,

KEADAAN PEMAKAN RIBA SAAT BANGKIT DARI KUBUR

KEADAAN PEMAKAN RIBA SAAT BANGKIT DARI KUBUR
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
KEADAAN PEMAKAN RIBA SAAT BANGKIT DARI KUBUR
>> Mau tahu akibat yang diderita pemakan riba ketika bangkit dari kubur?
>> Renungan bahaya riba dari Surat Al-Baqarah ayat 275
 
 
Allah taala berfirman:
 
الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا ۚ فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
 
Alladziina ya/kuluuna alrribaa laa yaquumuuna illaa kamaa yaquumu alladzii yatakhabbathuhualsysyaythaanu mina almassi dzaalika bi-annahum qaaluu innamaa albay’u mitslu alrribaa
wa-ahalla allaahu albay’a waharrama alrribaa faman jaa-ahu maw’izhatun min rabbihi faintahaa falahu maa salafa wa-amruhu ilaa allaahi waman ‘aada faulaa-ika ash–haabu alnnaari hum fiihaa khaaliduuna
 
Artinya:
Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni Neraka. Mereka kekal di dalamnya. [Surat Al-Baqarah (2:275)]
 
Imam Asy-Syaukani membahas lebih luas. Tercatat bahwa ancaman riba yang dimaksud dalam ayat bukan hanya untuk pemakan riba. Yang disebut dalam ayat untuk pemakan riba hanya untuk menunjukkan jeleknya pelaku tersebut. Namun setiap orang yang bermuamalah dengan riba terkena ancaman ayat di atas, baik yang memakan riba (rentenir) maupun yang menyetor riba (yang meminjam uang atau nasabah).
 
Imam Asy Syaukani juga berpendapat, bahwa keadaan dia seperti orang gila yang kerasukan setan itu bukan hanya saat dibangkitkan dari kubur, namun berlaku untuk keadaannya di dunia. Orang yang mengumpulkan harta dengan menempuh jalan riba, maka ia akan berdiri seperti orang majnun (orang gila), yaitu karena sifatnya yang rakus dan tamak. Gerakannya saat itulah seperti orang gila. Seperti jika kita melihat ada orang yang tergesa-gesa saat berjalan, maka kita sebut ia dengan orang gila. [Lihat Fath Al-Qadir karya Asy-Syaukani, 1: 499]
 
Semoga bermanfaat
 
 
Sumber: Malang Batu Mengaji

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

#riba #bungabank #fikihmuamalah #fiqihmuamalah, #keadaanpemakanribasaatbangkitdarikubur #oranggilakerasukansetan #hukumribadalamIslam #bangkitdarikubur

,

MENGAPA TIDAK ADA WASIAT UNTUK AHLI WARIS DALAM ISLAM?

MENGAPA TIDAK ADA WASIAT UNTUK AHLI WARIS DALAM ISLAM?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
MENGAPA TIDAK ADA WASIAT UNTUK AHLI WARIS DALAM ISLAM?
Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
 
 
Pertanyaan:
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Kenapa Islam melarang wasiat untuk ahli waris ?
 
Jawaban:
Islam melarang wasiat untuk ahli waris karena akan melanggar ketentuan-ketentuan Allah Azza wa Jalla. Sebab Allah subhanahu wa taala telah menetapkan hukum-hukum pembagian waris, sebagaimana firman-Nya:
“Artinya : (Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah dan Rasul-Nya. Niscaya Allah memasukkannya ke dalam Surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal didalamnya. Dan itulah kemenangan yang besar. Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api Neraka, sedang ia kekal di dalamnya. Dan baginya siksa yang menghinakan.” [QS. An-Nisa 13-14]
 
Jika seseorang mempunyai seorang anak perempuan dan seorang saudara perempuan sekandung umpamanya, maka si anak mempunyai hak setengahnya sebagai bagian yang telah ditetapkan (fardh), sementara saudara perempuannya berhak atas sisanya sebagai ashabah. Jika diwasiatkan sepertiganya untuk anak perempuannya, umpamanya, berarti si anak akan mendapat dua pertiga bagian, sementara saudara perempuannya mendapat sepertiga bagian saja. Ini berarti pelanggaran terhadap ketetapan Allah.
 
Demikian juga jika ia mempunyai dua anak laki-laki, maka ketentuannya bahwa masing-masing berhak atas setengah bagian. Jika diwasiatkan sepertiganya untuk salah seorang mereka, maka harta tersebut menjadi tiga bagian. Ini merupakan pelanggaran terhadap ketetapan Allah dan haram dilakukan.
 
Demikian ini jika memang dibolehkan mewasiatkan harta warisan untuk ahli waris, maka tidak ada gunanya ketentuan pembagian warisan itu. Dan tentu saja manusia akan bermain-main dengan wasiat sekehendaknya,, sehingga ada ahli waris mendapat bagian lebih banyak, sementara yang lain malah bagiannya berkurang.
 
[Fatawa Nur Ala Ad-Darb, Syaikh Ibnu Utsaimin, juz 2, hal 558]
 
 
 
[Disalin dari. Kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Penyusun Khalid Al-Juraisiy, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penerjemah Muthofa Aini dkk, Penerbit Darul Haq]
 
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 

#wasiatdalamperspektifIslam #wasiyatdalamperspektifIslam #hukumwarisandalamIslam #ahliwaris #wasiattanpasaksidanbukti #hukumwasiatdalamIslam #tidakadawasiatuntukahliwaris #mengapatidakadawasiatuntukahliwarisdalamIslam

,

WASIAT TANPA SAKSI DAN BUKTI

WASIAT TANPA SAKSI DAN BUKTI
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
WASIAT TANPA SAKSI DAN BUKTI
 
Pertanyaan:
Bagaimana dengan hukum wasiat tanpa saksi dan bukti ? Adapun kasusnya seperti ini. Mertua perempuan saya telah meninggal dan meninggalkan harta waris sebidang tanah. Namum saudara laki-laki istri saya mengaku, bahwa secara lisan ibu mertua saya tersebut telah mewasiatkan sebidang tanah tersebut kepadanya. Tapi wasiat tersebut tidak ada saksi dan bukti. Sampai-sampai si saudara laki-laki ini berani disumpah, bahwa wasiat itu benar adanya. Perlu diketahui, ahli waris ibu mertua saya adalah suaminya, istri saya, dan dua orang anak laki-laki dari hasil perkawinan dengan suami ibu mertua yang pertama. Bagaimana menyikapi masalah ini ustadz ?
 
