,

ISTRI MENINGGAL, APAKAH SUAMI BERHAK ATAS WARISANNYA?

ISTRI MENINGGAL, APAKAH SUAMI BERHAK ATAS WARISANNYA?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
ISTRI MENINGGAL, APAKAH SUAMI BERHAK ATAS WARISANNYA?
 
Pertanyaan:
 
1. Jika istri dapat warisan dari orang tuanya dan kemudian dia meninggal dunia, apakah suaminya berhak dapat warisan dari sang istri?
 
2. Kemudian setelah si istri meninggal, sang suami menikah lagi dengan istri kedua, dan tidak berselang lama si suami meninggal. Apakah istri yang kedua ini berhak mendapatkan warisan dari suaminya?
 
Jawaban:
 
1. Apabila istri tersebut meninggal setelah ia dinyatakan berhak menerima warisan ayahnya (yang meninggal sebelum dia), maka suaminya berhak atas warisan (dari istrinya) yang diperoleh dari si ayah sang istri (mertuanya -pent) , dan suami juga berhak atas harta istri yang bukan berasal dari warisan tersebut. Namun nominal yang diterima suami tidaklah sama dalam semua keadaan. Bisa jadi mendapat setengah atau seperempat dari harta istri, tergantung keberadaan ahli waris istri lainnya. Allah taala berfirman di surat an-Nisa’ ayat 12:
 
وَلَكُمْ نِصْفُ مَا تَرَكَ أَزْوَاجُكُمْ إِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُنَّ وَلَدٌ فَإِنْ كَانَ لَهُنَّ وَلَدٌ فَلَكُمُ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْنَ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِينَ بِهَا أَوْ دَيْنٍ وَلَهُنَّ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْتُمْ إِنْ لَمْ يَكُنْ لَكُمْ وَلَدٌ فَإِنْ كَانَ لَكُمْ وَلَدٌ فَلَهُنَّ الثُّمُنُ مِمَّا تَرَكْتُمْ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ تُوصُونَ بِهَا أَوْ دَيْنٍ وَإِنْ كَانَ رَجُلٌ يُورَثُ كَلالَةً أَوِ امْرَأَةٌ وَلَهُ أَخٌ أَوْ أُخْتٌ فَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ فَإِنْ كَانُوا أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ فَهُمْ شُرَكَاءُ فِي الثُّلُثِ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصَى بِهَا أَوْ دَيْنٍ غَيْرَ مُضَارٍّ وَصِيَّةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَلِيمٌ
 
Dan bagi kalian (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istri kalian, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika istri-istri kalian itu mempunyai anak, maka kalian mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya, sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. Para istri memperoleh seperempat harta yang kalian tinggalkan, jika kalian tidak mempunyai anak. Jika kalian mempunyai anak, maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kalian tinggalkan, sesudah dipenuhi wasiat yang kalian buat, atau (dan) sesudah dibayar utang-utang kalian. Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan, yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya, atau sesudah dibayar utangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris). (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syariat yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.
 
Perlu difahami, bahwa asalnya suami tidaklah mewarisi harta mertuanya, dan suami mendapatkan warisan di kasus ini karena istrinya memperoleh warisan.
 
2. Apabila suami memiliki hak di warisan tersebut, maka istri kedua memiliki hak di warisan suami dan harta suami yang lain, namun besarannya tentu tidak sama dalam setiap keadaan, tergantung dari keberadaan ahli waris lainnya.
 
Wallahu a’lam.
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#hartawarisan, #hukum, #warisan, #ahliwaris, #istri, #isteri, #meninggal dunia, #wafat, #mati, #suami, #hartawarisan #suamidapathartawarisanistrinya #pembagianhartawarisan
,

HUKUM MELAKSANAKAN WASIAT YANG BATIL

HUKUM MELAKSANAKAN WASIAT YANG BATIL

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

HUKUM MELAKSANAKAN WASIAT YANG BATIL
>> Bolehkah melaksanakan wasiat untuk dikuburkan di tempat tertentu?

 

Fatwa oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan:
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya: Bagaimana pendapat Anda tentang seseorang yang berwasiat, jika nanti mati agar di kubur di tempatnya si Fulan. Apakah hal ini harus dilaksanakan ?

Jawaban:
Pertama: Ia harus ditanya, mengapa memilih tempat si Fulan? Boleh jadi ia memilih di sisi kuburan yang didustakan, atau di sisi kuburan tempat mempersekutukan Allah dengannya, atau sebab lain yang diharamkan. Yang seperti ini TIDAK BOLEH dilaksanakan wasiatnya, dan ia dikuburkan bersama kaum Muslimin, jika memang ia seorang Muslim.

Adapun jika ia mewasiatkan dengan tujuan yang tidak diharamkan, seperti berwasiat agar dikuburkan di tempat ia hidup, maka tidak mengapa melaksanakan wasiatnya, selama tidak menghabiskan harta yang banyak. Tetapi jika menghabiskan harta yang banyak, maka wasiatnya tidak usah dilaksanakan, karena bumi Allah itu satu, selama bumi itu dikuasai oleh kaum muslimin.

[Disalin dari kitab Majmu Fatawa Arkanil Islam, edisi Indonesia Majmu Fatawa Solusi Problematika Umat Islam Seputar Akidah Dan Ibadah Oleh Syaikh Muhamad bin Shalih Al-Utsaimin, Terbitan Pustaka Arafah]

 

Sumber: https://almanhaj.or.id/1370-wasiat-untuk-dikuburkan-di-tempat-tertentu-dan-kapan-waktu-untuk-mentalqin.html

 

 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#hukum, #wasiat, #wasiyat, #bathil. #batil, #tidaksesuaisyariat, #bertentangandengansyariat, #tidakbenar, #ahliwaris, #keluarga #melaksanakan, #dilaksanakan
,

CARA PEMBAGIAN PERWARISAN

CARA PEMBAGIAN PERWARISAN
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
CARA PEMBAGIAN PERWARISAN
 
Ditinjau dari sudut pandang pembagian, Ahli waris terbagi menjadi dua jenis yaitu:
1. Fardh (Furuudh) dan
2. Ashabah
 
1- Waris dengan Fardh (Furuudh) yaitu orang yang mendapatkan harta warisan berdasarkan kadar tertentu, sebagaimana telah ditentukan dalam Alquran dan Hadis, seperti misalnya: setengah, seperempat, seperdelapan, seperenam, sepertiga, duapertiga. Para pemilik ini dinamakan Ashabul Furuudh.
 
2- Waris dengan Ashabah yaitu orang yang mendapatkan harta warisan dengan cara mengambil sisa harta yang telah dibagikan kepada Ashabul Furuudh. Dalam hal ini tidak ada ketentuan jatahnya. Atau dengan mengambil seluruhnya manakala sendirian dan tidak ada Ashabul Furuudh bersamanya.
 
