ADAKAH KAROMAH DALAM ISLAM?

Adakah Karomah dalam Islam

Adakah Karomah dalam Islam?

Di dalam masyarakat, timbul kecenderungan bahwa setiap keanehan yang muncul dari seorang kyai dinamakan dengan Karomah. Benarkah bahwa setiap kedigdayaan yang muncul dari seorang yang bersurban, berjubah, dan berjenggot dinamakan Karomah wali? Kalau tidak, lantas bagaimanakah caranya agar kita dapat membedakan antara Karomah Sejati dengan Karomah Imitasi alias tipu daya setan? Mari kita ulas.

Definisi Karomah

Manurut bahasa, lafadzh (kata) Karomah berasal dari كَرُمَ yang berarti kemuliaan. (Al-Mu’jam al-Wasith: 784)

Karomah menurut istilah ialah kejadian luar biasa, tidak untuk melawan dan tidak untuk mengaku nabi. Allah ta’ala menampakkan kepada walinya yang beriman untuk menolong urusan din (agama) atau duniawinya (Syarh Ushul I’tiqod Ahlussunnah wal Jama’ah: 9/15, Al-Minhatul Ilahiyah fi Tahdzib Syarh at-Thohawiyyah: 387)

Wajib Mengimani Adanya Karomah

Allah ta’ala berfirman:

أَلآ إِنَّ أَوْلِيَآءَ اللهِ لاَخَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَهُمْ يَحْزَنُونَ {62} الَّذِينَ ءَامَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ {63} لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي اْلأَخِرَةِ لاَتَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ {64}

”Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di Akhirat. Tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.” (QS. Yunus: 62-64)

Berkata Syaikh al-Baidhowi rahimahullah: ”Inilah kabar gembira untuk orang yang bertaqwa, yang dijelaskan di dalam kitab Allah ta’ala dan sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Allah azza wa jalla memerlihatkan kepada mereka berupa impian yang benar serta yang tampak berupa kejadian luar biasa, sekaligus kabar gembira saat malaikat mencabut nyawanya”. (Tafsir Baidhowi: 283) [http://maramissetiawan.wordpress.com/2010/01/28/Karomah-wali/]

Ahlussunnah wal Jama’ah mengimani adanya Karomah bagi wali-wali Allah. Oleh karena itu, Al Al-Imam At Thahawi di dalam kitab Aqidahnya yang terkenal (Aqidah Thahawiyah -penj) berkata: ” Kita tidak mengutamakan seorang wali pun lebih di atas para Nabi ‘Alaihi Sallam, dan kita katakan: Satu orang Nabi itu lebih utama dari seluruh para wali. Dan kita mengimani tentang Karomah mereka dan  kabar yang shohih dari orang-orang yang tsiqah (terpercaya) berkenaan dengan riwayat mereka “. (http://tauhiddansyirik.wordpress.com/2009/06/03/fatwa-syaikh-ali-tentang-ponari/)

Ibnu Taimiyah berkata dalam al-Aqidah al-Wasithiyah: “Di antara prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah memercayai Karomah para wali” (http://www.alsofwa.com/17644/314-aqidah-Karomah-auliya.html)

Apakah Setiap Kejadian Luar Biasa Adalah Karomah?

Syaikh Ali Ar-Rajihi Hafidzahullah berkata (diringkas):

Ketahuilah bahwa kejadian yang di luar batas kemampuan itu ada tiga macam:

Pertama: Suatu kejadian yang di luar batas kemampuan manusia, dan itu merupakan kelebihan yang Allah berikan kepada makhluk-Nya. Ini hanya diberikan kepada para nabi, untuk menambah kejelasan dan bukti akan kenabian mereka. Kemampuan yang mereka miliki itu dinamakan ”Mukjizat“. Yang demikian itu banyak sekali terjadi dalam kehidupan para nabi.

Kedua: Suatu yang di luar batas kemampuan manusia, terjadi pada sebagian orang-orang yang suka menjalankan kebaikkan, sunnah dan memiliki keistiqomahan yang sempurna. Ini dinamakan ” Karomah “. Allah memberikan kemuliaan dengan Karomah ini kepada siapa saja yang Dia dikehendaki dari aulianya ( wali-wali Nya ). Dan bukanlah suatu keharusan bahwa setiap orang memuliakan-Nya dan dia adalah  wali Nya, lalu mesti Allah berikan Karomah untuknya, baik sekali saja ataupun berkali-kali. Akan tetapi Karomah itu hanyalah keutamaan dari Allah, Dia anugerahkan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Kita memohon keutamaan Nya berupa kemuliaan, kebaikan dan kelurusan.