Jawaban Redaksi Salamdakwah.com:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
 
Ahli waris TIDAK BERHAK mendapatkan harta dari wasiat orang tua, karena Allah telah memberikan bagian tertentu untuknya. Rasulullah ﷺ bersabda:
 
إِنَّ اللهَ قَدْ أَعْطَى كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ فَلاَ وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ. أخرجه أبو داود رقم 2870 وابن ماجه رقم 2713 والنسائي رقم 3641 .صححه الألباني
 
Sesungguhnya Allah telah memberi setiap yang memiliki hak akan haknya. Maka TIDAK ADA WASIAT UNTUK AHLI WARIS.
 
Sehingga permasalahan di sini adalah dari sisi wasiat harta untuk ahli waris, dan BUKAN tentang saksi atau bukti. Hukum ini pun berbeda jika harta itu berpindah denga cara pemberian hadiah dan bukan wasiat.
 
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
 
 
 
 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

#wasiatdalamperspektifIslam #wasiyatdalamperspektifIslam #hukumwarisandalamIslam #ahliwaris #wasiattanpasaksidanbukti #hukumwasiatdalamIslam #tidakadawasiatuntukahliwaris

,

HUKUM KOMISI BAGI BROKER (MAKELAR) DALAM ISLAM

HUKUM KOMISI BAGI BROKER (MAKELAR) DALAM ISLAM

 

Membaca kata broker, apa persepsi yang muncul di pikiran kita? Persepsi kita bisa berarti orang yang suka minta komisi, ada unsur percaloan. Broker sendiri berarti pedagang perantara. Mungkin takala zaman belum seperti sekarang, seorang produsen yang menciptakan suatu produk, disebabkan memiliki keterbatasaan waktu dan tenaga untuk menjual dan memasarkan produknya, kemudian menggunakan jasa broker dengan imbalan komisi bagi yang mampu membawa pembeli.

Broker bertindak sebagai pedagang perantara, berfungsi mempertemukan penjual dan pembeli, sehingga mempercepat dan membantu kelancaran proses negoisiasi. Hasil akhir adalah memperoleh komisi dari jasa layanan mereka. Broker menjual informasi tentang apa yang dibutuhkan pembeli, dan mencari pemasok-pemasok mana yang menyediakan barang kebutuhan tersebut.

Di bidang properti, seorang broker memiliki peran untuk menegosiasikan penjualan properti antara penjual dan pembeli dengan imbalan komisi tertentu. Sebagai broker professional, mereka harus bertindak bagi kepentingan penjual dan pembeli, dan bukan untuk dirinya sendiri. Selain itu ia juga harus bisa menjadi problem solver, mencari solusi bila ada ketidak sesuaian antara penjual dan pembeli dengan pendekatan win-win solution.

Prospek mencari listing (maksudnya mencari pemilik yang sedang/ingin menjual atau menyewa properti dan mempercayakan kita untuk memasarkannya), bisa kita dapatkan melalui kawan, kerabat, iklan baris di surat kabar, atau ketika sedang jalan-jalan dan menemukan tanda d idepan rumah pemilik. Semuanya itu bisa kita prospek agar bersedia diajak kerja sama dengan kita. Bila kita mendapatkan pembeli, kita tawarkan mau tidak sang pemilik memberi komisi kepada kita, atau bekerja sama untuk deal harga, atau sistemnya jual harga dengan cara pemilik menentukan harga, terserah kita mau menjual dengan harga berapa. Selisihnya itu menjadi milik kita.

Bagaimana komisi yang didapatkan broker, halal ataukah tidak? Simak bahasan berikut.

Tinjauan Islam terhadap Komisi Broker (Makelar)

Coba kita lihat Fatwa Komisi Fatwa Saudi Arabia, Al Lajnah Ad Daimah berikut ini:

Pertanyaan:

أخذت زبونا إلى أحد المصانع أو المحلات لشراء بضاعة، فأعطاني صاحب المصنع أو المحل عمولة على الزبون. هل هذا المال حلال (العمولة)؟ وإذا زاد صاحب المصنع مبلغا معينا على كل قطعة يأخذها الزبون، وهذه الزيادة آخذها أنا مقابل شراء الزبون لهذه البضاعة، فهل هذا جائز؟ إذا كان غير جائز فما هي العمولة الجائزة؟

Saya pernah membawa seorang konsumen ke salah satu pabrik atau toko untuk membeli suatu barang. Lalu pemilik pabrik atau toko itu memberi saya komisi atas konsumen yang saya bawa. Apakah komisi yang saya peroleh itu halal atau haram? Jika pemilik pabrik itu memberikan tambahan uang dalam jumlah tertentu dari setiap item yang dibeli konsumen tersebut, dan saya mau menerima tambahan tersebut sebagai balas jasa atas pembelian konsumen tersebut, apakah hal tersebut dibolehkan? Dan jika hal itu tidak dibolehkan, lalu seperti apakah komisi yang dibolehkan?

Jawaban:

إذا كان المصنع أو التاجر يعطيك جزءا من المال على كل سلعة تباع عن طريقك؛ تشجيعا لك لجهودك في البحث عن الزبائن، وهذا المال لا يزاد في سعر السلعة، وليس في ذلك إضرار بالآخرين ممن يبيع هذه السلعة، حيث إن هذا المصنع أو التاجر يبيعها بسعر كما يبيعها الآخرون – فهذا جائز ولا محذور فيه. أما إن كان هذا المال الذي تأخذه من صاحب المصنع أو المحل، يزاد على المشتري في ثمن السلعة، فلا يجوز لك أخذه، ولا يجوز للبائع فعل ذلك؛ لأن في هذا إضرار بالمشتري بزيادة السعر عليه.