Rinciannya adalah sebagai berikut:
Ashabul Furuudh yaitu orang yang mendapatkan warisan berdasarkan kadar yang telah ditentukan dalam Alquran dan Hadis. Kadar waris untuk Ashabul Furuudh ada enam saja:
 
a) 1/2 (setengah)
b) 1/4 (seperempat)
c) 1/8 (seperdelapan)
d) 2/3 (duapertiga)
e) 1/3 (sepertiga)
f) 1/6 (seperenam)
 
Ashabul Furuudh yang mendapatkan bagian 1/2 (setengah) ada lima:
a) Anak perempuan
b) Anak perempuan dari anak laki-laki (cucu perempuan)
c) Saudara perempuan kandung (seayah dan seibu)
d) Saudara perempuan seayah
e) Suami jika tidak memiliki anak atau cucu laki-laki
 
Ashabul Furuudh yang mendapatkan bagian 1/4 (seperempat) ada dua:
a) Suami jika istri memiliki anak atau cucu laki-laki
b) Istri (atau beberapa istri) jika tidak memiliki anak atau cucu laki-laki
 
Ashabul Furuudh yang mendapatkan bagian 1/8 (seperdelapan):
– Istri atau beberapa istri jika memiliki anak atau cucu laki-laki yang termasuk ahli waris
 
Ashabul Furuudh yang mendapatkan bagian 2/3 (duapertiga) ada empat:
a) Dua anak perempuan atau lebih jika tidak ada anak mayit yang laki laki
b) Dua atau lebih cucu perempuan dari garis anak laki-laki jika tidak ada cucu mayit yang laki laki dari keturunan anak laki
c) Dua atau labih saudara perempuan kandung seayah dan seibu, jika tidak ada saudara kandung
d) Dua atau lebih saudara perempuan seayah jika tidak ada saudara seayah
Ashabul Furuudh yang mendapatkan bagian 1/3 (sepertiga) ada dua:
a) Ibu jika tidak di-hajb – tidak ada anak, cucu dari garis anak laki-laki, dua atau lebih saudara kandung baik seayah atau seibu.
b) Dua atau lebih saudara seibu baik laki-laki atau perempuan jiak tidak ada ayah atau kakek atau anaknya mayit.
 
Ashabul Furuudh yang mendapatkan bagian 1/6 (seperenam) ada delapan:
 
a) Ibu jika memiliki anak laki-laki, cucu laki-laki atau dua atau lebih saudara perempuan kandung atau perempuan seibu.
b) Nenek garis ibu jika tidak ada ibu
c) Nenek garis ayah jika tidak ada ibu
d) Satu atau lebih cucu perempuan dari anak laki-laki dan masih ada satu anak perempuan kandung yang dapat setengah
e) Satu atau lebih saudara perempuan seayah dan masih ada satu saudara perempuan kandung seayah dan seibu.
f) Ayah jika ada anak laki si mayit atau cucu laki-laki
g) Kakek jika tidak ada ayah
h) Saudara seibu, baik laki-laki atau perempuan.
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#Ashabul, #Furuudh, #Ashobul, #Furudh, #Fardh, #ilmuwarisan, #ilmuwaris, #ilmufaraidh, #ilmufaroidh, #pembagianhartawarisan, #Hartawarisan, #muwarrits, #muwarits, #ahliwaris #hukumwaris #pembagianwarisan #cara #tatacara #hukum
,

EMPAT HAK YANG HARUS DIDAHULUKAN SEBELUM PEMBAGIAN HARTA WARIS

EMPAT HAK YANG HARUS DIDAHULUKAN SEBELUM PEMBAGIAN HARTA WARIS
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
EMPAT HAK YANG HARUS DIDAHULUKAN SEBELUM PEMBAGIAN HARTA WARIS
 
Jika suatu permasalahan waris telah terpenuhi padanya rukun waris, syarat waris, sebab waris, dan tidak didapati penghalang waris, maka langkah selanjutnya adalah membagikan harta waris tersebut kepada Ahli Warisnya sesuai dengan apa yang dibimbingkan Allah ta’ala dan Rasul-Nya ﷺ. [Pembagian harta waris ini tentunya dengan melalui proses penghitungan tertentu, sebagaimana yang dirinci dalam Ilmu Al-Faraidh]
 
Namun perlu diketahui, ada empat perkara terkait dengan harta waris, yang amat menentukan proses pembagian harta waris. Di mana proses pembagian harta waris tidak akan bisa dilakukan hingga benar-benar diselesaikan terlebih dahulu empat perkara tersebut. Empat perkara itu adalah:
 
1. Biaya pemakaman si mayit dan segala sesuatu yang berkaitan dengan pengurusan jenazahnya.
 
2. Utang dalam bentuk barang (berkaitan langsung dengan barang yang diwariskan), seperti sepeda motor utang (kredit) milik si mayit, dll. Dengan kata lain, utang mayit yang berbentuk gadai/utang beragunan.
 
3. Utang secara mutlak yang tidak berkaitan dengan barang, baik utang tersebut berkaitan dengan hak Allah ta’ala seperti zakat, kaffarah, haji (jjka sudah ada kemampuan secara finansial) dan lain-lain, maupun yang berkaitan dengan hak manusia seperti pinjam uang, transaksi tertentu yang belum dilunasi, pembayaran gaji pegawai dan lain-lain.
 
4. Pelaksanaan wasiat yang ditujukan kepada selain Ahli Waris dengan nominal yang tidak lebih dari 1/3 harta waris. Jadi misalnya wasiat yang membutuhkan dana dari harta mayit, berupa infak dalam wasiat, pembiayaan haji, perwasiatan harta kepada kawan atau kerabat, dan lain-lain. Seperti telah dikatakan sebelumnya, wasiat tidak boleh melebihi sepertiga warisan, dan juga tidak boleh diberikan kepada ahli waris, karena mereka telah mendapat harta jatah warisannya, sehingga tidak adil jika mereka mendapat dua jatah; wasiat dan warisan.
 
Demikianlah empat perkara yang harus didahulukan sebelum pembagian harta waris. Jika empat perkara tersebut telah diselesaikan dengan baik, maka tibalah saatnya pembagian harta waris sesuai dengan yang dibimbingkan Allah ta’ala dan Rasul-Nya ﷺ.
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#Muwarrits #warrits #jatahwaris1/3, #jatahwaris2/3, #AhliWaris, #ilmu faraidh, #faraidh, #faroidh, #ilmufaroidh, #ilmuwarisan, #tidakbisamewarisi, #hukum, #pembagianhartawarisan, #pembagianhartapusaka, #hartawarisan, #hartapusaka, #keutamaan, #fadhilah, #fadilah, #keutamaanilmuwarisan, #fadhilahilmuwarisan, #warisan #sepertiga #wasiat #sepertigawarisan #wasiat #wasiyat

#empathakyangharusdidahulukansebelumpembagianhartawaris #empathakyangharusdidahulukan #sebelumpembagianhartawaris #pembagianhartawaris #4hakyangharusdidahulukan