Ketiga: Sesuatu yang di luar kebiasaan, tetapi dengan jalan minta bantuan syaithan yang menyebabkan penyelisihan sebagian besar atau sebagian dari apa yang Allah Syariatkan kepadanya, dan ini adalah kebiasaan syaithan tidak ada rahmat padanya. Maka wajib bagi setiap muslim menjauh darinya, dari apa-apa yang telah lewat penjelasannya dari kisah Al Jailani Rahimahullah dan juga apa-apa yang disebutkan sebagian para ulama… (http://tauhiddansyirik.wordpress.com/2009/06/03/fatwa-syaikh-ali-tentang-ponari/)

Karomah yang datangnya dari Allah jelas berbeda dengan sesuatu yang datangnya dari syaithon. Sebagaimana yang terjadi pada Musailamah Al Kadzdzab dan Al Aswad Al Ansyi (Dua orang pendusta di zaman Rasulullah yang mengaku menjadi nabi) dan menyampaikan perkara-perkara yang gaib, yang  jelas merupakan perbuatan syaithon. (http://mahad-assalafy.com/2006/09/17/hakekat-Karomah/)

Dan untuk membedakan antara Karomah wali atau selainnya (keanehan setan/sihir) maka caranya sebagai berikut:

  1. Dilihat pelakunya, apakah pengikut sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam ataukah tidak? Karena ulama telah sepakat, jika ada orang yang terbang atau berjalan di atas air, jangan tergesa-gesa dinilai sebagai wali, sehingga benar-benar pelakunya dikenal sebagai orang yang mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, melaksanakah perintah dan meninggalkan larangannya. Karena keanehan boleh jadi muncul dari wali Allah azza wa jalla atau musuh-Nya.
  1. Karomah wali tidak bisa dipelajari dan tidak dapat diajarkan. Berbeda dengan sihir dan tenung, dapat dipelajari dengan belajar atau semedi atau dengan memanggil nama-nama jin dan setan, pelakunya meninggalkan kewajiban seperti wudhu, sholat berjamaah dan bergelut dengan barang najis dan perbuatan keji.
  1. Tanda lain yang dapat dikenal bahwa perbuatan keanehan itu sihir atau perbuatan setan ialah akan terjadi perlawanan satu sama lain, karena memang tujuannya tidak syar’i (tidak sesuai dengan syari’at) tetapi ingin menampilkan kemampuan, tipu daya satu sama lain. Berbeda dengan Karomah wali Allahta’ala, tidak akan terjadi perlawanan satu sama lain.
  1. Sihir dapat diketahui, sebab pelakunya sering berbohong, menipu, dan mengklaim (mengaku) bahwa dirinya sering mendapatkan Karomah. Tujuannya supaya ”Diwalikan” oleh manusia, berbeda dengan wali Allah azza wa jalla yang sebenarnya.
  1. Sihir dan sulap dapat ditolak dan ditangkal oleh Ayat Kursi, ayat-ayat Allah azza wa jalla dan doa yang shohih. (Taqdisul Asykhos fil Fikris Sufi: 2/282-284, Syarh Ushul I’tiqod Ahlus Sunnah Wal Jama’ah: 9/25-28) [http://tauhiddansyirik.wordpress.com/2009/06/03/fatwa-syaikh-ali-tentang-ponari/]
  1. Karomah itu tidaklah menjadikan seseorang sombong dan merasa bangga diri. Justru dengan adanya Karomah ini menjadikannya semakin bertaqwa kepada Allah dan semakin mensyukuri nikmat Allah. Adapun perbuatan syaithon bisa menjadikan seseorang bangga diri atau sombong dengan kemampuan yang dia miliki serta angkuh terhadap Allah, sehingga jelaslah bagi kita akan hakikat Karomah dan perbuatan syaithon. (http://mahad-assalafy.com/2006/09/17/hakekat-Karomah/)

