, ,

HARUSKAH ADIL ANTARA ORANG TUA DENGAN MERTUA?

HARUSKAH ADIL ANTARA ORANG TUA DENGAN MERTUA?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
HARUSKAH ADIL ANTARA ORANG TUA DENGAN MERTUA?
 
Pertanyaan:
Suami ana berpenghasilan besar. Beliau sering sekali mengirim uang kepada kedua orang tuanya. Ana pernah menuntut agara suami bisa adil dengan mengirim uang kepada orang tua ana juga, tapi suami menjawab dia tidak wajib menafkahi orang tua ana. Mohon penjelasannya, Ustadz.
 
Jawaban: (Oleh Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron)
 
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
 
Alhamdulillah, Ukhti dengan lega hati menanyakan apa yang menjadi keganjilan di dalam hati. Semoga jawaban ini merupakan obat penenang jiwa bagi yang mempunyai masalah.
 
Ukhti, seorang anak dituntut agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya, berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala (yang artinya):
 
“….Dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” [QS.al Isro’ : 23]
 
Allah subhanahu wa ta’ala mewajibkan kita agar berbuat baik kepada orang tua, karena mereka berdua adalah orang yang pertama kali banyak berbuat baik kepada kita, dan sebagai penyebab lahirnya kita di dunia. Berbuat baik kepada kedua orang tua beraneka ragam bentuknya. Bisa dengan membantu kebutuhan mereka berdua, terutama saat usia lanjut, terlebih lagi bila mereka tergolong orang yang sangat miskin. Dalam hal ini, tentu anaklah yang lebih tahu kebutuhan orang tuanya. Sebab selain kepada Allah, kepada siapa lagi orang tua mengharapkan bantuan, bila tidak kepada anaknya?!
 
Adapun istri, ia TIDAK BOLEH menuntut haknya yang berupa harta kepada suami, kecuali yang berhubungan dengan kebutuhan diri dan anak-anaknya sehari-hari. Perhatikanlah firman Allah subhanahu wa ta’ala berikut ini (yang artinya):
 
“Hendaklah orang yang mampu, ia memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang Allah berikan kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekadar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” [QS.ath Tholaq: 7]
 
Jika suami Ukhti mengatakan, bahwa ia TIDAK wajib menafkahi mertua, itu memang BENAR. Sebab mertua memang BUKAN menjadi tanggungannya. Akan tetapi jika suami memberi sesuatu kepada orang tua Ukhti, maka itu adalah kebaikan suami kepada keluarga Ukhti. Jika tidak, maka dia TIDAK BERDOSA, karena memang mertua itu bukanlah orang tua bagi suami.
 
Suami baru dituntut harus adil bila bila memberi sesuatu kepada sesama istrinya. Ataupun posisinya sebagai seorang ayah, harus adil bila memberi sesuatu kepada anak-anaknya. Jika istri rida atas perbuatan baik suami kepada orang tuanya, maka dia akan mendapat pahala juga, bahkan akan menjadi sarana terjalinnya hubungan baik antara mertua dengan menantunya. insyaAlloh.
 
 
Sumber:
Diketik ulang dari Majalah al Mawaddah Vol.17 Edisi ke 7, Tahun ke 2, Shofar 1430 H/Februari 2009, Hal.6-7
Dipublikasikan kembali oleh : https://alqiyamah.wordpress.com
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#adil, #mertua, #menantu, #anak laki laki, #anak perempuna, #suami suami #isteri isteri, #istri istri, #bukan tanggungan, #harus adil, #tidak harus adil, #menantu perempuan, #menantu laki laki, #birrul walidain, #birul walidain,#bakti, #bhakti,berbakti,berbhatik, #orangtua,orang tua, #ayah ibu, #bapak ibu
,

ADAKAH ORANG TUA YANG DURHAKA TERHADAP ANAKNYA?

ADAKAH ORANG TUA YANG DURHAKA TERHADAP ANAKNYA?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
#BirrulWalidain
ADAKAH ORANG TUA YANG DURHAKA TERHADAP ANAKNYA?
 
Pertanyaan:
Ibu saya sering memarahi saya ketika saya membeli barang keinginan saya apapun itu, meski itu uang dari hasil keringat saya sendiri. Dan ibu saya selalu ingin uang gajian itu dimiliki oleh ibu saya, padahal saya selalu kasih setiap bulannya. Ibu saya juga melanggar ucapannya sendiri: “Bila sudah kerja, silakan beli yang kamu inginkan.” Tetapi setelah saya membeli barang yang saya inginkan, ibu saya selalu memarahi saya, dan selalu mengungkit ketika membesarkan saya,
 
Jawaban Redaksi salamdakwah.com
 
 Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
 
Nasihat kami kepada Anda adalah untuk:
– Bersabar ketika menghadapi perangai orang tua yang demikian.
– Berbakti dan taatlah kepadanya, selama perintahnya tidak melanggar syariat.
– Tidak durhaka kepada orang tua, meskipun orang tuanya tidak bermuamalah dengan baik terhadapnya.
– Hendaknya Anda berusaha untuk meminta kerabatnya dan orang saleh yang punya kedudukan di mata orang tua untuk menasihatinya.
– Hendaknya Anda banyak berdoa, semoga Allah ta’ala memberi hidayah kepada orang tua Anda.
– Ketika Anda membeli barang yang halal dan khawatir ibu Anda akan memarahi bila tahu, maka tidak apa bila Anda menyembunyikan barang tersebut dari ibu Anda.
 