,

PENGHALANG-PENGHALANG WARIS

PENGHALANG-PENGHALANG WARIS
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
PENGHALANG-PENGHALANG WARIS
 
Penghalang waris adalah sesuatu yang dapat menghalangi Ahli Waris untuk mendapatkan hak warisnya (baik secara keseluruhan ataupun sebagian besarnya, pen.), meskipun telah terpenuhi padanya sebab-sebab waris. [Lihat Al-Khulashah Fi Ilmil Faraidh, hal. 45]
 
Penghalang Waris secara garis besar terbagi menjadi dua:
Pertama: Penghalang dalam bentuk sifat/kriteria tertentu yang dapat menghalangi Ahli Waris dari jatah warisnya secara keseluruhan, dan
Kedua: Penghalang dalam bentuk Ahli Waris yang berposisi lebih kuat. Artinya keberadaan Ahli Waris yang secara posisi lebih kuat itu bisa menyebabkan terhalangnya Ahli Waris tertentu untuk mendapatkan hak warisnya, baik secara keseluruhan ataupun sebagian besarnya. Proses penghalangan ini dalam Ilmu al-Faraidh dikenal dengan istilah Hajb. Seorang yang terhalang dari harta warisnya disebut Mahjub, sedangkan penghalangnya disebut Hajib.
 
Berikut ini adalah rincian dari masing-masing Penghalang Waris:
 
Penghalang Waris Pertama:
Penghalang dalam bentuk sifat/kriteria tertentu yang dapat menghalangi Ahli Waris dari jatah warisnya secara keseluruhan. Penghalang jenis ini bisa menimpa seluruh Ahli Waris tanpa terkecuali [Lihat Al-Fawa’idul Jaliyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 26, program Al-Maktabah Asy-Syamilah II], yang dalam Ilmu al-Faraidh dikenal dengan istilah Mawani’ul Irtsi (Penghalang-Penghalang Waris).
 
Adapun rincian Penghalang-Penghalang Waris jenis ini ada sembilan:
 
1) Perbudakan: Seorang yang berstatus budak tidaklah bisa mewarisi, karena dia dan hartanya menjadi milik tuannya. Tidak adanya hak milik bagi seseorang merupakan penghalang syari baginya untuk mendapatkan harta waris. Jika si budak tersebut mendapatkan harta waris, maka harta waris itu akan menjadi milik tuannya, padahal si tuan tersebut bukan bagian dari Ahli Waris si mayit. Atas dasar itulah, jika seorang mayit Muslim meninggalkan seorang anak Muslim yang berstatus budak dan seorang cucu Muslim dari kalangan merdeka, maka yang mewarisi hartanya adalah sang cucu walaupun ada bapaknya. Mengapa? Karena si bapak statusnya masih budak dan budak tidak bisa mewarisi, sedangkan sang cucu dari kalangan merdeka. [Lihat At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 46 dan Tashilul Faraidh, hal. 28]
 
2) Pembunuhan yang dilakukan terhadap pemilik harta waris (Muwarrits): Jika seorang Ahli Waris membunuh Muwarrits-nya, maka si pembunuh tersebut TIDAK BERHAK mendapatkan harta waris darinya.
Gambaran kasusnya adalah seorang anak (Ahli Waris) membunuh bapaknya (pemilik harta waris), maka si anak tersebut tidak berhak mendapatkan harta waris yang ditinggalkan bapaknya. Di antara hikmah dari ketentuan di atas adalah mencegah bermudahannya Ahli Waris dari perbuatan keji tersebut, hanya karena untuk mendapatkan harta waris.
Hal ini didasarkan kaidah fikih yang berbunyi:
Orang yang menyegerakan sesuatu sebelum waktunya, maka diberi sanksi untuk tidak mendapatkannya (وكلُّ مَنْ تَعَجَّلَ الشيءَ عَلَى وجهٍ مُحَرَّمٍ فمنعُه جَلا)
 
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan:
 
وكلُّ مَنْ تَعَجَّلَ الشيءَ عَلَى وجهٍ مُحَرَّمٍ فمنعُه جَلا
 
“Dan setiap orang yang menyegerakan sesuatu yang diharamkan, maka hendaknya ia dicegah.”
 
Kaidah ini adalah kaidah yang sudah maruf yang seringkali digunakan oleh para ulama. Di antara contoh penerapan kaidah ini adalah:
 
– Barang siapa yang membunuh orang yang (sebenarnya bisa) mewariskan harta kepadanya, maka ia tidak mendapatkan warisannya. Hal ini dikarenakan ia telah menyegerakan seseuatu sebelum waktunya.
 
– Orang yang minum khamer (minuman keras) ketika di dunia, maka ia tidak akan minum khamer ketika di Akhirat kelak. Padahal khamer di Akhirat itu tidak memabukan. Hal ini sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Nabi ﷺ.
– Dan seterusnya
 
Membunuh pewaris berarti menyegerakan kematian si pewaris dengan maksud untuk segera mendapat warisannya. Akan tetapi justru hukum melarang apa yang ingin disegerakannya yaitu dengan tidak diberikan hak mendapat warisan kepadanya.
 
Lalu apakah setiap jenis pembunuhan dapat menghalangi seseorang dari jatah warisnya? Para ulama berbeda pendapat dalam permasalahan ini. Namun menurut Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah dan Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, bahwa pembunuhan yang menyebabkan terhalangnya seseorang dari jatah warisnya adalah pembunuhan yang bersifat Bighairil Haq (tidak dibenarkan secara syari), yaitu pembunuhan yang mengakibatkan Qishash, membayar Diyat (Tebusan), atau membayar kafarah, seperti misalnya:
– Pembunuhan dengan sengaja (Qatlul ‘Amd),
– Pembunuhan semi sengaja (Syibhul ‘Amd – contohnya seseorang memukul orang lain dengan menggunakan sandal, kemudian mati. Disebut semi sengaja, karena di satu sisi sengaja memukul orang tersebut, namun di sisi lain tidak berniat untuk membunuhnya] dan
– Pembunuhan karena kekeliruan (Khatha’an – contohnya seseorang membidikkan tembakan ke arah rusa, namun ternyata tembakan tersebut justru mengenai orang yang kebetulan sedang melintas di jalan tidak jauh dari rusa tersebut, hingga mati. Disebut keliru karena tidak ada niatan untuk membunuhnya, dan tidak ada upaya sama sekali untuk melakukan sesuatu terhadap orang tersebut] [Lihat At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 50-52 dan Tashilul Faraidh, hal. 29]
 
Dikecualikan darinya adalah pembunuhan Bil Haq (dengan cara yang dibenarkan secara syari), misalnya seorang eksekutor yang ditugasi Waliyul Amr (Pemerintah) untuk mengeksekusi seorang pembunuh sebagai bentuk qishash (balasan bunuh) baginya, seseorang yang membela diri hingga mengakibatkan terbunuhnya si pelaku aniaya tersebut, dll.
 