Jika pihak pabrik atau pedagang memberi Anda sejumlah uang atas setiap barang yang terjual melalui diri Anda sebagai balas jasa atas kerja keras yang telah Anda lakukan untuk mencari konsumen, dan uang tersebut tidak ditambahkan pada harga barang, dan tidak pula memberi mudharat pada orang lain yang menjual barang tersebut, di mana pabrik atau pedagang itu menjual barang tersebut dengan harga seperti yang dijual oleh orang lain, maka hal itu boleh dan tidak dilarang.

Tetapi jika uang yang Anda ambil dari pihak pabrik atau toko dibebankan pada harga barang yang harus dibayar pembeli, maka Anda tidak boleh mengambilnya, dan tidak boleh juga bagi penjual untuk melakukan hal tersebut. Sebab pada perbuatan itu mengandung unsur yang mencelakakan pembeli, karena harus menambah uang pada harga barangnya.

Wabillaahit taufiq. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. [Fatwa no. 19912, pertanyaan ketiga, 13/131. Fatwa ini ditandatangani oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz sebagai ketua, Syaikh ‘Aziz Alu Syaikh sebagai wakil ketua, Syaikh Sholeh Al Fauzan dan Syaikh Bakr Abu Zaid sebagai anggota]

Fatwa di atas menunjukkan, bahwa pengambilan komisi dari broker atau makelar (dari pihak buyer/pembeli) dirinci sebagai berikut:

1. Jika komisi bagi broker dibebankan pada harga yang mesti dibayar pembeli tanpa sepengetahuan pembeli, maka tidak dibolehkan, karena hal ini termasuk merugikan pembeli.

2. Jika komisi bagi broker tidak dibebankan pada pembeli atau dibebankan pada pembeli dengan seizinnya, maka dibolehkan. [Lihat Fatwa Al Lajnah Ad Daimah no. 16043, 13/127-128.]

Contoh: Bila A memiliki toko bahan bangunan yang biasanya menjual genteng @ Rp 1.000,- (Seribu Rupiah). Akan tetapi karena konsumen B datang ke toko tersebut dibawa oleh C yang biasanya berprofesi sebagai tukang bangunan, maka A menjual gentingnya kepada B seharga @ Rp. 1.050,- (Seribu lima puluh Rupiah), dengan perhitungan: Rp 1.000,- adalah harga genteng sebenarnya, dan Rp 50,- adalah fee untuk C yang telah berjasa membawa konsumen ke toko A. Sudah barang tentu ketika A menaikkan harga penjualan dari Rp 1.000,- menjadi Rp 1.050,- dengan perhitungan seperti di atas, adalah tanpa sepengetahuan B. Dengan demikian, pada kasus seperti ini B dirugikan, karena ia dibebani Rp 50,- sebagai fee untuk C, tanpa ada kesepakatan terlebih dahulu. Dan ini tentu bertentangan dengan firman Allah taala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu.” [QS. An Nisa’: 29]

Adapun bila pemilik toko memberi fee kepada C tanpa menaikkan harga jual, sehingga tetap saja ia menjual genteng tersebut seharga @ Rp 1.000,- maka itu tidak mengapa.

Atau bila sebelumnya pemilik toko memberitahukan kepada pembeli bahwa harga genting, ditambah dengan fee yang akan diberikan kepada mediator, dan ternyata pembeli mengizinkan, maka praktik semacam ini dibenarkan. [Contoh yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Arifin Baderi di link http://pengusahamuslim.com/baca/artikel/419/tanya-jawab-hukum-mediator-dagang-makelar–perantara]

Jika broker tadi adalah dari pihak penjual (seller), maka rinciannya sebagai berikut:

• Jika si broker menaikkan harga tanpa izin atau sepengetahuan si penjual, maka ini tidak dibolehkan.
• Jika si broker menaikkan harga dengan izin atau sepengetahuan si penjual (baik kadar kenaikannya diserahkan kepada broker atau ditentukan oleh pemilik barang), ini dibolehkan.

Broker Harus Jujur dan Amanah

Syaikh Sholeh Al Munajjid hafizhohullah menerangkan:
“Hendaklah si broker (makelar) adalah orang yang paham terhadap info yang ia dapat dari penjual atau apa yang diinginkan pembeli. Sehingga dari sini ia tidak merugikan penjual atau juga pembeli, yang awalnya disangka ia punya info, tak tahunya hanya bualan belaka. Si broker juga harus memiliki sifat amanah dan jujur. Si broker tidak boleh hanya menguntungkan salah satu dari keduanya (merugikan lainnya). Jika ada aib (kejelekan) dari produk yang dijual, ia harus menerangkannya dengan amanah dan jujur. Ia pun tidak boleh melakukan penipuan kepada penjual atau pembeli.” [Fatawa Al Islam Sual wa Jawab no. 45726]

Wallahu a’lam bish showab.

 

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah
Sumber: https://rumaysho.com/1671-hukum-komisi-bagi-broker-makelar.html

 

 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 
 
 
#brokerdalamislam #hukumbroker #hukumkomisidalamislam #hukummakelartanah #hukummakelardlmislam #makelar #broker #calo #percaloan #jualbeli #penjualpembeli #fikihjualbeli, #fiqihjualbeli
,

HUKUM DROPSHIPPING MENURUT ISLAM DAN SOLUSINYA

HUKUM DROPSHIPPING MENURUT ISLAM DAN SOLUSINYA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
HUKUM DROPSHIPPING MENURUT ISLAM DAN SOLUSINYA
 
Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
 
Mengenal Dropshipping
 
Pada dasarnya, menjadi seorang pengusaha sukses adalah cita-cata banyak orang. Walau demikian sering kali mereka beranggapan, bahwa cita-cita ini tak ubahnya impian di siang bolong alias serasa mustahil tewujud. Masyarakat berpikiran demikian karena mereka beranggapan, bahwa dunia usaha hanyalah milik orang-orang yang berkantong tebal, atau paling kurang dilahirkan di tengah keluarga kaya raya.
 
Hadirnya sistem Dropshipping di tengah masyarakat bak hembusan angin surga bagi banyak orang untuk dapat mewujudkan impian besar mereka.
 
