,

RIDA ALLAH BERGANTUNG KEPADA RIDA ORANG TUA

RIDA ALLAH BERGANTUNG KEPADA RIDA ORANG TUA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
 
RIDA ALLAH BERGANTUNG KEPADA RIDA ORANG TUA
>> Begitu pula murka Allah bergantung kepada kemurkaan orang tua
 
Sesuai hadis Rasulullah ﷺ, disebutkan:
 
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسُخْطُ الرَّبِّ فِي سُخْطِ الْوَالِدِ
 
Darii ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallaahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Rida Allah bergantung kepada keridaan orang tua, dan murka Allah bergantung kepada kemurkaan orang tua.” [Hadis Shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Adabul Mufrad (no. 2), Ibnu Hibban (no. 2026 al-Mawaarid), at-Tirmidzi (no. 1899), al-Hakim (IV/151-152), ia menshahihkan atas syarat Muslim dan adz-Dzahabi menyetujuinya. Syaikh al-Albani rahimahullaah mengatakan hadis ini sebagaimana yang dikatakan oleh mereka berdua (al-Hakim dan adz-Dzahabi). Lihat Shahiih Adabul Mufrad (no. 2)]
 
 
 
 
 
#rida, #ridha, #ridho, #redho, #Allah, #bergantung, #tergantung, #orangtua, #ortu, #murka, #kemurkaan #birrulwalidain #birulwalidain #baktikepadaorangtua #murkaAllah, #tergantung, #bergantung, #kemurkaanorangtua
 
, ,

BERPIKIRLAH WAHAI KAUM LGBT

BERPIKIRLAH WAHAI KAUM LGBT
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
BERPIKIRLAH WAHAI KAUM LGBT
 
Tidakkah mereka berpikir, dari mana mereka dilahirkan?
Melalui rahim ibu, yang di mana ayahnya dan ibunya saling mencintai karena Allah.
Bertemunya sperma dan ovum. Tidak akan pernah karena sperma bertemu sperma. Apa lagi sperma bertemu kotoran.
 
Wal ‘iyadzubillah.
 
Sumber: indonesiabertauhidofficial
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#LGBT, #homosex, #homoseksualisme, #gay, #hubungansejenis, #berpikirlahwahai kaumLGBT #jerukmakanjeruk, #terongmakanterong #hubungansesamajenis
,

HARI IBU SETIAP HARI, BUKAN SETAHUN SEKALI

HARI-IBU-SETIAP-HARI,-BUKAN-SETAHUN-SEKALI
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
HARI IBU SETIAP HARI, BUKAN SETAHUN SEKALI
 
Berbakti kepada orang tua khususnya ibu memang lebih dianjurkan oleh agama Islam. Karena memang ibu sangat besar jasanya bagi anak-anaknya melebihi bapak. Oleh karena itu berbakti kepada ibu lebih didahulukan daripada berbakti kepada bapak, sebagaimana dalam hadis berikut:
 
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوْكَ
 
Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata:
“Seseorang datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi ﷺ menjawab: ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya: ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi ﷺ menjawab: ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali: ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau ﷺ menjawab: ‘Ibumu’. Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi’, Nabi ﷺ menjawab: ‘Kemudian ayahmu’” [HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548]
 
Akan tetapi haruskah Hari Ibu diperingati setiap setahun sekali? Perlukah memperingati Hari Ibu? Bagaimana hukum Islam mengenai hal ini?
 
Hari Ibu Setiap Hari
 
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:
“Seorang ibu lebih berhak untuk senantiasa dihormati sepanjang tahun, daripada hanya satu hari saja. Bahkan seorang ibu mempunyai hak terhadap anak-anaknya untuk dijaga dan dihormati serta ditaati, selama bukan dalam kemaksiatan terhadap Allah subhanahu wa taala, di setiap waktu dan tempat” [Majmu’ Fatawa wa Rasa’il no. 535 2/302, Darul wathan, 1413 H, Asy Syamilah]
 
Pandangan Islam Terhadap Perayaan Hari Ibu
Hari Ibu biasanya dirayakan setiap 22 Desember, berikut fatwa Al-Lajnah Ad- Daimah (semacam MUI di Saudi) mengenai hal ini. Al Lajnah Ad Daimah ditanya: “Kapan tanggal yang tepat untuk memperingati Hari Ibu?”
 