3) Perbedaan agama antara pemilik harta waris (Muwarrits) dengan Ahli Warisnya. Gambaran kasusnya: Si mayit yang meninggalkan harta waris adalah seorang Muslim, sedangkan Ahli Warisnya non-Muslim (kafir). Atau sebaliknya, si mayit yang meninggalkan harta waris adalah seorang non-Muslim (kafir), sedangkan Ahli Warisnya seorang Muslim. Menurut Jumhur (Mayoritas) Ulama, masing-masingnya tidak bisa saling mewarisi. Karena secara tinjauan syari, hubungan di antara mereka telah terputus. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala kepada Nabi Nuh alaihisalam:
“Allah berfirman: ‘Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan) dia adalah perbuatan yang tidak baik’.” [QS Hud: 46]
Demikian pula sabda Rasulullah ﷺ:
 
لَا يَرِثُ الْمُسْلِمُ الْكَافِرَ وَلَا الْكَافِرُ الْمُسْلِمَ
 
“Tidaklah seorang Muslim mewarisi seorang non-Muslim (kafir) dan tidak pula seorang non-Muslim (kafir) mewarisi seorang Muslim.” [HR. Al-Bukhari no. 6383 dan Muslim no. 1614, dari hadits Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu) [Lihat At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 53 dan Tashilul Faraidh, hal. 31]
 
Namun apabila si Ahli Waris yang tadinya kafir kemudian masuk Islam sebelum harta dibagi, maka si Ahli Waris yang mualaf ini berhak mendapatkan warisan. Jadi apabila pada waktu Muwarrits meninggal dunia ada ahli waris yang berbeda agama, kemudian sebelum harta warisan dibagi-bagi si Ahli Waris masuk Islam, maka dia berhak mendapat warisan.
 
4. Wanita yang sudah ditalak (raj’i) habis masa iddahnya.
 
5. Wanita yang ditalak tiga (Talak Bain Qubro – tidak bisa rujuk lagi).
 
6. Anak angkat. Sifatnya dua arah: Orang tua angkat tidak bisa mewarisi dari anak angkatnya, demikian pula sebaliknya, anak angkat tidak bisa mewarisi dari orang tua angkatnya.
 
7. Ibu tiri dan bapak tiri
 
8. Anak Lian. Lian adalah sumpah seorang suami untuk meneguhkan tuduhannya bahwa istrinya telah berzina dengan laki-laki lain. Sumpah itu dilakukan suami karena istrinya telah menyanggah tuduhan suaminya itu, sementara suami sendiri tidak memiliki bukti-bukti atas tuduhan zinanya.
 
9. Anak hasil zina
 
Penghalang Waris Kedua:
Penghalang dalam bentuk Ahli Waris yang berposisi lebih kuat. Artinya keberadaan Ahli Waris yang secara posisi lebih kuat itu bisa menyebabkan terhalangnya Ahli Waris tertentu untuk mendapatkan hak warisnya, baik secara keseluruhan ataupun sebagian besarnya. Proses penghalangan ini dalam Ilmu al-Faraidh dikenal dengan istilah Hajb. Seorang yang terhalang dari harta warisnya disebut Mahjub, sedangkan penghalangnya disebut Hajib.
 
Penghalang jenis ini terbagi menjadi dua:
 
a. Hajb Hirman (menghalangi secara keseluruhan). Jika penghalangnya dari jenis pertama ini, maka dapat menghalangi seorang Ahli Waris dari jatah warisnya secara keseluruhan. Penghalang jenis ini bisa menimpa semua Ahli Waris kecuali enam orang; bapak, ibu, anak lelaki, anak perempuan, suami, dan istri.
 
b. Hajb Nuqshan (menghalangi dari jatah waris yang terbesar). Jika ada penghalang dari jenis kedua ini, maka dapat menghalangi seorang Ahli Waris dari jatah warisnya terbesar, sehingga ia bergeser dari jatahnya yang besar kepada jatahnya yang lebih sedikit. Penghalang jenis ini terbagi menjadi tujuh macam:
 
1) Menghalangi Ahli Waris tertentu dari jatah waris tertentu (Fardh) dengan menggesernya kepada jatah waris tertentu (Fardh) yang lebih sedikit. Misalnya, bergesernya suami dari jatah waris ½ kepada ¼. Demikian pula bergesernya satu orang istri atau lebih dari jatah waris ¼ kepada 1/8.
 
2) Menghalangi Ahli Waris tertentu dengan menggesernya dari suatu Tashib kepada Tashib yang lebih sedikit. Misalnya, saudara perempuan sekandung dan saudara perempuan sebapak yang bergeser dari Ashabah Ma’al Ghair kepada Ashabah Bil Ghair.
 
3) Menghalangi Ahli Waris tertentu dengan menggesernya dari jatah waris tertentu (Fardh) kepada Tashib yang lebih sedikit. Misalnya, bergesernya jatah waris ½ dari para pemiliknya kepada Ashabah Bil Ghair.
 
4) Menghalangi Ahli Waris tertentu dengan menggesernya dari Tashib kepada jatah waris tertentu (Fardh) yang lebih sedikit. Misalnya, bergesernya bapak dan kakek dari Tashib kepada jatah waris tertentu (Fardh).
 
5) Saling berserikat dalam jatah waris tertentu (Fardh). Misalnya, berserikatnya para istri pada jatah waris ¼ dan 1/8, berserikatnya para pemilik jatah waris 1/3 dan juga para pemilik jatah waris 2/3 pada jatah tersebut.
 
6) Saling berserikat dalam Tashib tertentu, seperti berserikatnya Ashabah pada suatu harta secara utuh atau pada apa yang tersisa dari Ashhabul Furudh.
 
7) Saling berserikat dalam masalah ‘aul [Masalah ‘aul adalah masalah berlebihnya jumlah jatah/saham Ahli Waris di atas jumlah Ashlul Mas’alah (Pokok masalah), saat proses penghitungan], di mana masing-masingnya mendapatkan jatah yang lebih (di atas kertas), namun dalam praktik nyatanya tidak demikian. [Lihat Al-Fawaidul Jaliyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 26-27 program Al-Maktabah Asy-Syamilah II]
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#mawaniul irtsi #penghalang-penghalang waris #Muwarrits #warrits #Tashib, #jatahwaris1/3, #jatahwaris2/3, #jumlahjatahsaham, #AhliWaris, #AshlulMasalah, #Pokokmasalah, #salingberserikat, #berserikat, #AshhabulFurudh, #HajbNuqshan, #HajbHirman, #Hijab, #Hajib, #TalakBainQubro, #jatahwarisbekasistri, #AshabahMaalGhair, #AshabahBilGhair. #Ashabah, #Ashobah, #furu, #hayashi, #ilmu faraidh, #faraidh, #faroidh, #ilmufaroidh, #ilmuwarisan, #rukunwarisan, #syaratsahnyawarisan, #sebabwarisan, #warismewarisi, #budak, #perbudakan, #murtad, #kafir, #tidakbisamewarisi, #hukum, #ikatanwala, #pembagianhartawarisan, #pembagianhartapusaka, #hartawarisan, #hartapusaka, #keutamaan, #fadhilah, #fadilah, #keutamaa ilmuwarisan, #fadhilahilmuwarisan, #warisan
,