Anda TIDAK BERHAK untuk durhaka, meski orang tua berbuat demikian, sebab Allah ta’ala telah menegaskan hak orang tua yang sangat besar atas anak-anaknya. Di antaranya:
 
Surat an-Nisa’ ayat 36
 
وَاعْبُدُوا الله وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
 
“Beribadahlah hanya kepada Allah, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua”.
 
Surat al-Isra’ ayat 23
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
 
“Dan Robbmu memutuskan agar kalian jangan beribadah kepada selain Allah, dan hendaknya kalian berbuat baik kepada kedua orang tua.”
 
Surat Luqman ayat 15
 
ﻭَﺇِﻥْ ﺟَﺎﻫَﺪَﺍﻙَ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻥْ ﺗُﺸْﺮِﻙَ ﺑِﻲ ﻣَﺎ ﻟَﻴْﺲَ ﻟَﻚَ ﺑِﻪِ ﻋِﻠْﻢٌ ﻓَﻠَﺎ ﺗُﻄِﻌْﻬُﻤَﺎ ﻭَﺻَﺎﺣِﺒْﻬُﻤَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻣَﻌْﺮُﻭﻓًﺎ
 
Jika keduanya memaksamu untuk berbuat syirik dengan memersekutukan Aku yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.
 
Rasulullah ﷺ juga sudah mewanti-wanti umatnya untuk menghindari berbuat buruk dan durhaka kepada orang tua, karena itu adalah dosa besar. Beliau ﷺ bersabda:
 
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرَةَ، عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الكَبَائِرِ» قُلْنَا: بَلَى يَا رَسُولَ الله، قَالَ: ” الإِشْرَاكُ بِالله، وَعُقُوقُ الوَالِدَيْنِ، وَكَانَ مُتَّكِئًا فَجَلَسَ فَقَالَ: أَلاَ وَقَوْلُ الزُّورِ، وَشَهَادَةُ الزُّورِ،
 
Dari Abdurrahman bin Abu Bakrah dari ayahnya, dia berkata Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apakah kalian mau kuberitakan tentang tiga macam biang dosa besar?” Para sahabat menjawab: “Betul wahai Rasulullah, kami mau mendengarnya.” Rasulullah ﷺ bersabda: “Menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.” Sebelumnya beliau ﷺ bersandar, kemudian beliau ﷺ duduk dan melanjutkan pembicaraannya: “Ingatlah (jangan kau lakukan) perkataan bohong dan kesaksian palsu.” [H.R. Bukhari no.5976 dan Muslim no.87]
 
Perlu difahami, bahwa penderitaan Anda juga kadang dirasakan oleh orang lain. Bahkan sebagian mereka lebih berat merasakan penderitaan. Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah diberi aduan atas kejadian jahatnya ayah kepada anak-anaknya:” Saya punya ayah yang sudah tua. Beliau tabiatnya keras dan gila harta. Ibu kami meninggal ketika kami kecil. Kemudian beliau menikah lagi dan dikaruniai dua orang putri. Selanjutnya beliau menalaknya dan menikah lagi. Beliau bertahan dengan wanita tersebut hingga kini. Dari wanita itu beliau juga dikaruniai dua orang putri. Kami lima bersaudara dari satu ibu (yang telah meninggal), hidup dalam keadaan sangat miskin. Kami bekerja untuk dia dan istrinya tanpa upah, sampai usia kami dewasa -alhamdulillah- dan menikah. Kami sekarang tinggal di rumah milik ayah kami. Beliau sejak beberapa saat lalu tinggal di Gaza Palestina. Beliau secara rutin datang dan meminta uang sewa rumah yang kami tinggali, seakan-akan anak-anaknya adalah orang asing baginya, sedangkan keadaan kami dalam kesempitan. Selanjunya beliau meminta kepada kami harta yang kami tidak tahu dari mana kami bisa dapatkan. Apabila tidak kami penuhi, maka dia akan marah, melaknat dan mencela. Beliau berkata: “Semoga Allah murka terhadap kalian, dan aku akan terus marah hingga Hari Kiamat”. Beliau mengusir kami dari rumah dan mengadukan kami ke pemerintah, sampai-sampai pengadilan mewajibkan kami membayar denda yang besar. Beliau juga menginformasikan kepada masyarakat, bahwa kami durhaka kepada beliau. Beliau berkata, bahwa beliau sakit dan perlu uang untuk berobat, sampai-sampai kami dibebani utang sebesar 3000 Dinar lebih.
 
Beliau berkata kepada orang-orang yang meminjami kami uang: “Anak-anak saya tidak memberi saya uang dari utang yang mereka ajukan. Maka tagihlah mereka. Mereka durhaka kepada kepada saya. Ini supaya memerburuk citra kami di masyarakat. Kami memeroleh bagian warisan dari ibu kami- semoga Allah merahmati beliau- namun ayah kami mengambil semuanya. Setiap kami berusaha untuk meminta kerabat kami mengarahkannya, beliau katakan: “Mereka adalah anakku. Orang lain tidak berhak atas apa yang saya miliki”. Dia dan istrinya hidup dalam kenikmatan, sementara kami hidup dalam keadaan miskin serta tertlilit utang.
 
Apabila datang kepadanya salah seorang syaikh atau da’i, maka dia akan menangis dan melembutkan suaranya seraya berkata: “Saya sakit dan tidak mampu bekerja, sedangkan anak-anak saya durhaka kepada saya.” Beliau pun berteriak dan menangis. Apabila da’i itu keluar, maka beliau mengusir kami dari rumah dan berkata: “Semoga Allah melaknat kalian. Hatiku marah kepada kalian.”
 
Kami tidak mampu untuk menyewa rumah atau membangun rumah, sementara keadaan kami dalam kesusahan. Semoga Allah memberi kami jalan keluar. Apakah kami durhaka kepada beliau dan tidak menaatinya, bila kami tidak menuruti beliau dan meminta hak waris kami? Apa yang harus kami perbuat? Kami telah berutang ke semua teman, saudara dan yang kami kenal. Bagaimana bila kami meninggal, sedangkan utang belum terbayar dan kami dalam kesusahan?”
 
Komite menasihati: “Kami wasiatkan kepada Anda sekalian untuk bertakwa kepada Allah ta’ala dan bersabar atas rasa sakit yang diterima dari ayah Anda. Anda dalam kebaikan insyaAllah. Sering-seringlah mendoakannya. Apabila kalian bisa meminta sebagian kerabat dan orang yang punya kedudukan di mata ayah kalian untuk menjadi penengah dalam menyelesaikan masalah, maka ini bagus. Bagus juga bila kalian bisa meminta tolong orang yang agamanya bagus dan baik dalam masalah ini. Kami doakan semoga Allah:
– Memberi hidayah kebenaran kepada ayah kalian.
– Memerbaiki dirinya.
– Menyatukan hati kalian semua dalam kebaikan.
– Menjadikan kalian Rukun.”
[Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 25/268-270 fatwa no.21074]
 
Semoga Allah ta’ala memberi hidayah kepada orang tua Anda dan mengaruniakan kesabaran atas sikap orang tuanya yang tidak baik.
 
 
 
 
══════
 
Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
,

MENAFKAHI ORANG TUA VS MEMBERI BONUS UNTUK ISTRI

MENAFKAHI ORANG TUA VS MEMBERI BONUS UNTUK ISTRI
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
#BirrulWalidain

MENAFKAHI ORANG TUA VS MEMBERI BONUS UNTUK ISTRI

Pertanyaan:
Bagaimana hukum pemeliharaan orangtua, karena ayah sudah tidak bekerja, namun saya sudah beristri. Lebih utama mana antara memberikan sedikit rezeki kepada orangtua? Atau memberi keinginan istri bonus di luar sandang, pangan dan papan? Dan saya sudah tidak mengizinkan istri bekerja. Mohon penjelasannya.
 
Jawaban:
بسم الله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن واله أما بعد
 
Menafkahi orangtua itu wajib dan termasuk birrul walidayn.
 
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
 
وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
 
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan, supaya kamu jangan menyembah selain Dia. Dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah satu seorang di antara keduanya, atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada kepada keduanya perkataan ‘Ah’. Dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” [QS Al-Isra: 23]
 
Memelihara Orang Tua Itu Hukumnya Wajib
 
Jelas lebih utama pemberian kepada orang tua, karena orang tua termasuk yang wajib dinafkahi.
 
Jadi bonus-bonus kepada istri itu sifatnya tidak wajib, setelah sandang, pangan dan papan dipenuhi dan hal-hal yang berkaitan dengannya seperti mengontrakkan rumah sekaligus membayar air dan listriknya, pakaian dan makanan, termasuk membelikan gas untuk kompornya, pokoknya hal-hal yang berkaitan dengan papan/rumah, makanan atau pakaian.
 
Di luar yang tiga ini tidak menjadi kewajiban lagi, sehingga menafkahi orang tua harus didahulukan.
 
والله تعالى أعلم
 
 
Dijawab oleh Ustadz Dr. Sufyan Baswedan, Lc., MA.
 
 
══════
 
Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
,

URUTAN PEMBAGIAN REZEKI SUAMI, ANTARA ORANG TUA DAN ISTRI

URUTAN PEMBAGIAN REZEKI SUAMI, ANTARA ORANG TUA DAN ISTRI

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

#BirrulWalidain
URUTAN PEMBAGIAN REZEKI SUAMI, ANTARA ORANG TUA DAN ISTRI
 
Pertanyaan:
Bagaimana urut-urutan pembagian rezeki dalam rumah tangga, untuk istri dan orang tua (ibu kandung). Siapa terlebih dahulu untuk didahulukan?
 
Jawaban:
Bagi laki-laki (suami), maka bakti kepada ibulah yang lebih utama dibanding istri, dan ini termasuk juga dalam masalah keuangan. Namun tidak menafikan, bahwa istri merupakan tanggung jawab seorang suami.
 
Seorang Muslim diwajibkan untuk berbakti kepada orang tuanya, khususnya ibu. Seorang anak harus berusaha mendapatkan ridanya. Di antara dalil dalam masalah ini adalah:
 
1. Firman Allah ta’ala dalam surat Al-Isra’ ayat 23:
 
وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاهُمَا فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلا كَرِيمًا
 
Dan Rabb mu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “Ah”. Dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia
 
2. Hadis Nabi ﷺ:
 
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ: «أُمُّكَ» قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أُمُّكَ» قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أُمُّكَ» قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَبُوكَ»
 
Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dia berkata; “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah ﷺ sambil berkata: “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku berbakti kepadanya?” Beliau ﷺ menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi: “Kemudian siapa?” Beliau ﷺ menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi: “Kemudian siapa lagi?” Beliau ﷺ menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi: “Kemudian siapa?” Beliau ﷺ menjawab: “Kemudian ayahmu. [Muttafaqun ‘Alaihi]
 
Dari dalil diatas dapat kita ambil intinya, bahwa orang tua, dalam hal ini ibu, lebih didahulukan oleh anak laki-lakinya daripada istrinya. Apabila orang tua tidak lagi mampu berusaha, maka kewajiban anaklah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, berdasarkan hadis di atas, sekalipun anak sudah beristri atau berkeluarga. Bahkan lebih dari itu, dia harus mendahulukan hak orang tuanya daripada hak istri dan anak-anaknya.
 
Hal ini juga berdasarkan hadis tentang tiga orang yang masuk ke dalam gua, lalu gua tersebut tertutup dengan batu, sehingga tidak bisa keluar darinya. Lalu ketiga orang tersebut berdoa kepada Allah dengan cara tawassul dengan amal-amal saleh mereka. Salah satu di antara mereka bertawassul dengan amal mengutamakan hak kedua orang tuanya, lebih dari hak anak-anak dan istrinya. [Muttafaqun ‘Alaihi]
 
Dalam hal ini, suami memikul dua kewajiban nafkah, nafkah istri dan nafkah orang tua. Tunaikan dua kewajiban ini secara berimbang sebatas kemampuan. Bahkan jika tidak mungkin untuk menyelaraskan dua hal ini, maka harus mendahulukan/mengutamakan hak orang tua daripada hak istri dan anak-anak.
 
Meskipun demikian, seorang laki-laki atau suami wajib untuk berbuat baik kepada istri dan kedua orang tuanya. Ia pun wajib untuk memenuhi hak-hak mereka. ini didasari oleh nash-nash yang shahih dan jelas. Seorang laki-laki tidak boleh membahagiakan satu pihak dengan cara menjadikan pihak lain bersedih. Ia harus berusaha sebisa mungkin membahagiakan pihak istri dan pihak orang tuanya secara bersamaan.
 
Dan seharusnya pihak orang tua dan pihak istri saling pengertian dan tidak saling berebut pelayanan dan perhatian dari sang anak/sang suami. Orang tua seharusnya memahami, bahwa anak laki-laki mereka sekarang tidak sendiri lagi dan sudah memiliki tanggung jawab yang harus ia urus, sehingga mereka rela bila sebagian perhatian anaknya sudah teralihkan dari mereka kepada yang lain. Istri juga seharusnya juga memahami, bahwa laki-laki yang menikahinya adalah putra dari dua orang tua yang telah sangat berjasa membesarkan, mengasuh dan mendidik putra tersebut, hingga ia siap untuk menjadi seorang suami. Apabila tertanam dalam benak seorang istri, bahwa suaminya adalah orang yang berutang jasa kepada kedua orang tuanya, dan ia juga berkewajiban untuk berbakti kepada kedua orang tuanya, maka si istri akan rela, bila sebagian waktu suaminya dicurahkan untuk kedua orang tuanya.
 
Allahu a’lam..
Wabillahit taufiq…
Konsultasi Bimbingan Islam
Ustadz Rosyid Abu Rosyidah
 
Sumber: https://bimbinganislam.com/urutan-pembagian-rezeki-suami-orang-tua-istri/

 

══════

Mari sebarkan dakwah sunnah dan meraih pahala. Ayo di-share ke kerabat dan sahabat terdekat..!
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: @NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

,

CELAKALAH ANAK YANG DURHAKA KEPADA ORANG TUANYA

CELAKALAH ANAK YANG DURHAKA KEPADA ORANG TUANYA

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 

#BirrulWalidain

CELAKALAH ANAK YANG DURHAKA KEPADA ORANG TUANYA

Dari ABu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sunggu celaka, sungguh celaka, sungguh celaka!!”
Ada yang bertanya: “Siapa, Wahai Rasulullah?”
Beliau ﷺ bersabda:
“(Sungguh celaka) Orang yang mendapati kedua orang tuanya masih hidup, atau salah dari keduanya ketika mereka telah tua, akan tetapi tidak bisa memasukkannya ke Surga.” [HR. Muslim]
, ,

TANGGUNG JAWAB SUAMI TERHADAP ISTRI DAN ANAK-ANAKNYA

TANGGUNG JAWAB SUAMI TERHADAP ISTRI DAN ANAK-ANAKNYA
Bismillah
 
TANGGUNG JAWAB SUAMI TERHADAP ISTRI DAN ANAK-ANAKNYA
 
Pertanyaan:
Sejauh mana standar keilmuan dan keagamaan yang seharusnya dimiliki suami? Suami adalah pemimpin dalam rumah tangga dan bertanggung jawab terhadap mereka. Apakah misalnya jika istri atau anak-anak melakukan perkara yang melanggar syariat, maka suami ikut berdosa dan berhak menerima azab dari Allah, karena dia tidak menunaikan amanah?
 
Jawaban:
Alhamdulillah
 
Pertama:
Untuk mengenal ciri-ciri suami yang saleh, hendaknya dilihat jawaban terhadap soal no. 5202: https://islamqa.info/id/5202, atau 6942: https://islamqa.info/id/6942
 
Kedua:
“Seorang suami adalah pemimpin di tengah keluarganya, dan dia akan ditanya tentang orang-orang yang dipimpinnya.” Sebagaimana hadis shahih dari Rasulullah ﷺ. Maka dia bertanggung jawab untuk mendidiknya dan mendidik istrinya serta anak-anaknya. Siapa yang lalai dalam hal ini, kemudian sang istri dan anak-anaknya berbuat maksiat, maka dia berdosa. Sebabnya adalah karena dia tidak mendidik dan mengajarkan mereka. Jika dia tidak lalai dalam mendidik anak, dan kemudian keluarganya melakukan sebagian kemaksiatan, maka dia tidak berdosa. Akan tetapi dia tetap diwajibkan mengingatkan mereka setelah terjadi kemaksiatan tersebut, agar mereka meninggalkan perkara-perkara yang bertentangan dengan syariat.
 
Syekh Saleh Al-Fauzan hafizhahullah berkata:
“Pendidikan terhadap anak-anak hendaknya dimulai pada usia mumayyiz. Awali dengan pendidikan agama, berdasarkan sabda Nabi ﷺ:
 
مروا أولادكم بالصلاة لسبع واضربوهم عليها لعشر وفرقوا بينهم في المضاجع (رواه أبو داود)
 
“Perintahkan anak-anak kalian untuk shalat pada usia tujuh tahun dan pukullah pada usia sepuluh tahun. Pisahkan tempat tidur di antara mereka.” (HR. Abu Daud)
 
Jika sang anak telah mencapai usia tamyiz, maka ketika itu bapaknya diperintahkan untuk mengajarkannya dan mendidiknya dengan cara mengajarkannya Alquran dan beberapa hadis. Juga hendaknya dia mengajarkan sang anak hukum-hukum syariat yang sesuai dengan usia anak-anak. Misalnya mengajarkannya bagaimana berwudu, bagaimana shalat, kemudian mengajarkannya zikir untuk tidur, ketika bangun tidur, ketika makan, minum. Karena jika anak sudah mencapai usia tamyiz, maka dia sudah dapat memahami perintah dan larangan. Kemudian hendaknya dia juga dilarang dari perkara-perkara yang tidak layak, sambil menjelaskan bahwa hal-hal tersebut tidak dibolehkan melakukannya, seperti dusta, namimah, dan lainnya, sehingga dia terdidik dengan benar dan meninggalkan keburukan sejak kecil. Ini perkara yang sangat penting dan sering dilalaikan sebagian orang tua.
 
Banyak orang yang tidak memedulikan urusan anak-anaknya dan tidak memberinya arahan yang benar. Mereka biarkan saja anaknya tidak mengerjakan shalat tanpa mengarahkannya. Mereka biarkan anaknya tumbuh dalam kebodohan dan perbuatan yang tidak baik, serta bergaul dengan orang-orang yang buruk, hilir mudik di jalan-jalan dan mengabaikan pelajaran mereka, atau perbuatan-perbuatan negatif lainnya yang terjadi di tengah para pemuda muslim, akibat kelalaian orang tuanya. Mereka akan ditanya tentang masalah ini, karena Allah menyerahkan tanggung jawab terhadap anak-anaknya di pundak mereka. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Perintahkan anak-anak kalian untuk melakukan shalat pada saat usia mereka tujuh tahun, dan pukulah mereka pada usia sepuluh tahun.” Ini merupakan perintah dan tugas bagi orang tua. Maka siapa yang tidak memerintahkan anak-anaknya melakukan shalat, dia telah bermaksiat kepada Nabi ﷺ dan melakukan perbuatan yang diharamkan serta meninggalkan kewajiban yang diperintahkan Rasulullah ﷺ.
 
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan ditanya tentang orang-orang yang dia pimpin.” (HR. Bukhari dan Muslim).
 
Sebagian orang tua, ironisnya, sibuk dengan urusan dunianya dan tidak memedulikan anak-anaknya. Mereka tidak menyisihkan waktunya untuk anak-anaknya. Akan tetapi seluruh waktunya hanya untuk dunia. Ini merupakan bahaya yang besar dan banyak terjadi di negeri-negeri Islam yang dampaknya sangat negatif terhadap pendidikan anak-anak mereka. Maka sesungguhnya mereka tidak mendapatkan kebaikan, baik untuk agama maupun dunianya. Laa haula wa laa quwwata illa billahil’aliyyil aziim.
 
[Al-Muntaqa fi Fatawa Syekh Al-Fauzan, 5/297, 298, soal no. 421]
 
Wallahua’lam.
 
 
, ,

KEPADA SIAPA SEHARUSNYA AKU BERBAKTI: SUAMI ATAU ORANG TUA?

KEPADA SIAPA SEHARUSNYA AKU BERBAKTI: SUAMI ATAU ORANGTUA?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
 #BirrulWalidain, #MuslimahSholihah
 
KEPADA SIAPA SEHARUSNYA AKU BERBAKTI: SUAMI ATAU ORANG TUA?
Pertanyaan:
Ana (saya) sudah 6 bulan menikah dan harus tinggal di rumah mertua sebagai bentuk bakti ke suami. Namun selama ini ana merasa resah, karena orang tuanya terlalu sering intervensi, sehingga ana tidak bisa bersikap dewasa. Ana hanya mengikuti suami karena bakti istri adalah ke suami, dan bakti suami kepada orang tuanya. Apakah Fathimah putri Rasulullah ﷺ juga demikian? Bagaimana bakti ana ke orang tua sendiri? Sekarang apa yang harus ana lakukan?
 
Jawaban:
Kami akan menjawabnya melalui poin-poin berikut ini:
 
1. Tinggal di rumah orang tua suami (mertua), terlebih jika suami belum mampu untuk memberi tempat tinggal untuk istri, dalam pandangan Islam boleh-boleh saja dan tidak ada larangan. Istri sepatutnya taat dan patuh kepada suami dalam kebaikan, selama sang suami belum memerintahkan kemaksiatan.Maka apabila ada perintah untuk berbuat maksiat, sang istri wajib menolaknya. Nabi ﷺ bersabda:
لاَطَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِى مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ (رواه الترمذي )
 
Tidak ada ketaatan bagi seorang hamba ketika diperintah untuk bermaksiat kepada Allah [HR. at-Tirmidzi]
 
2. Adapun sikap intervensi mertua, selagi bentuk campur tangan pihak mertua adalah berbentuk nasihat dan masukan positif untuk kebaikan bersama, mengapa harus ditolak? Bukankah berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran adalah perkara yang diperintahkan oleh Allah Azza wa Jalla?.Saling berwasiat dalam hal di atas adalah sarana yang bisa mengeluarkan sekaligus menyelamatkan kita dari kerugian di dunia dan Akhirat, sebagaimana telah tertuang dalam surat al-‘Ashr 1-3. Allah Azza wa Jalla berfirman:
 
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
 
  • Demi masa.
  • Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
  • Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati, supaya metaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.
 
3. Sejatinya seorang menantu jangan terburu-buru untuk berburuk sangka terhadap sikap mertua. Sebab orang tua suami juga merupakan orang tua Anda. Maka berusahalah untuk dapat berbuat baik kepada orang tua suami. Selagi bentuk intervensi mertua adalah sebagai nasihat, mengapa kita harus merasa resah atau malah menolaknya? Setiap orang tua ingin melihat anaknya bahagia dan dapat membina keluarga yang sakinah, mawadah dan rahmah. Bahkan terkadang dalam pandangan syariat, jika orang tua menyuruh anak laki-lakinya untuk menceraikan istrinya dengan berbagai alasan yang syari (jika memang ada indikasi bahwa sikap istri bisa mempengaruhi agama dan akhlak suami), maka suami harus menceraikan istrinya. Terdapat riwayat dalam Shahih al-Bukhari yang mengisahkan, bahwa Nabi Ibrahim Alaihissallam menyuruh putranya Ismail Alaihissallam untuk menceraikan istrinya tatkala melihat adanya keburukan yang mempengaruhi hubungan rumah tangga anaknya. Maka Ismail pun menceraikan istrinya.
 
Demikian pula dalam riwayat Abu Dawud dan at-Tirmidzi dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu anhuma, dia berkata:
 
Dahulu aku punya istri yang sangat aku cintai. Namun (ayahku) ‘Umar bin Khatthab tidak menyukainya dan berkata padaku: “Ceraikan dia (istriku)”. Namun, aku enggan menceraikannya. Akhirnya, ‘Umar datang menghadap Nabi ﷺ seraya menceritakan kejadian tadi. Lalu Nabi ﷺ bersabda: “Ceraikan dia (istrimu)”.
 
Itu semua dapat terlaksana, jika orang tua suami merupakan orang yang saleh dan baik, serta tahu akan munculnya indikasi yang bisa merugikan kelangsungan hubungan rumah tangga, jika suami tetap mempertahankan istrinya, sementara si istri memiliki perangai atau akhlak yang buruk. Apabila dibiarkan malah merugikan dan merusak masa depan rumah tangga anaknya.
 
4. Berusahalah untuk bisa bermuamalah dengan baik, tanpa kecuali kepada siapapun, terlebih orng tua suami. Hal ini tertuang dalam wasiat Nabi ﷺ kepada Muadz bin Jabal radhiyallahu anhu:
 
وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ (رواه الترمذي)
 
Pergaulilah orang dengan akhlak yang baik. [HR. Tirmidzi]
 
5. Kalaupun seandainya muncul sikap buruk dari mertua yang kita kurang suka dan tidak bisa menerimanya, maka bersabarlah atas segala kekurangan dan kelemahan yang dimiliki orang tua suami (mertua). Tetap berusaha membalas dengan sikap baik dan hormat kepadanya. Pada dasarnya, sikap baik kita kepada orang lain, akibatnya akan kembali kepada kita juga. Berbuat baiknya kita kepada orang lain itu berarti kita berbuat baik untuk diri sendiri. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
 
إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا
 
Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, [QS Al-Isra`/17:7]
 
6. Adapun keinginan istri untuk dapat berbakti kepada orang tuanya sendiri, itu boleh-boleh saja. Dan seorang istri berhak meminta izin dari suami untuk bersilaturahmi kepada kedua orang tuanya. Maka jika seorang istri meminta izin dari suami untuk bersilaturrahmi kepada orang tuanya, sang suami harus memberikan izin kepada istrinya untuk yang urusan demikian ini. Selagi kunjungan istri kepada orang tuanya tidak menimbulkan madharat, baik untuk agama maupun akhlaknya. Demikian pula sebaliknya, jika kepergian seorang istri ke rumah orang tuanya justru menimbulkan madharat untuk agama dan akhlaknya, maka suami berhak melarang istri untuk tidak pergi. Sebagaimana yang dialami ‘Aisyah radhiyallahu anhuma, beliau meminta izin kepada Rasulullah ﷺ untuk pergi ke rumah orang tuanya pada peristiwa Hadis Ifki (tuduhan keji yang dilontarkan kepada ‘Aisyah radhiyallahu anhuma). [HR. al-Bukhari dan Muslim]
 
Adapun jika suami melarang istri untuk ziarah ke rumah orang tuanya, dan suami malah ingin memutuskan hubungan silaturrahmi, maka istri boleh pergi, walau tanpa sepengetahuan suami. Sebab memutuskan hubungan silaturrahmi adalah dosa besar yang sangat besar yang diharamkan oleh Islam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
 
فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَىٰ أَبْصَارَهُمْ
 
Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa, kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka Itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikannya telinga mereka dan dibutakannya penglihatan mereka. [Muhammad/47:22-23].
 
7. Jika memungkinkan mengajak musyawarah suami tentang keinginan untuk miliki rumah sendiri, cobalah untuk mengajaknya bicara tentang hal ini. Tentunya tetap dalam kondisi tidak memaksa dan menekan suami, jika memang penghasilan suami pas-pasan. Allah subhanahu wa ta’ala tidak membebani hamba-Nya di luar kemampuannya:
 
لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ ۖ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ ۚ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا ۚ سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا
 
Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang, melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan. [QS Ath-Thalaq/65:7].
 
8. Perbanyak doa kepada Allah Azza wa Jalla untuk diberi kemudahan dalam segala urusan, dan dijauhkan dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Wallahu a’lam. (Ustadz Muhammad Qosim)
 
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XII/1429H/2008M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
 
 
, ,

APAKAH MEMUTUSKAN SHALAT UNTUK MENJAWAB PANGGILAN ORANG TUA?

APAKAH MEMUTUSKAN SHALAT UNTUK MENJAWAB PANGGILAN ORANG TUA?

 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#BirrulWalidain

APAKAH MEMUTUSKAN SHALAT UNTUK MENJAWAB PANGGILAN ORANG TUA?

Pertanyaan:

Ketika saya kecil mereka mengatakan kepadaku: “Kalau kamu memulai shalat, kemudian mendengar salah seorang dari orang tua memanggilmu, maka putuskan shalat secara langsung, dan pergi untuk memenuhi panggilan. Kemudian kembali mengulangi shalat. Apakah perkataan ini ada sisi benarnya?

Jawaban:

Alhamdulillah

Kalau seorang Muslim menunaikan shalat wajib, maka dia TIDAK BOLEH memutuskan shalat untuk memenuhi panggilan bapak atau ibunya. Akan tetapi memberi isyarat peringatan kepada orang yang memanggilnya, bahwa dia sedang sibuk shalat, baik dengan bertasbih, atau mengeraskan suara dengan bacaan, atau semisal itu.

Dianjurkan juga memercepat shalatnya. Ketika selesai, maka penuhi panggilannya. Telah diriwayatkan oleh Bukhori, (707) dari Abu Qatadah radhiallahu anhu, dari Nabi ﷺ bersabda:

إِنِّي لَأَقُومُ فِي الصَّلَاةِ أُرِيدُ أَنْ أُطَوِّلَ فِيهَا فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ فَأَتَجَوَّزُ فِي صَلَاتِي كَرَاهِيَةَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمِّهِ

“Sungguh saya menunaikan shalat, saya ingin memanjangkannya. Kemudian saya mendengar tangisan bayi. Maka saya persingkat shalatku, khawatir memberatkan ibunya.”

Hal ini menunjukkan dianjurkannya memersingkat dan memercepat dalam shalat, karena ada sesuatu yang tiba-tiba ada mengganggu konsentrasi orang shalat.

Kalau shalat sunah, kalau dia mengetahui bahwa ayah atau ibunya tidak mengapa baginya untuk menyempurnakan shalatnya, maka sempurnakan. Kemudian menjawabnya setelah selesai. Kalau dia mengetahui bahwa keduanya tidak menyukai baginya untuk menyempurnakan (shalat)nya dan memerlambatnya, maka harus diputus,dan menjawab untuk keduanya. Hal itu tidak mengapa, kemudian MENGULANGI shalat dari awal.

Diriwayatkan Bukhori, (3436) dan Muslim, (2550) redaksi darinya dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi ﷺ, sesungguhnya beliau bersabda:

كَانَ جُرَيْجٌ يَتَعَبَّدُ فِي صَوْمَعَةٍ فَجَاءَتْ أُمُّهُ فَقَالَتْ : يَا جُرَيْجُ أَنَا أُمُّكَ كَلِّمْنِي . فَصَادَفَتْهُ يُصَلِّي فَقَالَ : اللَّهُمَّ أُمِّي وَصَلَاتِي ، فَاخْتَارَ صَلَاتَهُ ، فَرَجَعَتْ ثُمَّ عَادَتْ فِي الثَّانِيَةِ فَقَالَتْ : يَا جُرَيْجُ أَنَا أُمُّكَ فَكَلِّمْنِي . قَالَ اللَّهُمَّ أُمِّي وَصَلَاتِي ، فَاخْتَارَ صَلَاتَهُ . فَقَالَتْ : اللَّهُمَّ إِنَّ هَذَا جُرَيْجٌ وَهُوَ ابْنِي وَإِنِّي كَلَّمْتُهُ فَأَبَى أَنْ يُكَلِّمَنِي ، اللَّهُمَّ فَلَا تُمِتْهُ حَتَّى تُرِيَهُ الْمُومِسَاتِ . قَالَ : وَلَوْ دَعَتْ عَلَيْهِ أَنْ يُفْتَنَ لَفُتِنَ … (الحديث)

“Dahulu Juraij berdibadah di tempat ibadahnya. Kemudian ibunya datang dan memanggilnya seraya mengatakan: “Wahai Juraij, saya ibumu, tolong bicara denganku. Bertepatan saat itu, dia dalam kondisi shalat. Maka dia berkata dalam hati: “Ya Allah apakah ibuku atau shalatku?” Maka dia memilih shalatnya. Kemudian (ibunya) kembali, dan balik lagi pada yang kedua seraya mengatakan: “Wahai Juraij, saya ibumu tolong bicara denganku.” Dia mengatakan: “Ya Allah apakah ibuku atau shalatku?” Dan dia memilih shalatnya. Kemudian ibunya mengatakan: “Ya Allah, sesunggunya adalah anaku, sungguh saya memanggilnya dan dia enggan berbicara denganku. Ya Allah, jangan engkau wafatkan sebelum diperlihatkan wanita pelacur.” Beliau (Nabi) berkata: “Kalau dia berdoa agar terkena fitnah, maka dia akan terfitnah. Alhadits.

An-Nawawwi rahimahullah membuat bab ‘Bab Taqdim Birrul Walidaini ‘Ala Tatowwu’ Bis Shalat Wa Goiruha (Bab Mendahulukan Bakti Kedua Orang Tua Dibandingkan dengan Shalat Sunah dan Lainnya).

An-Nawawi rahimahullah mengatakan: “Para ulama mengatakan: ‘Yang benar baginya adalah menjawabnya, karena ia dalam shalat sunah. Melanjutkan shalat sunah itu tidak diwajibkan, sementara menjawab ibu dan berbakti kepadanya itu wajib. Dan durhaka kepadanya itu haram. Atau memungkinkan baginya memersingkat shalat dan menjawabnya, kemudian kembali menunaikan shalatnya.” [Silakan lihat ‘Fathul Bari’ karangan Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah. (Al-Mausu’ah Fiqhiyan, 20/342)].

Terdapat dalam ‘Dur Mukhtar, dari kitab Hanafiyah (2/54), “Kalau salah satu dari kedua orang tua memanggilanya dalam shalat wajib, maka tidak menjawabnya, kecuali kalau meminta pertolongan.” maksudnya meminta pertolongan dan bantuan.

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan: “Kedua orang tua, kalau memanggil Anda, maka seharusnya menjawabnya. Akan tetapi dengan syarat, bukan shalat wajib. Kalau dalam shalat wajib, TIDAK BOLEH menjawabnya. Akan tetapi kalau sunah, boleh menjawabnya. Kecuali kalau keduanya dapat memerkirakan urusannya, bahwa keduanya mengetahui Anda dalam shalat dan memberi uzur kepada Anda, maka di sini Anda memberi isyarat kepadanya, bahwa Anda dalam shalat, baik dengan berdehem, atau mengucapkan Subhanallah, atau meninggikan suara Anda dari ayat yang dibacanya, atau doa yang dibacanya, agar orang yang memanggil merasakan, bahwa Anda dalam kondisi shalat. Sementara kalau selain itu yang tidak memberikan uzur dan menginginkan ucapannya itu yang didahulukan, maka putuskan shalat dan berbicaralah dengannya. Adapun kalau shalat wajib, maka tidak boleh seorang pun memutuskannya, kecuali dalam kondisi terpaksa. Seperti Anda melihat seseorang khawatir binasa terjatuh di dalam sumur atau di sungai atau api. Disini Anda memutus shalat Anda karena terpaksa. Sementara selain itu, tidak dibolehkan memutus shalat wajib.” [Syarh Riyadus Sholihin, hal. 302 dengan diringkas] Wallahu a’lam

Silakan merujuk jawaban soal no. 65682.

 

Sumber:  https://islamqa.info/id/151653

, ,

HUKUM MENJAWAB PANGGILAN ORANG TUA KETIKA KITA SHALAT

HUKUM MENJAWAB PANGGILAN ORANG TUA KETIKA KITA SHALAT

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#BirrulWalidain

HUKUM MENJAWAB PANGGILAN ORANG TUA KETIKA KITA SHALAT

P e r t a n y a a n:
Apakah seseorang harus menjawab (panggilan) ibunya ketika shalat?

J a w a b a n:
Apabila seseorang telah mulai mengerjakan shalat, maka jika shalatnya wajib, TIDAK BOLEH memutus shalat tersebut untuk menjawab panggilan ibu atau bapaknya.
Adapun jika shalat sunnah, maka BOLEH membatalkan shalatnya untuk menjawab panggilan kedua orang tuanya, jika memang hal itu diperlukan.

[Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts Al-Ilmiyah wal Ifta’ no. 20072]

 

Sumber: Twitter @IslamDiaries

BERBAKTI KEPADA ORANG TUA

BERBAKTI KEPADA ORANG TUA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

#BirrulWalidain

BERBAKTI KEPADA ORANG TUA

As Syaikh Muhammad bin Solih Al Utsaimin menjelaskan:

“Jika kita perhatikan keadaan manusia pada saat ini, maka kita akan mendapatkan kebanyakan dari mereka tidak berbuat baik kepada orang tua. Bahkan mereka durhaka terhadap keduanya.

Engkau dapati mereka berbuat baik kepada teman-temannya, dan tidak bosan untuk duduk-duduk bersama mereka.

Namun jika mereka duduk dengan ayahnya atau ibunya satu jam saja dari satu hari yang ada, niscaya engkau akan dapati mereka duduk meliuk-liuk, seakan-akan dia duduk di atas bara.

>> INI BUKAN ANAK YANG BERBAKTI.

Hanya saja anak yang berbakti adalah:

1) Orang yang dadanya lapang untuk ibu dan ayahnya.
2) Melayani keduanya.
3) Semangat dan memerhatikan dengan sangat terhadap apa yang menjadi keridaan mereka berdua.

نسأل الله السلامة والعافية

[Syarah Al Aqidah Al Washitiyah; (3/121)]

(Fawwaz bin Ali Al-Madkhalî)

 

Sumber: Twitter @IslamDiaries