Contoh Karomah Wali Sejati

  1. Kisah Maryam yang mendapatkan makanan dari Allah azza wa jalla tanpa susah payah. (QS. Ali Imron: 37)
  1. Kisah istri Nabi Ibrohim ’alaihissalam, dia adalah perempuan yang sudah tua, tetapi masih dikaruniai anak, oleh Allah ta’ala. (QS. Hud: 71-72)
  1. Kisah tiga orang yang terperangkap dalam gua. Karena mereka tidak mampu menggulingkan batu besar yang menutup pintu gua, lalu masing-masing berwasilah dengan amal sholihnya pada masa lampau. Lalu Allah ta’ala membukakan batu besar tersebut. Ini menunjukkan Karomah orang mukmin yang ikhlas beramal karena Allah azza wa jalla. (Lihat HR. Bukhori: 5517)
  1. Kisah Ashabul Kahfi yang tertidur selama 309 tahun di dalam gua. Mereka hijrah di jalan Allah ta’ala, meninggalkan kampung mereka demi menyelamatkan keimanan mereka kepada Allah azza wa jalla dari gangguan orang-orang musyrik.
  1. Kisah Umar radliyallahu’anhu yang memberikan komando kepada salah seorang panglimanya yang bernama Sariyah bin Zunaim radliyallahu’anhu saat perang di daerah Persia, lantaran mereka terkepung oleh musuh dengan mengatakan: ”Wahai Sariyah, naiklah ke gunung!! Hingga akhirnya ia pun segera naik ke gunung dan menjadikan gunung tersebut sebagai benteng pertahanan. Padahal waktu itu Umar radliyallahu’anhu berada di Madinah dan beliau sedang menyampaikan khotbah Jumat di atas mimbar.(Lihat Syarh al-Aqidah al-Wasitiyyah, Ibnu Utsaimin: 2/304)

Dan masih banyak lagi contoh Karomah yang lainnya baik di masa para sahabat, tabi’in, dan para ulama sesudahnya. [http://maramissetiawan.wordpress.com/2010/01/28/Karomah-wali/]

Catatan:

  1. Karomah wali yang berupa kejadian luar biasa, bukanlah tujuan hidup orang mukmin. Berbeda dengan orang Tarekat Sufi, mereka selalu mencari Karomah dan ingin menjadi wali hingga mampu mengeluarkan keanehan. Orang mukmin hendaknya mencari istiqomah karena keanehan bukanlah syarat waliyullah (Wali Allah), dan bukan syarat kesempurnaan iman.

Imam Abu Ali al-Zuzjani rahimahullah berkata:

”Jadilah orang yang mencari istiqomah bukan pencari Karomah. Dirimu sibuk mencari Karomah padahal Rabb-mu menuntutmu agar mencari istiqomah”. (Al-Minhatul Ilahiyah fi Tahdzib Syarh at-Thohawiyyah: 388)

  1. Seorang mukmin ketika menerima Karomah dari Allah ta’ala hendaknya:

a. Mensyukuri nikmat Allah ta’ala yang diberikan kepadanya.

b. Memohon kepda Allah ta’ala tsabat (ketetapan iman)

c. Hendaknya tidak memfitnah (memerdaya) dan terfitnah (terperdaya) dengan Karomah yang ada. Utamanya apabila Karomah itu berupa ujian dan cobaan.

d. Hendaknya berupaya menyimpannya dan hendaknya tidak menjadi sarana ketakaburan dan kesombongan di hadapan manusia karena hal itu akan membawa bencana (Al-Wajiz fi Aqidah Salafish Sholih: 150) [http://maramissetiawan.wordpress.com/2010/01/28/Karomah-wali/]

Jadi ragukanlah dengan “Kewalian” orang yang suka menunjukkan kejadian luar biasa dengan mengaku-ngaku hal tersebut sebagai Karomah!

Tambahan faidah:

Baca juga tentang hikmah/ fungsi adanya Karomah di situs: http://www.alsofwa.com/17644/314-aqidah-Karomah-auliya.html dan bantahan terhadap jahmiyah yang mengingkari Karomah di: http://mahad-assalafy.com/2006/09/17/hakekat-Karomah/

Simak kajian ilmiah terkait hal ini:

(a). Ustadz Badrussalam Lc di: http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2011/02/18/download-audio-khutbah-jum%E2%80%99at-hakikat-sihir-dan-Karomah-ust-badrusalam-lc/ dan

(b). Ustadz Zainal Abidin Syamsudin di: http://assunnah-qatar.com/component/muscol/Z/6-ustadz-zainal-abidin-syamsudin/50-kajian-ustadz-zaianal-abidin-campuran/687-misteri-dibalik-Karomah-1.html dan http://assunnah-qatar.com/component/muscol/Z/6-ustadz-zainal-abidin-syamsudin/50-kajian-ustadz-zaianal-abidin-campuran/688-misteri-dibalik-Karomah-2.html.

Baca juga buku: “Membongkar Dunia Klenik dan Perdukunan Berkedok Karomah” karya Ustadz Zainal Abidn Syamsudin

 

Ini Ustadz, Kyai, Wali, atau Dukun? (4) [Adakah Karomah dalam Islam?]

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *