, , , ,

BERMAJELIS DENGAN AHLI BIDAH DAN MENGATAKAN CUKUPLAH UMAT INI BERPECAH

BERMAJELIS DENGAN AHLI BIDAH DAN MENGATAKAN CUKUPLAH UMAT INI BERPECAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
BERMAJELIS DENGAN AHLI BIDAH DAN MENGATAKAN CUKUPLAH UMAT INI BERPECAH
 
Penanya:
 
طالب علم يجالس أهل السنة وأهل البدع، ويقول: كفى الأمة تفريقاً وأنا أجالس الجميع.
 
Seorang penuntut ilmu bermajelis kepada Ahlussunnah dan Ahli Bidah, dan ia mengatakan: “Cukuplah umat ini berpecah dan aku tetap bermajelis kepada semuanya.”
 
Jawaban Asy-Syaikh Al-Allamah Shaleh Bin Muhammad Al-Luhaidan hafizhahullah:
 
( هذا مبتدع )، من لم يفرق بين الحق والباطل ويدعي أن هذا لجمع الكلمة فهذا هو الابتداع، نسأل الله أن يهديه. نعم ).
 
“Orang ini Mubtadi. Barang siapa yang tidak membedakan antara Al-Haq dan Al-Bathil dan mengklaim bahwasanya ini untuk menyatukan kalimat, maka ini adalah bidah. Kita memohon kepada Allah memberikan kepadanya hidayah.” [Disadur dari kaset pelajaran bakda Shalat Fajar di Masjid Mabawi pada 23/10/1418 H]
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 
#larangan #dilarang #bermajelisdenganahlulahlibidah #ahlulbidah #ahlibidah #bidah #mubtadi #alhaqalbathilbatil #harusbisabedakanalhaqkebenarandanalbathil #fatwaulama
, , ,

BERPINDAH DARI ENAM SIFAT KE ENAM SIFAT LAINNYA

BERPINDAH DARI ENAM SIFAT KE ENAM SIFAT LAINNYA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
BERPINDAH DARI ENAM SIFAT KE ENAM SIFAT LAINNYA
>> Di antara keutamaan bermajelis dengan orang-orang saleh
 
Berkata al Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu:
Bermajelis dengan orang-orang saleh mengubahmu dari enam sifat kepada enam sifat yang lain:
1. Dari sifat keraguan kepada yakin.
2. Dari sifat riya kepada ikhlas.
3. Dari sifat lalai kepada zikir (ingat kepada Allah taala).
4. Dari sifat cinta dunia menjadi cinta Akhirat.
5. Dari sifat sombong kepada sifat tawadhu.
6. Dari sifat niat yang jelek kepada nasihat. [Ighatsatul Lahafan (1/136)]

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

#adabakhlak #akhlakmulia #keutamaan #fadhilah #dudukbersamaorangorangsaleh #bermajelisbersamaorangorangsaleh #shaleh #sholih #mengubahenamsifatkeenamsifatlainnya #merubah6sifatke6sifatlainnya

, , ,

JANGAN MALAS KAWAN

JANGAN MALAS KAWAN
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
JANGAN MALAS KAWAN
 
Berkata al-Allamah Abdurrahman bin Nashir as-Sadiy rahimahullah:
Kemalasan adalah sumber kegagalan dan kerugian. Maka orang yang malas tidak akan mendapatkan kebaikan dan tidak memperoleh kemuliaan, serta tidak mendapat bagian di Akhirat dan tidak pula bagian di dunia. [Bahjatu Qulubil Abror, hal 34]
 
 
 
#janganmalaskawan #janganmalassahabat #petuahulama #nasihatulama #kemalasanadalahsumberkegagalandankerugian
, ,

SUNGGUH TRAGIS, MAMPU MENJAGA DIRI DARI PERBUATAN KEJI DAN ZALIM TAPI …

SUNGGUH TRAGIS, MAMPU MENJAGA DIRI DARI PERBUATAN KEJI DAN ZALIM TAPI ...
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
SUNGGUH TRAGIS, MAMPU MENJAGA DIRI DARI PERBUATAN KEJI DAN ZALIM TAPI …
 
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
“Berapa banyak Anda lihat orang yang mampu menjaga dari perbuatan keji dan kezaliman, sementara itu lisannya mencela (menjatuhkan) kehormatan orang-orang yang masih hidup dan juga orang-orang yang telah mati, tanpa peduli sedikit pun tentang apa yang ia ucapkan.” [Ad-Da’ wa ad-Dawa’ halaman 191]
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 
#adabakhlak #akhlakmulia #jagalisan #mencelakehormatanoranghidupdanmati #akhlakburuk #janganmencelakehormatan #nasihatulama #petuahulama
 
, , ,

BENCI DENGAN POPULARITAS

BENCI DENGAN POPULARITAS
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
BENCI DENGAN POPULARITAS
 
Kebanyakan orang ingin kondang dan tenar. Keinginan ini sering kita temukan pada para artis. Namun orang yang tahu agama pun punya keinginan yang sama. Banyak yang selfie dan ngevlog dan menulis caption hadis-hadis nabi. Sungguh hal ini sangat berbeda dengan kelakukan ulama salaf yang selalu menyembunyikan diri mereka dan menasihatkan agar kita pun tidak usah mencari ketenaran.
 
Abu Ayub As Sikhtiyani mengatakan: “Seorang hamba sama sekali tidaklah jujur, jika keinginannya hanya ingin mencari ketenaran.” [Lihat Ta’thirul Anfas, hal. 276]
 
Ibnul Mubarok mengatakan, bahwa Sufyan Ats Tsauri pernah menulis surat padanya, “Hati-hatilah dengan ketenaran.” [Lihat Ta’thirul Anfas, hal. 277]
 
Daud Ath Tho’i mengatakan: “Menjauhlah engkau dari manusia, sebagaimana engkau menjauh dari singa.” [Lihat Ta’thirul Anfas, hal. 278) Maksudnya, tidak perlu kita mencari-cari ketenaran ketika beramal saleh.
 
Imam Ahmad mengatakan: “Beruntung sekali orang yang Allah buat ia tidak tenar.” Beliau juga pernah mengatakan: “Aku lebih senang jika aku berada pada tempat yang tidak ada siapa-siapa.” [Lihat Ta’thirul Anfas, hal. 278]
 
Al Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan: “Rahimahullahu ‘abdan akhmala dzikrohu (Semoga Allah merahmati seorang hamba yang tidak ingin dirinya dikenal/tenar)” [Lihat Ta’thirul Anfas, hal. 280]
 
Basyr bin Al Harits Al Hafiy mengatakan: “Aku tidak mengetahui ada seseorang yang ingin tenar kecuali berangsur-angsur agamanya pun akan hilang. Silakan jika ketenaran yang dicari. Orang yang ingin mencari ketenaran, sungguh ia kurang bertakwa pada Allah.” Suatu saat juga Basyr mengatakan: “Orang yang tidak mendapatkan kelezatan di Akhirat adalah orang yang ingin tenar.” [Lihat Ta’thirul Anfas, hal. 284]
 
Ibrahim bin Ad-ham mengatakan: “Tidaklah bertakwa pada Allah, orang yang ingin kebaikannya disebut-sebut orang.” [Lihat Ta’thirul Anfas, hal. 286]
 
Catatan penting yang perlu diperhatikan:
Imam Al Ghozali mengatakan: “Yang tercela adalah apabila seseorang mencari ketenaran. Namun jika ia tenar karena karunia Allah tanpa ia cari-cari, maka itu tidaklah tercela.”
 
 
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

 

 

#bencidenganpopularitas #benciterkenal #populer #tenar #kondang #adabakhlak, #akhlakmulia #nasihatulama #nasehatulama #petuahulama #mutiarasalaf #ngetop

, , ,

HARUSKAH WANITA MEMAKAI JILBAB KETIKA MEMBACA ALQURAN?

HARUSKAH WANITA MEMAKAI JILBAB KETIKA MEMBACA ALQURAN?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
HARUSKAH WANITA MEMAKAI JILBAB KETIKA MEMBACA ALQURAN?
 
Fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid hafidzahullah
 
Pertanyaan:
Apa yang seharusnya kami lakukan sebelum membaca Alquran? Apakah diwajibakan bagi wanita memakai hijab sempurna tatkala membaca Alquran?
 
Jawaban:
Alhamdulillah,
TIDAK DIWAJIBKAN bagi wanita memakai hijab ketika membaca Alquran, dengan alasan karena tidak adanya dalil yang menunjukkan kewajiban tersebut.
 
Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan:
“Tatkala membaca Alquran tidak disyaratkan harus menutup kepala.” [Fatawa Ibni’Ustaimin, 1/420]
 
Syaikh Ibnu’Ustaimin juga pernah menegaskan hal serupa tatkala membahas permasalahan Sujud Tilawah:
“Sujud Tilawah dilakukan ketika sedang membaca Alquran. Tidak mengapa sujud dalam kondisi apapun walaupun dengan kepala yang terbuka dan kedaan lainnya. Karena Sujud Tilawah tidak memiliki hukum yang sama dengan shalat. [Al Fatawa Al Jami’ah Lil Marati Al Muslimah, 1/249]. (Sumber: https://islamqa.info/ar/8950)
 
Fatwa Asy Syabakah Al Islamiyyah
 
Pertanyaan:
Apakah diwajibakan bagi wanita untuk meletakkan hijab di atas kepalanya ketika tengah membaca Alquran di dalam rumah?
 
Jawaban:
Alhamdulillah washshaltu wassalamu ala Rasulillah wa ala aalihi washahbih ammaba’d,
 
Diperbolehkan bagi wanita membaca Alquran TANPA memakai hijab di atas kepalanya, dikarenakan tidak adanya dalil, baik Alquran atapun As Sunnah yang memerintahkan agar wanita menutup kepalanya ketika membaca Alquran. Meskipun menutup kepala dengan jilbab termasuk menjaga kesempurnaan adab kepada Kitabullah, maka diharapkan baginya pahala atas perbuatan tersebut-insyaallah-. Allah taala berfirman:
 
ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ
 
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” [QS. Al Hajj: 32]
 
Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, jika beliau hendak membahas sebuah hadis Nabi ﷺ, beliau memakai pakaian terbagus, memakai minyak wangi terbaik yang beliau miliki dan beliau duduk dengan posisi duduk paling sempurna, sehingga beliau memiliki ketenangan dan wibawa.
(Sumber: www.islamweb.net)
 
Namun perlu diperhatikan bagi saudari-saudariku yang hendak membaca Alquran di tempat umum atau tempat lain yang terdapat laki-laki yang bukan mahram, atau dikhawatirkan akan ada laki-laki yang melihat, maka menutup aurat dengan sempurna adalah sebuah kewajiban. Sebagaimana hal ini bukanlah sesuatu yang asing lagi bagi kita. Wallahua’lam.
 
 
***
 
 
Diterjemahkan oleh Tim Penerjemah Wanitasalihah.com
[Artikel wanitasalihah.com]
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
 
 
#haruskahwanitamemakaijilbabketikamembacaAlquran #hukumperempuanpakaikerudungwakubacaAlQuran #bolehkahmuslimahtidakmemakaihijabsyarisewaktumembacaAlQuran #jilbab #muslimah #hijab #kerudung, #dzikir #zikir #tanpahijab #tanpajilbab #hukum #bacaAlqurantanpakerudungbolehkah? #fatwaulama
, ,

JANGAN MENGAMBIL ILMU AGAMA DARI AHLI BIDAH

JANGAN MENGAMBIL ILMU AGAMA DARI AHLI BIDAH
 
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
 
 
JANGAN MENGAMBIL ILMU AGAMA DARI AHLI BIDAH
>> Perhatikanlah dari siapa kamu mengambil ilmu ini, karena sesungguhnya dia adalah agama
 
Orang yang berniat mencari ilmu yang haq harus memperhatikan dari siapa dia mengambil ilmu. Jangan sampai mengambil ilmu agama dari Ahli Bidah, karena mereka akan menyesatkan, baik disadari atau tanpa disadari, sehingga hal ini akan mengantarkannya kepada jurang kehancuran.
 
Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah menyatakan, bahwa untuk meraih ilmu ada dua jalan:
Pertama: Ilmu diambil dari kitab-kitab terpercaya yang ditulis oleh para ulama yang telah dikenal tingkat keilmuan mereka, amanah, dan akidah mereka bersih dari berbagai macam Bidah dan Khurafat (dongeng; kebodohan). Mengambil ilmu dari isi kitab-kitab, pasti seseorang akan sampai kepada derajat tertentu. Tetapi pada jalan ini ada dua halangan. Halangan pertama, membutuhkan waktu yang lama dan penderitaan yang berat. Halangan kedua, ilmunya lemah, karena tidak dibangun di atas kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip.
 
Kedua: Ilmu diambil dari seorang guru yang terpercaya di dalam ilmunya dan agamanya. Jalan ini lebih cepat dan lebih kokoh untuk meraih ilmu. [Diringkas dari Kitabul Ilmi, karya Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah, hlm. 68-69]
 
Akan tetapi pantas disayangkan, pada zaman ini kita melihat fenomena pengambilan ilmu dari para Ahli Bidah marak di mana-mana. Padahal perbuatan tersebut sangat ditentang oleh para Ulama Salaf. Maka benarlah Rasulullah ﷺ yang telah memberitakan, bahwa hal itu merupakan salah satu di antara tanda-tanda dekatnya Kiamat. Beliau ﷺ bersabda:
 
إِنَّ مِنْ أَشْرِاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُلْتَمَسَ الْعِلْمُ عِنْدَ الْأَصَاغِرِ
 
“Sesungguhnya di antara tanda Hari Kiamat adalah ilmu diambil dari orang-orang kecil (yaitu Ahli Bidah)” [Riwayat Ibnul Mubarak, al Lalikai, dan al Khaththib al Baghdadi. Dishahihkan oleh Syaikh al Albani di dalam Shahih al Jami’ ash Shaghir, no. 2203, dan Syaikh Salim al Hilali dalam kitab Hilyatul ‘Alim, hlm. 81].
 
Imam Ibnul Mubarak rahimahullah ditanya: “Siapakah orang-orang kecil itu?”
Beliau menjawab: “Orang-orang yang berbicara dengan fikiran mereka. Adapun Shaghir (anak kecil) yang meriwayatkan dari kabir (orang tua, Ahlus Sunnah), maka dia bukan Shaghir (Ahli Bidah). [Lihat Jami’ Bayanil ‘ilmi, hlm. 246]
 
Di dalam riwayat lain, Imam Ibnul Mubarak juga mengatakan: “Orang-orang kecil dari kalangan Ahli Bidah”. [Riwayat al Lalikai, 1/85]
 
Syaikh Bakar Abu Zaid, seorang ulama Saudi anggota Komisi Fatwa Saudi Arabia berkata: “Waspadalah terhadap Abu Jahal (Bapak Kebodohan), yaitu Ahli Bidah yang tertimpa penyimpangan akidah, diselimuti oleh awan khurafat. Dia menjadikan hawa nafsu sebagai hakim (penentu keputusan) dengan menyebutnya dengan kata ‘akal’. Dia menyimpang dari nash (wahyu). Padahal bukankah akal itu hanya ada dalam nash? Dia memegangi yang dha’if (lemah) dan menjauhi yang shahih. Mereka juga dinamakan Ahlusy Syubuhat (Orang-orang yang memiliki dan menebar kerancauan pemikiran) dan Ahlul Ahwa’ (Orang-orang yang mengikuti kemauan hawa nafsu). Oleh karena itulah Ibnul Mubarak menamakan Ahli Bidah dengan ash Shaghir (anak-anak kecil). [Hilyah Thalibil ‘Ilmi, hlm. 39, karya Syaikh Bakar Abu Zaid]
 
Dan di antara tanda Hari Kiamat yaitu “Mengambil ilmu dari orang-orang kecil (yaitu Ahli Bidah)” pada zaman ini benar-benar sudah terjadi dan terus berjalan. Sungguh telah terbukti sabda Nabi ﷺ di atas. Bahkan sudah dan sedang terjadi sesuatu yang lebih besar dari itu, yaitu mengambil ilmu agama Islam dari orang-orang kafir, yakni para dosen yang mengajarkan pengetahuan tentang Islam di berbagai perguruan tinggi di negara Barat. Wallahul musta’an.
 
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata:
 
اُنْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ هَذَا الْعِلْمَ فَإِنَّمَا هُوَ دِينٌ
 
“Perhatikanlah dari siapa kamu mengambil ilmu ini, karena sesungguhnya dia adalah agama.” [Kifāyah, hlm. 121]
 
 
 
Dinukil dari tulisan yang berjudul: “JANGAN MENGAMBIL ILMU AGAMA DARI AHLI BIDAH” yang ditulis oleh: Ustadz Abu Isma’il Muslim al Atsari dengan pengubahan dan penambahan sekadarnya oleh Tim Redaksi Nasihat Sahabat
 
#AbuJahal #BapakKebodohan #lihatlahdarimanakamumengambililmu #perhatikandarisiapakamumengambililmu #karenailmuiniadalahagama #janganmengambililmuagamadariahlibidah #ahlibidah #laranganmengambililmudariahlibidah #tandaHariKiamat #ilmudiambildariahlibidah #adabmenuntutilmu #thalabulilmi #tholabulilmi #penuntutilmu #menuntutilmuagamasyari
, ,

JANGAN MENGEJEK ORANG YANG BERBUAT DOSA

JANGAN MENGEJEK ORANG YANG BERBUAT DOSA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
JANGAN MENGEJEK ORANG YANG BERBUAT DOSA
 
Jangan merasa diri bisa selamat dari dosa sehingga meremehkan orang lain yang berbuat dosa. Dan meremehkannya pun dalam rangka sombong, “Kamu kok bisa terjerumus dalam zina seperti itu? Aku jelas tak mungkin.”
 
Dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Siapa yang menjelek-jelekkan saudaranya karena suatu dosa, maka ia tidak akan mati kecuali mengamalkan dosa tersebut.” [HR. Tirmidzi no. 2505. Syaikh Al-Albani berkata bahwa hadis ini maudhu]. Imam Ahmad menjelaskan, bahwa yang dimaksud adalah dosa yang telah ditobati.
 
Hadis di atas bukan maknanya adalah dilarang mengingkari kemungkaran. Tayir (menjelek-jelekkan) yang disebutkan dalam hadis berbeda dengan mengingkari kemungkaran. Karena menjelek-jelekkan mengandung kesombongan (meremehkan orang lain) dan merasa diri telah bersih dari dosa. Sedangkan mengingkari kemungkaran dilakukan lillahi taala, ikhlas karena Allah, bukan karena kesombongan. [Lihat Al-‘Urf Asy-Syadzi Syarh Sunan At-Tirmidzi oleh Muhammad Anwar Syah Ibnu Mu’azhom Syah Al-Kasymiri]
 
Bedakan antara menasihati dengan menjelek-jelekkan. Menasihat berarti ingin orang lain jadi baik. Kalau menjelek-jelekkan ada unsur kesombongan dan merasa diri lebih baik dari orang lain.
 
Jangan sombong sampai merasa bersih dari dosa, atau tidak akan terjerumus pada dosa yang dilakukan saudaranya.
 
 
 

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

#janganmengejekorangyangberbuatdosa #janganmencelaorangyangberbuatdosa #laranganmengejekorangberbuatmaksiat #hukum #akibat #ejekan #mengejek #akhlakburuk #adabakhlak

,

WAHAI LELAKI, TETAPLAH KALIAN BEKERJA, WALAUPUN BUKAN PEKERJAAN TETAP

WAHAI LELAKI, TETAPLAH KALIAN BEKERJA, WALAUPUN BUKAN PEKERJAAN TETAP
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
WAHAI LELAKI, TETAPLAH KALIAN BEKERJA, WALAUPUN BUKAN PEKERJAAN TETAP
 
Bagi laki-laki khususnya suami, jangan sampai Anda tidak bekerja dan berpangku tangan terus-menerus.
 
“Tetaplah bekerja walaupun tidak punya pekerjaan tetap.”
 
Terkadang “Rasa gengsi” dan “Tidak mau memulai” itulah yang membuat laki-laki menganggur lama dan tidak bekerja. Jika direnungi sangat banyak pekerjaan yang bisa menghasilkan harta walaupun sedikit. Paling minimal bisa memberikan makan keluarga.
 
Misalnya:
  • Memulai bisnis sederhana menjual nasi kuning pagi-pagi pinggir jalan.
  • Memulai menjadi karyawan pembantu warung pinggir jalan.
  • Dan usaha lainnya dengan modal seadanya yang ada pada saat itu.
 
Bisa saja Allah akan bukakan pintu rezeki selanjutnya, misalnya:
  • Warung nasi kuningnya berkembang pesat, punya nama dan punya banyak cabang dan berhasil.
  • Setelah menjadi karyawan warung, ia bisa mempelajari dan membuka warung sendiri, kemudian berkembang san sukses dengan banyak cabang.
Perhatikan bagaimana Nabi Dawud, seorang raja, akan tetapi makan dari hasil usahanya sendiri. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Nabi Daud tidaklah makan, melainkan dari hasil usahanya sendiri.” [HR Bukhari, no.2073]
 
Demikian juga Nabi Zakaria yang seorang tukang kayu. Meskipun beliau adalah Nabi dan memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah, beliau tidak malu menjadi tukang kayu. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Nabi Zakaria Alaihissalam adalah seorang tukang kayu.” [HR Muslim, no. 2379; Ahmad II/296, 405, 485]
 
Jadi jangan sampai kita hanya berpangku tangan saja, tidak mau bekerja hanya karena gengsi dan terlalu banyak rencana dan ingin kesempurnaan, sehingga tidak mau memulai.
 
 
 
Penyusun: Raehanul Bahraen
 
Semoga Allah mudahkan yang belum mendapat pekerjaan, untuk mendapat pekerjaan yang halal.
[Dakwahsunnah.com]

Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

#tetaplahbekerjawalaupuntidakpunyapekerjaantetap #lelakiharuskerja #NabiDaudmakandarihasilusahanyasendiri #NabiZakariatukangkayu #adabakhlak #lakilaki #lelaki #pria #janganmenganggur #suami

,

JANGAN MAKAN DAN MINUM PAKAI TANGAN KIRI

JANGAN MAKAN DAN MINUM PAKAI TANGAN KIRI
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ 
 
JANGAN MAKAN DAN MINUM PAKAI TANGAN KIRI
 
Makan dengan tangan kiri ternyata mendapat doa jelek dari Nabi ﷺ, yang menunjukkan ancaman bagi pelakunya. Dan ini sekaligus menunjukkan haramnya makan dengan tangan kiri.
 
Dalam kitab Shahih Muslim disebutkan, Salamah bin Al Akwa’ berkata:
“Ada seorang laki-laki makan di samping Rasulullah ﷺ dengan tangan kirinya. Lalu Rasulullah ﷺ bersabda:
‘Makanlah dengan tangan kananmu!’
Dia malah menjawab: ‘Aku tidak bisa.’
Beliau ﷺ bersabda: ‘Benarkah kamu tidak bisa?’
Dia menolaknya karena sombong.
Setelah itu tangannya tidak bisa sampai ke mulutnya.” [HR. Muslim no. 2021]
 
Imam Nawawi rahimahullah memberikan beberapa faidah dari hadis di atas sebagai berikut:
 
1. Dalam hadis disebutkan, bahwa orang tersebut menolak perintah Nabi ﷺ karena sombong. Hal ini menunjukkan, bahwa tidak tepat jika ia disebut munafik, karena dikatakan sombong tidak selamanya dicap munafik dan kufur.
2. Perkara di atas termasuk maksiat, jika memang perintah makan dengan tangan kanan adalah perintah wajib.
3. Hadis di atas menunjukkan bolehnya berdoa jelek pada orang yang menyelisihi syariat tanpa uzur.
4. Dalam setiap keadaan kita diperintahkan untuk beramar maruf nahi munkar.
5. Kita dianjurkan mengajarkan adab makan bagi orang yang belum tahu, atau menyelisihi adab yang diajarkan oleh Islam. [Lihat faidah-faidah di atas dalam Syarh Shahih Muslim, 13: 174]
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Email: [email protected]
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat

#larangandilarangmemakanmeminumdengantangankiri #adabmakan #janganmakandanminumpakaitangankiri #dilarangmakandanminumpakaitangankiri #makandanminumpakaitangankanan #hukum