,

ADAB KETIKA HENDAK MENGETUK PINTU

ADAB KETIKA HENDAK MENGETUK PINTU
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
ADAB KETIKA HENDAK MENGETUK PINTU
 
Pada zaman sahabat dulu mereka sangat menjaga adab ketika hendak bertamu, sebagaimana diceritakan oleh Anas bin Malik radhiallahu’anhu:
“Kami di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetuk pintu dengan kuku-kuku.” [HR. Bukhari dalam Adabul Mufrod bab Mengetuk Pintu]
 
Sumber: Radio Muslim Jogja
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#adabakhlak, #ketukpintu, #ketokpintu, #tatacara, #cara, #mengetukpintu, #adabketukpintu, #pakaikukukuku
, ,

BOLEHKAH KITA MINUM SAMBIL BERDIRI? BAGAIMANA DENGAN MAKAN?

BOLEHKAH KITA MINUM SAMBIL BERDIRI? BAGAIMANA DENGAN MAKAN?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
BOLEHKAH KITA MINUM SAMBIL BERDIRI? BAGAIMANA DENGAN MAKAN?
 
Pertanyaan:
Berikut ini adalah hadis-hadis yang membolehkan dan melarang minum sambal berdiri:
 
Hadis yang Memperbolehkan:
1. Dari Ibnu ‘Abbas ia berkata: “Saya pernah memberi minuman kepada Nabi ﷺ dari sumur Zamzam, kemudian beliau ﷺ meminumnya dengan berdiri.” [HR Bukhari dan Muslim]
2. Dari An Nazzal bin Sabrah ia berkata, bahwa ‘Ali bin Abi Thalib masuk ke pintu gerbang masjid, kemudian minum sambil berdiri serta berkata: ”Sesungguhnya saya pernah melihat Rasulullah berbuat sebagaimana apa yang kamu sekalian lihat saya perbuat ini (minum dengan berdiri).” [HR Bukhari]
 
Hadis yang Melarang:
1. Dari Anas bin Malik dari Rasulullah ﷺ, bahwasanya beliau melarang seseorang untuk minum dengan berdiri. Qotadah bertanya kepada Anas: “Bagaimana kalau makan?” Anas menjawab: “Kalau makan dengan berdiri itu lebih jelek dan lebih buruk.” [HR Muslim]
2. Dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: “Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kamu sekalian minum dengan berdiri. Barang siapa yang terlupa, maka hendaklah ia memuntahkannya.” [HR. Muslim]
 
Yang menjadi pertanyaan, apakah kita diperbolehkan minum sambil berdiri? Atau disunnahkan minum sambil berdiri khusus untuk air Zam-zam saja dan selainnya tidak?
 
Jawaban:
Jumhur (Mayoritas) Ulama berpendapat bolehnya minum sambil berdiri karena Nabi ﷺ melakukannya. Bahkan disebutkan dalam Al Muwaththa’, bahwa Umar, Utsman dan Ali radhiyallaahu ‘anhum konon minum sambil berdiri. Demikian pula Aisyah dan Sa’ad (bin Abi Waqqash) menganggap hal tersebut tidak mengapa. Adapun hadis-hadis yang melarang, maka maksudnya bukan haram namun makruh. Hal ini disimpulkan dengan menjama’ (menggabungkan) hadis-hadis yang zahirnya kontradiksi dalam masalah ini. Intinya, minum sambil berdiri hukumnya BOLEH, tapi lebih baik dilakukan sambil duduk. Pendapat ini dinyatakan oleh Al Khattabi, Al Baghawi, Al Qadhi ‘Iyadh, Al Qurthubi, An Nawawi, Ibnu Hajar dll. [Lihat: Al Fajrus Saathi’ ‘alash Shahihil Jaami’ 8/22-23]
 
Adapun hadis riwayat Muslim dari Anas bin Malik yang mengatakan bahwa, “Barang siapa lupa melakukannya, maka hendaklah ia memuntahkannya”, maka dalam sanadnya ada perawi bernama ‘Umar bin Hamzah yang didha’ifkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Ma’ien dan An Nasa’i, dan hadis ini mengandung lafal yang munkar, yaitu perintah untuk memuntahkannya bagi yang lupa. Singkatnya, bagian awal hadis ini Shahih, namun bagian akhirnya tidak demikian (yaitu perintah untuk memuntahkan bagi yang lupa). [Hal ini dinyatakan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah hadis no 177, dan Silsilah Adh Dha’ifah hadis no 927]
 
Demikian pula halnya dengan makan sambil berdiri, Ibnu Hajar dalam Fathul Baari menukil dari Al Maaziri yang mengatakan, bahwa TIDAK ADA khilaf di kalangan ulama akan bolehnya makan sambil berdiri. Sedangkan yang lebih afdhal ialah makan sambil duduk.
 
Wallaahu ta’ala a’lam
 
Dijawab oleh: Ustadz Dr. Sufyan Baswedan Lc, MA
@sufyanbaswedan
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#hukum, #bolehkah, #minumsambilberdiri, #makansambilberdiri, #bolehnya, #adabakhlak, #makanan, #minuman
, ,

MENGUCAPKAN SALAM PADA RUMAH KOSONG

MENGUCAPKAN SALAM PADA RUMAH KOSONG
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

MENGUCAPKAN SALAM PADA RUMAH KOSONG

 

Kita diperintahkan mengucapkan salam pada rumah yang akan kita masuki sebagaimana disebutkan dalam ayat:

 
فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً
.
“Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah- rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik.” [QS. An Nur: 61]
 
Sedangkan mengucapkan salam pada rumah yang tidak berpenghuni atau tidak ada seorang pun di rumah tersebut tidaklah wajib, namun hanya disunnahkan saja.
 
Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata:
 
إذا دخل البيت غير المسكون، فليقل: السلام علينا، وعلى عباد الله الصالحين
.
“Jika seseorang masuk rumah yang tidak didiami, maka ucapkanlah “Assalamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibadillahish sholihiin
 
Artinya:
Salam bagi diri kami dan salam bagi hamba Allah yang saleh. [Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Adabul Mufrod 806/ 1055. Sanad hadis ini Hasan sebagaimana dikatakan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Al Fath, 11: 17]
 
Hal di atas diucapkan ketika rumah kosong. Namun jika ada keluarga atau pembantu di dalamnya, maka ucapkanlah “Assalamu ‘alaikum”. Namun jika memasuki masjid, maka ucapkanlah “Assalamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibadillahish sholihiin”. Sedangkan Ibnu ‘Umar menganggap salam yang terakhir ini diucapkan ketika memasuki rumah kosong.
 
Imam Nawawi rahimahullah dalam kitab Al Adzkar berkata: “Disunnahkan bila seseorang memasuki rumah sendiri untuk mengucapkan salam, meskipun tidak ada penghuninya. Yaitu ucapkanlah “Assalamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibadillahish sholihiin”. Begitu pula ketika memasuki masjid, rumah orang lain yang kosong, disunnahkan pula mengucapkan salam: “Assalamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibadillahish sholihiin. Assalamu ‘alaikum ahlal bait wa rahmatullah wa barakatuh”. [Al Adzkar, hal. 468-469]
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#adabakhlak, #ucapan, #ucapkan, #mengucapkan, #doazikir, #doa, #zikir, #dzikir, #rumahkosong, #tidakadapenghunihukum, #tatacara, #cara #masukrumah
, ,

CATATAN MALAIKAT MENUNGGUMU DI PINTU-PINTU MASJID SETIAP JUMAT

CATATAN MALAIKAT MENUNGGUMU DI PINTU-PINTU MASJID SETIAP JUMAT
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
CATATAN MALAIKAT MENUNGGUMU DI PINTU-PINTU MASJID SETIAP JUMAT
 
Rasulullah ﷺ bersabda:
 
إذا كان يومُ الجمعةِ كان على كلِّ بابٍ من أبوابِ المسجدِ الملائكة يكتبون الأولَ فالأولَ، فإذا جلس الإمامُ طوَوُا الصحفَ وجاؤوا يستمعون الذكرَ.
“Apabila Jumat tiba, maka akan ada para malaikat di setiap pintu-pintu masjid. Mereka akan mencatat orang yang pertama kali datang, lalu berikutnya, dan berikutnya, sampai apabila Imam telah duduk di mimbarnya, mereka pun melipat catatan-catatan tersebut. Lantas mereka pun datang dan ikut mendengarkan khutbah.” [HR. Bukhari 3211]
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#shalat, #sholat, #solat, #salat, #catatanmalaikat, #menunggudipintupintumasjid, #jamaah, #berjamaahkeutamaan, #fadhilah, #datangawal
,

MANISNYA BUAH MENJAGA LISAN

MANISNYA BUAH MENJAGA LISAN
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
MANISNYA BUAH MENJAGA LISAN
 
Rasulullah ﷺ pernah ditanya oleh seorang sahabat:”Wahai Rasulullah, sesungguhnya Fulanah rajin shalat malam, rajin pula shaum pada siang hari dan gemar bersedekah, tapi dia menyakiti tetangganya dengan lisannya! Maka beliau ﷺ menjawab:
 
لاَ خَيْرَ فِيْهَا هِيَ مِنْ أهْلِ النَّارِ. قَالَ : وَ فُلاَنَة تُصَلِّيْ المَكْتُوْبَةَ وَ تَصَدَّقُ بِأثْوَارِ مِنَ الأقِطِ وَ لاَ يُؤْذِيْ أحَدًا ؟ فَقَالَ: هِيَ مِنْ أهْلِ الجَنَّةِ
 
Tidak ada kebaikan padanya, dia termasuk penghuni Neraka”. Lalu sahabat itu bertanya lagi:”Fulanah (wanita) yang lain rajin shalat fardhu, gemar bersedekah dengan sepotong keju dan tidak pernah menyakiti seorang pun. Maka beliau ﷺ menjawab:”Dia termasuk penduduk Surga. [HR Bukhari dalam Al Adab Al Mufrad no: 119 dan dishahihkan oleh Al Albani. Lihat Min Adabil Islam hal. 32]
Lisan merupakan salah satu nikmat Allah yang diberikan kepada kita. Lisan merupakan anggota badan manusia yang cukup kecil jika dibandingkan anggota badan yang lain. Akan tetapi ia dapat menyebabkan pemiliknya ditetapkan sebagai penduduk Surga, atau bahkan dapat menyebabkan pemiliknya dilemparkan ke dalam api Neraka.
 
Oleh karena itu, sudah sepantasnya setiap Muslim memperhatikan apa yang dikatakan oleh lisannya, karena bisa jadi seseorang menganggap suatu perkataan hanyalah kata-kata yang ringan dan sepele, namun ternyata hal itu merupakan sesuatu yang mendatangkan murka Allah taala.
 
Sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
 
إن العبد ليتكلم بالكلمة من رضوان الله , لا يلقي لها بالا , يرفعه الله بها درجات , و إن العبد ليتكلم بالكلمة من سخط الله , لا يلقي لها بالا يهوي بها في جهنم
“Sungguh seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan keridaan Allah, namun dia menganggapnya ringan, karena sebab perkataan tersebut Allah meninggikan derajatnya. Dan sungguh seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan kemurkaan Allah, namun dia menganggapnya ringan, dan karena sebab perkataan tersebut dia dilemparkan ke dalam api Neraka.” [HR. Bukhari dan Muslim]
 
 
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
Tambahan admin:
Hukum tulisan sama dengan lisan, maka berhati hatilah pula dalam menulis.
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#adabakhlak, #adabbertetangga, #tetangga, #jagalahlisanmu, #lisan, #keutamaan, #fadhilah, #fadilah, #menjagalisan #manisnyabuah
,

MENGGUNJING AIB ORANG LAIN

MENGGUNJING AIB ORANG LAIN
 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
MENGGUNJING AIB ORANG LAIN
>> Semut di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata tak nampak
 
Mengapa diri ini selalu menyibukkan diri dengan membicarakan aib orang lain, sedangkan aib besar yang ada di depan mata tidak diperhatikan. Akhirnya diri ini pun sibuk menggunjing, membicarakan aib saudaranya, padahal ia tidak suka dibicarakan. Jika dibanding-bandingkan diri kita dan orang yang digunjing, boleh jadi dia lebih mulia di sisi Allah. Demikianlah hati ini seringkali tersibukkan dengan hal yang sia-sia. Semut di seberang lautan seakan nampak, namun gajah di pelupuk mata seakan-akan tak nampak. Artinya aib yang ada di diri kita sendiri jarang kita perhatikan.
 
Sebelum membicarakan jelek saudaramu, coba pikirkan hadis ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
 
يُبْصِرُ أَحَدُكُمْ القَذَاةَ فِي أَعْيُنِ أَخِيْهِ، وَيَنْسَى الجَذْلَ- أَوْ الجَذْعَ – فِي عَيْنِ نَفْسِهِ
 
“Salah seorang dari kalian dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya, tetapi dia lupa akan kayu besar yang ada di matanya.” [HR. Bukhari dalam Al Adabul Mufrad no. 592, riwayat yang Shahih]
 
Maksud perkataan sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu di atas adalah sama seperti pepatah dalam bahasa kita “Semut di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata tak nampak.”
 
Artinya, aib orang lain sebenarnya kita tidak tahu seluruhnya. Selalu kita katakan mereka jelek, mereka sombong, mereka sok alim, dan cap jelek lainnya. Sedangkan aib kita, kita yang lebih tahu. Kalau aib orang lain kita hanya tahunya “kecil”, makanya Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ungkapkan dengan istilah “kotoran kecil di mata”. Namun aib kita, kita yang lebih tahu akan “besarnya”, maka dipakai dalam hadis dengan kata “kayu besar”. Sebenarnya kita yang lebih tahu akan kekurangan kita yang begitu banyak.
 
Wejangan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu di atas amatlah bagus. Yang seharusnya kita pikirkan adalah aib kita sendiri yang begitu banyak. Tidak perlu kita bercapek-capek memikirkan aib orang lain, atau bahkan menceritakan aib saudara kita di hadapan orang lain. Aib kita, kitalah yang lebih tahu. Adapun aib orang lain, sungguh kita tidak mengetahui seluk beluk hati mereka.
 
‘Abdullah Al Muzani mengatakan:
“Jika iblis memberikan was-was kepadamu, bahwa engkau lebih mulia dari muslim lainnya, maka perhatikanlah. Jika ada orang lain yang lebih tua darimu, maka seharusnya engkau katakan: “Orang tersebut telah lebih dahulu beriman dan beramal saleh dariku, maka ia lebih baik dariku.” Jika ada orang lainnya yang lebih muda darimu, maka seharusnya engkau katakan: “Aku telah lebih dulu bermaksiat dan berlumuran dosa, serta lebih pantas mendapatkan siksa dibanding dirinya. Maka ia sebenarnya lebih baik dariku.” Demikianlah sikap yang seharusnya engkau perhatikan ketika engkau melihat yang lebih tua atau yang lebih muda darimu.” [Hilyatul Awliya’, Abu Nu’aim Al Ashbahani, Mawqi’ Al Waroq, 1/310]
 
Silakan di-share, semoga bisa membuat kita lebih semangat dalam berbuat kebaikan.
 
Penulis: Al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc hafizhahullah
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#gunjing, #menggunjing, #aiboranglain, #ghibah, #gibah, #gajah, #pelupukmata, #semut, #seberanglautan, #tidaktampak, #tampak, #kayubesar
, ,

CURHAT TUH SAMA ALLAH, BUKAN KE SOSMED

CURHAT TUH SAMA ALLAH, BUKAN KE SOSMED
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
CURHAT TUH SAMA ALLAH, BUKAN KE SOSMED
 
 
Allah taala berfirman:
 
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
 
“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” [QS. Ghofir/ Al Mu’min: 60]
 
Allah taala juga berfirman:
 
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
 
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” [QS. Al Baqarah: 186]
 
Jadi curahkanlah segala keluh kesahmu kepada-Nya.
Karena Dia pasti akan mengabulkan do’mu dan akan menolongmu, lebih dari siapapun yang kamu tunggu.
 
Sumber: [Rumaysho.Com]
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
  #sosmed, #medsos, #sosialmedia, #curhat #mengadu, #hanyakepadaAllah #mengadu #memohon #mohon #adabberdoa
,

TEROMPET ITU BUDAYA YAHUDI

TEROMPET ITU BUDAYA YAHUDI
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
TEROMPET ITU BUDAYA YAHUDI
 
Terompet itu budaya Yahudi. Namun itulah yang dilakukan oleh kaum Muslimin di malam tahun baru, hanya mengekor budaya Yahudi.
 
Tak percaya?
 
Silakan renungkan hadis berikut ini. Dari Abu ‘Umair bin Anas dari bibinya yang termasuk shahabiyah Anshar:
 
عَنْ أَبِى عُمَيْرِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ عُمُومَةٍ لَهُ مِنَ الأَنْصَارِ قَالَ اهْتَمَّ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- لِلصَّلاَةِ كَيْفَ يَجْمَعُ النَّاسَ لَهَا فَقِيلَ لَهُ انْصِبْ رَايَةً عِنْدَ حُضُورِ الصَّلاَةِ فَإِذَا رَأَوْهَا آذَنَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا فَلَمْ يُعْجِبْهُ ذَلِكَ قَالَ فَذُكِرَ لَهُ الْقُنْعُ – يَعْنِى الشَّبُّورَ – وَقَالَ زِيَادٌ شَبُّورَ الْيَهُودِ فَلَمْ يُعْجِبْهُ ذَلِكَ وَقَالَ « هُوَ مِنْ أَمْرِ الْيَهُودِ ». قَالَ فَذُكِرَ لَهُ النَّاقُوسُ فَقَالَ « هُوَ مِنْ أَمْرِ النَّصَارَى ». فَانْصَرَفَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ زَيْدِ بْنِ عَبْدِ رَبِّهِ
 
“Nabi memikirkan bagaimana cara mengumpulkan orang untuk shalat berjamaah. Ada beberapa orang yang memberikan usulan. Yang pertama mengatakan: ‘Kibarkanlah bendera ketika waktu shalat tiba. Jika orang-orang melihat ada bendera yang berkibar, maka mereka akan saling memberi tahukan tibanya waktu shalat’. Namun Nabi tidak menyetujuinya. Orang kedua mengusulkan agar memakai terompet. Nabi pun tidak setuju. Lantas beliau bersabda: ‘Membunyikan terompet adalah perilaku orang-orang Yahudi.’ Orang ketiga mengusulkan agar memakai lonceng. Nabi berkomentar: ‘Itu adalah perilaku Nasrani.’ Setelah kejadian tersebut, Abdullah bin Zaid bin Abdi Rabbihi pun pulang.” [HR. Abu Daud no. 498. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini Shahih)
 
Dari hadis di atas menunjukkan bahwa terompet itu tradisi Yahudi. Nah itulah yang diikuti oleh orang-orang yang merayakan tahun baru. Budaya Yahudilah yang diikuti.
 
Memanfaatkan uang untuk membeli terompet tahun baru termasuk PEMBOROSAN karena telah menyalurkan harta tidak pada kebaikan. Allah ta’ala berfirman:
 
وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا
 
“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya.” [QS. Al Isra’: 26-27]
 
Az Zujaj berkata, bahwa yang dimaksud boros adalah:
 
النفقة في غير طاعة الله
 
“Mengeluarkan nafkah pada selain ketaatan pada Allah.” [Disebutkan dalam Zaadul Masiir karya Ibnul Jauzi]
 
Apa seorang Muslim boleh mengikuti budaya Yahudi?
 
Dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
 
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ ». قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ « فَمَنْ ».
 
“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, dan sehasta demi sehasta, sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang penuh lika-liku, pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata: “Wahai Rasulullah, Apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” [HR. Muslim no. 2669]
 
Silakan berpikir jika ingin menjadi seorang Muslim sejati.
Hanya Allah yang memberi hidayah.
 
 
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#terompetitubudayaYahudi, #terompet, #Yahudi, #kebiasaanYahudi, #tiupterompet, #tahunbaru, #bidah, #akidahIslam, #aqidahIslam, #lubangbiawak, #lubangdhob #boros, #pemborosan #malamtahunbaru, #NewYearseve
, ,

JANGAN RAGU-RAGU DALAM BERDOA KEPADA ALLAH

JANGAN RAGU-RAGU DALAM BERDOA KEPADA ALLAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
JANGAN RAGU-RAGU DALAM BERDOA KEPADA ALLAH
>> Hindari berdoa: “Ya Allah, ampuni aku jika Engkau kehendaki”
>> Memintalah sesering mungkin di dalam doa
 
Sobat, pernahkan kita dengar doa seperti ini:
“Ya Allah,
Tak layak bagiku menghuni Surga Firdaus-Mu,
Namun aku tak kuat bila menempati Neraka Jahim-Mu”
“Ya Allah, ampuni aku jika Engkau kehendaki”
 
Sejenis dengan doa ini dan TIDAK BOLEH misalnya: “Ya Allah jika Surga layak bagiku, maka masukkan aku ke Surga-Mu”
 
Doa semacam ini dibahas dalam pelajaran TAUHID dan harus dihindari.
 
Doa “Menggantung” seperti ini ada laranganny, sebagaimana dalam hadis:
 
ﻻ ﻳﻘﻞ ﺃﺣﺪﻛﻢ: ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﻏﻔﺮ ﻟﻲ ﺇﻥ ﺷﺌﺖ، ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﺭﺣﻤﻨﻲ ﺇﻥ ﺷﺌﺖ، ﻟﻴﻌﺰﻡ ﺍﻟﻤﺴﺄﻟﺔ ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻣﻜﺮﻩ ﻟﻪ “.
 
“JANGANLAH seseorang di antara kalian berdoa dengan ucapan: “Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau menghendaki.”
 
Atau berdoa: “Ya Allah, rahmatilah aku jika Engkau menghendaki.
 
Tetapi hendaklah meminta dengan MANTAP, karena sesungguhnya Allah, tidak ada sesuatu pun yang memaksa-Nya untuk berbuat sesuatu.” [HR. Bukhari & Muslim]
 
Dalam riwayat lainnya:
 
ﻭﻟﻴﻌﻈﻢ ﺍﻟﺮﻏﺒﺔ ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳﺘﻌﺎﻇﻤﻪ ﺷﻲﺀ ﺃﻋﻄﺎﻩ
 
“Dan hendaklah ia memiliki keinginan yang besar, karena sesungguhnya Allah, tidak terasa berat bagi-Nya sesuatu yang Ia berikan.”
 
Mengapa dilarang? Karena:
 
1. Ucapan ini menunjukkan seakan-akan Allah merasa keberatan dalam mengabulkan permintaan hamba-Nya, atau merasa terpaksa untuk memenuhi permohonan hamba-Nya.
 
Sama seperti seorang berkata:
“Kalau engkau berkehendak, pinjamkan saya uang.”
 
Kalimat ini muncul karena dia butuh uang dan dia tahu bahwa yang diminta pinjam bisa jadi meminjamkan atau tidak meminjamkan (karena bisa jadi dia juga sedang butuh uang atau lainnya)
 
Sedangkan meminta ampun bagi hamba yang butuh ampunan, maka Allah Maha Kaya dan Tidak butuh dengan ampunan hamba-Nya. Akan tetapi Allah Maha Pengampun yang mengampuni siapa saja yang Dia kehendaki.
 
2. Kita diperintahkan berkeinginan kuat dalam berdoa, bahwa kita sangat butuh, memelas pada Allah, dan yakin akan dikabulkan, baik di dunia, maupun berupa simpanan kebaikan di Akhirat.
 
Yang BOLEH adalah “menggantungkan” doa dan menyandarkannya dengan ilmu gaib Allah mengenai masa depan, karena ia tidak tahu masa depan dan hanya Allah yang tahu. Misalnya:
 
ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺃَﺣْﻴِﻨِﻰ ﻣَﺎ ﻛَﺎﻧَﺖِ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺓُ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻟِﻰ، ﻭَﺗَﻮَﻓَّﻨِﻰ ﺇِﺫَﺍ ﻛَﺎﻧَﺖِ ﺍﻟْﻮَﻓَﺎﺓُ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻟِﻰ
 
“Ya Allah, hidupkanlah aku (panjangkan usiaku), jika hidup itu lebih baik bagiku. Dan matikanlah aku jika kematian itu lebih baik bagiku.’ “ [HR. Bukhari]
 
Sebagian ulama menjelaskan doa ini boleh jika seseorang mengkhawatirkan agamanya.
 
Contoh lainnya:
“Ya Allah, jika ia memang dia jodoh yang bisa selalu mengingatkan aku pada-Mu, maka jodohkanlah aku dengannya.”
 
Seseorang yang TAUHID dan IMANnya baik akan selalu yakin dan percaya kepada Allah dengan hati yang teguh dan mantab, sebagaimana tercermin dalam doanya.
 
 
Penyusun: Raehanul Bahraen
 
#adabakhlak, #adab, #adabberdoa,#tatacara, #cara, #berdoa, #doa, #janganragu, #yakin, #mantab, #jikaEngkaukehendaki