Betapa tidak, dengan sistem “Dropshipping” kita dapat menjual produk, bahkan berbagai produk, ke konsumen. Semua itu tanpa butuh modal atau berbagai piranti keras lainnya. Yang dibutuhkan hanyalah foto-foto produk yang berasalkan dari supplier/toko. Kita dapat menjalankan usaha dengan sistem ini walau tanpa membeli barang terlebih dahulu. Namun demikian kita dapat menjual produk dimaksud ke konsumen dengan harga yang ditentukan oleh Dropshipper (orang yang melakulan Dropshipping).
 
Dalam sistem Dropshipping konsumen terlebih dahulu melakukan pembayaran, baik tunai atau via transfer ke rekening Dropshipper. Selanjutnya Dropshipper melakukan pembayaran kepada supplier sesuai dengan harga beli Dropshipper disertai dengan ongkos kirim barang ke alamat konsumen. Sebagaimana Dropshipper berkewajiban menyerahkan data konsumen; berupa nama, alamat, dan nomor telpon kepada supplier. Bila semua prosedur di atas telah selesai, maka supplier bertugas mengirimkan barang yang dibeli kepada konsumen.
 
Namun perlu dicatat, walau supplier yang mengirimkan barang, akan tetapi nama Dropshipperlah yang dicantumkan sebagai pengirim barang. Dengan demikian konsumen tidak mengetahui, bahwa sejatinya ia membeli barang dari supplier (pihak ke dua), dan bukan dari Dropshipper (pihak pertama).
 
Keuntungan Sistem Dropshipping
 
Semua orang pasti menyadari, bahwa salah satu tujuan utama setiap kegiataan wirausaha ialah mendapatkan keuntungan. Karena itu sudah sepantasnya bila kita menanyakan, apa saja kuntungan mengikuti sistem ini.
Secara umum, menjalankan Dropshipping memiliki banyak sisi positifnya, di antaranya sebagai berikut:
1. Dropshipper, mendapatkan keuntungan atau fee atas jasanya memasarkan barang milik supplier.
2. Tidak butuh modal besar untuk dapat mengikuti sistem ini.
3. Sebagai Dropshipper, kita tidak perlu menyediakan kantor dan gudang barang.
4. Walau tanpa berbekalkan pendidikan tinggi, asalkan kita cakap dalam berselancar di dunia maya (berinternet), maka kita dapat menjalankan sistem ini.
5. Kita terbebas dari beban pengemasan dan pengantaran produk.
6. Sistem ini tidak kenal batas waktu atau ruang, alias kita dapat menjalankan usaha ini kapan pun dan di mana pun kita berada.
 
Hukum Dropshipping
Sebagai pengusaha Muslim tentu kita bukan hanya memilikirkan kemudahan atau besarnya keuntungan suatu jenis kewirausahaan. Status halal dan haram setiap jenis usaha yang hendak dijalankan pastilah menempati urutan pertama dari sekian banyak pertimbangan kita . Sikap ini selaras dengan doa yang senantiasa kita panjatkan kepada Allah Azza wa Jalla:
 
للَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
 
“Ya Allah cukupkanlah aku dengan rezeki-Mu yang halal, sehingga aku tidak membutuhkan kepada hal-hal yang Engkau haramkan. Dan jadikanlah aku merasa puas dengan kemurahan-Mu, sehingga aku tidak mengharapkan kemurahan selain kemurahan-Mu.
 
Dan untuk mengetahui status hukum halal haram suatu perniagaan, maka kita harus melihat tingkat keselarasan sistem tersebut dengan prinsip-prinsip dasar perniagaan dalam syariat. Bila perniagaan tersebut selaras dengan prinsip syariat, maka halal untuk kita jalankan. Namun bila terbukti menyeleweng dari salah satu prinsip, atau bahkan lebih, maka sudah sepantasnya kita mewaspadainya.
Berikut beberapa prinsip syariat dalam perniagaan yang perlu dicermati, karena berkaitan erat dengan sistem Dropshipping:
 
Prinsip Pertama: Kejujuran
Berharap mendapat keuntungan dari suatu perniagaan bukan berarti menghalalkan dusta. Karena itu Rasulullah ﷺ dalam beberapa kesempatan menekankan pentingnya arti kejujuran dalam perniagaan, di antaranya melalui sabda beliau ﷺ:
(البيعان بالخيار ما لم يتفرقا، فإن صدقا وبينا بورك لهما في بيعهما، وإن كذبا وكتما محقت بركة بيعهما) متفق عليه
“Kedua orang yang terlibat transaksi jual-beli, selama belum berpisah, memiliki hak pilih untuk membatalkan atau meneruskan akadnya. Bila keduanya berlaku jujur dan transparan, maka akad jual-beli mereka diberkahi. Namun bila mereka berlaku dusta dan saling menutup-nutupi, niscaya keberkahan penjualannya dihapuskan.” Muttafaqun ‘alaih.
 
Prinsip Kedua: Jangan Menjual Barang Yang Tidak Kita Miliki
 
Islam begitu menekankan kehormatan harta kekayaan umatnya. Karena itu, Islam mengharamkan atas umat Islam berbagai bentuk tindakan merampas atau pemanfaatan harta orang lain tanpa izin atau kerelaan darinya. Allah taala berfirman:
 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ
 
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu.” [QS. An Nisa’ 29]
 
(لا يحل مال امرئ مسلم إلا بطيب نفس منه)
 
“Tidak halal harta orang Muslim, kecuali atas dasar kerelaan jiwa darinya”. Riwayat Ahmad, dan lainnya.
Begitu besar penekanan Islam tentang hal ini, sehingga Islam menutup segala celah yang dapat menjerumuskan umat Islam kepada praktik memakan harta saudaranya tanpa alasan yang dibenarkan.
 
Prinsip Ketiga: Hindari Riba dan Berbagai Celahnya
Sejarah umat manusia telah membuktikan, bahwa praktik riba senantiasa mendatangkan menghancurkan tatanan ekonomi masyarakat. Wajar bila Islam mengharamkan praktik riba dan berbagai praktik niaga yang dapat menjadi celah terjadinya praktik riba.
 
