjidil haram, #shalattarawihwanita, #sholatdimesjidbulanpuasauntukwanita
#sholatdidalamrumah, #sholatyangutamabagiwanitadimana #tarawih, #tatacarashalattarawihdirumah, #tatacarasolattarawihdirumah, #wanitalebihbaiksholatdirumah, #wanitalebihutamashalatdirumah, #wanitalebihutamasholat dimana?
, ,

SHALAT WANITA DI MASJID TERNYATA KALAH UTAMA DENGAN SHALAT WANITA DI RUMAHNYA

SHALAT WANITA DI MASJID TERNYATA KALAH UTAMA DENGAN SHALAT WANITA DI RUMAHNYA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
SHALAT WANITA DI MASJID TERNYATA KALAH UTAMA DENGAN SHALAT WANITA DI RUMAHNYA
>> Benarkah Shalat Wanita Di Rumah Lebih Utama?
 
Manakah yang lebih baik, shalat wanita berjamaah di masjid, ataukah shalat sendirian di rumah?
 
Jawabannya, shalat bagi wanita yang terbaik adalah di rumahnya. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ bersabda:
 
صَلاَةُ الْمَرْأَةِ فِى بَيْتِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى حُجْرَتِهَا وَصَلاَتُهَا فِى مَخْدَعِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى بَيْتِهَا
 
“Shalat seorang wanita di kamar khusus untuknya lebih afdhal daripada shalatnya di ruang tengah rumahnya. Shalat wanita di kamar kecilnya (tempat simpanan barang berharganya, pen.) lebih utama dari shalatnya di kamarnya.” [HR. Abu Daud, no. 570. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadis ini Dhaif. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih. Lihat pengertian hadis ini dalam ‘Aun Al-Ma’bud, 2: 225).
 
Artinya, tempat shalat wanita di dalam rumah semakin tidak terlihat dan jauh dari ikhtilath (campur baur dengan lawan jenis), akan semakin utama. Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah ﷺ bersabda:
 
خَيْرُ مَسَاجِدِ النِّسَاءِ قَعْرُ بُيُوتِهِنَّ
 
“Sebaik-baik masjid bagi para wanita adalah di bagian dalam rumah mereka.” [HR. Ahmad, 6: 297. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadis ini Hasan dengan berbagai penguatnya]
 
Istri dari Abu Humaid As-Sa’idi, yaitu Ummu Humaid pernah mendatangi Nabi ﷺ, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, saya sangat ingin sekali shalat berjamaah bersamamu.” Beliau ﷺ lantas menjawab:
 
قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّينَ الصَّلاَةَ مَعِى وَصَلاَتُكِ فِى بَيْتِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى حُجْرَتِكِ وَصَلاَتُكِ فِى حُجْرَتِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلاَتِكِ فِى دَارِكِ وَصَلاَتُكِ فِى دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى مَسْجِدِ قَوْمِكِ وَصَلاَتُكِ فِى مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى مَسْجِدِى
 
“Aku telah mengetahui hal itu, bahwa engkau sangat ingin shalat berjamaah bersamaku. Namun shalatmu di dalam kamar khusus untukmu (bait) lebih utama dari shalat di ruang tengah rumahmu (hujrah). Shalatmu di ruang tengah rumahmu lebih utama dari shalatmu di ruang terdepan rumahmu. Shalatmu di ruang luar rumahmu lebih utama dari shalat di masjid kaummu. Shalat di masjid kaummu lebih utama dari shalat di masjidku ini (Masjid Nabawi).” Ummu Humaid lantas meminta dibangunkan tempat shalat di pojok kamar khusus miliknya. Beliau melakukan shalat di situ hingga berjumpa dengan Allah (meninggal dunia, pen.) [HR. Ahmad, 6: 371. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadis ini Hasan]
 
Namun jika wanita ingin melaksanakan shalat berjamaah di masjid selama memperhatikan aturan seperti menutupi aurat dan tidak memakai harum-haruman, maka janganlah dilarang. Dari Salim bin ‘Abdullah bin ‘Umar bahwasanya ‘Abdullah bin ‘Umar berkata, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
 
لاَ تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ إِذَا اسْتَأْذَنَّكُمْ إِلَيْهَا
 
“Janganlah kalian menghalangi istri-istri kalian untuk ke masjid. Jika mereka meminta izin pada kalian maka izinkanlah dia.” [HR. Muslim, no. 442]
 
Ada tiga syarat yang mesti dipenuhi ketika seorang wanita ingin shalat berjamaah di masjid:
(1) Menutup aurat,
(2) Tidak memakai minyak wangi,
(3) Harus mendapatkan izin suami. [Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 3457]
 
Dari Abu Musa Al-Asy’ary bahwanya ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:
 
أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا مِنْ رِيحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ
 
“Seorang perempuan yang mengenakan wewangian lalu melalui sekumpulan laki-laki agar mereka mencium bau harum yang dia pakai, maka perempuan tersebut adalah seorang pelacur.” [HR. An-Nasa’i, no. 5126; Tirmidzi, no. 2786; Ahmad, 4: 413. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadis ini Hasan]. Maksudnya wanita semacam itu akan membangkitkan syahwat pria yang mencium bau wanginya. [Lihat Tuhfah Al-Ahwadzi, 8: 74]
 
Apakah jika wanita ikut shalat berjamaah di masjid akan mendapatkan pahala 27 derajat?
 
