,

ADAB KETIKA HENDAK MENGETUK PINTU

ADAB KETIKA HENDAK MENGETUK PINTU
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
ADAB KETIKA HENDAK MENGETUK PINTU
 
Pada zaman sahabat dulu mereka sangat menjaga adab ketika hendak bertamu, sebagaimana diceritakan oleh Anas bin Malik radhiallahu’anhu:
“Kami di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetuk pintu dengan kuku-kuku.” [HR. Bukhari dalam Adabul Mufrod bab Mengetuk Pintu]
 
Sumber: Radio Muslim Jogja
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#adabakhlak, #ketukpintu, #ketokpintu, #tatacara, #cara, #mengetukpintu, #adabketukpintu, #pakaikukukuku
, , ,

TANGGAPAN SYUBHAT PERNYATAAN USTADZ ADI HIDAYAT: NABI SELAMA HIDUPNYA TIDAK PERNAH MELAKUKAN TAHIYATUL MASJID

TANGGAPAN SYUBHAT PERNYATAAN USTADZ ADI HIDAYAT: NABI SELAMA HIDUPNYA TIDAK PERNAH MELAKUKAN TAHIYATUL MASJID
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
TANGGAPAN SYUBHAT PERNYATAAN USTADZ ADI HIDAYAT: NABI SELAMA HIDUPNYA TIDAK PERNAH MELAKUKAN TAHIYATUL MASJID
Tanggapan untuk saudaraku Ustadz Adi Hidayat, semoga Allah senantiasa menjaganya.
Dalam video ini Ustadz Adi Hidayat mengatakan, bahwa Nabi ﷺ selama hidupnya tidak pernah melakukan Tahiyatul Masjid…”
 
Tanggapan Ustadz Amir As-Soronji hafizahullah:
Al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam tafsirnya:
“Yang benar adalah Isra Nabi ﷺ terjadi dalam keadaan sadar, bukan dalam keadaan mimpi, dari Mekkah ke Baitul Maqdis dengan mengendarai Buraq. Tatakala beliau ﷺ sampai di pintu masjid, beliau ﷺ menambatkan kendaraan tersebut di pintu, kemudian beliau ﷺ masuk masjid, lalu shalat di Kiblatnya DUA RAKAAT TAHIYATUL MASJID… [Lihat Tafsir Ibnu Katsir III/23]
Hal yang sama diriwayatkan juga oleh Ahmad [III/148) dan Muslim (no.259]
Silakan lihat Risalah al-Isra wa al-Miraj karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, hal, 21, dicetak oleh Makabah al-Ma’arif, Riyadh.
Kesimpulan:
1) Nabi ﷺ pernah melakukan Shalat Tahiyyatil Masjid.
2) Jagan terburu-buru menyimpulkan sesuatu tanpa meruju kepada penjelasan para ulama.
3) Perbanyak baca kitab-kitab Tafsir dan Syarah hadis.
 
Lihat tautan videonya: https://www.instagram.com/p/BbtqpSHnUgP/?r=wa1
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#tanggapansyubhat, #syubhat, #Adi Hidayat, #ustadzAdiHidayat, #AH, #NabitidakpernahshalatTahiyatulMasjid, #shalat, #sholat, #salat, #solat, #Tahiyatul, #Tahiyyatul, #Masjid, #Mesjid, #bantahan
, ,

TAKHBIB – MEREBUT ISTRI ORANG – APAKAH NIKAHNYA BATAL?

TAKHBIB - MEREBUT ISTRI ORANG - APAKAH NIKAHNYA BATAL?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
TAKHBIB – MEREBUT ISTRI ORANG – APAKAH NIKAHNYA BATAL?
>> Ketika Mencintai Wanita Bersuami
>> Perbuatan Dosa Besar yang Jarang Diketahui
 
Bagi kaum lelaki, hati-hatilah bila bergaul dengan seorang wanita. Apalagi bila wanita tersebut sudah bersuami, dan kebetulan sedang ada masalah dengan keluarganya. Mengapa? Berikut penjelasan tentang Takhbib, perbuatan dosa besar yang jarang diketahui.
 
Dalam Syarah Sunan Abu Daud, Adzim Abadi (w. 1329 H) menjelaskan Takhbib secara bahasa artinya menipu dan merusak, dengan menyebut-nyebut kejelekan suami di hadapan istrinya, atau kebaikan lelaki lain di depan wanita itu. [Aunul Ma’bud, 6/159]
 
Di bagian lain beliau juga menyebutkan:
 
مَنْ خَبَّب زوجة امرئ أي خدعها وأفسدها أو حسن إليها الطلاق ليتزوجها أو يزوجها لغيره أو غير ذلك
 
‘Siapa yang melakukan Takhbib terhadap istri seseorang’ maknanya adalah siapa yang menipu wanita itu, merusak keluarganya, atau memotivasinya agar bercerai dengan suaminya, agar dia bisa menikah dengannya, atau menikah dengan lelaki lain, atau cara yang lainnya. [Aunul Ma’bud, 14/52]
 
Ad-Dzahabi mendefinisikan Takhbib:
 
إفساد قلب المرأة على زوجها
 
”Merusak hati wanita terhadap suaminya.” [Al-Kabair, hal. 209]
 
Dalam Fatwa Islam dijelaskan, usaha memisahkan wanita dari suaminya tidak hanya dalam bentuk memotivasi si wanita untuk menuntut cerai dari suaminya, tapi memberikan perhatian, empati, menjadi teman curhat juga termasuk Takhbib.
 
وإفساد الزوجة على زوجها ليس فقط بأن تطلب منها الطلاق ، بل إن محاولة ملامسة العواطف والمشاعر ، والتسبب في تعليقها بك أعظم إفساد ، وأشنع مسعى يمكن أن يسعى به بين الناس .
 
”Merusak hubungan istri dengan suaminya tidak hanya dalam bentuk memotivasi dia untuk menggugat cerai. Bahkan semata upaya memberikan empati, belas kasihan, berbagi rasa, dan segala sebab yang membuat si wanita menjadi jatuh cinta kepadamu, merupakan bentuk merusak (keluarga) yang serius, dan usaha paling licik yang mungkin bisa dilakukan seseorang.” [Fatwa Islam, no. 84849]
 
Memahami hal ini, berhati-hatilah dalam bergaul dengan lawan jenis siapapun dia. Bisa jadi pada awalnya seseorang memiliki niat baik, niat saling menolong, niat merasa kasihan, perlu ada teman untuk berbagi rasa. Sepertinya tidak ada masalah kalau hanya jadi teman curhat. Yang penting tidak ada perasaan apa-apa. Kita kan niatnya baik, saling mengingatkan dan menasihati. Saya merasa dekat dengan Allah semenjak kenal dia. Kita saling mengingatkan untuk tahajud, untuk puasa sunah, saya menjadi rajin ibadah karena nasihatnya. Hatiku merasa nyaman dan tentram bersamanya. Semoga dia menjadi pasanganku di Surga…, dan seabreg khayalan kasmaran lainnya.
 
Ibnul Jauzi menukil nasihat dari Al-Hasan bin Sholeh yang mengatakan:
 
إن الشيطان ليفتح للعبد تسعة وتسعين بابا من الخير يريد به بابا من الشر
 
“Sesungguhnya setan membuka 99 pintu kebaikan untuk menjerumuskan orang ke dalam satu pintu keburukan.” [Talbis Iblis, hlm. 51]
 
Dosa Takhbib
 
Mungkin Takhbib merupakan perbuatan dosa besar yang jarang diketahui oleh kaum Muslimin. Menjadi penyebab percerian dan kerusakan rumah tangga orang lain, karena kehadirannya membuat seorang wanita membenci suaminya dan meminta untuk berpisah dari suaminya.
 
Rasulullah ﷺ dalam banyak hadis memberikan ancaman keras untuk pelanggaran semacam ini, di antaranya:
 
1. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
 
لَيْسَ مِنَّا مَنْ خَبَّبَ امرَأَةً عَلَى زَوجِهَا
 
”Bukan bagian dariku seseorang yang melakukan Takhbib terhadap seorang wanita, sehingga dia melawan suaminya.” [HR. Abu Daud 2175 dan dishahihkan al-Albani]
 
2. Masih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
 
وَمَنْ أَفْسَدَ امْرَأَةً عَلَى زَوْجِهَا فَلَيْسَ مِنَّا
 
”Siapa yang merusak hubungan seorang wanita dengan suaminya, maka dia bukan bagian dariku.” [HR. Ahmad 9157 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth]
 
Dalam penjelasannya tentang bahaya cinta buta, Ibnul Qoyim menjelaskan tentang dosa Takhbib:
 
وقد لعن رسول الله صلى الله عليه وسلم من فعل ذلك ، وتبرأ منه ، وهو من أكبر الكبائر ، وإذا كان النبي صلى الله عليه وسلم قد نهى أن يخطب الرجل على خطبة أخيه وأن يستام على سومه: فكيف بمن يسعى بالتفريق بينه وبين امرأته وأمته حتى يتصل بهما
 
Rasulullah ﷺ telah melaknat orang yang melakukan Takhbib dan beliau berlepas diri dari pelakunya. Takhbib termasuk salah satu DOSA BESAR. Karena ketika Nabi ﷺ melarang seseorang untuk meminang wanita yang telah dilamar oleh lelaki lain, dan melarang seseorang menawar barang yang sedang ditawar orang lain, maka bagaimana lagi dengan orang yang berusaha memisahkan antara seorang suami dengan istrinya atau budaknya, sehingga dia bisa menjalin hubungan dengannya. [Al-Jawab al-Kafi, hlm. 154]
 
Bahkan karena besarnya dosa Takhbib, Syaikhul Islam melarang menjadi makmum di belakang imam yang melakukan Takhbib, sehingga bisa menikahi wanita tersebut. [Majmu’ Fatawa, 23/363]
 
Hukum Pernikahan Hasil Takhbib
 
Kita fokus di hukum pernikahan hasil merusak rumah tangga orang lain. Terdapat kaidah fikih yang menyatakan:
 
من تعجل شيئا قبل أوانه عوقب بحرمانه
 
Siapa yang terburu-buru mendapatkan sesuatu sebelum waktunya, dia dihukum dengan cara dilarang untuk mendapatkannya.
 
Terburu-buru mendapatkan sesuatu sebelum waktunya termasuk pelanggaran dalam agama. Misalnya, seorang baru bisa mendapatkan warisan dari orang tuanya jika orang tuanya telah meninggal. Tapi jika dia buru-buru ingin mendapatkannya dengan cara membunuh orang tuanya, maka tindakannya menjadi penghalang baginya untuk mendapatkan warisan dari orang tuanya.
 
Dengan demikian, semua pernikahan yang diawali dengan cara yang batil, hasilnya juga kebatilan. Atas dasar ini sebagian ulama memutuskan, bahwa ketika terjadi perpisahan dalam keluarga yang disebabkan istri minta cerai karena kehadiran lelaki lain, maka mereka dipisahkan selamanya. Diberi hukuman dengan keputusan yang berkebalikan dengan harapan dan keinginannya.
 
Dalam Ensiklopedi Fikih dinyatakan:
 
وقد صرّح الفقهاء بالتّضييق عليه وزجره ، حتّى قال المالكيّة بتأبيد تحريم المرأة المخبّبة على من أفسدها على زوجها معاملةً له بنقيض قصده، ولئلاّ يتّخذ النّاس ذلك ذريعةً إلى إفساد الزّوجات
 
Sebagian ulama menegaskan dengan memberikan putusan paling susah untuknya dan melarangnya. Sampai Malikiyah mengatakan, bahwa wanita yang berpisah ini diharamkan untuk menikah dengan lelaki yang menjadi penyebab kerusakan rumah tangganya, diharamkan untuk selamanya, sebagai hukuman baginya, dengan kebalikan dari apa yang dia inginkan. Agar hal semacam ini tidak menjadi celah bagi masyarakat untuk merusak hubungan para wanita (dengan suaminya). [Al-Mausu’ah al-Fikihiyah, 5/251]
 
Dalam pernyataan lain, juga di Ensiklopedi Fikih:
 
قد ذكروا أن النكاح يفسخ قبل الدخول وبعده بلا خلاف عندهم، وإنما الخلاف عندهم في تأبيد تحريمها على ذلك المفسد أو عدم تأبيده
 
Mereka, Ulama Malikiyah, menyebutkan, bahwa nikahnya dibatalkan, baik sebelum berhubungan badan maupun sesudah berhubungan, tanpa ada perbedaan pendapat di kalangan mereka. Namun yang menjadi perbedaan adalah, apakah lelaki pelaku Takhbib itu diharamkan untuk menikahi wanita selamanya, ataukah tidak sampai selamanya.
 
فذكروا فيه قولين:
 
أحدهما وهو المشهور: أنه لا يتأبد، فإذا عادت لزوجها الأول وطلقها، أو مات عنها جاز لذلك المفسد نكاحها.
 
الثاني: أن التحريم يتأبد، وقد ذكر هذا القول يوسف بن عمر كما جاء في شرح الزرقاني، وأفتى به غير واحد من المتأخرين في فاس
 
Mereka menyebutkan adanya dua pendapat:
 
Pertama, dan ini yang lebih terkenal, bahwa mereka dipisahkan tapi tidak selamanya. Jika si wanita kembali kepada suami pertama, kemudian diceraikan oleh suami pertama, atau suami pertama meninggal, maka si lelaki kedua ini boleh menikahi wanita itu.
 
Kedua, mereka diharamkan menikah selamanya. Di antara yang menyatakan pendapat ini adalah Yusuf bin Umar, seperti yang disebutkan dalam Syarh az-Zarqani, dan ini yang difatwakan beberapa ulama kontempporer di daerah Fez – Maroko. [Al-Mausu’ah al-Fikihiyah, 11/20]
 
Dalam kitab Al-Iqna’ dinyatakan:
 
وقال في رجل خبب امرأة على زوجها: يعاقب عقوبة بليغة ، ونكاحه باطل في أحد قولي العلماء في مذهب مالك وأحمد وغيرهما ، ويجب التفريق بينهما
 
Syaikhul Islam mengatakan tentang orang yang mempengaruhi wanita sehingga bercerai dengan suaminya, lelaki ini harus mendapatkan hukuman berat. Nikahnya batal, menurut salah satu pendapat ulama dalam Madzhab Malik dan Ahmad serta yang lainnya. Dan wajib dipisahkan keduanya. [Al-Iqna’, 3/182]
 
Memang lelaki ini menikah dengan si wanita atas dasar saling rida. Tapi perlu diingat, dia membangun keluarga dengan cara bermaksiat kepada Allah, dan menghancurkan keluarga orang lain.
 
Oleh karena itu waspada bagi para lelaki, jangan sampai menerima curhat wanita tentang keluarganya. Bisa jadi ini langkah pembuka Iblis untuk semakin menjerumuskan Anda. Terkecuali jika Anda seorang ulama ataupun tokoh agama yang berhak memberikan fatwa dengan ilmunya, yang bisa menjelaskan halal-haram satu masalah.
 
Semoga Allah menyelamatkan kita dari bahaya besar lingkungan yang kurang memperhatikan adab pergaulan.
 
Allahu a’lam
 
 
Penulis: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#takhbib, #tahbib, #rebutistriorang, #merebutistrioranglain, #hukum, #curhat, #mengganggurumahtanggaoranglain #mencintaiwanitabersuami #permasalahanrumahtangga #masalahrumahtangga #rumahtanggaIslam #istri, #isteri, #suami, #pasangansuamiistri #merebutistriorang, #rebutistriorang
,

MENELADANI PARA SAHABAT NABI DALAM MELURUSKAN DAN MERAPATKAN SHAF SHALAT

MENELADANI PARA SAHABAT NABI DALAM MELURUSKAN DAN MERAPATKAN SHAF SHALAT
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
SEMPURNANYA SHALAT ITU SESUAI RAPAT DAN LURUSNYA SHAF
 
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
 
Terdapat beberapa riwayat yang menyebutkan anjuran Nabi ﷺ kepada para sahabat untuk merapatkan shaf. Di antaranya:
 
1. Hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ memerintahkan makmumnya:
أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ وَتَرَاصُّوا
 
”Luruskan shaf kalian dan rapatkan.” [HR. Bukhari 719]
 
2. Juga dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ mengucapkan:
 
سوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَفِّ مِنْ تَماَمِ الصَّلَاةِ
 
”Luruskan shaf kalian, karena meluruskan shaf bagian dari kesempurnaan shalat.” [HR. Muslim 433]
 
3. Hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ memerintahkan:
 
أقيموا الصَفِّ فِي الصَّلَاةِ فَإِنَّ إِقَامَةَ الصَفِّ مِنْ حُسْنِ الصَّلَاةِ
 
Luruskan shaf dalam shalat, karena meluruskan shaf bagian dari kesempurnaan shalat. [HR. Muslim 435]
 
4. Hadis dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ memerintahkan:
 
اِسْتَوُّوا وَلَا تَـخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ
 
Luruskan, dan jangan berselisih (dalam lurusnya shaf), sehingga hati kalian menjadi berselisih.
 
Kata Ibnu Mas’ud, Rasulullah ﷺ memerintahkan di atas, sambil mengusap pundak-pundak makmum. [HR. Muslim 122]
 
5. Hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ memerintahkan:
 
أَقِيمُوا الصُّفُوفَ وَحَاذُوا بَيْنَ الْمَنَاكِبِ وَسُدُّوا الْخَلَلَ وَلِينُوا بِأَيْدِي إِخْوَانِكُمْ وَلَا تَذَرُوا فُرُجَاتٍ لِلشَّيْطَانِ
 
”Luruskan shaf, rapatkan pundak, dan tutup celah, perlunak pundak kalian untuk saudaranya, dan jangan tinggalkan celah untuk setan.” [HR. Abu Daud 666 dan dishahihkan al-Albani]
 
Makna: “Perlunak pundak kalian untuk saudaranya” adalah hendaknya dia mempemudah setiap orang yang masuk shaf, dengan berusaha agar pundaknya tidak mengganggu orang lain.
 
6. Hadis Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ memerintahkan:
 
أَتِـمُّوْا الصَّفَّ الـمُقَدَّمَ، ثُمَّ الَّذِي يَلِيْهِ
 
“Penuhi shaf depan, kemudian shaf berikutnya…” [HR. Abu Daud 671 dan dishahihkan al-Albani]
 
Dan masih terdapat beberapa riwayat lainnya, yang itu semua menunjukkan betapa besar perhatian Nabi ﷺ terhadap kesempurnaan shalat jamaah, yang meliputi lurus dan rapatnya shaf, terpenuhinya shaf terdepan, tidak boleh ada yang berbeda, tidak mengganggu sesama jamaah, dst.
 
Apa Hukum Merapatkan dan Meluruskan Shaf dalam Shalat Berjamaah?
 
Jumhur Ulama (Mayoritas) berpandangan, bahwa hukum meluruskan shaf adalah sunnah. Sedangkan Ibnu Hazm, Imam Bukhari, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Asy Syaukani menganggap meluruskan shaf itu wajib. Dalil kalangan yang mewajibkan adalah berdasarkan riwayat An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
 
لَتُسَوُّنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ وُجُوهِكُمْ
 
“Hendaknya kalian meluruskan shaf kalian, atau tidak Allah akan membuat wajah kalian berselisih.” [HR. Bukhari no. 717 dan Muslim no. 436]
 
Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Tidak lurusnya shaf akan menimbulkan permusuhan dan kebencian, serta membuat hati kalian berselisih.” [Syarh Muslim, 4: 157]
 
Dalil dari hadis Anas bin Malik:
 
عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ فَإِنِّى أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِى » . وَكَانَ أَحَدُنَا يُلْزِقُ مَنْكِبَهُ بِمَنْكِبِ صَاحِبِهِ وَقَدَمَهُ بِقَدَمِهِ
 
“Dari Anas, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: ”Luruskanlah shaf kalian. Aku melihat kalian dari belakang punggungku.” Lantas salah seorang di antara kami melekatkan pundaknya pada pundak temannya, lalu kakinya pada kaki temannya.” [HR. Bukhari no. 725]
 
 
Sumber:
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#sifatsholatNabi, #sholat, #shalat, #solat, #salat, #tatacara, #cara, #rapatkan, #luruskan, #merapatkan, #meluruskan, #saff, #shaff, #sof, #shoff, #barisan, #jamaah, #berjamaah, #hukum #dalildalil, #perintah, #anjuran, #menganjurkan
, ,

BOLEHKAH KITA MINUM SAMBIL BERDIRI? BAGAIMANA DENGAN MAKAN?

BOLEHKAH KITA MINUM SAMBIL BERDIRI? BAGAIMANA DENGAN MAKAN?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
BOLEHKAH KITA MINUM SAMBIL BERDIRI? BAGAIMANA DENGAN MAKAN?
 
Pertanyaan:
Berikut ini adalah hadis-hadis yang membolehkan dan melarang minum sambal berdiri:
 
Hadis yang Memperbolehkan:
1. Dari Ibnu ‘Abbas ia berkata: “Saya pernah memberi minuman kepada Nabi ﷺ dari sumur Zamzam, kemudian beliau ﷺ meminumnya dengan berdiri.” [HR Bukhari dan Muslim]
2. Dari An Nazzal bin Sabrah ia berkata, bahwa ‘Ali bin Abi Thalib masuk ke pintu gerbang masjid, kemudian minum sambil berdiri serta berkata: ”Sesungguhnya saya pernah melihat Rasulullah berbuat sebagaimana apa yang kamu sekalian lihat saya perbuat ini (minum dengan berdiri).” [HR Bukhari]
 
Hadis yang Melarang:
1. Dari Anas bin Malik dari Rasulullah ﷺ, bahwasanya beliau melarang seseorang untuk minum dengan berdiri. Qotadah bertanya kepada Anas: “Bagaimana kalau makan?” Anas menjawab: “Kalau makan dengan berdiri itu lebih jelek dan lebih buruk.” [HR Muslim]
2. Dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: “Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kamu sekalian minum dengan berdiri. Barang siapa yang terlupa, maka hendaklah ia memuntahkannya.” [HR. Muslim]
 
Yang menjadi pertanyaan, apakah kita diperbolehkan minum sambil berdiri? Atau disunnahkan minum sambil berdiri khusus untuk air Zam-zam saja dan selainnya tidak?
 
Jawaban:
Jumhur (Mayoritas) Ulama berpendapat bolehnya minum sambil berdiri karena Nabi ﷺ melakukannya. Bahkan disebutkan dalam Al Muwaththa’, bahwa Umar, Utsman dan Ali radhiyallaahu ‘anhum konon minum sambil berdiri. Demikian pula Aisyah dan Sa’ad (bin Abi Waqqash) menganggap hal tersebut tidak mengapa. Adapun hadis-hadis yang melarang, maka maksudnya bukan haram namun makruh. Hal ini disimpulkan dengan menjama’ (menggabungkan) hadis-hadis yang zahirnya kontradiksi dalam masalah ini. Intinya, minum sambil berdiri hukumnya BOLEH, tapi lebih baik dilakukan sambil duduk. Pendapat ini dinyatakan oleh Al Khattabi, Al Baghawi, Al Qadhi ‘Iyadh, Al Qurthubi, An Nawawi, Ibnu Hajar dll. [Lihat: Al Fajrus Saathi’ ‘alash Shahihil Jaami’ 8/22-23]
 
Adapun hadis riwayat Muslim dari Anas bin Malik yang mengatakan bahwa, “Barang siapa lupa melakukannya, maka hendaklah ia memuntahkannya”, maka dalam sanadnya ada perawi bernama ‘Umar bin Hamzah yang didha’ifkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Ma’ien dan An Nasa’i, dan hadis ini mengandung lafal yang munkar, yaitu perintah untuk memuntahkannya bagi yang lupa. Singkatnya, bagian awal hadis ini Shahih, namun bagian akhirnya tidak demikian (yaitu perintah untuk memuntahkan bagi yang lupa). [Hal ini dinyatakan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah hadis no 177, dan Silsilah Adh Dha’ifah hadis no 927]
 
Demikian pula halnya dengan makan sambil berdiri, Ibnu Hajar dalam Fathul Baari menukil dari Al Maaziri yang mengatakan, bahwa TIDAK ADA khilaf di kalangan ulama akan bolehnya makan sambil berdiri. Sedangkan yang lebih afdhal ialah makan sambil duduk.
 
Wallaahu ta’ala a’lam
 
Dijawab oleh: Ustadz Dr. Sufyan Baswedan Lc, MA
@sufyanbaswedan
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#hukum, #bolehkah, #minumsambilberdiri, #makansambilberdiri, #bolehnya, #adabakhlak, #makanan, #minuman
, ,

MENGUCAPKAN SALAM PADA RUMAH KOSONG

MENGUCAPKAN SALAM PADA RUMAH KOSONG
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

MENGUCAPKAN SALAM PADA RUMAH KOSONG

 

Kita diperintahkan mengucapkan salam pada rumah yang akan kita masuki sebagaimana disebutkan dalam ayat:

 
فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً
.
“Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah- rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik.” [QS. An Nur: 61]
 
Sedangkan mengucapkan salam pada rumah yang tidak berpenghuni atau tidak ada seorang pun di rumah tersebut tidaklah wajib, namun hanya disunnahkan saja.
 
Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata:
 
إذا دخل البيت غير المسكون، فليقل: السلام علينا، وعلى عباد الله الصالحين
.
“Jika seseorang masuk rumah yang tidak didiami, maka ucapkanlah “Assalamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibadillahish sholihiin
 
Artinya:
Salam bagi diri kami dan salam bagi hamba Allah yang saleh. [Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Adabul Mufrod 806/ 1055. Sanad hadis ini Hasan sebagaimana dikatakan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Al Fath, 11: 17]
 
Hal di atas diucapkan ketika rumah kosong. Namun jika ada keluarga atau pembantu di dalamnya, maka ucapkanlah “Assalamu ‘alaikum”. Namun jika memasuki masjid, maka ucapkanlah “Assalamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibadillahish sholihiin”. Sedangkan Ibnu ‘Umar menganggap salam yang terakhir ini diucapkan ketika memasuki rumah kosong.
 
Imam Nawawi rahimahullah dalam kitab Al Adzkar berkata: “Disunnahkan bila seseorang memasuki rumah sendiri untuk mengucapkan salam, meskipun tidak ada penghuninya. Yaitu ucapkanlah “Assalamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibadillahish sholihiin”. Begitu pula ketika memasuki masjid, rumah orang lain yang kosong, disunnahkan pula mengucapkan salam: “Assalamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibadillahish sholihiin. Assalamu ‘alaikum ahlal bait wa rahmatullah wa barakatuh”. [Al Adzkar, hal. 468-469]
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#adabakhlak, #ucapan, #ucapkan, #mengucapkan, #doazikir, #doa, #zikir, #dzikir, #rumahkosong, #tidakadapenghunihukum, #tatacara, #cara #masukrumah
,

APA ITU RUWAIBIDHAH?

APA ITU RUWAIBIDHAH?
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
APA ITU RUWAIBIDHAH?
>> Hati-hati Mengambil Sumber Ilmu
 
Allah bercerita tentang penyesalan sebagian penduduk Neraka, karena mereka mengikuti tokoh yang sesat:
 
وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا ( ) يَا وَيْلَتَا لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا ( ) لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا
 
(Ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul”. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si Fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Alquran ketika Alquran itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia. [QS. al-Furqan: 27-29]
 
Kita bisa perhatikan penyesalan mereka di Hari Kiamat, hingga mereka gigit jari. Mereka menyesal, mengapa dulu mengikuti guru sesat itu. Padahal sudah datang peringatan yang sangat jelas yang menunjukkan kesesatannya.
 
Karena itulah, semua mukmin menyadari, mengambil sumber ilmu akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah. Prinsip apapun yang terjadi sudah ditanggung guru, harus ditinggalkan, jika dia jelas menyimpang, membela kekufuran. Jangan lagi dijadikan referensi dalam ilmu agama.
 
Dulu Muhammad biin Sirin, ulama tabi’in muridnya Anas bin Malik, mengingatkan:
 
إن هذا العلم دين ، فانظروا عمن تأخذون دينكم
 
“Ilmu adalah bagian dari agama. Karena itu perhatikan, dari mana kalian mengambil agama kalian.” [Siyar A’lam an-Nubala’, 4/606]
 
Orang yang belajar agama, hakikatnya sedang membangun ideologi. Ketika sumber ilmunya orang sesat, akan terbentuk ideologi sesat dari muridnya. Benarlah apa yang dikatakan Nabi ﷺ:
 
سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ، يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ، وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ، وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ، قِيلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: “السَّفِيهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ”
 
“Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh penipuan. Pendusta dianggap benar, sementara orang yang jujur dianggap dusta. Pengkhianat diberi amanat, sedangkan orang amanah dianggap pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah angkat bicara.” Ada yang bertanya: “Apa itu Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab: “Orang bodoh (masalah agama) yang turut campur dalam urusan masyarakat.” [HR. Ahmad 7912, Ibnu Majah 4036, Abu Ya’la al-Mushili dalam musnadnya 3715, dan dinilai hasan oleh Syuaib al-Arnauth]
 
Definisi ini tidak terbatas pada orang atau kelompok tertentu. Tapi siapapun yang sembarangan ketika bicara masalah agama, maka dia termasuk Ar Ruwaibidhah.
 
 Wallahu a’lam.
 
 
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#apaituruwaibidhah, #ruwaibidhah. #ruwaibidah, #orangbodoh, #orangkonyol, #dalammasalahagama, #arti, #definisi, #makna, #turutcampurdalamurusanmasyarakat, #ikutcampurdalamurusanmasyarakat, #ArRuwaibidhah
, ,

CATATAN MALAIKAT MENUNGGUMU DI PINTU-PINTU MASJID SETIAP JUMAT

CATATAN MALAIKAT MENUNGGUMU DI PINTU-PINTU MASJID SETIAP JUMAT
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
CATATAN MALAIKAT MENUNGGUMU DI PINTU-PINTU MASJID SETIAP JUMAT
 
Rasulullah ﷺ bersabda:
 
إذا كان يومُ الجمعةِ كان على كلِّ بابٍ من أبوابِ المسجدِ الملائكة يكتبون الأولَ فالأولَ، فإذا جلس الإمامُ طوَوُا الصحفَ وجاؤوا يستمعون الذكرَ.
“Apabila Jumat tiba, maka akan ada para malaikat di setiap pintu-pintu masjid. Mereka akan mencatat orang yang pertama kali datang, lalu berikutnya, dan berikutnya, sampai apabila Imam telah duduk di mimbarnya, mereka pun melipat catatan-catatan tersebut. Lantas mereka pun datang dan ikut mendengarkan khutbah.” [HR. Bukhari 3211]
 
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#shalat, #sholat, #solat, #salat, #catatanmalaikat, #menunggudipintupintumasjid, #jamaah, #berjamaahkeutamaan, #fadhilah, #datangawal
,

SHALAT SUNNAH DUA RAKAAT SEBELUM MENINGGALKAN RUMAH DAN KETIKA PULANG

SHALAT SUNNAH DUA RAKAAT SEBELUM MENINGGALKAN RUMAH DAN KETIKA PULANG
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
SHALAT SUNNAH DUA RAKAAT SEBELUM MENINGGALKAN RUMAH DAN KETIKA PULANG
 
Terdapat anjuran shalat sunah sebelum keluar dan masuk ke dalam rumah. Dinyatakan dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; Nabi ﷺ bersabda:
 
إِذَا خَرَجْتَ مِنْ مَنْزِلِكَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ يَمْنَعَانِكَ مِنْ مَخْرَجِ السُّوْءِ وَإِذَا دَخَلْتَ إِلَى مَنْزِلِكَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ يَمْنَعَانِكَ مِنْ مَدْخَلِ السُّوْءِ
 
“Jika engkau keluar dari rumahmu, maka lakukanlah shalat dua rakaat, yang dengan ini akan menghalangimu dari kejelekan yang berada di luar rumah. Jika engkau memasuki rumahmu, maka lakukanlah shalat dua rakaat yang akan menghalangimu dari kejelekan yang masuk ke dalam rumah.”
 
Status Hadis:
Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bazzar no. 8567, ad-Dailami dalam Musnadnya (1/108), dan Abdul Ghani al-Maqdisi dalam Akhbar as-Shalah (1/68).
 
Dalam as-Silsilah as-Shahihah dinyatakan:
 
وهذا إسناد جيد رجاله ثقات رجال البخاري، وفي يحيى بن أيوب المصري كلام يسير لا يضر. وقال الهيثمي في زوائد البزار: ” ورجاله موثقون “. وقال المناوي في ” الفيض “: ” قال ابن حجر: حديث حسن، ولولا شك بكر لكان على شرط الصحيح
 
Hadis ini sanadnya Jayyid, perawinya tsiqah (terpercaya), perawi Shahih Bukhari. Ada sedikit komentar tentang nama perawi Yahya bin Ayub al-Mishri, namun tidak mempengaruhi keabsahan hadis. Al-Haitsami dalam Zawaid al-Bazzar mengatakan, ‘Perawinya dinilai tsiqqah.’ Sementara al-Munawi dalam Faidhul Qadir menukil keterangan Ibnu Hajar, ‘Hadis Hasan. Andai bukan karena keraguan Bakr tentu sesuai syarat hadis shahih.’ [As-Silsilah as-Sahihah, no. 3/315]
 
Kesimpulannya, hadis ini statusnya Hasan. Di antara yang bisa kita simpulkan dari hadis di atas:
 
> Pertama, makna tekstual dalam hadis ini adalah anjuran melaksanakan shalat sunah ketika hendak keluar rumah atau masuk rumah. Terlebih keluar rumah ketika hendak safar, karena manusia lebih membutuhkan penjagaan dan keamanan selama perjalanan.
 
> Kedua, shalat dua rakaat ini bentuknya bebas, artinya tidak harus shalat sunah khusus. Karena itu bisa dikerjakan dalam bentuk shalat sunah, atau shalat wajib. Misalnya, dia berangkat setelah Subuh, kemudian dia shalat Subuh di rumah. Maka hal ini sudah dianggap mendapat keutamaan hadis di atas.
 
Al-Munawi mengatakan:
 
إذا خرجت من منزلك أي أردت الخروج من بيتك فصل ندبا ركعتين خفيفتين وتحصل بفرض أو نفل
 
’Apabila kamu keluar dari rumahmu’, artinya jika kamu ingin keluar rumah, lakukanlah shalat sunah ringan dua rakaat. Anjuran ini bisa dilaksanakan dalam bentuk shalat wajib atau shalat sunah. [Faidhul Qadir, 1/334]
 
> Ketiga, bahwa anjuran shalat sunah dalam hadis di atas adalah DIKERJAKAN DI RUMAH dan bukan di masjid. Ini sangat jelas dinyatakan dalam kalimat: ”Jika engkau keluar dari rumahmu, maka lakukanlah shalat dua rakaat.”
 
> Keempat, bahwa anjuran ini berlaku dalam setiap rumah, baik untuk safar maupun sekadar keluar rumah untuk kegiatan yang lainnya. Baik safar ibadah atau untuk kegiatan murni dunia. Baik safar sehari, atau hingga memakan waktu berhari-hari.
 
Hanya saja untuk safar lebih ditekankan, karena resiko dan peluang terjadinya hal yang tidak diinginkan, lebih besar dibandingkan ketika diam di rumah.
 
Wallahu a’lam.
 
Penulis: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)
Sumber: https://konsultasisyariah.com/23469-shalat-sunah-di-masjid-sebelum-berangkat-haji.html
 
Catatan Tambahan:
  • Apabila kita safar ke luar kota dan menginap di suatu hotel selama berhari-hari, maka kita tidak perlu melaksanakan shalat sunnah ini setiap kita keluar dari hotel dan kembali pulang ke hotel. Hal ini adalah karena anjuran shalat sunah dalam hadis di atas adalah DIKERJAKAN DI RUMAH kita (dan bukan di hotel, yang memang bukan rumah kita -pen).

  • Apabila kita tiba di rumah dan berniat melaksanakan shalat sunnah ini, maka kita dianjurkan untuk segera melaksanakannya begitu kita tiba di rumah dan tidak menunda-nundanya.
  • Apabila kita berniat melaksanakan shalat sunnah ini ketika kita kembali ke rumah, namun misalnya kita terlupa atau ketiduran dan baru ingat beberapa waktu kemudian, maka kita tidak perlu meng-qadha shalat ini.
Wallahu a’lam.
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahabat
#shalat, #sholat, #salat, #solat #sunnah, #dua rakaat, #2 rakaat, #rokaat, #sebelummeninggalkanrumah, #sebelumpergi, #pulang, #waktupulang, #masukrumah, #rumah, #bukanmasjid, #bukanhotel #shalatsunnahyangterlupakan #banyakdilupakan #sifatsholatNabi #hukum #tatacara #cara
, ,

BEKAL YANG SIA-SIA

BEKAL YANG SIA-SIA
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
BEKAL YANG SIA-SIA
>> Dua Pilar Amalan (Ikhlas dan Mutabaah)
 
Sebagian Ulama Salaf berkata:
 
ما من فعلة – وإن صغرت – إلا ينشر لها ديوانان : لم؟ وكيف؟ أى : لم فعلت وكيف فعلت
 
“Tidaklah setiap perbuatan sekecil apapun kelak akan dibentangkan padanya dua tulisan yakni mengapa dan bagaimana. Yaitu apa tujuannya dan bagaimana caranya.
 
Al-Imam Ibnul Qoyyim menjelaskan:
“Pertanyaan pertama terkait sebabnya amalan dan pendorongnya. Apakah dia beramal karena tujuan-tujuan duniawi, senang dipuji, takut dicela. [Ighotsatul Lahfan min Masho’idis Syaithon hal. 16]
 
Beliau juga berkata:
 
العمل بغير اخلاص ولا اقتداء كالمسافر يملأ جرابه رملا يثقله ولا ينفعه .
 
“Suatu amalan bila dilaksanakan tanpa keikhlasan dan meneladani sunnah, bagaikan seorang musafir yang sibuk memenuhi kantongnya dengan pasir, hanya memberatkannya, dan tidak memberinya manfaat.” [Al-Fawa’id hal. 49]
Hendaknya kita selalu waspada terhadap niatan kita atas suatu amalan. Dan hendaknya selalu meninjau dua pilar amalan tersebut sebagai landasan kita dalam beribadah kepada Allah ﷻ.
 
 
 
Penulis: Al-Ustâdz Fikri Abul Hasan (dengan sedikit pengubahan)
Sumber: indonesiabertauhidofficial
Catatan Tambahan:
Mutaba’ah (Ittiba’ – mengikuti/mencontoh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam)
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: +61 (450) 134 878 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Website: http://nasihatsahabat.com/
Facebook: https://www.facebook.com/nasihatsahabatcom/
Instagram: NasihatSahabatCom
Telegram: https://t.me/nasihatsahabat
Pinterest: https://id.pinterest.com/nasihatsahaba
#bekalyangsiasia, #percuma, #DuaPilarAmalan, #2pilaramalan, #IkhlasdanMutabaah, #ikhlasdanittiba, #ikhlash, #mutabaah, #itiba, #ittiba, #mencontohNabi #isikantongdenganpasir