RUKUN, SYARAT DAN SEBAB WARIS (DALAM ILMU FARAIDH)

RUKUN, SYARAT DAN SEBAB WARIS (DALAM ILMU FARAIDH)
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
RUKUN, SYARAT DAN SEBAB WARIS
 
Rukun Waris
 
Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan berkata:
“Proses waris-mewarisi mempunyai tiga rukun yang tidak akan terealisasi suatu proses waris-mewarisi kecuali dengan keberadaannya.” [At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 28]
 
Tiga rukun waris tersebut adalah:
 
1. Muwarrits: Si mayit yang meninggalkan harta waris/pemilik harta waris.
2. Warits: Ahli Waris/pewaris yang berhak mendapatkan harta waris.
3. Mauruts/Tarikah: Harta waris yang ditinggalkan oleh si mayit. [Lihat Tashilul Faraidh, hal. 18]
Kalau tidak ada Muwarrits (si mayit yang meninggalkan harta waris), maka tidak akan ada harta waris, demikian pula orang yang mewarisinya. Jika tidak ada Ahli Waris, maka harta waris yang ditinggalkan si mayit pun tidak ada yang mewarisinya (dari Ahli Waris yang sesungguhnya). Demikian pula ketika tidak ada harta waris, tidaklah mungkin bisa terjadi proses waris-mewarisi. Dari sini jelaslah, bahwa keberadaan TIGA RUKUN WARIS tersebut MUTLAK ADA demi terealisasinya proses waris-mewarisi.
 
Syarat Waris
Syarat waris merupakan salah satu penentu bagi terealisasinya proses waris-mewarisi. Karena betapapun telah terpenuhi Rukun Waris, sementara Syarat Warisnya belum terpenuhi, maka proses waris-mewarisi pun tidak bisa dilakukan. Apa sajakah Syarat Waris itu?
 
Syarat Waris dalam hukum waris Islam ada tiga:
 
1. Kejelasan tentang meninggalnya si pemilik harta waris (Muwarrits). Baik meninggalnya bisa dipastikan, maupun sebatas didasari dugaan yang kuat (hukmi). Bisa dipastikan maksudnya bahwa, proses kematian si pemilik harta waris tersebut benar-benar bisa dipastikan, baik dengan melihatnya secara langsung, dengan kemasyhuran akan kematiannya, atau dengan persaksian dua orang lelaki yang adil (bisa dipertanggungjawabkan). Sedangkan yang dimaksud dengan didasari dugaan yang kuat adalah bahwa vonis kematian yang dijatuhkan kepada pemilik harta waris tersebut atas dasar dugaan yang kuat. Seperti seseorang yang diduga kuat telah mati, karena sejak lama menghilang dan tak didapati lagi tanda-tanda kehidupannya.
 
2. Kejelasan tentang hidupnya Ahli Waris setelah meninggalnya si pemilik harta waris/Muwarrits walau sesaat, baik secara pasti maupun didasari oleh dugaan kuat (hukmi). Maksud secara pasti adalah bahwa Ahli Waris tersebut dipastikan masih hidup saat meninggalnya pemilik harta waris. Kepastian ini bisa dibuktikan dengan melihatnya secara langsung, dengan kemasyhuran bahwa dia masih hidup, atau dengan persaksian dua orang lelaki yang adil (bisa dipertanggungjawabkan). Sedangkan yang dimaksud dengan didasari oleh dugaan yang kuat adalah bahwa vonis tentang hidupnya Ahli Waris tersebut didasari atas dugaan yang kuat. Seperti seorang anak yang masih berada di perut ibunya saat meninggalnya pemilik harta waris (Muwarrits-nya) walaupun belum ditiupkan ruh kepadanya. Maka dia digolongkan ke dalam jajaran Ahli Waris dan bisa mendapatkan harta waris, dengan syarat dilahirkan dalam kondisi hidup.
 
3. Mengetahui segala hal yang terkait dengan sebab terjadinya proses waris-mewarisi tersebut dan mengetahui keterkaitan masing-masing Ahli Waris dengan pemilik harta waris (Muwarrits)-nya. [Lihat Tashilul Faraidh, hal. 18-19]
 
Sebab Waris
Waris-mewarisi dalam hukum waris Islam tidaklah terjadi begitu saja. Akan tetapi amat terkait dengan sebab waris yang dengannya bisa terjadi proses waris-mewarisi.
 
Sebab waris tersebut ada tiga:
 
1. Perkawinan yang dibangun di atas akad nikah yang sah. Manakala telah terlaksana suatu perkawinan yang sah, maka suami istri tersebut mempunyai hak untuk saling mewarisi, walaupun belum terjadi khalwat (berduaan) maupun jima’ (hubungan sebadan) di antara mereka. Lebih-lebih lagi bila telah terjadi khalwat ataupun jima’ antara keduanya. Dalilnya adalah keumuman firman Allah ta’ala:
“Dan bagi kalian (para suami) setengah (1/2) dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istri kalian, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika istri-istri kalian itu mempunyai anak, maka kalian mendapat seperempat (1/4) dari harta yang ditinggalkannya, sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat, atau (dan) sesudah dibayar utangnya. Para istri memperoleh seperempat (1/4) harta yang kalian tinggalkan jika kalian tidak mempunyai anak. Jika kalian mempunyai anak, maka para istri memperoleh seperdelapan (1/8) dari harta yang kalian tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kalian buat, atau (dan) sesudah dibayar utang-utang kalian.” [QS An-Nisa’: 12]
 
Sebab pertama ini akan terus berlaku hingga terjadinya Talak Bain (cerai yang ketiga kalinya, atau cerai yang pertama/kedua dan telah habis masa ‘iddah/tenggangnya) atau Fasakh (Pembatalan nikah). Dengan terjadinya Talak Bain atau Fasakh, maka sejak saat itu pula mereka tidak bisa saling mewarisi lagi. Kecuali jika Talak Bain tersebut dijatuhkan oleh suami menjelang kematiannya yang (diduga kuat) bertujuan untuk menghalangi istri tersebut dari hak warisnya, maka dalam kondisi semacam ini si istri tetap mendapatkan jatah warisnya menurut pendapat yang rajih. Adapun Talak Raj’i (cerai yang pertama/kedua) dan masih dalam masa ‘iddah/tenggang, maka masih memungkinkan bagi mereka untuk saling mewarisi, jika saat itu salah satunya ada yang meninggal dunia, karena statusnya masih terhitung sebagai suami-istri. [Lihat Tashilul Faraidh, hal. 20 dan 22, dan At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 32-35]
 