Al-Hafizh Ibnu Rajab dalam Fath Al-Bari (4: 34) menyatakan, bahwa hadis shalat laki-laki dengan berjamaah akan dilipatgandakan menunjukkan, bahwa SHALAT WANITA TIDAK DILIPATGANDAKAN ketika dilakukan secara berjamaah. Karena shalat wanita di rumahnya lebih baik dan lebih afdhal.
 
Dalam Fath Al-Bari (2: 147), Ibnu Hajar Al-Asqalani juga menjelaskan tentang hadis “Laki-laki yang terkait hatinya dengan masjid” menunjukkan, bahwa pahala shalat di masjid 27 derajat hanya ditujukan pada laki-laki, karena shalat wanita tetap lebih baik di rumahnya dibanding masjid.
 
Baca baHasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 122393:
 
 
هل تنال المرأة أجر صلاة الجماعة إذا ذهبت للمسجد؟
 
 
Semoga menjadi tambahan ilmu yang bermanfaat.
 
 
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

 

 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

#muslimah sholihah, #muslimah, #wanita, #perempuan, #wanitalebihutamashalatdirumah, #sebaikbaikshalatwanit adalahdirumah, #hukumwanitashalatdimasjid, #wanitashalatdimasjid, #pahalawanitashalatdirumahdanmasjid #sifatsholatnabi, #sholat, #shalat, #salat, #solat, #tatacara, #cara,

,

BAHAYA MENINGGALKAN SHALAT ASHAR

BAHAYA MENINGGALKAN SHALAT ASHAR
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
BAHAYA MENINGGALKAN SHALAT ASHAR
 
 
Siapa yang meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalnya. Rasulullah ﷺ bersabda:
 
مَنْ تَرَكَ صَلَاةَ الْعَصْرِ ، فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُه
 
“Siapa yang meninggalkan shalat Ashar, maka amalnya akan gugur.” [HR Bukhari no. 553, dari Buraiah bin Hushaib Al-Aslamy radhiallahu anhu]
 
Sedangkan Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya, no. 26946, dari Abu Darda radhiallahu anhu, dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:
 
مَنْ تَرَكَ صَلَاةَ الْعَصْرِ مُتَعَمِّدًا ، حَتَّى تَفُوتَهُ ، فَقَدْ أُحْبِطَ عَمَلُهُ (وصححه الشيخ الألباني رحمه الله في “صحيح الترغيب والترهيب)
 
“Siapa yang meninggalkan shalat Ashar dengan sengaja hingga habis waktunya, maka amalnya akan gugur.” [Dinyatakan shahih oleh Al-Albany rahimahullah dalam Shahih Targhib dan Tarhib]
 
 
Terdapat ancaman keras terhadap orang yang meninggalkan shalat Ashar dengan sengaja hingga keluar waktu. Kata Al Muhallab, maknanya adalah meninggalkan dengan menyia-nyiakannya dan menganggap remeh keutamaan waktunya, padahal mampu untuk menunaikannya. [Syarh Al Bukhari karya Ibnu Batthol, 3: 221]
 
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan:
“Terhapusnya amalan tidaklah ditetapkan, melainkan pada amalan yang termasuk dosa besar. Begitu juga meninggalkan shalat Ashar lebih parah daripada meninggalkan shalat lainnya. Karena shalat Ashar disebut dengan shalat Wustha yang dikhususkan dalam perintah untuk dijaga. Shalat Ashar ini juga diwajibkan kepada orang sebelum kita, di mana mereka melalaikan shalat ini. Jadi siapa saja yang menjaga shalat Ashar, maka ia mendapatkan dua ganjaran.” [Majmu’atul Fatawa, 22: 54]
 
Silakan di-share, semoga semakin banyak saudara kita yang tersadar lewat pesan singkat ini.
 
Sumber: [Rumaysho.Com]
 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

 

#sifatsholatnabi, #sifatshalatnabi, #shalat, #sholat, #salat, #solat, #tatacara #cara, #alwustho, #alwustha, #Ashar, #Asar, #keutamaanshalatAshar #meninggalkanshalatAshar,#tinggalkanshalatAshar, #amalannyagugur, #menggugurkanamalannya, #menghapuskanamalannya, #amalanyaterhapus #apamaksudnya, #maknanya, #artinya, #definisinya #hapuskan, #gugurkan #larangantinggalkanshalatAshar

 

,

ORANG YANG MENINGGALKAN SHALAT ASHAR, APAKAH AMALNYA AKAN GUGUR SELURUHNYA?

ORANG YANG MENINGGALKAN SHALAT ASHAR, APAKAH AMALNYA AKAN GUGUR SELURUHNYA?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
ORANG YANG MENINGGALKAN SHALAT ASHAR, APAKAH AMALNYA AKAN GUGUR SELURUHNYA?
>> Bahaya Meninggalkan Shalat Ashar
 
Pertanyaan:
Saya mendengar, bahwa apabila shalat Ashar tidak dilakukan, akan menggugurkan amal saya seluruhnya. Kemudian saya mendengar, bahwa hal itu akan menggugurkan amal pada hari itu saja. Mana yang benar?
 
Jawaban:
Alhamdulillah.
 
Pertama:
Terdapat ancaman keras terhadap orang yang meninggalkan shalat Ashar dengan sengaja hingga keluar waktu. Imam Bukhari telah meriwayatkan, no. 553, dari Buraiah bin Hushaib Al-Aslamy radhiallahu anhu, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
 
مَنْ تَرَكَ صَلَاةَ الْعَصْرِ ، فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُه
 
“Siapa yang meninggalkan shalat Ashar, maka amalnya akan gugur.”
 
Sedangkan Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya, no. 26946, dari Abu Darda radhiallahu anhu, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
 
مَنْ تَرَكَ صَلَاةَ الْعَصْرِ مُتَعَمِّدًا ، حَتَّى تَفُوتَهُ ، فَقَدْ أُحْبِطَ عَمَلُهُ (وصححه الشيخ الألباني رحمه الله في “صحيح الترغيب والترهيب)
 
“Siapa yang meninggalkan shalat Ashar dengan sengaja hingga habis waktunya, maka amalnya akan gugur.” [Dinyatakan shahih oleh Al-Albany rahimahullah dalam Shahih Targhib dan Tarhib]
 
Syaikhul Islam Ibnu Taimiah rahimahullah berkata:
“Berakhirnya waktu Ashar (tanpa kita melakukan shalat Ashar pada waktu itu) lebih besar dari ketinggalan perkara lainnya. Sesungguhnya dia adalah Ash-Shalat Al-Wustha yang mendapatkan peringatan khusus untuk kita pelihara. Inilah yang diwajibkan kepada orang sebelum kita, namun mereka menyia-nyiakannya.” [Majmu Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiah, 22/54]
 
Kedua:
 
Para ulama berbeda pendapat tentang ancaman yang terdapat dalam hadis tentang orang yang meninggalkan shalat Ashar, apakah dipahami berdasarkan zahirnya atau tidak? Dalam hal ini ada dua pendapat:
 
Perndapat Pertama: Dipahami secara zahir. Maka orang yang meninggalkan sekali shalat Ashar dengan sengaja hingga keluar waktu, dianggap kafir. Inilah pendapat Ishaq bin Rahawaih, dan menjadi pendapat yang dipilih oleh ulama yang datang belakangan, seperti Syekh Ibnu Baz rahimahumallah.
 
Syekh Bin Baz rahimahullah berkata:
“Shalat Ashar kedudukannya sangat agung. Dia adalah Ashalat-Al-Wustha. Dia merupakan shalat yang paling utama. Allah ta’ala berfirman:
 
حَافِظُواْ عَلَى الصَّلَوَاتِ والصَّلاَةِ الْوُسْطَى (سورة البقرة : 238)
 
“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat Wustha. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” [SQ. Al-Baqarah: 238]
 
Dia dikhususkan penyebutannya dalam ayat ini. Maka wajib bagi setiap Muslim laki dan perempuan untuk memperhatikannya lebih besar dan menjaganya, dan wajib baginya untuk menjaga seluruh shalat yang lima waktu dengan bersucinya serta thuma’ninah di dalamnya, serta kewajiban lainnya. Bagi laki-laki hendaknya melakukannya dalam keadaan berjamaah. Rasulullah ﷺ mengkhususkan penyebutannya berdasarkan sabdanya:
 
من ترك صلاة العصر حبط عمله
 
“Siapa yang meninggalkan shalat Ashar, gugurlah amalanya.”
 
Beliau ﷺ juga bersabda:
 
من فاتته صلاة العصر ، فكأنما وُتر أهله وماله
 
“Siapa yang ketinggalan shalat Ashar, seakan dia dirampas keluarga dan hartanya.”
 