Mereka menjawab:
“TIDAK BOLEH mengadakan peringatan yang dinamakan dengan peringatan Hari Ibu, dan TIDAK BOLEH juga memperingati perayaan peringatan tahunan yang dibuat-buat (tidak ada tuntunannya dalam Alquran dan As-sunnah, karena perayaan (Ied) tahunan yang diperbolehkan dalam Islam hanya Idul Fitri dan Idul Adha, pent).
 
Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
 
من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد
 
“Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak pernah kami tuntunkan, maka amalan itu tertolak.”
 
Perayaan Hari Ibu TIDAK PERNAH dilakukan oleh Rasulullah ﷺ, para sahabat radhiallahu anhum dan para imam Salafus Shalih. Perayaan ini adalah sesuatu yang diada-adakan dan menyerupai orang kafir (tasyabbuh) [Fatawa Komite Tetap Kajian Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi, jilid 3 hal.85, http://goo.gl/sU2cG2]
 
Demikian semoga bermanfaat.
 
 
 
 Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#hariibu, #MothersDay, #fatwaulama#bidah, #perayaan, #merayakan#birrulwalidain, #birulwalidain, #baktiorangtua, #berbaktikepadaorangtua, #orangtua, #baktiibutigakali
, ,

RIDA ALLAH BERGANTUNG KEPADA RIDA ORANG TUA

RIDA ALLAH BERGANTUNG KEPADA RIDA ORANG TUA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
RIDA ALLAH BERGANTUNG KEPADA RIDA ORANG TUA
>> Begitu pula murka Allah bergantung kepada kemurkaan orang tua
 
Sesuai hadis Rasulullah ﷺ, disebutkan:
 
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسُخْطُ الرَّبِّ فِي سُخْطِ الْوَالِدِ
 
Darii ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallaahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Rida Allah bergantung kepada keridaan orang tua, dan murka Allah bergantung kepada kemurkaan orang tua.” [Hadis Shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Adabul Mufrad (no. 2), Ibnu Hibban (no. 2026 al-Mawaarid), at-Tirmidzi (no. 1899), al-Hakim (IV/151-152), ia menshahihkan atas syarat Muslim dan adz-Dzahabi menyetujuinya. Syaikh al-Albani rahimahullaah mengatakan hadis ini sebagaimana yang dikatakan oleh mereka berdua (al-Hakim dan adz-Dzahabi). Lihat Shahiih Adabul Mufrad (no. 2)]
 
 
 
#rida, #ridha, #ridho, #redho, #Allah, #bergantung, #tergantung, #orang tua, #ortu, #murka, #kemurkaan #birrulwalidain #birulwalidain #baktikepadaorangtua
, ,

HARUSKAH ADIL ANTARA ORANG TUA DENGAN MERTUA?

HARUSKAH ADIL ANTARA ORANG TUA DENGAN MERTUA?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
HARUSKAH ADIL ANTARA ORANG TUA DENGAN MERTUA?
 
Pertanyaan:
Suami ana berpenghasilan besar. Beliau sering sekali mengirim uang kepada kedua orang tuanya. Ana pernah menuntut agara suami bisa adil dengan mengirim uang kepada orang tua ana juga, tapi suami menjawab dia tidak wajib menafkahi orang tua ana. Mohon penjelasannya, Ustadz.
 
Jawaban: (Oleh Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron)
 
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
 
Alhamdulillah, Ukhti dengan lega hati menanyakan apa yang menjadi keganjilan di dalam hati. Semoga jawaban ini merupakan obat penenang jiwa bagi yang mempunyai masalah.
 