2. Ikatan Nasab, yaitu hubungan kekerabatan antara dua orang, baik secara dekat maupun jauh. Hubungan kekerabatan ini meliputi:
• Ushul (bapak, ibu, kakek, dan nenek si mayit),
• Furu’ (anak, cucu dari anak lelaki si mayit, dan terus ke bawahnya), dan
• Hawasyi (saudara-saudara si mayit dan anak-anak lelakinya, paman-paman si mayit dan ke atasnya, anak-anak lelaki paman dan terus ke bawahnya). Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:
“Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat di dalam Kitab Allah). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” [QS Al-Anfal: 75] [Lihat At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 37 dan Tashilul Faraidh, hal. 21]
 
3. Ikatan Wala’, yaitu pembebasan seseorang terhadap budak tertentu, baik karena berderma semata atau karena suatu kewajiban; seperti nadzar, zakat, dan kafarah. Gambaran kasusnya adalah, bila seorang mantan budak meninggal dunia dan tidak ada yang mewarisi dari kalangan Ahli Warisnya, maka seseorang yang dahulu membebaskannya dari perbudakan itulah yang mewarisi hartanya. Menurut Jumhur (Mayoritas) Ulama, proses waris-mewarisi antara mantan budak dan yang membebaskannya itu hanya satu arah saja, yakni yang bisa mewarisi hanyalah pihak yang membebaskan saja, dan tidak sebaliknya. Adapun Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dan para ulama yang bersama beliau berpandangan, bahwa proses waris-mewarisi bisa terjadi dari dua arah, yakni antara mantan budak dan yang membebaskannya tersebut bisa saling mewarisi. Mereka bisa saling mewarisi manakala TIDAK didapati Ahli Waris (asli) yang mewarisi dari masing-masingnya. [Lihat At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah Fil Mabahits Al-Faradhiyyah, hal. 37 dan Tashilul Faraidh, hal. 21]
 
Demikianlah tiga sebab yang dengannya bisa terjadi proses waris-mewarisi menurut kesepakatan Jumhur (Mayoritas) Ulama.
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 #Muwarrits, #Mauruts, #Tarikah, #Warits #furu, #hayashi, #ilmufaraidh, #faraidh, #faroidh, #ilmufaroidh, #ilmuwarisan, #rukunwarisan, #syaratsahnyawarisan, #sebabwarisan, #warismewarisi, #budak, #perbudakan, #murtad, #kafir, #tidakbisamewarisi,#hukum, #ikatanwala
#Faraidh #faroidh, #ilmuFaraidh, #ilmufaroidh, #ilmuwaris, #pembagianhartawarisan, #pembagianhartapusaka, #hartawarisan, #hartapusaka, #keutamaan, #fadhilah, #fadilah, #keutamaanilmuwarisan#fadhilahilmuwarisan, #mempelajari, #setengahilmu, #separuhilmu, #seperduailmu, #pertamaangkatdariumatku#ilmupertamadiangkatdariumatku, #berebuthartawarisan, #perebutanhartawarisan, #setengahdariilmu, #separuhdariilmu, #seperduadariilmu #pentingnyailmuwaris, #mulianyailmuwaris
,

KEUTAMAAN ILMU FARAIDH (ILMU WARIS)

KEUTAMAAN ILMU FARAIDH (ILMU WARIS)
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
KEUTAMAAN ILMU FARAIDH (ILMU WARIS)
 
Ilmu Faraidh termasuk ilmu yang mulia, dan juga termasuk ilmu yang tinggi kedudukannya. Karena pentingnya, bahkan sampai Allah sendiri yang menentukan takarannya, Dia terangkan jatah harta warisan yang didapat oleh setiap ahli waris, dijabarkan dalam beberapa ayat yang jelas, karena harta dan pembagiannya merupakan sumber ketamakan bagi manusia. Oleh sebab itu Allah-lah yang langsung mengatur sendiri pembagian serta rincianya dalam Kitab-Nya, meratakannya di antara para ahli waris sesuai dengan keadilan serta maslahat yang Allah ketahui.
 
Berikut ini adalah hadis-hadis Nabi ﷺ yang menjelaskan beberapa keutamaan dan anjuran untuk mempelajari dan mengajarkan Ilmu Faraidh:
 
Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
“Ilmu itu ada tiga. Selain yang tiga hanya bersifat tambahan (sekunder), yaitu Ayat-Ayat Muhakkamah (yang jelas ketentuannya), Sunnah Nabi ﷺ yang dilaksanakan, dan Ilmu Faraidh.” [HR Ibnu Majah]
 
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
“Pelajarilah Ilmu Faraidh serta ajarkanlah kepada orang-orang, karena aku adalah orang yang akan direnggut (wafat), sedang ilmu itu akan diangkat dan fitnah akan tampak, sehingga dua orang yang bertengkar tentang pembagian warisan, mereka berdua tidak menemukan seorang pun yang sanggup meleraikan (menyelesaikan perselisihan pembagian hak waris) mereka.” [HR Imam Ahmad, At-Tirmidzi, dan Al-Hakim]
 
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
“Pelajarilah Ilmu Faraidh serta ajarkanlah kepada orang lain, karena sesungguhnya Ilmu Faraidh setengahnya ilmu. Ilmu Faraidh akan dilupakan, dan ia ilmu pertama yang akan diangkat dari umatku.” [HR Ibnu Majah dan Ad-Darquthni)]
Dalam riwayat lain disebutkan:
“Pelajarilah Ilmu Faraidh, karena ia termasuk bagian dari agamamu dan setengah dari ilmu. Ilmu ini adalah yang pertama kali akan dicabut dari umatku.” [HR Ibnu Majah, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi]
 
Catatan:
Walaupun hadis-hadis di atas diperselisihkan keshahihannya oleh para ulama’, namun dapat kita ambil faidah, bahwa ilmu ini adalah ilmu yang penting untuk dipelajari, karena butuhnya umat dalam menghadapi permasalahan yang acap menimpa keluarga mereka.
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#faraidh #faroidh, #ilmufaraidh, #ilmufaroidh, #ilmuwaris, #pembagianhartawarisan, #pembagianhartapusaka, #hartawarisan, #hartapusaka, #keutamaan, #fadhilah, #fadilah, #keutamaanilmuwarisan, #fadhilahilmuwarisan, #mempelajari, #setengahilmu, #separuhilmu, #seperduailmu, #pertamaangkatdariumatku, #ilmupertamadiangkatdariumatku, #berebuthartawarisan, #perebutanhartawarisan, #setengahdariilmu, #separuhdariilmu, #seperduadariilmu #pentingnyailmuwaris, #mulianyailmuwaris
,

JATAH WARISAN BISA SAMA DENGAN SAUDARA LAKI-LAKI

JATAH WARISAN BISA SAMA DENGAN SAUDARA LAKI-LAKI
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
#FikihWarisan
 
JATAH WARISAN BISA SAMA DENGAN SAUDARA LAKI-LAKI
 
Pertanyaan:
Saya 7 bersaudara: 6 laki-laki dan 1 perempuan (saya). Kedua orang tua meninggal dan mewariskan tanah. Dalam tuntunan pembagian warisan, laki-laki mendapat jatah 2 dan perempuan mendapat jatah 1. Tapi dari 6 saudara lelaki saya sepakat, kalau pembagian warisan dibagi rata saja, jadi perempuan (saya) mendapat jatah sama dengan laki-laki. Apakah hal seperti ini diperbolehkan? Dan saya pernah dengar, jika jatah lebih untuk perempuan itu tidak bisa dikatakan warisan tetapi hibah, dan lelaki harus berucap kepada perempuan, kalau kelebihan itu bukan warisan tetapi hibah. Apakah hal ini benar?
 