Hal ini menunjukkan besarnya kedudukan shalat Ashar. Yang benar adalah, bahwa siapa yang meninggalkan shalat-shalat lainnya, gugur pula amalnya. Karena dia telah kafir berdasarkan pendapat yang shahih. Akan tetapi dalam hadis dikhususkan penyebutannya oleh Nabi ﷺ untuk menunjukkan keistimewaannya yang agung, sementara kedudukan hukumnya sama. Siapa yang meninggalkan shalat Zuhur, Maghrib, Isya atau Fajar dengan sengaja, maka gugurlah amalnya, karena dengan demikian, dia telah kufur. Seseorang harus menjaga seluruh shalat wajib, siapa yang meninggalkan satu saja, maka seakan-akan dia meninggalkan seluruhnya. Shalat lima waktu harus dijaga seluruhnya, baik oleh laki-laki maupun wanita. Akan tetapi shalat Ashar memiliki keistimewaan yang tinggi dengan hukuman yang berat bagi yang meninggalkannya, dan besarnya pahala bagi yang menjaganya dan istiqamah di atasnya bersama shalat-shalat lainnya.” [Fatawa Nurun Aladdarb]
 
 
Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata ketika menjelaskan hadis berikut:
 
من ترك صلاة العصر فقد حَبِط عملُه
 
“Siapa yang meninggalkan shalat Asar, maka amalannya gugur.”
 
Di antara keutamaan shalat Ashar secara khusus adalah, bahwa siapa yang meninggalkannya maka gugurlah amalnya, karena dia sangat agung. Berdasarkan hadis ini sebagian ulama ada yang berdalil, bahwa siapa yang meninggalkan shalat Ashar, maka dia kafir. Karena tidak ada sesuatu yang dapat menggugurkan amal, kecuali dia murtad. Sebagaimana firman Allah ta’ala:
 
وَلَوْ أَشْرَكُواْ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ (سورة الأنعام: 88)
 
“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” [QS. Al-An’am: 88]
 
 
Dan firman Allah ta’ala:
 
وَمَن يَرْتَدِدْ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُوْلَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأُوْلَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (سورة البقرة: 217)
 
“Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di Akhirat. Dan mereka Itulah penghuni Neraka, mereka kekal di dalamnya.” [QS. Al-Baqarah: 217]
 
Sebagian ulama berkata: Shalat Ashar memiliki kekhususan. Siapa yang meninggalkannya, sungguh telah kafir. Demikian pula siapa yang meninggalkan shalat secara umum, dia telah kafir. Pendapat ini tidak terlalu jauh dari kebenaran.” [Syarh Riyadhus-Shalihin]
 
Pendapat kedua: Ancaman yang terdapat dalam masalah shalat Ashar, tidak dipahami secara zahir. Mereka yang berpendapat demikian, berbeda pendapat tentang penafsiran dari kalimat ini. Di antaranya bahwa hadis ini diperuntukkan bagi mereka yang meninggalkan shalat tersebut dengan menganggapnya boleh (meninggalkan shalat).
 
Di antara mereka yang ada berpendapat, bahwa yang gugur adalah shalat itu sendiri. Siapa yang tidak shalat Ashar hingga habis waktunya, maka dia tidak mendapatkan pahala orang yang shalat pada waktunya. Maka yang dimaksud dengan amal yang gugur dalam hadis ini adalah shalat.
 
Ibnu Bathal rahimahullah berkata: “Bab orang yang meninggalkan shalat Ashar.” Di dalamnya terdapat perawi bernama Buraidah, dia berkata pada hari yang mendung, “Segeralah shalat Ashar, karena Nabi ﷺ bersabda: “Siapa yang meninggalkan shalat Ashar, maka gugurlah amalnya.” Al-Mihlab berkata: “Maknanya adalah, bahwa siapa yang menyia-nyiakannya, dan menganggap remeh keutamaan waktunya, padahal dia mampu melaksanakannya, maka gugurlah amalnya dalam shalat tersebut secara khusus. Maksudnya bahwa dia tidak mendapatkan pahala orang yang shalat pada waktunya, dan dia tidak memiliki amal yang diangkat malaikat.” [Syarh Shahih Bukhari, Ibnu Bathal, 2/176)]
 
Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan pendapat yang banyak tentang penafsiran makna hadis ini saat menjelaskan hadis tersebut. Beliau rahimahullah berkata: “Ulama kalangan Mazhab Hambali berpedoman dengan zahir hadis, serta mereka yang berpendapat seperti pendapat mereka, yaitu bahwa orang yang meninggalkan shalat, maka hukumnya kafir. Adapun Jumhur Ulama mencari penafsiran hadis tersebut, dan mereka berbeda pendapat dalam menafsirkannya kepada beberapa pendapat.
 
Di antara mereka ada yang menafsirkan sebab meninggalkannya, di antara mereka ada yang menafsirkan maksud kata-kata ‘gugur’, di antara mereka ada yang menafsirkan amalnya. Maka ada yang berpendapat; Yang dimaksud adalah siapa yang meninggalkannya dalam keadaan menentang kewajibannya. Ada yang berpendapat, bahwa yang dimaksud adalah siapa yang meninggalkannya karena malas, akan tetapi ancaman ini sebagai peringatan keras, tapi yang dimaksud tidak demikian. Seperti orang yang berkata: “Tidaklah berzina orang yang berzina sedangkan dia beriman.” Ada yang berpendapat, bahwa yang dimaksud gugurnya amal adalah berkurangnya amal dalam waktu itu.
 