Ukhti, seorang anak dituntut agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya, berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala (yang artinya):
 
“….Dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” [QS.al Isro’ : 23]
 
Allah subhanahu wa ta’ala mewajibkan kita agar berbuat baik kepada orang tua, karena mereka berdua adalah orang yang pertama kali banyak berbuat baik kepada kita, dan sebagai penyebab lahirnya kita di dunia. Berbuat baik kepada kedua orang tua beraneka ragam bentuknya. Bisa dengan membantu kebutuhan mereka berdua, terutama saat usia lanjut, terlebih lagi bila mereka tergolong orang yang sangat miskin. Dalam hal ini, tentu anaklah yang lebih tahu kebutuhan orang tuanya. Sebab selain kepada Allah, kepada siapa lagi orang tua mengharapkan bantuan, bila tidak kepada anaknya?!
 
Adapun istri, ia TIDAK BOLEH menuntut haknya yang berupa harta kepada suami, kecuali yang berhubungan dengan kebutuhan diri dan anak-anaknya sehari-hari. Perhatikanlah firman Allah subhanahu wa ta’ala berikut ini (yang artinya):
 
“Hendaklah orang yang mampu, ia memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang Allah berikan kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekadar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” [QS.ath Tholaq: 7]
 
Jika suami Ukhti mengatakan, bahwa ia TIDAK wajib menafkahi mertua, itu memang BENAR. Sebab mertua memang BUKAN menjadi tanggungannya. Akan tetapi jika suami memberi sesuatu kepada orang tua Ukhti, maka itu adalah kebaikan suami kepada keluarga Ukhti. Jika tidak, maka dia TIDAK BERDOSA, karena memang mertua itu bukanlah orang tua bagi suami.
 
Suami baru dituntut harus adil bila bila memberi sesuatu kepada sesama istrinya. Ataupun posisinya sebagai seorang ayah, harus adil bila memberi sesuatu kepada anak-anaknya. Jika istri rida atas perbuatan baik suami kepada orang tuanya, maka dia akan mendapat pahala juga, bahkan akan menjadi sarana terjalinnya hubungan baik antara mertua dengan menantunya. insyaAlloh.
 
 
Sumber:
Diketik ulang dari Majalah al Mawaddah Vol.17 Edisi ke 7, Tahun ke 2, Shofar 1430 H/Februari 2009, Hal.6-7
Dipublikasikan kembali oleh : https://alqiyamah.wordpress.com
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#adil, #mertua, #menantu, #anak laki laki, #anak perempuna, #suami suami #isteri isteri, #istri istri, #bukan tanggungan, #harus adil, #tidak harus adil, #menantu perempuan, #menantu laki laki, #birrul walidain, #birul walidain,#bakti, #bhakti,berbakti,berbhatik, #orangtua,orang tua, #ayah ibu, #bapak ibu
,

ADAKAH ORANG TUA YANG DURHAKA TERHADAP ANAKNYA?

ADAKAH ORANG TUA YANG DURHAKA TERHADAP ANAKNYA?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
#BirrulWalidain
ADAKAH ORANG TUA YANG DURHAKA TERHADAP ANAKNYA?
 
Pertanyaan:
Ibu saya sering memarahi saya ketika saya membeli barang keinginan saya apapun itu, meski itu uang dari hasil keringat saya sendiri. Dan ibu saya selalu ingin uang gajian itu dimiliki oleh ibu saya, padahal saya selalu kasih setiap bulannya. Ibu saya juga melanggar ucapannya sendiri: “Bila sudah kerja, silakan beli yang kamu inginkan.” Tetapi setelah saya membeli barang yang saya inginkan, ibu saya selalu memarahi saya, dan selalu mengungkit ketika membesarkan saya,
 
Jawaban Redaksi salamdakwah.com
 
 Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
 
Nasihat kami kepada Anda adalah untuk:
– Bersabar ketika menghadapi perangai orang tua yang demikian.
– Berbakti dan taatlah kepadanya, selama perintahnya tidak melanggar syariat.
– Tidak durhaka kepada orang tua, meskipun orang tuanya tidak bermuamalah dengan baik terhadapnya.
– Hendaknya Anda berusaha untuk meminta kerabatnya dan orang saleh yang punya kedudukan di mata orang tua untuk menasihatinya.
– Hendaknya Anda banyak berdoa, semoga Allah ta’ala memberi hidayah kepada orang tua Anda.
– Ketika Anda membeli barang yang halal dan khawatir ibu Anda akan memarahi bila tahu, maka tidak apa bila Anda menyembunyikan barang tersebut dari ibu Anda.
 