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
 
Kalau yang Anda sebutkan, bahwa seluruh saudara laki-laki rida untuk dabagi sama rata, maka BOLEH dibagi sama rata. Benar, bahwa itu bukan warisan namanya, tapi kelebihan yang diterima perempuan adalah hibah dari laki-laki. TIDAK disyaratkan untuk dilafalkan secara eksplisit “Hibah”. Namun apabila jelas nampak keridaan dari pihak laki-laki untuk mengurangi jatahnya dan diberikan pada pihak perempuan, maka SUDAH SAH HIBAH tersebut.
 
Dijawab Ustadz Muhammad Yasir, Lc. (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)
,

TIDAK ADA WASIAT UNTUK AHLI WARIS

TIDAK ADA WASIAT UNTUK AHLI WARIS
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
#FikihWarisan
 
TIDAK ADA WASIAT UNTUK AHLI WARIS
>> Apakah Warisan Boleh Pakai Wasiat?
 
Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
 
Pertanyaan:
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya: Kenapa Islam melarang wasiat untuk Ahli Waris?
 
Jawaban:
Islam MELARANG WASIAT UNTUK AHLI WARIS karena hal ini akan melanggar ketentuan-ketentuan Allah Azza wa Jalla. Sebab Allah subhanahu wa ta’ala telah menetapkan hukum-hukum pembagian waris, sebagaimana firman-Nya:
 
“Artinya: (Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah dan Rasul-Nya. Niscaya Allah memasukkannya ke dalam Surga, yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal didalamnya. Dan itulah kemenangan yang besar. Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api Neraka, sedang ia kekal di dalamnya.Dan baginya siksa yang menghinakan”. [An-Nisa 13-14]
 
Jika seseorang mempunyai seorang anak perempuan dan seorang saudara perempuan sekandung umpamanya, maka si anak mempunyai hak setengahnya sebagai bagian yang telah ditetapkan (fardh), sementara saudara perempuannya berhak atas sisanya sebagai ashabah. Jika DIWASIATKAN sepertiganya untuk anak perempuannya, umpamanya, berarti si anak akan mendapat dua pertiga bagian, sementara saudara perempuannya mendapat sepertiga bagian saja. Ini berarti PELANGGARAN terhadap ketetapan Allah.
 
Demikian juga jika ia mempunyai dua anak laki-laki, maka ketentuannya, bahwa masing-masing berhak atas setengah bagian. Jika DIWASIATKAN sepertiganya untuk salah seorang mereka, maka harta tersebut menjadi tiga bagian. Ini merupakan PELANGGARAN terhadap ketetapan Allah dan haram dilakukan.
 
Demikian ini jika memang dibolehkan mewasiatkan harta warisan untuk Ahli Waris, maka tidak ada gunanya ketentuan pembagian warisan itu. Dan tentu saja manusia akan bermain-main dengan wasiat sekehendaknya, sehingga ada Ahli Waris mendapat bagian lebih banyak, sementara yang lain malah bagiannya berkurang.
 
[Fatawa Nur Ala Ad-Darb, Syaikh Ibnu Utsaimin, juz 2, hal 558]
 
[Disalin dari. Kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Penyusun Khalid Al-Juraisiy, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penerjemah Muthofa Aini dkk, Penerbit Darul Haq]
 
 
,

SERBA SERBI WASIAT DALAM ISLAM

SERBA SERBI WASIAT DALAM ISLAM

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 

#FikihWarisan

SERBA SERBI WASIAT DALAM ISLAM
>> Di Antara Contoh Kasus Wasiat yang Tidak Dibenarkan oleh Syariat

Setiap Muslim sudah seharusnya memahami apa itu wasiat. Salah memahami wasiat, bisa berdampak fatal. Salah berwasiat, bisa bernilai kezaliman. Sebagai Muslim yang baik, bagian ini wajib kita pahami, karena kita pasti akan mati.

Beberapa hari yang lewat, saya bincang-bincang dengan seseorang yang berasal dari keluarga poligami. Artinya, ayahnya memiliki dua istri, dan dia anak dari ibu kedua. Dari ibu pertama sang ayah mendapatkan sembilan anak, sedangkan dari ibu kedua dia mendapatkan lima anak. Sebelum sang ayah meninggal dunia, dia menuliskan wasiat berisi tata cara pembagian waris dari harta sang ayah. Anak-anak dari ibu kedua diberi warisan berupa dua lokasi, sedangkan anak-anak dari ibu pertama diberi warisan dari satu lokasi, yang nilainya jauh lebih besar dibandingkan nilai dua lokasi di atas.

Inilah contoh kasus wasiat yang TIDAK DIBENARKAN OLEH SYARIAT. Mengapa wasiat di atas tergolong wasiat yang terlarang? Jawabannya bisa disimak di bawah ini:

Pengertian Wasiat

Kata Wasiat termasuk kosa kata bahasa Arab yang sudah menjadi bahasa Indonesia. Dalam bahasa aslinya bahasa Arab, wasiat itu bermakna perintah yang ditekankan.

Wasiat dalam makna yang luas adalah nasihat yang diberikan kepada seorang yang dekat di hati semisal anak, saudara, maupun teman dekat, untuk melaksanakan suatu hal yang baik, atau menjauhi suatu hal yang buruk. Wasiat dengan pengertian memberikan pesan yang penting ketika hendak berpisah dengan penerima pesan ini, biasanya diberikan saat merasa kematian sudah dekat, hendak bepergian jauh, atau berpisah karena sebab lainnya.

Sedangkan wasiat yang kita bahas kali ini adalah khusus terkait pesan yang disampaikan oleh orang yang hendak meninggal dunia.

Wasiat jenis ini bisa bagi menjadi dua kategori:

Pertama: Wasiat kepada orang yang hendak untuk melakukan suatu hal, semisal membayarkan utang, memulangkan pinjaman dan titipan, merawat anak yang ditinggalkan, dst.

Kedua: Wasiatkan dalam bentuk harta, agar diberikan kepada pihak tertentu, dan pemberian ini dilakukan setelah pemberi wasiat meninggal dunia.