Ada juga yang berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan amal dalam hadis tersebut adalah amal dunia, yang kesibukannya terhadapnya menyebabkan seseorang meninggalkan shalat. Maksudnya adalah, bahwa kesibukannya tidak dapat dia manfaatkan dan tidak dapat dia nikmati. Penafsiran yang paling dekat adalah pendapat yang berkata, bahwa hadis tersebut untuk menggambarkan ancaman berat, akan tetapi yang dimaksud bukan zahirnya. Wallahua’lam. [Syarh Al-Bukhari, 2/31]
 
Yang kuat wallahua’lam adalah bahwa orang yang meninggalkan shalat, tidak sunyi:
 
1- Dia meninggalkan shalat sama sekali, maka dia kafir, amalnya akan gugur karena kekufurannya.
 
2- Dia meninggalkan shalatnya kadang-kadang, kadang shalat, kadang meninggalkan shalat. Maka dia tidak kafir, meskipun amal hari itu dianggap gugur karena dia meninggalkan shalat Ashar.
 
Ibnu Qayim rahimahullah berkata: “Sejumlah orang telah berbicara tentang makna hadis, “Siapa yang meninggalkan shalat Ashar…” Mereka melakukan sesuatu yang tidak ada gunanya.
 
Al-Milhab mengatakan, maknanya adalah: Siapa yang meninggalkannya karena menyia-nyiakannya atau meremehkan keutaman waktunya, sementara dia mampu melakukannya, maka amalnya dalam shalat tersebut gugur. Maksudnya, dia tidak mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukannya pada waktunya, dan amalnya tidak diangkat malaikat. Kesimpulan dari pendapat ini, bahwa siapa yang meninggalkannya, maka dia kehilangan pahalanya. Redaksi dan makna hadis tidak menerima hal itu, dan tidak bermanfaat dikatakan amalnya gugur, karena telah ada dan terjadi. Inilah hakikat gugur dari segi bahasa dan syariat. Tidak dikatakan bagi orang yang kehilangan pahala sebuah amal bahwa amalnya telah gugur. Akan tetapi dikatakan bahwa dia telah kehilangan pahala amal itu.
 
Sebagian kelompok berpendapat, bahwa yang dimaksud gugur amalnya, adalah amal hari itu, bukan seluruh amal. Seakan-akan sulit bagi mereka menerima seluruh amal yang lalu dikatakan gugur dengan sebab meninggalkan satu shalat saja. Maka meninggalkannya menurut mereka tidak menyebabkan murtad yang menggugurkan amal.
 
Yang tampak dalam hadis tersebut, Allah yang lebih mengetahui maksud Rasul-Nya, bahwa meninggalkan itu ada dua macam:
• Meninggalkannya keseluruhan, yaitu tidak shalat sama sekali. Hal ini menggugurkan seluruh amal.
• Dan meninggalkan shalat tertentu dan pada hari tertentu. Maka ini menggugurkan amal hari itu saja. Gugurnya secara umum, sebanding apabila dia meninggalkan secara umum. Sedangkan gugurnya amal tertentu, berbanding jika dia meninggalkan secara tertentu.” [Ash-Shalat Wa Ahkamu Taarikiha, hal. 65]
 
Telah dijelaskan dalam situs ini penjelasan tentang batasan orang yang dikatakan meninggalkan shalat, sebagaimana terdapat dalam jawaban soal: https://islamqa.info/id/83165 dan https://islamqa.info/id/114426
 
Wallahua’lam..
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#sifatsholatnabi, #sifatshalatnabi, #shalat, #sholat, #salat, #solat, #tatacara #cara, #alwustho, #alwustha, #Ashar, #Asar, #keutamaanshalatAshar #meninggalkanshalatAshar,#tinggalkanshalatAshar, #amalannya gugur, #menggugurkanamalannya, #menghapuskanamalannya, #amalanyaterhapus #apamaksudnya, #maknanya, #artinya, #definisinya #hapuskan, #gugurkan #larangantinggalkanshalatAshar
,

HUKUM MENJAMAK SHALAT TANPA UZUR

HUKUM MENJAMAK SHALAT TANPA UZUR
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
HUKUM MENJAMAK SHALAT TANPA UZUR
 
Tidak dibolehkan menjamak di antara dua shalat tanpa uzur. Siapa yang menjamaknya tanpa uzur dan alasan syari, maka dia berdosa, karena bertentangan dengan ketentuan syariat yang menetapkan hal tersebut. Di antaranya adalah firman Allah ta’ala:
 
إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا (سورة النساء: 103)
“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” [QS. An-Nisa: 103]
 
Demikian pula halnya dengan sabda Nabi ﷺ:
 
أَمَّنِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام عِنْدَ الْبَيْتِ مَرَّتَيْنِ فَصَلَّى بِيَ الظُّهْرَ حِينَ زَالَتْ الشَّمْسُ وَكَانَتْ قَدْرَ الشِّرَاكِ وَصَلَّى بِيَ الْعَصْرَ حِينَ كَانَ ظِلُّهُ مِثْلَهُ وَصَلَّى بِيَ يَعْنِي الْمَغْرِبَ حِينَ أَفْطَرَ الصَّائِمُ وَصَلَّى بِيَ الْعِشَاءَ حِينَ غَابَ الشَّفَقُ وَصَلَّى بِيَ الْفَجْرَ حِينَ حَرُمَ الطَّعَامُ وَالشَّرَابُ عَلَى الصَّائِمِ فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ صَلَّى بِيَ الظُّهْرَ حِينَ كَانَ ظِلُّهُ مِثْلَهُ وَصَلَّى بِي الْعَصْرَ حِينَ كَانَ ظِلُّهُ مِثْلَيْهِ وَصَلَّى بِيَ الْمَغْرِبَ حِينَ أَفْطَرَ الصَّائِمُ وَصَلَّى بِيَ الْعِشَاءَ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ وَصَلَّى بِيَ الْفَجْرَ فَأَسْفَرَ ثُمَّ الْتَفَتَ إِلَيَّ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ هَذَا وَقْتُ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِكَ وَالْوَقْتُ مَا بَيْنَ هَذَيْنِ الْوَقْتَيْنِ (رواه أبو داود، رقم 393 والترمذي، رقم 149 وقال الألباني : إسناده حسن صحيح في ” صحيح أبي داود – الأم ” برقم 417)
“Jibril alaihissalam mengimami saya di Baitullah sebanyak dua kali. Dia mengimami saya shalat Zuhur ketika matahari tergelincir seukuran tali sandal. Kemudian dia mengimami saya shalat Ashar, ketika bayangan seukuran benda aslinya. Lalu dia mengimami saya shalat Maghrib ketika orang-orang yang berpuasa berbuka. Lalu dia shalat Isya, ketika mega merah terbenam. Lalu dia mengimami saya shalat Fajar, ketika orang yang berpuasa diharamkan makan dan minum. Kemudian keesokan harinya, dia mengimami saya shalat Zuhur, ketika bayangan seukuran benda aslinya. Lalu dia mengimami saya shalat Ashar, ketika bayangan seukuran dua kali lipat benda aslinya. Lalu dia mengimami saya shalat Maghrib, ketika orang-orang berpuasa. Lalu dia mengimami saya shalat Isya, hingga sepertiga malam. Lalu dia mengimami saya shalat Fajar ketika hari mulai terang. Lalu dia menoleh kepada saya dan berkata: ‘Wahai Muhammad, inilah waktu para nabi sebelummu. Maka waktu shalat adalah di antara kedua waktu tersebut.” [HR. Abu Daud, no. 393, Tirmizi, no. 149. Al-Albany berkata, ‘Sanadnya hasan shahih, terdapat dalam ‘Shahih Abu Daud’, no. 417]
 
Ibnu Qudamah rahimahullah berkata:
“Kaum Muslimin sepakat, bahwa shalat lima waktu memiliki waktu tertentu. Dalam masalah ini terdapat hadis shahih yang banyak.” [Al-Mughni, 1/224]
 
Jika telah disimpulkan demikian, maka tidak boleh menjamak dua shalat, kecuali jika didapatkan sebab untuk menjamak, seperti safar, hujan atau sakit. Jika tidak didapatkan sebab untuk menjamak shalat, maka harus dilakukan sesuai aslinya, yaitu shalat pada waktunya masing-masing. [Lihat Al-Mughni, Ibnu Qudamah, 2/60]
 
Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata:
“Jika Nabi ﷺ telah menetapkan waktu shalat secara terperinci, maka melaksanakan shalat di luar waktunya merupakan tindakan melampaui batas atas ketentuan Allah ta’ala:
 
وَمَنْ يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (سورة البقرة: 229)
“Barang siapa yang melanggar hukum-hukum Allah, mereka Itulah orang-orang yang zalim.” [QS. Al-Baqarah: 229]
Siapa yang shalat sebelum waktunya, dia mengetahui dan sengaja, maka dia berdosa dan wajib mengulanginya lagi. Jika dia tidak tahu dan tidak sengaja, maka dia tidak berdosa namun wajib mengulanginya lagi. Hal ini terjadi apabila melakukan jamak takdim (menggabungkan shalat dengan melakukannya pada waktu pertama) tanpa sebab syari, maka shalat yang didahulukan tidak sah dan dia harus mengulanginya. Siapa yang menunda shalat hingga keluar waktunya dan dia tahu dan sengaja tanpa uzur, maka dia berdosa dan tidak diterima shalatnya, berdasarkan pendapat yang kuat. Ini terjadi bagi orang yang melakukan jamak takhir (menggabungkan dua shalat pada waktu kedua) tanpa sebab syari. Maka shalat yang diakhirkan tidak sah berdasarkan pendapat yang shahih. Setiap Muslim hendaknya bertakwa kepada Allah dan tidak menganggap remeh perkara yang sangat agung ini.”
[Majmu Fatawa, 15/387]
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#keluarwaktushalat, #sholat, #shalat, #solat, #salat,#sifatshalatNabi,#jamak, #takdim, #taqdim, #takhir, #menjama, #qashar, #qoshor, #shalatpadawaktunya #tatacara #cara #mengqashar #mengqoshor #takdim #taqdim #takhir #taqhir #alasansyari #udzursyari #uzursyarir
,

MEMANGNYA BOLEH, DENGAR IQAMAH LANGSUNG BERLARI MENUJU SHALAT?