Anda TIDAK BERHAK untuk durhaka, meski orang tua berbuat demikian, sebab Allah ta’ala telah menegaskan hak orang tua yang sangat besar atas anak-anaknya. Di antaranya:
 
Surat an-Nisa’ ayat 36
 
وَاعْبُدُوا الله وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
 
“Beribadahlah hanya kepada Allah, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua”.
 
Surat al-Isra’ ayat 23
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
 
“Dan Robbmu memutuskan agar kalian jangan beribadah kepada selain Allah, dan hendaknya kalian berbuat baik kepada kedua orang tua.”
 
Surat Luqman ayat 15
 
ﻭَﺇِﻥْ ﺟَﺎﻫَﺪَﺍﻙَ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻥْ ﺗُﺸْﺮِﻙَ ﺑِﻲ ﻣَﺎ ﻟَﻴْﺲَ ﻟَﻚَ ﺑِﻪِ ﻋِﻠْﻢٌ ﻓَﻠَﺎ ﺗُﻄِﻌْﻬُﻤَﺎ ﻭَﺻَﺎﺣِﺒْﻬُﻤَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻣَﻌْﺮُﻭﻓًﺎ
 
Jika keduanya memaksamu untuk berbuat syirik dengan memersekutukan Aku yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.
 
Rasulullah ﷺ juga sudah mewanti-wanti umatnya untuk menghindari berbuat buruk dan durhaka kepada orang tua, karena itu adalah dosa besar. Beliau ﷺ bersabda:
 
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرَةَ، عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الكَبَائِرِ» قُلْنَا: بَلَى يَا رَسُولَ الله، قَالَ: ” الإِشْرَاكُ بِالله، وَعُقُوقُ الوَالِدَيْنِ، وَكَانَ مُتَّكِئًا فَجَلَسَ فَقَالَ: أَلاَ وَقَوْلُ الزُّورِ، وَشَهَادَةُ الزُّورِ،
 
Dari Abdurrahman bin Abu Bakrah dari ayahnya, dia berkata Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apakah kalian mau kuberitakan tentang tiga macam biang dosa besar?” Para sahabat menjawab: “Betul wahai Rasulullah, kami mau mendengarnya.” Rasulullah ﷺ bersabda: “Menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.” Sebelumnya beliau ﷺ bersandar, kemudian beliau ﷺ duduk dan melanjutkan pembicaraannya: “Ingatlah (jangan kau lakukan) perkataan bohong dan kesaksian palsu.” [H.R. Bukhari no.5976 dan Muslim no.87]
 
Perlu difahami, bahwa penderitaan Anda juga kadang dirasakan oleh orang lain. Bahkan sebagian mereka lebih berat merasakan penderitaan. Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah diberi aduan atas kejadian jahatnya ayah kepada anak-anaknya:” Saya punya ayah yang sudah tua. Beliau tabiatnya keras dan gila harta. Ibu kami meninggal ketika kami kecil. Kemudian beliau menikah lagi dan dikaruniai dua orang putri. Selanjutnya beliau menalaknya dan menikah lagi. Beliau bertahan dengan wanita tersebut hingga kini. Dari wanita itu beliau juga dikaruniai dua orang putri. Kami lima bersaudara dari satu ibu (yang telah meninggal), hidup dalam keadaan sangat miskin. Kami bekerja untuk dia dan istrinya tanpa upah, sampai usia kami dewasa -alhamdulillah- dan menikah. Kami sekarang tinggal di rumah milik ayah kami. Beliau sejak beberapa saat lalu tinggal di Gaza Palestina. Beliau secara rutin datang dan meminta uang sewa rumah yang kami tinggali, seakan-akan anak-anaknya adalah orang asing baginya, sedangkan keadaan kami dalam kesempitan. Selanjunya beliau meminta kepada kami harta yang kami tidak tahu dari mana kami bisa dapatkan. Apabila tidak kami penuhi, maka dia akan marah, melaknat dan mencela. Beliau berkata: “Semoga Allah murka terhadap kalian, dan aku akan terus marah hingga Hari Kiamat”. Beliau mengusir kami dari rumah dan mengadukan kami ke pemerintah, sampai-sampai pengadilan mewajibkan kami membayar denda yang besar. Beliau juga menginformasikan kepada masyarakat, bahwa kami durhaka kepada beliau. Beliau berkata, bahwa beliau sakit dan perlu uang untuk berobat, sampai-sampai kami dibebani utang sebesar 3000 Dinar lebih.
 
Beliau berkata kepada orang-orang yang meminjami kami uang: “Anak-anak saya tidak memberi saya uang dari utang yang mereka ajukan. Maka tagihlah mereka. Mereka durhaka kepada kepada saya. Ini supaya memerburuk citra kami di masyarakat. Kami memeroleh bagian warisan dari ibu kami- semoga Allah merahmati beliau- namun ayah kami mengambil semuanya. Setiap kami berusaha untuk meminta kerabat kami mengarahkannya, beliau katakan: “Mereka adalah anakku. Orang lain tidak berhak atas apa yang saya miliki”. Dia dan istrinya hidup dalam kenikmatan, sementara kami hidup dalam keadaan miskin serta tertlilit utang.
 
Apabila datang kepadanya salah seorang syaikh atau da’i, maka dia akan menangis dan melembutkan suaranya seraya berkata: “Saya sakit dan tidak mampu bekerja, sedangkan anak-anak saya durhaka kepada saya.” Beliau pun berteriak dan menangis. Apabila da’i itu keluar, maka beliau mengusir kami dari rumah dan berkata: “Semoga Allah melaknat kalian. Hatiku marah kepada kalian.”
 
Kami tidak mampu untuk menyewa rumah atau membangun rumah, sementara keadaan kami dalam kesusahan. Semoga Allah memberi kami jalan keluar. Apakah kami durhaka kepada beliau dan tidak menaatinya, bila kami tidak menuruti beliau dan meminta hak waris kami? Apa yang harus kami perbuat? Kami telah berutang ke semua teman, saudara dan yang kami kenal. Bagaimana bila kami meninggal, sedangkan utang belum terbayar dan kami dalam kesusahan?”
 
Komite menasihati: “Kami wasiatkan kepada Anda sekalian untuk bertakwa kepada Allah ta’ala dan bersabar atas rasa sakit yang diterima dari ayah Anda. Anda dalam kebaikan insyaAllah. Sering-seringlah mendoakannya. Apabila kalian bisa meminta sebagian kerabat dan orang yang punya kedudukan di mata ayah kalian untuk menjadi penengah dalam menyelesaikan masalah, maka ini bagus. Bagus juga bila kalian bisa meminta tolong orang yang agamanya bagus dan baik dalam masalah ini. Kami doakan semoga Allah:
– Memberi hidayah kebenaran kepada ayah kalian.
– Memerbaiki dirinya.
– Menyatukan hati kalian semua dalam kebaikan.
– Menjadikan kalian Rukun.”
[Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 25/268-270 fatwa no.21074]
 
Semoga Allah ta’ala memberi hidayah kepada orang tua Anda dan mengaruniakan kesabaran atas sikap orang tuanya yang tidak baik.
 
 
 
 
══════
 
Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
,

MENAFKAHI ORANG TUA VS MEMBERI BONUS UNTUK ISTRI

MENAFKAHI ORANG TUA VS MEMBERI BONUS UNTUK ISTRI
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
#BirrulWalidain

MENAFKAHI ORANG TUA VS MEMBERI BONUS UNTUK ISTRI

Pertanyaan:
Bagaimana hukum pemeliharaan orangtua, karena ayah sudah tidak bekerja, namun saya sudah beristri. Lebih utama mana antara memberikan sedikit rezeki kepada orangtua? Atau memberi keinginan istri bonus di luar sandang, pangan dan papan? Dan saya sudah tidak mengizinkan istri bekerja. Mohon penjelasannya.
 
Jawaban:
بسم الله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن واله أما بعد
 
Menafkahi orangtua itu wajib dan termasuk birrul walidayn.
 