Di antara celah riba yang telah ditutup dalam Islam adalah: “Menjual kembali barang yang telah kita beli, namun secara fisik belum sepenuhnya kita terima dari penjual”. Belum sepenuhnya kita terima bisa jadi:
 
a. Kita masih satu majlis dengan penjualnya.
b. Atau fisik barang belum kita terima, walaupun kita telah berpisah tempat dengan penjual. Pada kedua kondisi ini kita BELUM DIBENARKAN menjual kembali barang yang telah kita beli, mengingat kedua kondisi ini menyisakan celah terjadinya praktik riba. Sahabat Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma mengisahkan:
 
فإن رسول الله صلى الله عليه وسلم نهى أن تباع السلع حيث تبتاع حتى يحوزها التجار إلى رحالهم. رواه أبو داود والحاكم
 
Rasulullah ﷺ melarang dari menjual kembali setiap barang di tempat barang itu dibeli, hingga barang itu dipindahkan oleh para pembeli ke tempat mereka masing-masing.” [Riwayat Abu dawud dan Al Hakim]
 
Dan pada hadis lain beliau ﷺ bersabda:
 
(مَنِ ابْتَاعَ طَعَامًا فَلاَ يَبِعْهُ حَتَّى يَقْبِضَهُ(. قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَأَحْسِبُ كُلَّ شَىْءٍ بِمَنْزِلَةِ الطَّعَامِ. متفق عليه
 
“Barang siapa membeli bahan makanan, maka janganlah ia menjualnya kembali, hingga ia benar-benar telah menerimanya” Ibnu ‘Abbas berkata: Dan saya berpendapat, bahwa segala sesuatu hukumnya seperti bahan makanan. [Muttafaqun ‘alaih]
 
Sahabat Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma ditanya lebih lanjut tentang alasan larangan ini menyatakan:
 
ذَاكَ دَرَاهِمُ بِدَرَاهِمَ وَالطَّعَامُ مُرْجَأٌ.
 
”Yang demikian itu karena sebenarnya yang terjadi adalah menjual Dirham dengan Dirham, sedangkan bahan makanannya ditunda (sekadar kedok belaka).” [Muttafaqun ‘alaih]
 
Sistem Dropshipping pada tahapan praktiknya bisa saja melanggar ketiga prinsip di atas, atau salah satunya, sehingga keluar dari aturan syariat alias HARAM. Seorang Dropshipper bisa saja mengaku sebagai pemiliki barang, atau paling kurang sebagai agen, padahal pada kenyataannya tidak demikian. Karena dusta ini bisa jadi konsumen menduga, bahwa ia mendapatkan barang dengan harga murah dan terbebas dari praktik percaloan, padahal kenyataannya tidak demikian. Andai ia menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan seorang agen atau pihak kedua, bisa saja ia mengurungkan pembeliannya.
 
Pelanggaran bisa juga berupa Dropshipper menawarkan lalu menjual barang yang belum ia terima, walaupun ia telah membelinya dari supplier. Dengan demikian Dropshipper melanggar larangan Nabi ﷺ di atas.
 
Atau bisa jadi Dropshipper menentukan keuntungan melebihi yang diizinkan oleh supplier. Jelaslah ulah Dropshipper ini merugikan supplier, karena barang dagangan miliknya telat laku, atau bahkan kehilangan pasarnya.
 
Solusi:
Agar terhindar dari berbagai pelanggaran di atas, maka kita dapat saja melakukan salah dari beberapa alternatif berikut:
 
Alternatif Pertama: Sebelum menjalankan sistem Dropshipping, terlebih dahulu kita menjalin kesepakatan kerjasama dengan supplier. Atas kerjasama ini kita mendapatkan wewenang untuk turut memasarkan barang dagangannya. Dan atas partisipasi kita dalam pemasaran ini, kita berhak mendapatkan fee alias upah yang nominalnya telah disepakati bersama pula.
 
Penentuan fee atas jasa pemasaran ini bisa saja dihitung berdasarkan waktu kerjasama, atau berdasarkan jumlah barang yang berhasil kita jual. Bila alternatif ini yang menjadi pilihan kita , berarti kita bersama supplier menjalin akad “JU’ALAH” (jual jasa). Yaitu salah satu model dari akad jual-beli jasa yang upahnya ditentukan sesuai dengan hasil kerja, bukan waktu kerja.
 
Alternatif Kedua: Kita juga dapat mengadakan kesepakatan dengan para calon konsumen yang membutuhkan berbagai macam barang. Dan atas jasa kita mengadakan barang, kita mensyaratkan imbalan dalam nominal tertentu. Dengan demikian kita menjalankan model usaha jual beli jasa, atau semacam biro jasa pengadaan barang.
 
Alternatif Ketiga: Kita juga dapat menggunakan skema akad salam dalam aktivitas kita . Dengan demikian kita berkewajiban menyebutkan berbagai kriteria barang kepada calon konsumen, baik dilengkapi dengan gambar barang atau tidak. Dan setelah ada calon konsumen yang berminat terhadap barang yang kita tawarkan dengan harga yang disepakati pula, maka kita baru mengadakan barang. Skema salam samacam ini barang kali yang paling mendekati sistem Dropshipping, walau demikian perlu dicatatkan dua hal penting yang mungkin membedakan antara keduanya:
 
1. Dalam skema akad salam calon konsumen harus melakukan pembayaran secara tunai dan lunas pada awal akad.
2. Semua resiko selama pengiriman barang hingga barang tiba di tangan konsumen menjadi tanggung jawab Dropshipper dan bukan supplier.
 
Alternatif Keempat: Kita menggunakan skema akad MURABAHAH LIL ‘AMIRI BISSYIRA’ (Pemesanan Tidak Mengikat). Yaitu ketika ada calon konsumen yang tertarik dengan barang yang kita pasarkan, segera kita mengadakan barang tersebut sebelum ada kesepakatan harga dengan calon pembeli. Setelah mendapatkan barang yang diinginkan, segera kita mengirimkannya ke calon pembeli. Setiba barang di tempat calon pembeli, kita baru mengadakan negoisasi penjualan dengannya. Dan sudah dapat diduga bahwa calon pembeli memiliki wewenang oenuh untuk membeli atau mengurungkan rencana pembeliannya.
 
Mungkin kita berkata; bila alternatif ini yang saya pilih, betapa besar resiko yang harus saya pikul, dan betapa susahnya kerja saya, terlebih bila calon pembeli berdomisi jauh dari tempat tinggal saya?
 