MEMANGNYA BOLEH, DENGAR IQAMAH LANGSUNG BERLARI MENUJU SHALAT?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

MEMANGNYA BOLEH, DENGAR IQAMAH LANGSUNG BERLARI MENUJU SHALAT?
 
“Jika kalian mendengar iqamah, maka berjalanlah menuju shalat. Namun bersikap tenang dan khusyu’lah. Gerakan imam yang kalian dapati, ikutilah. Sedangkan yang luput dari kalian, sempurnakanlah.” [HR. Bukhari no. 636 dan Muslim no. 602]
 
Di antara faidah dari hadis ini:
  1. Terlarangnya terburu-buru menuju shalat ketika mendengar iqamah atau takut akan luput rakaat.
  2. Ketika seorang makmum masuk shaf, maka hendaklah ia mengikuti imam dalam apa pun kondisi imam, baik ia berdiri, ruku’ atau sujud. Ketika imam sujud, maka makmum hendaklah bertakbiratul ihram dan langsung sujud dalam rangka mengikuti imam.
  3. Gerakan yang luput dari imam, hendaklah disempurnakan sendirian setelah imam salam.
  4. Alasan tidak boleh bercepat-cepat ketika itu adalah karena seseorang yang berjalan menuju shalat sudah terhitung layaknya ia berada dalam shalat. Sehingga sudah sepatutnya ia khusyu’ dan tenang sebagaimana orang yang shalat.
  5. Asy Syaukani berkata, bahwa tidak dikatakan makruh bagi seseorang yang bercepat-cepat SEBELUM iqamah. (Nailul Author)
 
Jadi yang dikatakan makruh tergesa-gesa adalah KETIKA TELAH dikumandangkan iqamah atau takut akan luput rakaat.
 
Wallahu a’lam.
 
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 #sifatsholatnabi, #tata cara, #cara, #tatacara, #sholat, #shalat, #salat, #solat, #iqamah, #iqomah, #lari, #berlari, #menujumasjid, #menujumesjid, #hukumnya, #mutiarasunnah, #faidahhadist, #faedahhadits, #faedahhadist, #faidahhadits #berjalandengantenang, #khusyu, #berlarilarian, #larilari, #terburuburu, #tergesagesa #buruburu #cepatcepat #makruh #ikutiimam
, ,

BENARKAH BAGI WANITA, SHALAT DI RUMAH TETAP LEBIH BAIK DIBANDING SHALAT DI MASJID NABAWI?

BENARKAH BAGI WANITA, SHALAT DI RUMAH TETAP LEBIH BAIK DIBANDING SHALAT DI MASJID NABAWI?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

BENARKAH BAGI WANITA, SHALAT DI RUMAH TETAP LEBIH BAIK DIBANDING SHALAT DI MASJID NABAWI?

 

Bagi para jamaah haji/umrah wanita, shalat di rumah atau penginapan lebih baik bagi mereka daripada shalat di Masjid Nabawi. Mari kita perhatikan hadis berikut ini:

عَنْ أُمِّ حُمَيْدٍ امْرَأَةِ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ، أَنَّهَا جَاءَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي أُحِبُّ الصَّلَاةَ مَعَكَ، قَالَ: «قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّينَ الصَّلَاةَ مَعِي، وَصَلاتُكِ فِي بَيْتِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاتِكِ فِي حُجْرَتِكِ، وَصَلاتُكِ فِي حُجْرَتِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلاتِكِ فِي دَارِكِ، وَصَلاتُكِ فِي دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاتِكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ، وَصَلاتُكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاتِكِ فِي مَسْجِدِي» ، قَالَ: فَأَمَرَتْ فَبُنِيَ لَهَا مَسْجِدٌ فِي أَقْصَى شَيْءٍ مِنْ بَيْتِهَا وَأَظْلَمِهِ، فَكَانَتْ تُصَلِّي فِيهِ حَتَّى لَقِيَتِ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ

Dari Ummu Humaid, istri Abu Humaid as-Sa’idi, bahwa ia telah datang kepada Nabi ﷺ dan berkata:
“Wahai Rasulullah, sungguh saya senang shalat bersamamu.”
Nabi ﷺ berkata: “Aku sudah tahu itu, dan shalatmu di bagian dalam rumahmu lebih baik bagimu dari shalat di kamar depan. Shalatmu di kamar depan lebih baik bagimu dari shalat di kediaman keluarga besarmu. Shalatmu di kediaman keluarga besarmu lebih baik bagimu dari shalat di masjid kaummu, dan shalatmu di masjid kaummu lebih baik dari shalat di masjidku.”
Maka Ummu Humaid memerintahkan agar dibangunkan masjid di bagian rumahnya yang paling dalam dan paling gelap, dan ia shalat di situ sampai bertemu Allah. [HR. Ahmad no. 27.090, dihukumi hasan oleh Ibnu Hajar]

Kita sudah mengetahui besarnya keutamaan shalat di Masjid Nabawi. Namun bagi para wanita, shalat di rumah mereka TETAP LEBIH BAIK bagi mereka dibanding shalat di Masjid Nabawi, bahkan di Masjidil Haram. Semakin tersembunyi tempat shalat, itu semakin baik bagi mereka. Para jamaah haji wanita perlu meneladani Ummu Humaid yang begitu menaati sunnah Nabi ﷺ dengan selalu shalat di rumah. Tidak seperti sebagian jamaah haji wanita yang kadang sampai shalat di jalan-jalan kota Makkah karena masjid-masjid penuh. Mereka bersemangat tinggi, tapi tidak didasari ilmu agama yang memadai.

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://muslim.or.id/10435-menyorot-shalat-arbain-di-masjid-nabawi.html

 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

#SifatShalatNabi,#SifatSholatNabi, #sifatsholatNabi, #sifatshalatNabi, #sholat, #shalat, #solat, #salat, #tatacara, #caranya, #perempuan, #wanita, #muslimah, #lebihbaik, #dirumahnya, #masjidNabawi, #mesjidNabawi, #umrah, #umroh, #haji, #fadhilah

,

KEUTAMAAN TIDAK KETINGGALAN TAKBIRATUL IHRAM BERSAMA IMAM SELAMA 40 HARI

KEUTAMAAN TIDAK KETINGGALAN TAKBIRATUL IHRAM BERSAMA IMAM SELAMA 40 HARI
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
KEUTAMAAN TIDAK KETINGGALAN TAKBIRATUL IHRAM BERSAMA IMAM SELAMA 40 HARI
 
Ada keutamaan tersendiri bagi orang yang tidak ketinggalan Takbiratul Ihram bersama imam selama 40 hari lamanya. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Siapa yang melaksanakan shalat karena Allah selama empat puluh hari secara berjamaah, ia tidak luput dari Takbiratul Ihram bersama imam, maka ia akan dicatat terbebas dari dua hal, yaitu terbebas dari siksa Neraka dan terbebas dari kemunafikan.” [HR. Tirmidzi, no. 241. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadis ini Hasan dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 2652]
 
Ada kisah disampaikan oleh Ibnul ‘Imad Al-Aqfahsi (salah seorang ulama Syafi’i), bahwa ada seorang yang mencuri 400 unta milik Abu Umamah Al-Bahili, juga 40 hamba sahayanya. Ia pun sedih. Lantas ia menemui Rasulullah ﷺ. Nabi ﷺ menyatakan:
“Ini barangkali karena engkau sering luput dari Takbiratul Ihram bersama imam.”
Abu Umamah pun berkata:
“Wahai Rasulullah, jadi seperti itukah akibatnya jika luput dari Takbiratul Ihram bersama imam?”
Nabi ﷺ bersabda:
“Bahkan itu lebih parah dari hilangnya unta sepenuh bumi.” [Riwayat ini disebutkan oleh Ibnul ‘Imad Al-Aqfahsi dalam Al-Qaul At-Taam fii Ahkam Al-Ma’mum wa Al-Imam, hlm. 43]
 
Hadis di atas punya penguat diriwayatkan dari Ibnu Syahin dalam At-Targhib (1: 157), dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Takbiratul pertama yang didapati bersama imam lebih baik dari memiliki seribu unta.” [Disebutkan pula oleh As-Suyuthi dalam Al-Jami’ Al-Kabir, no. 10720]
 
Bisa tidak ya dilakukan? Pasti bisa, jika berusaha sembari meminta tolong pada Allah. Ingatlah, tidak ada yang memudahkan kita dalam ibadah, kecuali dengan pertolongan Allah.
 
Sumber: indonesiabertauhidofficial
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#SifatSholatNabi #SifatShalatNabi, #janganketinggalan, #jangantertinggal, #takbiratulihram #,takbiratulihrom, #bersamaimam, #bertakbiratulihram, #bertakbiratulihrom, #takbiratulpertama, #seribuunta, #seribuonta, #keutamaan, #utama, #fadhilah, #fadilah #1000unta, #1000onta #terbebasdarisiksaNeraka, #terbebasdarikemunafikan, #terbebasdarimunafik, #siksaNeraka, #munafik, #munafiqun, #kemunafikan, #bebas, #terbebas  #tidak ketinggalan, #arbain, #40 harilamanya, #selama40hari, #berturutturut #SifatSholatNabi,#SifatShalatNabi, #shalat, #sholat, #salat, #solat #terlambat, #masbuk, #masbuq, #ketinggalan, #tertinggal