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
 
وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
 
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan, supaya kamu jangan menyembah selain Dia. Dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah satu seorang di antara keduanya, atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada kepada keduanya perkataan ‘Ah’. Dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” [QS Al-Isra: 23]
 
Memelihara Orang Tua Itu Hukumnya Wajib
 
Jelas lebih utama pemberian kepada orang tua, karena orang tua termasuk yang wajib dinafkahi.
 
Jadi bonus-bonus kepada istri itu sifatnya tidak wajib, setelah sandang, pangan dan papan dipenuhi dan hal-hal yang berkaitan dengannya seperti mengontrakkan rumah sekaligus membayar air dan listriknya, pakaian dan makanan, termasuk membelikan gas untuk kompornya, pokoknya hal-hal yang berkaitan dengan papan/rumah, makanan atau pakaian.
 
Di luar yang tiga ini tidak menjadi kewajiban lagi, sehingga menafkahi orang tua harus didahulukan.
 
والله تعالى أعلم
 
 
Dijawab oleh Ustadz Dr. Sufyan Baswedan, Lc., MA.
 
 
══════
 
Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
,

URUTAN PEMBAGIAN REZEKI SUAMI, ANTARA ORANG TUA DAN ISTRI

URUTAN PEMBAGIAN REZEKI SUAMI, ANTARA ORANG TUA DAN ISTRI

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#BirrulWalidain
URUTAN PEMBAGIAN REZEKI SUAMI, ANTARA ORANG TUA DAN ISTRI
 
Pertanyaan:
Bagaimana urut-urutan pembagian rezeki dalam rumah tangga, untuk istri dan orang tua (ibu kandung). Siapa terlebih dahulu untuk didahulukan?
 
Jawaban:
Bagi laki-laki (suami), maka bakti kepada ibulah yang lebih utama dibanding istri, dan ini termasuk juga dalam masalah keuangan. Namun tidak menafikan, bahwa istri merupakan tanggung jawab seorang suami.
 
Seorang Muslim diwajibkan untuk berbakti kepada orang tuanya, khususnya ibu. Seorang anak harus berusaha mendapatkan ridanya. Di antara dalil dalam masalah ini adalah:
 
1. Firman Allah ta’ala dalam surat Al-Isra’ ayat 23:
 
وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاهُمَا فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلا كَرِيمًا
 
Dan Rabb mu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “Ah”. Dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia
 
2. Hadis Nabi ﷺ:
 
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ: «أُمُّكَ» قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أُمُّكَ» قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أُمُّكَ» قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَبُوكَ»
 
Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dia berkata; “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah ﷺ sambil berkata: “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku berbakti kepadanya?” Beliau ﷺ menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi: “Kemudian siapa?” Beliau ﷺ menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi: “Kemudian siapa lagi?” Beliau ﷺ menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi: “Kemudian siapa?” Beliau ﷺ menjawab: “Kemudian ayahmu. [Muttafaqun ‘Alaihi]
 
Dari dalil diatas dapat kita ambil intinya, bahwa orang tua, dalam hal ini ibu, lebih didahulukan oleh anak laki-lakinya daripada istrinya. Apabila orang tua tidak lagi mampu berusaha, maka kewajiban anaklah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, berdasarkan hadis di atas, sekalipun anak sudah beristri atau berkeluarga. Bahkan lebih dari itu, dia harus mendahulukan hak orang tuanya daripada hak istri dan anak-anaknya.
 
Hal ini juga berdasarkan hadis tentang tiga orang yang masuk ke dalam gua, lalu gua tersebut tertutup dengan batu, sehingga tidak bisa keluar darinya. Lalu ketiga orang tersebut berdoa kepada Allah dengan cara tawassul dengan amal-amal saleh mereka. Salah satu di antara mereka bertawassul dengan amal mengutamakan hak kedua orang tuanya, lebih dari hak anak-anak dan istrinya. [Muttafaqun ‘Alaihi]
 
Dalam hal ini, suami memikul dua kewajiban nafkah, nafkah istri dan nafkah orang tua. Tunaikan dua kewajiban ini secara berimbang sebatas kemampuan. Bahkan jika tidak mungkin untuk menyelaraskan dua hal ini, maka harus mendahulukan/mengutamakan hak orang tua daripada hak istri dan anak-anak.
 
Meskipun demikian, seorang laki-laki atau suami wajib untuk berbuat baik kepada istri dan kedua orang tuanya. Ia pun wajib untuk memenuhi hak-hak mereka. ini didasari oleh nash-nash yang shahih dan jelas. Seorang laki-laki tidak boleh membahagiakan satu pihak dengan cara menjadikan pihak lain bersedih. Ia harus berusaha sebisa mungkin membahagiakan pihak istri dan pihak orang tuanya secara bersamaan.
 
Dan seharusnya pihak orang tua dan pihak istri saling pengertian dan tidak saling berebut pelayanan dan perhatian dari sang anak/sang suami. Orang tua seharusnya memahami, bahwa anak laki-laki mereka sekarang tidak sendiri lagi dan sudah memiliki tanggung jawab yang harus ia urus, sehingga mereka rela bila sebagian perhatian anaknya sudah teralihkan dari mereka kepada yang lain. Istri juga seharusnya juga memahami, bahwa laki-laki yang menikahinya adalah putra dari dua orang tua yang telah sangat berjasa membesarkan, mengasuh dan mendidik putra tersebut, hingga ia siap untuk menjadi seorang suami. Apabila tertanam dalam benak seorang istri, bahwa suaminya adalah orang yang berutang jasa kepada kedua orang tuanya, dan ia juga berkewajiban untuk berbakti kepada kedua orang tuanya, maka si istri akan rela, bila sebagian waktu suaminya dicurahkan untuk kedua orang tuanya.
 
Allahu a’lam..
Wabillahit taufiq…
Konsultasi Bimbingan Islam
Ustadz Rosyid Abu Rosyidah
 
Sumber: https://bimbinganislam.com/urutan-pembagian-rezeki-suami-orang-tua-istri/

 

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

,

CELAKALAH ANAK YANG DURHAKA KEPADA ORANG TUANYA

CELAKALAH ANAK YANG DURHAKA KEPADA ORANG TUANYA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 

#BirrulWalidain

CELAKALAH ANAK YANG DURHAKA KEPADA ORANG TUANYA

Dari ABu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sunggu celaka, sungguh celaka, sungguh celaka!!”
Ada yang bertanya: “Siapa, Wahai Rasulullah?”
Beliau ﷺ bersabda:
“(Sungguh celaka) Orang yang mendapati kedua orang tuanya masih hidup, atau salah dari keduanya ketika mereka telah tua, akan tetapi tidak bisa memasukkannya ke Surga.” [HR. Muslim]
, ,

TANGGUNG JAWAB SUAMI TERHADAP ISTRI DAN ANAK-ANAKNYA

TANGGUNG JAWAB SUAMI TERHADAP ISTRI DAN ANAK-ANAKNYA
Bismillah
 
TANGGUNG JAWAB SUAMI TERHADAP ISTRI DAN ANAK-ANAKNYA
 
Pertanyaan:
Sejauh mana standar keilmuan dan keagamaan yang seharusnya dimiliki suami? Suami adalah pemimpin dalam rumah tangga dan bertanggung jawab terhadap mereka. Apakah misalnya jika istri atau anak-anak melakukan perkara yang melanggar syariat, maka suami ikut berdosa dan berhak menerima azab dari Allah, karena dia tidak menunaikan amanah?
 
Jawaban:
Alhamdulillah
 
Pertama:
Untuk mengenal ciri-ciri suami yang saleh, hendaknya dilihat jawaban terhadap soal no. 5202: https://islamqa.info/id/5202, atau 6942: https://islamqa.info/id/6942
 
Kedua:
“Seorang suami adalah pemimpin di tengah keluarganya, dan dia akan ditanya tentang orang-orang yang dipimpinnya.” Sebagaimana hadis shahih dari Rasulullah ﷺ. Maka dia bertanggung jawab untuk mendidiknya dan mendidik istrinya serta anak-anaknya. Siapa yang lalai dalam hal ini, kemudian sang istri dan anak-anaknya berbuat maksiat, maka dia berdosa. Sebabnya adalah karena dia tidak mendidik dan mengajarkan mereka. Jika dia tidak lalai dalam mendidik anak, dan kemudian keluarganya melakukan sebagian kemaksiatan, maka dia tidak berdosa. Akan tetapi dia tetap diwajibkan mengingatkan mereka setelah terjadi kemaksiatan tersebut, agar mereka meninggalkan perkara-perkara yang bertentangan dengan syariat.
 
Syekh Saleh Al-Fauzan hafizhahullah berkata:
“Pendidikan terhadap anak-anak hendaknya dimulai pada usia mumayyiz. Awali dengan pendidikan agama, berdasarkan sabda Nabi ﷺ:
 
مروا أولادكم بالصلاة لسبع واضربوهم عليها لعشر وفرقوا بينهم في المضاجع (رواه أبو داود)
 
“Perintahkan anak-anak kalian untuk shalat pada usia tujuh tahun dan pukullah pada usia sepuluh tahun. Pisahkan tempat tidur di antara mereka.” (HR. Abu Daud)
 
Jika sang anak telah mencapai usia tamyiz, maka ketika itu bapaknya diperintahkan untuk mengajarkannya dan mendidiknya dengan cara mengajarkannya Alquran dan beberapa hadis. Juga hendaknya dia mengajarkan sang anak hukum-hukum syariat yang sesuai dengan usia anak-anak. Misalnya mengajarkannya bagaimana berwudu, bagaimana shalat, kemudian mengajarkannya zikir untuk tidur, ketika bangun tidur, ketika makan, minum. Karena jika anak sudah mencapai usia tamyiz, maka dia sudah dapat memahami perintah dan larangan. Kemudian hendaknya dia juga dilarang dari perkara-perkara yang tidak layak, sambil menjelaskan bahwa hal-hal tersebut tidak dibolehkan melakukannya, seperti dusta, namimah, dan lainnya, sehingga dia terdidik dengan benar dan meninggalkan keburukan sejak kecil. Ini perkara yang sangat penting dan sering dilalaikan sebagian orang tua.
 
Banyak orang yang tidak memedulikan urusan anak-anaknya dan tidak memberinya arahan yang benar. Mereka biarkan saja anaknya tidak mengerjakan shalat tanpa mengarahkannya. Mereka biarkan anaknya tumbuh dalam kebodohan dan perbuatan yang tidak baik, serta bergaul dengan orang-orang yang buruk, hilir mudik di jalan-jalan dan mengabaikan pelajaran mereka, atau perbuatan-perbuatan negatif lainnya yang terjadi di tengah para pemuda muslim, akibat kelalaian orang tuanya. Mereka akan ditanya tentang masalah ini, karena Allah menyerahkan tanggung jawab terhadap anak-anaknya di pundak mereka. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Perintahkan anak-anak kalian untuk melakukan shalat pada saat usia mereka tujuh tahun, dan pukulah mereka pada usia sepuluh tahun.” Ini merupakan perintah dan tugas bagi orang tua. Maka siapa yang tidak memerintahkan anak-anaknya melakukan shalat, dia telah bermaksiat kepada Nabi ﷺ dan melakukan perbuatan yang diharamkan serta meninggalkan kewajiban yang diperintahkan Rasulullah ﷺ.
 
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan ditanya tentang orang-orang yang dia pimpin.” (HR. Bukhari dan Muslim).
 
Sebagian orang tua, ironisnya, sibuk dengan urusan dunianya dan tidak memedulikan anak-anaknya. Mereka tidak menyisihkan waktunya untuk anak-anaknya. Akan tetapi seluruh waktunya hanya untuk dunia. Ini merupakan bahaya yang besar dan banyak terjadi di negeri-negeri Islam yang dampaknya sangat negatif terhadap pendidikan anak-anak mereka. Maka sesungguhnya mereka tidak mendapatkan kebaikan, baik untuk agama maupun dunianya. Laa haula wa laa quwwata illa billahil’aliyyil aziim.
 
[Al-Muntaqa fi Fatawa Syekh Al-Fauzan, 5/297, 298, soal no. 421]
 
Wallahua’lam.