Apa yang kita utarakan benar adanya. Karena itu mungkin alternatif ini paling sulit untuk diterapkan, terutama bila kita menjalankan bisnis secara online.
 
Walau demikian, bukan berarti besarnya resiko tidak dapat ditanggulangi. Untuk menanggulangi besarnya resiko yang harus kita tanggung, kita sebagai penjual dapat mensyaratkan hak khiyar (hak pilih membatalkan pembelian) kepada supplier dalam batas waktu tertentu. Dengan demikian, bila calon pembeli kita batal membeli, kita dapat mengembalikan barang tersebut kepada supplier . Sebagaimana kita juga dapat mensyaratkan kepada calon pembeli, bahwa batal membeli ia menanggung seluruh biaya mendatangkan barang, dan mengembalikannya kepada supplier.
 
Penutup:
Semoga paparan singkat tentang skema Dropshipping di atas dapat menambah khazanah ilmu agama kita . Dan besar harapan saya semoga Allah taala memudahkan dan memberkahi perniagaan kita . Wallahu taala a’alam bisshawab.
 
 
 
Penulis: Ustadz M. Arifin Badri hafizahullah
#jualbelionline #fikihjualbeli #fiqihjualbeli #hukum #dropshipping #doorshipping #doorshiping #dropshiping #akadjualbeli #agen #calo #sistem #solusidropshipping #jalankeluar #riba #menjualbarangyangtidakadaditangankita #riba #menjualbarangyangtidakadadikita #bisnis #perniagaan #perdagangan #dagang #niaga #dalamIslam #penjualdanpembeli
,

HATI-HATI BERUTANG TAPI BERNIAT TIDAK MENGEMBALIKANNYA

HATI-HATI BERUTANG TAPI BERNIAT TIDAK MENGEMBALIKANNYA
HATI-HATI BERUTANG TAPI BERNIAT TIDAK MENGEMBALIKANNYA
 
Ingat hadis berikut:
 
مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللَّهُ عَنْهُ ، وَمَنْ أَخَذَ يُرِيدُ إِتْلاَفَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ
 
“Siapa yang mengambil harta orang lain (di antaranya berutang, pen.) lantas ia bertekad untuk mengembalikannya, maka Allah akan menolongnya (untuk melunasi utang tersebut, pen.). Siapa yang meminjam harta orang lain (di antaranya berutang, pen.) lantas ia bertekad untuk TIDAK mengembalikannya, maka Allah akan menghancurkan dirinya (hidupnya akan sulit, pen.).” [HR. Bukhari, no. 2387. Lihat pengertian hadis ini dalam Minhah Al-‘Allam, 6: 257-258]
utang,berutang,hutang,berhutang,bahaya ngutang,ngutang,bahaya berhutang
, ,

HUKUM MENTRANSFER UANG MELALUI BANK-BANK RIBA

HUKUM MENTRANSFER UANG MELALUI BANK-BANK RIBA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
HUKUM MENTRANSFER UANG MELALUI BANK-BANK RIBA
Oleh: Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
 
Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya: Kami adalah para pegawai Turki yang bekerja di kerajaan Saudi Arabia. Negara kami Turki, sebagaimana yang kita maklumi, adalah negara yang menjadikan sekulerisme sebagai hukum dan undang-undang. Riba demikian memasyrakat di negeri kami dalam aplikasi yang aneh sekali, hingga mencapai 50% dalam satu tahunnya. Kami disini terpaksa mentransfer uang kepada keluarga kami di Turki melalui jasa bank-bank tersebut,, yang jelas merupakan sumber dan biangnya riba.
 
Kami juga terpaksa menyimpan uang kami di bank karena khawatir dicuri, hilang atau bahaya-bahaya lain. Dengan dasar itu, kami mengajukan dua pertanyaan penting bagi kami. Tolong berikan penjelasan dalam persoalan kami ini. Semoga Allah memberi kan pahala terbaik bagiAanda.
 
Pertama: Bolehkah kami mengambil bunga dari bank-bank riba tersebut lalu kami sedekahkan kepada fakir miskin atau membangun sarana umum, daripada dibiarkan menjadi milik mereka ?
 
Kedua: Kalau memang tidak boleh, apakah boleh menyimpan uang di bank-bank tersebut dengan alasan darurat untuk menjaga uang itu agar tidak tercuri atau hilang, tanpa mengambil bunganya ? Harus dimaklumi,, bahwa pihak bank akan memanfaatkan uang tersebut selama masih ada di dalammnya.
 
Jawaban:
Kalau memang terpaksa mentransfer uang melalui bank riba, TIDAK ADA MASALAH, insya Allah, berdasarkan firman Allah taala:
 
وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ
 
“Sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya..” [QS Al-An’am/6: 119]
 
Tidak diragukan lagi, bahwa mentransfer uang melalui bank-bank itu termasuk bentuk kedaruratan umum pada masa sekarang ini. Demikian juga menyimpan uang didalamnya tanpa harus mengambil bunganya. Kalau diberi bunga tanpa ada kesepakatan sebelumnya atau tanpa persyaratan, boleh saja diambil untuk dioperasikan di berbagai kebutuhan umum, seperti membantu fakir miskin, menolong orang-orang yang terlilit utang dan lain sebagainya.
 
Namun bukan untuk dimiliki dan digunakan sendiri. Keberadaannya bahkan berbahaya bagi kaum Muslimin bila ditinggalkan begitu saja, walaupun dari usaha yang tidak diperbolehkan. Maka lebih baik digunakan untuk yang lebih bermanfaat bagi kaum Muslimin, daripada dibiarkan menjadi milik orang-orang kafir, sehingga justru digunakan untuk hal-hal yang diharamkan oleh Allah.
 
Namun bila mungkin mentransfer melalui bank-bank Islam atau melalui cara yang diperbolehkan, maka tidak boleh mentransfer melalui bank-bank riba. Demikian juga menyimpan uang, bila masih bisa dilakukan di bank-bank Islam atau di badan-badan usaha Islam, tidak boleh menyimpannya di bank-bank kafir berbasis riba, karena hilangnya unsur darurat. Hanya Allah yang bisa memberikan taufik-Nya.
 
