,

PUASA AYYAMUL BIDH (HARI-HARI PUTIH) 

PUASA AYYAMUL BIDH (HARI-HARI PUTIH)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 

 

PUASA AYYAMUL BIDH (HARI-HARI PUTIH)

Dari Abu Dzarr Al-Ghifary radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَصُومَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ الْبِيضَ: ثَلَاثَ عَشْرَةَ، وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ، وَخَمْسَ عَشْرَةَ
“Rasulullah ﷺ memerintah kami untuk berpuasa tiga hari putih pada setiap bulan, (tanggal) 13, 14, dan 15.” [Diriwayatkan oleh Ahmad, An-Nasâ`iy, Ibnu Hibban dan Al-Baihaqy. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albany karena beberapa pendukungnya dalam Ash-Shahîhah no. 1567]
 
Sumber: dzulqarnain.net
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#sifatpuasaNabi, #puasa, #bulanhijriyah, #ayyamulbidh #harihariputih, #tanggal131415Hijriyah, #kalenderhijriyah, #kalender Islam, #AyamulBidh, #AyyamulBidh, #tengahbulan, #pertengahanbulan #tigahariputih
,

BOLEHKAH KITA BERPUASA PADA HARI JUMAT SAJA?

BOLEHKAH KITA BERPUASA PADA HARI JUMAT SAJA?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

 

BOLEHKAH KITA BERPUASA PADA HARI JUMAT SAJA?
>> Hukum Puasa Qadha Di Hari Jumat
 
Pertanyaan:
Saya pernah mendengar, kita dilarang melakukan puasa di hari Jumat saja. Apakah larangan ini berlaku untuk puasa qadha? Artinya, jika saya mengqadha utang puasa Ramadan di hari Jumat saja, apakah dibolehkan?
 
 
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du
 
Pertanyaan semacam ini pernah disampaikan kepada Imam Ibnu Baz, beliau menjelaskan:
Ya, boleh berpuasa pada hari Jumat, baik puasa sunah maupun qadha, tidak masalah. Hanya saja, tidak boleh mengkhususkan hari Jumat untuk puasa sunah. Namun jika dia berpuasa sehari sebelum atau sehari setelahnya, tidak masalah. Nabi ﷺ bersabda:
 
لا يصومن أحد يوم الجمعة إلا أن يصوم يوماً قبله أو يوماً بعده
 
“Janganlah kalian berpuasa pada hari Jumat, kecuali dia berpuasa sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.” [HR. Bukhari]
 
Selanjutnya beliau menegaskan:
 
المقصود المنهي عنه هو أن يصومه وحده تطوعاً، فرداً هذا هو المنهي عنه.
 
“Maksud dari larangan itu adalah berpuasa sunah pada hari Jumat saja. Itulah yang dilarang.” [Sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/13464]
 
Hal yang sama jjuga difatwakan oleh Lembaga Fatwa Syabakah Islamiyah, di bawah bimbingan Dr. Abdullah Al-Faqih. Dinyatakan;
 
Disebutkan dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
 
لا تخصوا ليلة الجمعة بقيام من بين الليالي، ولا تخصوا يوم الجمعة بصيام من بين الأيام؛ إلاّ أن يكون في صوم يصومه أحدكم
 
“Janganlah kalian mengkhususkan malam Jumat untuk tahajud, sementara malam yang lain tidak. Dan jangan mengkhususkan Jumat untuk berpuasa tanpa hari yang lain. Kecuali jika puasa hari Jumat itu bagian rangkaian puasa kalian.” [HR. Muslim]
 
Hadis ini menjadi dalil, makruhnya mengkhususkan hari Jumat untuk puasa. Dan Nabi ﷺ memberikan pengecualian, itu boleh jika bertepatan dengan rangkaian puasa seseorang.
 
Oleh karena itu, kami nyatakan:
 
Puasa di hari Jumat saja hukumnya sah, hanya saja makruh. Karena itu, jika kita mampu untuk melakukan puasa qadha sehari sebelum atau sesudah Jumat, maka itu lebih baik, sehingga tidak melanggar yang makruh. Tapi jika kita tidak mampu, maka kita boleh melakukan puasa pada hari Jumat untuk qadha, insyaaAllah tidak masalah.
 
 
 
 
Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#sifatpuasaNabi, #hukum, #qadhapuasa, #qodhopuasa, #puasahariJumat, #larangan, #dilarang, #puasasunnah
, ,

BENARKAH KITA DILARANG PUASA DI HARI SABTU?

BENARKAH KITA DILARANG PUASA DI HARI SABTU?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
BENARKAH KITA DILARANG PUASA DI HARI SABTU?
 
Pertanyaan:
Benarkah puasa hari Sabtu dilarang? Bagaimana jika bertepatan dengan hari puasa Daud?
 
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
 
Kita perhatikan beberapa hadis berikut:
 
Pertama: Hadis Yang Melarang Puasa Hari Sabtu
 
Dari Abdullah bin Busr dari Saudarinya yang bernama as-Shamma’, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
 
لا تَصُومُوا يَوْمَ السَّبْتِ إِلا فِيمَا افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ أَحَدُكُمْ إِلا لِحَاءَ عِنَبَةٍ ، أَوْ عُودَ شَجَرَةٍ فَلْيَمْضُغْهُ
 
Janganlah kalian berpuasa hari Sabtu, kecuali untuk puasa yang Allah wajibkan. Jika kalian tidak memilliki makanan apapun selain kulit anggur atau batang kayu, hendaknya dia mengunyahnya. [HR. Turmudzi 744, Abu Daud 2421, Ibnu Majah 1726, dan dishahihkan al-Albani]
 
Secara tekstual, hadis ini menegaskan tidak boleh puasa di hari Sabtu, selain puasa wajib. Untuk menekankan larangan itu, beliau ﷺ membuat pengandaian, sampai pun orang tidak memiliki makanan, dia diharuskan mengunyah apapun yang bisa dikunyah.
 
Kedua: Hadis Yang Membolehkan Puasa Hari Sabtu
 
Hadis pertama, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
 
لا يَصُومَنَّ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِلا يَوْمًا قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَه
 
Janganlah kalian melakukan puasa di hari Jumat saja, kecuali jika dia iringi dengan puasa sehari sebelumnya atau setelahnya. [HR. Bukhari 1985 & Muslim 1144]
 
Hadis kedua, dari Juwairiyah Radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi ﷺ pernah menemui beliau ketika hari Jumat, sementara Juwairiyah sedang puasa. Beliau ﷺ bertanya: “Apa kemarin kamu puasa?”
“Tidak.” Jawab Juwairiyah.
“Besok kamu punya keinginan untuk puasa?” tanya Nabi ﷺ.
“Tidak.” Jawab Juwairiyah.
Kemudian beliau ﷺ meminta agar Juwairiyah membatalkan puasanya. [HR. Bukhari 1986]
 
Dua hadis ini menunjukkan bolehnya puasa di hari Sabtu, terutama untuk mengiringi puasa hari Jumat.
 
Kesimpulan:
 
Ulama berbeda pendapat dalam memahami hadis-hadis di atas. Ada sebagian ulama yang mengatakan terlarang puasa hari Sabtu. Ada yang mengatakan, larangan itu sifatnnya hanya makruh. Dan ada yang memberikan rincian, jika puasa hari Sabtu tidak dilakukan secara khusus, hukumnya boleh. Tapi jika dalam rangka khusus puasa hari Sabtu, hukumnya makruh. Pendapat ketiga inilah yang lebih tepat.
 
Seusai menyebutkan hadis Abdullah bin Busr tentang larangan puasa, Turmudzi mengatakan:
 
هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ ، وَمَعْنَى كَرَاهَتِهِ فِي هَذَا أَنْ يَخُصَّ الرَّجُلُ يَوْمَ السَّبْتِ بِصِيَامٍ لأَنَّ الْيَهُودَ تُعَظِّمُ يَوْمَ السَّبْتِ
 
Hadis ini Hasan. Makna larangan beliau di sini adalah seseorang mengkhusus puasa di hari Sabtu, karena orang yahudi mengagungkan hari Sabtu. [Jami’ Turmudzi]
 
Semacam ini pula yang menjadi pendapat Madzhab Hambali, sebagaimana keterangan Ibnu Qudamah:
 
قال أصحابنا : يكره إفراد يوم السبت بالصوم … والمكروه إفراده , فإن صام معه غيره ; لم يكره ; لحديث أبي هريرة وجويرية . وإن وافق صوما لإنسان , لم يكره
 
Ulama madzhab kami (Hambali), dimakruhkan puasa hari Sabtu saja… Hukum makruh jika hanya puasa Sabtu saja. Jika diiringi dengan puasa di hari yang lain, tidak makruh. Berdasarkan hadis Abu Hurairah dan Juwairiyah Radhiyallahu ‘anhuma. Juga ketika bertepatan dengan hari puasa wajib, tidak makruh.[l-Mughni, 3/52]
 
Puasa Hari Sabtu Ada Lima Keadaan
 
Imam Ibnu Utsaimin memberikan rincian hukum puasa di hari Sabtu menjadi lima keadaan:
 
Pertama, puasa wajib di hari Sabtu, seperti puasa Ramadan, atau qadha Ramadan, atau puasa nadzar, atau kaffarah, atau puasa pengganti hadyu bagi yang melakukan haji Tamattu’. Hukum puasa ini dibolehkan, selama tidak dia lakukan dalam rangka memuliakan Sabtu, karena diyakini memiliki keistimewaan.
 
Kedua, puasa di hari Sabtu dalam rangka mengiringi puasa di hari Jumat, hukumnya dibolehkan, sebagaimana dinyatakan dalam hadis Abu Hurairah dan Juwairiyah Radhiyallahu ‘anhuma.
 
Ketiga, puasa di hari Sabtu karena bertepatan dengan waktu puasa sunah, seperti Ayyam al-Bidh (tanggal 13, 14, dan 15 bulan Qamariyah), atau bertepatan dengan puasa Asyura, atau 6 hari di bulan Syawal bagi yang telah puasa Ramadan, atau bertepatan dengan 9 Dzulhijjah, hukumnya dibolehkan. Orang ini melakukan puasa bukan karena hari Sabtu, namun dia puasa di hari Sabtu karena bertepatan dengan hari anjuran puasa.
 
Keempat, puasa hari Sabtu karena bertepatan dengan puasa rutinitasnya. Misalnya orang yang melakukan puasa Daud. Dan ketika hari Sabtu, bertepatan dengan hari dia berpuasa, hukumnya dibolehkan.
 
Dalilnya, Nabi ﷺ pernah melarang untuk mendahului Ramadan dengan puasa sehari atau dua hari sebelumnya, kecuali bertepatan dengan hari puasa sunah seseorang.
 
Kelima, orang yang puasa hari Sabtu dalam rangka mengistimewakan hari Sabtu. Imam Ibnu Utsaimin menegaskan untuk jenis yang kelima ini:
 
فهذا محل النهي إن صح الحديث في النهي عنه
 
Inilah bagian yang TERLARANG, jika hadis yang melarang statusnya Shahih. [Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, 20/57]
 
Allahu a’lam.
 
 
 
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 #laranganpuasahariSabtu #dilarangpuasahariSabtu #hukum, #benarkahkitadilarangpuasadihariSabtu #puasaharisabtuadalimakeadaan #fatwaSyaikhUtsaimin #shaum

,

HUKUM PUASA HARI ASYURA ADALAH SUNNAH

HUKUM PUASA HARI ASYURA ADALAH SUNNAH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

HUKUM PUASA HARI ASYURA ADALAH SUNNAH
 
Sebelum puasa Ramadan diwajibkan, puasa hari Asyura adalah puasa wajib kaum Muslimin. Hal tersebut diterangkan dalam hadis Salamah bin Al-Akwa’ radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau berkata:
 
أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا مِنْ أَسْلَمَ: ” أَنْ أَذِّنْ فِي النَّاسِ: أَنَّ مَنْ كَانَ أَكَلَ فَلْيَصُمْ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ، وَمَنْ لَمْ يَكُنْ أَكَلَ فَلْيَصُمْ، فَإِنَّ اليَوْمَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ
 
“Nabi ﷺ memerintahkan seorang lelaki dari Bani Aslam untuk mengumumkan kepada manusia:
‘Siapa saja yang telah makan, hendaknya dia berpuasa (dengan) menyempurnakan sisa harinya. Siapa saja yang belum makan, silakan dia berpuasa, karena hari ini adalah hari ‘Asyura`.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary dan Muslim]
 
Kemudian hukum tersebut TERHAPUS, dan puasa hari Asyura hanya DISUNNAHKAN sebagaimana dalam penjelasan hadis-hadis yang telah berlalu. Juga diterangkan dalam hadis Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
 
هَذَا يَوْمُ عَاشُورَاءَ وَلَمْ يَكْتُبِ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، وَأَنَا صَائِمٌ، فَمَنْ شَاءَ، فَلْيَصُمْ وَمَنْ شَاءَ، فَلْيُفْطِرْ
 
“Ini adalah hari Asyura. Allah tidak mewajibkannya sebagai puasa terhadap kalian, (tetapi) aku (tetap) berpuasa. Siapa saja yang berkehendak, silakan dia berpuasa, sedang siapa saja yang berkehendak, silakan dia berbuka.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary dan Muslim]
 
Penulis: Al-Ustadz Dzulqarnain M Sunusi hafizahullah

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

#SifatPuasaNabi, #PuasaAsyura, #HariAsyura, #BulanMuharram, #Sunnah, #Puasa, #PuasaAsyuro, #Asyuro, #Suro, #Syuro, Syura, #BulanHaram

 

, , ,

PERTEMUKAN AKU DENGAN RAMADAN BERIKUTNYA

PERTEMUKAN AKU DENGAN RAMADAN BERIKUTNYA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#DoaZikir

PERTEMUKAN AKU DENGAN RAMADAN BERIKUTNYA

Di antara perkataan ulama terdahulu yang menunjukkan kerinduan akan datangnya Ramadan adalah apa yang diungkapkan oleh Yahya bin Abi Katsir rahimahullah. Beliau mengatakan, bahwa salah satu doa yang dipanjatkan para salaf adalah doa berikut:

“Ya Allah, pertemukan diriku dengan Ramadan. Selamatkan Ramadan untukku, dan terimalah seluruh amalku pada waktu Ramadan.” [Lathaif al-Ma’arif hlm. 158]

Ya Allah, pertemukan kami dengan Ramadan

Kenapa Kita Sangat Berharap Agar Bisa Bertemu Lagi dengan Ramadan?

Ada dua orang sahabat, saling bersaudara. Salah seorang di antara mereka lebih bersemangat dibandingkan yang lain, dan akhirnya dia pun memeroleh syahid. Adapun sahabatnya, wafat setahun setelahnya.

Thalhah radhiallahu ‘anhu bermimpi, bahwa orang yang terakhir meninggal memiliki derajat yang lebih tinggi daripada yang pertama. Thalhah menginformasikan hal tersebut kepada sahabat yang lain dan mereka pun merasa heran. Maka Nabi ﷺ pun bersabda:

“Bukankah orang ini hidup setahun setelahnya?” Mereka menjawab: “Ya.” Beliau ﷺ bersabda: “Bukankah ia mendapatkan Ramadan dan berpuasa? Ia juga telah mengerjakan shalat ini dan itu dengan beberapa sujud dalam setahun?” Mereka menjawab: “Ya.” Rasulullah ﷺ kembali bersabda: “Sungguh, sangat jauh perbedaan antara keduanya (dalam kebajikan), bagaikan antara langit dan bumi.” [HR. Ibnu Majah : 3925. Dinilai shahih oleh al-Albani]

Ya Allah, pertemukanlah kami dengan Ramadan.

 

Sumber: Islamic Centre Bin Baz

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

,

DUA PELAJARAN PENTING DARI PUASA ASYURA

DUA PELAJARAN PENTING DARI PUASA ASYURA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
#SifatPuasaNabi
 
DUA PELAJARAN PENTING DARI PUASA ASYURA
 
Barangkali kita belum memahami tengan hal tersebut d atas. Dari Abu Qatadah Al-Anshariy radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
“Nabi ﷺ ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah, beliau ﷺ menjawab: ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau ﷺ juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura, beliau ﷺ menjawab: ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” [HR. Muslim, no. 1162]
 
Pelajaran Pertama dari Puasa Asyura: Puasa Sunnah Berarti Bisa Menghapus Dosa
 
Imam Nawawi rahimahullah mengatakan: “Jika bukan dosa kecil yang diampuni, moga dosa besar yang diperingan. Jika tidak, semoga ditinggikan derajat.” [Syarh Shahih Muslim, 8:46]
 
Sedangkan jika melihat dari penjelasan Ibnu Taimiyah rahimahullah, bukan hanya dosa kecil yang diampuni, dosa besar bisa terampuni, karena hadis di atas sifatnya umum. [Lihat Majmu’ah Al-Fatawa, 7:498-500]
 
Pelajaran Kedua dari Puasa Asyura: Umat Islam Diajarkan Untuk Tidak Menyerupai Non-Muslim (Tasyabbuh)
 
Karena lihat saja dalam hadis disebutkan, bahwa Nabi ﷺ ingin menambah berpuasa pada hari kesembilan agar tidak mirip dengan Ahli Kitab yang berpuasa pada hari kesepuluh (hari Asyura). Ahli Kitab mengagungkan hari Asyura untuk memperingati hari kemenangan Nabi Musa ‘alaihis salam atas Fir’aun.
 
Jadi di antara maksud Nabi ﷺ berpuasa pada hari kesembilan Muharram adalah agar puasanya tidak menyerupai non-Muslim. Poin penting yang bisa dipetik adalah, Nabi ﷺ mengajarkan, agar kita tidak Tasyabbuh dengan non-Muslim.
 
Nabi ﷺ mengingatkan kita agar tidak Tasyabbuh, meniru-niru non-Muslim pada sesuatu yang menjadi ciri khas mereka. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi ﷺ bersabda:
 
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
 
“Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” [HR. Ahmad 2:50,92 dan Abu Daud, no. 4031. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih sebagaimana dalam Irwa’ Al-Ghalil, no. 1269]
 
Benarlah apa yang dikatakan oleh Nabi ﷺ jauh-jauh hari.
 
Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
 
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ , قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ: فَمَنْ
 
“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, dan sehasta demi sehasta, sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, -pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata: “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nasrani?” Beliau ﷺ menjawab: “Lantas siapa lagi?” [HR. Muslim, no. 2669]
 
 
Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah
 
 
══════
 
Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
, ,

REMINDER PEKAN PUASA SUNNAH MUHARRAM 1439H

REMINDER PEKAN PUASA SUNNAH MUHARRAM 1439H

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

REMINDER PEKAN PUASA SUNNAH MUHARRAM 1439H
>> Puasa 9, 10, 11 Muharram dan Puasa Sunnah Lainnya
 
1. Puasa Sunnah KAMIS
Kamis, 28 September 2017 — 8 Muharram 1439 H
 
Dalil:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
 
تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِى وَأَنَا صَائِمٌ
 
“Berbagai amalan dihadapkan (pada Allah) pada wajty Senin dan Kamis. Maka aku suka jika amalanku dihadapkan, sedangkan aku sedang berpuasa.” [HR. Tirmidzi no. 747]
 
2. Puasa TASU’A
Jumat, 29 September 2017 — 9 Muharram 1439 H
 
Dalil:
Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata, bahwa ketika Nabi ﷺ melakukan puasa hari ’Asyura, dan memerintahkan kaum Muslimin untuk melakukannya. Pada saat itu ada yang berkata:
 
يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى.
 
“Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani.” Lantas beliau ﷺ mengatakan:
 
فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ
 
“Apabila tiba tahun depan, insya Allah (jika Allah menghendaki), kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan.”
Ibnu Abbas mengatakan:
 
فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.
 
“Belum sampai tahun depan, Nabi ﷺ sudah meninggal dunia.” [HR. Muslim no. 1134]
 
3. Puasa ASYURA
Sabtu, 30 September 2017 — 10 Muharram 1439 H
 
Dalil:
Rasulullah ﷺ bersabda:
 
صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ
 
“Puasa ‘Asyura aku memohon kepada Allah, agar dapat menghapus dosa setahun yang lalu.”
 
Imam an-Nawawi rahimahullah berkata: “Keutamaannya menghapus semua dosa-dosa kecil. Atau boleh dikatakan menghapus seluruh dosa, kecuali dosa besar.”
 
4. Puasa SETELAH ASYURA
Ahad, 1 Oktober 2017 — 11 Muharram 1439 H
 
Jika seseorang tidak bisa berpuasa di hari kesembilan untuk mengiringi hari kesepuluh, hendaknya ia berpuasa di hari kesebelas untuk menyelisihi orang-orang Yahudi
 
5. Puasa Sunnah SENIN
Senin, 2 Oktober 2017 — 12 Muharram 1439 H
 
Dalil:
Keutamaan Senin dan Kamis secara umum dijelaskan dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berikut, Rasulullah ﷺ bersabda:
 
تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلاَّ رَجُلاً كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ فَيُقَالُ أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا
 
“Pintu Surga dibuka pada waktu Senin dan Kamis. Setia hamba yang tidak berbuat syirik pada Allah sedikit pun akan diampuni (pada hari tersebut), kecuali seseorang yang memiliki percekcokan (permusuhan) antara dirinya dan saudaranya. Nanti akan dikatakan pada mereka, akhirkan urusan mereka sampai mereka berdua berdamai. Akhirkan urusan mereka sampai mereka berdua berdamai.” [HR. Muslim no. 2565]
 
6. Puasa AYYAMUL BIDH ~ dan Puasa Sunnah KAMIS
Selasa, Rabu, Kamis, 3-5 Oktober 2017 — 13, 14, 15 Muharram 1439 H
 
Dalil:
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah ﷺ bersabda:
 
صَوْمُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ صَوْمُ الدَّهْرِ كُلِّهِ
 
“Puasa pada tiga hari setiap bulannya adalah seperti puasa sepanjang tahun.” [HR. Bukhari no. 1979]
 
Semoga Allah mudahkan kita untuk mengamalkan puasa-puasa Sunnah pada waktu Muharram yang penuh keutamaan..
 
======
Broadcasted by: Tim Donasi Dakwah YPIA Yogyakarta
(Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari)
085747223366

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

,

HUKUM PUASA 11 MUHARRAM

HUKUM PUASA 11 MUHARRAM

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#SifatPuasaNabi
 
HUKUM PUASA 11 MUHARRAM
 
Boleh saja dan sah puasa pada 11 Muharram dengan beberapa alasan:
 
Pertama:
Sebagian ulama menganggap tingkatan puasa yang paling tinggi dari Puasa Asyura adalah berpuasa pada 9, 10, dan 11 Muharram (tiga hari sekaligus). Di bawah itu adalah berpuasa pada 9 dan 10 Muharram. Di bawah itu adalah berpuasa pada 10 Muharram saja. Tiga tingkatan ini dijelaskan oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah dalam Zaad Al-Ma’ad, 2:72.
 
Kedua:
Jika ragu menentukan awal Muharram, seperti di tahun 1439 H ini, ada yang mengatakan 10 Muharram itu jatuh pada Sabtu, ada yang mengatakan pada Ahad, saiknya puasa saja tiga hari, yaitu 9, 10, dan 11 Muharram.
 
Imam Ahmad rahimahullah mengatakan: ”Jika ragu mengenai penentuan hilal awal Muharram, maka boleh berpuasa pada tiga hari sekaligus (hari ke 9, 10, dan 11 Muharram) untuk kehati-hatian.” Ibnu Rajab menyatakan: bahwa Ibnu Sirin juga berpendapat seperti itu. [Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 99]
 
Ketiga:
Berpuasa pada 9, 10, dan 11 Muharram masuk ke dalam puasa tiga hari setiap bulannya. Karena puasa tiga hari setiap bulan Hijriyah itu bebas memilih hari apa saja. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
 
أَوْصَانِى خَلِيلِى بِثَلاَثٍ لاَ أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَصَلاَةِ الضُّحَى ، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ
 
“Kekasihku (yaitu Rasulullah ﷺ) mewasiatkan padaku tiga nasihat yang aku tidak meninggalkannya hingga aku mati:
(1) Berpuasa tiga hari setiap bulannya,
(2) Mengerjakan shalat Dhuha,
(3) Mengerjakan shalat Witir sebelum tidur.” [HR. Bukhari, no. 1178]
 
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:
 
صَوْمُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ صَوْمُ الدَّهْرِ كُلِّهِ
 
“Puasa pada tiga hari setiap bulannya adalah seperti puasa sepanjang tahun.” [HR. Bukhari, no. 1979]
 
Dari Mu’adzah Al-‘Adawiyyah, ia pernah bertanya pada ‘Aisyah istri Nabi ﷺ:
 
أَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ قَالَتْ نَعَمْ. فَقُلْتُ لَهَا مِنْ أَىِّ أَيَّامِ الشَّهْرِ كَانَ يَصُومُ قَالَتْ لَمْ يَكُنْ يُبَالِى مِنْ أَىِّ أَيَّامِ الشَّهْرِ يَصُومُ
 
“Apakah Rasulullah ﷺ biasa melaksanakan puasa tiga hari setiap bulannya?” ‘Aisyah menjawab: “Iya”. Ia pun bertanya pada ‘Aisyah, “Pada hari apa beliau berpuasa?” ‘Aisyah menjawab: “Beliau tidak memerhatikan pada hari apa beliau berpuasa dalam sebulan.” [HR. Muslim, no. 1160]
 
Ada juga puasa Ayyamul Bidh, yaitu hari ke13, 14, 15 setiap bulan Hijriyah yang dianjurkan puasa. Di mana anjurannya seperti hadis berikut ini. Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda padanya:
 
يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا صُمْتَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ فَصُمْ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ
 
“Jika engkau ingin berpuasa tiga hari setiap bulannya, maka berpuasalah pada 13, 14, dan 15 (dari bulan Hijriyah).” [HR. Tirmidzi no. 761 dan An Nasai no. 2425. Abu ‘Isa Tirmidzi mengatakan bahwa hadisnya Hasan]
 
Dari Ibnu Milhan Al-Qoisiy, dari ayahnya, ia berkata:
 
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَأْمُرُنَا أَنْ نَصُومَ الْبِيضَ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ . وَقَالَ « هُنَّ كَهَيْئَةِ الدَّهْرِ »
 
“Rasulullah ﷺ biasa memerintahkan pada kami untuk berpuasa pada Ayyamul Bidh, yaitu 13, 14 dan 15 (dari bulan Hijriyah).” Dan beliau ﷺ bersabda: “Puasa Ayyamul Bidh itu seperti puasa setahun.” [HR. Abu Daud, no. 2449 dan An-Nasa’i, no. 2434. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih]
 
Kalau tidak sempat pada tiga hari tersebut, BISA MEMILIH DI HARI LAINNYA dari bulan Hijriyah, bisa memilih 9, 10, dan 11.
 
Keempat:
Kalau tidak sempat berpuasa pada 9 dan 10 Muharram, bisa memilih berpuasa pada 10 dan 11 Muharram, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Umar Al-Muqbil hafizahullah.
 
Kelima:
Berpuasa 9, 10, dan 11 Muharram punya maksud untuk menyelisihi Yahudi.
 
Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz, Mufti Kerajaan Saudi Arabia di masa silam berkata: “Yang afdal adalah berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh Muharram karena mengingat hadis (Ibnu ‘Abbas): “Apabila aku masih diberi kehidupan tahun depan, aku akan berpuasa pada hari kesembilan.” Jika ada yang berpuasa pada hari kesepuluh dan kesebelas atau berpuasa tiga hari sekaligus (9, 10 dan 11), maka itu semua baik. Semua ini dengan maksud untuk menyelisihi Yahudi.” [Fatwa Syaikh Ibnu Baz, http://www.binbaz.org.sa/noor/4898]
 
Di tempat lain, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz menyatakan: “Berpuasa pada 9 dan 10 Muharram lebih utama. Adapun berpuasa 10 dan 11 Muharram, itu pun sudah mencapai maksud untuk menyelisihi Yahudi dalam berpuasa.” [Fatwa di web alifta.net]
 
Walau Hadisnya Bermasalah
 
Adapun hadis yang menganjurkan puasa tiga hari sekaligus (9, 10, dan 11 Muharram):
 
صُوْمُوْا يَوْمًا قَبْلَهُ وَيَوْمًا بَعْدَهُ
 
“Berpuasalah pada hari sebelum dan sesudah Asyura.” [HR. Al-Baihaqi, 4:287, sanad hadis ini Dha’if sebagaimana kata Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dan Syaikh ‘Abdul Qadir Al-Arnauth dalam tahqiq Zaad Al-Ma’ad, 2:72]
 
Namun lima alasan di atas sudah menjadi jawaban akan masih dibolehkannya berpuasa pada 11 Muharram.
 
Wallahu a’lam. Semoga Allah beri taufik dan hidayah. Selamat berpuasa.
 
Referensi:
  • Lathaif Al-Ma’arif. Cetakan pertama, Tahun 1428 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Al-Maktab Al Islami.
  • Zaad Al-Ma’ad. Cetakan keempat, Tahun 1425 H. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Tahqiq: Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dan Syaikh ‘Abdul Qadir Al-Arnauth. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.
Referensi Web (diakses 29 September 2017):
  • Fatwa Syaikh Ibnu Baz di situs Al-Lajnah Ad-Daimah, 15:404. http://www.alifta.net/Fatawa/FatawaChapters.aspx?languagename=ar&View=Page&PageID=159&PageNo=1&BookID=12
  • Fatwa Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz. http://www.binbaz.org.sa/noor/4898
  • Status Telegram Syaikh Prof. Dr. ‘Umar Al-Muqbil. https://t.me/dr_omar_almuqbil
 
Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.Com
 

 

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

,

BENARKAH PUASA 11 MUHARRAM BID’AH?

BENARKAH PUASA 11 MUHARRAM BID’AH?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#SifatPuasaNabi

BENARKAH PUASA 11 MUHARRAM BID’AH?
>> Fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid hafidzahullah
 
Pertanyaan:
Aku telah membaca semua hadis tentang puasa Asyura, namun aku tidak mendapati meskipun hanya satu hadis saja yang menyebutkan Nabi ﷺ memberi isyarat perintah puasa 11 Muharam untuk menyelisihi Yahudi. Beliau ﷺ hanya bersabda:
 
لئن عشت إلى قابل لأصومن التاسع والعاشر
“Seandainya aku masih hidup tahun depan, sungguh aku akan puasa pada 9 dan 10 Muharram.” Sebagai penyelisihan terhadap Yahudi.
 
Sebagaimana beliau ﷺ juga tidak menyarankan para sahabat untuk berpuasa 11 Muharram.
 
Berdasarkan penjelasan ini, apakah bisa dikategorikan bid’ah jika kita mengamalkan puasa yang tidak dilakukan Nabi ﷺ dan juga para sahabat?
 
Apakah boleh puasa tanggal 10 saja bagi mereka yang terlewatkan untuk berpuasa pada 9 Muharram?
 
Jawaban:
Para ulama menganjurkan puasa pada 11 Muharram berdasarkan hadis Nabi ﷺ yang memerintahkan berpuasa pada tanggal tersebut.
 
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda:
 
صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ ، وَخَالِفُوا فِيهِ الْيَهُودَ ، صُومُوا قَبْلَهُ يَوْمًا أَوْ بَعْدَهُ يَوْمًا
 
“Puasalah kalian di hari Asyura. Selisihilah Yahudi dengan puasa sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.”
 
Para ulama berbeda-beda pendapat tentang keshahihan hadis ini. Syaikh Ahmad Syakir menilai hadis ini Hasan. Adapun para ulama pentahqiq musnad menilai hadis ini lemah.
 
Ibnu Huzaimah meriwayatkan hadis di atas dengan lafal tersebut (2095). Al Albani berkomentar: “Sanad hadis ini lemah karena jeleknya hafalan Ibnu Abi Laila. Atha’ dan ulama lainnya menyelisihinya. Dia (Ibnu Abi Laila) meriwayatkannya dari Ibnu Abbas secara mauquf. Namun sanad hadis ini dinilai Shahih oleh At Thahawi dan Al Baihaqi.”
 
Jika hadis ini memiliki sanad yang baik, maka termasuk hadis Hasan. Jika sanadnya lemah, maka hadis lemah. Semacam ini diberi kelonggaran oleh para ulama. Karena kelemahannya tidak seberapa, lagipula tidak sampai derajat hadis dusta atau palsu. Karena juga hadis ini berkaitan dengan fadhail a’mal (keutamaan amal). Terlebih terdapat hadis Nabi ﷺ yang menganjurkan memerbanyak puasa pada waktu Muharram. Sampai-sampai Nabi ﷺ bersabda:
 
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ
“Puasa paling utama setelah Ramadan adalah puasa di bulan Allah, Muharram.” [HR. Muslim 1163]
 
Imam Al Baihaqi meriwayatkan hadis di atas (perintah puasa pada 11 Muharram) dalam As Sunan Al Kubra dengan lafal seperti di atas. Dan dalam riwayat lain dengan lafal:
 
صوموا قبله يوماً وبعده يوما
“Puasalah sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya.”
 
Dengan menggunakan kata “dan” pengganti dari “atau”.
 
Al Hafidz Ibnu Hajar meriwayatkan dalam Ittihaful Muhirrah (2225) dengan lafal:
 
صوموا قبله يوماً وبعده يوما
 
“Berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.”
 
Lalu beliau memberi keterangan:
“Imam Ahmad dan Al Baihaqi meriwayatkan hadis ini dengan sanad lemah, karena lemahnya Ibnu Abi Laila. Akan tetapi dia tidak sendirian meriwayatkan hadis ini. Ada mutabi’ (rawi penguat), yaitu Shalih Ibn Abi Shalih Ibnu Hay.”
 
Maka riwayat ini memberi faidah disunnahkannya puasa pada 9, 10, 11 Muharram.
 
Para ulama menjelaskan sebab lain disunnahkan puasa pada 11 Muharram, yaitu dalam rangka kehati-hatian menjalankan puasa Asyura. Karena terkadang banyak orang salah dalam menetapkan hilal Muharram (tanggal 1). Akhirnya mereka tidak tahu dengan pasti jatuhnya 10 Muharram. Tatkala seseorang berpuasa pada 9,10, dan 11 Muharram, maka bisa dipastikan ia telah berpuasa pada 10 Muharram. Diriwayatkan dari Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf (2/313) dari Thawus rahimahullah, bahwasanya beliau puasa sebelum dan sesudah 10 Muharram, karena khawatir terlewati 10 Muharram.
 
Imam Ahmad berkata: “Barang siapa yang ingin puasa Asyura, hendaknya dia berpuasa pada 9 dan 10 Muharram, kecuali jika penetapan hilal bulan diperselisihkan, hendaknya ia berpuasa tiga hari (9,10 dan 11 Muharram), inilah pendapat yang disampaikan Ibnu Sirin.” [Al Mughni 4/441].
 
Dengan demikian jelaslah bahwa anggapan puasa tiga hari (9, 10 dan 11 Muharram) termasuk bid’ah adalah tidak benar.
 
Adapun orang terlewatkan puasa pada 9 Muharram, lalu dia puasa pada 10 Muharram saja tidaklah mengapa, hukumnya bukan makruh. Dan jika ia mau menggenapkannya dengan puasa pada 11 Muharram, maka lebih utama.
 
Al Mardawi berkata dalam Al Inshaf:
”Bukan merupakan perkara yang dibenci berpuasa pada 10 Muharram saja menurut pendapat yang benar di kalangan ulama madzab. Pendapat ini senada dengan pendapat Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyyah, bahwa hal tersebut tidak lah makruh.
 
Wallahua’lam.
 
Sumber: http://islamqa.info/ar/128423
Diterjenahkan oleh Tim Penerjemah Wanitasalihah.Com
 
***
Artikel wanitasalihah.com
 
السؤال: قرأت جميع الأحاديث عن يوم عاشوراء ، ولم أجد في أحدها أن النبي صلى الله عليه وسلم أشار إلى صيام يوم الحادي عشر لمخالفة اليهود ، وإنما قال : ( لئن عشت إلى قابل لأصومن التاسع والعاشر ) مخالفة لليهود . كما أنه صلى الله عليه وسلم لم يوجّه أصحابه لصيام يوم الحادي عشر ، وعليه : أفلا يكون بدعة أن نفعل ما لم يفعله النبي صلى الله عليه وسلم ولا أصحابه ؟ وهل من فاته صيام التاسع يكتفي بصيام العاشر ؟
 
الجواب:
 
الحمد لله
 
استحب العلماء صيام اليوم الحادي عشر من المحرم لأنه قد ورد عن النبي صلى الله عليه وسلم الأمر بصيامه ، وذلك فيما رواه أحمد (2155) عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ ، وَخَالِفُوا فِيهِ الْيَهُودَ ، صُومُوا قَبْلَهُ يَوْمًا أَوْ بَعْدَهُ يَوْمًا).
 
وقد اختلف العلماء في صحة هذا الحديث ، فحسنه الشيخ أحمد شاكر ، وضعفه محققو المسند .
 
ورواه ابن خزيمة (2095) بهذا اللفظ ، وقال الألباني : “إسناده ضعيف ، لسوء حفظ ابن أبي ليلى ، وخالفه عطاء وغيره فرواه عن ابن عباس موقوفاً ، وسنده صحيح عند الطحاوي والبيهقي” انتهى .
 
فإن كان الحديث حسناً فهو حسن ، وإن كان ضعيفاً ، فالحديث الضعيف في مثل هذا يتسامح فيه العلماء ، لأن ضعفه يسير ، فليس هو مكذوباً أو موضوعاً ، ولأنه في فضائل الأعمال ، لا سيما وقد ورد عن النبي صلى الله عليه وسلم الترغيب في الصيام من شهر المحرم ، حتى قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ) رواه مسلم (1163) .
 
وقد روى البيهقي هذا الحديث في “السنن الكبرى” باللفظ السابق ، وفي رواية أخرى بلفظ : (صوموا قبله يوماً وبعده يوماً) بالواو بدلاً من “أو” .
 
وأورده الحافظ ابن حجر في “إتحاف المهرة” (2225) بلفظ : (صوموا قبله يوماً وبعده يوماً) وقال : “رواه أحمد والبيهقي بسند ضعيف ، لضعف محمد بن أبي ليلى ، لكنه لم ينفرد به ، فقد تابعه عليه صالح بن أبي صالح بن حي” انتهى .
 
فتفيد هذه الرواية استحباب صيام التاسع والعاشر والحادي عشر .
 
وقد ذكر بعض العلماء سبباً آخر لاستحباب صيام اليوم الحادي عشر ، وهو الاحتياط لليوم العاشر ، فقد يخطئ الناس في هلال محرم ، فلا يُدرى أي يوم بالضبط هو اليوم العاشر ، فإذا صام المسلم التاسع والعاشر والحادي عشر فقد تحقق من صيام عاشوراء ، وقد روى ابن أبي شيبة في ” المصنف ” (2/313) عن طاوس رحمه الله أنه كان يصوم قبله وبعده يوما مخافة أن يفوته .
 
وقال الإمام أحمد : “من أراد أن يصوم عاشوراء صام التاسع والعاشر إلا أن تشكل الشهور فيصوم ثلاثة أيام ، ابن سيرين يقول ذلك” انتهى.
 
” المغني ” (4/441) .
 
فتبين بهذا أنه لا يصح وصف صيام الأيام الثلاثة بأنه بدعة .
 
وأما من فاته صيام اليوم التاسع ، فإن صام العاشر وحده ، فلا حرج في ذلك ، ولا يكون ذلك مكروهاً ، وإن ضم إليه صيام الحادي عشر فهو أفضل .
 
قال المرداوي في “الإنصاف” (3/346) :
 
“لا يكره إفراد العاشر بالصيام على الصحيح من المذهب ، ووافق الشيخ تقي الدين [ابن تيمية] أنه لا يكره” انتهى باختصار .
 
والله أعلم .
 
 
 

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

,

KUMPULAN DALIL PUASA SUNNAH SENIN KAMIS, TASU’AH, ASYURA DAN AYYAMUL BIDH

KUMPULAN DALIL PUASA SUNNAH SENIN KAMIS, TASU'AH, ASYURA DAN AYYAMUL BIDH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#SifatPuasaNabi

KUMPULAN DALIL PUASA SUNNAH SENIN KAMIS, TASU’AH, ASYURA DAN AYYAMUL BIDH
 
Dalill Puasa Senin Kamis:
 
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
 
تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِى وَأَنَا صَائِمٌ
 
“Berbagai amalan dihadapkan (pada Allah) pada waktu Senin dan Kamis. Maka aku suka jika amalanku dihadapkan, sedangkan aku sedang berpuasa.” [HR. Tirmidzi no. 747. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadis ini Hasan Ghorib. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadis ini Hasan. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih Lighoirihi yaitu Shahih dilihat dari jalur lainnya].
 
Dalil Puasa 9 Muharram (Tasu’ah) dan 10 Muharram (Asyura)
 
Dari Abu Qotadah Al Anshoriy, berkata:
 
وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ
 
“Nabi ﷺ ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah, beliau ﷺ menjawab: ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau ﷺ juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura, beliau ﷺ menjawab: ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” [HR. Muslim no. 1162]
 
Nabi ﷺ punya keinginan berpuasa pada hari kesembilan Muharram (Tasu’ah) sebagaimana disebutkan dalam riwayat berikut:
 
Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata, bahwa ketika Nabi ﷺ melakukan puasa hari ’Asyura dan memerintahkan kaum Muslimin untuk melakukannya. Pada saat itu ada yang berkata:
 
يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى.
 
“Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani.” Lantas beliau ﷺ mengatakan:
 
فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ
 
“Apabila tiba tahun depan, insya Allah (jika Allah menghendaki), kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan.” Ibnu Abbas mengatakan:
 
فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.
 
“Belum sampai tahun depan, Nabi ﷺ sudah keburu meninggal dunia.” [HR. Muslim no. 1134]
 
Dalil Puasa Ayyamul Bidh (13, 14, 15 bulan Hijriyah)
 
Dari Ibnu Milhan Al Qoisiy, dari ayahnya, ia berkata:
 
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَأْمُرُنَا أَنْ نَصُومَ الْبِيضَ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ . وَقَالَ هُنَّ كَهَيْئَةِ الدَّهْرِ
 
“Rasulullah ﷺ biasa memerintahkan pada kami untuk berpuasa pada Ayyamul Bidh yaitu 13, 14 dan 15 (dari bulan Hijriyah).” Dan beliau ﷺ bersabda: “Puasa Ayyamul Bidh itu seperti puasa setahun.” [HR. Abu Daud no. 2449 dan An Nasai no. 2434. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih]
 
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:
 
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُفْطِرُ أَيَّامَ الْبِيضِ فِي حَضَرٍ وَلَا سَفَرٍ
 
“Rasulullah ﷺ biasa berpuasa pada Ayyamul Bidh ketika tidak bepergian maupun ketika bersafar.” [HR. An Nasai no. 2347. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadis ini Hasan. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Hasan]
 
Namun dikecualikan berpuasa pada tanggal 13 Dzulhijjah (bagian dari hari Tasyriq). Berpuasa pada hari tersebut diharamkan.

Sumber:

 

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat