ALIRAN DI BALIK KEKEJAMAN YANG MENIMPA MUSLIMIN AHLUS SUNNAH DI SURIAH

/, Landasan Agama, Manhaj/ALIRAN DI BALIK KEKEJAMAN YANG MENIMPA MUSLIMIN AHLUS SUNNAH DI SURIAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

#DakwahTauhid

#DakwahManhaj

ALIRAN DI BALIK KEKEJAMAN YANG MENIMPA MUSLIMIN AHLUS SUNNAH DI SURIAH

Kekejaman Penguasa Suriah terhadap kaum Muslimin Ahli Sunnah, disengaja atau tidak, jarang diekspos oleh media massa. Padahal fakta menyebutkkan, telah terjadi kebengisan yang tak terperikan yang dipraktikkan secara terang-terangan oleh pasukan pemerintah, dalam menghabisi rakyat sendiri; tua, muda dan anak-anak. Korban pun mencapai angka yang sangat besar, lebih dari 5000 jiwa tewas. Masjid-masjid Muslimin hancur berantakan oleh senjata berat pasukan pemerintah. Mushaf Alquran pun tak luput dari penodaan tangan-tangan mereka, termasuk kehormatan wanita Muslimah.

Penindasan dan kebiadaban yang disebut Syaikh Musa Alu Nashr (Majalah As-Sunnah 01 Thn XVI) melebihi kekejaman dan kebrutalan bangsa Yahudi terhadap kaum Muslimin Palestina. Ini jelas membekaskan tanda tanya dan pertanyaan, mengapa mereka berani memertontonkan aksi sangat mengerikan dan biadab terhadap kaum Muslimin di sana? Berbeda halnya saat Libia, Mesir dan Tunisia bergejolak. Tanda tanya itu akan terjawab, sekaligus menjawab diamnya Negara Barat atas aksi brutal di sana, dengan mengetahui ideologi yang mendominasi kalangan pemerintah dan pasukannya, yaitu paham Syiah Nushairiyah.

Muncul pada Abad Ketiga

Nushairiyah merupakan salah satu dari aliran kebatinan, muncul pada abad ketiga Hijriyah, dan merupakan sempalan dari golongan Syiah Imam Dua belas. Kelompok ini dinisbatkan kepada pimpinan mereka yang bernama Muhammad bin Nushair an-Numairi, Abu Syuaib, berasal dari Persia. Sebelumnya, ia berpaham Syiah Imam Dua belas.

Dia telah mengklaim sebagai bab , pintu penghubung manusia menuju Imam Kedua Belas (yang fiktif), yang mereka anggap sebagai Imam Mahdi yang ditunggu-tunggu. Akan tetapi, para tokoh Syiah lainnya tidak mengakui klaimnya itu. Ia pun lalu melepaskan diri dari Syiah, dan membuat kelompok sendiri Nushairiyah, serta menjadi pimpinan sampai mati pada tahun 270 H.

Firqah (aliran) ini layaknya musuh-musuh Islam lainnya, selalu mengintai barisan kaum Muslimin dan tidak pernah melewatkan kesempatan untuk mengganggu kaum Muslimin dengan berbagai cara, tanpa rasa belas kasihan. Bahkan mereka berkeyakinan, apa yang mereka lakukan akan mendapatkan pahala. Semakin besar gangguan yang mereka munculkan, akan semakin besar pula pahala yang akan mereka dapatkan. Fakta yang terjadi di Suriah belakangan ini menjadi bukti nyata terbaru. Mereka membantai banyak orang yang tidak bersalah, baik pria, wanita maupun anak-anak. Jauh sebelum itu, sejarah telah mencatat mereka juga telah membantu pasukan Tartar dan kaum Salibis untuk menyerang kaum Muslimin dengan cara yang sangat keji. Fakta ini sekaligus menjadi jawaban atas penindasan dan kebrutalan mereka terhadap kaum Muslimin.

Para Ulama Ahlus Sunnah telah mencatat kekejaman Nushairiyah Batiniyah terhadap kaum Muslimin dalam masa yang berbeda-beda. Bagaimana mereka menjelma binatang liar yang ganas yang tidak punya rasa iba dan belas kasih sama sekali terhadap kaum Muslimin, tua, muda, perempuan maupun anak-anak.

Nama Aliran Yang Paling Mereka Sukai

Kelompok ini dikenal dengan beberapa nama. Yang paling populer adalah Nushairiyah, penisbatan kepada penggagas pertama aliran ini. Akan tetapi mereka kurang menyukai nama ini, karena ingin menghilangkan kesan eksklusif, dan menghindari permusuhan dari golongan lainnya.

Mereka lebih menyukai nama ‘Alawiyyun dan berharap dikenal dengan nama ini, karena penisbatan kepada Ali tentu lebih baik dari penisbatan kepada Ibnu Nushair. Sebagaimana slogan yang diusung oleh komunitas Syiah lainnya, dengan nama ini mereka ingin disebut sebagai para penganut ‘Ali atau mencintai keluarga Nabi ﷺ guna menarik simpati orang, dan menutupi kerusakan yang ada pada aliran tersebut sekaligus.

Sebagian Akidah Rahasia Nushairiyah

Para pengikut Nusairiyyah ini beranggapan, agama atau kelompok mereka merupakan suatu rahasia besar yang tidak boleh diketahui atau disebarkan, selain dari kalangan mereka sendiri. Mereka menetapkan peraturan, orang yang berani menyebarkan sedikit saja tentang akidah mereka, maka hukumannya dibunuh dengan cara yang paling sadis. Hukuman ini pernah ditimpakan pada orang bernama Sulaiman al-Adhani, anak dari salah satu pimpinan Nushairiyah di wilayah Adhnah yang menulis buku yang menelanjangi Nushairiyah dengan judul “Al-Bakurah as-Sulaimaniyyah”, yang kemudian dicetak oleh para misionaris di Beirut yang telah berhasil mengkristenkannya. Setelah berhasil ditangkap, ia pun dibunuh dengan cara dibakar hidup-hidup.

Di antara yang tertulis dalam kitab tersebut, ialah:

  • Mereka meyakini keTuhanan Ali. Mereka menyakini Ali adalah imam dalam bentuk lahirnya, dan Tuhan dalam batinnya, yang tidak melahirkan dan tidak dilahirkan. Ali belum meninggal dan tidak terbunuh, tidak makan ataupun minum. Bahkan mereka mengatakan, Ali telah menciptakan Muhammad dan Muhammad menciptakan Salman al-Farisi.
  • Mereka memiliki kitab suci selain Alquran, yang menjadi pedoman pokok. Alquran hanya menjadi pedoman sampingan semata.

Kerahasiaan ini juga menjadi pertanda kesesatan Nushairiyah. Kalau memang keyakinan dan pedoman mereka baik dan bagus, mengapa takut diketahui oleh orang lain?!

Kebencian Nushairiyah kepada Para Sahabat Nabi ﷺ

Sikap para penganut Nushairiyah terhadap Sahabat Nabi ﷺ,seperti sikap para musuh Islam yang memusuhi Islam dan Muslimin. Satu sikap negatif yang tertanam pada hati para penganut aliran Syiah dengan segala cabangnya, termasuk Nushairiyah. Kebencian mereka terhadap Sahabat sampai pada titik melontarkan pernyataan ada individu dari kalangan Sahabat Nabi ﷺ, yang pada dasarnya belum pernah beriman secara mutlak. Ia hanya menampakkan keislaman dan keimanan, karena takut kepada Ali bin Abi Thalib semata.

Seperti orang Syiah lainnya, kebencian mereka terhadap Sahabat Abu Bakar Radhiyallahu anhu dan Umar Radhiyallahu anhu sangat besar, sampai enggan menjadikan dua nama itu untuk anak keturunan mereka. Kebencian dan kedengkian ini terlukiskan pada tindakan yang pantas disebut kedunguan, dengan sengaja membunuhi beberapa binatang dan menyiksanya dengan cara-cara yang sadis, karena beranggapan ruh Abu Bakar Radhiyallahu anhu , ‘Umar dan ‘Aisyah berdiam di sana. Secara khusus, Sahabat ‘Umar menjadi sosok yang paling mereka benci, tiada lain karena pada masa khilafah ‘Umar kekuatan Persia luluh lantak, dan api Majusi padam, dan digantikan dengan menyebarnya hidayah Islam dan cahayanya di sana.

Wanita Mereka, Wanita Paling Bodoh dan Terhina

Para wanita Nushairiyah tidak diperbolehkan memelajari rahasia-rahasia yang terdapat dalam aliran Nushairiyah. Mereka menganggap, wanita memiliki pikiran, akal dan kehendak yang sangat lemah. Di samping itu, wanita dianggap lebih jahat dan memiliki banyak tipu muslihat. Oleh karena itu, bisa dikatakan kaum wanita mereka tidaklah beragama, dan termasuk wanita-wanita yang sangat bodoh di dunia ini.

Para lelaki saja yang diizinkan untuk mendalami keyakinan Nushairiyah. Bila seorang lelaki telah berusia lebih dari 19 tahun, ia boleh mengikuti pembinaan spiritual ala Nushairiyah melalui beberapa tahap. Banyak ritual aneh dan merendahkan martabat manusia yang harus ia jalani. Dalam kondisi ini, ‘Penuntut ilmu’ ini harus patuh dan tunduk kepada gurunya, layaknya jenazah di hadapan orang yang memandikannya. Setelah berhasil menuntaskan ‘pendidikan’ ini, maka sang murid telah mengetahui rahasia-rahasia aliran dan berkewajiban mengemban dan menjaga rahasianya. Ia pun berhak menyandang gelar guru dalam aliran ini.

Memuja Khamr

Mereka memuja khamr atau segala sesuatu yang memabukkan. Mereka memiliki anggapan (sesat), bahwa Allah ta’ala berada jelas di dalam khamr. Orang yang ingin masuk ke aliran ini akan disuruh tokoh Nushairiyah untuk menenggak khamr.

Ibadah Versi Nushairiyah

Cara peribadahan kaum Muslimin jauh berbeda dari ritual-ritual kaum Nushairiyah. Dan ini wajar sekali, karena ajaran-ajaran Islam tidak akan mungkin bersesuaian dengan ajaran Nushairiyah yang bersumber dari Watsaniyah (Paganisme) Persia, meskipun para penganut Nushairiyah menampakkan diri dengan penampilan Islam, seperti menggunakan nama Islami. Anehnya, walaupun kadang-kadang mereka menggunakan nama-nama Nasrani, akan tetapi mereka melarang menggunakan nama-nama para Sahabat Nabi ﷺ terbaik seperti Abu Bakar Radhiyallahu anhu dan ‘Umar Radhiyallahu anhu.

Mereka memaknai shalat, puasa, zakat dan haji dengan pengertian kebatinan, yang juga sangat jauh berbeda dari Islam. Makna menegakkan shalat menurut mereka yaitu mengetahui dan menjunjung tinggi Amirul Mukminin. Puasa adalah larangan bercampur dengan istri sepanjang Ramadan saja. Sementara ibadah haji mereka maknai sebagai praktik kekufuran dan penyembahan kepada berhala.

Para penganut Nushairiyah tidak melaksanakan shalat Jumat, karena mereka tidak mengakui kewajiban itu. Dalam ibadah shalat versi mereka, orang-orang tidak bersuci terlebih dahulu. Mereka mengerjakan shalat di tempat-tempat tertentu, pada waktu tertentu pula. Tidak pernah mengerjakannya di masjid. Justru mereka melawan setiap usaha pembangunan masjid.

Dalam aliran kebatinan ini, tokoh agama Nushairiyah dan orang-orang yang telah mengetahui dan mengarungi makna-makna batin akan terbebas dari aturan syariat, sebagaimana terdapat pada aliran-aliran kebatinan lainnya.

Buku Panduan Ringkas Ajaran Nushairiyah

Abdurrahman Badawi menyampaikan fakta menarik, ditemukannya buku panduan ringkas mengenal ajaran Nushairiyah berjudul Kitabu Ta’lim Diyanati an-Nushairiyyah, yang masih berbentuk manuskrip kuno di Perpustakaan Paris. Buku panduan ini disajikan dalam bentuk soal berjawab, berisi 101 soal dan jawabannya. Di antaranya:

Soal (S): “Siapakah yang menciptakan kita?”

Jawab (J): ‘Ali bin Abi Thalib Amirul Mukminin

(S): “Dari mana kita tahu ia adalah Tuhan?”.

(J): “Dari penjelasannya saat berkhutbah di atas mimbar”.

(S): “Apakah Alquran itu?”

(J): “Kitab yang memberi kabar gembira perihal junjungan kita (‘Ali) dalam rupa manusia”.

(S): “Siapakah Nujaba di bumi ini?”.

(J): Pertama Abu Ayyub….dan yang terakhir ‘Abdullah bin Saba`”.

(S): “Mengapa orang Mukmin shalat menghadap matahari?”

(J): “Karena matahari adalah sumber seluruh cahaya”.

Ini sebagian keyakinan Nushairiyah yang termaktub dalam panduan tersebut, yang jelas bertentangan dengan akidah Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ.

Kebencian Terhadap Islam dan Nabinya ﷺ

Pernah ada sekelompok orang penganut Nushairiyah melantunkan pernyataan: “Ambillah senjata, ambillah senjata, agama Muhammad biar pergi dan sirna”.

Harian ats-Tsaurah juga pernah menuli: “Allah, para nabi, kitab-kitab suci, semuanya ini adalah Muhannathaat yang harus dialihkan ke museum-museum sejarah”. Maka, tidak aneh bila terdengar sebagian prajurit pemerintah Suriah memaksa sebagian Muslimin untuk mengatakan kata-kata kekufuran.

Masjid Dalam Pandangan Nushairiyah

Kekeliruan dan penyimpangan Nushairiyah bukan perkara yang sepele dan ringan, sudah merupakan kesalahan yang fundamental. Karenanya, sudah banyak pemimpin Islam dan dai-dai Muslim seperti Sultan Shalahuddin al-Ayyubi rahimahullah, Zhahir Baibrus rahimahullah, Sultan Salim al-‘Utsmani rahimahullah, Ibrahim Basya rahimahullah, Sultan ‘Abdul Hamid al-‘Utsmani rahimahullah dan lainnya yang berusaha mengajak mereka kembali kepada ajaran Islam yang benar. Para pemimpin umat Islam itu pun sudah membangunkan masjid dan mengajak mereka mengerjakan shalat, puasa dan ibadah-ibadah lainnya.

Namun mereka menolak ajakan baik tersebut. Bila mereka merasa terancam oleh kekuatan Islam, maka mereka berpura-pura memerlihatkan komitmen dengan syiar Islam yang tampak. Sebaliknya, bila kekuatan yang mereka takuti melemah, mereka akan menampakkan batin mereka dan memerangi syiar-syiar Islam tersebut dengan terang-terangan.

Sebagai contoh, usai mengalahkan kaum Salibis, Sultan Shalahuddin al-Ayyubi membangunkan masjid-masjid bagi Nushairiyah dan memerintahkan mereka untuk memakmurkannya dengan ibadah shalat. Mereka mematuhi perintah ini. Akan tetapi, setelah Shalahuddin al-Ayyubi meninggal, serta merta mereka mengalihkan fungsi masjid menjadi kandang binatang. Na’udzubillah min dzalik.

Demikian juga nasib masjid-masjid yang dibangun oleh Zhahir Baibrus. Mereka menelantarkannya. Bahkan ketika ada orang akan mengumandangkan azan, justru mereka berkomentar: “Jangan mengembik, pakanmu akan tiba sebentar lagi”.

Begitu pula, masjid-masjid dan madrasah yang dibangun atas perintah Sultan ‘Abdul Hamid al-‘Utsmani. Mereka menghancurkan madrasah-madrasah itu dan membakar masjid-masjid.

Keyakinan kebatinan yang tertanam pada hati mereka itulah yang mendorong mereka merusak dan menghancurkan masjid-masjid. Menurut mereka, orang yang sudah mengenal Tuhannya dan memahami makna syariat, ia menjadi orang bebas dan tidak terkena beban menjalankan syariat lagi. Dengan demikian, keberadaan masjid dalam pandangan mereka merupakan bukti mereka belum mengenal Tuhannya, dan ketidaktahuan mereka terhadap perintah Tuhannya secara lahir dan batin.

Demikianlah gambaran ringkas tentang kebusukan keyakinan Nushairiyah dan bahaya mereka terhadap kaum Muslimin. Semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan kita orang yang senantiasa mendapatkan petunjuk dan selamat dari tipu daya dan pemikiran-pemikiran yang menyimpang, serta mendatangkan faraj (jalan keluar dari masalah), segera bagi kaum Muslimin di Suriah.

 

(Diringkas dari kitab Firaq Mu’ashirah Tantasibu ilal Islam wa Bayanu Mauqiful Islam Minha, oleh Dr. Ghalib bin ‘Ali ‘Awaji Cet. V, 2005 M, al-Maktabah al ‘Ashriyyah adz-Dzahabiyyah, Jeddah).

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03-04/Tahun XVI/1433/2012M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

 

Sumber: https://almanhaj.or.id/3326-aliran-di-balik-kekejaman-yang-menimpa-muslimin-ahlus-sunnah-di-suriah.html

 

2016-12-18T14:58:10+00:00 18 December 2016|Akidah & Tauhid, Landasan Agama, Manhaj|0 Comments

Leave A Comment