[Disalin dari kitab Al-Fatawa Juz Awwal Edisi Indonesia Fatawa bin Baaz, Penulis Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz, Penerjemah Abu Umar Abdillah, Penerbit At-Tibyan – Solo]
 
 

 

 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 
 
 
 
 
#hukumtransferdanaantarbank #hukumbiayatransferuang #hukumjasapengirimanuang #hukumpunyarekeningdibank #atm #riba #hukum,#transferuang, #mentransferuang, #lewatbankribawi, #bankribawi, #bank, #nonsyariah, #bankkonvensional
,

SEDEKAH DAPAT MENCEGAH PEDAGANG MELAKUKAN MAKSIAT DALAM JUAL-BELI

SEDEKAH DAPAT MENCEGAH PEDAGANG MELAKUKAN MAKSIAT DALAM JUAL-BELI
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
SEDEKAH DAPAT MENCEGAH PEDAGANG MELAKUKAN MAKSIAT DALAM JUAL-BELI
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Wahai para pedagang, sesungguhnya setan dan dosa keduanya hadir dalam jual-beli. Maka hiasilah jual-beli kalian dengan sedekah.” [HR. Tirmidzi no. 1208, ia berkata: “Hasan shahih”)
 
Wallahu a’lam. Kebanyakan dari kita barangkali memahami, bahwa pedagang mungkin memberi kelebihan barang kepada si pembeli sebagai sedekah, atau si pembeli membayar lebih kepada si pedagang sebagai sedekah.
 
Namun jika ditilik secara lebih mendalam, konsep bersedekah ketika jual-beli ini seperti tidaklah melibatkan pemberian tambahan, tetapi lebih bertumpu kepada ridai meridai dan keimanan.
 
Jika seorang penjual menawarkan satu barang dengan harganya, lalu pembeli membelinya tanpa meminta dikurangkan harga, maka di situ ibarat pembeli telah ‘bersedekah’ kepada yang menjual. Ini karena pembeli memenuhi hasrat dan permintaan penjual. Jika pembeli penuh rida, maka hal itu menjadi ibarat sedekah.
 
Sebaliknya jika pembeli meminta dikurangkan harga, dirundingkan harga, jika terjadi jual-beli, maka itu ibarat penjual yang bersedekah, karena ia memenuhi permintaan dan harapan pembeli dengan bersandar kepada rida mereka berdua.
 
Harus diingat, setiap penjual ada tanggungannya seperti anak istri yang perlu rezeki. Begitu juga pembeli. Maka bila berlaku jual-beli yang penuh rida, janganlah merasa rugi dalam urusan jual-beli. Sebaliknya keimananlah yang berperan di sini, yaitu niatlah berjual-beli juga sebagai memenuhi permintaan baik dari pembeli atau penjual demi rezeki. Jika terasa ‘rugi’ dalam jual-beli, semoga Allah gantikan dengan yang lebih baik. Karena jika konsep bersedekah ada dalam jual-beli, niscaya diluaskan lagi rezeki kepada jual-beli yang bersandar kepada konsep sedekah.
Sebaik-baik jual-beli adalah dengan sesama Islam, karena mungkin berlaku ucapan pujian kepada Allah seperti Alhamdulillah dan akad rida meridai dalam jual-beli. Perbedaan harga tidaklah akan setanding dibandingkan dengan ganjaran pahala di sisi Allah, karena berlaku jual-beli sesama Islam yang ada konsep bersedekah.
 
Sesungguhnya setiap pembeli ibarat membawa rezeki yang Allah kirim kepada penjual, dan penjual juga ibarat membawa rezeki yang Allah kirim untuk memenuhi hasrat pembeli. Lihatlah betapa jual-beli sesama Muslim lebih menguntungkan di sisi Allah, walau sedikit kerugian pada dunia. Para pedagang juga harus menyadari, bahwa keuntungan Akhirat lebih besar berbanding keuntungan dunia. Maka jangan utamakan keuntungan dunia yang berlebihan. Jika rugi pada penjual atau pembeli, ingatlah kita ada keuntungan lebih besar di sisi Allah, jika jual-beli berlaku dengan konsep bersedekah ini.
 
Mari kita mengikis sikap terlalu “berhitung” dalam jual-beli. Jangan “berbuat keji” terhadap barang jualan penjual. Biarlah jual-beli berlaku dengan penuh rida dan keimanan. Jika kita langsung membayar harga satu barang tanpa menawarnya lagi, itu ibarat kita telah bersedekah kepada penjual. Jika kita tawar menawar harga, ibaratnya kita telah menerima sedekah dari penjual. Jika penjual menurunkan harga tanpa diminta, lebih jelas lagi konsep bersedekah di sini. Jadilah jual-beli itu terhias dengan sedekah, walaupun tidak berlaku tambahan barang yang diberi oleh penjual atau pembeli yang membayar lebih.
 
Wallahua’lam.
 
 

#sedekah, #shodaqoh, #shadaqah, #mencegah, #pedagang, #dagang, #perniagaan, #melakukanmaksiat, #jualbeli, #maksiyat #konsepsedekahdalamberdagang #iringidengansedekah

,

UNTUKMU YANG MASIH BEKERJA DI BANK KONVENSIONAL

UNTUKMU YANG MASIH BEKERJA DI BANK KONVENSIONAL
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
UNTUKMU YANG MASIH BEKERJA DI BANK KONVENSIONAL
 
Ada seorang pegawai Bank konvensional yang sudah ngaji dan dapat hidayah. Ketika dia ditanya: Apakah Anda tidak takut miskin, keluar dari Bank? Maka dengan penuh keyakinan ia menjawab: “BAGAIMANA AKU TAKUT MENJADI MISKIN, SEMENTARA AKU MEMPUNYAI RABB YANG MAHA KAYA, PEMILIK LANGIT DAN BUMI, APA-APA YANG ADA DI ANTARA KEDUANYA, DAN DI BAWAH TANAH?”.
 
 
Dari website al-Ustadz Amir As-Soronji حفظه الله تعالىٰ
 
_______________________
 
 
Inilah peran dari keimanan yang kuat terhadap Rabbnya. Ia percaya, bahwasanya Allah ﷻ akan memberikan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, hatta kepada makhluk melata yang ada di dalam tanah sekalipun.
 
Allah ﷻ berfirman:
“Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi, melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam kitab yang nyata (Lauhil Mahfuuzh).” [QS. Huud (11): 6]
 
Maka sudah sepantasnya seorang hamba mencari rezeki yang baik dan halal untuk diri dan keluarganya.
 
Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda,
“Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah, sederhanalah dalam mencari nafkah. Karena sesungguhnya seseorang tidak akan mati hingga sempurna rezekinya, meskipun (rezeki itu) bergerak lamban. Maka bertakwalah kepada Allah dan sederhanalah dalam mencari nafkah. Ambillah yang halal dan tinggalkan yang haram.” [Shahiih, HR. Ibnu Majah, no. 2144, Ibnu Hibbaan, no. 1084, 1085, al-Hakim, II/4, dan al-Baihaqi, V/264]
 
Yakin dan percayalah, bahwasanya Allah ﷻ akan menggantikan dengan hal yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidaklah engkau meninggalkan sesuatu (yang diharamkan) karena Allah subhanahu wa ta’ala, melainkan Allah subhanahu wa ta’ala pasti akan menggantikan dengan yang lebih baik.” [Shahiih, HR. Ahmad, V/78, 363, dan al-Baihaqi dalam Al-Kubra, V/335]
 
Dari ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala akan memberi kalian rezeki, sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada burung, yang pergi pagi dalam keadaan lapar dan pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang.” [Shahiih, HR. Ahmad, I/30, 50, at-Tirmidzi, no. 2344, Ibnu Majah, no. 4164, Ibnu Hibbaan, no. 402, 728, Ibnul Mubarak di dalam kitab az-Zuhd, no. 514, al-Hakim, IV/318, dan al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah, no. 4108, Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah, no. 310]
 
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
“Tidaklah kelapangan rezeki dan amalan diukur dengan jumlahnya yang banyak, tidaklah panjang umur dilihat dari bulan dan tahunnya yang berjumlah banyak, akan tetapi, kelapangan rezeki dan umur diukur dengan keberkahannya.” [Al-Jawabul Kafi, hal. 56]
 
Semoga Allah ﷻ memberikan hidayah dan taufik.
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#bekaspegawaibank, #pengakuanbekaspegawaibank, #bahayariba, #riba, #kerjadibankkonvensional, #untukmuyangmasihbekerjadibankkonvensional #rezekiAllahyangatur
,

ISTRI MENINGGAL, APAKAH SUAMI BERHAK ATAS WARISANNYA?

ISTRI MENINGGAL, APAKAH SUAMI BERHAK ATAS WARISANNYA?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
ISTRI MENINGGAL, APAKAH SUAMI BERHAK ATAS WARISANNYA?
 
Pertanyaan:
 
1. Jika istri dapat warisan dari orang tuanya dan kemudian dia meninggal dunia, apakah suaminya berhak dapat warisan dari sang istri?
 
2. Kemudian setelah si istri meninggal, sang suami menikah lagi dengan istri kedua, dan tidak berselang lama si suami meninggal. Apakah istri yang kedua ini berhak mendapatkan warisan dari suaminya?
 
Jawaban:
 
1. Apabila istri tersebut meninggal setelah ia dinyatakan berhak menerima warisan ayahnya (yang meninggal sebelum dia), maka suaminya berhak atas warisan (dari istrinya) yang diperoleh dari si ayah sang istri (mertuanya -pent) , dan suami juga berhak atas harta istri yang bukan berasal dari warisan tersebut. Namun nominal yang diterima suami tidaklah sama dalam semua keadaan. Bisa jadi mendapat setengah atau seperempat dari harta istri, tergantung keberadaan ahli waris istri lainnya. Allah taala berfirman di surat an-Nisa’ ayat 12:
 
وَلَكُمْ نِصْفُ مَا تَرَكَ أَزْوَاجُكُمْ إِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُنَّ وَلَدٌ فَإِنْ كَانَ لَهُنَّ وَلَدٌ فَلَكُمُ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْنَ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِينَ بِهَا أَوْ دَيْنٍ وَلَهُنَّ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْتُمْ إِنْ لَمْ يَكُنْ لَكُمْ وَلَدٌ فَإِنْ كَانَ لَكُمْ وَلَدٌ فَلَهُنَّ الثُّمُنُ مِمَّا تَرَكْتُمْ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ تُوصُونَ بِهَا أَوْ دَيْنٍ وَإِنْ كَانَ رَجُلٌ يُورَثُ كَلالَةً أَوِ امْرَأَةٌ وَلَهُ أَخٌ أَوْ أُخْتٌ فَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ فَإِنْ كَانُوا أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ فَهُمْ شُرَكَاءُ فِي الثُّلُثِ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصَى بِهَا أَوْ دَيْنٍ غَيْرَ مُضَارٍّ وَصِيَّةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَلِيمٌ
 
Dan bagi kalian (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istri kalian, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika istri-istri kalian itu mempunyai anak, maka kalian mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya, sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. Para istri memperoleh seperempat harta yang kalian tinggalkan, jika kalian tidak mempunyai anak. Jika kalian mempunyai anak, maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kalian tinggalkan, sesudah dipenuhi wasiat yang kalian buat, atau (dan) sesudah dibayar utang-utang kalian. Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan, yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya, atau sesudah dibayar utangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris). (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syariat yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.
 
Perlu difahami, bahwa asalnya suami tidaklah mewarisi harta mertuanya, dan suami mendapatkan warisan di kasus ini karena istrinya memperoleh warisan.
 
2. Apabila suami memiliki hak di warisan tersebut, maka istri kedua memiliki hak di warisan suami dan harta suami yang lain, namun besarannya tentu tidak sama dalam setiap keadaan, tergantung dari keberadaan ahli waris lainnya.
 
Wallahu a’lam.
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#hartawarisan, #hukum, #warisan, #ahliwaris, #istri, #isteri, #meninggal dunia, #wafat, #mati, #suami, #hartawarisan #suamidapathartawarisanistrinya #pembagianhartawarisan