Hukum Wasiat

Hukum wasiat tergantung pada kondisi orang yang menyampaikan wasiat. Berikut rinciannya:

  1. Menyampaikan wasiat hukumnya wajib untuk orang yang punya utang atau menyimpan barang titipan atau menanggung hak orang lain, yang dikhawatirkan manakala seorang itu tidak berwasiat maka hak tersebut tidak ditunaikan kepada yang bersangkutan.
  2. Berwasiat hukumnya dianjurkan untuk orang yang memiliki harta berlimpah dan Ahli Warisnya berkecukupan. Dia dianjurkan untuk wasiat agar menyedekahkan sebagian hartanya, baik sepertiga dari total harta atau kurang dari itu, kepada kerabat yang tidak mendapatkan warisan atau untuk berbagai kegiatan sosial.
  3. Berwasiat dengan harta hukumnya makruh jika harta milik seorang itu sedikit dan Ahli Warisnya tergolong orang yang hartanya pas-pasan. oleh karena itu banyak sahabat radhiyallahu ‘anhum, yang meninggal dunia dalam keadaan tidak berwasiat dengan hartanya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah itu bersedekah kepada kalian dengan sepertiga harta kalian ketika kalian hendak meninggal dunia, sebagai tambahan kebaikan bagi kalian.” [HR. Ibnu Majah, dan dihasankan Al-Albani].

Dari Ibnu Umar, Rasulullah ﷺ bersabda: “Wahai manusia, ada dua hal yang keduanya bukanlah hasil jerih payahmu. Pertama, kutetapkan sebagian hartamu untukmu ketika engkau hendak meninggal dunia untuk membersihkan dan menyucikanmu. Kedua, doa hamba-hambaku setelah engkau meninggal dunia.” [HR. Ibnu Majah, dhaif].

Demikian pula hadis yang yang mengisahkan Nabi mengizinkan Saad bin Abi Waqash untuk wasiat sedekah sebesar sepertiga total kekayaannya [HR Bukhari dan Muslim].

Syarat Sah Wasiat

Pertama: Terkait wasiat dalam bentuk meminta orang lain untuk mengurusi suatu hal semisal membayarkan utang, merawat anak yang ditinggalkan, maka disyaratkan bahwa orang yang diberi wasiat tersebut adalah seorang Muslim dan berakal. Karena jika tidak, dikhawatirkan amanah dalam wasiat tidak bisa terlaksana dengan baik.

Kedua: Orang yang berwasiat adalah orang yang berakal sehat dan memiliki harta yang akan diwasiatkan.

Ketiga: Isi wasiat yang disampaikan hukumnya mubah. Tidak sah wasiat dalam hal yang haram, semisal wasiat agar diratapi setelah meninggal dunia, atau berwasiat agar sebagian hartanya diberikan kepada gereja, atau untuk membiayai acara bid’ah, acara hura hura, atau acara maksiat lainnya.

Keempat: Orang yang diberi wasiat bersedia menerima wasiat. Jika dia menolak, maka wasiat batal, dan setelah penolakan, orang tersebut tidak berhak atas apa yang diwasiatkan.

Di antara Ketentuan Wasiat

Pertama: Orang yang berwasiat boleh meralat atau mengubah-ubah isi wasiat. Berdasarkan perkataan Umar: “Seseorang boleh mengubah isi wasiat sebagaimana yang dia inginkan.” [Diriwayatkan oleh Baihaqi].

Kedua: Tidak boleh wasiat harta melebihi sepertiga dari total kekayaan. Mengingat sabda Nabi ﷺ kepada Saad bin Abi Waqash yang melarangnya untuk berwasiat dengan dua pertiga atau setengah dari total kekayaannya. Ketika Saad bertanya kepada Nabi ﷺ, bagaimana kalau sepertiga, maka jawaban Nabi ﷺ: “Sepertiga, namun sepertiga itu sudah terhitung banyak. Jika kau tinggalkan Ahli Warismu dalam kondisi berkecukupan, itu lebih baik dari pada kau tinggalkan mereka dalam kondisi miskin, lantas mereka mengemis-ngemis kepada banyak orang.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Ketiga: Dianjurkan agar kurang dari sepertiga, sebagaimana keterangan Ibnu Abbas: “Andai manusia mau menurunkan kadar harta yang diwasiatkan dari sepertiga menjadi seperempat mengingat sabda Nabi ﷺ ‘Sepertiga, akan tetapi sepertiga itu banyak’.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Keempat: Yang terbaik adalah mencukupkan diri dengan berwasiat seperlima dari total kekayaannya, mengingat perkataan Abu Bakar, “Aku rida dengan dengan apa yang Allah ridai untuk dirinya,” yaitu seperlima.” [Syarh Riyadhus Shalihin oleh Ibnu Utsaimin, 1/44].

Kelima: Larangan untuk berwasiat dengan lebih dari sepertiga itu hanya berlaku orang yang memiliki Ahli Waris. Sedangkan orang yang sama sekali tidak memiliki Ahli Waris, dia diperbolehkan untuk berwasiat dengan seluruh hartanya.

Keenam: Wasiat dengan lebih dari sepertiga boleh dilaksanakan, manakala SELURUH Ahli Waris MENYETUJUINYA, dan tidak memermasalahkannya.

Ketujuh: Tidak diperbolehkan [baca: Haram] dan tidak sah, wasiat harta yang diberikan kepada Ahli Waris yang mendapatkan warisan, meski dengan nominal yang kecil, kecuali jika seluruh Ahli Waris sepakat membolehkannya, setelah pemberi wasiat meninggal. Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah itu telah memberikan kepada semua yang memiliki hak apa yang menjadi haknya. Oleh karena itu tidak ada wasiat harta bagi orang yang mendapatkan warisan.” [HR Abu Daud, dinilai Shahih oleh al Albani].

Kedelapan: Jika wasiat harta untuk orang yang mendapatkan warisan itu ternyata hanya disetujui oleh sebagian Ahli Waris karena sebagian yang lain menyatakan ketidaksetujuannya, maka isi wasiat dalam kondisi ini hanya bisa dilaksanakan pada bagian yang menyetujui isi wasiat, namun tidak bisa diberlakukan pada bagian warisan yang tidak menyetujuinya.

Penutup

Pada kasus wasiat di bagian prolog tulisan, wasiat tersebut termasuk wasiat terlarang, karena wasiat tersebut menyebabkan aturan Islam dalam pembagian harta warisan tidak bisa dilaksanakan. Dalam aturan Islam, semua anak, baik dari ibu pertama maupun dari ibu yang kedua, memiliki hak yang sama atas harta peninggalan ayahnya. Sehingga seharusnya seluruh harta milik ayah diinventaris dengan baik, kemudian dibagikan kepada seluruh anak yang ada, baik dari ibu pertama maupun ibu kedua. Kemudian dibagi dengan aturan Islam, yaitu anak laki laki mendapatkan dua kali lipat bagian anak perempuan.

Allahu a’lam.

 

Ditulis oleh: Ustad Aris Munandar, M.P.I.

[Artikel www.KonsultasiSyariah.com]

Sumber: https://konsultasisyariah.com/17822-serba-serbi-wasiat-dalam-islam.html